<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Web Quran</title>
	<atom:link href="https://quran.abiphone.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://quran.abiphone.com</link>
	<description>Al Quran 30 Juz</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Apr 2026 16:02:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://quran.abiphone.com/wp-content/uploads/2025/06/cropped-logo-quran-web-32x32.png</url>
	<title>Web Quran</title>
	<link>https://quran.abiphone.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tafsir Surat 61. As-Saff</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-as-saff/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-as-saff/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 16:02:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1197</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 61. As-Saff (الصّفّ) Jumlah Ayat: 14 Arti: Barisan Pengantar Surah: Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah. Dinamai dengan Ash Shaff, karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata Shaffan yang berarti satu barisan. Ayat ini menerangkan apa yang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat ... <a title="Tafsir Surat 61. As-Saff" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-as-saff/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 61. As-Saff">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 61. As-Saff (الصّفّ)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 14</p>
<p><strong>Arti:</strong> Barisan</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Ash Shaff terdiri atas 14 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah. Dinamai dengan <i>Ash Shaff</i>, karena pada ayat 4 surat ini terdapat kata <i>Shaffan</i> yang berarti <i>satu barisan</i>. Ayat ini menerangkan apa yang diridhai Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata saja tetapi tidak melaksanakan apa yang diucapkannya. Dan pada ayat 4 diterangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah dalam satu barisan.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Segala apa yang di langit dan bumi mengakui bahwa hanyalah Allah yang berhak disembah tidak ada yang lain, Dialah yang menciptakan, menguasai, menjaga kelangsungan hidup, serta menentukan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.</p>
<p>Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna, dan semua makhluk tunduk di bawah kehendak-Nya. Dia menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan tujuan yang Dia kehendaki, serta sesuai pula dengan kegunaannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Setelah Allah menerangkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, ia mengingatkan kaum Muslimin akan kekurangan-kekurangan yang ada pada mereka, yaitu mereka mengatakan suatu perkataan, tetapi mereka tidak merealisasikan atau mengerjakannya. Di antaranya, mereka berkata, &#8220;Kami ingin mengerjakan kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah,&#8221; tetapi jika datang perintah itu, mereka tidak mengerjakannya.</p>
<p>Ada dua macam kelemahan manusia yang dikemukakan ayat ini, yaitu:</p>
<p>1.Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan mereka. Kelemahan ini kelihatannya mudah diperbaiki, tetapi sukar dilaksanakan. Sangat banyak manusia yang pandai berbicara, suka menganjurkan suatu perbuatan baik, dan mengingatkan agar orang lain menjauhi larangan-larangan Allah, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Abbas bahwa &#8216;Abdullah bin Rawahah berkata, &#8220;Para mukmin pada masa Rasulullah sebelum jihad diwajibkan berkata, &#8220;Seandainya kami mengetahui perbuatan-perbuatan yang disukai Allah, tentu kami akan melaksanakannya.&#8221; Maka Rasulullah menyampaikan bahwa perbuatan yang paling disukai Allah ialah beriman kepada-Nya, berjihad menghapuskan kemaksiatan yang dapat merusak iman, dan mengakui kebenaran risalah yang disampaikan Nabi-Nya. Setelah datang perintah jihad, sebagian orang-orang yang beriman merasa berat melakukannya. Maka turunlah ayat ini sebagai celaan akan sikap mereka yang tidak baik itu.</p>
<p>2.Tidak menepati janji yang telah mereka buat. Suka menepati janji yang telah ditetapkan merupakan salah satu ciri dari ciri-ciri orang-orang yang beriman. Jika ciri itu tidak dipunyai oleh orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul-Nya, berarti ia telah menjadi orang munafik.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda:Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berjanji, ia menyalahi janjinya, bila berkata, ia berdusta dan bila dipercaya, ia berkhianat. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Namun tidak berarti bahwa orang-orang tidak boleh mengatakan kebenaran bila ia sendiri belum mampu melaksanakannya. Mengatakan kebenaran wajib, sedangkan melaksanakannya tergantung kemampuan. Allah berfirman:</p>
<p>Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (at-Tagabun/64: 16)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Allah memperingatkan bahwa sangat besar dosanya orang mengatakan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya. Hal ini berlaku baik dalam pandangan Allah maupun dalam pandangan masyarakat.</p>
<p>Menepati janji merupakan perwujudan iman yang kuat. Budi pekerti yang agung, dan sikap yang berperikemanusiaan pada seseorang, menimbulkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat. Sebaliknya, perbuatan menyalahi janji tanda iman yang lemah, serta tingkah laku yang jelek dan sikap yang tidak berperikemanusiaan, akan menimbulkan saling mencurigai dan dendam di dalam masyarakat. Oleh karena itulah, agama Islam sangat mencela orang yang suka berdusta dan menyalahi janjinya.</p>
<p>Agar sifat tercela itu tidak dipunyai oleh orang-orang beriman, alangkah baiknya jika menepati janji dan berkata benar itu dijadikan tujuan pendidikan yang utama yang diajarkan kepada anak-anak di samping beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan melatih diri mengerjakan berbagai bentuk ibadah yang diwajibkan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah memuji orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur dan persatuan yang kokoh. Allah menyukai kaum Muslimin yang demikian. Tidak ada celah-celah perpecahan, walau yang kecil sekali pun, seperti tembok yang kokoh yang tersusun rapat dari batu-batu beton.</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar mereka menjaga persatuan yang kuat dan persatuan yang kokoh, mempunyai semangat yang tinggi, suka berjuang, dan berkorban. Membentuk dan menjaga persatuan serta kesatuan di kalangan kaum Muslimin berarti menyingkirkan segala sesuatu yang mungkin menimbulkan perpecahan, seperti perbedaan pendapat tentang sesuatu yang sepele dan tidak penting, sifat mementingkan diri sendiri, membangga-banggakan suku dan keturunan, mementingkan golongan, tidak berperikemanusiaan, dan sebagainya. </p>
<p>Oleh karena itulah, dalam membina persatuan dan kesatuan, Allah memperingatkan dan memerintahkan kaum Muslimin menjaga dan mengatur saf (barisan) dalam salat dengan rapi, bahu-membahu, tidak ada satu pun tempat yang kosong. Tempat yang kosong akan diisi oleh setan, sedangkan setan adalah musuh manusia. Tidak baik jika seseorang salat sendirian di belakang saf, kecuali dengan menarik ke belakang seorang yang berada dalam saf yang di depannya. Mengatur barisan dalam salat merupakan latihan mengatur barisan dalam berjihad di jalan Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab tentang Nabi Musa yang menyesali kaumnya, mengapa mereka menentang dan menyakitinya. Padahal mereka tahu bahwa ia adalah seorang rasul yang diutus Allah kepada mereka.</p>
<p>Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Musa memerintahkan kaumnya berperang agar mereka bisa memasuki kota Baitulmakdis, tetapi kaumnya mengingkari. Allah berfirman:</p>
<p>Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi. Mereka berkata, &#8220;Wahai Musa! Sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.&#8221; (al-Ma&#8217;idah/5: 21-22)</p>
<p>Ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin agar selalu bersabar menghadapi sikap orang-orang munafik, yang mengaku dirinya muslim, tetapi di belakang Rasulullah mereka mengingkarinya. Sehubungan dengan itu, Rasulullah pernah bersabda, &#8220;Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa yang disakiti kaumnya lebih berat daripada yang terjadi pada diriku ini, tetapi ia tetap sabar.&#8221;</p>
<p>Allah melarang kaum Muslimin menyakiti hati Rasulullah Muhammad saw, seperti yang telah dialami oleh Nabi Musa. Dia berfirman:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah. (al-Ahzab/33: 69)</p>
<p>Setelah orang-orang yang durhaka dan menyakiti hati Nabi Muhammad itu berpaling dan mengingkari kebenaran, sedangkan mereka mengetahui kebenaran itu, Allah pun memalingkan hati mereka dari petunjuk-Nya. Dengan demikian, mereka tidak mungkin lagi mendapat petunjuk. Allah berfirman:</p>
<p>Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur&#8217;an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An&#8217;am/6: 110)</p>
<p>Maksud perkataan Allah &#8220;memalingkan hati orang-orang kafir&#8221; dalam ayat ini ialah membiarkan mereka dalam keadaan sesat. Semakin banyak kesesatan dan kemaksiatan yang mereka perbuat, semakin jauh pula mereka dari petunjuk Allah, sehingga sulit bagi mereka kembali ke jalan yang benar.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan pernyataan-Nya di atas bahwa orang yang telah jauh dari jalan yang benar tidak mungkin lagi memperoleh taufik dan hidayah dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang fasik, sedangkan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka. Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad saw).</p>
<p>Dalam ayat yang lain ditegaskan pula bahwa berita tentang kedatangan Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah terakhir terdapat pula dalam Kitab Taurat dan Injil. Allah berfirman:</p>
<p>(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (al-A&#8217;raf/7: 157)</p>
<p>Dalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya aku adalah hamba Allah sebagai penutup para nabi. Sesungguhnya Nabi Adam bagaikan batu permata. Aku akan mengabarkan kepadamu tentang penakwilan ayat tersebut, yaitu doa bapakku Nabi Ibrahim dan kabar gembira dari Nabi Isa mengenai kedatanganku, dan mimpi yang dilihat oleh ibuku dan sekalian ibu para nabi. (Riwayat Ahmad dari &#8216;Irbadh bin Sariyah)</p>
<p>Dalam kitab Taurat banyak disebutkan isyarat-isyarat kedatangan Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, seperti Kitab Kejadian 21: 13.</p>
<p>&#8220;Maka anak sahayamu itu pun akan terjadikan suatu bangsa, karena itu ia dari benihmu.&#8221;</p>
<p>Maksudnya ialah keturunan Hajar, ibu dari Ismail yang kemudian menjadi orang-orang Arab yang mendiami Semenanjung Arabia. Waktu Nabi Ibrahim pergi ke Mesir bersama istrinya, Sarah, beliau dianugerahi oleh Raja Mesir seorang hamba sahaya perempuan, yang bernama Hajar, yang kemudian dijadikannya sebagai istri. Sewaktu Hajar telah melahirkan putranya Ismail, ia diantarkan Ibrahim ke Mekah atas perintah Allah. Di Mekahlah Ismail menjadi besar dan berketurunan. Di antara keturunannya itu bernama Muhammad yang kemudian menjadi nabi dan rasul terakhir.</p>
<p>Kitab Kejadian 21: 18 memerintahkan agar Bani Israil mengikuti dan menyokong Nabi Muhammad, yang akan datang kemudian.</p>
<p>&#8220;Bangunlah engkau, angkatlah budak itu, sokonglah dia, karena Aku hendak menjadikan dia suatu bangsa yang besar.&#8221;</p>
<p>Demikian pula dengan Kitab Kejadian 17: 20 menyebutkan:</p>
<p>&#8220;Maka akan hal Ismail itu pun telah Kululuskan permintaanmu, bahwa sesungguhnya Aku telah memberkati akan dia dan memberikan dia dan memperbanyak dia amat sangat dua belas orang raja-raja akan berpencar daripadanya dan Aku akan menjadikan dia suatu bangsa yang besar.&#8221;</p>
<p>Kitab Habakuk 3: 3 menyebutkan:</p>
<p>&#8220;Bahwa Allah datang dari teman dan Yang Mahasuci dari pegunungan Paran-Selah. Maka kemuliaan-Nya menudungilah segala langit dan bumi pun adalah penuh dengan pujinya.&#8221;</p>
<p>Di sini diterangkan tentang teman dan orang-orang suci dari pegunungan Paran. Yang dimaksud dengan teman di sini adalah Nabi Muhammad, dan Paran adalah Mekah.</p>
<p>Demikian pula Nabi Musa dalam Kitab Ulangan 18: 17-22 telah menyatakan kedatangan Nabi Muhammad saw itu:</p>
<p>&#8220;Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa), &#8220;Benarlah kata mereka itu (Bani Israil).&#8221; Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya (yaitu Nabi dan Bani Israil) yang seperti engkau (Nabi Musa) dan aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.</p>
<p>Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tiada mau dengar segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak pada orang itu. Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan nama-Ku, yang tiada Ku-suruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.</p>
<p>Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian, &#8220;Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya?&#8221;</p>
<p>Bahwa jikalau Nabi itu berkata demi nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya tidak jadi atau tidak datang, yaitu perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka Nabi itu pun berkata dengan sembarangan, janganlah kamu takut akan dia.&#8221;</p>
<p>Dalam ayat-ayat Taurat di atas terdapat petunjuk-petunjuk nubuwwah Nabi Muhammad saw sebagai berikut, &#8220;Seorang Nabi di antara segala saudaranya.&#8221; Hal ini menunjukkan bahwa yang akan menjadi nabi itu akan muncul dari saudara-saudara Bani Israil, tetapi bukan dari Bani Israil sendiri, karena Bani Israil itu keturunan Yakub dan ia adalah anak Ishak. Sedangkan Ishak adalah saudara Ismail. Saudara-saudara Bani Israil itu ialah Bani Ismail, dan Nabi Muhammad sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.</p>
<p>Kemudian kalimat &#8220;yang seperti engkau&#8221; memberi pengertian bahwa nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya nabi yang membawa agama seperti yang dibawa Nabi Musa. Seperti dituliskan bahwa Nabi Muhammad itulah satu-satunya nabi yang membawa syariat yang berlaku juga bagi Bani Israil.</p>
<p>Kemudian dikatakan bahwa Nabi itu &#8220;tidak sombong&#8221;, &#8220;dan tidak akan mati dibunuh.&#8221; Muhammad saw seperti dimaklumi bukanlah orang yang sombong, baik sebelum menjadi nabi apalagi setelah menjadi nabi. Sebelum menjadi nabi, ternyata beliau telah disenangi oleh khalayak umum, dan dipercaya oleh orang-orang Quraisy. Hal ini terbukti dengan panggilan beliau al-Amin (kepercayaan). Kalau beliau sombong, tentulah beliau tidak diberi gelar yang sangat terpuji itu dan Nabi Muhammad tidak mati di bunuh.</p>
<p>Umat Nasrani menerapkan kenabian itu kepada Isa, padahal mereka percaya bahwa Isa mati disalib. Hal ini jelas bertentangan dengan ayat kenabian itu sendiri. Sebab nabi itu haruslah tidak mati dibunuh (disalib dan sebagainya).</p>
<p>Banyak lagi petunjuk di dalam Taurat yang menerangkan kenabian Muhammad saw seperti yang diberikan Nabi Yesaya 42: 1-2; Nabi Yermin 31: 31-32, Nabi Daniel 2: 38-45; dan masih banyak lagi yang tidak perlu disebutkan di sini. Demikian pula dalam kitab Injil di mana tentang Muhammad banyak disebut dalam kitab Yahya.</p>
<p>Kemudian diterangkan bahwa nabi dan rasul yang bernama Ahmad itu lahir dengan membawa dalil-dalil yang kuat serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah. Akan tetapi, mereka pun mengingkarinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang tukang sihir. Tentang Nabi Muhammad itu disampaikan oleh semua nabi, dijelaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, &#8220;Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.&#8221; Allah berfirman, &#8220;Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami setuju.&#8221; Allah berfirman, &#8220;Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.&#8221; (Ali &#8216;Imran/3: 81)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Allah menyatakan, &#8220;Siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang mengada-adakan sesuatu tentang Allah&#8221;, seperti mengatakan bahwa Allah mempunyai sekutu dalam mengatur alam ini. Dari ayat ini dipahami bahwa orang yang paling zalim ialah orang yang diajak memeluk agama Allah, agama yang benar dan membawa manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat yaitu Islam, mereka menolak ajakan itu. Bahkan mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, seperti mendustakan Nabi Muhammad, memandang Al-Qur&#8217;an sebagai sihir ciptaan tukang sihir yang bernama Muhammad, dan sebagainya.</p>
<p>Orang-orang yang mengada-adakan kebohongan tentang Allah itu berarti menganiaya diri mereka sendiri, dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang. Orang-orang yang mengerjakan perbuatan itu tidak akan memperoleh taufik dari Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Abbas bahwa wahyu pernah tidak turun kepada Nabi Muhammad selama empat puluh hari. Maka seorang pemuka Yahudi, yaitu Ka&#8217;ab bin al-Asyraf, meminta kepada orang-orang Yahudi agar bergembira karena Allah telah memadamkan cahaya dakwah Muhammad saw dengan tidak lagi menurunkan wahyu kepadanya. Mendengar ucapan Ka&#8217;ab itu Rasulullah merasa sedih. Berkenaan dengan itu turunlah ayat ini.</p>
<p>Pada ayat ini diterangkan alasan orang-orang yang berbuat kebohongan terhadap Allah. Perbuatan dosa dan ucapan mengada-ada itu bertujuan untuk memadamkan sinar agama Islam yang menerangi manusia yang sedang berada dalam kegelapan. Perbuatan mereka itu tak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan cahaya matahari yang menyilaukan pemandangan dengan hembusan mulutnya yang tidak berarti apa-apa. Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah akan tetap memancarkan sinar agama-Nya ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah Nabi Muhammad dan orang-orang yang beriman walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad dengan tugas menyampaikan agama-Nya kepada seluruh manusia. Pokok-pokok agama itu terdapat dalam Al-Qur&#8217;an dan hadis, yang berisi petunjuk untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan munculnya agama Islam, maka agama yang ada sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Agama Islam itu mengungguli agama-agama lain sesuai dengan kehendak Allah, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>(10-11) Dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan amal saleh dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka.”</p>
<p>Ungkapan ayat di atas memberikan pengertian bahwa amal saleh dengan pahala yang besar, sama hebatnya dengan perniagaan yang tak pernah merugi karena ia akan masuk surga dan selamat dari api neraka. Firman Allah:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka&#8221;. (At-Taubah/9:111)</p>
<p>Kemudian disebutkan bentuk-bentuk perdagangan yang memberikan keuntungan yang besar itu, yaitu:</p>
<p>1.Senantiasa beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya hari Kiamat, qada‘ dan qadar Allah.</p>
<p>2.Mengerjakan amal saleh semata-mata karena Allah bukan karena ria adalah perwujudan iman seseorang.</p>
<p>3.Berjihad di jalan Allah. Berjihad ialah segala macam upaya dan usaha yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ada dua macam jihad yang disebut dalam ayat ini yaitu berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta. Berjihad dengan jiwa dan raga ialah berperang melawan musuh-musuh agama yang menginginkan kehancuran Islam dan kaum Muslimin. Berjihad dengan harta yaitu membelanjakan harta benda untuk menegakkan kalimat Allah, seperti untuk biaya berperang, mendirikan masjid, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umum lainnya.</p>
<p>Di samping itu, ada bentuk-bentuk jihad yang lain, yaitu jihad menentang hawa nafsu, mengendalikan diri, berusaha membentuk budi pekerti yang baik pada diri sendiri, menghilangkan rasa iri, dan sebagainya. </p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa iman dan jihad itu adalah perbuatan yang paling baik akibatnya, baik untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, harta benda, dan masyarakat, jika manusia itu memahami dengan sebenar-benarnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>lihat ayat 10</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Diriwayatkan oleh at-Tirmidhi dan al-hakim dan dinyatakan sahih dari &#8216;Abdullah bin Salam bahwa ketika para sahabat Rasulullah sedang duduk-duduk santai sambil berbincang-bincang, di antara mereka ada yang berkata, &#8220;Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih dicintai Allah pasti kami akan mengerjakannya,&#8221; maka turunlah ayat ini. </p>
<p>Jika manusia beriman, mengakui kebenaran Rasulullah saw dan berjihad di jalan-Nya, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya atau menjauhkannya dari perbuatan dosa itu. Allah juga menyediakan tempat bagi mereka di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tempat di dalam surga adalah tempat yang paling indah, dan paling menyenangkan hati orang yang berada di dalamnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan kemenangan dan keuntungan yang akan diperoleh oleh Rasulullah dan kaum Muslimin di dunia, yaitu mereka akan dapat mengalahkan musuh-musuh mereka, menaklukkan beberapa negeri dalam waktu yang dekat, memberikan kedudukan yang baik bagi kaum Muslimin, serta kekuatan iman dan fisik. Dengan demikian, mereka berkuasa di Timur dan Barat, dan agama Islam tersebar di seluruh dunia.</p>
<p>Ayat ini termasuk ayat yang menerangkan kemukjizatan, yaitu menerangkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hal ini dipercayai betul oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, sehingga menumbuhkan kekuatan dan semangat yang hebat di kalangan kaum Muslimin. Dalam sejarah terlihat dan terbukti bahwa dalam waktu yang sangat singkat agama Islam telah dianut oleh sebagian penduduk dunia, sejak dari ujung barat Afrika sampai ujung timur Indonesia, dari Maroko ke Merauke, dan dari Asia Tengah di utara sampai ke Afrika di selatan.</p>
<p>Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin mengenai keuntungan yang akan mereka peroleh dari perdagangan itu di dunia dengan keuntungan-keuntungan dan di akhirat berupa surga. Penggunaan kata perniagaan dalam ayat ini sebagai perumpamaan karena masyarakat Arab pada saat itu hidup dari perniagaan dan perdagangan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Allah memerintahkan kaum Muslimin agar menjadi penolong-penolong agama Allah, menyebarluaskan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya sehingga tidak ada yang mengalahkannya, dengan beriman dan berjihad. Hal yang sama pernah dilakukan sahabat-sahabat terdekat Nabi Isa yang berkata kepada mereka, &#8220;Siapakah penolong agama Allah?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kamilah penolong-penolong agama Allah.&#8221;</p>
<p>Ketika Nabi Isa menyampaikan risalahnya kepada Bani Israil dengan bantuan sahabat-sahabat setianya, sebagian Bani Israil itu ada yang memperkenankan seruannya, sedang yang lain ada yang mengingkari dan menolaknya. Mereka yang menolak itu menuduh Isa sebagai seorang anak zina, yang dilahirkan karena perzinaan ibunya Maryam dengan seorang laki-laki, dan ada pula yang mengatakan bahwa Isa itu putra Allah, kekasih-Nya, dan sebagainya.</p>
<p>Dalam menghadapi orang-orang yang mengingkari seruan Nabi Isa itu serta mengada-adakan kebohongan tentangnya, maka Allah menguatkan hati orang-orang yang beriman dari mereka, sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh itu. Firman Allah:</p>
<p>Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (Gafir/40: 51)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-as-saff/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>60. Al-Mumtahanah (13 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-mumtahanah/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-mumtahanah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 03:57:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1196</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Wanita Yang Diuji Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 13 Deskripsi: Surat Al Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahzab. Dinamai Al Mumtahanah (wanita yang diuji), diambil dari kata &#8220;Famtahinuuhunna&#8221; yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini. Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Mumtahanah Ayat-Ayat ... <a title="60. Al-Mumtahanah (13 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-mumtahanah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 60. Al-Mumtahanah (13 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Wanita Yang Diuji</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 13</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahzab. Dinamai <i>Al Mumtahanah</i> (wanita yang diuji), diambil dari kata &#8220;Famtahinuuhunna&#8221; yang berarti <i>maka ujilah mereka</i>, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mumtahanah/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Mumtahanah</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tattakhiżū ‘aduwwī wa ‘aduwwakum auliyā&#8217;a tulqūna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarū bimā jā&#8217;akum minal-ḥaqq(i), yukhrijūnar-rasūla wa iyyākum an tu&#8217;minū billāhi rabbikum, in kuntum kharajtum jihādan fī sabīlī wabtigā&#8217;a marḍātī tusirrūna ilaihim bil-mawaddah(ti), wa ana a‘lamu bimā akhfaitum wa mā a‘lantum, wa may yaf‘alhu minkum faqad ḍalla sawā&#8217;as-sabīl(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنْ يَّثْقَفُوْكُمْ يَكُوْنُوْا لَكُمْ اَعْدَاۤءً وَّيَبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ وَاَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوْۤءِ وَوَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iy yaṡqafūkum yakūnū lakum a‘dā&#8217;aw wa yabsuṭū ilaikum aidiyahum wa alsinatahum bis-sū&#8217;i wa waddū lau takfurūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu lalu melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ ۛيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۛيَفْصِلُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lan tanfa‘akum arḥāmukum wa lā aulādukum yaumal-qiyāmati yafṣilu bainakum, wallāhu bimā ta‘malūna baṣīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qad kānat lakum uswatun ḥasanatun fī ibrāhīma wal-lażīna ma‘ah(ū), iż qālū liqaumihim innā bura&#8217;ā&#8217;u minkum wa mimmā ta‘budūna min dūnillāh(i), kafarnā bikum wa badā bainanā wa bainakumul-‘adāwatu wal-bagḍā&#8217;u abadan ḥattā tu&#8217;minū billāhi waḥdahū illā qaula ibrāhīma li&#8217;abīhi la&#8217;astagfiranna laka wa mā amliku laka minallāhi min syai'(in), rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">rabbanā lā taj‘alnā fitnatal lil-lażīna kafarū wagfir lanā rabbanā, innaka antal-‘azīzul-ḥakīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad kāna lakum fīhim uswatun ḥasanatul liman kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhir(a), wa may yatawalla fa&#8217;innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَادَيْتُمْ مِّنْهُمْ مَّوَدَّةًۗ وَاللّٰهُ قَدِيْرٌۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">‘asallāhu ay yaj‘ala bainakum wa bainal-lażīna ‘ādaitum minhum mawaddah(tan), wallāhu qadīr(un), wallāhu gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yanhākumullāhu ‘anil-lażīna lam yuqātilūkum fid-dīni wa lam yukhrijūkum min diyārikum an tabarrūhum wa tuqsiṭū ilaihim, innallāha yuḥibbul-muqsiṭīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innamā yanhākumullāhu ‘anil-lażīna qātalūkum fid-dīni wa akhrajūkum min diyārikum wa ẓāharū ‘alā ikhrājikum an tawallauhum, wa may yatawallahum fa&#8217;ulā&#8217;ika humuẓ-ẓālimūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا جَاۤءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوْهُنَّۗ اَللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِهِنَّ فَاِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوْهُنَّ اِلَى الْكُفَّارِۗ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّۗ وَاٰتُوْهُمْ مَّآ اَنْفَقُوْاۗ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۗ وَلَا تُمْسِكُوْا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوْا مَآ اَنْفَقُوْاۗ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā jā&#8217;akumul-mu&#8217;minātu muhājirātin famtaḥinūhunn(a), allāhu a‘lamu bi&#8217;īmānihinna fa&#8217;in ‘alimtumūhunna mu&#8217;minātin falā tarji‘ūhunna ilal-kuffār(i), lā hunna ḥillul lahum wa lā hum yaḥillūna lahunn(a), wa ātūhum mā anfaqū, wa lā junāḥa ‘alaikum an tankiḥūhunna iżā ātaitumūhunna ujūrahunn(a), wa lā tumsikū bi‘iṣamil-kawāfiri was&#8217;alū mā anfaqū, żālikum ḥukmullāh(i), yaḥkumu bainakum, wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami mereka). Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami) mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suaminya tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayar (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ فَاتَكُمْ شَيْءٌ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ اِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَاٰتُوا الَّذِيْنَ ذَهَبَتْ اَزْوَاجُهُمْ مِّثْلَ مَآ اَنْفَقُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa in fātakum syai&#8217;um min azwājikum ilal-kuffāri fa‘āqabtum fa&#8217;ātul-lażīna żahabat azwājuhum miṡla mā anfaqū, wattaqullāhal-lażī antum bihī mu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika ada sesuatu (pengembalian mahar) yang belum kamu selesaikan dari istri-istrimu yang lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu dapat mengalahkan mereka maka berikanlah (dari harta rampasan) kepada orang-orang yang istrinya lari itu sebanyak mahar yang telah mereka berikan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhan-nabiyyu iżā jā&#8217;akal-mu&#8217;minātu yubāyi‘naka ‘alā allā yusyrikna billāhi syai&#8217;aw wa lā yasriqna wa lā yaznīna wa lā yaqtulna aulādahunna wa lā ya&#8217;tīna bibuhtāniy yaftarīnahū baina aidīhinna wa arjulihinna wa lā ya‘ṣīnaka fī ma‘rūfin fabāyi‘hunna wastagfir lahunnallāh(a), innallāha gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan yang mukmin datang kepadamu untuk mengadakan bai‘at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَىِٕسُوْا مِنَ الْاٰخِرَةِ كَمَا يَىِٕسَ الْكُفَّارُ مِنْ اَصْحٰبِ الْقُبُوْرِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tatawallau qauman gaḍiballāhu ‘alaihim qad ya&#8217;isū minal-ākhirati kamā ya&#8217;isal-kuffāru min aṣḥābil-qubūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai penolongmu, sungguh, mereka telah putus asa terhadap akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur juga berputus asa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-mumtahanah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 60. Al-Mumtahanah</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mumtahanah/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mumtahanah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2026 15:43:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1195</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 60. Al-Mumtahanah (الممتحنة) Jumlah Ayat: 13 Arti: Wanita Yang Diuji Pengantar Surah: Surat Al Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahzab. Dinamai Al Mumtahanah (wanita yang diuji), diambil dari kata &#8220;Famtahinuuhunna&#8221; yang berarti maka ujilah mereka, yang terdapat pada ayat 10 surat ini. Tafsir Ayat ... <a title="Tafsir Surat 60. Al-Mumtahanah" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mumtahanah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 60. Al-Mumtahanah">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 60. Al-Mumtahanah (الممتحنة)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 13</p>
<p><strong>Arti:</strong> Wanita Yang Diuji</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Mumtahanah terdiri atas 13 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Ahzab. Dinamai <i>Al Mumtahanah</i> (wanita yang diuji), diambil dari kata &#8220;Famtahinuuhunna&#8221; yang berarti <i>maka ujilah mereka</i>, yang terdapat pada ayat 10 surat ini.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin agar tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan kaum musyrik yang menjadi musuh Allah dan kaum Muslimin. Sebab, dengan adanya hubungan yang demikian itu, tanpa disadari mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum Muslimin, menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah saw kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah. Oleh karena itu, kaum Muslimin dilarang melakukan yang demikian sekalipun kepada kaum kerabatnya.</p>
<p>Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang. Hal ini tidak boleh dilakukan selama orang-orang kafir itu ingin menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin. </p>
<p>Allah kemudian menjelaskan penyebab larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu:</p>
<p>1.Mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur&#8217;an. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum Muslimin?</p>
<p>2.Mereka telah mengusir Rasulullah saw dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka karena beriman kepada Allah, bukan karena sebab yang lain.</p>
<p>Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah:</p>
<p>Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji (al-Buruj/85: 8)</p>
<p>Dan Firman Allah:</p>
<p>(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, &#8220;Tuhan kami ialah Allah.&#8221; Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa (al-hajj/22: 40)</p>
<p>Allah memperingatkan kaum Muslimin bahwa jika mereka keluar dari kampung halaman atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolong mereka. Cukuplah kaum Muslimin menderita akibat tindakan-tindakan mereka, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada mereka menambah penderitaan kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada di antara kaum Muslimin melakukan seperti yang dilakukan hathib yang menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir?</p>
<p>Allah Mahatahu segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, sehingga beliau segera dapat mengambil tindakan. Dengan demikian, kaum Muslimin tidak dirugikan.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan sebab-sebab yang lain Allah melarang kaum Muslimin berteman akrab dan saling menolong dengan orang kafir, yaitu:</p>
<p>1.Jika suatu waktu mereka menangkap atau mengalahkan kaum Muslimin, mereka pasti akan melakukan kezaliman yang di luar dugaan. Mereka berteman dengan kaum Muslimin semata-mata mencari keuntungan bagi diri dan golongan mereka. Bila tidak ada keuntungan yang diharapkan, mereka akan menjauhkan diri, bahkan akan menghancurkan kaum Muslimin.</p>
<p>2.Mereka selalu berusaha menjelek-jelekkan dan memusuhi kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada satu atau sebagian dari kaum Muslimin membukakan rahasia kepada mereka atau berteman erat dengan mereka. Orang yang dapat dijadikan teman itu hanyalah orang yang menginginkan kebaikan untuk kita, bukan sebaliknya.</p>
<p>3.Mereka mengharapkan kaum Muslimin mengingkari kebenaran dan kafir kepada Allah, sehingga kaum Muslimin sama dengan mereka, yaitu sama-sama kafir. Oleh karena itu, mereka hanya mau berteman erat atau bertolong-tolongan dengan kaum Muslimin selama hal itu bisa memenuhi keinginan-keinginan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Pada hari Kiamat setiap orang mempertanggungjawabkan diri mereka masing-masing kepada Allah. Karib-kerabat, teman setia, anak-anak, atau orang tua sekalipun tidak dapat menolong seseorang di hari Kiamat. Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia.</p>
<p>Karib-kerabat, teman setia, anak-anak dan orang tua tidak dapat dijadikan penolong di hari Kiamat karena masing-masing berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang akan menimpa, sehingga tidak sempat memikirkan kerabat atau temannya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, Dan dari ibu dan bapaknya, Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (&#8216;Abasa/80: 33-37)</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah memberi peringatan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya. Maka itu berhati-hatilah dan jagalah dirimu sebaik mungkin.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk mencontoh Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman besertanya, ketika ia berkata kepada kaumnya yang kafir dan menyembah berhala, &#8220;Hai kaumku, sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu semua, dan dari apa yang kamu sembah selain Allah.&#8221;</p>
<p>Kemudian diterangkan bahwa yang dimaksud Ibrahim dengan berlepas diri itu ialah:</p>
<p>1.Nabi Ibrahim mengingkari kaumnya, tidak mengacuhkan tuhan-tuhan mereka, dan tidak membenarkan perbuatan mereka yang menyembah patung-patung yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepada siapa pun. Allah berfirman: </p>
<p>Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (al-hajj/22: 73)</p>
<p>2.Nabi Ibrahim mengatakan bahwa antara dia dengan kaumnya yang ingkar telah terjadi permusuhan dan saling membenci selamanya. Ibrahim menyatakan akan tetap menentang kaumnya sampai mereka meninggalkan perbuatan syirik. Jika mereka telah beriman, permusuhan itu baru akan berakhir.</p>
<p>Terhadap ayahnya yang masih kafir, ia tidak mengambil sikap yang tegas seperti sikapnya terhadap kaumnya. Ia berjanji akan mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa ayahnya. Dalam hal ini, Allah melarang kaum Muslimin mencontoh Ibrahim, sekalipun ia akhirnya berlepas tangan pula terhadap ayahnya, setelah nyata baginya keingkaran bapaknya itu.</p>
<p>Benar ada di antara orang yang beriman mendoakan ayah-ayah mereka yang meninggal dalam keadaan musyrik. Mereka beralasan mencontoh perbuatan Ibrahim itu. Maka Allah membantah perbuatan mereka:</p>
<p>Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam. Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah/9: 113-114)</p>
<p>Selanjutnya Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya bahwa dia tidak mampu menolongnya. Ia hanya bisa berdoa agar Allah memberi taufik berupa iman kepadanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Sebelum Nabi Ibrahim berpisah dengan kaumnya yang tidak mau menerima seruannya, ia berdoa kepada Allah dengan hati yang tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Dalam doanya ia berkata, &#8220;Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.&#8221;</p>
<p>Dengan perkataan lain, arti ayat ini ialah Nabi Ibrahim memohon agar Allah tidak memenangkan orang kafir atas orang beriman. Hal itu akan memberi kesempatan kepada orang kafir untuk memfitnah orang beriman. Kemenangan itu juga bisa menimbulkan keyakinan pada orang kafir bahwa mereka berada di jalan yang benar sedangkan orang beriman berada di jalan yang salah.</p>
<p>Di akhir ayat, Nabi Ibrahim berdoa, &#8220;Wahai Tuhan kami, ampunilah dan maafkanlah dosa kami sehingga perbuatan dosa itu seakan-akan tidak pernah kami kerjakan. Engkaulah tempat kami berlindung. Tuntutan-Mu sangat keras. Engkau melakukan dan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan sifat, guna, dan faedahnya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Ayat ini mengulang perintah untuk menjadikan Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman besertanya sebagai teladan yang baik dengan maksud agar perintah itu diperhatikan oleh orang-orang yang beriman. Hal ini terutama ditujukan bagi orang yang yakin akan bertemu dengan Allah di akhirat, dan mengharapkan pahala serta balasan surga sebagai tempat yang nikmat.</p>
<p>Orang yang tidak mengikuti perintah Allah, dan tidak mengambil teladan dari orang-orang yang saleh, maka hendaklah mereka ketahui bahwa Allah sedikit pun tidak memerlukannya. Allah Maha Terpuji di langit dan di bumi, dan Dia tidak memerlukan bantuan makhluk-Nya dalam melaksanakan kehendak-Nya. Allah berfirman:</p>
<p>Dan Musa berkata, &#8220;Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (Ibrahim/14: 8)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Menurut al-hasan al-Basri dan Abu salih, ayat ini diturunkan berhubungan dengan Khuza&#8217;ah, Bani al-harits bin Ka&#8217;ab, Kinanah, Khuzaimah, dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Mereka minta diadakan perdamaian dengan kaum Muslimin dengan mengemukakan ikrar tidak akan memerangi kaum Muslimin dan tidak menolong musuh-musuh mereka. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan kaum Muslimin untuk menerima permusuhan mereka.</p>
<p>Ayat ini menyatakan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman bahwa mudah-mudahan Allah akan menjalinkan rasa cinta dan kasih sayang antara kaum Muslimin yang ada di Medinah dengan orang-orang musyrik Mekah yang selama ini membenci dan menjadi musuh mereka. Hal itu mudah bagi Allah, sebagai Zat Yang Mahakuasa dan menentukan segalanya. Apalagi jika orang-orang kafir mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah mereka lakukan sebelumnya, yaitu dosa memusuhi Rasulullah dan kaum Muslimin.</p>
<p>Isyarat yang terdapat dalam ayat ini terbukti kebenarannya pada pembebasan kota Mekah oleh kaum Muslimin, tanpa terjadi pertumpahan darah. Sewaktu Rasulullah memasuki kota Mekah, karena orang-orang musyrik melanggar perjanjian mereka dengan kaum Muslimin, mereka merasa gentar menghadapi tentara kaum Muslimin, dan bersembunyi di rumah-rumah mereka. Oleh karena itu, Rasulullah mengumumkan bahwa barang siapa memasuki Baitullah, maka dia mendapat keamanan, barang siapa memasuki Masjidil Haram, maka ia mendapat keamanan, dan barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia mendapat keamanan. Perintah itu ditaati oleh kaum musyrik dan mereka pun berlindung di Ka&#8217;bah, di Masjidil Haram, dan rumah Abu Sufyan. Maka waktu itu, kaum Muslimin yang telah hijrah bersama Rasulullah ke Medinah bertemu kembali dengan keluarganya yang masih musyrik dan tetap tinggal di Mekah, setelah beberapa tahun mereka berpisah. Maka terjalinlah kembali hubungan baik dan kasih sayang diantara mereka.</p>
<p>Karena baiknya sikap kaum Muslimin kepada mereka, maka mereka berbondong-bondong masuk Islam. Firman Allah: </p>
<p>Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat. (an-Nasr/110:1-3)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Diriwayatkan bahwa Ahmad bin hanbal menceritakan kepada beberapa imam yang lain dari &#8216;Abdullah bin Zubair, ia berkata, &#8220;Telah datang ke Medinah (dari Mekah) Qutailah binti &#8216;Abdul &#8216;Uzza, bekas istri Abu Bakar sebelum masuk Islam, untuk menemui putrinya Asma&#8217; binti Abu Bakar dengan membawa berbagai hadiah. Asma&#8217; enggan menerima hadiah itu dan tidak memperkenankan ibunya memasuki rumahnya. Kemudian Asma&#8217; mengutus seseorang kepada &#8216;Aisyah agar menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Maka turunlah ayat ini yang membolehkan Asma&#8217; menerima hadiah dan mengizinkan ibunya yang kafir itu tinggal di rumahnya.</p>
<p>Allah tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong, dan bantu-membantu dengan orang musyrik selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, tidak mengusir kaum Muslimin dari negeri-negeri mereka, dan tidak pula berteman akrab dengan orang yang hendak mengusir itu.</p>
<p>Ayat ini memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum Muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama mereka bersikap dan ingin bergaul baik, terutama dengan kaum Muslimin.</p>
<p>Seandainya dalam sejarah Islam, terutama pada masa Rasulullah saw dan masa para sahabat, terdapat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum Muslimin kepada orang-orang musyrik, maka tindakan itu semata-mata dilakukan untuk membela diri dari kezaliman dan siksaan yang dilakukan oleh pihak musyrik.</p>
<p>Di Mekah, Rasulullah dan para sahabat disiksa dan dianiaya oleh orang-orang musyrik, sampai mereka terpaksa hijrah ke Medinah. Sesampai di Medinah, mereka pun dimusuhi oleh orang Yahudi yang bersekutu dengan orang-orang musyrik, sekalipun telah dibuat perjanjian damai antara mereka dengan Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah terpaksa mengambil tindakan keras terhadap mereka. Demikian pula ketika kaum Muslimin berhadapan dengan kerajaan Persia dan Romawi, orang-orang kafir di sana telah memancing permusuhan sehingga terjadi peperangan.</p>
<p>Jadi ada satu prinsip yang perlu diingat dalam hubungan orang-orang Islam dengan orang-orang kafir, yaitu boleh mengadakan hubungan baik, selama pihak yang bukan Islam melakukan yang demikian pula. Hal ini hanya dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatan kedua belah pihak.</p>
<p>Di Indonesia prinsip ini dapat dilakukan, selama tidak ada pihak agama lain bermaksud memurtadkan orang Islam atau menghancurkan Islam dan kaum Muslimin.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah hanya melarang kaum Muslimin bertolong-tolongan dengan orang-orang yang menghambat atau menghalangi manusia beribadah di jalan Allah, dan memurtadkan kaum Muslimin sehingga ia berpindah kepada agama lain, yang memerangi, mengusir, dan membantu pengusir kaum Muslimin dari negeri mereka. Dengan orang yang semacam itu, Allah dengan tegas melarang kaum Muslimin untuk berteman dengan mereka.</p>
<p>Di akhir ayat ini, Allah mengingatkan kaum Muslimin yang menjadikan musuh-musuh mereka sebagai teman dan tolong-menolong dengan mereka, bahwa jika mereka melanggar larangan ini, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Ayat ini menerangkan perintah Allah kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus diambil, jika seorang perempuan beriman yang berasal dari daerah kafir datang menghadap atau minta perlindungan. Allah menyatakan bahwa apabila datang seorang perempuan dari daerah kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak tampak padanya tanda-tanda keingkaran dan kemunafikan, maka perlu diperiksa lebih dahulu, apakah mereka benar telah beriman, atau datang karena melarikan diri dari suaminya, sedangkan ia sebenarnya tidak beriman.</p>
<p>Allah memerintahkan yang demikian itu bukan karena Dia tidak mengetahui hal ihwal mereka. Allah Maha Mengetahui hakikat iman mereka, bahkan mengetahui semua yang terbesit dalam hati mereka. Akan tetapi, untuk kewaspadaan dan berjaga-jaga di kalangan kaum Muslimin yang sedang berperang menghadapi orang-orang kafir, maka usaha-usaha mengadakan penelitian itu harus dilakukan, walaupun orang itu kerabat sendiri.</p>
<p>Jika dalam pemeriksaan itu terbukti mereka adalah orang-orang yang beriman, maka jangan sekali-kali kaum Muslimin mengembalikan mereka ke daerah kafir, sebab perempuan-perempuan yang beriman tidak halal lagi bagi suaminya yang kafir. Sebaliknya, pria-pria yang kafir tidak halal bagi perempuan yang beriman.</p>
<p>Dari ayat ini dapat ditetapkan suatu hukum yang menyatakan bahwa jika seorang istri telah masuk Islam, berarti sejak itu ia telah bercerai dengan suaminya yang masih kafir. Oleh karena itu, ia haram kembali kepada suaminya. Ayat ini juga menguatkan hukum yang menyatakan bahwa haram hukumnya seorang perempuan muslimat kawin dengan laki-laki kafir.</p>
<p>Kemudian Allah menetapkan agar mas kawin yang telah diterima istri yang masuk Islam itu dikembalikan kepada suaminya. Menurut Imam Syafi&#8217;i, istri wajib mengembalikan mahar itu jika pihak suaminya yang kafir itu memintanya. Jika pihak suami tidak memintanya, maka mahar itu tidak wajib dikembalikan. Sebagian ulama berpendapat bahwa mahar yang wajib dikembalikan itu jika suaminya termasuk orang yang telah melakukan perjanjian damai dengan kaum Muslimin, sedang bagi suami yang tidak termasuk dalam perjanjian damai dengan kaum Muslimin maharnya tidak wajib dikembalikan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hukum pengembalian mahar itu bukan wajib tetapi sunah dan itu pun jika diminta oleh suaminya.</p>
<p>Sementara itu kaum Muslimin dibolehkan mengawini perempuan-perempuan mukminat yang berhijrah itu dengan membayar mahar. Hal ini berarti bahwa perempuan itu tidak boleh dijadikan budak, karena mereka bukan berasal dari tawanan perang. Allah menganjurkan kaum Muslimin mengawini mereka agar diri mereka terpelihara. </p>
<p>Allah menerangkan bahwa penyebab larangan melanjutkan perkawinan istri yang beriman dengan suami yang kafir itu adalah karena tidak akan ada hubungan perkawinan antara perempuan-perempuan yang sudah beriman dengan suami-suami mereka yang masih kafir dan berada di daerah kafir. Akad perkawinan mereka tidak berlaku lagi sejak sang istri masuk Islam. Sebaliknya jika yang pergi ke daerah kafir itu adalah istri-istri yang beriman kemudian ia menjadi kafir, kaum Muslimin diperintahkan untuk membiarkan mereka pergi. Akan tetapi, mereka harus mengembalikan barang-barang yang pernah diberikan suaminya yang Muslim.</p>
<p>Semua yang disebutkan itu adalah hukum-hukum Allah yang wajib ditaati oleh setiap orang yang menghambakan diri kepada-Nya, karena dalam menetapkan hukum-Nya, Allah Maha Mengetahui kesanggupan hamba yang akan memikul hukum itu dan mengetahui sesuatu yang paling baik dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Dalam menetapkan hukum itu, Allah juga mengetahui faedah dan akibat menetapkan hukum serta keserasian hukum itu bagi yang memikulnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan hukum seorang istri mukminat yang murtad dan lari dari suaminya ke daerah kafir, sedang ia belum mengembalikan mahar yang pernah diterima dari suaminya yang Mukmin itu. Jika si suami menyerang daerah kafir, kemudian dapat menawan bekas istrinya, maka bekas istrinya itu boleh diambilnya kembali dengan mengganti mahar yang telah diterima oleh istri dari suami yang kafir.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim dari al-hasan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan peristiwa Ummul hakam binti Abi Sufyan yang telah murtad dan melarikan diri dari suaminya, kemudian ia menikah dengan seorang laki-laki dari Bani tsaqif. Ayat ini memerintahkan agar mas kawin yang diterima Ummul hakam dari suaminya yang kafir itu diganti dan diambilkan dari hasil rampasan perang, dan Ummul hakam kembali kepada suaminya semula (yang Muslim).</p>
<p>Menurut riwayat Ibnu &#8216;Abbas, mas kawin itu diambil dan diberikan kepada suami yang kafir sebelum harta rampasan perang dibagi lima sebanyak yang pernah diberikan suami yang kafir kepada perempuan yang lari itu.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan agar kaum Muslimin bertakwa dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya, baik yang diterangkan pada ayat di atas, maupun yang disebut pada ayat-ayat yang lain serta yang terdapat di dalam hadis, jika mereka beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad bahwa perempuan-perempuan yang menyatakan keimanan dan ketaatannya harus berjanji bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak akan mencuri harta orang lain, tidak akan berzina, tidak akan menggugurkan anak dalam kandungannya, dan tidak akan mengerjakan yang dilarang, seperti meratapi orang mati dengan mengoyak-ngoyak pakaian, dan sebagainya. Bila mereka telah berjanji, maka pernyataan iman mereka harus diterima. Nabi juga diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah dan pahala dari-Nya jika mereka konsekuen melaksanakan janji mereka itu. Nabi juga diminta untuk berdoa kepada Allah agar dosa-dosa mereka diampuni, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</p>
<p>Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari &#8216;Urwah bin Zubair bahwa &#8216;Aisyah berkata, &#8220;Rasulullah saw menguji perempuan yang hijrah sesuai ayat: ya ayyuhan-nabiyy idha ja&#8217;akal-mu&#8217;minat¦..innallaha gafurur-rahim. Barang siapa yang telah memenuhi syarat-syarat di atas, berarti perempuan itu telah mengikrarkan pernyataan bahwa dirinya beriman.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan pula oleh &#8216;Urwah bin Zubair dari &#8216;Aisyah, ia berkata, &#8220;Telah datang Fathimah binti &#8216;Utbah untuk menyatakan keimanannya kepada Rasulullah, maka beliau meminta ia berjanji tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak menggugurkan kandungannya, maka Fathimah merasa malu menyebut janji itu sambil meletakkan tangan di atas kepalanya.&#8221; Maka &#8216;Aisyah berkata, &#8220;Hendaklah engkau akui yang dikatakan Nabi itu. Demi Allah, kami tidak menyatakan keimanan kecuali dengan cara demikian.&#8221; Fathimah melaksanakan yang diminta &#8216;Aisyah itu, lalu Nabi menerima pengakuannya.</p>
<p>Menurut riwayat yang lain bahwa Nabi Muhammad banyak menerima pernyataan beriman dari para perempuan ketika penaklukan Mekah. Di antara yang menyatakan keimanannya itu terdapat Hindun binti &#8216;Utbah, istri Abu Sufyan, kepala suku Quraisy.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Mundhir dari Ibnu Ishaq dari &#8216;Ikrimah dan Abu Sa&#8217;id dari Ibnu &#8216;Abbas, ia menerangkan bahwa &#8216;Abdullah bin &#8216;Umar dan Zaid bin haritsah bersahabat dengan orang-orang Yahudi. Maka turunlah ayat ini yang melarang kaum Muslimin berteman erat dengan orang yang dimurkai Allah.</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah menegaskan kembali larangan menjadikan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan musyrik Mekah yang berniat jahat terhadap kaum Muslimin sebagai wali atau teman akrab, karena dikhawatirkan orang-orang yang beriman akan menyampaikan rahasia-rahasia penting kepada mereka.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir itu telah putus asa untuk memperoleh kebaikan dari Allah di akhirat, karena kedurhakaan mereka kepada Rasulullah saw yang telah diisyaratkan kedatangannya dalam kitab-kitab mereka. Padahal, persoalan itu sudah dikuatkan pula dengan bukti-bukti yang jelas dan mukjizat yang nyata. Keputusasaan mereka untuk memperoleh rahmat Allah di hari akhirat sama halnya dengan keputusasaan mereka di dalam kubur karena mereka tidak percaya adanya kebangkitan kembali di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mumtahanah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>59. Al-Hasyr (24 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-hasyr/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-hasyr/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2026 03:34:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1194</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Pengusiran Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 24 Deskripsi: Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah. Dinamai surat Al Hasyr (pengusiran) diambil dari perkataan Al-Hasyr yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir ... <a title="59. Al-Hasyr (24 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-hasyr/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 59. Al-Hasyr (24 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Pengusiran</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 24</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.<br />
Dinamai surat <i>Al Hasyr</i> (pengusiran) diambil dari perkataan <i>Al-Hasyr</i> yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hasyr/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Hasyr</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ مَا ظَنَنْتُمْ اَنْ يَّخْرُجُوْا وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مَّانِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ فَاَتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوْا وَقَذَفَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِاَيْدِيْهِمْ وَاَيْدِى الْمُؤْمِنِيْنَۙ فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwal-lażī akhrajal-lażīna kafarū min ahlil-kitābi min diyārihim li&#8217;awwalil-ḥasyr(i), mā ẓanantum ay yakhrujū wa ẓannū annahum māni‘atuhum ḥuṣūnuhum minallāhi fa atāhumullāhu min ḥaiṡu lam yaḥtasibū wa qażafa fī qulūbihimur-ru‘ba yukhribūna buyūtahum bi&#8217;aidīhim wa aidil-mu&#8217;minīn(a), fa‘tabirū yā ulil-abṣār(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَآ اَنْ كَتَبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاۤءَ لَعَذَّبَهُمْ فِى الدُّنْيَاۗ وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā an kataballāhu ‘alaihimul-jalā&#8217;a la‘ażżabahum fid-dun-yā, wa lahum fil-ākhirati ‘ażābun-nār(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sekiranya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, pasti Allah mengazab mereka di dunia. Dan di akhirat mereka akan mendapat azab neraka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۖوَمَنْ يُّشَاۤقِّ اللّٰهَ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika bi&#8217;annahum syāqqullāha wa rasūlah(ū), wa may yusyāqqillāha fa&#8217;innallāha syadīdul-‘iqāb(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَا قَطَعْتُمْ مِّنْ لِّيْنَةٍ اَوْ تَرَكْتُمُوْهَا قَاۤىِٕمَةً عَلٰٓى اُصُوْلِهَا فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيُخْزِيَ الْفٰسِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā qaṭa‘tum mil līnatin au taraktumūhā qā&#8217;imatan ‘alā uṣūlihā fa bi&#8217;iżnillāhi wa liyukhziyal-fāsiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apa yang kamu tebang di antara pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (itu terjadi) dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْهُمْ فَمَآ اَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَّلَا رِكَابٍ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهٗ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā afā&#8217;allāhu ‘alā rasūlihī minhum famā aujaftum ‘alaihi min khailiw wa lā rikābiw wa lākinnallāha yusalliṭu rusulahū ‘alā may yasyā'(u), wallāhu ‘alā kulli syai&#8217;in qadīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan harta rampasan fai&#8217; dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya, tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَآ اَفَاۤءَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ مِنْ اَهْلِ الْقُرٰى فَلِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā afā&#8217;allāhu ‘alā rasūlihī min ahlil-qurā fa lillāhi wa lir-rasūli wa liżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wabnis-sabīl(i), kailā yakūna dūlatam bainal-agniyā&#8217;i minkum, wa mā ātākumur-rasūlu fa khużūhu wa mā nahākum ‘anhu fantahū, wattaqullāh(a), innallāha syadīdul-‘iqāb(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Harta rampasan (fai&#8217;) dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِلْفُقَرَاۤءِ الْمُهٰجِرِيْنَ الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا وَّيَنْصُرُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lil-fuqarā&#8217;il-muhājirīnal-lażīna ukhrijū min diyārihim wa amwālihim yabtagūna faḍlam minallāhi wa riḍwānaw wa yanṣurūnallāha wa rasūlah(ū), ulā&#8217;ika humuṣ-ṣādiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna tabawwa&#8217;ud-dāra wal-īmāna min qablihim yuḥibbūna man hājara ilaihim wa lā yajidūna fī ṣudūrihim ḥājatam mimmā ūtū wa yu&#8217;ṡirūna ‘alā anfusihim wa lau kāna bihim khaṣāṣah(tun), wa may yūqa syuḥḥa nafsihī fa ulā&#8217;ika humul-mufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna jā&#8217;ū mim ba‘dihim yaqūlūna rabbanagfir lanā wa li&#8217;ikhwāninal-lażīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj‘al fī qulūbinā gillal lil-lażīna āmanū rabbanā innaka ra&#8217;ūfur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara ilal-lażīna nāfaqū yaqūlūna li&#8217;ikhwānihimul-lażīna kafarū min ahlil-kitābi la&#8217;in ukhrijtum lanakhrujanna ma‘akum wa lā nuṭī‘u fīkum aḥadan abadā(n), wa in qūtiltum lananṣurannakum, wallāhu yasyhadu innahum lakāżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَىِٕنْ اُخْرِجُوْا لَا يَخْرُجُوْنَ مَعَهُمْۚ وَلَىِٕنْ قُوْتِلُوْا لَا يَنْصُرُوْنَهُمْۚ وَلَىِٕنْ نَّصَرُوْهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْاَدْبَارَۙ ثُمَّ لَا يُنْصَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">la&#8217;in ukhrijū lā yakhrujūna ma‘ahum, wa la&#8217;in qūtilū lā yanṣurūnahum, wa la&#8217;in naṣarūhum layuwallunnal-adbār(a), ṡumma lā yunṣarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan jika mereka di-perangi; mereka (juga) tidak akan menolongnya; dan kalau pun mereka menolongnya pastilah mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَاَنْتُمْ اَشَدُّ رَهْبَةً فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنَ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">la&#8217;antum asyaddu rahbatan fī ṣudūrihim minallāh(i), żālika bi&#8217;annahum qaumul lā yafqahūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya dalam hati mereka, kamu (Muslimin) lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ جَمِيْعًا اِلَّا فِيْ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ اَوْ مِنْ وَّرَاۤءِ جُدُرٍۗ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيْدٌ ۗ تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَّقُلُوْبُهُمْ شَتّٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā tuqātilūnakum jamī‘an illā fī quram muḥaṣṣanatin au miw warā&#8217;i judur(in), ba&#8217;suhum bainahum syadīd(un), taḥsabuhum jamī‘aw wa qulūbuhum syattā, żālika bi&#8217;annahum qaumul lā ya‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَمَثَلِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيْبًا ذَاقُوْا وَبَالَ اَمْرِهِمْۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kamaṡalil-lażīna min qablihim qarīban żāqū wabāla amrihim, wa lahum ‘ażābun alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Mereka) seperti orang-orang yang sebelum mereka (Yahudi) belum lama berselang, telah merasakan akibat buruk (terusir) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Dan mereka akan men-dapat azab yang pedih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kamaṡalisy-syaiṭāni iż qāla lil-insānikfur, falammā kafara qāla innī barī&#8217;um minka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Kemudian ketika manusia itu menjadi kafir ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَآ اَنَّهُمَا فِى النَّارِ خٰلِدَيْنِ فِيْهَاۗ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa kāna ‘āqibatahumā annahumā fin-nāri khālidaini fīhā, wa żālika jazā&#8217;uẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka kesudahan bagi keduanya, bahwa keduanya masuk ke dalam neraka, kekal di dalamnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang zalim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad(in), wattaqullāh(a), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lā takūnū kal-lażīna nasullāha fa&#8217;ansāhum anfusahum, ulā&#8217;ika humul-fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yastawī aṣḥābun-nāri wa aṣḥābul-jannah(ti), aṣḥābul-jannati humul-fā&#8217;izūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau anzalnā hāżal-qur&#8217;āna ‘alā jabalil lara&#8217;aitahū khāsyi‘am mutaṣaddi‘am min khasy-yatillāh(i), wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nāsi la‘allahum yatafakkarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sekiranya Kami turunkan Al-Qur&#8217;an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِۚ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), ‘ālimul-gaibi wasy-syahādah(ti), huwar-raḥmānur-raḥīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), al-malikul-quddūsus-salāmul-mu&#8217;minul-muhaiminul-‘azīzul-jabbārul-mutakabbir(u), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ اللّٰهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۗ يُسَبِّحُ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwallāhul-khāliqul-bāri&#8217;ul-muṣawwiru lahul-asmā&#8217;ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-hasyr/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 59. Al-Hasyr</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hasyr/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hasyr/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2026 15:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1193</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 59. Al-Hasyr (الحشر) Jumlah Ayat: 24 Arti: Pengusiran Pengantar Surah: Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah. Dinamai surat Al Hasyr (pengusiran) diambil dari perkataan Al-Hasyr yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi ... <a title="Tafsir Surat 59. Al-Hasyr" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hasyr/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 59. Al-Hasyr">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 59. Al-Hasyr (الحشر)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 24</p>
<p><strong>Arti:</strong> Pengusiran</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.<br /> 	Dinamai surat <i>Al Hasyr</i> (pengusiran) diambil dari perkataan <i>Al-Hasyr</i> yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan  kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam  di sekitar kota Madinah.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa telah bertasbih kepada Allah dan mengagungkan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi, dengan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun dengan pernyataan hati sanubarinya. Allah berfirman:</p>
<p>Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra&#8217;/17: 44)</p>
<p>Dari ayat pertama ini dipahami bahwa seluruh makhluk Allah yang di langit dan di bumi, baik berupa makhluk hidup, seperti manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, maupun makhluk mati seperti batu, air, udara, planet, sungai-sungai, dan sebagainya, bertasbih kepada-Nya. Masing-masing bertasbih menurut keadaan dan kejadiannya. Jika diperhatikan seluruh makhluk Allah yang ada, akan diketahui bahwa tiap-tiap makhluk itu tunduk kepada hukum dan ketetapan yang telah ditentukan baginya. Seakan-akan makhluk-makhluk itu tidak sanggup melepaskan diri dari hukum dan ketetapan itu. Jika ia melanggarnya, niscaya ia akan rusak atau hancur. Hukum dan ketetapan ini merupakan sunatullah.</p>
<p>Sebagai contoh ialah hukum air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air hujan yang turun dari langit menimpa daerah pegunungan, akan tertahan alirannya jika ada yang menahannya. Yang menahannya ialah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan subur di pegunungan. Dengan adanya tumbuh-tumbuhan, maka air akan masuk ke dalam tanah melalui akar-akarnya, sehingga air hujan tidak langsung mengalir ke tempat yang rendah. Aliran air itu seakan-akan diatur sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk minum, pertanian, dan sebagainya. </p>
<p>Jika suatu daerah adalah area yang tandus, maka air hujan tidak ada yang menahannya. Air langsung mengalir ke tempat yang rendah menuju laut, sehingga tidak dapat dimanfaatkan manusia, bahkan dapat merusak manusia dengan adanya bahaya banjir dan kekeringan pada musim kemarau. Dalam hal ini, air tunduk kepada hukum dan ketetapan yang ditetapkan Allah. Tidak seorang pun yang dapat mengingkari hukum dan ketetapan itu, termasuk manusia. Jika manusia memusnahkan hutan, maka bahayanya langsung menimpa mereka. Sebaliknya, jika mereka memeliharanya dengan baik, maka manfaatnya langsung pula mereka terima.</p>
<p>Banyak lagi contoh lain yang menunjukkan bahwa seluruh makhluk senantiasa tunduk dan patuh kepada hukum Allah, seperti hukum daya tarik bumi, dan hukum yang berlaku bagi manusia seperti, barang siapa yang rajin akan berhasil, dan barang siapa yang pemalas tidak akan berhasil. Semua manusia secara fisik tunduk kepada hukum ini. Mengikuti hukum dan ketetapan Allah dengan sebaik-baiknya itu berarti bertasbih kepada-Nya.</p>
<p>Seluruh benda baik di langit maupun di bumi, dari partikel terkecil hingga super galaksi tunduk mengikuti ketetapan Allah (sunatullah). Sebagai contoh adalah perbedaan massa dan orbit planet-planet dalam tata surya kita membentuk sistem dinamis yang stabil dan sempurna, dan berinteraksi satu sama lain dengan penuh harmoni. Semua bertasbih atau tunduk pada ketentuan Allah. </p>
<p>Sebagaimana telah diterangkan pada ayat-ayat yang lalu bahwa hukum Allah itu berupa sunatullah, yaitu hukum yang berlaku di alam ini. Syariat adalah ketentuan dan aturan Allah yang dibawa oleh para rasul untuk manusia. Manusia pasti tunduk dan patuh kepada sunatullah dan wajib taat dan melaksanakan syariat Allah. Adapun makhluk-makhluk yang lain hanya tunduk kepada sunatullah. Manusia yang tunduk kepada kedua hukum Allah itu adalah manusia yang berbahagia hidupnya di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Maksudnya ialah Allah Pencipta semesta alam adalah Zat Mahaperkasa, tidak ada suatu apa pun yang dapat melanggar hukum dan ketetapan-Nya. Barang siapa yang menentang dan melanggarnya akan merasakan akibatnya baik secara langsung atau tidak. Seandainya di dunia mereka belum menerima akibatnya, di akhirat pasti akan merasakannya. Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui dengan pasti faedah dan kegunaan penciptaannya. Allah mengetahui dengan pasti sebab sesuatu diciptakan dan mengetahui dengan pasti pula akibat-akibat yang akan ditimbulkan ciptaan-Nya itu, baik akibatnya itu besar atau kecil.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa di antara bukti keperkasaan dan kebijaksanaan Allah ialah menjadikan orang Yahudi terusir dari kota Medinah. Atas pertolongan-Nya, kaum Muslimin dapat mengusir mereka dari tempat kediaman mereka, padahal mereka sebelumnya adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan menguasai suku Aus dan Khazraj dalam berbagai bidang kehidupan.</p>
<p>Sejak sebelum kelahiran Nabi Isa, orang-orang Yahudi telah mendiami kota Medinah. Mereka terdiri atas tiga suku, yaitu suku Bani Qainuqa&#8217;, Bani Nadhir, dan Bani Quraidhah. Setelah Nabi Muhammad hijrah ke Medinah, beliau mengadakan perjanjian damai dengan ketiga suku itu. Di antara isi perjanjian damai itu ialah:</p>
<p>1.Kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi sama-sama berusaha menciptakan suasana damai di kota Medinah. Masing-masing dari mereka dibebaskan memeluk agama yang mereka yakini.</p>
<p>2.Kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi wajib saling menolong dan memerangi setiap orang atau kabilah lain yang hendak menyerang kota Medinah.</p>
<p>3.Barang siapa di antara masing-masing mereka bertempat tinggal di dalam atau di luar kota Medinah, wajib dipelihara keamanan dan hartanya.</p>
<p>4.Seandainya terjadi perselisihan atau pertentangan antara kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi, yang tidak dapat diselesaikan, maka urusannya diserahkan kepada Nabi Muhammad.</p>
<p>Sekalipun telah diadakan perjanjian damai seperti yang telah diterangkan di atas, dalam hati orang-orang Yahudi masih tertanam rasa dengki dan iri hati kepada Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin. Mereka menganggap diri mereka sebagai putra dan kekasih Allah, dengan demikian rasul dan kenabian itu adalah hak mereka sebagai orang Yahudi. Menurut mereka, suku bangsa yang lain tidak berhak atas kedudukan yang diberikan Allah itu. Perasaan dengki dan iri hati mereka semakin bertambah setelah melihat keberhasilan Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam, sehingga semakin hari semakin berkembang, sedangkan mereka tidak mampu menghalanginya. Sekalipun demikian, mereka selalu mengintai kesempatan untuk melaksanakan keinginan mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapangdadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Baqarah/2: 109)</p>
<p>Pada awalnya, mereka mencoba mengalahkan Nabi Muhammad dengan cara berdebat, tetapi mereka selalu gagal dalam mematahkan alasan-alasan yang dikemukakannya. Oleh karena itu, mereka mulai menempuh cara kekerasan, provokasi, dan fitnah.</p>
<p>Mula-mula Bani Qainuqa&#8217; melanggar perjanjian damai yang telah dibuat dengan Rasulullah saw. Pada suatu hari, seorang perempuan Arab Muslimah masuk pasar Bani Qainuqa&#8217;, lalu mereka menganiayanya. Seorang Arab yang kebetulan sedang lewat di tempat itu mencoba membelanya, tetapi ia dikeroyok dan dipukuli sampai meninggal dunia. Perbuatan Bani Qainuqa&#8217; ini menimbulkan amarah kaum Muslimin, sehingga terjadilah perkelahian antara kedua kelompok, yang menimbulkan kerugian harta dan jiwa pada kedua belah pihak. Rasulullah saw berusaha mendamaikannya, tetapi mereka selalu mengingkarinya dan melakukan keonaran. Karena sikap mereka yang selalu menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslimin dan membahayakan keamanan kota Medinah, maka Rasulullah memberi keputusan memerangi mereka sehingga mereka keluar dari kota Medinah. Peristiwa itu terjadi setelah Perang Badar.</p>
<p>Setelah peristiwa Bani Qainuqa&#8217;, orang-orang Yahudi Bani Nadhir melakukan pengkhianatan pula. Mereka merencanakan pembunuhan atas diri Nabi Muhammad. Percobaan pembunuhan itu mereka lakukan pada waktu Nabi dan para sahabat berkunjung ke perkampungan mereka. Akan tetapi, rencana mereka itu gagal dan Rasulullah saw selamat dari percobaan pembunuhan itu. Sehubungan dengan hal itu, Allah berfirman:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal. (al-Ma&#8217;idah/5: 11)</p>
<p>Setelah Rasulullah saw membongkar rencana pembunuhan itu, maka beliau memutuskan untuk mengusir Bani Nadhir dari kota Medinah. Pengusiran ini terjadi pada bulan Rabiulawal tahun keempat Hijriah. Di antara mereka ada yang menetap di Syam dan Khaibar. </p>
<p>Keputusan Rasulullah saw ini mereka tentang, dan secara diam-diam mereka menyusun kekuatan untuk memerangi kaum Muslimin. Mereka mengadakan persekutuan dengan orang-orang musyrik Mekah dan orang munafik. Bani Quraidhah yang masih tinggal dalam kota Medinah ikut pula dalam persekutuan itu. Maka Rasulullah saw mengepung mereka selama 25 hari. Di antara mereka ada yang terbunuh dan diusir. </p>
<p>Dengan demikian, semua orang Yahudi yang dahulu tinggal di Medinah telah berpindah ke tempat lain, seperti Khaibar, Syam, dan negeri-negeri yang lain. Inilah yang dimaksud dengan pengusiran dalam ayat ini, yaitu pengusiran orang-orang Yahudi dari kota Medinah karena pengkhianatan mereka terhadap perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah saw.</p>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah mengusir orang-orang Yahudi, Bani Qainuqa&#8217; dan Bani Nadhir, dari Medinah untuk pertama kalinya dengan memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin untuk mengalahkan dan mengusir mereka.</p>
<p>Perkataan &#8220;pertama kalinya&#8221; menunjukkan bahwa ada beberapa kali terjadi pengusiran orang-orang Yahudi dari Medinah. Adapun yang dimaksud dalam ayat ini adalah pengusiran pertama. Pengusiran berikutnya ialah pengusiran orang-orang Yahudi Bani Quraidhah setelah Perang Ahzab, dan pengusiran yang dilakukan &#8216;Umar bin al-Khaththab ketika beliau menjadi khalifah.</p>
<p>Orang-orang yang beriman tidak mengira bahwa orang-orang Yahudi dapat terusir dari kota Medinah, mengingat keadaan, kekuatan, kekayaan, pengetahuan, dan perlengkapan mereka. Orang-orang Yahudi yang tinggal di Medinah pada waktu itu lebih baik keadaannya dibandingkan dengan kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Mereka banyak yang pandai tulis baca, banyak yang berilmu, dan sebagainya, di samping kelihaian mereka dalam berusaha, berdagang dan mengurus sesuatu. Kenyataan menunjukkan bahwa pengusiran itu terlaksana. Hal ini dapat memperkuat iman kaum Muslimin dan kepercayaan mereka akan adanya pertolongan Allah.</p>
<p>Bani Nadhir semula mengira bahwa benteng-benteng yang kokoh yang telah mereka buat dapat menyelamatkan mereka dari serangan musuh-musuh. Mereka percaya benar akan kekuatannya, sehingga mereka semakin berani mengadu domba dan memfitnah kaum Muslimin, sehingga orang-orang musyrik Mekah bertambah kuat rasa permusuhannya. Lalu orang Yahudi merencanakan persekutuan dengan orang-orang musyrik dan orang-orang munafik untuk memerangi kaum Muslimin.</p>
<p>Dalam keadaan yang demikian itu, tiba-tiba Bani Nadhir dikalahkan oleh kaum Muslimin yang mereka anggap enteng selama ini. Bahkan mereka diusir dari Medinah. Mereka hanya diperkenankan membawa barang-barang mereka sekadar yang dapat dibawa unta-unta mereka. Sebagian Bani Nadhir pergi ke Adhriat (Syam) dan sebahagian lagi ke Khaibar.</p>
<p>Kemudian diterangkan sebab-sebab kekalahan, penerimaan, dan ketundukan Bani Nadhir kepada keputusan Rasulullah saw ketika beliau datang kepada mereka. Pada waktu itu, timbullah ketakutan yang amat sangat dalam hati mereka, terutama karena tindakan Rasulullah menjatuhkan hukuman mati kepada pimpinan mereka yaitu Ka&#8217;ab bin Asyraf dan ditambah lagi dengan tindakan orang-orang munafik yang tidak menepati janjinya terhadap mereka.</p>
<p>Allah menerangkan keadaan orang-orang Yahudi Bani Nadhir di waktu mereka akan meninggalkan Medinah dalam keadaan terusir. Mereka meruntuhkan rumah-rumah mereka, dan menutup jalan-jalan yang ada dalam perkampungan mereka, dengan maksud agar rumah itu tidak dapat dipakai kaum Muslimin dan agar mereka dapat membawa peralatannya sebanyak mungkin. Mereka meninggalkan Medinah dengan penuh kemarahan dan dendam kepada kaum Muslimin, tetapi mereka tidak mau memahami dan memikirkan sebab-sebab mereka diusir, apakah keputusan itu telah sesuai dengan tindakan mereka atau tidak.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan kaum Muslimin yang mau menggunakan pikirannya agar merenungkan peristiwa itu, dan mengambil pelajaran darinya. Jika mereka merenungkan dan memikirkan dengan baik, tentu akan berkesimpulan bahwa keputusan dan hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Nadhir itu adalah keputusan dan hukuman yang setimpal, bahkan dianggap ringan mengingat perbuatan dan tindakan yang telah mereka lakukan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa hukuman mati bagi pemimpin mereka dan hukuman pengusiran itu adalah hukuman yang sebanding dengan kejahatan yang telah mereka lakukan. Sebenarnya hukuman itu masih lebih ringan jika dibandingkan dengan hukuman yang diberikan kepada orang-orang musyrik di Perang Badar, lebih ringan dari hukuman yang diberikan kepada suku Bani Quraidhah. Apalagi dibanding dengan hukuman-hukuman yang ditimpakan Allah kepada umat-umat yang lalu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Hukuman yang diperoleh orang-orang Yahudi ialah mereka dikalahkan oleh orang-orang yang beriman dan diusir dari Medinah. Hukuman itu terjadi karena mereka menentang Allah dan rasul-Nya, serta mendustakan wahyu-Nya. Telah menjadi sunatullah bahwa setiap orang yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya akan ditimpa azab dan mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Menurut riwayat al-hakim dari &#8216;Aisyah, golongan Yahudi Bani Nadhir yang tinggal dan berkebun kurma dalam kota Medinah telah dibatasi gerak-gerik mereka oleh Rasulullah saw enam bulan setelah Perang Badar. Kemudian mereka diusir ke luar kota Medinah dan dibolehkan membawa harta kekayaan mereka sekadar apa yang dapat dibawa oleh unta mereka. Sebelum itu Rasulullah saw memerintahkan untuk menguasai dan menebang pohon kurma mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir yang berasal dari Qatadah, Mujahid, dan Yazid bin Ruman bahwa ketika Rasulullah sampai ke tempat Bani Nadhir, mereka bersembunyi dalam benteng-benteng mereka. Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslimin menebang dan membakar pohon kurma mereka sehingga memunculkan asap. Bani Nadhir berteriak memanggil Rasulullah saw, &#8220;Hai Muhammad, engkau telah melarang mengadakan kerusakan di muka bumi ini dan mencela orang-orang yang berbuat kerusakan itu, akan tetapi mengapa engkau menebang pohon kurma dan membakarnya?&#8221; Oleh karena itu, timbullah pada pikiran orang-orang yang beriman keragu-raguan. Mereka berkata, &#8220;Kami akan menanyakan kepada Rasulullah saw. Apakah kami memperoleh pahala karena menebang pohon-pohon kurma itu, atau kami berdosa karena kami tidak mengetahui.&#8221; Maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa perintah penebangan dan pembakaran pohon kurma orang-orang Yahudi itu adalah atas perintah Allah, dan Allah membenarkan untuk merusak harta orang-orang kafir seandainya hal itu diperlukan.</p>
<p>Semua tindakan yang dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Yahudi Bani Nadhir, baik merobohkan pohon-pohon kurma mereka atau tidak, semua itu berdasarkan perintah Allah dengan maksud membersihkan Medinah dari kejahatan Bani Nadhir.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah memerintahkan yang demikian itu untuk memuliakan dan meningkatkan semangat orang-orang yang beriman, serta menghinakan dan melipatgandakan kedukaan orang-orang Yahudi Bani Nadhir. Kedukaan karena kalah dalam berperang, kedukaan karena terusir dari kampung halaman, dan kedukaan karena kemusnahan harta benda mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Ayat ini menerangkan hukum fai&#8217;, yaitu harta rampasan yang diperoleh dari musuh, tanpa peperangan. Hal ini terjadi karena musuh telah menyerah dan mengaku kalah, sebelum terjadinya pertempuran. Harta-harta yang ditinggalkan Bani Nadhir setelah mereka diusir dari kota Medinah dianggap sebagai fai&#8217;, karena Bani Nadhir menyerah kepada kaum Muslimin sebelum terjadi peperangan.</p>
<p>Allah menerangkan bahwa harta-harta Bani Nadhir yang mereka tinggalkan karena diusir dari Medinah jatuh ke tangan Rasulullah saw dengan kehendak Allah, sehingga menjadi milik Allah dan rasul-Nya. Harta itu tidak dibagi-bagikan kepada tentara yang berperang, sebagaimana yang berlaku pada harta rampasan perang (ganimah). Karena harta itu diperoleh tanpa melalui peperangan, tanpa menggunakan tentara berkuda dan berunta, seakan-akan tidak ada usaha dari tentara kaum Muslimin dalam mendapatkan harta itu. Orang-orang Yahudi Bani Nadhir yang memiliki harta itu telah menyatakan bahwa mereka mengaku kalah sebelum terjadinya peperangan, dan bersedia menerima syarat-syarat yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya bagi mereka. Harta itu digunakan untuk menegakkan agama Allah dan kepentingan umum.</p>
<p>Menurut al-Qurthubi, bahwa harta fai&#8217; yang diserahkan Allah kepada Rasul-Nya tidak diambil dan dipergunakan Rasul semuanya, tetapi Rasul hanya mengambil sekedar untuk kebutuhan keluarganya. Sedangkan sisa yang lain dipergunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan kaum Muslimin.</p>
<p>Allah menerangkan bahwa sunah-Nya telah berlaku bagi semua makhluk ciptaan-Nya pada setiap keadaan, masa, dan tempat, yaitu mengalahkan dan menimbulkan rasa takut di dalam hati musuh-musuh rasul-Nya. Di antaranya adalah Allah telah menjadikan dalam hati Bani Nadhir rasa takut, sehingga mereka menyerah kepada Rasulullah saw. Karena mereka telah menyerah, maka Allah memberikan wewenang kepada rasul-Nya untuk menguasai harta Bani Nadhir. Oleh karenanya, tentara kaum Muslimin tidak berhak memperolehnya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan kekuasaan-Nya atas semua makhluk ciptaan-Nya. Jika Allah menghendaki, Dia menanamkan rasa takut dan gentar musuh-musuh-Nya tanpa pertempuran, sebagaimana yang telah terjadi pada Bani Nadhir. Mereka menyerah kalah, walaupun berada dalam benteng-benteng yang kukuh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa harta fai&#8217; yang berasal dari orang kafir, seperti harta-harta Bani Quraidhah, Bani Nadhir, penduduk Fadak dan Khaibar, kemudian diserahkan Allah kepada Rasul-Nya, dan digunakan untuk kepentingan umum, tidak dibagi-bagikan kepada tentara kaum Muslimin. Kemudian diterangkan pembagian harta fai itu untuk Allah, Rasulullah, kerabat-kerabat Rasulullah dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib, anak-anak yatim yang fakir, orang-orang miskin yang memerlukan pertolongan, dan orang-orang yang kehabisan uang belanja dalam perjalanan.</p>
<p>Setelah Rasulullah saw wafat, maka bagian Rasul yang empat perlima dan yang seperlima dari seperlima itu digunakan untuk keperluan orang-orang yang melanjutkan tugas kerasulan, seperti para pejuang di jalan Allah, para dai, dan sebagainya. Sebagian pengikut Syafi&#8217;i berpendapat bahwa bagian Rasulullah itu diserahkan kepada badan-badan yang mengusahakan kemaslahatan kaum Muslimin dan untuk menegakkan agama Islam.</p>
<p>Ibnus-sabil yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang terlantar dalam perjalanan untuk tujuan baik, karena kehabisan ongkos dan orang-orang yang terlantar tidak mempunyai tempat tinggal. Kemudian diterangkan bahwa Allah menetapkan pembagian yang demikian bertujuan agar harta itu tidak jatuh ke bawah kekuasaan orang-orang kaya dan dibagi-bagi oleh mereka, sehingga harta itu hanya berputar di kalangan mereka saja seperti yang biasa dilakukan pada zaman Arab Jahiliah.</p>
<p>Allah memerintahkan kaum Muslimin agar mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diputuskan itu, baik mengenai harta fai&#8217; maupun harta ganimah. Harta itu halal bagi kaum Muslimin dan segala sesuatu yang dilarang Allah hendaklah mereka jauhi dan tidak mengambilnya.</p>
<p>Ayat ini mengandung prinsip-prinsip umum agama Islam, yaitu agar menaati Rasulullah dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi larangannya, karena menaati Rasulullah saw pada hakikatnya menaati Allah juga. Segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah berasal dari Allah, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur&#8217;an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur&#8217;an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (an Najm/53: 3-4)</p>
<p>Rasulullah saw menyampaikan segala sesuatu kepada manusia dengan tujuan untuk menjelaskan agama Allah yang terdapat dalam Al-Qur&#8217;an. Allah berfirman:</p>
<p>(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Adh-dzikr (Al-Qur&#8217;an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (an-Nahl/16: 44)</p>
<p>Ayat 44 surah an-Nahl ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar melaksanakan hadis-hadis Rasulullah, sebagaimana melaksanakan pesan-pesan Al-Qur&#8217;an, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.</p>
<p>Pada akhir ayat 7 ini, Allah memerintahkan manusia bertakwa kepada-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidak bertakwa kepada Allah berarti durhaka kepada-Nya. Setiap orang yang durhaka itu akan ditimpa azab yang pedih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa orang yang berhak memperoleh pembagian harta fai&#8217; dalam ayat 7 di atas, adalah orang-orang Muhajirin karena mereka dianggap kerabat Rasulullah saw. Mereka sebagai Muhajirin telah datang ke Medinah mengikuti Rasulullah saw berhijrah dengan meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, harta benda, dan handai tolan yang biasa membantu mereka. Di Medinah mereka hidup dalam keadaan miskin, tetapi mereka adalah pembela Rasul dan pejuang di jalan Allah. Seakan-akan dengan ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar memperhatikan mereka dengan menyerahkan sebagian fai&#8217; ini untuk mereka.</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang-orang Muhajirin itu sebagai berikut: </p>
<p>1.Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka menunjukkan ketaatan mereka hanya kepada Allah saja dengan mengorbankan semua yang mereka miliki hanya untuk mencari keridaan-Nya.</p>
<p>2.Orang-orang yang rela meninggalkan rumah dan harta bendanya untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>3.Orang-orang yang berani mengorbankan jiwa dan raganya untuk membela Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa kemiskinan dan penderitaan orang-orang Muhajirin sedemikian rupa sehingga ada yang mengikatkan tali ke perut mereka untuk mengurangi rasa lapar. Namun demikian, mereka tidak menampakkan kemiskinan dan penderitaan mereka kepada orang lain.</p>
<p>Pada ayat yang lain, Allah memerintahkan kaum Muslimin agar memberi nafkah kepada mereka, di samping juga menyebutkan sifat-sifat mereka:</p>
<p>(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui. (al-Baqarah/2: 273)</p>
<p>Oleh karena itu, Allah menyediakan pahala yang besar untuk mereka sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis Nabi saw: </p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Berilah kabar gembira wahai kaum Muhajirin yang miskin dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat. Kalian masuk surga lebih dahulu setengah hari sebelum orang-orang kaya. Setengah hari (pada hari Kiamat) adalah selama lima ratus tahun (masa di dunia).&#8221; (Riwayat Abu Dawud dari Sa&#8217;id al-Khudri)</p>
<p>Orang yang memiliki sifat dan keadaan seperti orang Muhajirin itu ada sepanjang masa selama ada perjuangan menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, perintah dalam ayat ini berlaku juga bagi kaum Muslimin saat ini dan kaum Muslimin di masa yang akan datang.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan sikap orang-orang mukmin dari golongan Ansar dalam menerima dan menolong saudara-saudara mereka orang-orang Muhajirin yang miskin, dan pernyataan Allah yang memuji sikap mereka itu. Sifat-sifat orang Ansar itu ialah:</p>
<p>1.Mereka mencintai orang-orang Muhajirin, dan menginginkan agar orang Muhajirin itu memperoleh kebaikan sebagaimana mereka menginginkan kebaikan itu untuk dirinya. Rasulullah saw memper-saudarakan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Ansar, seakan-akan mereka saudara kandung. Orang-orang Ansar menyedia-kan sebagian rumah-rumah mereka untuk orang-orang Muhajirin, dan mencarikan perempuan-perempuan Ansar untuk dijadikan istri orang-orang Muhajirin dan sebagainya.</p>
<p>&#8216;Umar bin al-Khaththab pernah berkata, &#8220;Aku mewasiatkan kepada khalifah yang diangkat sesudahku, agar mereka mengetahui hak orang Muhajirin dan memelihara kehormatan mereka. Dan aku berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Ansar, orang yang tinggal di kota Medinah dan telah beriman sebelum kedatangan orang Muhajirin, agar Allah menerima kebaikan mereka dan memaafkan segala kesalahan mereka.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Mundhir dari Yazid bin al-Aslam diterangkan bahwa orang Ansar berkata, &#8220;Ya Rasulullah, bagi dia tanah kami ini, yang sebagian untuk kami kaum Ansar dan sebagian lagi untuk kaum Muhajirin.&#8221; Nabi saw menjawab, &#8220;Tidak, penuhi saja keperluan mereka dan bagi dualah buah kurma itu, tanah itu tetap kepunyaanmu.&#8221; Mereka berkata, &#8220;Kami rida atas keputusan itu.&#8221; Maka turunlah ayat ini yang menggambarkan sifat-sifat orang-orang Ansar.</p>
<p>2.Orang Ansar tidak berkeinginan memperoleh harta fai&#8217; itu seperti yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw berkata kepada orang-orang Ansar, &#8220;Sesungguhnya saudara-saudara kami (Muhajirin) telah meninggalkan harta-harta dan anak-anak mereka dan telah hijrah ke negerimu.&#8221; Mereka berkata, &#8220;Harta kami telah terbagi-bagi di antara kami.&#8221; Rasulullah berkata, &#8220;Atau yang lain dari itu?&#8221; Mereka berkata, &#8220;Apa ya Rasulullah?&#8221; Beliau berkata, &#8220;Mereka adalah orang yang tidak bekerja, maka sediakan tamar dan bagikanlah kepada mereka.&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Baik ya Rasulullah.&#8221;</p>
<p>3.Mereka mengutamakan orang Muhajirin atas diri mereka, sekalipun mereka sendiri dalam kesempitan, sehingga ada seorang Ansar mempunyai dua orang istri, kemudian yang seorang diceraikannya agar dapat dikawini temannya Muhajirin.</p>
<p>Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi, dan an-Nasa&#8217;i dari Abu Hurairah, ia berkata, &#8220;Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah saw, dan berkata, &#8216;Aku lapar. Maka Rasulullah berkata kepada istri-istrinya menanyakan makanan, tapi tidak ada, beliau berkata, &#8216;Apakah tidak ada seorang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini? Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini, akan diberi rahmat oleh Allah. Abu thalhah, seorang dari golongan Ansar, berkata, &#8216;Saya ya Rasulullah. Maka ia pergi menemui istrinya dan berkata, &#8216;Hormatilah tamu Rasulullah. Istrinya menjawab, &#8216;Demi Allah, tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak. Abu thalhah berkata, &#8216;Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini agar kita dapat menerima tamu Rasulullah. Maka hal itu dilakukan istrinya. Pagi-pagi besoknya Abu thalhah menghadap Rasulullah saw menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda, &#8216;Allah benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan suami-istri tersebut. Maka ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa itu.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan pula oleh al-Wahidi dari Muharib bin Ditsar dari Ibnu &#8216;Umar bahwa seorang sahabat Rasulullah saw dari golongan Ansar diberi kepala kambing. Timbul dalam pikirannya bahwa mungkin ada orang lain lebih memerlukan dari dirinya. Seketika itu juga kepala kambing itu dikirimkan kepada kawannya, tetapi oleh kawannya itu dikirim pula kepada kawannya yang lain, sehingga kepala kambing itu berpindah-pindah pada tujuh rumah dan akhirnya kembali ke rumah orang yang pertama. Riwayat ini ada hubungannya dengan penurunan ayat ini.</p>
<p>Allah selanjutnya menegaskan bahwa orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya dengan mengikuti agama Allah, sehingga ia dapat menghilangkan rasa loba terhadap harta, sifat kikir, dan sifat mengutamakan diri sendiri, adalah orang-orang yang beruntung. Mereka telah berhasil mencapai tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan Allah.</p>
<p>Dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan bahwa beliau bersabda:</p>
<p>Tidak akan berkumpul debu-debu (yang lengket) pada wajah seseorang ketika berjuang di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam selama-lamanya, dan tidak akan berkumpul pada hati seorang hamba sifat kikir dan keimanan selama-lamanya. (Riwayat an-Nasa&#8217;i)</p>
<p>Dalam hadis lain dijelaskan:</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Peliharalah dirimu dari perbuatan zalim, sesungguhnya perbuatan zalim (menimbulkan) kegelapan di hari Kiamat, peliharalah dirimu dari sifat-sifat kikir, karena sesungguhnya kikir itu menghancurkan orang-orang yang sebelum kamu, menimbulkan pertumpahan darah di antara mereka dan akan menghalalkan yang mereka haramkan.&#8221; (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan al-Baihaqi dari Jabir bin &#8216;Abdullah)</p>
<p>Nabi saw juga bersabda dalam hadis lain:</p>
<p>(Tiga golongan) yang terbebas dari sifat kikir, yaitu orang yang membayarkan zakat, memuliakan tamu, dan memberikan sesuatu kepada orang yang susah. (Riwayat ath-thabrani)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa generasi kaum Muslimin yang datang kemudian, setelah berakhirnya generasi Muhajirin dan Ansar, sampai datangnya hari Kiamat nanti berdoa kepada Allah, yang artinya, &#8220;Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami seagama yang lebih dahulu beriman daripada kami.&#8221;</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat diambil dari ayat ini, yaitu:</p>
<p>1.Jika seseorang berdoa, maka doa itu dimulai untuk diri sendiri, kemudian untuk orang lain.</p>
<p>2.Kaum Muslimin satu dengan yang lain mempunyai hubungan persaudaraan, seperti hubungan saudara seibu-sebapak. Mereka saling mendoakan agar diampuni Allah segala dosa-dosanya, baik yang sekarang, maupun yang terdahulu.</p>
<p>3.Kaum Muslimin wajib mencintai para sahabat Rasulullah saw, karena mereka telah memberikan contoh dalam berhubungan yang baik dengan sesama manusia. Jika seseorang ingin hidupnya bahagia di dunia dan di akhirat, hendaklah mencontoh hubungan persaudaraan yang telah dilakukan kaum Muhajirin dan Ansar itu.</p>
<p>Ayat ke-10 ini mempunyai hubungan erat dengan ayat sebelumnya (ayat ke-9). Oleh karena itu, maksud ayat ini ialah menjelaskan bagaimana hubungan orang-orang Muhajirin yang telah meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta mereka di Mekah dengan orang-orang Ansar yang beriman yang menerima orang-orang Muhajirin dengan penuh kecintaan dan persaudaraan di kampung halaman mereka, yang mereka lakukan semata-mata untuk mencari keridaan Allah dan bersama-sama menegakkan agama Allah serta menunjukkan iman mereka yang benar, demikian pulalah hendaknya hubungan kaum Muslimin yang datang sesudahnya. Hendaklah mereka tolong-menolong dan mempererat persaudaraan dalam meninggikan kalimat Allah.</p>
<p>Dari ayat ini dapat dipahami bahwa hubungan orang yang sedang berhijrah dan penduduk negeri yang menerima mereka, dapat menimbulkan hubungan persaudaraan yang kuat di antara manusia, asal dalam hubungan itu terdapat unsur-unsur keimanan, keikhlasan, dan tolong-menolong, seperti yang telah dilakukan kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Dalam situasi ini terdapat kesempatan yang paling banyak bagi seorang mukmin untuk melakukan berbagai perbuatan yang membentuk sifat-sifat takwa dan diridai Allah.</p>
<p>Ibnu Abi Laila berkata, &#8220;Manusia terbagi kepada beberapa tingkatan yaitu tingkatan Muhajirin, tingkatan Ansar, dan tingkatan generasi sesudahnya yang selalu mengikuti jejak Muhajirin dan Ansar. Oleh karena itu, hendaknya kita berupaya agar dapat masuk ke dalam salah satu dari tiga tingkatan tersebut.</p>
<p>Kemudian disebutkan lanjutan doa orang-orang yang beriman itu, yang artinya, &#8220;Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau timbulkan dalam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman.&#8221;</p>
<p>Rasa dengki dan dendam adalah sumber segala kejahatan dan maksiat yang mendorong orang berbuat kebinasaan, kezaliman, dan menumpahkan darah di muka bumi. Allah berfirman:</p>
<p>Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah/9: 100)</p>
<p>Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang tersebut dalam ayat 10 ini mengatakan bahwa Allah Maha Penyayang kepada para hamba-Nya, dan banyak melimpahkan rahmat-Nya. Oleh karena itu, mereka mohon agar Dia memperkenankan doa-doa mereka.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu &#8216;Umar bahwa ia mendengar seorang laki-laki bertemu dengan sebagian orang Muhajirin, maka dibacakan ayat, &#8220;Lil fuqara&#8217;il-muhajirin&#8221; (bagi orang fakir golongan Muhajirin), kemudian salah seorang berkata kepadanya, &#8220;Mereka itu orang-orang Muhajirin, apakah kamu termasuk sebagian dari mereka.&#8221; Orang itu menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; Kemudian dibacakan pula kepadanya: &#8220;Wal-ladhina tabawwa&#8217;ud-dara wal-imana min qablihim&#8221; (dan orang-orang yang telah menempati kota Medinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka). Kemudian salah seorang berkata kepadanya, &#8220;Mereka itu golongan Ansar, apakah engkau dari golongan mereka?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Tidak.&#8221; Kemudian dibacakan ayat: &#8220;Wal-ladhina ja&#8217;u min ba&#8217;dihim&#8221; (orang-orang yang datang kemudian), Seseorang juga bertanya kepadanya, &#8220;Apakah engkau dari golongan mereka?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku mengharap demikian.&#8221; Kemudian ia berkata, &#8220;Bukankah sebagian mereka mencela sebagian yang lain?&#8221; Ayat ini menunjukkan bahwa antara orang-orang mukmin tidak boleh mencela sesama mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Mundhir, dan Abu Nu&#8217;aim dari Ibnu &#8216;Abbas bahwa ayat ini turun berhubungan dengan segolongan orang dari Bani Auf, di antaranya ialah &#8216;Abdullah bin Ubay bin Salul, Wadi&#8217;ah bin Malik, Suwaid, dan Da&#8217;is, diutus kepada Bani Nadhir sebagaimana diterangkan ayat ini.</p>
<p>Allah mengatakan kepada Rasulullah saw, &#8220;Apakah engkau tidak heran hai Muhammad melihat tindakan-tindakan orang-orang munafik itu? Mereka menjanjikan sesuatu kepada orang-orang Yahudi Bani Nadhir, yang berlawanan dengan keinginan mereka sendiri. Orang-orang munafik yang dipimpin oleh &#8216;Abdullah bin Ubay mengatakan kepada orang Yahudi Bani Nadhir bahwa mereka adalah teman akrab, karena mereka menyimpan permusuhan dengan kaum Muslimin.&#8221;</p>
<p>Mereka mengatakan, &#8220;Hai Bani Nadhir, jika kamu sekalian diusir dari negerimu sebagaimana dikehendaki Muhammad saw dan kaum Muslimin, pastilah kami akan bersama-sama dengan kamu, dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi kami ikut serta dengan kamu sekalian.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya orang-orang munafik itu mengatakan, &#8220;Hai Bani Nadhir, jika kamu sekalian diperangi Muhammad kami pasti menolongmu dan ikut menumpas musuh-musuh kamu&#8221;, kenyataannya semua yang dijanjikan orang-orang munafik itu bohong belaka. Mereka dengan mudah mengingkari janji yang telah mereka janjikan walaupun janji itu dikuatkan dengan sumpah. Allah mengetahui bahwa mereka berdusta.</p>
<p>Perkataan &#8220;Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta&#8221; merupakan suatu kabar gaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebagaimana disebutkan bahwa orang-orang munafik telah menjanjikan pertolongan kepada Bani Nadhir, tetapi Allah menyatakan bahwa orang-orang munafik itu tidak akan menepati janjinya. Hal itu benar-benar terbukti di kemudian hari. Pemberitaan suatu kejadian yang akan terjadi di kemudian hari ini termasuk bukti kemukjizatan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>&#8216;Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya ketika melihat kaum Muslimin mengepung Bani Nadhir, mengirim dua orang utusan untuk menyampaikan pesan bahwa ia dan kawan-kawannya akan datang membantu dengan segala kekuatan yang ada pada mereka, untuk membebaskan mereka dari kepungan Muhammad. Setelah Bani Nadhir dikepung rapat oleh kaum Muslimin selama berhari-hari, bantuan yang dijanjikan itu tidak kunjung datang. Akhirnya orang Yahudi Bani Nadhir yakin bahwa janji &#8216;Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya itu adalah janji bohong belaka. Maka timbullah rasa takut dan gentar dalam hati mereka. Oleh karena itu, mereka menyatakan menyerah kepada Rasulullah saw tanpa syarat. Maka Rasulullah saw menetapkan bahwa mereka harus menerima hukuman yang ditetapkan bagi mereka, dan keluar dari kota Medinah dengan paksa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan kebenaran kembali pemberitaan akan terjadinya suatu peristiwa pada masa yang akan datang dengan menyatakan bahwa sebenarnya jika Bani Nadhir itu diusir dari kota Medinah, tidak ada orang munafik yang ikut bersama mereka. Demikian pula jika Muhammad saw memerangi Bani Nadhir, mereka pun tidak akan memberikan pertolongan dan Bani Nadhir akan kalah, karena Allah tidak memberi pertolongan kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa sebab-sebab orang munafik tidak menepati janjinya menolong Bani Nadhir, sebagaimana yang telah mereka sepakati, adalah karena mereka lebih takut kepada kaum Muslimin daripada kepada Allah. Oleh karena itu, mereka tidak berani melawan kaum Muslimin, meskipun mereka bersama Bani Nadhir.</p>
<p>Ayat ini menunjukkan apa yang terkandung dalam hati orang-orang munafik. Mereka tidak percaya kepada kekuasaan dan kebesaran Allah. Hal terpenting bagi mereka ialah keselamatan diri dan harta benda mereka masing-masing. Untuk keselamatan itu, mereka melakukan apa yang mungkin dilakukan, seperti perbuatan nifaq, kepada Rasulullah mereka menyatakan termasuk orang-orang yang beriman, sedang kepada Bani Nadhir mereka menyatakan senasib dan sepenanggungan dalam menghadapi kaum Muslimin.</p>
<p>Di samping itu, mereka tidak mau memahami ajaran yang disampaikan Rasulullah kepada mereka. Apakah ajaran itu benar atau tidak, bagi mereka, yang menentukan segala sesuatu hanyalah harta benda dan kekayaan. Oleh karena itu, tampak dalam sikap mereka ketika menghadapi kesulitan, mereka tidak mempunyai pegangan, dan terombang-ambing ke sana ke mari. Mereka lebih takut kepada manusia daripada Allah. Firman Allah:</p>
<p>Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). (an-Nisa&#8217;/4: 77)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa mental orang Yahudi dan orang munafik itu telah jatuh sedemikian rupa. Seandainya orang-orang munafik menepati janji mereka dan berperang bersama orang Yahudi Bani Nadhir menghadapi kaum Muslimin, mereka pun tidak akan mampu menghadapinya, karena dalam hati mereka telah timbul rasa takut dan gentar terhadap kaum Muslimin. Seandainya mereka berperang juga, mereka hanya berperang di balik benteng-benteng yang kokoh yang telah mereka buat, di balik tembok rumah-rumah mereka, tidak berani keluar berhadapan dengan kaum Muslimin.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan sebab lain yang menyebabkan mereka takut berperang menghadapi kaum Muslimin, yaitu di antara mereka sendiri terjadi pertentangan dan permusuhan yang hebat, tak ada persatuan di antara mereka.</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa persatuan dan kesatuan itu merupakan syarat untuk mencapai kemenangan. Betapa pun kuatnya persenjataan, perlengkapan, dan kesatuan tentara, tidak akan ada artinya apabila mereka tidak bersatu dan tidak yakin akan tercapainya cita-cita mereka. Karena bangsa atau umat yang bersatu meskipun dengan perlengkapan yang memadai akan dapat mencapai segala yang mereka cita-citakan. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh umat manusia di mana pun mereka berada.</p>
<p>Sehubungan dengan perlu adanya keyakinan yang kuat, persatuan, dan kesatuan dalam menghadapi apa pun, Allah berfirman:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (al-Anfal/8: 45-46)</p>
<p>Jika tertanam pada suatu bangsa iman yang kuat dan persatuan yang kokoh dan kesatuan tentara yang tak terpecahkan, niscaya mereka akan sanggup menghadapi segala macam kesukaran menghadapi musuh-musuh yang akan memerangi mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, &#8220;Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.&#8221; Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah/2: 249)</p>
<p>Sementara itu, Allah mengingatkan kaum Muslimin agar jangan sekali-kali terpengaruh oleh sesuatu yang kelihatannya baik seperti hubungan orang-orang munafik dengan Bani Nadhir , mereka seakan-akan bersatu-padu menghadapi kaum Muslimin, padahal di antara mereka terdapat pertentangan dan permusuhan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa keadaan orang-orang Yahudi Bani Nadhir itu sama halnya dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa&#8217; yang juga berdomisili di sekitar kota Medinah. Karena tindakan Bani Qainuqa&#8217; serupa dengan tindakan Bani Nadhir, maka mereka diperangi oleh Rasulullah saw pada hari Sabtu bulan Syawal, 20 bulan setelah Nabi hijrah. Akhirnya mereka diusir dari Medinah ke suatu tempat bernama Adhri&#8217;at di negeri Syam. Bani Qainuqa&#8217; telah merasakan akibat buruk dari perbuatan mereka. Jarak waktu antara kedua kejadian itu tidak lama, hanya dua tahun. Jadi peristiwa Bani Nadhir terjadi pada tahun keempat hijrah.</p>
<p>Semestinya peristiwa pengusiran Bani Qainuqa&#8217; menjadi pelajaran bagi Bani Nadhir ketika mengadakan hubungan dengan kaum Muslimin di Medinah. Seandainya mereka melaksanakan ketentuan yang disepakati dalam perjanjian damai yang telah mereka tetapkan bersama Rasulullah saw, mereka akan hidup damai dan tenteram di bawah pemerintahan Rasulullah saw. Tetapi mereka melanggar perjanjian damai itu, sehingga mereka mengalami nasib yang sama dengan Bani Qainuqa&#8217;.</p>
<p>Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kaum Muslimin diperintahkan bersikap baik kepada orang-orang yang bukan Islam, selama orang-orang yang bukan Islam itu bersikap baik kepada mereka. Sikap baik itu adalah cermin dari keinginan hati, kemudian terwujud dalam perbuatan dan tindakan, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Keinginan hati itu terbaca pula pada air muka seseorang dalam pergaulannya. Seandainya orang-orang yang bukan Muslim tidak bersikap baik, seperti yang dilakukan Bani Qainuqa&#8217; dan Bani Nadhir, adalah wajar apabila kaum Muslimin melakukan tindakan yang setimpal untuk mengimbangi tindakan-tindakan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan khianat orang-orang munafik yang berjanji akan menolong Bani Nadhir bila diserang kaum Muslimin dan ikut mereka bila diusir dari Medinah, adalah seperti perbuatan setan.</p>
<p>Setan selalu merayu manusia agar mengingkari Allah dan tidak mengikuti agama yang telah disampaikan rasul-Nya. Akan tetapi, bila manusia itu memerlukan pertolongan dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka yang datang kepada mereka, setan berlepas diri dan tidak menepati janjinya. Mereka bahkan berkata, &#8220;Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.&#8221;</p>
<p>Allah menyamakan orang-orang munafik dengan setan untuk menunjukkan bahwa sifat-sifat orang-orang munafik itu sama dengan sifat-sifat setan. Setan yang durhaka mematuhi hukum-hukum Allah, percaya bahwa Allah itu ada, Maha Esa, dan hanya Dia yang berhak disembah. Setan juga percaya bahwa syarat-syarat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat hanya dengan mengikuti agama Allah. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang fasik. Mereka mengetahui kebenaran sesuatu tetapi tidak melaksanakannya. Demikian pula halnya dengan orang-orang munafik, mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi mereka tidak melaksanakan kebenaran itu. Mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan menghasut dan terlarang. Allah berfirman:</p>
<p>Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, &#8220;Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.&#8221; Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22)</p>
<p>Jadi bentuk perumpamaan dalam ayat ini ialah orang-orang munafik diserupakan dengan setan. Orang-orang Yahudi Bani Nadhir disamakan dengan orang-orang yang teperdaya oleh bujukan setan. Ketakutan mereka kepada kaum Muslimin disamakan dengan ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih dari itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan akibat yang akan dialami oleh orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir yang telah diperdaya setan. Kedua golongan ini akan dimasukkan ke dalam neraka bersama setan yang menjadi teman mereka. Mereka kekal di dalam neraka. Itulah balasan yang setimpal dengan perbuatan-perbuatan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Kepada orang-orang yang beriman diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Termasuk melaksanakan perintah Allah ialah memurnikan ketaatan dan menundukkan diri hanya kepada-Nya, tidak ada sedikit pun unsur syirik di dalamnya, melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, dan mengadakan hubungan baik sesama manusia.</p>
<p>Dalam ayat yang lain diterangkan tanda-tanda orang bertakwa:</p>
<p>Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah/2: 177)</p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an ungkapan kata takwa mempunyai beberapa arti, di antaranya: Pertama, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an dan diajarkan Rasulullah saw seperti contoh ayat di atas. Kedua, takut melanggar perintah Allah dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.</p>
<p>Orang yang bertakwa kepada Allah hendaklah selalu memperhatikan dan meneliti apa yang akan dikerjakan, apakah ada manfaat untuk dirinya di akhirat nanti atau tidak. Tentu yang akan dikerjakannya semua bermanfaat bagi dirinya di akhirat nanti. Di samping itu, hendaklah seseorang selalu memperhitungkan perbuatannya sendiri, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak. Jika lebih banyak dikerjakan yang dilarang Allah, hendaklah ia berusaha menutupnya dengan amal-amal saleh. Dengan perkataan lain, ayat ini memerintahkan manusia agar selalu mawas diri, memperhitungkan segala yang akan dan telah diperbuatnya sebelum Allah menghitungnya di akhirat nanti.</p>
<p>Suatu peringatan pada akhir ayat ini agar selalu bertakwa kepada Allah, karena Dia mengetahui semua yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Ayat ini dapat berarti khusus dan dapat pula berarti umum. Berarti khusus ialah ayat ini berhubungan dengan orang munafik dan orang-orang Yahudi Bani Nadhir serta sikap dan tindakan mereka terhadap kaum Muslimin pada waktu turunnya ayat ini. Berarti umum ialah semua orang yang suka menyesatkan orang lain dari jalan yang benar dan orang-orang yang mau disesatkan karena teperdaya oleh rayuan dan janji-janji yang muluk-muluk dari orang yang menyesatkan.</p>
<p>Maksudnya, janganlah sekali-kali orang yang beriman seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakannya. Orang yang lupa kepada Allah, seperti orang munafik dan orang Yahudi Bani Nadhir di masa Rasulullah saw, tidak bertakwa kepada-Nya. Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat. Mereka disibukkan oleh harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Firman Allah:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)</p>
<p>Kemudian diterangkan bahwa jika seseorang lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakannya. Maksud pernyataan Allah melupakan mereka ialah Allah tidak menyukai mereka, sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan, makin lama mereka makin sesat, sehingga makin jauh dari jalan yang lurus, jalan yang diridai Allah. Oleh karena itu, di akhirat mereka juga dilupakan Allah, dan Allah tidak menolong dan meringankan beban penderitaan mereka. Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan perbuatan dan tindakan mereka.</p>
<p>Ditegaskan bahwa orang-orang seperti kaum munafik dan Yahudi Bani Nadhir adalah orang-orang yang fasik. Mereka mengetahui mana yang baik (hak) dan mana yang batil, mana yang baik dan mana yang jahat. Namun demikian, mereka tidak melaksanakan yang benar dan baik itu, tetapi malah melaksanakan yang batil dan yang jahat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Tidaklah sama penghuni neraka seperti orang-orang munafik dan Bani Nadhir, dengan penghuni surga, seperti kaum Muhajirin dan Ansar. Allah berfirman:</p>
<p>Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mere-ka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jatsiyah/45: 21)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (sad/38: 28)</p>
<p>Allah menjelaskan bahwa mereka tidak sama, karena orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga itu adalah mereka yang beruntung, mencapai apa yang diinginkannya. Amal saleh yang mereka kerjakan melebihi perbuatan buruk yang terlanjur mereka kerjakan, sehingga pahala yang mereka terima dapat menutupi dosa-dosa yang telah mereka lakukan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa seandainya gunung-gunung itu diberi akal, pikiran, dan perasaan seperti yang telah dianugerahkan kepada manusia, kemudian diturunkan Al-Qur&#8217;an kepadanya, tentulah gunung-gunung itu tunduk kepada Allah, bahkan hancur-lebur karena takut kepada-Nya. Akan tetapi, Al-Qur&#8217;an bukan untuk gunung, melainkan untuk manusia. Sungguh indah metafora ini, membandingkan manusia yang kecil dan lemah, dengan gunung yang begitu besar, tinggi, dan keras. Dikatakan bahwa gunung itu akan tunduk di hadapan wahyu Allah, dan akan hancur karena rasa takut.</p>
<p>Ayat ini merupakan suatu peringatan kepada manusia yang tidak mau menggunakan akal, pikiran, dan perasaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka lebih banyak terpengaruh oleh hawa nafsu dan kesenangan hidup di dunia, sehingga hal itu menutup akal dan pikiran mereka. Karena takut kehilangan pengaruh dan kedudukan, maka mereka tidak akan mau mengikuti kebenaran.</p>
<p>Betapa tingginya nilai Al-Qur&#8217;an, sehingga tidak semua makhluk Allah dapat memahami dengan baik maksud dan tujuannya. Untuk memahaminya harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain: ilmu yang memadai, menggunakan akal pikiran, membersihkan hati nuraninya, dan niat yang setulus-tulusnya.</p>
<p>Keadaan sebagian manusia diterangkan dalam firman Allah:</p>
<p>Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah/2: 74)</p>
<p>Ayat ini sama pula dengan firman Allah:</p>
<p>Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat diguncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al-Qur&#8217;an). (ar-Ra&#8217;d/13: 31)</p>
<p>Kemudian diterangkan bahwa perumpamaan-perumpamaan yang terdapat dalam Al-Qur&#8217;an itu harus menjadi pelajaran bagi orang yang mau mempergunakan akal, pikiran, dan perasaannya. Dengan demikian, mereka dapat melaksanakan petunjuk-petunjuk Al-Qur&#8217;an dengan sebaik-baiknya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Allah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an dan menetapkannya sebagai petunjuk bagi manusia, adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Dialah yang berhak disembah, tidak ada yang lain. Segala penyembahan terhadap selain Allah, seperti pohon, batu, patung, matahari, dan sebagainya, adalah perbuatan sesat. Dia Maha Mengetahui segala yang ada, baik yang tampak maupun yang gaib di langit dan di bumi. Dia Maha Pemurah kepada makhluk-Nya, dan Maha Pengasih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki segala sesuatu yang ada, dan mengurus segalanya menurut yang dikehendaki-Nya. Yang Mahasuci dari segala macam bentuk cacat dan kekurangan. Yang Mahasejahtera, Yang Maha Memelihara keamanan, keseimbangan, dan kelangsungan hidup seluruh makhluk-Nya, Mahaperkasa tidak menganiaya makhluk-Nya, tetapi tuntutan-Nya sangat keras. Dia Mahabesar dan Mahasuci dari segala apa yang dipersekutukan dengan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Allah Pencipta seluruh makhluk-Nya. Dia yang mengadakan seluruh makhluk dari tidak ada kepada ada. Yang membentuk makhluk sesuai dengan tugas dan sifatnya masing-masing. Dia mempunyai sifat-sifat yang indah, nama yang agung yang tidak dipunyai oleh makhluk lain, selain dari Dia. Kepada-Nya bertasbih dan memuji segala yang ada di langit dan di bumi.</p>
<p>Sebenarnya yang penting dalam berdoa adalah keikhlasan hati, kekhusyukan dan ketundukan kepada Allah. Dengan membaca ayat-ayat itu, diharapkan ketiganya muncul, sehingga doa itu diterima Allah.</p>
<p>Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barang siapa yang menghafal, menghayati, dan meresapinya, niscaya akan masuk surga. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud dengan menghayati dan meresapinya di sini ialah benar-benar memahami sifat-sifat Allah itu, merasakan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk, dan merasakan kasih sayang-Nya. Hal itu menimbulkan ketundukan, kepatuhan, dan kekhusyukan pada setiap orang yang melakukan ibadah kepada-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hasyr/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>58. Al-Mujadalah (22 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-mujadalah/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-mujadalah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2026 02:47:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1192</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Gugatan Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 22 Deskripsi: Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun. Surat ini dinamai dengan Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa&#8217;labah terhadap sikap suaminya yang telah ... <a title="58. Al-Mujadalah (22 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-mujadalah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 58. Al-Mujadalah (22 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Gugatan</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 22</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun. Surat ini dinamai dengan <i>Al Mujaadilah</i> (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa&#8217;labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya. Hal ini diadukan kepada Rasulullah s.a.w. dan ia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu. Dinamai juga <i>Al Mujaadalah</i> yang berarti <i>perbantahan</i>.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mujadalah/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Mujadalah</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّتِيْ تُجَادِلُكَ فِيْ زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qad sami‘allāhu qaulal-latī tujādiluka fī zaujihā wa tasytakī ilallāh(i), wallāhu yasma‘u taḥāwurakumā, innallāha samī‘um baṣīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ مَّا هُنَّ اُمَّهٰتِهِمْۗ اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّٰۤـِٔيْ وَلَدْنَهُمْۗ وَاِنَّهُمْ لَيَقُوْلُوْنَ مُنْكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوْرًاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna yuẓāhirūna minkum min nisā&#8217;ihim mā hunna ummahātihim, in ummahātuhum illal-lā&#8217;ī waladnahum, wa innahum layaqūlūna munkaram minal-qauli wa zūrā(n), wa innallāha la‘afuwwun gafūr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْ نِّسَاۤىِٕهِمْ ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا قَالُوْا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ ذٰلِكُمْ تُوْعَظُوْنَ بِهٖۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna yuẓāhirūna min nisā&#8217;ihim ṡumma ya‘ūdūna limā qālū fa taḥrīru raqabatim min qabli ay yatamāssā, żālikum tū‘aẓūna bih(ī), wallāhu bimā ta‘malūna khabīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَاۤسَّاۗ فَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَاِطْعَامُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًاۗ ذٰلِكَ لِتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">famal lam yajid faṣiyāmu syahraini mutatābi‘aini min qabli ay yatamāssā, famal lam yastaṭi‘ fa iṭ‘āmu sittīna miskīnā(n), żālika litu&#8217;minū billāhi wa rasūlih(ī), wa tilka ḥudūdullāh(i), wa lil-kāfirīna ‘ażābun alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ كُبِتُوْا كَمَا كُبِتَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَقَدْ اَنْزَلْنَآ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْنٌۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna yuḥāddūnallāha wa rasūlahū kubitū kamā kubital-lażīna min qablihim wa qad anzalnā āyātim bayyināt(in), wa lil-kāfirīna ‘ażābum muhīn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana kehinaan yang telah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Dan sungguh, Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang menghinakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ اَحْصٰىهُ اللّٰهُ وَنَسُوْهُۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma yab‘aṡuhumullāhu jamī‘an fa yunabbi&#8217;uhum bimā ‘amilū, aḥṣāhullāhu wa nasūh(u), wallāhu ‘alā kulli syai&#8217;in syahīd(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha ya‘lamu mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), mā yakūnu min najwā ṡalāṡatin illā huwa rābi‘uhum wa lā khamsatin illā huwa sādisuhum wa lā adnā min żālika wa lā akṡara illā huwa ma‘ahum aina mā kānū, ṡumma yunabbi&#8217;uhum bimā ‘amilū yaumal-qiyāmah(ti), innallāha bikulli syai&#8217;in ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نُهُوْا عَنِ النَّجْوٰى ثُمَّ يَعُوْدُوْنَ لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَيَتَنٰجَوْنَ بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِۖ وَاِذَا جَاۤءُوْكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللّٰهُ ۙوَيَقُوْلُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللّٰهُ بِمَا نَقُوْلُۗ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُۚ يَصْلَوْنَهَاۚ فَبِئْسَ الْمَصِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara ilal-lażīna nuhū ‘anin-najwā ṡummā ya‘ūdūna limā nuhū ‘anhu wa yatanājauna bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma‘ṣiyatir-rasūl(i), wa iżā jā&#8217;ūka ḥayyauka bimā lam yuḥayyika bihillāh(u), wa yaqūlūna fī anfusihim lau lā yu‘ażżibunallāhu bimā naqūl(u), ḥasbuhum jahannam(u), yaṣlaunahā, fa bi&#8217;sal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُوْلِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā tanājaitum falā tatanājau bil-iṡmi wal-‘udwāni wa ma‘ṣiyatir-rasūli wa tanājau bil-birri wat-taqwā, wattaqullāhal-lażī ilaihi tuḥsyarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّمَا النَّجْوٰى مِنَ الشَّيْطٰنِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَيْسَ بِضَاۤرِّهِمْ شَيْـًٔا اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innaman-najwā minasy-syaiṭāni liyaḥzunal-lażīna āmanū wa laisa biḍārrihim syai&#8217;an illā bi&#8217;iżnillāh(i), wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥū fil-majālisi fafsaḥū yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzū fansyuzū yarfa‘illāhul-lażīna āmanū minkum, wal-lażīna ūtul-‘ilma darajāt(in), wallāhu bimā ta‘malūna khabīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُوْلَ فَقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقَةً ۗذٰلِكَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَاَطْهَرُۗ فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū iżā nājaitumur-rasūla fa qaddimū baina yaday najwākum ṣadaqah(tan), żālika khairul lakum wa aṭhar(u), fa&#8217;illam tajidū fa innallāha gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Tetapi jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ءَاَشْفَقْتُمْ اَنْ تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوٰىكُمْ صَدَقٰتٍۗ فَاِذْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَتَابَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗوَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a&#8217;asyfaqtum an tuqaddimū baina yaday najwākum ṣadaqāt(in), fa iż lam taf‘alū wa tāballāhu ‘alaikum fa&#8217;aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa aṭī‘ullāha wa rasūlah(ūwallāhu khabīrum bimā ta‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan dengan Rasul? Tetapi jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi ampun kepadamu, maka laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya! Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْۗ مَا هُمْ مِّنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْۙ وَيَحْلِفُوْنَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara ilal-lażīna tawallau qauman gaḍiballāhu ‘alaihim, mā hum minkum wa lā minhum, wa yaḥlifūna ‘alal-każibi wa hum ya‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a‘addallāhu lahum ‘ażāban syadīdā(n), innahum sā&#8217;a mā kānū ya‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah telah menyediakan azab yang sangat keras bagi mereka. Sungguh, betapa buruknya apa yang telah mereka kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ittakhażū aimānahum junnatan fa ṣaddū ‘an sabīlillāhi falahum ‘ażābum muhīn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah; maka bagi mereka azab yang menghinakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ اَمْوَالُهُمْ وَلَآ اَوْلَادُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔاۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lan tugniya ‘anhum amwāluhum wa lā aulāduhum minallāhi syai&#8217;ā(n), ulā&#8217;ika aṣḥābun-nār(i), hum fīhā khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Harta benda dan anak-anak mereka tidak berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا فَيَحْلِفُوْنَ لَهٗ كَمَا يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ عَلٰى شَيْءٍۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma yab‘aṡuhumullāhu jamī‘an fa yaḥlifūna lahū kamā yaḥlifūna lakum wa yaḥsabūna annahum ‘alā syai'(in), alā innahum humul-kāżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Ingatlah) pada hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa mereka orang-orang pendusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطٰنُ فَاَنْسٰىهُمْ ذِكْرَ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ الشَّيْطٰنِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطٰنِ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">istaḥważa ‘alaihimusy-syaiṭānu fa&#8217;ansāhum żikrallāh(i), ulā&#8217;ika ḥizbusy-syaiṭān(i), alā inna ḥizbasy-syaiṭāni humul-khāsirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ يُحَاۤدُّوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اُولٰۤىِٕكَ فِى الْاَذَلِّيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna yuḥāddūnallāha wa rasūlahū ulā&#8217;ika fil-ażallīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kataballāhu la&#8217;aglibanna ana wa rusulī, innallāha qawiyyun ‘azīz(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗوَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā tajidu qaumay yu&#8217;minūna billāhi wal-yaumil ākhiri yuwāddūna man ḥāddallāha wa rasūlahū wa lau kānū ābā&#8217;ahum au abnā&#8217;ahum au ikhwānahum au ‘asyīratahum, ulā&#8217;ika kataba fī qulūbihimul-īmāna wa ayyadahum birūḥim minh(u), wa yudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anh(u), ulā&#8217;ika ḥizbullāh(i), alā inna ḥizballāhi humul-mufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-mujadalah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 58. Al-Mujadalah</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mujadalah/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mujadalah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2026 14:47:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1191</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 58. Al-Mujadalah (المجادلة) Jumlah Ayat: 22 Arti: Gugatan Pengantar Surah: Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun. Surat ini dinamai dengan Al Mujaadilah (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa&#8217;labah terhadap ... <a title="Tafsir Surat 58. Al-Mujadalah" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mujadalah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 58. Al-Mujadalah">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 58. Al-Mujadalah (المجادلة)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 22</p>
<p><strong>Arti:</strong> Gugatan</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Mujaadilah terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Munaafiquun. Surat ini dinamai dengan <i>Al Mujaadilah</i> (wanita yang mengajukan gugatan) karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa&#8217;labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya. Hal ini diadukan kepada Rasulullah s.a.w. dan ia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu. Dinamai juga <i>Al Mujaadalah</i> yang berarti <i>perbantahan</i>.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menerima gugatan seorang perempuan yang diajukan kepada Rasulullah saw tentang tindakan suaminya. Ia merasa dirugikan oleh suaminya itu, karena dizihar yang berakibat hidupnya akan terkatung-katung. Allah telah mendengar pula tanya jawab yang terjadi antara istri yang menggugat dengan Rasulullah saw. Oleh karena itu, Allah menurunkan hukum yang dapat menghilangkan kekhawatiran istri itu.</p>
<p>Zihar adalah ucapan suami kepada istrinya, &#8220;Anti &#8216;alayya ka dhahri ummi (Engkau menurutku haram aku campuri, seperti aku haram mencampuri ibuku).&#8221; Zihar termasuk hukum Arab Jahiliah yang kemudian dinyatakan berlaku di kalangan umat Islam dengan turunnya ayat ini. Akan tetapi, hukumnya telah berubah sedemikian rupa sehingga telah hilang unsur-unsur yang dapat merugikan pihak istri.</p>
<p>Menurut hukum Arab Jahiliah, bila seorang suami menzihar istrinya maka sejak itu istrinya haram dicampurinya. Maka sejak itu pula istrinya hidup dalam keadaan terkatung-katung. Setelah zihar, perkawinannya dengan suaminya belum putus, tetapi ia tidak boleh dicampuri lagi oleh suaminya. Biasanya istri yang dizihar tidak lagi diberi nafkah oleh suaminya, dan untuk kawin dengan orang lain terhalang oleh masih adanya ikatan perkawinan dengan suaminya.</p>
<p>Zihar dilakukan suami kepada istri di zaman Arab Jahiliah biasanya karena suami tidak mencintai istrinya lagi atau karena marah kepada istrinya, tetapi ia bermaksud mengikat istrinya. Perbuatan yang demikian biasa di zaman Arab Jahiliah karena memandang rendah derajat perempuan. Sedangkan agama Islam menyamakan derajat perempuan dengan pria.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Ayat ini mencela suami-suami yang telah menzihar istrinya dengan mengatakan bahwa orang-orang yang telah menzihar istrinya adalah perkataan yang tidak benar yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal sehatnya. Apakah mungkin istri itu sama dengan ibu? Istri adalah teman hidup yang dihubungkan oleh akad nikah, sedang ibu adalah orang yang melahirkannya sehingga ada hubungan darah.</p>
<p>Oleh karena itu, orang yang demikian adalah orang yang mengatakan perkataan yang tidak etis dan tidak dibenarkan oleh agama, akal, maupun adat kebiasaan. Perkataan itu adalah perkataan yang tidak etis, tidak mempunyai alasan sedikit pun. Sekalipun demikian, Allah akan mengampuni dosa orang yang telah menzihar istrinya, jika ia mengikuti ketentuan-ketentuan-Nya.</p>
<p>Ada suatu prinsip dalam agama Islam yang harus ditegakkan, yaitu &#8220;mengakui kenyataan-kenyataan yang ada sesuai dengan sunatullah.&#8221; Dalam menetapkan hukum-hukum yang berlaku di alam ini, Allah mengetahui hikmah dan akibatnya secara benar dan pasti. Oleh karena itu, sangat tercela orang-orang yang mau mengubah-ubah sunatullah itu, seperti memandang istri sebagai mahramnya, padahal Allah telah menetapkan orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang pria (lihat Surah an-Nisa&#8217;/4: 22-24, dan beberapa ayat lainnya). </p>
<p>Pada ayat 4 Surah al-Ahzab/33, perkataan zihar digandengkan dengan perkataan anak angkat. Karena mengakui anak orang lain sebagai anak kandung sendiri sama hukumnya dengan anak sendiri, termasuk mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunatullah, dan tidak sesuai dengan kebenaran. Kemudian Allah menegaskan bahwa anak angkat itu adalah anak ayah dan ibunya, bukan sekali-kali anak orang yang mengangkatnya. Allah berfirman:</p>
<p>Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Ahzab/33: 5)</p>
<p>Dari ayat ketiga surah ini dapat dipahami bahwa suami yang menzihar istrinya memperoleh hukuman ukhrawi dan hukuman duniawi. Hukuman ukhrawi ialah mereka berdosa karena mengatakan yang bukan-bukan, yaitu mengatakan bahwa istrinya haram dicampurinya seperti ia haram mencampuri ibunya. Dalam agama termasuk perbuatan terlarang apabila seseorang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, karena yang menentukan halal dan haram itu hanyalah Allah saja. Hukuman duniawi ialah ia wajib membayar kafarat jika ia hendak mencampuri istrinya kembali, dan kafarat itu cukup besar jumlahnya, seperti yang akan diterangkan nanti.</p>
<p>Para ulama sepakat bahwa menyamakan istri dengan ibu dengan maksud untuk menyatakan kasih sayang kepadanya atau untuk menyatakan penghormatan dan terima kasih kepadanya, tidaklah termasuk zihar. Karena zihar itu hanyalah ucapan suami yang menyatakan bahwa istrinya itu haram dicampurinya.</p>
<p>Perkataan anti &#8216;alaiyya ka dhahri ummi merupakan suatu ungkapan (idiom) yang mempunyai arti yang khusus dalam bahasa Arab. Hanyalah orang yang mendalam rasa bahasanya yang dapat merasakan arti ungkapan itu. Oleh karena itu, jika suami yang hanya mengerti bahasa Indonesia, mengucapkan sigat dhihar itu dengan ungkapan yang dipahami oleh orang Indonesia maka hukum di atas berlaku pula baginya.</p>
<p>Menurut Hanifah, Auza&#8217;i, ats-tsauri dan salah satu qaul Imam Syafi&#8217;i boleh disebut dalam sigat dhihar perempuan selain ibu, asal saja perempuan yang disebut namanya itu termasuk muhrim laki-laki yang menzihar, seperti suami mengatakan, &#8220;Engkau haram aku campuri, seperti aku haram mencampuri adik kandungku yang perempuan.&#8221;</p>
<p>Jika seorang suami telah menzihar istrinya, tidak berarti telah terjadi perceraian antara kedua suami-istri itu. Masing-masing masih terikat oleh hak dan kewajiban sebagai suami dan istri. Mereka hanya terlarang melakukan persetubuhan. Demikian pula untuk menghindarkan diri dari perbuatan haram, maka haram pula kedua suami-istri itu berkhalwat (berduaan di tempat sunyi) sebelum suami membayar kafarat.</p>
<p>Agar istri tidak terkatung-katung hidupnya dan menderita karena zihar itu, sebaiknya ditetapkan waktu menunggu bagi istri. Waktu menunggu itu dapat dikiaskan kepada waktu menunggu dalam ila&#8217;ï€ª), yaitu empat bulan. Apabila telah lewat waktu empat bulan sejak suami mengucapkan ziharnya, sedang suami belum lagi menetapkan keputusan, bercerai atau melanjutkan perkawinan dengan membayar kafarat, maka istri berhak mengajukan gugatan kepada pengadilan. Hakim tentu akan mengabulkan gugatan istri bila gugatan itu terbukti.</p>
<p>Jika zihar berakibat perceraian, maka jatuhlah talak ba&#8217;in kubra, dimana perkawinan kembali antara bekas suami-istri itu haruslah dengan syarat membayar kafarat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Pada ayat-ayat ini diterangkan syarat-syarat bagi suami-istri agar dapat bercampur atau melaksanakan perkawinan kembali jika mereka telah bercerai, yaitu pihak suami wajib membayar kafarat. Kewajiban membayar kafarat itu disebabkan telah terjadinya zihar dan adanya kehendak suami mencampuri istrinya (&#8216;aud).</p>
<p>Dalam ayat ini diterangkan tiga tahap kafarat zihar. Tahap pertama harus diupayakan melaksanakannya. Kalau tahap pertama tidak sanggup dilaksanakan, boleh menjalankan tahap kedua. Bila tahap kedua juga tidak sanggup melaksanakannya, wajib dijalankan tahap ketiga. Tahap-tahap itu ialah:</p>
<p>1.Memerdekakan seorang budak sebelum melaksanakan persetubuhan kembali. Ini adalah ketetapan Allah yang ditetapkan bagi seluruh orang yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap perbuatan mungkar dan membayar kafarat itu sebagai penghapus dosa perbuatan mungkar. Allah memperhatikan dan mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, dan akan mengampuni semua hamba-Nya yang mau menghentikan perbuatan mungkar dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Pada saat ini perbudakan telah hapus dari permukaan bumi, karena itu kafarat tingkat pertama ini tidak mungkin dilaksanakan lagi. Memerdekakan budak sebagai kafarat, termasuk salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yang pernah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia, seperti yang terjadi di Amerika, Eropa, dan lain-lain. Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang berusaha menghapus perbudakan dan menetapkan cara-cara untuk melenyapkannya dengan segera.</p>
<p>2.Jika yang pertama tidak dapat dilakukan, hendaklah puasa dua bulan berturut-turut. Berturut-turut merupakan salah satu syarat dari puasa yang akan dilakukan itu. Hal ini berarti jika ada hari-hari puasa yang tidak terlaksana seperti puasa sehari atau lebih kemudian tidak puasa pada hari yang lain dalam masa dua bulan itu, maka puasa itu tidak dapat dijadikan kafarat, walaupun tidak berpuasa itu disebabkan perjalanan jauh (safar) atau sakit. Puasa itu harus dilakukan sebelum melakukan persetubuhan suami istri.</p>
<p>3.Jika yang kedua tidak juga dapat dilaksanakan, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin.</p>
<p>Zihar adalah semacam sumpah, yaitu sumpah suami yang menyatakan bahwa istrinya haram dicampuri seperti haramnya mencampuri ibunya. Oleh karena itu, yang wajib membayar kafarat ialah suami yang melakukan zihar saja, karena dialah yang bersumpah, sedang istri yang tidak pernah melakukan zihar tidak wajib membayar kafarat.</p>
<p>Jumlah atau bentuk kafarat zihar yang ditetapkan itu adalah jumlah atau bentuk yang sangat tinggi, apalagi jika diingat bahwa hukum itu berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik yang kaya atau yang miskin. Bagi seorang yang kaya tidak ada kesulitan membayar kafarat itu, tetapi merupakan hal yang sulit dan berat membayarnya bagi orang-orang miskin.</p>
<p>Menghadapi masalah yang seperti ini, syariat Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat meringankan suatu beban yang dipikulkan Allah kepada kaum Muslimin, yaitu prinsip, &#8220;Kesukaran itu menimbulkan kemudahan,&#8221; asal saja kesukaran itu benar-benar suatu kesukaran yang tidak dapat diatasi, disertai dengan keinginan di dalam hati untuk mencari keridaan Allah.</p>
<p>Sehubungan dengan ini, pada kelanjutan hadis Khuwailah binti Malik yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dikatakan:</p>
<p>Maka Rasulullah saw berkata, &#8220;Hendaklah ia memerdekakan seorang budak.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ia tidak sanggup mengusahakannya.&#8221; Nabi berkata, &#8220;(Kalau demikian) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (suamiku) adalah seorang yang telah tua bangka, tidak sanggup lagi berpuasa.&#8221; Nabi berkata, &#8220;Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ia tidak mempunyai sesuatu pun yang akan disedekahkannya.&#8221; Rasulullah saw Berkata, &#8220;(Kalau demikian) maka sesungguhnya aku akan membantunya dengan segantang tamar.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Dan aku akan membantunya pula dengan segantang tamar.&#8221; Berkata Rasulullah saw, &#8220;Engkau benar-benar baik, pergilah, maka beritahukanlah atas namanya, beri makanlah dengan tamar ini enam puluh orang fakir-miskin.&#8221; (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa Khaulah mengatakan kepada Rasulullah saw bahwa orang yang paling miskin di negeri ini adalah keluarganya. Maka Rasulullah saw menyuruh Khaulah membawa kurma sebagai kafarat itu pulang ke rumahnya untuk dimakan keluarganya sendiri.</p>
<p>Pada dasarnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan. Akan tetapi, karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut. Agama Islam menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar itu dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan. Dalam masa itu, suami boleh menceraikan istrinya atau membayar kafarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkannya. Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa Jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam. Oleh karena itu, bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum itu apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah menerangkan kewajiban membayar kafarat itu bagi suami yang telah menzihar istrinya adalah untuk memperdalam jiwa tauhid, mempercayai Nabi Muhammad saw sebagai rasul Allah, dan agar berhati-hati mengucapkan suatu perkataan, sehingga tidak mengadakan kedustaan dan mengatakan yang bukan-bukan. Dengan demikian, tertanamlah dalam hati setiap orang yang beriman keinginan melaksanakan semua hukum-hukum Allah dengan sebaik-baiknya. Tertanam juga dalam hati mereka bahwa mengingkari hukum-hukum Allah itu akan menimbulkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat nanti.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Pada ayat-ayat ini diterangkan syarat-syarat bagi suami-istri agar dapat bercampur atau melaksanakan perkawinan kembali jika mereka telah bercerai, yaitu pihak suami wajib membayar kafarat. Kewajiban membayar kafarat itu disebabkan telah terjadinya zihar dan adanya kehendak suami mencampuri istrinya (&#8216;aud).</p>
<p>Dalam ayat ini diterangkan tiga tahap kafarat zihar. Tahap pertama harus diupayakan melaksanakannya. Kalau tahap pertama tidak sanggup dilaksanakan, boleh menjalankan tahap kedua. Bila tahap kedua juga tidak sanggup melaksanakannya, wajib dijalankan tahap ketiga. Tahap-tahap itu ialah:</p>
<p>1.Memerdekakan seorang budak sebelum melaksanakan persetubuhan kembali. Ini adalah ketetapan Allah yang ditetapkan bagi seluruh orang yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap perbuatan mungkar dan membayar kafarat itu sebagai penghapus dosa perbuatan mungkar. Allah memperhatikan dan mengetahui semua perbuatan hamba-Nya, dan akan mengampuni semua hamba-Nya yang mau menghentikan perbuatan mungkar dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Pada saat ini perbudakan telah hapus dari permukaan bumi, karena itu kafarat tingkat pertama ini tidak mungkin dilaksanakan lagi. Memerdekakan budak sebagai kafarat, termasuk salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yang pernah membudaya di kalangan bangsa-bangsa di dunia, seperti yang terjadi di Amerika, Eropa, dan lain-lain. Oleh karena itu, agama Islam adalah agama yang berusaha menghapus perbudakan dan menetapkan cara-cara untuk melenyapkannya dengan segera.</p>
<p>2.Jika yang pertama tidak dapat dilakukan, hendaklah puasa dua bulan berturut-turut. Berturut-turut merupakan salah satu syarat dari puasa yang akan dilakukan itu. Hal ini berarti jika ada hari-hari puasa yang tidak terlaksana seperti puasa sehari atau lebih kemudian tidak puasa pada hari yang lain dalam masa dua bulan itu, maka puasa itu tidak dapat dijadikan kafarat, walaupun tidak berpuasa itu disebabkan perjalanan jauh (safar) atau sakit. Puasa itu harus dilakukan sebelum melakukan persetubuhan suami istri.</p>
<p>3.Jika yang kedua tidak juga dapat dilaksanakan, maka dilakukan tahap ketiga, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin.</p>
<p>Zihar adalah semacam sumpah, yaitu sumpah suami yang menyatakan bahwa istrinya haram dicampuri seperti haramnya mencampuri ibunya. Oleh karena itu, yang wajib membayar kafarat ialah suami yang melakukan zihar saja, karena dialah yang bersumpah, sedang istri yang tidak pernah melakukan zihar tidak wajib membayar kafarat.</p>
<p>Jumlah atau bentuk kafarat zihar yang ditetapkan itu adalah jumlah atau bentuk yang sangat tinggi, apalagi jika diingat bahwa hukum itu berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik yang kaya atau yang miskin. Bagi seorang yang kaya tidak ada kesulitan membayar kafarat itu, tetapi merupakan hal yang sulit dan berat membayarnya bagi orang-orang miskin.</p>
<p>Menghadapi masalah yang seperti ini, syariat Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat meringankan suatu beban yang dipikulkan Allah kepada kaum Muslimin, yaitu prinsip, &#8220;Kesukaran itu menimbulkan kemudahan,&#8221; asal saja kesukaran itu benar-benar suatu kesukaran yang tidak dapat diatasi, disertai dengan keinginan di dalam hati untuk mencari keridaan Allah.</p>
<p>Sehubungan dengan ini, pada kelanjutan hadis Khuwailah binti Malik yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dikatakan:</p>
<p>Maka Rasulullah saw berkata, &#8220;Hendaklah ia memerdekakan seorang budak.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ia tidak sanggup mengusahakannya.&#8221; Nabi berkata, &#8220;(Kalau demikian) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (suamiku) adalah seorang yang telah tua bangka, tidak sanggup lagi berpuasa.&#8221; Nabi berkata, &#8220;Maka hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Ia tidak mempunyai sesuatu pun yang akan disedekahkannya.&#8221; Rasulullah saw Berkata, &#8220;(Kalau demikian) maka sesungguhnya aku akan membantunya dengan segantang tamar.&#8221; Khaulah berkata, &#8220;Dan aku akan membantunya pula dengan segantang tamar.&#8221; Berkata Rasulullah saw, &#8220;Engkau benar-benar baik, pergilah, maka beritahukanlah atas namanya, beri makanlah dengan tamar ini enam puluh orang fakir-miskin.&#8221; (Riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Pada riwayat yang lain diterangkan bahwa Khaulah mengatakan kepada Rasulullah saw bahwa orang yang paling miskin di negeri ini adalah keluarganya. Maka Rasulullah saw menyuruh Khaulah membawa kurma sebagai kafarat itu pulang ke rumahnya untuk dimakan keluarganya sendiri.</p>
<p>Pada dasarnya agama Islam tidak menyetujui adanya zihar itu, bahkan memandangnya sebagai perbuatan mungkar dan dosa, karena perbuatan zihar itu adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar, mengatakan sesuatu yang bukan-bukan. Akan tetapi, karena zihar itu adalah suatu kebiasaan bangsa Arab Jahiliah, sedang untuk menghapus kebiasaan itu dalam waktu yang singkat akan menimbulkan kegoncangan pada masyarakat Islam yang baru tumbuh, sedang masyarakat itu berasal dari orang-orang Arab masa Jahiliah, maka agama Islam tidak langsung menghapuskan kebiasaan tersebut. Agama Islam menghilangkan semua akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan zihar itu dengan menetapkan waktu menunggu empat bulan. Dalam masa itu, suami boleh menceraikan istrinya atau membayar kafarat bagi yang ingin mencampuri istrinya kembali, yakni mencabut kembali ucapan zihar yang telah diucapkannya. Jadi zihar itu berasal dari hukum Arab masa Jahiliah yang telah dihapuskan oleh Islam. Oleh karena itu, bagi negara-negara atau umat Islam yang tidak mengenal zihar tersebut, tidak perlu mencantumkan hukum itu apabila mereka membuat suatu undang-undang perkawinan.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah menerangkan kewajiban membayar kafarat itu bagi suami yang telah menzihar istrinya adalah untuk memperdalam jiwa tauhid, mempercayai Nabi Muhammad saw sebagai rasul Allah, dan agar berhati-hati mengucapkan suatu perkataan, sehingga tidak mengadakan kedustaan dan mengatakan yang bukan-bukan. Dengan demikian, tertanamlah dalam hati setiap orang yang beriman keinginan melaksanakan semua hukum-hukum Allah dengan sebaik-baiknya. Tertanam juga dalam hati mereka bahwa mengingkari hukum-hukum Allah itu akan menimbulkan kesengsaraan di dunia maupun di akhirat nanti.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Ayat ini memperingatkan manusia yang menentang Allah dan rasul-Nya, dengan memilih hukum yang berlaku pada dirinya, bukan hukum yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya, dan memeluk agama yang bukan agama yang disyariatkan-Nya. Mereka akan ditimpa azab berupa kehinaan selama hidup di dunia, sebagaimana telah ditimpakan kepada orang-orang dahulu yang mengingkari para rasul yang diutus Allah kepada mereka.</p>
<p>Ayat ini merupakan kabar gembira dan menambah semangat kaum Muslimin yang sedang mengalami tekanan dari orang-orang yang bersekutu dalam Perang Ahzab. Pada waktu itu, orang-orang Yahudi, orang-orang musyrik Mekah, dan orang-orang munafik bersatu dan bersekutu menghadapi kaum Muslimin, sehingga jumlah mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah kaum Muslimin. Karena semangat kaum Muslimin yang tinggi dan keyakinan mereka akan pertolongan Allah yang akan diberikan kepada mereka, maka mereka dapat mengalahkan tentara yang bersekutu itu.</p>
<p>Ayat ini merupakan peringatan kepada para pemimpin bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat, apakah mereka telah menjalankan hukum-hukum Allah dalam pemerintahan mereka. Sebab, Allah telah menegaskan bahwa hukum dan agama yang boleh dianut manusia hanyalah agama Islam. Selain dari itu, manusia dilarang mengikuti dan menganutnya. Allah berfirman:</p>
<p>Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ma&#8217;idah/5: 3)</p>
<p>Agama Islam yang dimaksud ialah agama yang didakwahkan Nabi Muhammad yang diterima dari Allah.</p>
<p>Sementara itu mengenai hal-hal yang telah ditentukan, para penguasa atau orang-orang yang mewakili rakyatnya dibolehkan menetapkan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan masyarakatnya, selama hukum itu tidak bertentangan dengan hukum yang telah ditetapkan Allah.</p>
<p>Diterangkan bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada Nabi Muhammad, yang mengemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat akan kebenaran agama beserta hukum-hukum-Nya. Tidak seorang pun yang dapat mematahkan dalil-dalil dan bukti-bukti, sekalipun mereka masih tetap ingkar dan melanggar hukum-hukum itu.</p>
<p>Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa Allah memerintahkan kepada manusia terutama kepada cerdik-pandai agar mempelajari dan membahas hukum-hukum Allah, menggunakan akal, pikiran, dan pengalaman mereka, bahkan dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka. Kemudian memberikan penilaian yang tepat dan objektif.</p>
<p>Dalam ayat ke-4 yang lalu dikatakan, &#8220;Wa lil-kafirina &#8216;adhabun alim&#8221; (dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih), sedangkan pada ayat kelima ini dikatakan, &#8220;Wa lil kafirina &#8216;adhabun muhin&#8221; (dan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan). Yang dimaksud dengan orang-orang kafir pada ayat ke-4 ialah orang-orang mukmin yang melanggar ketentuan-ketentuan. Mereka memperoleh azab yang pedih sebagai pelajaran bagi mereka agar segera bertobat dan menyadari kesalahan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan orang kafir pada ayat kelima ini ialah orang yang benar-benar kafir, tidak beriman. Bagi mereka azab yang menimbulkan kehinaan selama kehidupan dunia, seperti hilangnya rasa malu pada diri mereka, merasa biasa melakukan perbuatan terlarang, merasa biasa berbuat curang dan melakukan perbuatan keji. Orang yang seperti itu biasanya adalah orang yang berkuasa yang dapat melakukan semua yang dikehendakinya, tetapi orang lain tidak lagi mempunyai penghargaan dalam arti yang sebenarnya pada mereka. Banyak lagi bentuk penghinaan yang lebih berat yang mereka terima.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang menentang dan melanggar hukum Allah di akhirat nanti. Allah mengumpulkan mereka semua sejak manusia pertama yaitu Adam, sampai saat terakhir kehidupan manusia, pada hari Kiamat. Kemudian Allah memberitahukan kepada mereka yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Semuanya itu tercatat dalam kitab catatan mereka masing-masing, tidak ada satu pun yang dilupakan, walaupun mereka sendiri telah melupakannya karena tidak sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bagaimana luas, dalam, dan lengkapnya pengetahuan Allah tentang makhluk yang diciptakan-Nya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang sebesar-besarnya. Diterangkan bahwa ilmu Allah mencakup segala yang ada di langit dan di bumi, betapa pun kecil dan halusnya. Jika ada tiga orang di langit dan di bumi berbisik-bisik, maka Allah yang keempatnya. Jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu empat orang, maka Allah yang kelimanya, dan jika yang berbisik dan mengadakan perundingan rahasia itu lima orang maka Allah yang keenamnya. Bahkan berapa orang saja berbisik dan mengadakan perundingan rahasia dan di mana saja mereka melakukannya, pasti Allah mengetahuinya.</p>
<p>Penyebutan bilangan tiga, empat, dan lima orang dalam ayat hanyalah untuk menyatakan bahwa biasanya perundingan itu dilakukan oleh beberapa orang seperti tiga, empat, lima, dan seterusnya, dan tiap-tiap perundingan itu pasti Allah menyaksikannya. Allah berfirman:</p>
<p>Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwa Allah mengetahui segala yang gaib? (at-Taubah/9: 78)</p>
<p>Dan berfirman:</p>
<p>Ataukah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka. (az-Zukhruf/43: 80)</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa kebenaran tentang Allah Maha Mengetahui segala sesuatu itu, barulah mereka ketahui di hari Kiamat nanti, yaitu ketika dikemukakan catatan amal mereka yang di dalamnya tercatat seluruh perbuatan yang pernah mereka kerjakan selama hidup di dunia, yaitu berupa perbuatan baik maupun perbuatan buruk, tidak ada satu pun yang dilupakan untuk dicatat. Pada saat itu, orang-orang kafir barulah menyesali perbuatan mereka, tetapi penyesalan di kemudian hari itu tidak ada gunanya sedikit pun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Ayat ini mencela perbuatan yang dilakukan orang Yahudi yang melakukan tindakan yang memancing perselisihan dan permusuhan antara mereka dan kaum Muslimin, padahal telah diadakan perjanjian damai antara mereka dan kaum Muslimin. Rasulullah saw memperingatkan sikap mereka itu, tetapi mereka tidak mengindahkannya.</p>
<p>Pembicaraan mereka dengan berbisik-bisik itu sebenarnya dapat memperbesar dosa mereka kepada Allah. Dosa itu karena mereka telah melanggar perjanjian damai yang mereka adakan dengan Rasulullah, bahwa mereka dengan kaum Muslimin akan memelihara ketenteraman dan berusaha menciptakan suasana damai di kota Medinah. Mereka bersalah karena setiap saat mencari-cari kesempatan untuk menghancurkan kaum Muslimin dan menggagalkan dakwah Nabi Muhammad.</p>
<p>Orang-orang Yahudi itu jika mereka bertemu atau datang kepada Rasulullah saw mereka mengucapkan salam, tetapi isinya menghina Rasulullah saw. &#8216;Aisyah menjawab dengan jawaban yang lebih kasar, karena sikap dan tindakan orang-orang Yahudi itu melampaui batas, baik ditinjau dari segi rasa kesopanan dalam pergaulan maupun ditinjau dari segi adat kebiasaan yang berlaku waktu itu.</p>
<p>Ditinjau dari segi agama Islam, maka tindakan orang-orang Yahudi itu benar-benar telah melampaui batas, karena Muhammad saw adalah seorang nabi dan rasul Allah, di mana setiap kaum Muslimin mendoakan keselamatan dan kebaikan untuknya. Allah swt berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (al-Ahzab/33: 56)</p>
<p>Dari ayat di atas dan sebab-sebab turunnya dapat diambil pengertian bahwa hendaklah kita berlaku sabar terhadap ucapan-ucapan keji yang dilontarkan kepada kita. Jangan langsung membalas seperti yang mereka lakukan, karena di sanalah letak perbedaan antara orang Muslim dan orang kafir. Dengan bersabar mereka akan sadar dan insaf bahwa mereka telah melakukan kesalahan.</p>
<p>Setelah orang-orang Yahudi itu mengucapkan salam penghinaan kepada Rasulullah sebagaimana tersebut di atas, mereka berkata kepada sesamanya, &#8220;Kenapa Allah tidak menimpakan azab kepada kita sebagai akibat jawaban Muhammad. Seandainya Muhammad benar-benar seorang nabi dan rasul yang diutus Allah, tentulah kita telah ditimpa azab.&#8221; Sangkaan mereka yang demikian terhadap Allah, yaitu Allah akan langsung mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, adalah sangkaan yang salah. Benar Dia akan mengazab setiap orang yang durhaka kepada-Nya, tetapi kapan datangnya azab itu, adalah urusan-Nya. Dia akan menimpakan azab itu bila dikehendaki-Nya. Tetapi jika azab itu telah datang, maka tidak seorang pun yang dapat menghindarkan diri daripadanya.</p>
<p>Dalam hal menjawab salam terhadap non muslim, para ulama berbeda pendapat. Ibnu &#8216;Abbas, asy-Sya&#8217;bi, dan Qatadah menyatakan bahwa menjawab salam terhadap non muslim hukumnya wajib, sama halnya dengan menjawab salam terhadap sesama muslim. Sedangkan Imam Malik dan Syafi&#8217;i menyatakan bahwa hal tersebut tidak wajib, dalam arti hanya boleh saja. Bila mereka mengucapkan salam, maka bagi kita cukup menjawabnya dengan &#8220;&#8216;alaika.&#8221; </p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah membantah anggapan mereka dengan tegas bahwa mereka pasti akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Mereka akan terbakar hangus di dalamnya. Jahanam itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali yang disediakan bagi orang-orang kafir.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Kemudian Allah menghadapkan perintahnya kepada orang-orang yang beriman agar jangan sekali-kali mengadakan perundingan rahasia di antara mereka dengan tujuan berbuat dosa, mengadakan permusuhan, dan mendurhakai Allah dan rasul.</p>
<p>Jika mereka mengadakan perundingan rahasia juga, hal itu diperbolehkan, tetapi yang dibicarakan di dalam perundingan itu hanyalah kebajikan, membahas cara-cara yang baik, mengerjakan perbuatan-perbuatan takwa, dan menghindarkan diri dari perbuatan mungkar. Perlu diketahui bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, betapa pun rahasianya perundingan yang dilakukan, pasti diketahui-Nya.</p>
<p>Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa&#8217;/4: 14)</p>
<p>Dalam satu hadis diterangkan sebagai berikut:</p>
<p>Apabila kamu bertiga, maka janganlah dua orang di antara kamu itu berbisik-bisik tanpa mengajak yang ketiga sehingga kamu bergabung dengan orang lain, karena sikap itu menyedihkan perasaannya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa berbisik-bisik dan mengadakan perundingan rahasia untuk menimbulkan permusuhan dan pertentangan itu adalah usaha dan perbuatan setan. Ia mendorong manusia melakukannya, agar mereka mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Itulah tujuan hidup setan. Ia mempengaruhi manusia sejak dari nenek moyang mereka, yaitu Nabi Adam. Semakin banyak manusia yang dapat digodanya, semakin banyak temannya di neraka.</p>
<p>Diterangkan pula bahwa usaha setan adalah untuk menimbulkan kesedihan dalam hati orang-orang yang beriman. Bisik-bisik dan perundingan rahasia yang dilakukan orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik, menimbulkan rasa tidak aman dalam hati orang-orang yang beriman. Sebenarnya kecelakaan manusia yang diusahakan oleh setan tidak akan terwujud dan terlaksana, tanpa izin dari Allah yang Mahakuasa lagi Maha Menentukan segala sesuatu.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa kaum Muslimin tidak boleh terpancing dan merasa tidak aman karena bisik-bisik dan perjanjian rahasia yang diadakan orang-orang kafir. Semuanya tidak akan terlaksana, kecuali jika Allah mengizinkannya. Oleh karena itu, setiap Muslim mesti bertawakal kepada Allah dan tidak percaya kepada siapa pun, kecuali kepada-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Ayat ini memberikan penjelasan bahwa jika di antara kaum Muslimin ada yang diperintahkan Rasulullah saw berdiri untuk memberikan kesempatan kepada orang tertentu untuk duduk, atau mereka diperintahkan pergi dahulu, hendaklah mereka berdiri atau pergi, karena beliau ingin memberikan penghormatan kepada orang-orang itu, ingin menyendiri untuk memikirkan urusan-urusan agama, atau melaksanakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan dengan segera.</p>
<p>Dari ayat ini dapat dipahami hal-hal sebagai berikut:</p>
<p>1.Para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah saw agar mudah mendengar perkataan yang beliau sampaikan kepada mereka.</p>
<p>2.Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang merupakan anjuran, jika memungkinkan dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir.</p>
<p>3.Sesungguhnya tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Memberi kelapangan kepada sesama Muslim dalam pergaulan dan usaha mencari kebajikan dan kebaikan, berusaha menyenangkan hati saudara-saudaranya, memberi pertolongan, dan sebagainya termasuk yang dianjurkan Rasulullah saw. Beliau bersabda:</p>
<p>Allah selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<p>Berdasarkan ayat ini para ulama berpendapat bahwa orang-orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam majelis itu atau mematuhi perintah orang-orang yang mengatur majelis itu.</p>
<p>Jika dipelajari maksud ayat di atas, ada suatu ketetapan yang ditentukan ayat ini, yaitu agar orang-orang menghadiri suatu majelis baik yang datang pada waktunya atau yang terlambat, selalu menjaga suasana yang baik, penuh persaudaraan dan saling bertenggang rasa. Bagi yang lebih dahulu datang, hendaklah memenuhi tempat di muka, sehingga orang yang datang kemudian tidak perlu melangkahi atau mengganggu orang yang telah lebih dahulu hadir. Bagi orang yang terlambat datang, hendaklah rela dengan keadaan yang ditemuinya, seperti tidak mendapat tempat duduk. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi saw:</p>
<p>Janganlah seseorang menyuruh temannya berdiri dari tempat duduknya, lalu ia duduk di tempat tersebut, tetapi hendaklah mereka bergeser dan berlapang-lapang.&#8221; (Riwayat Muslim dari Ibnu &#8216;Umar)</p>
<p>Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman, taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman, dan tenteram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah. Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman dan berilmu. Ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya.</p>
<p>Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Dia akan memberi balasan yang adil sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Menurut riwayat Ibnu Abi hatim dari Ibnu &#8216;Abbas, diterangkan bahwa para sahabat banyak yang ingin bertanya kepada Rasulullah saw, sehingga membebaninya. Untuk meringankan bebannya, Allah menurunkan ayat ini, dengan memerintahkan bersedekah sebelum menghadap Rasulullah.</p>
<p>Ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apabila mereka ingin berbicara secara rahasia dengan Rasulullah saw tentang sesuatu hal yang penting, hendaklah bersedekah sebelum melakukan pembicaraan itu. Perintah itu untuk membuktikan kebesaran Rasulullah dengan mengagungkannya, dan mendatangkan manfaat kepada fakir-miskin. Hal ini juga untuk membedakan antara orang yang benar-benar cinta kepada Rasulullah dan mengharapkan pelajaran darinya, dengan orang munafik yang berbeda perkataan dan perbuatannya. Di sisi lain, perintah ini mencegah orang yang datang beramai-ramai kepada Rasulullah tanpa keperluan yang sangat penting sehingga menyibukkan beliau.</p>
<p>Menurut Abu Muslim, Allah memerintahkan demikian karena orang-orang munafik yang mulutnya menyatakan iman, sedang hatinya tetap kafir. Menyatakan bahwa mereka masuk Islam dengan sebenar-benarnya. Untuk menguji pernyataan itu, maka turun perintah untuk bersedekah lebih dahulu sebelum menghadap Rasulullah.</p>
<p>Faedah memberi sedekah ialah mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah, membersihkan dan menyucikan harta yang dimiliki, serta membersihkan jiwa dari keinginan mengumpulkan harta dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Suka bersedekah dapat mengurangi kesengsaraan orang-orang fakir dan dapat pula meninggikan kalimat Allah. Harta yang disedekahkan itu langsung diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, tidak diberikan kepada Nabi saw, karena di antara tujuan sedekah itu ialah mengagungkan Rasulullah saw dan meringankan beban hidup fakir-miskin.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa jika orang yang akan menghadap Rasulullah saw itu tidak mempunyai sesuatu yang akan disedekahkan, sedangkan ia memerlukan sekali bertemu dengan beliau, maka Allah memberikan keringanan kepadanya dengan tidak mengharuskannya bersedekah.</p>
<p>Sedekah yang dimaksud di sini adalah sedekah sunah, bukan sedekah wajib, dan jumlahnya pun tidak ditentukan, hanya menurut keikhlasan dan kesanggupan yang memberi. Yang ditekankan ayat ini ialah agar kaum Muslimin suka bersedekah, tidak kikir, dan sadar bahwa harta yang mereka peroleh itu semata-mata sebagai alat untuk mencari keridaan Allah. Keharusan memberi sedekah dalam ayat ini untuk menguji kemauan orang-orang munafik yang baru masuk Islam.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Menurut riwayat Ibnu Abi hatim dari thalhah dari Ibnu &#8216;Abbas dikatakan bahwa setelah turun ayat ke 12 di atas, maka kebanyakan orang menahan dirinya bertanya kepada Rasulullah karena keharusan membayar sedekah. Oleh karena itu, turunlah ayat ini sebagai teguran kepada orang-orang yang tidak mau bertanya kepada Rasulullah saw karena adanya keharusan membayar sedekah.</p>
<p>Ayat ini menegur orang-orang yang menahan dirinya untuk tidak menemui Rasulullah karena adanya keharusan membayar sedekah lebih dahulu. Dalam ayat ini dinyatakan, &#8220;Apakah kamu tidak datang menghadap Rasulullah saw karena takut miskin lantaran keharusan membayar sedekah lebih dahulu, padahal kamu sangat memerlukan penjelasan dan keterangannya?&#8221;</p>
<p>Allah lalu memberikan keringanan kepada orang-orang itu dengan me-nasakh ayat 12 dengan ayat 13, terutama dengan menyatakan, &#8220;Seandainya kamu sekalian benar-benar tidak sanggup melaksanakan anjuran untuk bersedekah sebelum menghadap Rasulullah saw, maka kamu sekalian boleh menghadap untuk menanyakan sesuatu yang diperlukan penjelasannya, tanpa memberi sedekah lebih dahulu. Laksanakanlah apa yang telah diterangkan ini dengan sebaik-baiknya.&#8221;</p>
<p>Kemudian Allah mengingatkan kewajiban lainnya bagi kaum Muslimin yang harus dilaksanakan, yaitu agar mereka mendirikan salat terus-menerus menurut waktu yang telah ditentukan, jangan sekali-kali meninggalkannya walau dalam keadaan bagaimanapun. Salat sangat besar faedahnya bagi manusia, yaitu untuk menyempurnakan penghambaan diri kepada Allah, dan memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain. Salat itu dapat menghilangkan dan mengikis keinginan-keinginan untuk mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. </p>
<p>Kaum Muslimin juga diperintahkan untuk mengeluarkan zakat jika telah memenuhi syarat-syaratnya. Zakat itu bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghilangkan sifat-sifat kikir yang ada dalam hati, dan membantu penderitaan orang miskin. Kemudian ditegaskan agar kaum Muslimin menaati perintah-perintah Allah dan rasul-Nya dan menghentikan segala yang dilarang-Nya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan manusia agar selalu berhati-hati terhadap semua perbuatan dan keinginan hatinya. Sebab, Allah mengetahui semuanya, tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Berdasarkan pengetahuan-Nya itu, Dia memberi balasan yang setimpal kepada setiap manusia. Allah berfirman:</p>
<p>Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)</p>
<p>Dan Firman Allah:</p>
<p>(Yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (an-Najm/53: 38-41)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Allah memerintahkan kaum Muslimin agar memperhatikan dengan seksama orang-orang munafik yang menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman setia mereka, dan mereka menyampaikan kepada orang-orang Yahudi rahasia-rahasia yang sering mereka dengarkan dari Nabi saw dan kaum Muslimin. Bila bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka menyatakan keimanan mereka, serta berjanji akan ikut berdakwah dan berjuang menegakkan kalimat Allah. Akan tetapi, bila mereka bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka menggambarkan kejelekan kaum Muslimin dan berjanji bersama-sama akan menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Firman Allah:</p>
<p>Dan di antara manusia ada yang berkata, &#8220;Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,&#8221; padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (al-Baqarah/2: 8-10)</p>
<p>Menurut riwayat Ahmad dan al-hakim yang diterima dari as-Suddi dari Ibnu &#8216;Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan &#8216;Abdullah bin Nabtal, seorang munafik yang sering menyampaikan rahasia-rahasia kaum Muslimin kepada orang-orang Yahudi. Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk di rumahnya, kemudian beliau menyampaikan kepada para sahabat yang duduk di sekitar beliau, &#8220;Akan datang ke tempatmu ini seorang yang pandangannya seperti pandangan setan. Jika ia datang nanti, janganlah kalian berbicara dengannya.&#8221; Tidak berapa lama kemudian, datanglah seseorang, yaitu &#8216;Abdullah bin Nabtal, dan Rasulullah berkata kepadanya, &#8220;Mengapa kamu beserta teman-teman kamu itu mencaci-makiku dan sahabat-sahabatku?&#8221; Orang itu menjawab, &#8220;Akan aku panggil sahabat-sahabatku untuk membuktikan ketidakbenaran tuduhan itu.&#8221; Setelah ia dan teman-temannya sampai di hadapan Rasulullah saw, mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah, bahwa mereka semua tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan itu. </p>
<p>Allah menegaskan bahwa orang-orang munafik bukanlah orang mukmin yang benar, sebagaimana pengakuan mereka. Mereka mengaku beriman semata-mata untuk mengambil hati orang-orang yang beriman saja, dan menjaga hubungan baik dengan mereka. Orang-orang munafik itu juga tidak termasuk golongan Yahudi yang benar. Mereka mengaku Yahudi semata-mata untuk mengambil hati orang-orang Yahudi, sehingga memperoleh perlindungan dari mereka. Dengan cara bermuka dua itu, mereka menduga akan dapat menghindarkan diri dari peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir, termasuk di dalamnya orang Yahudi. Allah berfirman:</p>
<p>Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (an-Nisa&#8217;/4: 143)</p>
<p>Diterangkan bahwa orang-orang munafik itu tidak segan-segan bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk meyakinkan orang-orang yang beriman dan menyatakan bahwa mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula bila mereka bertemu dengan orang-orang Yahudi, mereka bersumpah pula bahwa mereka adalah teman setia dan berjanji akan saling membantu dalam menghadapi orang-orang Islam. Orang-orang munafik itu mengetahui benar bahwa perbuatan mereka itu adalah tidak baik dan terlarang</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa karena kemunafikan itu, Allah menyediakan bagi mereka azab yang sangat berat. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemunafikan itu termasuk perbuatan buruk, membahayakan masyarakat, dan dosa besar. Orang-orang munafik itu menipu dan membeberkan rahasia-rahasia kaum Muslimin kepada musuh-musuh mereka, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik Mekah. Tindakan itu dapat mengakibatkan kehancuran agama Islam dan kaum Muslimin. Allah menyediakan bagi mereka di akhirat nanti azab neraka sebagai hukuman atas perbuatan mereka di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan tujuan mereka melakukan kemunafikan itu. Dengan berdusta yang dikuatkan dengan sumpah, banyak kaum Muslimin yang mempercayai mereka. Karena disangka orang yang benar-benar beriman, sehingga terhindar dari pembalasan atau pengusiran oleh kaum Muslimin.</p>
<p>Dengan tindakan itu, mereka mendapat keuntungan dari kaum Muslimin, yang mempercayai perkataan mereka, sehingga membela mereka. Dengan jalan demikian, mereka dapat menghalang-halangi orang lain memeluk agama Islam dengan cara menjelek-jelekkan Islam dan kaum Muslimin. Bahkan mereka dapat menimbulkan ketakutan dan keengganan pada hati kaum Muslimin untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Dalam salah satu firman-Nya, Allah menjelaskan sikap dari orang-orang munafik:</p>
<p>Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, &#8220;Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.&#8221; Katakanlah (Muhammad), &#8220;Api neraka Jahanam lebih panas,&#8221; jika mereka mengetahui. (at-Taubah/9: 81)</p>
<p>Karena dosa besar yang telah mereka lakukan, maka sudah sepantasnya orang-orang munafik menerima siksa yang menghinakan di dunia dan di akhirat, sebagai balasan perbuatan mereka itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Dalam ayat ini ditegaskan bahwa harta dan anak-anak orang munafik tidak dapat membantu menyelamatkan dan menghindarkan diri mereka dari azab Allah. Ayat ini menggambarkan bahwa watak dan sifat orang-orang munafik adalah merasa bangga mempunyai anak-anak dan harta yang banyak, seakan-akan apa yang mereka miliki itu dapat membela dan melepaskan mereka dari malapetaka yang mengancam mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Dan mereka berkata, &#8220;Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.&#8221; (Saba&#8217;/34: 35)</p>
<p>Karena mendapat nikmat yang besar di dunia, maka orang-orang munafik itu merasa bahwa mereka adalah orang yang dikasihi Allah dan tidak akan diazab di akhirat. Menurut mereka, gambaran kehidupan akhirat bagi seseorang adalah kehidupan dunianya. Jika seseorang berbahagia dalam kehidupan dunia, tentu mereka berbahagia pula dalam kehidupan akhirat. Sebaliknya jika mereka sengsara dalam kehidupan dunia, tentu akan sengsara pula dalam kehidupan akhirat. Dugaan mereka itu keliru, karena tujuan hidup yang utama ialah mencari keridaan Allah. Selama seorang mencari keridaan Allah dalam kehidupannya, selama itu pula ia dilindungi-Nya, baik ia terlihat hidup berkecukupan atau tidak.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang yang menyatakan harta dan anak-anak mereka dapat digunakan untuk menghindarkan diri dari azab Allah akan menjadi penghuni neraka di akhirat. Mereka kelak hidup di dalamnya dengan penuh penderitaan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Orang-orang yang menyatakan bahwa harta dan anak-anak mereka dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri dari azab Allah di akhirat, mereka juga berdusta di hadapan Allah ketika hari perhitungan nanti. Mereka bersumpah bahwa mereka benar-benar termasuk orang-orang beriman, sebagaimana mereka telah bersumpah sewaktu mereka hidup di dunia, seakan-akan mereka dapat mengelabui Allah dengan pengakuan tersebut. Mereka mengira bahwa dengan berdusta seperti itu, mereka akan dapat menghindarkan diri dari azab yang akan ditimpakan kepada mereka.</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan bahwa watak dan sifat seorang manusia selama hidup di dunia akan diperlihatkan Allah di akhirat. Jika watak, sifat, dan tabiat mereka baik selama hidup di dunia, maka hal itu akan tampak baik di akhirat. Sebaliknya jika watak, sifat, dan tabiat mereka jelek selama hidup di dunia, hal itu akan tampak jelek di akhirat. Di dunia mereka masih dapat mengelabui mata manusia, sedangkan di akhirat, mereka langsung berhadapan dengan Allah yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.</p>
<p>Dalam ayat-ayat yang lain, Allah menerangkan sikap orang-orang munafik di akhirat, yaitu:</p>
<p>Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8220;Janganlah berbuat kerusakan di bumi!&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.&#8221; Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (al-Baqarah/2: 11-12)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Allah menerangkan sebab-sebab orang-orang munafik di atas dimasukkan ke dalam api neraka adalah karena hati dan pikiran mereka telah dipengaruhi oleh bisikan-bisikan setan, sehingga mereka tidak dapat lagi mengingat Allah, mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya. Yang baik menurut pikiran mereka ialah apa yang menurut nafsu dan keinginan mereka baik. Oleh karena itu, mereka bersumpah untuk menarik simpati orang lain, seakan-akan yang mereka ucapkan itu adalah suatu kebenaran. Firman Allah:</p>
<p>Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan. (al-An&#8217;am/6: 112)</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang-orang munafik yang diterangkan di atas adalah tentara dan pesuruh setan. Mereka berkumpul dan mengadakan perundingan rahasia untuk mengerjakan perbuatan dosa dan menimbulkan permusuhan di kalangan kaum Muslimin. Tujuan mereka melakukan usaha yang demikian adalah untuk menuruti hawa nafsu mereka. Tentara dan pesuruh setan itu adalah orang-orang yang durhaka kepada Allah. Orang-orang yang durhaka kepada Allah pasti akan binasa dan hancur, serta di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Ayat ini menerangkan tentang orang-orang yang menentang Allah, mereka tidak mengindahkan perintah-perintah-Nya, tidak mematuhi larangan-larangan-Nya, dan enggan mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah bagi mereka. Mereka termasuk orang-orang yang hina karena kaum Muslimin akan mengalahkan mereka dengan memerangi dan menawan mereka. Bahkan ada di antara mereka yang diusir dari negeri mereka.</p>
<p>Ayat ini mengingatkan kaum Muslimin akan azab Allah yang ditimpakan kepada orang-orang musyrik Mekah berupa kekalahan pada fath Makkah. Akibat Perang Ahzab orang-orang Yahudi diusir dari kota Medinah karena melanggar perjanjian damai dengan Rasulullah saw. Orang-orang yang telah dinyatakan Allah sebagai orang yang hina, tidak dapat dimuliakan oleh siapa pun, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim. (Â&#8217;li &#8216;Imran/3: 192)</p>
<p>Ayat ke-20 ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang sedang menerima cobaan-cobaan yang sangat berat bahwa mereka akan dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dan agama Islam akan berkembang di mana-mana dalam waktu dekat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Allah mengingatkan manusia tentang sunah-Nya yang telah ditetapkan di Lauh Mahfudh dan berlaku di sepanjang masa dan di semua tempat. Sunah-Nya itu ialah mengenai ketetapan Allah dan rasul-Nya yang pasti akan mengalahkan setiap orang yang ingkar kepada-Nya. Di antaranya Allah telah menghancurkan kaum Nuh, kaum Lut, kaum Saleh, Fir&#8217;aun serta pengikutnya dengan bermacam-macam cara. Kemenangan seperti itu akan diperoleh pula oleh Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya, dan juga setiap orang yang benar-benar melaksanakan agama Islam dengan sebaik-baiknya. Ini adalah sunatullah yang berlaku bagi hamba-Nya. Allah berfirman:</p>
<p>Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. (as-saffat/37: 171-173)</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan lagi bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak, kuasa menolong rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan mengalahkan orang-orang kafir. Tidak seorang pun di langit maupun di bumi yang sanggup melawan kehendak-Nya. Dia sangat mudah melaksanakan kehendak-Nya. Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, &#8220;Jadilah!&#8221; Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36: 82)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim, ath-thabrani, Abu Nu&#8217;aim, dan al-Baihaqi dari Ibnu &#8216;Abbas bahwa ia berkata, &#8220;Ayat ini turun berhubungan dengan Abu Ubaidah bin &#8216;Abdillah al-Jarrah, yang mana dalam Perang Badar, selalu ditantang berperang tanding oleh ayahnya, &#8216;Abdullah al-Jarrah. Akan tetapi, ia selalu berusaha menghindarkan diri dari perang tanding itu. Karena terus-menerus dicari dan diburu oleh ayahnya, ia terpaksa melayaninya, sehingga Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa sebenarnya orang munafik itu benar-benar kafir, bahkan lebih berbahaya dari orang yang terang-terangan menyatakan kekafirannya. Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang selalu berusaha dan mengadakan tipu daya dalam mencapai tujuan mereka untuk menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin. Orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin atau orang yang tidak berusaha menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin tidak termasuk dalam ayat ini.</p>
<p>Kaum Muslimin dilarang berteman dengan orang-orang kafir yang menjadi musuh Islam karena hal itu berarti ikut berusaha menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Sedangkan terhadap orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin dan tidak berusaha menghancurkan agama Islam, kaum Muslimin dibolehkan berteman dan bergaul dengan mereka, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw sendiri dan para sahabat. Sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (al-Mumtahanah/60: 8)</p>
<p>Kemudian ditegaskan, seandainya ada kaum Muslimin yang berteman erat dengan orang kafir yang memusuhi Islam maka hal itu adalah sikap yang tidak wajar. Sebab, tidak mungkin ada orang-orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah berteman dengan orang kafir yang ingin menghancurkan Islam.</p>
<p>Dengan demikian, kaum Muslimin diminta agar selalu waspada setiap terjadi permusuhan dan pertempuran dengan orang-orang kafir. Sekali-kali tidak boleh berteman erat dengan mereka, karena akan membahayakan kaum Muslimin. </p>
<p>Allah menerangkan bahwa orang-orang yang telah diterangkan kekuatan iman dan keikhlasan hati mereka, seperti Abu Ubaidah, adalah orang yang telah tertanam keimanan dalam hatinya. Sehingga mereka tidak tahan mendengar Allah dan Rasul-Nya dicaci-maki orang, atau agama Islam direndahkan.</p>
<p>Di samping mempunyai keimanan yang kuat, Allah juga telah menguatkan hati dan jiwa mereka sehingga menimbulkan ketenangan jiwa dan ketetapan hati dalam menegakkan agama Allah. Oleh karena itu, mereka tidak dapat melakukan kerja sama dengan orang-orang yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan balasan yang akan mereka peroleh dari Allah, yaitu:</p>
<p>1.Di akhirat mereka akan ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan, dan di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.</p>
<p>2.Allah rida dan menyukai perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia dan keadaan mereka di akhirat. Mereka pun rida dan senang terhadap balasan yang dianugerahkan Allah kepada mereka cepat atau lambat.</p>
<p>3.Mereka termasuk orang-orang yang dimuliakan Allah karena telah bersedia menjadi tentara Allah dan mengorbankan segala yang ada pada mereka untuk meninggikan kalimat-Nya.</p>
<p>4.Mereka termasuk orang-orang yang beruntung, karena dirinya telah berhasil melaksanakan tugas hidupnya sebagai hamba Allah di dunia dan di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-mujadalah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>57. Al-Hadid (29 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-hadid/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-hadid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2026 02:10:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1190</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Besi Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 29 Deskripsi: Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah. Dinamai Al Hadiid (Besi), diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat 25 surat ini. Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Hadid Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an: Ayat 1 سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ ... <a title="57. Al-Hadid (29 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-hadid/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 57. Al-Hadid (29 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Besi</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 29</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah. Dinamai <i>Al Hadiid</i> (Besi), diambil dari perkataan <i>Al Hadiid</i> yang terdapat pada ayat 25 surat ini.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hadid/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Hadid</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), yuḥyī wa yumīt(u), wa huwa ‘alā kulli syai&#8217;in qadīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwal-awwalu wal-ākhiru waẓ-ẓāhiru wal-bāṭin(u), wa huwa bikulli syai&#8217;in ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy(i), ya‘lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju minhā wa mā yanzilu minas-samā&#8217;i wa mā ya‘ruju fīhā, wa huwa ma‘akum aina mā kuntum, wallāhu bimā ta‘malūna baṣīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), wa ilallāhi turja‘ul-umūr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِۗ وَهُوَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yūlijul-laila fin-nahāri wa yūlijun-nahāra fil-lail(i), wa huwa ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Āminū billāhi wa rasūlihī wa anfiqū mimmā ja‘alakum mustakhlafīna fīh(i), fal-lażīna āmanū minkum wa anfaqū lahum ajrun kabīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā lakum lā tu&#8217;minūna billāh(i), war-rasūlu yad‘ūkum litu&#8217;minū birabbikum wa qad akhaża mīṡāqakum in kuntum mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan Dia telah mengambil janji (setia)mu, jika kamu orang-orang mukmin.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ عَلٰى عَبْدِهٖٓ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَاِنَّ اللّٰهَ بِكُمْ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">huwal-lażī yunazzilu ‘alā ‘abdihī āyātim bayyinātil liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr(i), wa innallāha bikum lara&#8217;ūfur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya (Muhammad) untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا لَكُمْ اَلَّا تُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا يَسْتَوِيْ مِنْكُمْ مَّنْ اَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَۗ اُولٰۤىِٕكَ اَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِيْنَ اَنْفَقُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَقَاتَلُوْاۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā lakum allā tunfiqū fī sabīlillāhi wa lillāhi mīrāṡus-samāwāti wal-arḍ(i), lā yastawī minkum man anfaqa min qablil-fatḥi wa qātal(a), ulā&#8217;ika a‘ẓamu darajatam minal-lażīna anfaqū mim ba‘du wa qātalū, wa kullaw wa‘adallāhul-ḥusnā, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗ وَلَهٗٓ اَجْرٌ كَرِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">man żal-lażī yuqriḍullāha qarḍan ḥasanan fa yuḍā‘ifahū lahū wa lahū ajrun karīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Barangsiapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ يَسْعٰى نُوْرُهُمْ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ بُشْرٰىكُمُ الْيَوْمَ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma taral-mu&#8217;minīna wal-mu&#8217;mināti yas‘ā nūruhum baina aidīhim wa bi&#8217;aimānihim busyrākumul-yauma jannātun tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوا انْظُرُوْنَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُّوْرِكُمْۚ قِيْلَ ارْجِعُوْا وَرَاۤءَكُمْ فَالْتَمِسُوْا نُوْرًاۗ فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُوْرٍ لَّهٗ بَابٌۗ بَاطِنُهٗ فِيْهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهٗ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma yaqūlul-munāfiqūna wal-munāfiqātu lil-lażīna āmanunẓurūnā naqtabis min nūrikum, qīlarji‘ū warā&#8217;akum faltamisū nūrā(n), faḍuriba bainahum bisūril lahū bāb(un), bāṭinuhū fīhir-raḥmatu wa ẓāhiruhū min qibalihil-‘ażāb(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يُنَادُوْنَهُمْ اَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْۗ قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ اَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْاَمَانِيُّ حَتّٰى جَاۤءَ اَمْرُ اللّٰهِ وَغَرَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yunādūnahum alam nakum ma‘akum, qālū balā wa lākinnakum fatantum anfusakum wa tarabbaṣtum wartabtum wa garratkumul-amāniyyu ḥattā jā&#8217;a amrullāhi wa garrakum billāhil-garūr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَّلَا مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ مَأْوٰىكُمُ النَّارُۗ هِيَ مَوْلٰىكُمْۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fal-yauma lā yu&#8217;khażu minkum fidyatuw wa lā minal-lażīna kafarū, ma&#8217;wākumun-nār(u), hiya maulākum, wa bi&#8217;sal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kamu maupun dari orang-orang kafir. Tempat kamu di neraka. Itulah tempat berlindungmu, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam ya&#8217;ni lil-lażīna āmanū an takhsya‘a qulūbuhum liżikrillāhi wa mā nazala minal-ḥaqq(i), wa lā yakūnū kal-lażīna ūtul-kitāba min qablu faṭāla ‘alaihimul-amadu faqasat qulūbuhum, wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">i‘lamū annallāha yuḥyil-arḍa ba‘da mautihā, qad bayyannā lakumul-āyāti la‘allakum ta‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ketahuilah bahwa Allah yang menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-muṣṣaddiqīna wal-muṣṣaddiqāti wa aqraḍullāha qarḍan ḥasanay yuḍā‘afu lahum wa lahum ajrun karīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصِّدِّيْقُوْنَ ۖوَالشُّهَدَاۤءُ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ لَهُمْ اَجْرُهُمْ وَنُوْرُهُمْۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna āmanū billāhi wa rasūlihī ulā&#8217;ika humuṣ-ṣiddīqūn(a), wasy-syuhadā&#8217;u ‘inda rabbihim, lahum ajruhum wa nūruhum, wal-lażīna kafarū wa każżabū bi&#8217;āyātinā ulā&#8217;ika aṣḥābul-jaḥīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itu orang-orang yang tulus hati (pencinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">i‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād(i), kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fatarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā(n), wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīd(un), wa magfiratum minallāhi wa riḍwān(un), wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sābiqū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā ka‘arḍis-samā&#8217;i wal-arḍ(i), u‘iddat lil-lażīna āmanū billāhi wa rasūlih(ī), żālika faḍlullāhi yu&#8217;tīhi may yasyā'(u), wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim min qabli an nabra&#8217;ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">likailā ta&#8217;sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ۨالَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ ۗوَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna yabkhalūna wa ya&#8217;murūnan-nāsa bil-bukhl(i), wa may yatawalla fa&#8217;innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barangsiapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Mahakaya, Maha Terpuji.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad arsalnā rusulanā bil-bayyināti wa anzalnā ma‘ahumul-kitāba wal-mīzāna liyaqūman-nāsu bil-qisṭ(i), wa anzalnal-ḥadīda fīhi ba&#8217;sun syadīduw wa manāfi‘u lin-nāsi wa liya‘lamallāhu may yanṣuruhū wa rusulahū bil-gaib(i), innallāha qawiyyun ‘azīz(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا وَّاِبْرٰهِيْمَ وَجَعَلْنَا فِيْ ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتٰبَ فَمِنْهُمْ مُّهْتَدٍۚ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad arsalnā nūḥaw wa ibrāhīma wa ja‘alnā fī żurriyyatihiman-nubuwwata wal-kitāba fa minhum muhtad(in), wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami berikan kenabian dan kitab (wahyu) kepada keturunan keduanya, di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ ەۙ وَجَعَلْنَا فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ رَأْفَةً وَّرَحْمَةً ۗوَرَهْبَانِيَّةَ ِۨابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚفَاٰتَيْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْهُمْ اَجْرَهُمْ ۚ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma qaffainā ‘alā āṡārihim birusulinā wa qaffainā bi‘īsabni maryama wa ātaināhul-injīl(a), wa ja‘alnā fī qulūbil-lażīnattaba‘ūhu ra&#8217;fataw wa raḥmah(tan), wa rahbāniyyatanibtada‘ūhā mā katabnā ‘alaihim illabtigā&#8217;a riḍwānillāhi famā ra‘auhā ḥaqqa ri‘āyatihā, fa&#8217;ātainal-lażīna āmanū minhum ajrahum, wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam; Dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya. Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya, dan banyak di antara mereka yang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha wa āminū birasūlihī yu&#8217;tikum kiflaini mir raḥmatihī wa yaj‘al lakum nūran tamsyūna bihī wa yagfir lakum, wallāhu gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِّئَلَّا يَعْلَمَ اَهْلُ الْكِتٰبِ اَلَّا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ࣖ ۔</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">li&#8217;allā ya‘lama ahlul-kitābi allā yaqdirūna ‘alā syai&#8217;im min faḍlillāhi wa annal-faḍla biyadillāhi yu&#8217;tīhi may yasyā'(u), wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">agar Ahli Kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-hadid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 57. Al-Hadid</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hadid/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hadid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 14:06:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1189</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 57. Al-Hadid (الحديد) Jumlah Ayat: 29 Arti: Besi Pengantar Surah: Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah. Dinamai Al Hadiid (Besi), diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat 25 surat ini. Tafsir Ayat per Ayat: Tafsir Ayat 1 Pada ayat ini ... <a title="Tafsir Surat 57. Al-Hadid" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hadid/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 57. Al-Hadid">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 57. Al-Hadid (الحديد)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 29</p>
<p><strong>Arti:</strong> Besi</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah. Dinamai <i>Al Hadiid</i> (Besi), diambil dari perkataan <i>Al Hadiid</i> yang terdapat pada ayat 25 surat ini.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Pada ayat ini dijelaskan bahwa semua yang diciptakan Allah, baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, batu dan lain-lain yang bernyawa atau pun tidak, seharusnya setiap waktu dengan tulus dan ikhlas bertasbih kepada-Nya, menyatakan kebesaran-Nya, dan mengakui bahwa Dia-lah yang Mahakuasa. Semuanya tunduk menyembah serta mematuhi segala perintah-Nya. Jika demikian, manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal seharusnya menyucikan Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam ayat lain yang menunjukkan kedudukan makhluk, Allah berfirman: </p>
<p>Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra&#8217;/17: 44) </p>
<p>Dia pulalah Yang Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyaingi-Nya. Dia Mahabijaksana menciptakan, memerintah dan mengatur makhluk-Nya dengan peraturan yang sudah ditentukanNya, yang sesuai dengan kehendak-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dia-lah yang berkuasa melakukan sesuatu atas makhluk-Nya, menciptakan, menghidupkan dan mematikan, memberikan rezeki kepada siapa saja yang kehendaki-Nya, sesuai dengan keadaan yang dikehendaki-Nya. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Hal ini mengharuskan manusia beribadah dan meminta pertolongan kepadaNya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Dialah Yang Awal, yang telah ada sebelum segala sesuatunya ada, karena Dia-lah yang menjadikannya, dan yang menciptakannya. Dia-lah Yang Â¨ahir, yang nyata adanya, karena banyaknya buktibukti tentang adanya. Dialah Yang Mahatinggi dari apa saja, tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada-Nya. Dia-lah Yang Batin, Yang hakikat Zat-Nya tidak dapat digambarkan oleh akal. Dia mengetahui semua yang tersimpan, yang tidak nyata dan segala yang tersembunyi. Dia yang paling dekat kepada apa yang telah diciptakan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat kepada makhluk-Nya selain Dia; sebagaimana firmanNya: </p>
<p>Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf/50: 16) </p>
<p>Dalam hadis riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah: Fatimah datang kepada Nabi saw meminta seorang pembantu, lalu Nabi menyuruhnya berdoa, &#8220;Ya Allah, Tuhan segala sesuatu, yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur&#8217;an, yang membelah bijibijian. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan setiap sesuatu. Engkaulah yang mengaturnya. Engkaulah Zat yang awal yang tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun, Engkaulah Zat yang akhir yang tidak ada sesudah-Mu sesuatu apa pun. Engkaulah adz-Â¨ahir yang tidak ada sesuatu pun di atas-Mu, dan Engkaulah al-Bathin yang tidak ada sesuatu apa pun di bawah-Mu. Lunasilah hutang kami dan cukupilah kebutuhan kami. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi beserta semua yang terdapat pada keduanya. Dialah yang mengaturnya dengan sistem yang telah ditentukan-Nya dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas &#8216;Arsy yang sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya. Dari sanalah diatur seluruh kerajaan dengan hikmat dan bijaksana. Dianugerahkan-Nya kepada sebagian hamba-hamba-Nya petunjuk-petunjuk yang dapat membawa mereka kepada jalan yang sempurna untuk mengabdi dan bersyukur kepadaNya sehingga mereka dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dia mengetahui semua makhluk-Nya yang masuk ke dalam bumi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya dan Dia pun mengetahui apa-apa yang keluar dari bumi, yang berupa tumbuhtumbuhan, tanam-tanaman dan buah-buahan serta benda yang berupa emas, perak, minyak bumi dan lain-lain sebagainya. Dalam ayat yang lain Allah berfirman: </p>
<p>Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (al-An&#8217;am/6: 59) </p>
<p>Allah mengetahui apa yang turun dari langit seperti hujan, malaikat dan amal perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut ini: </p>
<p>Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataanperkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. (Fathir/35: 10) </p>
<p>Allah melihat segala perbuatan manusia di mana pun ia berada. Dia mengawasi manusia, mendengar perkataannya, mengetahui apaapa yang manusia sembunyikan dan yang tergerak dalam hatinya, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut ini: </p>
<p>Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari. (ar-Ra&#8217;d/13: 10)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kerajaan langit dan bumi beserta segala yang berada pada keduanya adalah kepunyaanNya. Dialah yang mengatur keduanya dengan hikmat bijaksana dan keputusan-Nyalah yang berlaku atas keduanya sesuai dengan kehendak dan ketentuan-Nya, serta kepada-Nya semua makhluk dan segala urusan akan kembali. Sebagaimana firman-Nya di dalam ayatayat berikut ini: </p>
<p>Dan sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia itu. (al-Lail/92: 13) </p>
<p>Dan Allah berfirman: </p>
<p>Dan Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, segala puji bagi-Nya di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya segala penentuan dan kepada-Nya kamu dikembalikan. (al-Qasas/28: 70)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam sesuai dengan kebijaksanaan dan ketentuan yang dikehendaki-Nya. Kadang-kadang siang lebih panjang dari malam, kadang-kadang malam lebih panjang dari siang serta kadang-kadang sama panjangnya. Dijadikan-Nya musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur, yang bermanfaat bagi hamba-Nya, dan sesuai dengan rencana-Nya. Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi sampai kepada benda yang paling kecil dan Dia juga mengetahui apa yang tergerak dalam hati dan keinginan hamba-Nya sebagaimana Ia dapat mengetahui perbuatan-perbuatan mereka yang baik dan yang buruk. Dengan ini Allah mendorong kita untuk berpikir secara mendalam dan teliti segala yang bermanfaat secara sungguh-sungguh lalu kemudian bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dianugerahkan-Nya yang memberikan keberuntungan bagi kita di dunia dan di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Pada ayat ini Allah swt memerintahkan agar beriman kepadaNya dan rasul-Nya menafkahkan harta-harta yang mereka miliki, karena harta dan anak itu adalah titipan Allah pada seseorang, tentu saja pada suatu hari titipan tersebut akan diambil kembali. Syu&#8217;bah berkata, &#8220;Aku mendengar Qatadah menceritakan tentang Muththarif yang menemui Nabi saw, beliau membaca Surah atTakatsur, lalu berkata: Manusia berkata, &#8220;Hartaku, hartaku.&#8221; Hartamu hanya yang telah engkau makan lalu habis, atau pakaian yang engkau pakai lalu menjadi usang, atau sesuatu yang engkau sedekahkan lalu menjadi kekal (tetap). Maka selain dari itu akan lenyap dan untuk orang lain. (Riwayat Muslim) </p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah membenarkan rasul-Nya serta menginfakkan hartaharta yang jatuh menjadi milik dari peninggalan orang terdahulu, mereka ini akan mendapat pahala yang besar yang tidak pernah dilihat dan tergores di hati.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak beriman dengan menyatakan, apakah alasan tidak beriman kepada Allah, sedangkan rasul-Nya berada di tengah-tengah kamu yang mengajakmu beriman dan mengesakan-Nya dengan mengemukakan bukti-bukti nyata. Mengenai keimanan manusia ini Nabi saw pernah bersabda: Menurut kalian, siapakah yang paling mengagumkan keimanannya? Mereka (para sahabat) menjawab, &#8220;Malaikat.&#8221; Nabi bersabda, &#8220;Bagaimana mungkin mereka tidak beriman sedangkan mereka di sisi Tuhannya.&#8221; Lalu mereka menjawab, &#8220;Para Nabi.&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin mereka tidak beriman sedangkan mereka menerima wahyu.&#8221; Lalu mereka berkata, &#8220;Kalau begitu, kamilah orangnya.&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Bagaimana mungkin kalian tidak akan beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian. Iman seseorang yang paling mengagumkan ialah mereka yang datang sesudah kalian, membaca Al-Qur&#8217;an dan mengimaninya.&#8221; (Riwayat al-Bukhari) </p>
<p>Selanjutnya Allah mencela orang-orang kafir, mengapa kamu tidak beriman, padahal Allah telah memperlihatkan bukti ketauhidan-Nya di alam semesta baik secara ratio maupun secara logika. Bumi, langit, laut, daratan dan semua ciptaan Allah yang kamu saksikan baik pada diri kamu maupun pada semua ciptaan-Nya adalah bukti yang nyata jika kamu benar-benar berpegang kepadaNya. Maksudnya adalah bukti wajib beriman kepada Allah dan RasulNya terdapat pada seluruh benda ciptaan-Nya serta para rasul telah membuktikan kebenaran dakwah mereka dan mukjizat-mukjizat, tetapi apa sebabnya lagi kamu tidak mau beriman?</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Ayat ini menerangkan mengapa orang kafir tidak beriman padahal Allah telah mengutus rasul-Nya dengan membawa bukti yang nyata agar dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan, kekafiran kepada nur iman dan dari alam kesesatan kepada petunjuk. Dengan rahmat-Nya pula maka manusia diajak memikirkan keajaiban ciptaan-Nya agar keimanan semakin sempurna.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Setelah Allah mencela mereka karena tidak mau beriman, maka pada ayat ini Allah mencela mereka karena tidak mau berinfak di jalan-Nya. Mengapa manusia tidak mau membelanjakan harta yang dikaruniai Allah pada jalan-Nya, sedangkan hartanya itu akan kembali kepada Allah. Bila ia tidak menginfakkan pada jalan-Nya berarti ia tidak yakin bahwa semua harta tersebut pada hakikatnya milik Allah, karena langit dan bumi serta semua isinya akan kembali kepada-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Setelah Allah mencela mereka karena tidak mau beriman, maka pada ayat ini Allah mencela mereka karena tidak mau berinfak di jalan-Nya. Mengapa manusia tidak mau membelanjakan harta yang dikaruniai Allah pada jalan-Nya, sedangkan hartanya itu akan kembali kepada Allah. Bila ia tidak menginfakkan pada jalan-Nya berarti ia tidak yakin bahwa semua harta tersebut pada hakikatnya milik Allah, karena langit dan bumi serta semua isinya akan kembali kepada-Nya. Allah memerintahkan kepada manusia menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebelum mati, agar menjadi simpanan di sisi Allah. Hal yang demikian itu tidak dapat dilakukan manusia sesudah mati karena semua harta akan kembali kepada Allah Pemilik sekalian alam. Selanjutnya Allah swt menyatakan perbedaan derajat yang diperoleh orang-orang yang berinfak karena perbedaan kondisi dan situasi mereka dalam mengerjakannya. Bahwa derajat orang-orang yang berinfak dan hijrah sebelum pembebasan Mekah lebih tinggi dari derajat orang yang berinfak dan berhijrah sesudah itu, karena pada masa sebelum pembebasan Mekah manusia dalam keadaan susah dan selalu terancam. Tidak ada yang akan beriman dan berinfak kecuali orang-orang yang betul-betul sadar, tetapi sesudah pembebasan Mekah, Islam telah berkembang dan manusia berduyunduyun mengikutinya. Derajat mereka yang berjihad dan berinfak sebelum pembebasan Mekah lebih besar dari pahala yang diperoleh orang-orang yang berjihad dan berinfak sesudahnya. Qatadah berkata, &#8220;Ada dua jihad, yang satu lebih tinggi nilainya dari yang lain, dan ada dua macam infak yang satu lebih utama dari yang lain; jihad dan infak sebelum pembebasan Mekah lebih utama dari jihad dan infak sesudahnya.&#8221; Tetapi walau bagaimanapun untuk masing-masing yang berjihad dan berinfak sebelum atau sesudah pembebasan Mekah ada pahalanya meskipun terdapat perbedaan antara besar dan kecil pahala tersebut. Dalam ayat lain yang hampir sama maksudnya. Allah berfirman: </p>
<p>Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (an-Nisa&#8217;/4: 95) Telah diriwayatkan, bahwa telah terjadi perselisihan kata antara Khalid bin al-Walid dengan &#8216;Abdurrahman bin &#8216;Auf, lalu Khalid berkata kepada Abdurrahman, &#8220;Kamu menganggap dirimu lebih mulia daripada kami, karena kamu lebih dahulu menjadi pengikut Nabi Muhammad saw daripada kami.&#8221; Kemudian ucapan Khalid itu diketahui oleh Nabi, lalu beliau bersabda Biarkan aku yang menilai sahabat-sahabatku. Demi Allah, yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu menginfakkan emas sebesar bukit Uhud atau sebesar gunung tidak akan kamu mencapai pahala amal perbuatan mereka. (Riwayat Ahmad dari Anas) Janganlah kamu mencaci maki sahabat-sahabatku, demi Allah Tuhan yang nyawa Muhammad dalam kekuasaan-Nya, seandainya salah seorang dari kamu menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, tidak akan ia mencapai satu mud yang mereka sedekahkan dan tidak pula separuhnya.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri) </p>
<p>Allah berfirman: Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surgasurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (atTaubah/9: 100) </p>
<p>Sebagai penutup ayat ini, Allah memperingatkan bahwa Dia mengetahui semua keadaan manusia, lahir dan batin, karena itu Dia akan memberi balasan yang setimpal. Karena pengetahuan-Nya itu, maka Allah melebihkan pahala infak dan juga jihad sebelum pembebasan Mekah atas pahala infak dan berjihad sesudahnya, keikhlasan berinfak dan berjihad lebih berat dalam keadaan susah dan sulit. Dalam hal ini Abu Bakar adalah yang paling berbahagia karena beliau telah menafkahkan seluruh hartanya dalam rangka menuntut keridaan Allah semata.</p>
<p>(11) Allah mengajak berinfak pada jalan-Nya serta menjanjikan kepada orang yang mau melakukannya. Siapa saja yang berinfak pada jalan Tuhannya dengan harapan mendapat pahala, maka Tuhannya akan melipatgandakan pahala infaknya itu dengan memberikan satu kebajikan menjadi tujuh ratus kali dan akan memperoleh balasan yang tidak terhingga di dalam surga. Ibnu Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Ketika sebelum ayat ini turun, Abu Dahdah al-Ansari bertanya kepada Nabi saw. &#8220;Wahai Rasulullah, menurut pengertian saya, bahwa Allah sesungguhnya menghendaki pinjaman.&#8221; &#8220;Ya, benar, hai Abu Dahdah,&#8221; jawab Nabi Muhammad saw. &#8220;Ya Rasulullah ulurkanlah tanganmu,&#8221; lalu dipegangnya tangan beliau sambil berkata, &#8220;Ya Rasulullah kebun kurma saya kupinjamkan kepada Allah. Di dalamnya ada tujuh ratus batang kurma dan tinggal di sana istri Abu Dahdah bersama anak-anaknya lalu dikatakannya kepada istrinya. &#8220;Keluarlah engkau dari kebun ini wahai istriku bersama anak-anakmu karena sesungguhnya aku telah meminjamkan kebun kita ini kepada Allah,&#8221; istrinya menjawab, &#8220;Sungguh benar kabarmu hai Abu Dahdah.&#8221; Lalu keluarlah istri dan anak-anaknya dari kebun itu. Lalu Nabi Muhammad saw bersabda, &#8220;Alangkah banyaknya mata air di dalam surga kepunyaan Abu Dahdah.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang Mukmin akan memperoleh pahala yang besar di akhirat, yaitu diberikan cahaya di hadapan dan dikanannya sesuai kadar amal saleh yang dilakukan, yang mengantarkan ke surga. Dalam sebuah hadis disebutkan: Mereka menerima cahayanya sesuai dengan kadar amalannya. Mereka melewati as-sirath. Di antara mereka ada yang cahayanya sebesar gunung, ada pula yang sebesar pohon kurma, sedangkan cahaya yang paling kecil sebesar jari ibu, kadang menyala kadang padam. (Riwayat Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi) </p>
<p>Mereka membersihkan jiwa mereka dengan tauhid dan beramal saleh, tidak mempersekutukan-Nya, sehingga kembali kepada-Nya dengan jiwa yang ikhlas serta menerima buku catatan amal perbuatan mereka dengan tangan kanan, sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya: </p>
<p>Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (al-Insyiqaq/84: 7-9) Ketika itu malaikat berkata kepada orang Mukmin, &#8220;Bergembiralah kamu dengan memasuki surga yang mengalir di dalamnya sungai sebagai balasan yang setimpal dengan amal perbuatan kamu dan usaha kamu untuk menjauhkan diri dari syirik dan dosa, oleh karena zikirmu yang terus-menerus, maka berbahagialah kamu dalam amal perbuatanmu itu.&#8221; Dalam ayat lain Allah menyatakan: </p>
<p>(Yaitu) surga-surga &#8216;Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasanganpasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), &#8220;Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.&#8221; Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. (ar-Ra&#8217;d/13: 23-24) Sebagai penutup ayat ini, Allah menyatakan bahwa kehebatan hidup dalam surga yang keadaannya telah diketahui orang Mukmin adalah suatu kemenangan besar yang diidam-idamkan, setelah mereka bebas dari siksa Allah. (</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Setelah Allah menyatakan keadaan orang-orang Mukmin pada hari Kiamat. Pada ayat ini Allah mengungkapkan bahwa orang-orang munafik pada hari Kiamat itu berseru kepada orang-orang beriman yang mendapatkan keridaan-Nya dan menjadi penghuni surga. &#8220;Tunggulah kami sehingga kita bersama menemui Allah serta biarkanlah mengambil sedikit dari cahaya kamu agar kami dapat keluar melalui sinar kamu dari azab yang pedih.&#8221; Lalu permintaan ini dijawab dengan jawaban yang memutuskan harapan mereka serta menimbulkan kesedihan dan kesesalan, yaitu, &#8220;Tetaplah kamu di mana kamu berada, carilah di sana cahaya dan jangan mengharapkannya dari kami apa yang telah kami perbuat untuk diri kami dari amal saleh, karena tidak akan memberi manfaat bagi seseorang kecuali amal saleh sendiri.&#8221; Yang demikian itu adalah olokan terhadap mereka sebagaimana mereka memperolok-olokkan orang-orang Mukmin semasa di dunia ketika mereka berkata: Kami beriman, padahal mereka tidak beriman. Inilah yang dikehendaki dengan firman-Nya; Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (al-Baqarah/2: 15) Maka untuk memberi balasan semua perbuatan mereka, ditetapkanlah bagian yang membatasi tempat orang-orang Mukmin dan orang-orang munafik. Bagian yang ditempati orang-orang Mukmin adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, sebaliknya bagian yang ditempati oleh orang-orang munafik adalah neraka yang dipenuhi siksa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Kemudian pada ayat ini Allah menyatakan peristiwa yang dialami orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu mereka berseru kepada orang-orang Mukmin dan mengatakan, &#8220;Bukankah kami bersama-sama kamu semasa hidup di dunia?&#8221; Lalu orang-orang Mukmin menjawab, &#8220;Ya benar, kita sama-sama salat, berwukuf di Arafah, berperang dan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya tetapi kamu berfoya-foya dengan kelezatan dan maksiat, ragu tentang hari kebangkitan, teperdaya oleh angan-angan sehingga kamu mengatakan bahwa dosa kamu akan diampuni Allah, karena bisikan setan yang mengatakan kepadamu bahwa Allah Maha Pengampun, dan Dia akan memaafkan dosa-dosamu.&#8221; Maksudnya, sebenarnya kamu hai orang-orang munafik bersama kami di dunia hanya tubuhmu yang kasar saja, padahal jiwamu tidak bersama kami, tidak mempunyai ketegasan dalam pendirian maka kamu jarang sekali mengingat Allah.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan akibat tindakan orang-orang munafik. Mereka akan terus binasa dan tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari neraka, yaitu jika salah seorang dari mereka ingin menebus dirinya dari azab dengan tebusan berupa emas sepenuh bumi, tidak juga akan diterima. Mereka tetap dilempar di dalam neraka sebab tidak ada tempat yang lebih layak bagi mereka selain itu. Dan itulah tempat yang paling buruk.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegur dan memperingatkan orangorang Mukmin tentang keadaan mereka yang berlalai-lalai. Belum datangkah waktunya bagi orang-orang Mukmin untuk mempunyai hati yang lembut, senantiasa mengingat Allah, suka mendengar dan memahami ajaran-ajaran agama mereka, taat dan patuh mengikuti petunjuk-petunjuk kebenaran yang telah diturunkan, yang terbentang di dalam Al-Qur&#8217;an Selanjutnya orang-orang Mukmin diperingatkan agar jangan sekali-kali meniru-niru orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diberikan Kitab Taurat dan Injil. Sekalipun telah lama dan memakan waktu agak panjang, mereka belum juga mengikuti dan memahami ajaran mereka dan nabi-nabi mereka, sehingga hati mereka menjadi keras dan susah membantu, tidak lagi dapat menerima nasihat, tidak membekas pada diri mereka ancaman-ancaman yang ditujukan kepada mereka. Mereka mengubah Kitab yang ada di tangan mereka dan ajaran-ajaran Kitab mereka dilempar jauh-jauh. Pendeta dan pastur mereka jadikan tuhan selain Allah, membikin agama tanpa alasan. Kebanyakan mereka menjadi fasik, meninggalkan ajaranajaran mereka yang asli. Sejalan dengan ayat ini firman Allah: </p>
<p>(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Ma&#8217;idah/5: 13)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia yang menghidupkan bumi sesudah mati. Allah melembutkan hati yang keras, memberi petunjuk manusia yang sesat, menghilangkan kesukaran yang menimpa dengan penjelasan dan petunjuk Al-Qur&#8217;an dengan nasihat dan pengajaran yang dapat melembutkan batu yang keras yakni hati yang kesat, sebagaimana menghidupkan dan menyuburkan tanah yang gersang membatu dengan hujan yang lebat. Demikianlah Allah telah menjelaskan agar manusia itu dapat memikirkan dan mempergunakan akalnya dengan sebaik-baiknya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang membenarkan dan mempercayai Allah dan Rasul-Nya baik laki-laki dan perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik dengan jalan bersedekah dan mendermakan hartanya di jalan Allah dengan ikhlas, mengharap-harapkan rida-Nya semata-mata, tidak menghendaki balasan dan terima kasih, akan dilipatgandakan pembalasannya oleh Allah swt. Satu kebaikan yang dikerjakan dibalas dengan sepuluh kebaikan dan dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali, dan bagi mereka itu pahala yang banyak dan tempat tinggal yang baik yaitu Jannatun na&#8217;im di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dan mengakui keesaan Allah swt, membenarkan rasul-rasul-Nya, percaya kepada apa yang dibawa mereka dari sisi Tuhannya menurut penilaian Allah swt sederajat dengan orang-orang shiddiqin, yaitu orangorang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah. Bagi mereka pahala yang banyak dan cahaya yang terang benderang menerangi mereka. Sejalan dengan itu firman Allah: </p>
<p>Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orangorang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa&#8217;/4: 69) </p>
<p>Adapun orang-orang kafir yang mendustakan alasan-alasan dan tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah swt dan kebesaran rasul-Nya, mereka itu adalah penghuni neraka Jahim, kekal dan abadi di dalamnya. Sejalan dengan ini firman Allah: </p>
<p>Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (alBaqarah/2: 39)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Pada ayat ini Allah swt menjelaskan kepada manusia bahwa kehidupan dan kesenangan dunia hanyalah seperti mainan dan sesuatu yang lucu, menjadi bahan kelakar antara mereka, serta perhiasan untuk melengkapi dandanan mereka. Mereka berbanggabangga dengan harta dan keturunan yang dianugerahkan kepada mereka. Dunia yang sifatnya sementara, hanya berlangsung beberapa saat lalu hilang lenyap dan berakhirlah wujudnya. Keadaan ini tidak beda dengan bumi yang kena hujan lebat lalu menumbuhkan tanamantanaman yang mengagumkan para petani, menyebabkan mereka riang bermuka cerah dan merasa gembira. Kemudian berubah menjadi kering dan layu, hancur berguguran diterbangkan angin. Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa di akhirat nanti ada azab pedih yang terus-menerus disediakan bagi orang-orang yang sangat mencintai dunia, meninggalkan amal-amal saleh, dan melibatkan dirinya ke dalam kemusyrikan dan penyembahan berhala. Di samping itu ada ampunan dari Allah dan keridaan-Nya yang dianugerahkan kepada orang-orang yang mensucikan dirinya dari dosa dan maksiat, merendahkan diri kepada Allah dan kembali kepada-Nya, taat dan patuh pada segenap perintah dan laranganNya. Ayat 20 ini, ditutup dengan satu ketegasan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang akan lenyap dan hilang serta menipu. Orang-orang yang condong kepada dunia akan tertipu dan teperdaya. Mereka menyangka bahwa kehidupan hanyalah di dunia ini, dan tidak ada lagi kehidupan sesudahnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya manusia itu bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan amal saleh untuk dapat memperoleh ampunan dari Allah dan mendapat surga di akhirat kelak, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman, kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mengakui keesaan Allah membenarkan rasul-rasul-Nya. Semua yang dipersiapkan Allah bagi mereka, adalah karunia, rahmat dan anugerah daripada-Nya. Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu shalih dari Abu Hurairah dijelaskan sebagai berikut: Fakir miskin dari kalangan Muhajirin mengeluh, &#8220;Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah membawa pergi pahala, derajat yang tinggi dan nikmat yang tiada hingga.&#8221; Rasulullah bertanya, &#8220;Apa itu?&#8221; Fakir miskin Muhajirin menjawab, &#8220;Mereka (orang-orang kaya) salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak, mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak (karena tidak mampu.)&#8221; Nabi menjawab, &#8220;Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang apabila diamalkan niscaya kalian mendahului orang-orang sesudahmu serta tidak ada seorang pun yang lebih mulia darimu kecuali seseorang yang mengerjakan amalan seperti amalan kalian, yakni membaca tasbih, takbir, tahmid, tiga puluh tiga kali setiap selesai salat. Abu shalih (perawi) berkata, &#8220;Kemudian fakir miskin Muhajirin itu kembali kepada Nabi seraya berkata, &#8216;Saudara-saudara kita yang kaya itu telah mendengar amalan yang kita kerjakan lalu mereka mengamalkan apa yang kita amalkan. Lalu Nabi bersabda, &#8216;Itu merupakan keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang ia kehendaki.&#8221; (Riwayat Muslim dari Abu shalih dari Abu Hurairah) </p>
<p>Ayat ini ditutup dengan ketegasan bahwa Allah itu amat luas pemberian-Nya dan besar karunia-Nya. Dia memberikan orang yang dikehendaki-Nya apa saja menurut kehendak-Nya; dilapangkan rezekinya di dunia, dianugerahi bermacam-macam nikmat, diberitahu di mana ia harus bersyukur, kemudian dibalas di akhirat dengan balasan yang menyenangkan yaitu surga Jannatun Na&#8217;im.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa semua bencana dan malapetaka yang menimpa permukaan bumi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana alam yang lain serta bencana yang menimpa manusia, seperti kecelakaan, penyakit dan sebagainya telah ditetapkan akan terjadi sebelumnya dan tertulis di Lauh Mahfudz, sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya. Hal ini berarti tidak ada suatu pun yang terjadi di alam ini yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz. Menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi itu adalah sangat mudah bagi Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah ada maupun yang akan ada nanti, baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak. Ayat ini merupakan peringatan sebagian kaum Muslimin yang masih percaya kepada tenung, suka meminta sesuatu kepada kuburan yang dianggap keramat, menanyakan sesuatu yang akan terjadi kepada dukun dan sebagainya. Hendaklah mereka hanya percaya kepada Allah saja, karena hanyalah Dia yang menentukan segala sesuatu. Mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib, selain dari kekuasaan Allah termasuk memperserikatkan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya dan berarti tidak percaya kepada tauhid rububiyyah yang ada pada Allah. (</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Pada ayat ini Allah swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan. Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati. Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya. Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan. &#8216;Ikrimah berkata, &#8220;Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.&#8221; Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhil dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Allah swt menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Orang-orang yang mempunyai sifat sombong dan angkuh adalah orang yang bila memperoleh suatu nikmat, kesenangan atau harta, maka ia berpendapat bahwa semuanya itu diperolehnya semata-mata karena kesanggupan dan kepandaiannya sendiri. Karena berusaha, maka ia memperolehnya, bukan karena pertolongan dan anugerah Allah kepadanya. Kemudian setan membisik-bisikkan ketelinganya bahwa ia adalah orang-orang yang kuat dan mampu, tidak memerlukan pertolongan orang lain. Karena yakin akan kemampuan dirinya itu, ia merasa tidak mengindahkan orang lain dan memberi orang lain. Jika ia memberi dan mengindahkan orang lain ia akan menjadi miskin. Keyakinan itu disampaikan pula kepada orang lain dan menganjurkan orang lain berkeyakinan sepertinya pula, yaitu berlaku kikir agar tidak menjadi miskin. Pada ayat ini ditegaskan bahwa orang yang mempunyai sifat-sifat seperti di atas adalah orang-orang yang berpaling dari perintahperintah Allah. Allah memerintahkan agar manusia bersifat rendah hati, suka menolong sesamanya, membantu fakir miskin, berinfak di jalan Allah dan sebagainya, tetapi mereka menganjurkan dan berbuat sebaliknya. Allah menyatakan bahwa sikap dan tindakan mereka yang demikian itu tidak akan merugikan Allah sedikit pun, melainkan akan merugikan diri mereka sendiri, karena Allah tidak memerlukan sedikit pun harta dan pemberian mereka, tetapi merekalah yang memerlukannya. Allah Maha Terpuji karena Dialah yang melimpahkan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya. Ayat lain yang sama artinya dengan ayat ini, ialah: Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (an-Nisa&#8217;/4: 131)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa Dia telah mengutus para rasul kepada umat-umat-Nya dengan membawa bukti-bukti yang kuat untuk membuktikan kebenaran risalah-Nya. Di antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para rasul. Di antara mukjizat tersebut seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim, mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf, tongkat sebagai mukjizat Nabi Musa, Al-Qur&#8217;an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya. Setiap rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur&#8217;an. Ajaran agama itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagai dasar untuk mengatur dan membina masyarakat, maka setiap agama yang dibawa oleh para rasul itu mempunyai asas &#8220;keadilan&#8221;. Keadilan itu wajib ditegakkan oleh para rasul dan pengikut-pengikutnya dalam masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpinnya dan sebagainya, sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukannya dalam hukum, sikap dan perlakuan. Di samping itu Allah swt menganugerahkan kepada manusia &#8220;besi&#8221; suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraaan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama-Nya, menegakkan keadilan dan menjaga keamanan negeri. Sebuah ensiklopedia sains modern menggambarkan unsur-unsur kimia yang ada di bumi kita ini mempunyai variasi yang menakjubkan, beberapa di antaranya susah ditemukan tapi ada juga yang berlimpah. Ada yang dapat dilihat oleh mata telanjang karena berbentuk cairan dan padatan, tetapi ada juga yang tak tampak karena berupa gas. Sekitar 300 tahun yang lalu hanya 12 unsur yang diketahui di antaranya adalah unsur Ferrum (Fe) yang bernomor atom 26 pada Tabel Susunan Berkala Unsur-Unsur. Fe ini lebih dikenal dengan sebutan besi. Besi merupakan salah satu unsur paling mudah ditemukan di Bumi. Diperkirakan 5% daripada kerak Bumi adalah besi. Kebanyakan besi ditemukan dalam bentuk oksida besi, seperti bahan galian hematit, magnetit dan takonit. Juga diduga keras permukaaan bumi banyak mengandung aloi logam besi-nikel. Konon unsur besi bukan unsur asli &#8220;kepunyaan&#8221; bumi tapi ia berasal dari luar bumi. Para pakar sependapat bahwa meteorit turut andil dalam pembentukan aloi besi-nikel yang ada di bumi. Barangkali, inilah &#8220;cara&#8221; Allah mendatangkan&#8221; unsur besi ke permukaan bumi jauh sebelum manusia ada. Pada umumnya besi adalah logam yang diperoleh dari bijih besi, dan dijumpai bukan dalam keadaan bebas tetapi selalu dalam bentuk senyawa atau campuran dengan unsur-unsur yang lain. Karenanya untuk mendapatkan unsur besi, unsur lain harus dipisahkan yang biasanya dilakukan melalui proses kimia. Seperti dalam industri besi baja, besi banyak digunakan yakni dalam bentuk logam campuran (aloi). Jenis campuran ada yang terdiri dari logam-logam yang berlainan tetapi ada juga bahan campuran yang digunakan berasal dari nonlogam, misalnya karbon. Semuanya dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan dan dengan pertimbangan untuk menekan biaya produksi. Sifat fisis unsur Fe jika dipanaskan terus menerus maka sebelum mencair ia akan mengalami fasa pelelehan. Fasa dimana besi dalam keadaan padat tapi ia memiliki sifat lunak. Karenanya pada fasa atau keadaan ini besi mudah dibentuk walaupun hanya dengan menggunakan teknologi tradisional yang sederhana seperti teknologi pandai besi (black-smith). Dengan teknologi yang sederhana tadi maka dalam sejarah perkembangan manusia pemanfaatan besi telah digunakan banyak dalam aspek kehidupan manusia sehari-hari, termasuk juga untuk perang. Sayyid Quthub dalam tulisannya menguraikan, &#8220;Allah menurunkan besi &#8216; ¦yang padanya terdapat kekuatan yang hebat¦, yaitu kekuatan dalam perang dan damai. Kemudian &#8216;¦Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasulrasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya¦ Penggalan ini mengisyaratkan jihad dengan senjata. Sebuah penyajian yang selaras dengan konteks surah yang tengah membicarakan pengorbanan dengan jiwa dan harta.&#8221; Dalam pengetahuan biologi maka unsur besi (Fe) dalam bentuk zat besi juga amat dibutuhkan oleh semua makhluk organik, kecuali bagi sebagian kecil bakteria. Seperti dalam tubuh kita zat besi sangat diperlukan. Dalam tubuh manusia besi kebanyakan ditemukan dalam bentuk logamprotein (metalloprotein) yang stabil, jika tidak maka ia dapat menyebabkan timbulnya radikal bebas yang cenderung menjadi racun bagi sel. Dalam tubuh manusia zat besi terlibat dalam pembentukan sel“ sel darah merah. Sementara sel-sel darah merah sangat penting keberadaannya karena dialah yang membawa zat asam (oksigen) dari paru-paru ke seluruh jaringan-jaringan yang ada dalam tubuh kita. Jaringan hidup memerlukan persediaan zat asam. Lebih giat suatu jaringan maka semakin banyak ia membutuhkan zat asam. Kekurangan zat besi dalam darah dapat menyebabkan anemia, mungkin jumlah sel darah merahnya atau karena hemoglogin (bahan yang berisi zat besi berwarna merah yang dapat mengangkut zat asam) dalam sel darah merah berkurang dari biasanya. Allah swt menerangkan bahwa Dia berbuat yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para rasul yang diutus-Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu Allah ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat-Nya. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya. Pada akhir ayat ini Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa Dia telah mengutus Nuh sebagai rasul kepada kaumnya, kemudian Dia mengutus Ibrahim sebagai rasul kepada kaum yang lain. Diterangkan pula bahwa para rasul yang datang kemudian setelah kedua orang rasul itu, semuanya berasal dari keturunan mereka berdua, tidak ada seorang pun daripada rasul yang diutus Allah yang bukan dari keturunan mereka berdua. Hal ini dapat dibuktikan kebenarannya sampai kepada rasul terakhir Nabi Muhammad saw. Diterangkan bahwa tidak semua keturunan Nuh dan Ibrahim beriman kepada Allah, di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman, mereka adalah orang-orang yang fasik, yang mengurangi, menambah dan mengubah agama yang dibawa oleh para rasul sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Dari ayat ini dipahami bahwa belum tentu seseorang hamba yang saleh kemudian anaknya menjadi hamba yang saleh pula, tetapi banyak tergantung kepada bagaimana cara seseorang mendidik dan membesarkan anaknya. Ayat ini juga merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang telah beriman dan mengikuti para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi mereka tidak mengikuti ajaran yang dibawa para rasul itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Demikianlah Allah mengutus para rasul, kemudian diiringi pula oleh rasul-rasul yang sesudahnya, untuk menyampaikan agamaNya kepada manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk mengatakan, mengapa mereka diazab padahal kepada mereka tidak diutus seorang rasul pun. Dalam ayat ini Allah mengkhususkan keterangan tentang Isa karena banyak pengikut-pengikutnya yang fasik, yaitu mengubahubah, menambah dan mengurangi ajaran-ajaran yang disampaikan Isa. Diterangkan bahwa Isa adalah putra Maryam, diberikan kepadanya Kitab Injil, berisi pokok ajaran yang agar dijadikan petunjuk oleh kaumnya dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan sebagai penyempurnaan ajaran Allah yang terdapat dalam kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya. Kemudian diterangkan sifat-sifat pengikut Nabi Isa: 1. Allah swt menjadikan dalam hati mereka rasa saling menyantuni sesama mereka, mereka berusaha menghindarkan kebinasaan yang datang kepada mereka dan saudara-saudara mereka serta berusaha memperbaiki kebinasaan yang terjadi pada mereka. 2. Antara sesama mereka terdapat hubungan kasih sayang dan menginginkan kebaikan pada diri mereka. Sekalipun mereka telah mempunyai sifat-sifat terpuji dan baik seperti yang diajarkan Nabi Isa, tetapi mereka melakukan kefasikan, yaitu mengada-adakan rahbaniyyah, dengan menetapkan ketentuan larangan kawin bagi pendeta-pendeta mereka, padahal perkawinan termasuk sunah Allah yang ditetapkan bagi makhluk-Nya. Mereka menetapkan rabbaniyah itu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, tetapi Allah tidak pernah menetapkannya. Karena itu mereka adalah orang yang suka mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan sunatullah, yaitu tidak mensyariatkan perkawinan bagi pendeta-pendeta mereka yang tujuannya untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Perbuatan fasik lain yang mereka lakukan, ialah mereka telah mengubah, menambah dan mengurangi agama yang dibawa Nabi Isa, yang terdapat dalam Injil, karena memperturutkan hawa nafsu mereka. Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan pahala yang berlipat-ganda kepada orang-orang yang beriman, mengikuti syariat yang dibawa para rasul, tidak mengadaadakan yang bukan-bukan dan tidak pula menambah dan mengubah kitab-kitab-Nya. Sedang kepada orang-orang fasik itu akan ditimpakan azab yang sangat berat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Allah swt memerintahkan kepada Bani Israil yang telah beriman kepada Isa bin Maryam sebagai rasul dan utusan-Nya agar beriman kepada Muhammad saw yang datang sesudah itu, mengikuti perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an dan Hadis. Perintah ini pada hakikatnya menguatkan perintah Allah yang terdapat dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Jika Bani Israil mengikuti perintah Allah swt, maka Allah menjanjikan kepada mereka pahala dua kali lipat dari pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw saja. Di samping itu akan mengampuni dosa-dosa mereka, karena Dia mengampuni dosa-dosa orang-orang yang dikehendakiNya. Jika yang dijanjikan Allah kepada pengikut Nabi Isa dan mereka beriman pula kepada Muhammad ialah: 1. Mereka akan dianugerahi pahala dua kali lipat. 2. Mereka akan diterangi cahaya petunjuk dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka di hari Kiamat dan dalam menuju surga yang penuh kenikmatan. 3. Allah swt mengampuni dosa-dosa yang telah mereka perbuat. </p>
<p>Dalam hadis di bawah ini diterangkan orang-orang yang akan memperoleh pahala dua kali lipat, yaitu: Diriwayatkan oleh asy- Sya&#8217;biy dari Abu Burdah dari bapaknya Abu Musa al-Asy&#8217;ari, ia berkata, &#8220;Rasulullah saw bersabda, &#8216;Tiga macam orang yang diberi pahala dua kali lipat, yaitu ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala, dan budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya maka baginya dua pahala, dan orang yang mendidik budak perempuannya dengan baik kemudian dimerdekakan dan dikawini, maka baginya dua pahala pula.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menolak pendapat Bani Israil yang mengatakan bahwa rasul-rasul dan nabi-nabi itu hanyalah diangkat dari keturunan mereka saja. Allah mengangkat Nabi Muhammad saw bukan dari keturunan Bani Israil, agar mereka mengetahui bahwa hanya Dia yang menentukan segala sesuatu dan yang akan memperoleh pahala dua kali lipat itu hanyalah ahli kitab yang beriman kepada Muhammad saw saja, jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw mereka tidak akan mendapat pahala sedikit pun. Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia mempunyai karunia yang tidak terhingga banyaknya, yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hadid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>56. Al-Waqi&#8217;ah (96 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-waqiah/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-waqiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2026 01:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1188</guid>

					<description><![CDATA[Nama: Surat Al-Waqi&#8217;ah Arti: Hari Kiamat Tempat Turun: Mekah Jumlah Ayat: 96 Deskripsi: Surat Al Waaqi&#8217;ah terdiri atas 96 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Thaa Haa. Dinamai dengan Al Waaqi&#8217;ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al Waaqi&#8217;ah yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Waqi&#8217;ah Ayat-Ayat Al-Waqi&#8217;ah Ayat ... <a title="56. Al-Waqi&#8217;ah (96 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-waqiah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 56. Al-Waqi&#8217;ah (96 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nama:</strong> <a href="https://quran.abiphone.com/surat-al-waqiah/" target="_blank" rel="noopener">Surat Al-Waqi&#8217;ah</a></p>
<p><strong>Arti:</strong> Hari Kiamat</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Mekah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 96</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Waaqi&#8217;ah terdiri atas 96 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Thaa Haa. Dinamai dengan <i>Al Waaqi&#8217;ah</i> (Hari Kiamat), diambil dari perkataan <i>Al Waaqi&#8217;ah</i> yang terdapat pada ayat pertama surat ini.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-waqiah/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Waqi&#8217;ah</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Waqi&#8217;ah</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iżā waqa‘atil-wāqi‘ah(tu).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apabila terjadi hari Kiamat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laisa liwaq‘atihā kāżibah(tun).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">khāfiḍatur rāfi‘ah(tun).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iżā rujjatil-arḍu rajjā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa bussatil-jibālu bassā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa kānat habā&#8217;am mumbaṡṡā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka jadilah ia debu yang beterbangan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa kuntum azwājan ṡalāṡah(tan).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan kamu menjadi tiga golongan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa aṣḥābul-maimanah(ti), mā aṣḥābul-maimanah(ti).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aṣḥābul-masy&#8217;amah(ti), mā aṣḥābul-masy&#8217;amah(ti).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">was-sābiqūnas-sābiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ulā&#8217;ikal-muqarrabūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fī jannātin-na‘īm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Berada dalam surga kenikmatan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡullatum minal-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qalīlum minal-ākhirīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">‘alā sururim mauḍūnah(tin).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">muttaki&#8217;īna ‘alaihā mutaqābilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yaṭūfu ‘alaihim wildānum mukhalladūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bi&#8217;akwābiw wa abārīq(a), wa ka&#8217;sim mim ma‘īn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yuṣadda‘ūna ‘anhā wa lā yunzifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa fākihatim mimmā yatakhayyarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ḥūrun ‘īn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;"><a href="https://quran.abiphone.com/al-waqiah-ayat-23/" target="_blank" rel="noopener">Al Waqiah Ayat 23</a></h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ka&#8217;amṡālil-lu&#8217;lu&#8217;il-maknūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">laksana mutiara yang tersimpan baik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">jazā&#8217;am bimā kānū ya‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yasma‘ūna fīhā lagwaw wa lā ta&#8217;ṡīmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">illā qīlan salāman salāmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">tetapi mereka mendengar ucapan salam.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَصْحٰبُ الْيَمِيْنِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْيَمِيْنِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aṣḥābul-yamīn(i), mā aṣḥābul-yamīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fī sidrim makhḍūd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّطَلْحٍ مَّنْضُوْدٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ṭalḥim manḍūd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّظِلٍّ مَّمْدُوْدٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ẓillim mamdūd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan naungan yang terbentang luas,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّمَاۤءٍ مَّسْكُوْبٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā&#8217;im maskūb(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan air yang mengalir terus-menerus,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa fākihatin kaṡīrah(tin).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan buah-buahan yang banyak,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَّا مَقْطُوْعَةٍ وَّلَا مَمْنُوْعَةٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā maqṭū‘atiw wa lā mamnū‘ah(tin).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّفُرُشٍ مَّرْفُوْعَةٍۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa furusyim marfū‘ah(tin).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innā ansya&#8217;nāhunna insyā&#8217;ā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung,</p>
<p>Baca Juga: <a href="https://quran.abiphone.com/surat-al-waqiah-pembuka-rezeki-ayat-35-38/" target="_blank" rel="noopener">Surat Al Waqiah Pembuka Rezeki Ayat 35-38</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">faja‘alnāhunna abkārā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">عُرُبًا اَتْرَابًاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">‘uruban atrābā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِّاَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">li&#8217;aṣḥābil-yamīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">untuk golongan kanan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡullatum minal-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ṡullatum minal-ākhirīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَصْحٰبُ الشِّمَالِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الشِّمَالِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aṣḥābusy-syimāl(i), mā aṣḥābusy-syimāl(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fī samūmiw wa ḥamīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ẓillim miy yaḥmūm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan naungan asap yang hitam,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā bāridiw wa lā karīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">tidak sejuk dan tidak menyenangkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innahum kānū qabla żālika mutrafīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَانُوْا يُصِرُّوْنَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيْمِۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa kānū yuṣirrūna ‘alal-ḥinṡil-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ ەۙ اَىِٕذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa kānū yaqūlūn(a), a&#8217;iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a&#8217;innā lamab‘ūṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mereka berkata, “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">awa&#8217;ābā&#8217;unal-awwalūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul innal-awwalīna wal-ākhirīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lamajmū‘ūn(a), ilā mīqāti yaumim ma‘lūm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اِنَّكُمْ اَيُّهَا الضَّاۤ لُّوْنَ الْمُكَذِّبُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma innakum ayyuhaḍ-ḍāllūnal-mukażżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan!</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَاٰكِلُوْنَ مِنْ شَجَرٍ مِّنْ زَقُّوْمٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">la&#8217;ākilūna min syajarim min zaqqūm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pasti akan memakan pohon zaqqum,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa māli&#8217;ūna minhal-buṭūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka akan penuh perutmu dengannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَشٰرِبُوْنَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيْمِۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fasyāribūna ‘alaihi minal-ḥamīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَشٰرِبُوْنَ شُرْبَ الْهِيْمِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa syāribūna syurbal-hīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">hāżā nuzuluhum yaumad-dīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تُمْنُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afa ra&#8217;aitum mā tumnūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka adakah kamu perhatikan, tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الْخٰلِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a&#8217;antum takhluqūnahū am naḥnul-khāliqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbūqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ اَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِيْ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">‘alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi&#8217;akum fī mā lā ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَةَ الْاُوْلٰى فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad ‘alimtumun-nasy&#8217;atal-ūlā falau lā tażakkarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afara&#8217;aitum mā taḥruṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a&#8217;antum tazra‘ūnahū am naḥnuz-zāri‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 65</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau nasyā&#8217;u laja‘alnāhu ḥuṭāman fa ẓaltum tafakkahūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 66</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innā lamugramūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 67</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal naḥnu maḥrūmūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 68</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afa ra&#8217;aitumul-mā&#8217;al-lażī tasyrabūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 69</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a&#8217;antum anzaltumūhu minal-muzni am naḥnul-munzilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 70</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau nasyā&#8217;u ja‘alnāhu ujājan falau lā tasykurūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 71</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَرَءَيْتُمُ النَّارَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afa ra&#8217;aitumun-nāral-latī tūrūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 72</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ءَاَنْتُمْ اَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ اَمْ نَحْنُ الْمُنْشِـُٔوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">a&#8217;antum ansya&#8217;tum syajaratahā am naḥnul-munsyi&#8217;ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 73</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">نَحْنُ جَعَلْنٰهَا تَذْكِرَةً وَّمَتَاعًا لِّلْمُقْوِيْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">naḥnu ja‘alnāhā tażkirataw wa matā‘al lil-muqwīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 74</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 75</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falā uqsimu bimawāqi‘in-nujūm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 76</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa innahū laqasamul lau ta‘lamūna ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 77</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innahū laqur&#8217;ānun karīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan (ini) sesungguhnya Al-Qur&#8217;an yang sangat mulia,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 78</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fī kitābim maknūn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 79</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yamassuhū illal-muṭahharūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 80</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Diturunkan dari Tuhan seluruh alam.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 81</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَبِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَنْتُمْ مُّدْهِنُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afa biḥāżal-ḥadīṡi antum mudhinūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur&#8217;an),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 82</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa taj‘alūna rizqakum annakum tukażżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 83</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falau lā iżā balagatil-ḥulqūm(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 84</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَنْتُمْ حِيْنَىِٕذٍ تَنْظُرُوْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa antum ḥīna&#8217;iżin tanẓurūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan kamu ketika itu melihat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 85</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa naḥnu aqrabu ilaihi minkum wa lākil lā tubṣirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 86</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَوْلَآ اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِيْنِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falau lā in kuntum gaira madīnīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 87</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">تَرْجِعُوْنَهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">tarji‘ūnahā in kuntum ṣādiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 88</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ammā in kāna minal-muqarrabīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 89</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa rauḥuw wa raiḥān(un), wa jannatu na‘īm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 90</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ammā in kāna min aṣḥābil-yamīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 91</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَسَلٰمٌ لَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa salāmul laka min aṣḥābil-yamīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 92</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِيْنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ammā in kāna minal-mukażżibīnaḍ-ḍāllīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 93</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيْمٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa nuzulum min ḥamīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka dia disambut siraman air yang mendidih,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 94</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa taṣliyatu jaḥīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan dibakar di dalam neraka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 95</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">inna hāżā lahuwal-ḥaqqul-yaqīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, inilah keyakinan yang benar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 96</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-waqiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
