<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Al Quran Online &#8211; Web Quran</title>
	<atom:link href="https://quran.abiphone.com/category/al-quran-online/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://quran.abiphone.com</link>
	<description>Al Quran 30 Juz</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Apr 2026 03:06:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://quran.abiphone.com/wp-content/uploads/2025/06/cropped-logo-quran-web-32x32.png</url>
	<title>Al Quran Online &#8211; Web Quran</title>
	<link>https://quran.abiphone.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tafsir Surat 25. Al-Furqan</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-furqan/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-furqan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 03:06:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1125</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 25. Al-Furqan (الفرقان) Jumlah Ayat: 77 Arti: Pembeda Pengantar Surah: Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Dinamai Al Furqaan yang artinya pembeda, diambil dari kata Al Furqaan yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Quran. Al Quran dinamakan ... <a title="Tafsir Surat 25. Al-Furqan" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-furqan/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 25. Al-Furqan">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 25. Al-Furqan (الفرقان)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 77</p>
<p><strong>Arti:</strong> Pembeda</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Dinamai <i>Al Furqaan</i> yang artinya <i>pembeda</i>, diambil dari kata <i>Al Furqaan</i> yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Quran.<br /> Al Quran dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil. MAka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t. dengan kebatilan kepercayaan syirik.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memuji diri-Nya dengan menurunkan Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad saw yang disebutnya &#8220;hamba-Nya&#8221; untuk menjadi peringatan bagi alam semesta (manusia dan jin). Dengan pujian terhadap diri-Nya karena Dia menurunkan Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad dapatlah dipahami bahwa Al-Qur&#8217;an itu adalah suatu kitab yang amat penting dan amat tinggi nilainya di sisi Allah, karena Al-Qur&#8217;an itu adalah petunjuk dan pedoman hidup bagi makhluk-Nya yang dimuliakan-Nya yaitu manusia, sedangkan ciptaan-ciptaan lainnya baik di langit maupun di bumi adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pada ayat ini Allah tidak menyebut Al-Qur&#8217;an tetapi al-Furqan karena Al-Qur&#8217;an itu adalah pembeda yang hak dan yang batil antara petunjuk dan kesesatan. Al-Qur&#8217;an diturunkan untuk seluruh umat manusia di masa Nabi Muhammad dan masa sesudahnya sampai hari Kiamat, karena nabi-nabi sebelum Muhammad saw hanya diutus untuk kaumnya sedang Nabi Muhammad diutus untuk manusia di segala masa dan di semua tempat. </p>
<p>Demikian pula Allah tidak menyebut nama Muhammad atau Rasul-Nya tetapi menyebut &#8220;hamba-Nya&#8221; karena hendak memuliakan-Nya dengan gelar itu. Manusia yang benar-benar memperhambakan dirinya kepada Allah mengaku keesaan dan kekuasaan-Nya, taat dan patuh menjalankan perintah-Nya selalu menjadikan petunjuk-Nya sebagai pedoman hidupnya, mencintai Allah secara hakiki lebih daripada apa pun di dunia ini, itulah hamba Allah yang hakiki, hamba Allah terkandung di dalam Surah al-Furqan ini. Di dalam ayat-ayat lain Allah menyebut Nabi Muhammad saw dengan predikat &#8220;hamba-Nya&#8221; seperti firman-Nya:</p>
<p>Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya. (al-Isra&#8217;/17: 1)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan salat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya. (al-Jin/72: 19)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok. (al-Kahf/18: 1)</p>
<p>Setelah Allah menyebutkan diri-Nya Yang menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, barulah Dia mensifati diri-Nya bahwa Dialah pemilik langit dan bumi dan yang berkuasa atas keduanya, mengutus dan mengurusnya menurut hikmah kebijaksanaan-Nya sesuai dengan kepentingan dan kemaslahatan masing-masing ciptaan-Nya itu. Allah menyatakan pula bahwa Dia tidak mempunyai anak sebagaimana dituduhkan oleh kaum Nasrani, orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan orang-orang Yahudi berkata, &#8220;Uzair putra Allah,&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata, &#8220;Al-Masih putra Allah.&#8221; Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (at-Taubah/9: 30)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Maka tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), &#8220;Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?&#8221; atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)? Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, &#8220;Allah mempunyai anak.&#8221; Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. Apakah Dia (Allah) memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? (as-shaffat/37: 149-153)</p>
<p>Selanjutnya Allah menyatakan lagi bahwa Dia tidak bersekutu dengan lainnya dalam kekuasaan-Nya, hanya Dialah yang patut disembah dan kepada-Nya sajalah manusia harus memohonkan sesuatu, bukan seperti yang dilakukan oleh manusia-manusia yang telah sesat yang menyembah makhluk-Nya seperti menyembah manusia, berhala dan benda-benda lainnya. Kemudian Allah menyatakan pula bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan mengaturnya menurut kehendak dan Ilmu-Nya.</p>
<p>Ringkasnya segala sesuatu dalam alam ini baik di langit maupun di bumi adalah makhluk-Nya. Dialah Penciptanya tidak ada Pencipta selain Dia tidak ada sekutu bagi-Nya yang patut disembah, semua berada di bawah kekuasaan-Nya dan tunduk patuh kepada sunnah dan peraturan yang telah ditetapkan-Nya. Janganlah sekali-kali terbayang atau terlintas dalam pikiran manusia bahwa Dia mempunyai anak atau mempunyai sekutu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memuji diri-Nya dengan menurunkan Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad saw yang disebutnya &#8220;hamba-Nya&#8221; untuk menjadi peringatan bagi alam semesta (manusia dan jin). Dengan pujian terhadap diri-Nya karena Dia menurunkan Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad dapatlah dipahami bahwa Al-Qur&#8217;an itu adalah suatu kitab yang amat penting dan amat tinggi nilainya di sisi Allah, karena Al-Qur&#8217;an itu adalah petunjuk dan pedoman hidup bagi makhluk-Nya yang dimuliakan-Nya yaitu manusia, sedangkan ciptaan-ciptaan lainnya baik di langit maupun di bumi adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pada ayat ini Allah tidak menyebut Al-Qur&#8217;an tetapi al-Furqan karena Al-Qur&#8217;an itu adalah pembeda yang hak dan yang batil antara petunjuk dan kesesatan. Al-Qur&#8217;an diturunkan untuk seluruh umat manusia di masa Nabi Muhammad dan masa sesudahnya sampai hari Kiamat, karena nabi-nabi sebelum Muhammad saw hanya diutus untuk kaumnya sedang Nabi Muhammad diutus untuk manusia di segala masa dan di semua tempat. </p>
<p>Demikian pula Allah tidak menyebut nama Muhammad atau Rasul-Nya tetapi menyebut &#8220;hamba-Nya&#8221; karena hendak memuliakan-Nya dengan gelar itu. Manusia yang benar-benar memperhambakan dirinya kepada Allah mengaku keesaan dan kekuasaan-Nya, taat dan patuh menjalankan perintah-Nya selalu menjadikan petunjuk-Nya sebagai pedoman hidupnya, mencintai Allah secara hakiki lebih daripada apa pun di dunia ini, itulah hamba Allah yang hakiki, hamba Allah terkandung di dalam Surah al-Furqan ini. Di dalam ayat-ayat lain Allah menyebut Nabi Muhammad saw dengan predikat &#8220;hamba-Nya&#8221; seperti firman-Nya:</p>
<p>Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya. (al-Isra&#8217;/17: 1)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan salat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya. (al-Jin/72: 19)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur&#8217;an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok. (al-Kahf/18: 1)</p>
<p>Setelah Allah menyebutkan diri-Nya Yang menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, barulah Dia mensifati diri-Nya bahwa Dialah pemilik langit dan bumi dan yang berkuasa atas keduanya, mengutus dan mengurusnya menurut hikmah kebijaksanaan-Nya sesuai dengan kepentingan dan kemaslahatan masing-masing ciptaan-Nya itu. Allah menyatakan pula bahwa Dia tidak mempunyai anak sebagaimana dituduhkan oleh kaum Nasrani, orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan orang-orang Yahudi berkata, &#8220;Uzair putra Allah,&#8221; dan orang-orang Nasrani berkata, &#8220;Al-Masih putra Allah.&#8221; Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (at-Taubah/9: 30)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Maka tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah), &#8220;Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?&#8221; atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)? Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, &#8220;Allah mempunyai anak.&#8221; Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. Apakah Dia (Allah) memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? (as-shaffat/37: 149-153)</p>
<p>Selanjutnya Allah menyatakan lagi bahwa Dia tidak bersekutu dengan lainnya dalam kekuasaan-Nya, hanya Dialah yang patut disembah dan kepada-Nya sajalah manusia harus memohonkan sesuatu, bukan seperti yang dilakukan oleh manusia-manusia yang telah sesat yang menyembah makhluk-Nya seperti menyembah manusia, berhala dan benda-benda lainnya. Kemudian Allah menyatakan pula bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan mengaturnya menurut kehendak dan Ilmu-Nya.</p>
<p>Ringkasnya segala sesuatu dalam alam ini baik di langit maupun di bumi adalah makhluk-Nya. Dialah Penciptanya tidak ada Pencipta selain Dia tidak ada sekutu bagi-Nya yang patut disembah, semua berada di bawah kekuasaan-Nya dan tunduk patuh kepada sunnah dan peraturan yang telah ditetapkan-Nya. Janganlah sekali-kali terbayang atau terlintas dalam pikiran manusia bahwa Dia mempunyai anak atau mempunyai sekutu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa berhala-berhala sembahan orang-orang kafir tidak ada sedikit pun mempunyai arti, dan tidak sedikit pun mempunyai sifat kesempurnaan bahkan sifat-sifat yang dimiliki berhala itu hanyalah sifat-sifat kekurangan belaka. Sungguh amat aneh jalan pikiran orang-orang yang menjadikan berhala sebagai tuhan, menyembahnya dan memohonkan pertolongan kepadanya. </p>
<p>Di antara sifat-sifat berhala yang tercela ialah:</p>
<p>a.Berhala-berhala itu tidak dapat menciptakan sesuatu apapun, sedang yang patut disembah ialah Allah Yang Maha Pencipta. </p>
<p>b.Berhala-berhala itu sendiri dibuat oleh para penyembahnya. Alangkah bodohnya manusia-manusia yang menyembah buatan mereka sendiri yang lebih rendah derajatnya daripada diri mereka.</p>
<p>c.Berhala-berhala itu tak berdaya dan tak mempunyai tenaga untuk melakukan suatu tindakan, tidak dapat mendatangkan manfaat apapun bagi dirinya sendiri apalagi bagi penyembah-penyembahnya, tidak dapat membela dirinya apalagi untuk membela dan menolong orang lain. Memang tidak ada gunanya menyembah patung-patung yang demikian sifatnya. </p>
<p>d.Berhala-berhala itu tidak dapat menghidupkan atau mematikan atau mengumpulkan manusia untuk memperhitungkan amal perbuatan mereka. Sedangkan untuk dirinya sendiri berhala itu tidak dapat memberika kehidupan karena ternyata dia tetap saja sebagai benda mati, apalagi untuk memberikan kehidupan kepada orang lain. Inilah sifat-sifat berhala yang disembah oleh orang-orang musyrikin Mekah itu. Mengapa mereka tidak menyembah Allah yang mempunyai sifat kesempurnaan Yang Maha Esa, Mahakuasa atas segala sesuatu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Orang-orang kafir mengatakan bahwa Al-Qur&#8217;an itu bukanlah kitab yang diturunkan Allah. Al-Qur&#8217;an itu hanyalah suatu kebohongan yang dibuat-buat oleh Muhammad dan dalam membuat Al-Qur&#8217;an itu dia dibantu oleh sekelompok ahli kitab yang telah beriman. Muhammad menurut mereka, selalu menemui kelompok ahli kitab itu dan mereka mengajarkan kepadanya kisah-kisah tentang umat-umat yang terdahulu kemudian Muhammad menyusun kisah-kisah itu dalam bahasa Arab yang baik susunan redaksinya.</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ayat-ayat ini turun mengenai Nadr bin al-Haris dan orang-orang yang membantu Muhammad ialah Addas budak Khuwatih bin Abdul Uzza, Yasar budak al-A&#8217;la bin al-Khadrami dan Abu Fukaihah ar-Rumi. Semula mereka adalah penganut agama Yahudi yang pandai membaca Taurat dan banyak bercerita tentang kisah umat terdahulu. Kemudian mereka masuk Islam dan banyak berhubungan dengan Nabi Muhammad. Oleh sebab itulah Nadr bin Haris berani mengadakan tuduhantuduhan palsu itu. Maka Allah menolak tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa orang-orang yang membuat tuduhan palsu itu telah berbuat zalim dan berdusta. Jelaslah bahwa tuduhan itu dibuat-buat karena Al-Qur&#8217;an sendiri dengan ayat-ayatnya telah menantang orang-orang Arab untuk membuat satu surah yang sama fasahah dan balagahnya dengan suatu surah dari Al-Qur&#8217;an. Kalau mereka tidak berhasil pastilah Al-Qur&#8217;an itu bukan bikinan Muhammad tetapi benar-benar wahyu dari Allah. Hal itu tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan jika kamu meragukan (Al-Qur&#8217;an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (al-Baqarah/2: 23)</p>
<p>Karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat menjawab tantangan itu walaupun mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga, maka benarlah bahwa Al-Qur&#8217;an itu bukan buatan manusia melainkan wahyu dari Allah. Tetapi karena tidak ada jalan bagi mereka untuk menentang Al-Qur&#8217;an, mereka mencari berbagai alasan untuk mendustakannya dan mereka membuat berita-berita seperti tersebut di atas.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Orang-orang kafir itu mengatakan bahwa Al-Qur&#8217;an itu hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu yang mereka tulis di dalam buku-buku, dan Nabi Muhammad minta kepada orang-orang Yahudi supaya disalinkan dan dibacakan kepadanya agar dia dapat menghafalnya pagi dan petang. Setelah dihafal barulah dia bacakan kepada para sahabat dan pengikutnya sebagai Al-Qur&#8217;an yang turun dari langit. Alangkah beraninya mereka mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah terjadi pada Nabi Muhammad saw. Kalau benar demikian tentulah para sahabatnya akan mengetahui hal itu dan tentulah mereka tidak akan percaya lagi kepadanya. Padahal Nabi Muhammad dikenal oleh mereka semenjak kecilnya sebagai orang yang paling dipercaya, jujur dan tidak pernah dusta. Apakah mungkin seorang yang demikian sifatnya sejak dari kecil akan menipu orang yang setia kepadanya dan mendakwahkan hal-hal yang bukan-bukan.</p>
<p>(6) Oleh karena orang-orang kafir itu keterlaluan mengadakan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal, sedang mereka sudah ditantang sedemikian rupa dan tidak dapat menjawab tantangan itu, maka Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menyatakan kepada mereka dengan tegas bahwa Al-Qur&#8217;an itu bukanlah sebagaimana yang mereka tuduhkan. Al-Qur&#8217;an itu benar-benar diturunkan oleh Allah yang mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di langit dan di bumi. Oleh karena itu terdapat di dalamnya hukum-hukum syariat dan peraturan yang sangat baik dan dalam bahasa yang amat tinggi nilai sastranya sehingga tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menirunya. Al-Qur&#8217;an banyak yang mengandung hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Yang Mahaluas Ilmu-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya Tuhan yang menurunkan Al-Qur&#8217;an itu, Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya. Sebenarnya mereka harus bersyukur dan berterima kasih atas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka dengan menurunkan Al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan pembimbing mereka ke jalan yang benar. Tetapi mereka tetap ingkar dan durhaka dan menentang ajaran-ajaran-Nya. Kalau tidaklah karena rahmat dan kasih sayang-Nya tentulah telah ditimpakan kepada mereka azab yang pedih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Oleh karena orang-orang kafir itu keterlaluan mengadakan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal, sedang mereka sudah ditantang sedemikian rupa dan tidak dapat menjawab tantangan itu, maka Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menyatakan kepada mereka dengan tegas bahwa Al-Qur&#8217;an itu bukanlah sebagaimana yang mereka tuduhkan. Al-Qur&#8217;an itu benar-benar diturunkan oleh Allah yang mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di langit dan di bumi. Oleh karena itu terdapat di dalamnya hukum-hukum syariat dan peraturan yang sangat baik dan dalam bahasa yang amat tinggi nilai sastranya sehingga tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menirunya. Al-Qur&#8217;an banyak yang mengandung hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Yang Mahaluas Ilmu-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya Tuhan yang menurunkan Al-Qur&#8217;an itu, Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya. Sebenarnya mereka harus bersyukur dan berterima kasih atas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka dengan menurunkan Al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk dan pembimbing mereka ke jalan yang benar. Tetapi mereka tetap ingkar dan durhaka dan menentang ajaran-ajaran-Nya. Kalau tidaklah karena rahmat dan kasih sayang-Nya tentulah telah ditimpakan kepada mereka azab yang pedih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Orang-orang kafir mengatakan bahwa tidak mungkin Muhammad itu menjadi Rasul karena tidak terdapat padanya tanda-tanda bahwa dia diangkat menjadi Rasul. Dia hanyalah orang biasa seperti mereka bahkan jika dilihat bagaimana kehidupannya tambah nyatalah bahwa dia berbohong mendakwahkan dirinya sebagai Rasul karena dia sama dengan mereka bahkan sebagai manusia dia lebih rendah kedudukannya dan lebih miskin dari mereka. Kritik-kritik itu dapat disimpulkan, sebagai berikut:</p>
<p>1. Mereka berkata, &#8220;Kenapa Muhammad itu makan minum juga seperti manusia biasa dan tidak ada kelebihannya sedikit pun dari kita, tidak akan mungkin dia berhubungan dengan Tuhan. Orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan hanya orang-orang yang jiwanya suci dan tinggi sehingga tidak mementingkan makan dan minum lagi.&#8221;</p>
<p>2. Mengapa tidak diturunkan malaikat bersamanya yang dapat menjadi bukti bagi kerasulannya dan membantunya dalam memberi peringatan dan petunjuk kepada manusia.</p>
<p>3. Mengapa Muhammad itu pergi ke pasar untuk mencari nafkah hidupnya seperti orang biasa? Di mana letak kelebihannya sehingga ia diangkat Allah sebagai Rasul.</p>
<p>4. Mengapa Allah tidak menurunkan saja kepadanya perbendaharaan dari langit agar dia dapat menumpahkan seluruh perhatiannya kepada dakwah untuk menyebarkan agamanya, sehingga dia tidak perlu lagi pergi ke pasar melakukan jual beli untuk mencari nafkah hidupnya.</p>
<p>5. Atau kenapa tidak diberikan kepadanya kebun yang luas yang hasilnya dapat menutupi kebutuhannya.</p>
<p>Setelah mereka berputus asa karena semua tawaran mereka ditolak oleh Muhammad tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menuduhnya sebagai orang yang kena sihir sehingg tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk. Menurut mereka orang-orang seperti itu tidaklah pantas untuk dipercaya apalagi untuk diangkat Allah sebagai Nabi.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Orang-orang kafir mengatakan bahwa tidak mungkin Muhammad itu menjadi Rasul karena tidak terdapat padanya tanda-tanda bahwa dia diangkat menjadi Rasul. Dia hanyalah orang biasa seperti mereka bahkan jika dilihat bagaimana kehidupannya tambah nyatalah bahwa dia berbohong mendakwahkan dirinya sebagai Rasul karena dia sama dengan mereka bahkan sebagai manusia dia lebih rendah kedudukannya dan lebih miskin dari mereka. Kritik-kritik itu dapat disimpulkan, sebagai berikut:</p>
<p>1. Mereka berkata, &#8220;Kenapa Muhammad itu makan minum juga seperti manusia biasa dan tidak ada kelebihannya sedikit pun dari kita, tidak akan mungkin dia berhubungan dengan Tuhan. Orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan hanya orang-orang yang jiwanya suci dan tinggi sehingga tidak mementingkan makan dan minum lagi.&#8221;</p>
<p>2. Mengapa tidak diturunkan malaikat bersamanya yang dapat menjadi bukti bagi kerasulannya dan membantunya dalam memberi peringatan dan petunjuk kepada manusia.</p>
<p>3. Mengapa Muhammad itu pergi ke pasar untuk mencari nafkah hidupnya seperti orang biasa? Di mana letak kelebihannya sehingga ia diangkat Allah sebagai Rasul.</p>
<p>4. Mengapa Allah tidak menurunkan saja kepadanya perbendaharaan dari langit agar dia dapat menumpahkan seluruh perhatiannya kepada dakwah untuk menyebarkan agamanya, sehingga dia tidak perlu lagi pergi ke pasar melakukan jual beli untuk mencari nafkah hidupnya.</p>
<p>5. Atau kenapa tidak diberikan kepadanya kebun yang luas yang hasilnya dapat menutupi kebutuhannya.</p>
<p>Setelah mereka berputus asa karena semua tawaran mereka ditolak oleh Muhammad tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menuduhnya sebagai orang yang kena sihir sehingg tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk. Menurut mereka orang-orang seperti itu tidaklah pantas untuk dipercaya apalagi untuk diangkat Allah sebagai Nabi.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi dan umatnya memperhatikan kecaman-kecaman yang dikemukakan oleh orang-orang kafir itu. Dengan memperhatikan kecaman-kecaman itu nampak jelas bahwa mereka telah kehabisan alasan dan keterangan untuk menolak seruan Nabi Muhammad kepada tauhid dan meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang menyesatkan itu. Mereka tidak sanggup menolak alasan-alasan dan bukti-bukti yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad berupa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan lainnya. Mereka tidak sanggup menjawab tantangan membuat satu surah saja yang sama nilainya dengan satu surah dalam Al-Qur&#8217;an, baik dari segi isi, makna maupun sastranya. Oleh sebab itu mereka mengalihkan kecaman mereka kepada pribadi Nabi Muhammad sendiri. Hal itu banyak terjadi pada orang-orang yang telah dikalahkan hujjahnya. Oleh sebab itu Allah tidak langsung menjawab kecaman-kecaman itu dan menyuruh memperlihatkannya agar jelas bagi semua orang bahwa mereka itu telah terlempar ke sudut karena mereka memang telah sesat dari jalan yang benar.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Sebagai hiburan kepada Nabi yang selalu dihina dan direndahkan oleh orang-orang kafir itu, Allah menjelaskan bahwa kalau Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberikan kepadanya kebun-kebun yang lebih baik dari yang diminta oleh orang-orang kafir itu dan akan memberikan pula istana-istana yang paling megah dan indah. Hal itu amat mudah bagi Allah tetapi bukan demikian yang dikehendaki-Nya. Allah menghendaki agar Rasul pembawa risalah-Nya sebagai manusia biasa yang menjadi ikutan dan teladan bagi umatnya dalam memperjuangkan suatu cita-cita, memperjuangkan kebenaran dan meninggikan kalimat Allah. </p>
<p>Di samping perjuangan yang amat berat itu Nabi harus pula memikirkan keperluan dan hajat pribadinya. Begitulah seharusnya seorang Rasul yang akan menjadi contoh dan teladan. Kalaulah Nabi Muhammad itu seorang kaya mempunyai kebun-kebun dan istana serta perbendaharaan yang berlimpah-limpah tentulah tidak akan sebesar itu nilai perjuangannya dan tentulah tidak akan dapat dicontoh oleh pengikut-pengikutnya di belakang hari. Apa arti istana, apa arti kebun-kebun dan apa arti perbendaharaan yang berlimpah-limpah bila seorang berhadapan dengan Khaliknya Yang Mahakuasa, Mahakaya dan Maha Perkasa? Demikianlah Nabi Muhammad rida dengan keadaannya. meskipun miskin, lemah dan menerima berbagai hinaan dan cemoohan kaumnya, tetapi dia senang dan bahagia karena dia mengemban tugas suci dari Tuhannya. Pernah beliau berkata, &#8220;Ya Tuhanku apapun yang terjadi pada diriku dan bagaimana pun beratnya penderitaanku tetapi aku tetap bahagia selama Engkau rida terhadapku.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa orang-orang kafir itu telah jauh tersesat dari jalan yang benar, bahkan mereka mendustakan pula datangnya hari Kiamat, hari pembalasan di mana semua amal perbuatan manusia dibalas dengan adil. Perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, perbuatan jahat dibalas dengan azab yang pedih. Mereka mendustakan hari Kiamat itu agar mereka berbuat sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah, bersimaharajalah melakukan kezaliman, oleh sebab itu Allah mengancam mereka dengan api neraka yang menyala-nyala akibat keingkaran dan kedurhakaan mereka, akibat perbuatan jahat mereka di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Apabila orang-orang kafir itu telah digiring ke neraka, seakan-akan neraka melihat mereka dari jauh, terdengarlah suaranya yang gemuruh karena kemarahan melihat orang-orang kafir itu, seakan-akan neraka itu seekor singa yang lapar melihat mangsanya mendekatinya. Ibnu Munzir dan Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ubaid bin Umair berkata, &#8220;Sesungguhnya Jahanam itu bergemuruh suaranya sehingga para malaikat dan nabi-nabi gemetar persendiannya mendengar suara itu, sehingga Nabi Ibrahim jatuh berlutut dan berkata, &#8220;Ya Tuhanku tidak ada yang aku mohonkan hari ini kecuali keselamatan diriku.&#8221; Dapatlah dibayangkan bagaimana seramnya keadaan di waktu itu dan bagaimana dahsyatnya siksa yang akan diterima oleh mereka dan bagaimana beratnya penderitaan yang akan mereka rasakan pada waktu itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Bila mereka dilemparkan ke suatu tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu di sanalah mereka akan berseru &#8220;Celakalah aku! Kenapa aku dahulu mengacuhkan petunjuk yang diturunkan Allah dengan perantaraan Rasul-Nya, kenapa aku membantah dan menolaknya benar-benar aku ini seorang yang celaka.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Di waktu itu diucapkan kepada mereka agar tidak mengucapkan kata itu (celaka aku) sekali saja. Ucapkanlah kata itu berkali-kali karena yang mereka lihat dan alami itu baru satu macam dari siksa yang akan ditimpakan kepadanya. Banyak lagi macam siksaan yang akan mereka derita. Oleh sebab itu berteriak-teriaklah berkali-kali, memang mereka akan ditimpa siksaan yang dahsyat dan hebat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang kafir itu, apakah siksaan yang demikian hebat dan dahsyat itu lebih baik dari surga yang penuh nikmat dan rahmat yang disediakan bagi orang-orang mukmin yang bertakwa. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Surga itu dijadikan untuk mereka karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat dan patuh menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Di dalam surga itu mereka diberi apa yang mereka minta dan mereka inginkan berupa pakaian, makanan dan minuman serta segala kenikmatan yang tak dapat dibayangkan oleh manusia di dunia ini. Selain dari itu mereka selalu berada dalam keridaan Ilahi dan inilah suatu nikmat rohani yang tidak ada taranya, karena keridaan Ilahi itulah yang menimbulkan rasa tenteram dan bahagia di dalam hati sanubari setiap hamba Allah sebagaimana tersebut dalan firman-Nya.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.&#8221; (al-Ma&#8217;idah/5: 119)</p>
<p>Demikianlah janji Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa dan janji Allah itu pasti terlaksana.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Pada hari Kiamat orang-orang musyrik dikumpulkan bersama-sama dengan sembahan-sembahan mereka. Lalu Allah mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kepada sembahan-sembahan itu. Benarkah mereka dahulu di dunia menyuruh mereka itu menyembahnya sehingga mereka telah sesat dari jalan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesembahan itu sehingga mereka mengingkari ajaran-ajaran Allah dan ajaran-ajaran Rasul-Nya. Di antara sembahan-sembahan yang disembah orang-orang kafir itu termasuk beberapa malaikat, Nabi Isa dan Uzair. Mereka merasa sangat heran dan tercengang mendengar pertanyaan-pertanyaan itu karena mereka tidak pernah menyuruh manusia menyembah mereka, bahkan mereka selalu menyeru kepada tauhid, menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dalam ayat ini disebutkan pertanyaan Allah yang khusus dihadapkan kepada Nabi Isa yaitu firman-Nya:</p>
<p>Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, &#8220;Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, &#8220;Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?&#8221; (Isa) menjawab, &#8220;Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.&#8221; (al-Ma&#8217;idah/5: 116)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Dengan spontan mereka menjawab pertanyaan Allah yang tidak mereka duga sedikit pun akan dimajukan kepadanya. Mereka serentak menjawab, &#8220;Mahasuci Engkau Ya Tuhan kami, tidaklah patut bagi kami mengambil perlindungan selain Engkau. Inilah kepercayaan kami karena tidak ada yang berhak disembah dan diambil jadi pelindung kecuali engkau sajalah. Bagaimana pula kami akan menyuruh orang lain menyembah selain Engkau sedangkan hal itu bertentangan dengan akidah dan iman kami. Mungkin Engkau Ya Tuhan kami telah melimpahkan kepada mereka nikmat dan rahmat-Mu agar mereka bersyukur kepada-Mu tetapi mereka pergunakan nikmat dan rahmat itu untuk kepuasan hawa nafsu mereka, sehingga mereka telah tenggelam dalam kesenangan dan kelezatan. Akhirnya mereka melupakan-Mu dan jatuh ke jurang kesesatan dan tidak dapat ditolong lagi dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang binasa.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Allah mengarahkan firman-Nya kepada orang-orang musyrik itu. Kamu telah mendengar sendiri jawaban orang-orang yang kamu sembah itu. Nyatalah sekarang bahwa bukan mereka yang menyesatkan kamu, mereka tidak pernah menyuruh kamu supaya menyembah mereka. Jadi kamu sendirilah yang mengada-adakan sembahan selain Aku. Sekarang kamu sekali-kali tidak akan dapat lepas dari siksaan-Ku dan tak ada seorang jua pun yang dapat memberikan pertolongan kepadamu. Kamu telah menganiaya dirimu sendiri dengan membuat-buat sembahan selain Aku, dan nasib orang-orang yang menganiaya dirinya dengan menyembah selain Aku, pasti akan Aku masukkan ke dalam siksaan yang pedih dan berat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw bahwa rasul-rasul sebelumnya juga makan dan minum seperti dia. Kecaman-kecaman orang kafir terhadap dirinya amat menyakitkan hati Muhammad, kecaman-kecaman itu bukan semata-mata kecaman saja, bahkan mengandung hinaan yang sangat merendahkan dirinya padahal dia adalah seorang Rasul yang dimuliakan Allah. Maka untuk menghibur dan meringankan tekanan batin yang diderita Nabi Muhammad saw yang disebabkan kecaman dan hinaan itu, Allah menyatakan kepadanya bahwa Dia tidak pernah mengutus seorang rasul sebelumnya seperti yang dikehendaki oleh orang-orang kafir Mekah itu.</p>
<p>Semua Rasul yang diutusnya adalah manusia yang tidak bebas dari sifat-sifat manusiawinya, tetapi membutuhkan makanan dan minuman, tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan firman-Nya pada ayat-ayat yang lain.</p>
<p>Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. Dan Kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan dan mereka tidak (pula) hidup kekal. (al-Anbiya&#8217;/21: 7-8)</p>
<p>Jadi perbedaan antara manusia sebagai Rasul dan manusia umumnya terletak pada keutamaan pribadinya, ketinggian akhlaknya, kesucian hati dan keikhlasannya dalam menunaikan tugasnya, karena itu diturunkanlah wahyu Allah kepadanya dan dikuatkan pula dengan mukjizat-mukjizat yang tidak dapat manusia menandinginya apalagi mengalahkannya. Maka ejekan dan kecaman orang kafir itu amat jauh dari sasarannya, tidak wajar dilontarkan kepada Nabi Muhammad saw. Kalau mereka benar-benar hendak membatalkan kebenaran yang dibawanya bukannya dengan kecaman seperti itu yang harus mereka kemukakan. </p>
<p>Mereka telah ditantang untuk menandingi mukjizat yang diberikan Allah kepadanya yaitu membuat satu surah pendek saja yang serupa nilainya dengan surah pendek dari Al-Qur&#8217;an. Tetapi mereka tidak berdaya dan tidak sanggup membuatnya walaupun mereka sudah termasuk golongan orang yang pintar dan tinggi sastranya. Hanya rasa benci dan dengki telah menggelapkan hati nurani mereka dan rasa takut akan kehilangan pengaruh dan kedudukan telah meluapkan amarah mereka. Karena itu mereka tetap menantang walaupun dalam hati mereka telah menyadari kekhilafan mereka.</p>
<p>Kemudian Allah menjelaskan pula bahwa manusia diuji dengan berbagai macam ujian. Masing-masing manusia diberi kebebasan untuk apakah dia akan tabah dan sabar menghadapi ujian itu ataukah dia akan berpaling dari kebenaran karena tidak tahan menanggung amarah dan rasa dengki di dalam hatinya. Allah menjadikan sebagian manusia sebagai Nabi dan Rasul, pembawa risalah Tuhan-Nya, sebagian lain dijadikan-Nya raja dan penguasa yang berkuasa atas manusia lainnya, sebagian lagi dijadikan-Nya kaya dan kuat, miskin dan lemah dan demikian seterusnya. Orang-orang yang mempergunakan akal dan pikirannya, terutama orang-orang yang beriman tidaklah akan terpengaruh oleh perbedaan tingkat, derajat, kekayaan dan kedudukan, tetapi dia akan tetap menerima yang benar dan menolak yang salah tanpa memperhitungkan darimana datangnya kebenaran itu, apakah kebenaran itu datangnya dari seorang kepala negara atau menteri atau dari seorang hina dina tidak mempunyai pengaruh apa-apa. </p>
<p>Ali bin Abi Talib pernah berkata, &#8220;Perhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kamu memperhatikan siapa yang mengatakannya.&#8221; Si miskin diuji ketabahan hatinya menghadapi keadaannya yang serba kurang, tidak seperti orang kaya yang dapat menikmati berbagai macam kesenangan jasmani dengan kekayaannya itu.</p>
<p>Orang-orang kafir Mekah itu diuji kebersihan hati mereka dengan memberikan karunia kerasulan kepada Nabi Muhammad, sedang dia adalah seorang biasa saja di antara mereka, bukan dari orang-orang kaya atau dari pemimpin kabilah yang berpengaruh besar. Semua manusia diuji kekuatan mentalnya menghadapi perbedaan dan jurang pemisah antara berbagai macam golongan dalam masyarakat. Barang siapa yang menang dalam menghadapi ujian itu dialah yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>&#8220;Lihatlah kepada orang yang rendah derajatnya dari kamu, dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi dari kamu, karena melihat kepada orang yang lebih tinggi itu akan membawamu kepada merendahkan nilai nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadamu.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Demikianlah ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya itu yang tabah dan sabar menghadapi ujian itu sehingga ia termasuk orang-orang yang lulus dan menang. Dia akan memberi balasan sebaik-baiknya kepada pemenangpemenang itu dan akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang kalah yang karena ketidaksabarannya dan karena kesombongannya dia sampai mendurhakai nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Orang-orang yang tidak percaya hari kebangkitan atau mengingkari hari Kiamat, di mana mereka akan dihadapkan ke hadirat Allah untuk diadili segala perbuatannya di dunia, dengan penuh kesombongan bertanya kenapa tidak diturunkan kepada mereka malaikat yang menjadi saksi atas kebenaran Muhammad sebagai nabi, untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya. Jika hal itu sulit untuk dilaksanakan, mengapa mereka tidak langsung saja melihat Tuhan yang akan menerangkan kepada mereka bahwa Muhammad itu benar-benar diutus oleh-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Jika yang demikian itu terlaksana, mereka mengatakan akan beriman kepada Muhammad. Ucapan demikian itu tidak lain hanyalah karena kesombongan mereka sendiri, dan karena kezaliman mereka dengan mendustakan seorang utusan Allah. </p>
<p>Mereka sama sekali tidak menghiraukan mukjizat nyata yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah kepada mereka. Setiap orang yang berakal sehat pasti akan tercengang mendengar ucapan-ucapan mereka itu dan menganggapnya sebagai ucapan orang yang tidak berakal. Seandainya Allah mengabulkan keinginan itu, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah:</p>
<p>Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (al-An&#8217;am/6: 111)</p>
<p>21. Ayat ini menjelaskan tentang alasan lainnya yang dibuat-buat kaum musyrik Mekah karena keengganan mereka beriman kepada Nabi Muhammad. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami di akhirat karena keingkaran mereka terhadap adanya hari akhir, atau karena ketidaktakutan mereka terhadapnya, mereka berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita dalam wujudnya yang nyata, yang memberitahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad, atau mengapa kita tidak melihat Tuhan kita? dengan mata kepala kita yang juga memberitahukan tentang kebenaran Nabi Muhammad.&#8221; Permintaan-permintaan tersebut jelas mengada-ada, sama dengan apa yang dilakukan Bani Israil dahulu. Hal itu jelas muncul dari hati mereka yang penuh kedengkian. Sungguh, mereka telah me-nyombongkan diri mereka karena terbujuk oleh hawa nafsu. Mereka meng-anggap bahwa merekalah yang lebih mulia, baik karena kekayaan atau kedudukan mereka di masyarakat. Dan mereka benar-benar telah melampaui batas dalam melakukan kezaliman. Demikianlah jika hati telah tertutup oleh kekafiran, semua kebenaran yang ada di hadapan, walau sudah terang benderang, tidak diacuhkan sama sekali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Pada ayat ini dijelaskan keadaan orang-orang kafir dan musyrik ketika berjumpa dengan malaikat di akhirat. Malaikat yang mereka inginkan sebagai rasul di dunia, atau sebagai saksi dari kebenaran kenabian Muhammad, akan mereka temui di akhirat. Namun demikian, pertemuan itu tidak seperti yang mereka harapkan karena mereka tidak akan mendengar kabar gembira dari para malaikat itu, baik berupa ampunan dari dosa, atau perintah masuk surga. Mereka hanya mendengar perkataan yang sangat menyakitkan hati, yaitu hijran mahjuran, yang berarti &#8220;(surga) haram dan diharamkan bagi mereka&#8221;. Ucapan malaikat itu dianggap sangat menyakitkan, karena biasa diucapkan orang Arab ketika mendapatkan kesulitan.</p>
<p>Adapun orang-orang mukmin disambut baik oleh para malaikat yang datang menyongsong mereka dan memberi kabar gembira untuk masuk surga. Hal ini digambarkan dalam firman Allah:</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang berkata, &#8220;Tuhan kami adalah Allah,&#8221; kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), &#8220;Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.&#8221; (Fussilat/41: 30)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Dalam ayat ini, Allah menjelaskan sebab-sebab kemalangan dan kerugian orang kafir. Allah akan memperlihatkan segala perbuatan yang mereka anggap baik yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia, seperti silaturrahim, menolong orang yang menderita, memberikan derma untuk meringankan bencana alam, memberi bantuan kepada rumah sakit dan yatim piatu, membebaskan atau menebus tawanan, dan sebagainya. Sebanyak apa pun kebaikan mereka, tidak akan memperoleh imbalan apa pun di sisi Allah. Mereka hanya dapat memandang kebaikan itu tanpa dapat mengambil manfaatnya sedikit pun. Kebaikan-kebaikan mereka itu lalu dijadikan Allah bagaikan debu yang beterbangan di angkasa karena tidak dilandasi iman yang benar kepada Allah. Mereka hanya bisa duduk termenung penuh dengan penyesalan. Itulah yang mereka rasakan sebagai akibat kekafiran dan kesombongan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Berbeda dengan nasib orang-orang yang disebut di atas, orang-orang yang beriman menjadi penghuni surga di akhirat. Mereka mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat kediaman kaum musyrikin di dunia yang selalu mereka jadikan lambang kemegahan dan kemewahan. Tempat kediaman ahli surga merupakan tempat istirahat yang paling nyaman. Kenikmatan di dunia hanya sementara karena hanya dapat dirasakan selama hidup di dunia dan kesenangannya pun bisa memperdaya, seperti tersebut dalam firman Allah.</p>
<p>Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (ali &#8216;Imran/3: 185).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk menjelaskan kepada kaumnya kedahsyatan hari Kiamat. Ketika itu, langit akan pecah, dan semua benda angkasa yang berada di dalamnya akan hancur bagaikan kabut yang beterbangan, akibat benturan planet-planet dan bintang-bintang yang tidak lagi mengorbit menurut ketentuannya masing-masing, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:</p>
<p>Dan langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu, dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. (an-Naba&#8217;/78: 19-20)</p>
<p>Apabila langit terbelah; dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan; dan apabila lautan dijadikan meluap; dan apabila kuburan-kuburan dibongkar; (maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya). (al-Infithar/82: 1-5)</p>
<p>Pada hari yang dahsyat itu, malaikat diturunkan secara bergelombang sambil membawa kitab-kitab yang berisi catatan semua amal hamba-hamba Allah yang mereka saksikan dan catat ketika di dunia. Kitab-kitab itu menjadi bahan bukti ketika mereka diadili Allah di Padang Mahsyar.</p>
<p>Menurut para ilmuwan, ayat ini, seperti banyak ayat lainnya dalam Al-Qur&#8217;an, menegaskan adanya kejadian-kejadian astronomis yang luar biasa kedahsyatannya yang akan terjadi pada hari Kiamat. Semuanya menunjukkan adanya kerusakan dan kehancuran secara menyeluruh dalam sistem yang mengaitkan bagian-bagian dari alam semesta. Termasuk perubahan total dalam kedudukan, bentuk, dan kaitan-kaitan antar elemen dalam semesta jagad raya ini. Suatu gambaran akhir dan perubahan total yang tidak hanya terjadi di bumi, tetapi juga mencakup keseluruhan benda-benda langit yang ada di alam semesta ini. Bintang-bintang &#8216;berjatuhan, saling bertabrakan, karena rusaknya (hilangnya) gaya gravitasi, langit pecah-belah dan planet-planet saling berbenturan dan berhamburan. </p>
<p>Kabut putih menggambarkan semua benda-benda langit yang jumlahnya triliunan, seolah terlihat seperti kabut. Kala itu benda-benda langit tersebut &#8220;melejit&#8221; keluar dari langit seperti didesak dari dalam oleh tekanan besar yang memaksa mereka keluar dari &#8220;balon&#8221; langit. Bintang, planet, dan benda langit lainnya tak ubahnya seperti debu yang kecil dan ringan “ yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Keseimbangan dan keteraturan antar komponen sistem dalam semesta pada saat itu sudah tidak ada lagi. Benda-benda langit saling berbenturan dan meledak. Bisa jadi kabut putih pun adalah awan-awan yang terkumpul dari uap-uap yang dihasilkan dari ledakan-ledakan tersebut.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kerajaan yang benar dan sejati pada hari Kiamat adalah milik Allah, sedangkan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di dunia tidak ada yang abadi.</p>
<p>Milik siapakah kerajaan pada hari ini?&#8221; Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan. (al-Mu&#8217;min/40: 16)</p>
<p>Sebagai pemilik kerajaan yang sejati, Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Mahaadil ketika mengadili para hamba-Nya terutama yang beriman dan patuh melaksanakan perintah-Nya. Sebaliknya bagi orang kafir, hari akhirat merupakan hari yang sangat sulit, karena tuhan-tuhan yang menjadi sembahan mereka tidak dapat memberi syafaat atau pertolongan. Berbagai kesukaran yang mereka hadapi itu membuat mereka putus asa. Situasi yang dihadapi orang-orang kafir digambarkan dalam Al-Qur&#8217;an:</p>
<p>Dan kalau setiap orang yang zalim itu (mempunyai) segala yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dizalimi. (Yunus/10: 54)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Pada hari itu, orang-orang yang zalim akan menggigit jari mereka dengan penuh penyesalan karena telah melalaikan kewajiban-kewajibannya selama hidup di dunia. Dengan sombong, mereka telah berpaling dari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah kepada mereka. Mereka menangis tersedu-sedu menyesali diri seandainya dulu ketika hidup di dunia mereka mengikuti ajakan Rasulullah kepada jalan yang lurus yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. Mereka berkata dengan penuh penyesalan, &#8220;Seandainya aku di dunia dulu mengikuti Muhammad, bersama-sama beliau menuju jalan yang benar. Andaikan aku dulu dapat menahan kesombongan sehingga dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam, niscaya aku tidak merasakan kesulitan ini.&#8221; Hanya sayang penyesalan itu tidak berguna lagi. </p>
<p>Mereka menyesal karena keliru mencari kawan. Ini kecelakaan dan kebinasaan yang besar. &#8220;Seandainya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, tentu dia tidak dapat menjerumuskan aku ke dalam kesesatan.&#8221; Memang yang menjerumuskan manusia ke dalam kecelakaan dan kesesatan itu ada kalanya setan sendiri atau setan yang berbentuk manusia, seperti seorang musyrik Arab yang bernama Ubay bin Khalaf.</p>
<p>Persahabatan &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith dengan Ubay bin Khalaf sangat berpengaruh baginya. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith sering menghadiri pengajian Nabi Muhammad sehingga menjadi kenalan yang baik. Pada suatu hari, ia mengundang Nabi Muhammad untuk makan di rumahnya. Ketika itu, Nabi tidak mau makan kecuali jika &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith mau masuk Islam, lalu &#8216;Uqbah membaca dua kalimat syahadat.</p>
<p>Namun sahabat &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith yang bernama Ubay bin Khalaf tidak senang dan marah kepadanya. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith lalu mengatakan bahwa ia masuk Islam hanya pura-pura saja. Ubay bin Khalaf menyuruh agar &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith meludahi wajah Nabi Muhammad. Hal itu lalu dilakukannya ketika beliau sedang melaksanakan salat di Dar an-Nadwah, dekat Baitullah. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith mematuhi apa yang dikehendaki sahabatnya. Demikianlah akibat persahabatan dengan orang yang tidak baik akan membawa akibat yang tidak baik pula. </p>
<p>Nabi Muhammad memberi pedoman agar selalu mencari sahabat atau teman akrab yang baik. Sabda beliau:</p>
<p>Seseorang akan mengikuti perilaku temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu. (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah saw:</p>
<p>Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang jahat ialah seperti pembawa minyak kasturi dan pandai besi. Pembawa minyak kasturi itu adakalanya kamu menerima atau membeli minyak daripadanya. Dan paling sedikit kamu mendapatkan bau harum daripadanya. Adapun pandai besi kadang-kadang ia membakar pakaianmu (karena semburan apinya) atau kamu menjumpai bau yang tidak sedap.&#8221; (Riwayat asy-Syaikhan dari Abu Musa al-Asy&#8217;ari).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Pada hari itu, orang-orang yang zalim akan menggigit jari mereka dengan penuh penyesalan karena telah melalaikan kewajiban-kewajibannya selama hidup di dunia. Dengan sombong, mereka telah berpaling dari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah kepada mereka. Mereka menangis tersedu-sedu menyesali diri seandainya dulu ketika hidup di dunia mereka mengikuti ajakan Rasulullah kepada jalan yang lurus yang membawa keselamatan dunia dan akhirat. Mereka berkata dengan penuh penyesalan, &#8220;Seandainya aku di dunia dulu mengikuti Muhammad, bersama-sama beliau menuju jalan yang benar. Andaikan aku dulu dapat menahan kesombongan sehingga dengan tulus ikhlas memeluk agama Islam, niscaya aku tidak merasakan kesulitan ini.&#8221; Hanya sayang penyesalan itu tidak berguna lagi. </p>
<p>Mereka menyesal karena keliru mencari kawan. Ini kecelakaan dan kebinasaan yang besar. &#8220;Seandainya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku, tentu dia tidak dapat menjerumuskan aku ke dalam kesesatan.&#8221; Memang yang menjerumuskan manusia ke dalam kecelakaan dan kesesatan itu ada kalanya setan sendiri atau setan yang berbentuk manusia, seperti seorang musyrik Arab yang bernama Ubay bin Khalaf.</p>
<p>Persahabatan &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith dengan Ubay bin Khalaf sangat berpengaruh baginya. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith sering menghadiri pengajian Nabi Muhammad sehingga menjadi kenalan yang baik. Pada suatu hari, ia mengundang Nabi Muhammad untuk makan di rumahnya. Ketika itu, Nabi tidak mau makan kecuali jika &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith mau masuk Islam, lalu &#8216;Uqbah membaca dua kalimat syahadat.</p>
<p>Namun sahabat &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith yang bernama Ubay bin Khalaf tidak senang dan marah kepadanya. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith lalu mengatakan bahwa ia masuk Islam hanya pura-pura saja. Ubay bin Khalaf menyuruh agar &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith meludahi wajah Nabi Muhammad. Hal itu lalu dilakukannya ketika beliau sedang melaksanakan salat di Dar an-Nadwah, dekat Baitullah. &#8216;Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith mematuhi apa yang dikehendaki sahabatnya. Demikianlah akibat persahabatan dengan orang yang tidak baik akan membawa akibat yang tidak baik pula. </p>
<p>Nabi Muhammad memberi pedoman agar selalu mencari sahabat atau teman akrab yang baik. Sabda beliau:</p>
<p>Seseorang akan mengikuti perilaku temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu. (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah saw:</p>
<p>Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang jahat ialah seperti pembawa minyak kasturi dan pandai besi. Pembawa minyak kasturi itu adakalanya kamu menerima atau membeli minyak daripadanya. Dan paling sedikit kamu mendapatkan bau harum daripadanya. Adapun pandai besi kadang-kadang ia membakar pakaianmu (karena semburan apinya) atau kamu menjumpai bau yang tidak sedap.&#8221; (Riwayat asy-Syaikhan dari Abu Musa al-Asy&#8217;ari).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir itu berkata, &#8220;Seseorang telah menyesatkan aku dari ajaran Al-Qur&#8217;an dan dari beriman kepada Muhammad setelah petunjuk itu datang kepadaku.&#8221; Adalah kebiasaan setan menipu manusia dan me-malingkannya dari kebenaran dan tidak mau menolong manusia yang telah disesatkannya itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 30</h3>
<p>Pada ayat ini, Rasulullah mengadu kepada Allah dengan berkata, &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur&#8217;an ini sesuatu yang tidak perlu dihiraukan. Mereka tidak beriman kepadanya, tidak memperhatikan janji dan peringatan-nya. Bahkan mereka berpaling darinya dan menolak mengikuti-nya. Kemudian Allah menyuruh rasul-Nya berlaku sabar dan tabah menghadapi kaumnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 31</h3>
<p>Allah telah menjadikan bagi setiap nabi musuh dari setan dan orang-orang jahat yang selalu mencemoohkan kesucian agama dan meremehkan petunjuk yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Oleh karena itu, Allah berpesan agar Nabi tidak berputus asa ataupun merasa sendirian menghadapi tantangan-tantangan seperti itu, karena cukuplah Allah yang menjadi pemberi petunjuk dan penolong. Sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. (al-An&#8217;am/6: 112)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 32</h3>
<p>Orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi bertanya mengapa Al-Qur&#8217;an tidak diturunkan kepada Muhammad sekali turun, seperti kitab-kitab Allah sebelumnya, yaitu kitab Taurat kepada Musa dan Zabur kepada Daud. Allah menolak pertanyaan mereka itu dan menerangkan mengapa Al-Qur&#8217;an diturunkan secara ber-angsur-angsur. Al-Qur&#8217;an diturunkan berangsur-angsur agar Allah memudahkan dan menguatkan hati Nabi Muhammad. Allah berfirman:</p>
<p>Dan Al-Qur&#8217;an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. (al-Isra&#8217;/17: 106)</p>
<p>Turunnya Al-Qur&#8217;an secara berangsur-angsur memang mengandung banyak hikmah, di antaranya:</p>
<p>1. Nabi Muhammad sering berjumpa dengan malaikat Jibril sehingga banyak menerima nasihat guna menambah semangat, kesabaran, dan ketabahan dalam menunaikan risalah-Nya.</p>
<p>2. Karena Nabi Muhammad tidak dapat membaca dan menulis (ummi) maka seandainya Al-Qur&#8217;an itu diturunkan sekaligus, tentu ia akan kesulitan untuk menghafalnya. </p>
<p>3. Supaya hafalannya lebih mantap, sempurna, dan terhindar dari segala kealpaan.</p>
<p>4. Seandainya Al-Qur&#8217;an itu diturunkan sekaligus, tentu syariat-syariatnya pun diturunkan sekaligus. Hal yang demikian itu pasti mengakibatkan banyak kesulitan. Akan tetapi, karena turunnya berangsur-angsur maka syariat pun diberlakukan secara berangsur-angsur sehingga mudah dilaksanakan, baik oleh Rasul maupun umatnya.</p>
<p>5. Karena turunnya Al-Qur&#8217;an banyak berkaitan dengan sebab-sebab turunnya seperti adanya berbagai pertanyaan, peristiwa, atau kejadian, maka turunnya secara bertahap lebih berkesan dalam hati para sahabat karena mereka bisa menghayatinya peristiwa demi peristiwa.</p>
<p>6. Kalau dengan turunnya Al-Qur&#8217;an secara berangsur-angsur saja, mereka tidak mampu meniru Al-Qur&#8217;an walaupun satu ayat, apalagi jika diturunkan sekaligus.</p>
<p>7. Sebagian hukum syariat Islam turun sesuai dengan perkembangan kaum Muslimin pada waktu itu. Kemudian setelah mereka bertambah cerdas dan mantap keimanannya, barulah diterapkan syariat Islam yang lebih sempurna dengan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang turun kemudian. Seandainya Al-Qur&#8217;an diturunkan sekaligus tentu hal demikian itu tidak mungkin terjadi.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 33</h3>
<p>Dalam ayat ini, Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa Dia tidak akan membiarkan orang-orang kafir itu datang kepada Nabi membawa sesuatu yang batil yang mereka ada-adakan untuk menodai kerasulannya. Allah hanya akan mendatangkan kepada Nabi suatu yang benar untuk menolak tuduhan mereka dan memberikan penjelasan yang paling baik. Hal seperti ini tersebut pula dalam firman Allah:</p>
<p>Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. (al-Anbiya&#8217;/21: 18)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 34</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang digiring ke neraka Jahanam, dengan cara menyeret wajah mereka dengan rantai-rantai dan belenggu, adalah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan kata-kata ini kepada orang-orang kafir yang mengemukakan beberapa sifat yang ganjil untuk menodai kerasulannya, dengan maksud seolah-olah beliau ini menyuruh mereka untuk mengadakan perbandingan siapakah di antara mereka yang mendapat petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan. Sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba&#8217;/34: 24)</p>
<p>Juga tersebut dalam hadis Rasulullah saw:</p>
<p>Akan dikumpulkan manusia pada hari Kiamat dalam tiga golongan, segolongan berjalan kaki, segolongan lagi berkendaraan, dan segolongan lagi berjalan dengan wajahnya. Rasulullah ditanya, &#8220;Bagaimana mereka berjalan dengan wajahnya?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Sesungguhnya Tuhan yang dapat memperjalankan mereka dengan kedua kakinya mampu pula memperjalankan mereka dengan wajahnya. Ingatlah, mereka menjaga wajah mereka dari benda-benda yang tajam dan berduri.&#8221; (Riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah).</p>
<p>Yang dimaksud di sini bahwa malaikat menyeret wajah orang-orang kafir ke dalam neraka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 35</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa seperti menurunkan Al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad. Dia juga telah menjadikan Harun, saudaranya, menyertai dia sebagai seorang wazir (pembantu) yang selalu diajak musyawarah untuk diminta pendapatnya. Dalam ayat lain diterangkan bahwa Harun itu diperbantukan kepada Musa sebagai seorang nabi. Hal ini tidak bertentangan karena walaupun Harun seorang nabi, tetapi dalam bidang syariat ia mengikuti syariat Musa dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Kemudian Allah menjelaskan bahwa Musa dan Harun diperintahkan supaya menyampaikan risalah-Nya kepada Fir&#8217;aun dengan jaminan bahwa kemenangan terakhir pasti berada di pihak mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 36</h3>
<p>Kemudian Allah memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk pergi dan berdakwah kepada Fir&#8217;aun dan kaumnya yang telah mendustakan tanda-tanda keesaan Allah yang terdapat di alam semesta. Setelah mereka menunaikan tugasnya yaitu menyampaikan risalahnya dengan lemah lembut, ternyata sikap Fir&#8217;aun tetap tidak berubah, sehingga Allah membinasakan mereka. Seperti tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa itu. (Muhammad/47: 10).</p>
<p>Dengan peristiwa ini, Allah menghibur Nabi Muhammad dan mendidiknya supaya berlaku sabar, karena beliau bukanlah nabi pertama yang didustakan oleh kaumnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 37</h3>
<p>Demikian pula Allah telah membinasakan kaum Nuh yang telah mendustakan para rasul. Setelah Nabi Nuh menunaikan risalahnya dengan menyampaikan dakwah kepada kaumnya, tetapi yang beriman kepadanya hanya sedikit sekali, Allah lalu menenggelamkan mereka dengan topan dan banjir besar yang membinasakan semua manusia dan binatang kecuali yang berada dalam kapal Nabi Nuh. Allah menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi umat manusia supaya mereka selalu ingat dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah menyelamatkan mereka dari bencana yang mengancam. Hal ini sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal, agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (al-haqqah/69: 11-12).</p>
<p>Lalu Allah menerangkan akibat orang-orang yang mendustakan risalah Nabi dengan firman-Nya bahwa Ia telah menyediakan bagi orang-orang zalim siksa yang pedih. Ayat ini mengandung peringatan pada orang-orang Quraisy supaya mereka jangan sampai mendustakan kenabian Muhammad karena besar kemungkinan mereka pun akan ditimpa azab seperti umat-umat terdahulu yang telah mendustakan para rasul-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 38</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah membinasakan kaum &#8216;ad, kaum Nabi Hud, dengan angin yang bertiup dengan kekuatan yang sangat besar dan sangat dingin, membinasakan kaum Samud, kaum Nabi Saleh, dengan suara keras yang menggelegar, dan juga membinasakan penduduk Rass yang ada di negeri Yamamah yang telah membunuh nabi. Nasib yang sama juga telah menimpa generasi-generasi berikutnya akibat pembangkangan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 39</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah menerangkan agar kisah umat dahulu itu diceritakan nabi kepada kaum musyrikin sebagai tamsil atau ibarat, dan menjelaskan kepada mereka dalil-dalil keesaan Allah. Akan tetapi, ternyata mereka terus-menerus mendustakan dan mengingkarinya sehingga Allah membinasakan mereka sampai hancur-lebur. Allah lalu memerintahkan kepada Muhammad agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah agar mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa itu. Tempat-tempat kaum yang telah dibinasakan itu selalu mereka lalui ketika dalam perjalanan dagangnya, yaitu bekas-bekas kawasan kaum Lut dan Samud ketika mereka pergi ke Syam, dan bekas kawasan kaum &#8216;ad (Ahqaf) yang mereka lewati ketika pergi menuju Yaman.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 40</h3>
<p>Sesungguhnya kaum musyrikin Mekah sering melewati negeri Sodom yang dahulu pernah dihujani dengan batu dan bekas kediaman kaum Nabi Lut yang terkenal dengan perbuatan homoseksual. Apakah mereka tidak menyaksikan bekas reruntuhan itu sebagai azab akibat mendustakan seorang utusan Allah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa sebab utama yang menutup mata hati mereka terhadap sebab-sebab turunnya azab itu bukan karena mereka tidak melihat, tetapi karena mereka tidak percaya akan adanya hari kebangkitan pada hari Kiamat, sesudah mereka mati.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 41</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa orang kafir selalu mengejeknya dengan mengatakan, &#8220;Apakah ini orang yang diutus sebagai rasul?&#8221; Itulah ejekan kaum kafir setiap kali mereka melihat Nabi Muhammad saw.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 42</h3>
<p>Ucapan orang-orang musyrik bahwa Muhammad hampir saja menyesatkan mereka dari sembahan-sembahannya, seandainya mereka tidak tekun dan sabar menyembahnya, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad telah menyampaikan dakwahnya dengan sungguh-sungguh disertai dengan hujah-hujah yang nyata. Nabi saw juga memperlihatkan berbagai mukjizat sehingga mereka hampir-hampir meninggalkan agama nenek moyangnya dan memasuki agama Islam. Ucapan mereka itu menunjukkan pula adanya pertentangan yang hebat dalam hati sanubari mereka, dari satu sisi mereka mencemoohkan Nabi saw, dan dari sisi lain mereka merasa khawatir akan terpengaruh oleh dakwah Nabi saw yang sangat kuat dan logis itu. </p>
<p>Selanjutnya, ayat ini menerangkan bahwa mereka akan mengetahui tentang siapa yang sesat jalannya pada saat mereka melihat azab. Menurut riwayat, ayat ini terkait dengan ulah yang dilakukan Abu Jahal pada setiap kali ia bertemu dengan Rasulullah. Cara serupa itu dilakukan oleh umat terdahulu kepada para rasul Allah seperti tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Dan sungguh, beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan, sehingga turunlah azab kepada orang-orang yang mencemoohkan itu sebagai balasan olok-olokan mereka. (al-An&#8217;am/6: 10)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 43</h3>
<p>Ibnu &#8216;Abbas r.a. berkata, &#8220;Orang-orang pada zaman Jahiliah pernah menyembah batu yang putih selama beberapa masa. Akan tetapi, jika melihat sembahan lain yang lebih baik, maka ia meninggalkan batu putih itu dan memilih sembahan kedua yang lebih baik menurut ukuran hawa nafsunya. Sehubungan dengan itu turunlah ayat ini.&#8221;</p>
<p>Pada ayat ini, Allah mencela orang-orang kafir Mekah yang mempertuhankan hawa nafsunya sehingga dijadikan landasan untuk semua urusan agamanya. Mereka tidak mendengarkan hujah yang nyata, dan penjelasan-penjelasan yang terang. Allah menasihatkan supaya Muhammad tidak terlalu memikirkan sikap mereka, karena beliau tidak ditugaskan untuk menyadarkan mereka agar beriman selamanya, apalagi jika mereka tidak mau melepaskan diri dari belenggu hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk kepada kebenaran. Allah mengatakan bahwa Muhammad tidak menjadi pemelihara dan penjamin bagi mereka. Kewajiban Nabi saw hanya menyampaikan risalah saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (al-Gasyiyah/88: 22)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 44</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah menasihati Nabi Muhammad supaya jangan menganggap bahwa kebanyakan orang-orang musyrik mendengarkan ayat dan memahami kebenaran yang terkandung dalam ayat itu sehingga mereka dapat mengamalkan petunjuknya untuk melakukan amal saleh dan memperbaiki akhlak. Allah mengingatkan yang demikian karena mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat. Jika dibandingkan dengan hewan ternak, maka binatang tunduk kepada majikannya, yang dirasakan mencintainya, tahu siapa yang berbuat kebaikan dan yang berbuat kejahatan kepadanya, dapat mencari sendiri tempat di mana ada rumput makanannya dan air minumannya, dan jika malam hari tahu kembali ke kandangnya, berbeda sekali dengan kaum musyrikin itu sendiri. Mereka tidak mau mengenal Pencipta dan Pemberi rezeki, mereka tidak merasakan berbagai nikmat yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. </p>
<p>Orang-orang musyrik tidak merasa tertipu oleh setan, yang selalu memandang baik bujukan hawa nafsunya. Kebodohan binatang ternak terbatas hanya pada dirinya sendiri, tetapi kebodohan mereka menjalar sampai menimbulkan berbagai fitnah dan kebinasaan serta menghalangi orang lain dari jalan kebenaran, sampai menimbulkan perpecahan dan peperangan di antara sesama manusia. Walaupun binatang itu tidak mengetahui ketauhidan dan kenabian, namun mereka tidak menentangnya, berbeda dengan orang-orang musyrik yang mengingkari ketauhidan karena kesombongan dan kefanatikan terhadap ajaran keliru yang diwarisi dari nenek moyangnya. Binatang ternak tidak menyia-nyiakan insting yang dikaruniakan Allah kepadanya. Lain halnya dengan kaum musyrikin, mereka dianugerahi akal dan naluri yang baik sejak lahir, tetapi mereka menyia-nyiakan akal yang sehat itu untuk membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.</p>
<p>Di dalam ayat disebutkan bahwa sebagian besar mereka tidak mendengar atau memahami kebenaran. Memang ada sebagian kecil di antara mereka yang mengakui kebenaran, tetapi tidak sanggup mengikutinya karena khawatir akan kehilangan kedudukan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 45</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah memerintahkan rasul-Nya supaya memperhatikan ciptaan-Nya, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dari tiap-tiap benda yang terkena sinar matahari, dari mulai terbit sampai terbenam. Allah sengaja menjadikan panas dari terik cahaya matahari. Kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Allah menjadikan bayang-bayang itu memanjang atau memendek untuk dipergunakan manusia sebagai pengukur waktu, seperti di Mesir mempergunakan alat yang diberi nama al-Misallat untuk mengukur waktu pada siang hari dan menentukan musim-musim selama setahun. Sejak dahulu kala, bangsa Arab pun telah mempergunakan alat yang diberi nama al-Mazawil untuk menentukan waktu salat dengan bayang-bayang. Mereka dapat memastikan tibanya waktu Zuhur bila bayangan jarumnya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu Asar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya. Hanya Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa bayangan itu harus dua kali dari panjang benda itu sendiri. Jadi jelas bahwa menurut ayat ini, Allah menjadikan bayang-bayang dari sinar matahari sebagai petunjuk waktu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 46</h3>
<p>Kemudian Allah menghapus bayang-bayang itu dengan perlahan-lahan sejalan dengan proses terbenam matahari sedikit demi sedikit. Menurut para ilmuwan, ayat ini berbicara mengenai presisi keteraturan alam semesta. Ayat ini menerangkan fungsi gerakan dan &#8220;panjang&#8221; bayang-bayang yang bergerak dari pagi, siang, dan sore hari. Memanjangkan bayangan suatu benda dalam ilmu fisika adalah peristiwa mengecilnya sudut datang cahaya dan memendeknya panjang bayangan dikarenakan semakin besarnya sudut datang cahaya. Peristiwa ini sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada pagi hari, bayang-bayang benda akibat terkena sinar matahari yang jatuh ke bumi akan tampak panjang. Semakin siang hari dan sampai posisi matahari pada titik kulminasi, bayangan akan tampak semakin memendek. Sebaliknya ketika matahari mulai bergeser ke arah barat sampai menjelang sore hari, akan terlihat bayang-bayang pun kembali menjadi panjang. Hal ini terjadi dikarenakan sudut datang sinar matahari menjadi semakin kecil kembali.</p>
<p>Apa yang terjadi manakala bayang-bayang panjangnya tetap atau tidak berubah? Ini peristiwa luar biasa. Secara sederhana dapat diartikan bahwa posisi matahari dan bumi dalam keadaan tetap tidak berubah, maka matahari akan menyinari bumi secara terus menerus. Artinya permukaan bumi (yang terang) akan mengalami proses pemanasan. Suhu permukaan akan terus meningkat selama penyinaran berlangsung. Air laut akan menggelegak dan mendidih. Apabila hal ini terus berlangsung dalam tempo yang lama maka bumi akan terbakar dan hancur akibat suhu yang meningkat. Sedangkan permukaan bumi yang tidak menghadap matahari, akan mengalami proses sebaliknya, yaitu mengalami pendinginan yang luar biasa. Boleh jadi permukaan laut akan beku, dan kehidupan akan mati. Keadaan ekstrem suhu di kedua belahan bumi ini mungkin dapat menjurus ke arah punahnya kehidupan. Kiamatkah? Wallahu a&#8217;lam. Allah Mahakuasa atas segala ciptaan-Nya.</p>
<p>Peristiwa panjang dan pendek atau arah barat dan arah timur bayang-bayang tadi terhadap posisi matahari dapat menjadi petunjuk waktu bagi manusia yang berada di bumi. Lenyapnya bayang-bayang terjadi secara perlahan merupakan gambaran sederhana sebagaimana peristiwa kejadian matahari terbenam secara perlahan. </p>
<p>Hal kedua yang dapat diperoleh adalah bahwa ayat di atas sudah mengindikasikan akan adanya perputaran bumi pada sumbunya. Ayat di bawah ini juga dapat digunakan untuk indikasi tersebut.</p>
<p>Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin/36: 38-40).</p>
<p>Ayat di atas dapat juga digunakan untuk memperlihatkan adanya keteraturan di alam semesta. Kalimat terakhir dari ayat tersebut secara jelas menyatakannya. Hal serupa dapat pula ditemui pada Surah al-Anbiya&#8217;/21: 33, az-Zumar/39: 5, dan ar-Rahman/55: 1-5.</p>
<p>Dalam Surah Yasin/36: 38-40 di atas disebutkan bahwa matahari beredar pada garis lintasannya. Astronomi modern membuktikan kebenaran pernyataan Al-Qur&#8217;an ini. Seperti diketahui, matahari terletak di sisi terluar dari piringan galaksi Bima Sakti. Galaksi ini berbentuk piringan, yang mempunyai jari-jari sekitar 10 kiloparsecs. Jika dihitung dalam dimensi mil, sama dengan 2 dengan 17 angka nol. Penelitian astronomi menunjukkan bahwa galaksi Bima Sakti ini melakukan perputaran pada sumbunya (revolusi), dan satu revolusi membutuhkan waktu selama 250 juta tahun. Karena matahari berada pada piringan terluar galaksi ini, maka matahari turut pula beredar sesuai dengan garis edar sisi terluar dari piringan galaksi tersebut.</p>
<p>Kata yasbahun yang terdapat pada Surah Yasin/36: 40, lebih tepat bila diterjemahkan dengan berenang, dibanding beredar. Sebab, dalam astronomi modern, antariksa ini tidaklah kosong sama sekali, tetapi berisi dan dipenuhi oleh partikel-partikel sub-atomik yang dikenal dengan neutrino. Jadi semua benda langit di jagad-raya ini sesungguhnya &#8216;berenang pada gelombang neutrino.</p>
<p>Mengenai rotasi bumi, data memperlihatkan bahwa bumi berputar pada sumbunya dengan kecepatan 1.670 km per jam. Kecepatan ini mendekati kecepatan peluru yang dilepaskan dari senjata modern, yaitu 1.800 km per jam. Maka dapat dibayangkan, betapa cepatnya rotasi bumi. Yang melakukan rotasi secepat ini bukan benda berukuran kecil dan ringan seperti peluru, tetapi suatu benda dengan ukuran dan massa yang sangat besar. Kecepatan orbit bumi terhadap matahari adalah sekitar 60 kali kecepatan peluru, yaitu sekitar 108.000 km per jam. Dengan kecepatan demikian, sebuah pesawat akan dapat mengelilingi bumi dalam waktu 22 menit. </p>
<p>Ketepatan rotasi yang mengakibatkan terjadinya siang dan malam di bumi ini, dikonfirmasi oleh ayat di bawah ini.</p>
<p>Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin/36: 40)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 47</h3>
<p>Allah lalu menyebutkan kekuasaan-Nya yang kedua yaitu menjadikan malam itu bermanfaat bagi manusia seperti manfaatnya pakaian yang menutup badan. Allah juga menjadikan tidur nyenyak bagi manusia sehingga ia seperti mati, karena seseorang pada waktu tidur tidak sadar sama sekali, dan anggota badannya berhenti bekerja kecuali jantung dan beberapa organ lainnya. Dengan demikian, dia dapat beristirahat dengan sempurna seperti dalam firman Allah:</p>
<p>Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari. (al-An&#8217;am/6: 60).</p>
<p>Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur. (az-Zumar/39: 42)</p>
<p>Allah menjadikan siang untuk berusaha dan beraktivitas. Sebagaimana tidur pada malam hari yang diserupakan dengan mati, maka bangun pada siang hari diserupakan dengan bangun lagi dari mati. Demikian pula manusia setelah berakhir masa hidupnya di dunia ini dan mati, akan dibangkitkan kembali setelah matinya, untuk diadili oleh Allah segala yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 48</h3>
<p>Kekuasaan Allah yang ketiga ialah Dia yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira terutama bagi para petani bahwa hujan yang merupakan rahmat-Nya akan segera turun. Dia pula yang menurunkan air hujan yang amat jernih untuk membersihkan badan dan pakaian, terutama untuk minum dan keperluan lainnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 49</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa hujan diturunkan untuk menyuburkan negeri-negeri atau tanah yang mati dan tandus. Dengan air hujan pula, Allah memberi minum sebagian besar makhluk-Nya, seperti binatang ternak dan manusia. Dalam ayat lain diterangkan:</p>
<p>Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (al-hajj/22: 5)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. (ar-Rum/30: 50)</p>
<p>Menurut para ilmuwan, dari ayat di atas dapat dibahas dua hal, yaitu:</p>
<p>1.Mengenai terjadinya hujan</p>
<p>2.Mengenai indikasi bahwa air hujan membawa kehidupan, sehingga dapat &#8220;&#8230;. menghidupkan dengannya negeri yang mati&#8230;&#8221;</p>
<p>Mengenai terjadinya hujan, kisahnya dimulai dengan air yang mengalir di sepanjang anak sungai yang akan bergabung dengan anak sungai lainnya membentuk sungai yang jauh lebih besar, yang akhirnya mengalir ke laut. Sementara air mengalir melalui anak sungai dan sungai, sebagian akan menguap karena panas sinar matahari (berubah menjadi gas) tetapi sebagian besar terus mengalir sampai ke laut. Di laut inilah proses penguapan atau evaporasi selanjutnya berlangsung. </p>
<p>Semua air yang menguap, baik yang berasal dari anak sungai, sungai, atau laut, membentuk uap air di atmosfer. Uap ini naik dan akan menjadi dingin saat mencapai atmosfer yang lebih tinggi. Jika terdapat banyak gas di atmosfer maka uap air ini akan memadat menjadi kelompok gas yang disebut awan. Jika awan tersebut ditiup angin sehingga berkumpul sesamanya, dan naik ke atas sehingga mencapai bagian yang lebih tinggi lagi di lapisan atmosfer, maka uap air akan berubah menjadi tetes-tetes es. </p>
<p>Ketika awan menjadi lebih dingin karena suhu atmosfer yang lebih rendah, air menjadi padat (es) dan jatuh, awalnya seperti tetes-tetes es yang sangat kecil, yang biasanya mencair sebelum mencapai tanah. Dengan demikian, tetes air akan jatuh ke bumi sebagai hujan. (lihat juga ar-Ra&#8217;d/13: 17; an-Naml/27: 60; al-&#8216;Ankabut/29: 63; Luqman/31: 34; as-Sajdah/32: 27; Fathir/35: 27; az-Zumar/39: 21; Qaf/50: 9-11).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 50</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah telah mengatur turunnya hujan secara bergiliran bagi manusia. Kadang-kadang ia turun siang atau malam, kadang-kadang ditujukan untuk menyirami tanah satu kaum yang baru melaksanakan salat Istisqa, kadang-kadang dipalingkan dari kaum yang banyak melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan. Semua itu bertujuan agar manusia mengambil pelajaran darinya, dan agar mereka mengerti bahwa Tuhanlah yang mengatur giliran hujan itu seperti mengatur peredaran bintang-bintang dan planet di angkasa luar. </p>
<p>Air hujan itu bukan hanya turunnya saja yang diatur dengan bergiliran, akan tetapi bentuk dan keadaannya juga. Kadang-kadang air itu membeku jika suhu udara jauh di bawah nol dan merupakan es batu. Kemudian jika dipanaskan berubah menjadi cair, dan jika dipanaskan berubah menjadi uap. Air merupakan unsur yang terdapat dalam semua makhluk hidup, dalam tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia, seperti dalam firman Allah:</p>
<p>Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. (al-Anbiya&#8217;/21: 30)</p>
<p>Semua ini harus jadi bahan pemikiran bagi manusia agar dapat mensyukuri nikmat Allah. Akan tetapi, kebanyakan manusia enggan bahkan mengingkari nikmat-nikmat itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 51</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa seandainya Allah menghendaki, Dia akan mengutus seorang utusan untuk setiap negeri, yang akan memberi peringatan. Akan tetapi, Allah mengirimkan Muhammad sebagai nabi penutup kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Katakanlah (Muhammad), &#8220;Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua.&#8221; (al-A&#8217;raf/7: 158)</p>
<p>Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. (Saba&#8217;/34: 28)</p>
<p>Jika para nabi lain diutus kepada umat-umat tertentu, maka Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rasul kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan memberi peringatan. Oleh karena itu, mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad tidak lagi bersifat temporal, yang hanya sesuai untuk suatu kaum dan tempat tertentu. Akan tetapi, ia diberi Al-Qur&#8217;an yang bersifat universal, nilai-nilai yang dikandungnya sesuai untuk diterapkan di mana pun dan kapan pun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 52</h3>
<p>Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menyampaikan risalahnya dengan sungguh-sungguh, melaksanakan jihad dan perjuangan dengan penuh kebijaksanaan, kesabaran, ketabahan, dan tidak takut atau gentar terhadap musuh. Nabi saw harus yakin bahwa Allah pasti menolong, sehingga kemenangan berada di tangannya dan kaum Mukminin. Dalam ayat ini, Allah melarang Nabi Muhammad mengikuti orang-orang kafir yang mengajaknya mengadakan kompromi dengan mereka dalam hal agama. Ia harus tetap bersikap tegas dan konsekuen dalam melaksanakan dakwah dan berjihad menyebarkan Al-Qur&#8217;an. </p>
<p>Secara bahasa, jihad ialah berusaha sungguh-sungguh, jika perlu dengan mengorbankan apa saja, harta ataupun jiwa. Jihad dapat dilaksanakan dalam keadaan perang maupun damai. Dalam keadaan perang, jihad dilaksanakan dengan qital, yaitu berperang di jalan Allah. Sedangkan jihad dalam keadaan damai dapat dilaksanakan di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain-lain.</p>
<p>Ayat 52 ini termasuk dalam kelompok ayat Makkiyyah, diturunkan sebelum hijrah dalam keadaan damai. Maka jihad di sini lebih ditekankan pada kesungguhan melaksanakan dakwah, pendidikan, maupun usaha-usaha sosial untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Allah menjanjikan kepada orang yang berjihad dengan sungguh-sungguh akan selalu diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Allah berfirman:</p>
<p>Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (al-&#8216;Ankabut/29: 69)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 53</h3>
<p>Ayat ini berisi tanda kekuasaan Allah yang keempat, yaitu Dia yang membiarkan dua macam air mengalir berdampingan, yang satu tawar dan segar, sedangkan yang lain asin dan pahit, seperti yang terjadi di muara sungai-sungai besar. Namun demikian, walaupun berdekatan rasa airnya tidak bercampur seolah-olah ada dinding yang membatasi di antara keduanya, sehingga yang satu tidak merusak rasa yang lainnya. Walaupun menurut pandangan mata kedua lautan itu bercampur, namun pada kenyataannya air yang tawar terpisah dari yang asin dengan kekuasaan Allah seperti dalam firman-Nya:</p>
<p>Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (ar-Rahman/55: 19-20).</p>
<p>Menurut para ilmuwan, Allah telah menciptakan pemisah air laut dan sungai, walaupun air sungai terjun dengan derasnya dari tempat tinggi. Barzakh (pemisah) ini berfungsi menghalangi kedua air untuk tidak saling menghapus ciri-cirinya. Laut asin dan tawar seolah-olah sudah ada dinding pembatas di antara keduanya, sehingga tidak bercampur aduk. Manusia dapat menentukan pilihannya karena baik air asin maupun tawar ada gunanya. </p>
<p>Pada tahun 1873, para pakar ilmu kelautan Inggris (dengan kapal Challenger) menemukan perbedaan ciri-ciri laut dari segi kadar garam, temperatur, jenis ikan/binatang, dan sebagainya. Setiap jenis air berkelompok dengan sendirinya dalam bentuk tertentu, terpisah dari jenis air yang lain betapapun ia mengalir jauh. Air Sungai Amazon yang mengalir deras ke laut Atlantik sampai batas 200 mil, masih tetap tawar. Mata air-mata air di Teluk Persia mempunyai ikan-ikan yang khas dan masing-masing tidak hidup kecuali di lokasinya.</p>
<p>Kedua laut dimaksud adalah lautan yang memenuhi sekitar Â¾ bumi ini serta sungai yang ditampung oleh tanah dan yang memancarkan mata air-mata air serta sungai-sungai besar yang kemudian mengalir ke lautan. Barzakh (pemisah) adalah penampungan air yang terdapat di bumi itu dan saluran-saluran bumi yang menghalangi air laut bercampur dengan air sungai sehingga tidak mengubahnya menjadi asin.</p>
<p>Keadaan air asin yang merambah atau mengalir dari lautan ke batu-batuan di dekat pantai, namun ia tidak bercampur dengan air tawar yang merambah atau mengalir ke laut dari daratan. Posisi aliran sungai yang lebih tinggi dari permukaan laut, memungkinkan air tawar yang relatif sedikit menembus air laut yang asin tetapi tidak berbaur total. Ayat lain yang terkait adalah: </p>
<p>Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (ar-Rahman/55: 19-20).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 54</h3>
<p>Tanda kekuasaan Allah yang kelima, yaitu Dia yang menciptakan manusia dari sperma. Dia lalu jadikan manusia mempunyai keturunan dan musaharah (perbesanan) atau hubungan kekeluargaan akibat perkawinan anak kandung dengan orang lain, sehingga muncul istilah kekeluargaan, seperti menantu, ipar, mertua, dan sebagainya. Firman Allah:</p>
<p>Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. (al-Qiyamah/75: 37-39)</p>
<p>Allah menciptakan manusia yang sangat indah susunan tubuhnya dilengkapi dengan pancaindra, disempurnakan dengan akal dan kemampuan untuk berpikir. Manusia juga diberi segala fasilitas sehingga semua yang berada di atas permukaan bumi, diperuntukkan bagi mereka. Firman Allah:</p>
<p>Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. (Luqman/31: 20</p>
<p>Ditinjau dari segi sains, beberapa ayat yang terkait dengan ayat di atas adalah: </p>
<p>Dan apakah orang-orang yang kafir tidak melihat bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman. (al-Anbiya&#8217;/21: 30).</p>
<p>Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari mereka ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (an-Nur/24: 45).</p>
<p>Ketiga ayat di atas mengindikasikan hubungan yang erat antara air dan adanya kehidupan. </p>
<p>1.Air ditengarai sangat dekat dengan makhluk hidup. Manusia dan kebanyakan hewan berasal dari cairan sperma. </p>
<p>2.Semua kehidupan dimulai dari air. Air di sini lebih tepat bila diartikan sebagai laut. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari kedalaman lautan. Dugaan bahwa di lautlah mulainya kehidupan disebabkan karena kondisi atmosfer pada saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup. </p>
<p>Dari uraian ini, peran air bagi kehidupan sangat jelas, dari mulai adanya makhluk hidup di bumi (berasal dari kedalaman laut), bagi kelangsungan hidupnya (air diperlukan untuk pembentukan organ dan menjalankan fungsi organ), serta memulai kehidupan (terutama bagi kelompok hewan”air tertentu yang berasal dari sperma).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 55</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang musyrik itu menyembah tuhan selain Allah, yaitu patung-patung dan berhala yang tidak memberi manfaat kepada mereka. Mereka menyembahnya hanya sekadar mengikuti hawa nafsu dan melanjutkan tradisi nenek moyang mereka saja, dan meninggalkan ibadah kepada Allah yang menciptakan mereka dan telah melimpahkan berbagai kenikmatan. Di samping itu, mereka telah membuat kemungkaran dengan membantu setan dalam tindakannya memusuhi Allah, rasul-Nya dan kaum Mukminin, seperti digambarkan dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan teman-teman mereka (orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan. (al-A&#8217;raf/7: 202)</p>
<p>Kata dhahir dalam ayat lain diartikan penolong. Sebagian ahli tafsir mengartikan terhina atau tersia-sia sehingga arti ayat itu menjadi: Dan orang-orang kafir pada sisi Tuhannya sangat hina dan sia-sia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 56</h3>
<p>Mengapa kaum musyrikin itu membantu setan berbuat durhaka terhadap Allah, padahal Dia telah mengutus rasul-Nya memberi berita gembira bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan memberi peringatan kepada mereka. Mereka juga mengetahui bahwa rasul itu diutus untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Alangkah bodohnya orang-orang yang memusuhi rasul.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 57</h3>
<p>Allah memerintahkan Nabi supaya menerangkan kepada kaumnya bahwa walaupun beliau diutus untuk keselamatan mereka, namun beliau sama sekali tidak mengambil keuntungan untuk diri pribadinya. Beliau tidak meminta upah sedikit pun kepada mereka dalam menyampaikan risalah ini, kecuali bagi orang yang dengan kemauannya sendiri ingin berbuat amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengeluarkan sedekah atau bantuan suka rela, itulah yang baik baginya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 58</h3>
<p>Ayat ini memerintahkan manusia agar bertawakal kepada Allah yang Hidup Kekal tidak mati, Tuhan seru sekalian alam, berserah diri kepada-Nya, dan bersabar dalam segala musibah yang menimpa dirinya. Tuhanlah yang memberi kecukupan kepada manusia, yang menyampaikan kepada tujuan kebahagiaan. Manusia juga diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji Allah, mensucikan-Nya dari segala sekutu, anak, istri, dan segala sifat yang tidak pantas, seperti yang dituduhkan oleh kaum musyrikin kepada-Nya. Perintah Allah bertawakal kepada-Nya itu bukan berarti bahwa manusia tidak perlu berusaha lagi, atau tidak perlu memikirkan sebab-sebab yang menimbulkan usaha itu, tetapi maksudnya ialah agar manusia menyerahkan kepada Allah segala sesuatu yang telah diusahakannya. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan supaya bertawakal hanya kepada-Nya Yang Mahahidup, karena semua makhluk akan mati, maka tidak patut bertawakal kepada selain Allah. Hanya Allah-lah Yang Maha Hidup Kekal, yang mengetahui segala amal perbuatan dan dosa-dosa hamba-Nya dan yang mampu memberi balasan amal-amalnya. Amalan yang baik dibalas dengan pahala, dan amalan yang buruk dibalas dengan siksa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 59</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah yang menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa. Kata yaum biasanya diterjemahkan sebagai &#8220;hari&#8221;, tetapi &#8220;hari&#8221; dalam ayat ini bukanlah hari yang lamanya 24 jam, tetapi yaum diartikan sebagai &#8220;masa&#8221;. Kemudian Allah bersemayam di atas &#8216;Arasy (lihat Surah al-A&#8217;raf/7: 54).</p>
<p>Setiap mukmin meyakini bahwa Allah Maha Esa, hidup kekal, yang menciptakan langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Allah Maha Pemurah karena rahmat dan karunia-Nya amat besar kepada manusia, baik yang beriman maupun tidak. </p>
<p>Bagi orang-orang yang beriman hendaklah mengenal sifat-sifat Allah, karena hal itu akan menambah kemantapan iman. Bagi orang yang belum mengenal sifat-sifat-Nya tersebut hendaklah bertanya kepada orang yang betul-betul mengetahui urusan agama. Allah berfirman:</p>
<p>Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. (an-Nahl/16: 43; Lihat juga Surah al-Anbiya&#8217;/21: 7) </p>
<p>Pada masa Rasulullah, jika ada persoalan terkait dengan agama, para sahabat dapat bertanya langsung kepada beliau. Setelah Rasul wafat, kaum muslimin hendaknya bertanya kepada para ulama yang mendalami urusan agama.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 60</h3>
<p>Setelah menjelaskan betapa besar karunia dan nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, Allah menerangkan pula sikap orang-orang kafir yang seharusnya bersyukur dan berterima kasih, tetapi mereka berbuat sebaliknya. Apabila mereka yang menyembah selain Allah diperintahkan untuk sujud kepada Tuhan Yang Maha Penyayang, mereka menjawab, &#8220;Siapakah Tuhan Yang Maha Penyayang?&#8221; Pertanyaan mereka seperti pertanyaan Bani Israil kepada Musa ketika ia mengatakan, &#8220;Sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Rabbul &#8216;alamin.&#8221; Bani Israil bertanya, &#8220;Siapakah Rabbul &#8216;alamin itu?&#8221; Kaum musyrikin itu dalam bantahannya mengatakan, &#8220;Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang dikatakan Maha Penyayang, tetapi kami belum kenal sama sekali?&#8221; Perintah sujud itu menambah mereka ingkar dan jauh dari iman.</p>
<p>Diriwayatkan oleh adh-ahhaq bahwa Nabi Muhammad beserta para sahabat bersujud ketika selesai membaca ayat ini, karena ia termasuk di antara ayat-ayat yang disunatkan bersujud bagi para pembaca dan pendengarnya. Sujudnya dinamakan sujud tilawah. Ayat-ayat yang disunatkan sujud tilawah ada 15 buah, dua buah di antaranya berada dalam Surah al-hajj dan yang 13 lagi tersebar dalam Surah-surah al-A&#8217;raf, ar-Ra&#8217;d, an-Nahl, al-Isra&#8217;, Maryam, al-Furqan, an-Naml, as-Sajdah, sad, Fussilat, an-Najm, al-Insyiqaq, dan al-&#8216;Alaq. Yang berada dalam Surah sad bukan saja sujud tilawah, tetapi juga sujud syukur. Setelah Allah menerangkan sikap orang-orang kafir yang menjauhkan diri dari sujud kepada-Nya, maka Dia menerangkan sikap penolakan orang-orang untuk sujud, bahkan mereka bertambah keras kepala dan menjauh dari Tuhannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 61</h3>
<p>Mahasuci Allah yang menjadikan di langit bintang-bintang yang jumlahnya tidak terhitung. Allah menjadikan pula matahari yang bersinar terang dan bulan yang bercahaya. </p>
<p>Menurut para ilmuwan, dalam membicarakan benda-benda angkasa, Al-Qur&#8217;an juga sudah membedakan bintang dari planet. Bintang adalah benda langit yang memancarkan sinar. Sedangkan planet hanya memantulkan sinar yang diterima dari bintang. Dengan demikian, bintang mempunyai sumber sinar, sedangkan planet tidak (Lihat Yunus/10: 5 dan al-hijr/15: 16).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 62</h3>
<p>Allah pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang selalu mengingat nikmat-Nya dan bertafakur tentang keajaiban ciptaan-Nya. Dengan demikian, timbul dorongan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah itu. Jika seandainya malam dan siang tidak bergiliran, dan matahari terus saja bersinar, niscaya hal itu menimbulkan perasaan jemu atau bosan dan lelah karena tidak dapat beristirahat di malam hari. Demikian pula jika malam terus berlangsung tanpa diselingi dengan sinar matahari, niscaya membawa kerusakan bagi makhluk yang membutuhkannya. Adanya pergantian siang dan malam itu memberikan kesempatan untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah yang sunah yaitu bilamana seseorang karena kesibukan bekerja pada siang harinya tidak sempat berdoa atau membaca wirid, maka dapat dilaksanakan pada malam harinya, seperti tersebut dalam sebuah hadis sahih:</p>
<p>Sesungguhnya Allah mengulurkan tangan-Nya di malam hari supaya orang yang berbuat dosa pada siang hari dapat bertobat dan mengulurkan tangan-Nya pada siang hari supaya dapat bertobat orang yang berdosa pada malam harinya, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya. (Riwayat Muslim dari Abu Musa). </p>
<p>Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pernah salat Duha lama sekali. Tatkala beliau ditegur oleh salah seorang sahabat, beliau menjawab bahwa ia meninggalkan beberapa wirid hari ini, karena kesibukan, maka ia bermaksud mengganti kekurangan itu dengan salat Duha, lalu beliau membaca ayat 62 ini.</p>
<p>Malam, siang, matahari, dan bulan merupakan empat nikmat Allah. Allah menciptakan malam sehingga manusia dapat beristirahat akibat gelapnya malam. Siang diciptakan oleh Allah dengan terbitnya matahari untuk bekerja. Allah menciptakan matahari dan bulan masing-masing mempunyai poros dan garis edarnya sendiri-sendiri. Tanpa kenal lelah, dan tidak pernah diam, semuanya terus beredar.</p>
<p>Pergantian siang dengan malam bisa hanya berupa perubahan terang menjadi gelap. Akan tetapi, secara psikologis pergantian dari terang menjadi gelap itu memberikan dampak suasana hati yang sama sekali berbeda dengan suasana siang. Berbagai percobaan telah dilakukan untuk mengamati bagaimana pengaruh psikis terhadap pekerja malam. Teramati gejala psikosomatis (gejala fisik yang disebabkan oleh penyebab psikis) mulai dari hanya mual-mual sampai yang agak berat yaitu depresi mental. Ini baru pengaruh jangka pendek terhadap fisik dan kejiwaan manusia. Pengaruh jangka panjang bisa memberikan efek yang lebih berat. Oleh sebab itu, Allah menggariskan malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja. Jadi bekerja malam hari yang disebut lembur itu bertentangan dengan kodrat manusia seperti yang digariskan Allah.</p>
<p>Kondisi ini tak mengherankan karena pada siang hari bumi mendapatkan paparan (exposure) sinar tampak, mulai bergeser ke warna kuning saat matahari terbenam, bergeser ke infra-merah saat salat Isya, ke ultraviolet jika malam telah larut, dan mendekati gelombang gamma yang berbahaya mendekati subuh. Paparan ini yang menyebabkan manusia menderita psikosomatik jika tidak beristirahat dan terpaksa harus bekerja.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 63</h3>
<p>Sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih dijelaskan mulai ayat 63 ini dan ayat-ayat berikutnya. Sifat-sifat itu semua dapat disimpulkan menjadi 9 sifat yang bila dimiliki oleh seorang muslim, dia akan mendapat keridaan Allah di dunia dan di akhirat, serta akan ditempatkan di posisi yang tinggi dan mulia yaitu di surga Na&#8217;im. Sifat-sifat tersebut ialah:</p>
<p>Pertama: Apabila mereka berjalan, terlihat sikap dan sifat kesederhanaan, mereka jauh dari sifat kesombongan, langkahnya mantap, teratur, dan tidak dibuat-buat dengan maksud menarik perhatian orang atau untuk menunjukkan siapa dia. Itulah sifat dan sikap seorang mukmin bila ia berjalan. Allah berfirman:</p>
<p>Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. (al-Isra&#8217;/17: 37)</p>
<p>Kedua: Apabila ada orang yang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap mereka, mereka tidak membalas dengan kata-kata yang serupa. Akan tetapi, mereka menjawab dengan ucapan yang baik, dan mengandung nasihat dan harapan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Penyayang. Demikian pula dengan sikap Rasulullah bila ia diserang dan dihina dengan kata-kata yang kasar, beliau tetap berlapang dada dan tetap menyantuni orang-orang yang tidak berakhlak itu. </p>
<p>Al-hasan al-Basri menjelaskan bahwa orang-orang mukmin senantiasa berlapang hati, dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar. Bila kepada mereka diucapkan kata-kata yang kurang sopan, mereka tidak emosi dan tidak membalas dengan kata-kata yang tidak sopan pula. Mungkin ada orang yang menganggap bahwa sifat dan sikap seperti itu menunjukkan kelemahan dan tidak tahu harga diri, karena wajar bila ada orang yang bertindak kurang sopan dibalas dengan tindakan kurang sopan pula. Akan tetapi, bila direnungkan secara mendalam, pasti hal itu akan membawa pertengkaran dan perselisihan yang berkepanjangan. Setiap mukmin harus mencegah perselisihan dan permusuhan yang berlarut-larut. Salah satu cara yang paling tepat dan ampuh untuk membasminya ialah dengan membalas tindakan yang tidak baik dengan tindakan yang baik sehingga orang yang melakukan tindakan yang tidak baik itu akan merasa malu, dan sadar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang tidak wajar. Sikap seperti ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fussilat/41: 34-35).</p>
<p>Demikianlah sifat dan sikap orang-orang mukmin di kala mereka berada di siang hari di mana mereka selalu ingat dengan sesama hamba Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 64</h3>
<p>Ketiga: Kemudian Allah menjelaskan pula sikap dan sifat mereka ketika berhubungan dengan Tuhan Pencipta alam pada malam hari. Apabila malam telah sunyi sepi, manusia lelap dibuai oleh tidur nyenyak, mereka mengerjakan salat Tahajud dan berdiri menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tinggalkan kesenangan dan kenyamanan tidur, mereka resapkan dengan sepenuh jiwa dan raga bagaimana nikmat dan tenteramnya bermunajat dengan Tuhan. Mereka mengerjakan salat malam salat Tahajud seperti yang dilakukan Rasulullah karena dengan salat di malam hari itu jiwa mereka menjadi suci dan bersih. Iman mereka bertambah, keyakinan menjadi mantap bahwa tiada Tuhan selain Dia, rahmat dan kasih sayang-Nya Maha Luas meliputi semua makhluk-Nya. Di sanalah mereka memohon dan berdoa dengan penuh khusyuk dan tawaduk agar diampuni dosa dan kesalahan mereka dan dilimpahkan rahmat dan keridaan-Nya. Setelah melakukan salat malam itu, barulah mereka tidur dengan perasaan bahagia penuh tawakal dan takwa.</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas berkata, &#8220;Barang siapa yang melakukan salat dua rakaat atau lebih sesudah salat Isya berarti dia telah salat sepanjang malam.&#8221; </p>
<p>Dalam ayat lain, Allah menjelaskan pula sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengerjakan salat malam ini:</p>
<p>Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (as-Sajdah/32: 16).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>(Apakah kamu oran(64) Ketiga: Kemudian Allah menjelaskan pula sikap dan sifat mereka ketika berhubungan dengan Tuhan Pencipta alam pada malam hari. Apabila malam telah sunyi sepi, manusia lelap dibuai oleh tidur nyenyak, mereka mengerjakan salat Tahajud dan berdiri menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tinggalkan kesenangan dan kenyamanan tidur, mereka resapkan dengan sepenuh jiwa dan raga bagaimana nikmat dan tenteramnya bermunajat dengan Tuhan. Mereka mengerjakan salat malam salat Tahajud seperti yang dilakukan Rasulullah karena dengan salat di malam hari itu jiwa mereka menjadi suci dan bersih. Iman mereka bertambah, keyakinan menjadi mantap bahwa tiada Tuhan selain Dia, rahmat dan kasih sayang-Nya Maha Luas meliputi semua makhluk-Nya. Di sanalah mereka memohon dan berdoa dengan penuh khusyuk dan tawaduk agar diampuni dosa dan kesalahan mereka dan dilimpahkan rahmat dan keridaan-Nya. Setelah melakukan salat malam itu, barulah mereka tidur dengan perasaan bahagia penuh tawakal dan takwa.</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas berkata, &#8220;Barang siapa yang melakukan salat dua rakaat atau lebih sesudah salat Isya berarti dia telah salat sepanjang malam.&#8221; </p>
<p>Dalam ayat lain, Allah menjelaskan pula sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengerjakan salat malam ini:</p>
<p>Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (as-Sajdah/32: 16).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? (az-Zumar/39: 9).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).&#8221; (adz-dzariyat/51: 17“18)</p>
<p>g musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? (az-Zumar/39: 9).</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).&#8221; (adz-dzariyat/51: 17“18)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 65</h3>
<p>Keempat: Mereka selalu mengingat hari akhirat dan hari perhitungan. Mereka yakin bahwa semua amal perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik diberi ganjaran berlipat ganda, dan yang jahat akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Di kala mereka bermunajat dengan Tuhan di malam hari tergambarlah dalam pikiran mereka bagaimana dahsyatnya suasana di waktu itu seakan-akan mereka benar-benar melihat bagaimana ganasnya api neraka yang selalu menanti para hamba Allah yang durhaka untuk menjadi mangsa dan santapannya. Di kala itu meneteslah air mata mereka dan mereka memohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar dibebaskan dari siksaan api neraka yang pedih itu. </p>
<p>Orang-orang yang demikian kuat keyakinannya kepada hari akhirat tentu akan mempergunakan kesempatan hidup di dunia ini untuk berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan melakukan perbuatan jahat karena yakin perbuatannya itu akan dibalas dengan siksaan yang pedih. Betapa pun baiknya suatu peraturan yang dibuat manusia dan betapa ketatnya pengawasan dalam pelaksanaannya, tetapi manusia yang tidak sadar akan pengawasan Allah dapat saja meloloskan diri dari ikatan peraturan dan undang-undang itu. Akan tetapi, manusia yang beriman, andaikata tidak ada peraturan dan undang-undang, tidak akan melakukan satu kejahatan pun, karena dia sadar walaupun dapat bebas dari hukuman di dunia, namun tidak akan dapat melepaskan diri dari azab di akhirat. Kesadaran dan keinsyafan inilah yang tertanam dengan kuat di dalam hati setiap muslim yang mendapat julukan &#8220;hamba Allah Yang Maha Penyayang.&#8221;</p>
<p>Ayat ini menjelaskan bagaimana seorang mukmin benar-benar takut jatuh ke dalam siksaan neraka karena siksaannya amat pedih dan dahsyat. Neraka itu merupakan seburuk-buruk tempat yang disediakan bagi hamba Allah yang ingkar dan durhaka. Orang-orang kafir kekal di dalamnya selama-lamanya, menderita berbagai macam siksaan. Meskipun kulit mereka telah hangus terbakar dan panasnya api neraka telah menembus ke dalam daging dan tulang belulang, namun mereka tetap hidup untuk merasakan siksaan itu sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (an-Nisa&#8217;/4: 56).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 66</h3>
<p>Keempat: Mereka selalu mengingat hari akhirat dan hari perhitungan. Mereka yakin bahwa semua amal perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hari itu, yang baik diberi ganjaran berlipat ganda, dan yang jahat akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Di kala mereka bermunajat dengan Tuhan di malam hari tergambarlah dalam pikiran mereka bagaimana dahsyatnya suasana di waktu itu seakan-akan mereka benar-benar melihat bagaimana ganasnya api neraka yang selalu menanti para hamba Allah yang durhaka untuk menjadi mangsa dan santapannya. Di kala itu meneteslah air mata mereka dan mereka memohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar dibebaskan dari siksaan api neraka yang pedih itu. </p>
<p>Orang-orang yang demikian kuat keyakinannya kepada hari akhirat tentu akan mempergunakan kesempatan hidup di dunia ini untuk berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan melakukan perbuatan jahat karena yakin perbuatannya itu akan dibalas dengan siksaan yang pedih. Betapa pun baiknya suatu peraturan yang dibuat manusia dan betapa ketatnya pengawasan dalam pelaksanaannya, tetapi manusia yang tidak sadar akan pengawasan Allah dapat saja meloloskan diri dari ikatan peraturan dan undang-undang itu. Akan tetapi, manusia yang beriman, andaikata tidak ada peraturan dan undang-undang, tidak akan melakukan satu kejahatan pun, karena dia sadar walaupun dapat bebas dari hukuman di dunia, namun tidak akan dapat melepaskan diri dari azab di akhirat. Kesadaran dan keinsyafan inilah yang tertanam dengan kuat di dalam hati setiap muslim yang mendapat julukan &#8220;hamba Allah Yang Maha Penyayang.&#8221;</p>
<p>Ayat ini menjelaskan bagaimana seorang mukmin benar-benar takut jatuh ke dalam siksaan neraka karena siksaannya amat pedih dan dahsyat. Neraka itu merupakan seburuk-buruk tempat yang disediakan bagi hamba Allah yang ingkar dan durhaka. Orang-orang kafir kekal di dalamnya selama-lamanya, menderita berbagai macam siksaan. Meskipun kulit mereka telah hangus terbakar dan panasnya api neraka telah menembus ke dalam daging dan tulang belulang, namun mereka tetap hidup untuk merasakan siksaan itu sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (an-Nisa&#8217;/4: 56).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 67</h3>
<p>Kelima: Sifat baik lainnya dari orang-orang mukmin adalah mereka dalam menafkahkan harta tidak boros dan tidak pula kikir, tetapi tetap memelihara keseimbangan antara kedua sifat yang buruk itu. Sifat boros pasti akan membawa kemusnahan harta benda dan kerusakan masyarakat. Seseorang yang boros walaupun kebutuhan pribadi dan keluarganya telah terpenuhi dengan hidup secara mewah, tetap akan menghambur-hamburkan kekayaannya pada kesenangan lain, seperti main judi, main perempuan, minum-minuman keras, dan lain sebagainya. Dengan demikian, dia merusak diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya. Padahal, kekayaan yang dititipkan Allah kepadanya harus dipelihara sebaik-baiknya sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya, keluarga, dan masyarakat. </p>
<p>Sifat kikir dan bakhil pun akan membawa kepada kerugian dan kerusakan. Orang yang bakhil selalu berusaha menumpuk kekayaan walaupun dia sendiri hidup sebagai seorang miskin dan dia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk kepentingan masyarakat. Kalau untuk kepentingan dirinya dan keluarganya saja, dia merasa segan mengeluarkan uang, apalagi untuk kepentingan orang lain. Dengan demikian, akan tertumpuklah kekayaan itu pada diri seorang atau beberapa gelintir manusia yang serakah dan tamak. Orang yang sifatnya seperti ini diancam Allah dengan api neraka sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. (al-Humazah/104: 1-4).</p>
<p>Demikianlah sifat orang mukmin dalam menafkahkan hartanya. Dia tidak bersifat boros sehingga tidak memikirkan hari esok dan tidak pula bersifat kikir sehingga menyiksa dirinya sendiri karena hendak mengumpulkan kekayaan. Keseimbangan antara kedua macam sifat yang tercela itulah yang selalu dipelihara dan dijaga. Kalau kaya, dia dapat membantu masyarakatnya sesuai dengan kekayaannya, dan kalau miskin, dia dapat menguasai hawa nafsu dirinya dengan hidup secara sederhana. </p>
<p>Yazid bin Abi habib berkata, &#8220;Demikianlah sifat para sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka bukan makan untuk bermewah-mewah dan menikmati makanan yang enak-enak, mereka berpakaian bukan untuk bermegah-megah dengan keindahan. Akan tetapi, mereka makan sekadar untuk menutup rasa lapar dan untuk menguatkan jasmani karena hendak beribadah melaksanakan perintah Allah. Mereka berpakaian sekadar untuk menutup aurat dan memelihara tubuh mereka terhadap angin dan panas. </p>
<p>&#8216;Abdul Malik bin Marwan, pada waktu mengawinkan Fathimah (putrinya) dengan &#8216;Umar bin &#8216;Abdul &#8216;Aziz, bertanya kepada calon menantunya, &#8220;Bagaimana engkau memberi nafkah kepada anakku?&#8221; Umar menjawab, &#8220;Aku memilih yang baik di antara dua sifat yang buruk&#8221; (maksudnya sifat yang baik di antara dua sifat yang buruk yaitu boros dan kikir). Kemudian dia membacakan ayat ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 68</h3>
<p>Keenam: Pada ayat ini, Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadah, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, dan bila dia berbuat kebajikan, perbuatannya itu karena Allah bukan karena dia atau ingin dipuji orang. Bila dia berdoa, benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tidak melalui perantara. Dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata. </p>
<p>Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi hak atas dirinya. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya, dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak, akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan. Hak setiap warga masyarakat akan terpelihara dengan baik sehingga mereka benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidakstabilan. </p>
<p>Sehubungan dengan hal ini, dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:</p>
<p>&#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Rasulullah, &#8216;Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, &#8216;Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakan kamu. Aku bertanya pula, &#8216;Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, &#8216;Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu. Kemudian aku bertanya lagi, &#8216;Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, &#8216;Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Allah menurunkan ayat ini untuk membenarkan sabda Nabi Muhammad.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari Kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipatgandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lakukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di sana. Di samping menderita siksaan jasmani seperti minuman yang sangat panas yang membakar kerongkongan dan usus mereka, mereka juga mendapat siksaan batin atau rohani, karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesali kesalahan mereka sewaktu di dunia dahulu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 69</h3>
<p>Keenam: Pada ayat ini, Allah menerangkan lagi sifat-sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yaitu dia tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dia benar-benar menganut tauhid yang murni. Bila dia beribadah, maka ibadahnya itu hanya semata-mata karena Allah, dan bila dia berbuat kebajikan, perbuatannya itu karena Allah bukan karena dia atau ingin dipuji orang. Bila dia berdoa, benar-benar doanya langsung dipanjatkan ke hadirat Allah tidak melalui perantara. Dia yakin sepenuhnya bahwa yang sanggup mengabulkan doanya hanya Allah semata. </p>
<p>Mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun karena menyadari bahwa jiwa seseorang menjadi hak atas dirinya. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan hak yang telah ditetapkan oleh Allah seperti murtad atau membunuh orang tanpa hak. Mereka tidak akan melakukan perbuatan zina karena menyadari bahwa berzina itu termasuk dosa besar, suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dimurkai Allah. Dengan memelihara kemurnian tauhid yang menjadi dasar bagi akidah, seseorang akan bersih jiwanya, jernih pikirannya, dan tidak dapat diombang-ambingkan oleh kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan. Dengan menjauhi pembunuhan tanpa hak, akan bersihlah dirinya dari perbuatan zalim dan bersihlah masyarakat dari kekacauan. Hak setiap warga masyarakat akan terpelihara dengan baik sehingga mereka benar-benar dapat menikmati keamanan dan ketenteraman. Dengan memelihara dirinya dari perbuatan zina akan bersihlah dirinya dari kekotoran dan bersih pula masyarakat dari keonaran dan kekacauan nasab yang menimbulkan berbagai kesulitan dan ketidakstabilan. </p>
<p>Sehubungan dengan hal ini, dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:</p>
<p>&#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata, &#8220;Aku bertanya kepada Rasulullah, &#8216;Dosa apakah yang paling besar? Rasulullah menjawab, &#8216;Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dia yang menciptakan kamu. Aku bertanya pula, &#8216;Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, &#8216;Dosa membunuh anakmu karena takut (miskin) karena dia akan makan bersamamu. Kemudian aku bertanya lagi, &#8216;Dosa apakah lagi? Rasulullah menjawab, &#8216;Dosa berzina dengan istri tetanggamu. Allah menurunkan ayat ini untuk membenarkan sabda Nabi Muhammad.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kemudian Allah mengancam orang-orang yang melakukan perbuatan dosa itu dengan ancaman yang amat keras, yaitu neraka di hari Kiamat sebagai balasan atas semua dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Bahkan Allah akan melipatgandakan azab bagi mereka karena dosa besar yang mereka lakukan itu. Mereka akan dilemparkan ke neraka dan akan tetap di sana. Di samping menderita siksaan jasmani seperti minuman yang sangat panas yang membakar kerongkongan dan usus mereka, mereka juga mendapat siksaan batin atau rohani, karena selalu mendapat penghinaan dan selalu menyesali kesalahan mereka sewaktu di dunia dahulu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 70</h3>
<p>Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan perbuatan dosa seperti tersebut pada ayat di atas, lalu bertobat dengan sebenar-benar tobat, kembali beriman, serta selalu berbuat amal saleh, perbuatan mereka yang jahat itu akan diganti dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Menurut sebagian mufasir, penggantian dosa kejahatan dengan pahala kebaikan itu ialah dengan menghapuskan segala dosa yang telah dikerjakan di masa yang lalu karena tobat yang benar, kemudian amal kebaikan yang dikerjakannya sesudah bertobat dilipatgandakan pahalanya sehingga bisa menghapus dosa yang telah dilakukan dahulu. </p>
<p>Mufasir-mufasir lain mengatakan bahwa Allah memberikan kepada orang yang bertobat itu pahala yang seimbang banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakan. Kemudian dia bertobat dan mengerjakan amal yang baik, maka amal yang baik itu akan diberi pahala yang berlipat ganda pula. Jadi orang yang bertobat itu mendapat dua kebaikan yaitu dosa-dosanya yang terdahulu dihapuskan dan kemudian diberi pula pahala yang sama banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakannya itu.</p>
<p>Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa:</p>
<p>Dari Abu thawil Syathab al-Mamdud, ia menghadap Nabi saw dan bertanya, &#8220;Apakah pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan segala dosa, tidak ada perbuatan dosa kecuali ia lakukan. Apakah tobatnya diterima? Nabi saw menjawab, &#8220;Apakah kamu sudah masuk Islam?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Saya sendiri bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan engkau adalah utusan Allah.&#8221; Nabi saw berkata, &#8220;Ya, benar. Kamu mengerjakan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Maka Allah akan menjadikan untukmu kebaikan semuanya.&#8221; Dia bertanya lagi, &#8220;Semua kesalahanku diampuni?&#8221; &#8220;Ya,&#8221; jawab Nabi saw. &#8220;Allahu Akbar,&#8221; kata orang tadi, dan dia terus bertakbir sampai pergi tidak kelihatan. (Riwayat al-thabrani)</p>
<p>Kemudian Allah menyatakan bahwa tobat yang diterima itu haruslah diiringi dengan perbuatan baik. Tobat dimulai dengan penyesalan atas perbuatan jahat yang telah dilaksanakan, dan berhenti dari berbuat maksiat, diiringi dengan perbuatan baik untuk menjadi bukti bahwa tobat itu adalah tobat yang sebenarnya dan dilakukan dengan sungguh-sungguh (nasuha).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 71</h3>
<p>Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan perbuatan dosa seperti tersebut pada ayat di atas, lalu bertobat dengan sebenar-benar tobat, kembali beriman, serta selalu berbuat amal saleh, perbuatan mereka yang jahat itu akan diganti dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Menurut sebagian mufasir, penggantian dosa kejahatan dengan pahala kebaikan itu ialah dengan menghapuskan segala dosa yang telah dikerjakan di masa yang lalu karena tobat yang benar, kemudian amal kebaikan yang dikerjakannya sesudah bertobat dilipatgandakan pahalanya sehingga bisa menghapus dosa yang telah dilakukan dahulu. </p>
<p>Mufasir-mufasir lain mengatakan bahwa Allah memberikan kepada orang yang bertobat itu pahala yang seimbang banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakan. Kemudian dia bertobat dan mengerjakan amal yang baik, maka amal yang baik itu akan diberi pahala yang berlipat ganda pula. Jadi orang yang bertobat itu mendapat dua kebaikan yaitu dosa-dosanya yang terdahulu dihapuskan dan kemudian diberi pula pahala yang sama banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakannya itu.</p>
<p>Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa:</p>
<p>Dari Abu thawil Syathab al-Mamdud, ia menghadap Nabi saw dan bertanya, &#8220;Apakah pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan segala dosa, tidak ada perbuatan dosa kecuali ia lakukan. Apakah tobatnya diterima? Nabi saw menjawab, &#8220;Apakah kamu sudah masuk Islam?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Saya sendiri bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan engkau adalah utusan Allah.&#8221; Nabi saw berkata, &#8220;Ya, benar. Kamu mengerjakan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Maka Allah akan menjadikan untukmu kebaikan semuanya.&#8221; Dia bertanya lagi, &#8220;Semua kesalahanku diampuni?&#8221; &#8220;Ya,&#8221; jawab Nabi saw. &#8220;Allahu Akbar,&#8221; kata orang tadi, dan dia terus bertakbir sampai pergi tidak kelihatan. (Riwayat al-thabrani)</p>
<p>Kemudian Allah menyatakan bahwa tobat yang diterima itu haruslah diiringi dengan perbuatan baik. Tobat dimulai dengan penyesalan atas perbuatan jahat yang telah dilaksanakan, dan berhenti dari berbuat maksiat, diiringi dengan perbuatan baik untuk menjadi bukti bahwa tobat itu adalah tobat yang sebenarnya dan dilakukan dengan sungguh-sungguh (nasuha).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 72</h3>
<p>Ketujuh: Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa di antara sifat hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah tidak mau dan tidak pernah melakukan sumpah palsu. Apabila lewat di hadapan orang-orang yang suka mengucapkan kata-kata yang tidak karuan dan tidak ada faedahnya sama sekali, dia berlalu tanpa ikut bergabung dengan mereka. Dia menyadari bahwa seorang mukmin tidak layak melayani orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga dengan omong kosong, apalagi bila waktu itu dipergunakan untuk membicarakan hal-hal yang membawa kepada perbuatan dosa seperti mempergunjingkan orang atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dan lain-lain sebagainya. </p>
<p>Bersumpah palsu sangat dilarang dalam agama Islam, karena ketika bersumpah itu, seseorang telah berdusta dan tidak menyatakan yang sebenarnya. Banyak sekali orang yang melakukan sumpah palsu untuk membela orang-orang yang tidak benar agar orang itu dapat merampas atau memiliki hak orang lain dan melakukan kezaliman. Padahal, kalau ia tidak ikut bersumpah, tentulah yang hak itu akan nyata dan jelas, serta tidak akan terjadi kezaliman atau perampasan hak. Sebagai seorang mukmin, dia harus berdiri di pihak yang benar dan harus merasa bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman. </p>
<p>Umar bin Khaththab sangat marah kepada orang yang melakukan sumpah palsu dan dia pernah mendera orang yang bersumpah palsu 40 kali dera, mencorengi mukanya dengan warna hitam, mencukur semua rambut kepalanya, dan kemudian mengaraknya di tengah pasar. </p>
<p>Sifat dan sikap hamba-hamba Allah yang terpuji ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, &#8220;Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang bodoh.&#8221; (al-Qasas/28: 55).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 73</h3>
<p>Kedelapan: Pada ayat ini, Allah menerangkan sifat para hamba-Nya, yaitu mereka dapat menanggapi peringatan yang diberikan Allah bila mereka mendengar peringatan itu. Hati mereka selalu terbuka untuk menerima nasihat dan pelajaran, pikiran mereka pun selalu merenungkan ayat-ayat Allah untuk dipahami dan diamalkan, sehingga bertambahlah keimanan dan keyakinan mereka bahwa ajaran-ajaran yang diberikan Allah kepada mereka benar-benar ajaran yang tinggi nilai dan mutunya, ajaran yang benar yang tidak dapat dibantah lagi. Tidaklah mengherankan apabila mereka sangat fanatik kepada ajaran itu, karena mereka sangat meyakini kebaikannya. </p>
<p>Sangat jauh perbedaan antara mereka dengan kaum musyrikin yang juga fanatik kepada sembahan-sembahannya. Kefanatikan mereka adalah fanatik buta karena tidak mau menerima kebenaran walaupun telah jelas dan nyata bahwa akidah yang mereka anut itu salah dan bertentangan dengan akal yang sehat. Bagaimana pun kuat dan jelasnya alasan-alasan yang dikemukakan kepada mereka tentang ketidakbenaran faham yang dianut mereka tidak akan mau menerimanya karena hatinya telah tertutup dan matanya telah buta untuk memikirkan mana yang benar dan mana yang salah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 74</h3>
<p>Kesembilan: Di antara sifat-sifat hamba Allah ialah mereka selalu bermunajat dan memohon kepada-Nya agar dianugerahi keturunan yang saleh dan baik. Istri dan anak-anaknya benar-benar menyenangkan hati dan menyejukkan perasaan karena keluarga mereka terdiri dari orang-orang yang saleh dan bertakwa kepada Tuhan. Dengan demikian, akan bertambah banyaklah di muka bumi ini hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. </p>
<p>Di samping itu, mereka bermunajat kepada Allah agar keturunannya menjadi orang-orang yang bertakwa seluruhnya, menjadi penyeru manusia untuk bertakwa, dan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Ini adalah cahaya iman yang telah memenuhi hati mereka dan meneranginya dengan petunjuk dan hidayah sehingga mereka ingin sekali supaya orang-orang yang bertakwa yang mendapat petunjuk kian lama kian bertambah juga. Keinginan mereka agar anak cucu dan keturunannya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa bukanlah karena ingin kedudukan yang tinggi atau kekuasaan mutlak, tetapi semata-mata karena keinginan yang tulus ikhlas agar penduduk dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa. Juga bertujuan agar anak cucu mereka melanjutkan perjuangannya menegakkan keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, walaupun mereka sendiri telah mati, tetapi mereka tetap menerima pahala perjuangan anak cucu mereka sesuai dengan sabda Rasulullah:</p>
<p>&#8220;Apabila seseorang mati, maka putuslah segala amalnya kecuali dari tiga macam: sedekah yang dapat dimanfaatkan orang, ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya yang dapat diambil manfaatnya oleh orang lain sesudah matinya, anak yang saleh yang selalu mendoakannya.&#8221; (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).</p>
<p>Demikianlah sembilan sifat baik yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang. Bila sifat-sifat itu telah dimiliki oleh seseorang, maka mereka berhak mendapat julukan demikian itu. Orang-orang yang mendapat julukan pasti akan disayang Allah dan di akhirat nanti akan mendapat karunia dan rahmat yang sangat mulia dan besar.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 75</h3>
<p>Pada dua ayat ini, Allah menerangkan ganjaran dan karunia yang akan diberikan kepada &#8220;hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu&#8221;, hamba-hamba Allah yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia berkat kesabaran dan keuletan mereka dalam mematuhi segala perintah Allah, berkat kesabaran dan keuletan mereka melawan hawa nafsu dalam menjauhi segala larangan-Nya. Mereka ditempatkan di tempat yang paling mulia dan tinggi dalam surga. Mereka disambut oleh para malaikat dengan salam sebagai penghormatan kepada mereka. Hal ini tergambar dalam firman Allah:</p>
<p>&#8220;Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), &#8216;Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.&#8221; (ar-Ra&#8217;d/13: 23-24).</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa karunia dan nikmat yang mereka terima itu adalah karunia dan nikmat yang kekal abadi yang tiada putus-putusnya. Tidak diragukan lagi bahwa tempat itu adalah sebaik-baik tempat menetap dan sebaik-baik tempat kediaman.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 76</h3>
<p>Pada dua ayat ini, Allah menerangkan ganjaran dan karunia yang akan diberikan kepada &#8220;hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu&#8221;, hamba-hamba Allah yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia berkat kesabaran dan keuletan mereka dalam mematuhi segala perintah Allah, berkat kesabaran dan keuletan mereka melawan hawa nafsu dalam menjauhi segala larangan-Nya. Mereka ditempatkan di tempat yang paling mulia dan tinggi dalam surga. Mereka disambut oleh para malaikat dengan salam sebagai penghormatan kepada mereka. Hal ini tergambar dalam firman Allah:</p>
<p>&#8220;Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), &#8216;Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.&#8221; (ar-Ra&#8217;d/13: 23-24).</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa karunia dan nikmat yang mereka terima itu adalah karunia dan nikmat yang kekal abadi yang tiada putus-putusnya. Tidak diragukan lagi bahwa tempat itu adalah sebaik-baik tempat menetap dan sebaik-baik tempat kediaman.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 77</h3>
<p>Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa karena kekufuran, kesombongan, dan keangkuhannya, Allah tidak akan mempedulikan mereka sedikit pun. Mereka sekali-kali tidak akan mendapat karunia yang diberikan kepada orang-orang yang beriman bahkan mereka akan mendapat balasan yang setimpal yaitu neraka Jahanam. Mereka akan dilemparkan ke dalamnya dan mendapat siksaan yang tidak dapat digambarkan bagaimana pedihnya dan akan kekal abadi dalam neraka itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-furqan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>24. An-Nur (64 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/an-nur/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/an-nur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 14:37:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1124</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Cahaya Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 64 Deskripsi: Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai An Nuur yang berarti Cahaya, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Allah ... <a title="24. An-Nur (64 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/an-nur/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 24. An-Nur (64 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Cahaya</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 64</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai <i>An Nuur</i> yang berarti <i>Cahaya</i>, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-an-nur/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah An-Nur</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سُوْرَةٌ اَنْزَلْنٰهَا وَفَرَضْنٰهَا وَاَنْزَلْنَا فِيْهَآ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ لَّعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sūratun anzalnāhā wa faraḍnāhā wa anzalnā fīhā āyātim bayyinātil la‘allakum tażakkarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Inilah) suatu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum)nya, dan Kami turunkan di dalamnya tanda-tanda (kebesaran Allah) yang jelas, agar kamu ingat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖوَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">az-zāniyatu waz-zānī fajlidū kulla wāḥidim minhumā mi&#8217;ata jaldah(tan), wa lā ta&#8217;khużkum bihimā ra&#8217;fatun fī dīnillāhi in kuntum tu&#8217;minūna billāhi wal-yaumil-ākhir(i), walyasyhad ‘ażābahumā ṭā&#8217;ifatum minal-mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلزَّانِيْ لَا يَنْكِحُ اِلَّا زَانِيَةً اَوْ مُشْرِكَةً ۖوَّالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَآ اِلَّا زَانٍ اَوْ مُشْرِكٌ ۚوَحُرِّمَ ذٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">az-zānī lā yankiḥu illā zāniyatan au musyrikah(tan), waz-zāniyatu lā yankiḥuhā illā zānin au musyrik(un), wa ḥurrima żālika ‘alal-mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاۤءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمٰنِيْنَ جَلْدَةً وَّلَا تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًاۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna yarmūnal-muḥṣanāti ṡumma lam ya&#8217;tū bi&#8217;arba‘ati syuhadā&#8217;a fajlidūhum ṡamānīna jaldataw wa lā taqbalū lahum syahādatan abadā(n), wa ulā&#8217;ika humul-fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۚ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">illal-lażīna tābū mim ba‘di żālika wa aṣlaḥū, fa innallāha gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ شُهَدَاۤءُ اِلَّآ اَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ اَحَدِهِمْ اَرْبَعُ شَهٰدٰتٍۢ بِاللّٰهِ ۙاِنَّهٗ لَمِنَ الصّٰدِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna yarmūna azwājahum wa lam yakul lahum syuhadā&#8217;u illā anfusuhum fa syahādatu aḥadihim arba‘u syahādātim billāh(i), innahū laminaṣ-ṣādiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian masing-masing orang itu ialah empat kali bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang yang berkata benar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالْخَامِسَةُ اَنَّ لَعْنَتَ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-khāmisatu anna la‘natallāhi ‘alaihi in kāna minal-kāżibīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah akan menimpanya, jika dia termasuk orang yang berdusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَدْرَؤُا عَنْهَا الْعَذَابَ اَنْ تَشْهَدَ اَرْبَعَ شَهٰدٰتٍۢ بِاللّٰهِ اِنَّهٗ لَمِنَ الْكٰذِبِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yadra&#8217;u ‘anhal-‘ażāba an tasyhada arba‘a syahādātim billāhi innahū laminal-kāżibīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan istri itu terhindar dari hukuman apabila dia bersumpah empat kali atas (nama) Allah bahwa dia (suaminya) benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالْخَامِسَةَ اَنَّ غَضَبَ اللّٰهِ عَلَيْهَآ اِنْ كَانَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-khāmisata anna gaḍaballāhi ‘alaihā in kāna minaṣ-ṣādiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan (sumpah) yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya (istri), jika dia (suaminya) itu termasuk orang yang berkata benar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ وَاَنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ حَكِيْمٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhū wa annallāha tawwābun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan menemui kesulitan). Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna jā&#8217;ū bil-ifki ‘uṣbatum minkum, lā taḥsabūhu syarral lakum, bal huwa khairul lakum, likullimri&#8217;im minhum maktasaba minal-iṡm(i), wal-lażī tawallā kibrahū minhum lahū ‘ażābun ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau lā iż sami‘tumūhu ẓannal-mu&#8217;minūna wal-mu&#8217;minātu bi&#8217;anfusihim khairā(n), wa qālū hāżā ifkum mubīn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْلَا جَاۤءُوْ عَلَيْهِ بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاۤءَۚ فَاِذْ لَمْ يَأْتُوْا بِالشُّهَدَاۤءِ فَاُولٰۤىِٕكَ عِنْدَ اللّٰهِ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau lā jā&#8217;ū ‘alaihi bi&#8217;arba‘ati syuhadā'(a), fa iż lam ya&#8217;tū bisy-syuhadā&#8217;i fa ulā&#8217;ika ‘indallāhi humul-kāżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak datang membawa empat saksi? Oleh karena mereka tidak membawa saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِيْ مَآ اَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhū fid-dun-yā wal-ākhirati lamassakum fīmā afaḍtum fīhi ‘ażābun ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang hal itu (berita bohong itu).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iż talaqqaunahū bi&#8217;alsinatikum wa taqūlūna bi&#8217;afwāhikum mā laisa lakum bihī ‘ilmuw wa taḥsabūnahū hayyinā(n), wa huwa ‘indallāhi ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُوْنُ لَنَآ اَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَاۖ سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā iż sami‘tumūhu qultum mā yakūnu lanā an natakallama bihāżā, subḥānaka hāżā buhtānun ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَعِظُكُمُ اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ya‘iẓukumullāhu an ta‘ūdū limiṡlihī abadan in kuntum mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yubayyinullāhu lakumul-āyāt(i), wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna yuḥibbūna an tasyī‘al-fāḥisyatu fil-lażīna āmanū lahum ‘ażābun alīm(un), fid-dun-yā wal-ākhirah(ti), wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ وَاَنَّ اللّٰهَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhū wa annallāha ra&#8217;ūfur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Sungguh, Allah Maha Penyantun, Ma-ha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tattabi‘ū khuṭuwātisy-syaiṭān(i), wa may yattabi‘ khuṭuwātisy-syaiṭāni fa innahū ya&#8217;muru bil-faḥsyā&#8217;i wal-munkar(i), wa lau lā faḍlullāhi ‘alaikum wa raḥmatuhū mā zakā minkum min aḥadin abadā(n), wa lākinnallāha yuzakkī may yasyā'(u), wallāhu samī‘un ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lā ya&#8217;tali ulul-faḍli minkum was-sa‘ati ay yu&#8217;tū ulil-qurbā wal-masākīna wal-muhājirīna fī sabīlillāh(i), wal ya‘fū wal yaṣfaḥū, alā tuḥibbūna ay yagfirallāhu lakum, wallāhu gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ الْغٰفِلٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ لُعِنُوْا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna yarmūnal-muḥṣanātil-gāfilātil-mu&#8217;mināti lu‘inū fid-dun-yā wal-ākhirah(ti), wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma tasyhadu ‘alaihim alsinatuhum wa aidīhim wa arjuluhum bimā kānū ya‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَىِٕذٍ يُّوَفِّيْهِمُ اللّٰهُ دِيْنَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُوْنَ اَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma&#8217;iżiy yuwaffīhimullāhu dīnahumul-ḥaqqa wa ya‘lamūna annallāha huwal-ḥaqqul-mubīn(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pada hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka, dan mereka tahu bahwa Allah Maha-benar, Maha Menjelaskan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">al-khabīṡātu lil-khabīṡīna wal-khabīṡūna lil-khabīṡāt(i), waṭ-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīna waṭ-ṭayyibūna liṭ-ṭayyibāt(i), ulā&#8217;ika mubarra&#8217;ūna mimmā yaqūlūn(a), lahum magfiratuw wa rizqun karīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tadkhulū buyūtan gaira buyūtikum ḥattā tasta&#8217;nisū wa tusallimū ‘alā ahlihā, żālikum khairul lakum la‘allakum tażakkarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa illam tajidū fīhā aḥadan falā tadkhulūhā ḥattā yu&#8217;żana lakum wa in qīla lakumurji‘ū farji‘ū huwa azkā lakum, wallāhu bimā ta‘malūna ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ مَسْكُوْنَةٍ فِيْهَا مَتَاعٌ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا تَكْتُمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laisa ‘alaikum junāḥun an tadkhulū buyūtan gaira maskūnatin fīhā matā‘ul lakum, wallāhu ya‘lamu mā tubdūna wa mā taktumūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kamu; Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul lil-mu&#8217;minīna yaguḍḍū min abṡārihim wa yaḥfaẓū furūjahum, żālika azkā lahum, innallāha khabīrum bimā yaṣna‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qul lil-mu&#8217;mināti yagḍuḍna min abṡārihinna wa yaḥfaẓna furūjahunna wa lā yubdīna zīnatahunna illā mā ẓahara minhā walyaḍribna bikhumurihinna ‘alā juyūbihinn(a), wa lā yubdīna zīnatahunna illā libu‘ūlatihinna au ābā&#8217;ihinna au abnā&#8217;ihinna au abnā&#8217;i bu‘ūlatihinna au ikhwānihinna au banī ikhwānihinna au nisā&#8217;ihinna au mā malakat aimānuhunna awit-tābi‘īna gairi ulil-irbati minar-rijāli awiṭ-ṭiflil-lażīna lam yaẓharū ‘alā ‘aurātin-nisā'(i), wa lā yaḍribna bi&#8217;arjulihinna liyu‘lama mā yukhfīna min zīnatihinn(a), wa tūbū ilallāhi jamī‘an ayyuhal-mu&#8217;minūna la‘allakum tufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ankiḥul-ayāmā minkum waṣ-ṣāliḥīna min ‘ibādikum wa imā&#8217;ikum, iy yakūnū fuqarā&#8217;a yugnihimullāhu min faḍlih(ī), wallāhu wāsi‘un ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتّٰى يُغْنِيَهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗوَالَّذِيْنَ يَبْتَغُوْنَ الْكِتٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوْهُمْ اِنْ عَلِمْتُمْ فِيْهِمْ خَيْرًا وَّاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ ۗوَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيٰتِكُمْ عَلَى الْبِغَاۤءِ اِنْ اَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوْا عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَمَنْ يُّكْرِهْهُّنَّ فَاِنَّ اللّٰهَ مِنْۢ بَعْدِ اِكْرَاهِهِنَّ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">walyasta‘fifil-lażīna lā yajidūna nikāḥan ḥattā yugniyahumullāhu min faḍlih(ī), wal-lażīna yabtagūnal-kitāba mimmā malakat aimānukum fa kātibūhum in ‘alimtum fīhim khairaw wa ātūhum mim mālillāhil-lażī ātākum, wa lā tukrihū fatayātikum ‘alal-bigā&#8217;i in aradna taḥaṣṣunal litabtagū ‘araḍal-ḥayātid-dun-yā, wa may yukrihhunna fa innallāha mim ba‘di ikrāhihinna gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barangsiapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ اٰيٰتٍ مُّبَيِّنٰتٍ وَّمَثَلًا مِّنَ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad anzalnā ilaikum āyātim mubayyinātiw wa maṡalam minal-lażīna khalau min qablikum wa mau‘iẓatal lil-muttaqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allāhu nūrus-samāwāti wal-arḍ(i), maṡalu nūrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ(un), al-miṣbāḥu fī zujājah(tin), az-zujājatu ka&#8217;annahā kaukabun durriyyuy yūqadu min syajaratim mubārakatin zaitūnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyah(tin), yakādu zaituhā yuḍī&#8217;u wa lau lam tamsashu nār(un), nūrun ‘alā nūr(in), yahdillāhu linūrihī may yasyā'(u), wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās(i), wallāhu bikulli syai&#8217;in ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fī buyūtin ażinallāhu an turfa‘a wa yużkara fīhasmuh(ū), yusabbiḥu lahū fīhā bil-guduwwi wal-āṣāl(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙيَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">rijālul lā tulhīhim tijāratuw wa lā bai‘un ‘an żikrillāhi wa iqāmiṣ-ṣalāti wa ītā&#8217;iz-zakāh(ti), yakhāfūna yauman tataqallabu fīhil-qulūbu wal-abṣār(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">liyajziyahumullāhu aḥsana mā ‘amilū wa yazīduhum min faḍlih(ī), wallāhu yarzuqu may yasyā&#8217;u bigairi ḥisāb(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna kafarū a‘māluhum kasarābim biqī‘atiy yaḥsabuhuẓ-ẓam&#8217;ānu mā&#8217;ā(n), ḥattā iżā jā&#8217;ahū lam yajidhu syai&#8217;aw wa wajadallāha ‘indahū fa waffāhu ḥisābah(ū), wallāhu sarī‘ul-ḥisāb(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَّغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَابٌۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍۗ اِذَآ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَاۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">au kaẓulumātin fī baḥril lujjiyyiy yagsyāhu maujum min fauqihī maujum min fauqihī saḥāb(un), ẓulumātum ba‘ḍuhā fauqa ba‘ḍ(in), iżā akhraja yadahū lam yakad yarāhā, wa mal lam yaj‘alillāhu lahū nūran famā lahū min nūr(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha yusabbiḥu lahū man fis-samāwāti wal-arḍi waṭ-ṭairu ṣāffāt(in), kullun qad ‘alima ṣalātahū wa tasbīḥah(ū), wallāhu ‘alīmum bimā yaf‘alūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lillāhi mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), wa ilallāhil-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan hanya kepada Allah-lah kembali (seluruh makhluk).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُزْجِيْ سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهٗ ثُمَّ يَجْعَلُهٗ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ جِبَالٍ فِيْهَا مِنْۢ بَرَدٍ فَيُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَصْرِفُهٗ عَنْ مَّنْ يَّشَاۤءُۗ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهٖ يَذْهَبُ بِالْاَبْصَارِ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha yuzjī saḥāban ṡumma yu&#8217;allifu bainahū ṡumma yaj‘aluhū rukāman fa taral-wadqa yakhruju min khilālih(ī), wa yunazzilu minas-samā&#8217;i min jibālin fīhā mim baradin fa yuṣību bihī may yasyā&#8217;u wa yaṣrifuhū ‘am may yasyā'(u), yakādu sanā barqihī yażhabu bil-abṣār(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yuqallibullāhul-laila wan-nahār(a), inna fī żālika la‘ibratal li&#8217;ulil-abṣār(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاللّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَاۤبَّةٍ مِّنْ مَّاۤءٍۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰٓى اَرْبَعٍۗ يَخْلُقُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wallāhu khalaqa kulla dābbatim mim mā'(in), fa minhum may yamsyī ‘alā baṭinih(ī), wa minhum may yamsyī ‘alā rijlain(i), wa minhum may yamsyī ‘alā arba‘(in), yakhluqullāhu mā yasyā'(u), innallāha ‘alā kulli syai&#8217;in qadīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اٰيٰتٍ مُّبَيِّنٰتٍۗ وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad anzalnā āyātim mubayyināt(in), wallāhu yahdī may yasyā&#8217;u ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالرَّسُوْلِ وَاَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلّٰى فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَۗ وَمَآ اُولٰۤىِٕكَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yaqūlūna āmannā billāhi wa bir-rasūli wa aṭa‘nā ṡumma yatawallā farīqum minhum mim ba‘di żālik(a), wa mā ulā&#8217;ika bil-mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ مُّعْرِضُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iżā du‘ū ilallāhi wa rasūlihī liyaḥkuma bainahum iżā farīqum minhum mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya, agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak (untuk datang).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ يَّكُنْ لَّهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوْٓا اِلَيْهِ مُذْعِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iy yakul lahumul-ḥaqqu ya&#8217;tū ilaihi muż‘inīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi, jika kebenaran di pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul) dengan patuh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ اَمِ ارْتَابُوْٓا اَمْ يَخَافُوْنَ اَنْ يَّحِيْفَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُوْلُهٗ ۗبَلْ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afī qulūbihim maraḍun amirtābū am yakhāfūna ay yaḥīfallāhu ‘alaihim wa rasūluh(ū), bal ulā&#8217;ika humuẓ-ẓālimūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innamā kāna qaulal-mu&#8217;minīna iżā du‘ū ilallāhi wa rasūlihī liyaḥkuma bainahum ay yaqūlū sami‘nā wa aṭa‘nā, wa ulā&#8217;ika humul-mufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa may yuṭi‘illāha wa rasūlahū wa yakhsyallāha wa yattaqhi fa ulā&#8217;ika humul-fā&#8217;izūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ لَىِٕنْ اَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّۗ قُلْ لَّا تُقْسِمُوْاۚ طَاعَةٌ مَّعْرُوْفَةٌ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aqsamū billāhi jahda aimānihim la&#8217;in amartahum layakhrujunn(a), qul lā tuqsimū, ṭā‘atum ma‘rūfah(tun), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah sungguh-sungguh, bahwa jika engkau suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah (Muhammad), “Janganlah kamu bersumpah, (karena yang diminta) adalah ketaatan yang baik. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْۗ وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْاۗ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūl(a), fa in tawallau fa innamā ‘alaihi mā ḥummila wa ‘alaikum mā ḥummiltum, wa in tuṭī‘ūhu tahtadū, wa mā ‘alar rasūli illal-balāgul-mubīn(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa‘adallāhul-lażīna āmanū minkum wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti layastakhlifannahum fil-arḍi kamastakhlafal-lażīna min qablihim, wa layumakkinanna lahum dīnahumul-lażirtaḍā lahum wa layubaddilannahum mim ba‘di khaufihim amnā(n), ya‘budūnanī lā yusyrikūna bī syai&#8217;ā(n), wa man kafara ba‘da żālika fa ulā&#8217;ika humul-fāsiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa aṭī‘ur-rasūla la‘allakum turḥamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مُعْجِزِيْنَ فِى الْاَرْضِۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُۗ وَلَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā taḥsabannal-lażīna kafarū mu‘jizīna fil-arḍ(i), wa ma&#8217;wāhumun-nār(u), wa labi&#8217;sal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat luput dari siksaan Allah di bumi; sedang tempat kembali mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلٰثَ مَرّٰتٍۗ مِنْ قَبْلِ صَلٰوةِ الْفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُوْنَ ثِيَابَكُمْ مِّنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْۢ بَعْدِ صَلٰوةِ الْعِشَاۤءِۗ ثَلٰثُ عَوْرٰتٍ لَّكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّۗ طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanū liyasta&#8217;żinkumul-lażīna malakat aimānukum wal-lażīna lam yablugul-ḥuluma minkum ṡalāṡa marrāt(in), min qabli ṣalātil-fajri wa ḥīna taḍa‘ūna ṡiyābakum minaẓ-ẓahīrati wa mim ba‘di ṣalātil-‘isyā'(i), ṡalāṡu ‘aurātil lakum, laisa ‘alaikum wa lā ‘alaihim junāḥum ba‘dahunn(a), ṭawwāfūna ‘alaikum ba‘ḍukum ‘alā ba‘ḍ(in), każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāt(i), wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan) yaitu, sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan setelah salat Isya. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذَا بَلَغَ الْاَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوْا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iżā balagal-aṭfālu minkumul-ḥuluma falyasta&#8217;żinū kamasta&#8217;żanal-lażīna min qablihim, każālika yubayyinullāhu lakum āyātih(ī),wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاۤءِ الّٰتِيْ لَا يَرْجُوْنَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ اَنْ يَّضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجٰتٍۢ بِزِيْنَةٍۗ وَاَنْ يَّسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-qawā‘idu minan-nisā&#8217;il-lātī lā yarjūna nikāḥan fa laisa ‘alaihinna junāḥun ay yaḍa‘na ṡiyābahunna gaira mutabarrijātim bizīnah(tin), wa ay yasta‘fifna khairul lahunn(a), wallāhu samī‘un ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laisa ‘alal-a‘mā ḥarajuw wa lā ‘alal-a‘raji ḥarajuw wa lā ‘alal-marīḍi ḥarajuw wa lā ‘alā anfusikum an ta&#8217;kulū mim buyūtikum au buyūti ābā&#8217;ikum au buyūti ummahātikum au buyūti ikhwānikum au buyūti akhawātikum au buyūti a‘māmikum au buyūti ‘ammātikum au buyūti akhwālikum au buyūti khālātikum au mā malaktum mafātiḥahū au ṣadīqikum, laisa ‘alaikum junāḥun an ta&#8217;kulū jamī‘an au asytātā(n), fa iżā dakhaltum buyūtan fa sallimū ‘alā anfusikum taḥiyyatam min ‘indillāhi mubārakatan ṭayyibah(tan), każālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la‘allakum ta‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) bagimu, agar kamu mengerti.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاِذَا كَانُوْا مَعَهٗ عَلٰٓى اَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوْا حَتّٰى يَسْتَأْذِنُوْهُۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ فَاِذَا اسْتَأْذَنُوْكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِّمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innamal-mu&#8217;minūnal-lażīna āmanū billāhi wa rasūlihī wa iżā kānū ma‘ahū ‘alā amrin jāmi‘il lam yażhabū ḥattā yasta&#8217;żinūh(u), innal-lażīna yasta&#8217;żinūnaka ulā&#8217;ikal-lażīna yu&#8217;minūna billāhi wa rasūlih(ī), fa iżasta&#8217;żanūka liba‘ḍi sya&#8217;nihim fa&#8217;żal liman syi&#8217;ta minhum wastagfir lahumullāh(a), innallāha gafūrur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā taj‘alū du‘ā&#8217;ar-rasūli bainakum kadu‘ā&#8217;i ba‘ḍikum ba‘ḍā(n), qad ya&#8217;lamullāhul-lażīna yatasallalūna minkum liwāżā(n), falyaḥżaril-lażīna yukhālifūna ‘an amrihī an tuṣībahum fitnatun au yuṣībahum ‘ażābun alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَآ اِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قَدْ يَعْلَمُ مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِۗ وَيَوْمَ يُرْجَعُوْنَ اِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْاۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alā inna lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), qad ya‘lamu mā antum ‘alaih(i), wa yauma yurja‘ūna ilaihi fa yunabbi&#8217;uhum bimā ‘amilū, wallāhu bikulli syai&#8217;in ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ketahuilah, sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Dia mengetahui keadaan kamu sekarang. Dan (mengetahui pula) hari (ketika mereka) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/an-nur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 24. An-Nur</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-an-nur/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-an-nur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 02:37:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1123</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 24. An-Nur (النّور) Jumlah Ayat: 64 Arti: Cahaya Pengantar Surah: Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai An Nuur yang berarti Cahaya, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang ... <a title="Tafsir Surat 24. An-Nur" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-an-nur/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 24. An-Nur">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 24. An-Nur (النّور)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 64</p>
<p><strong>Arti:</strong> Cahaya</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai <i>An Nuur</i> yang berarti <i>Cahaya</i>, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah s.w.t. menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Allah menjelaskan bahwa surah ini mengandung dua hal. Pertama, hukum-hukum yang wajib dipatuhi seperti yang akan disampaikan dalam ayat-ayat berikutnya mengenai zina, menuduh perempuan berzina, dan sebagainya. Hukum-hukum itu, bila dipikirkan oleh manusia dengan pikiran yang obyektif, pasti akan diakui bahwa ketentuan-ketentuan itu benar dan berasal dari Allah bukan buatan manusia. Semua itu diturunkan untuk ditaati dan dijalankan dalam kehidupan. Kedua, bukti-bukti nyata yang menunjuk-kan kekuasaan dan keesaan Allah di dunia ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang Islam yang berzina baik perempuan maupun laki-laki yang sudah akil balig, merdeka, dan tidak muhsan hukumnya didera seratus kali dera, sebagai hukuman atas perbuatannya itu. Yang dimaksud dengan muhsan ialah perempuan atau laki-laki yang pernah menikah dan bersebadan. Tidak muhsan berarti belum pernah menikah dan bersebadan, artinya gadis dan perjaka. Mereka bila berzina hukumannya adalah dicambuk seratus kali. Pencambukan itu harus dilakukan tanpa belas kasihan yaitu tanpa henti dengan syarat tidak mengakibatkan luka atau patah tulang. </p>
<p>Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tidak dibenarkan bahkan dilarang menaruh belas kasihan kepada pelanggar hukum itu yang tidak menjalankan ketentuan yang telah digariskan di dalam agama Allah. Nabi Muhammad harus dijadikan contoh atau teladan dalam menegakkan hukum. Beliau pernah berkata: </p>
<p>Dari &#8216;Aisyah berkata Rasulullah bersabda, &#8220;Andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti saya potong tangannya.&#8221; (Riwayat asy-Syaikhan) </p>
<p>Hukuman cambuk itu hendaklah dilaksanakan oleh yang berwajib dan dilakukan di tempat umum dan terhormat, seperti di masjid, sehingga dapat disaksikan oleh orang banyak, dengan maksud supaya orang-orang yang menyaksikan pelaksanaan hukuman dera itu mendapat pelajaran, sehingga mereka benar-benar dapat menahan dirinya dari perbuatan zina. Adapun pezina-pezina muhsan baik perempuan maupun laki-laki hukumannya ialah dilempar dengan batu sampai mati, yang menurut istilah dalam Islam dinamakan &#8220;rajam&#8221;. Hukuman rajam ini juga dilaksanakan oleh orang yang berwenang dan dilakukan di tempat umum yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Hukum rajam ini didasarkan atas sunnah Nabi saw yang mutawatir.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Jabir bin Abdillah, Abu Said Al-Khudri, Abu Hurairah, Zaid bin Khalid dan Buraidah al-Aslamy, bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama Ma&#8217;iz telah dijatuhi hukuman rajam berdasarkan pengakuannya sendiri bahwa ia berzina. Begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lahm dan Bani Hamid telah dijatuhi hukuman rajam, berdasarkan pengakuan keduanya bahwa mereka telah berzina. Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Begitulah hukuman perbuatan zina di dunia. Adapun di akhirat nanti, pezina itu akan masuk neraka jika tidak bertaubat, sebagaimana sabda Nabi saw.</p>
<p>&#8220;Jauhilah zina karena di dalam zina ada empat perkara. Menghilangkan kewibawaan wajah, memutus rezeki, membikin murka Allah, dan menyebabkan kekal di neraka.&#8221; (Riwayat ath-thabrani dalam Mu&#8217;jam al-Ausath, dari Ibnu &#8216;Abbas)</p>
<p>Kenyataannya adalah bahwa budaya pergaulan bebas laki-laki dan perempuan telah menimbulkan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan, yaitu HIV/AIDS, hilangnya sistem kekebalan tubuh pada manusia pada akhirnya yang bersangkutan akan mati secara perlahan. Juga telah memunculkan banyaknya bayi lahir di luar nikah, sehingga mengacaukan keturunan dan pada gilirannya mengacaukan tatanan hukum dan sosial. </p>
<p>Perbuatan zina telah disepakati sebagai dosa besar yang berada pada posisi ketiga sesudah musyrik dan membunuh, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Nabi saw:</p>
<p>Berkata Abdullah bin Mas&#8217;ud, &#8220;Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Engkau jadikan bagi Allah sekutu padahal Dialah yang menciptakanmu,&#8221; Berkata Ibnu Mas&#8217;ud, &#8220;Kemudian dosa apalagi?&#8221;, jawab Rasulullah, &#8220;Engkau membunuh anakmu karena takut akan makan bersamamu.&#8221; Berkata Ibnu Mas&#8217;ud, &#8220;Kemudian dosa apalagi?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Engkau berzina dengan istri tetanggamu.&#8221; </p>
<p>Senada dengan hadis ini, firman Allah:</p>
<p>Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, serta tidak berzina. (al-Furqan/25: 68)</p>
<p>Hukuman di dunia itu baru dilaksanakan bila tindakan perzinaan itu benar-benar terjadi. Kepastian terjadi atau tidaknya perbuatan zina ditentukan oleh salah satu dari tiga hal berikut: bukti (bayyinah), hamil, dan pengakuan yang bersangkutan, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Huzaifah:</p>
<p>Hukum rajam dalam Kitabullah jelas atas siapa yang berzina bila dia muhsan, baik laki-laki maupun perempuan, bila terdapat bukti, hamil atau pengakuan. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Yang dimaksud dengan &#8220;bukti&#8221; dalam hadis tersebut adalah kesaksian para saksi yang jumlahnya paling kurang empat orang laki-laki yang menyaksikan dengan jelas terjadinya perzinaan. Bila tidak ada atau tidak cukup saksi, diperlukan pengakuan yang bersangkutan, bila yang bersangkutan tidak mengaku, maka hukuman tidak bisa dijatuhkan.</p>
<p>Hukuman di akhirat, yaitu azab di dalam neraka sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan Huzaifah di atas, terjadi bila yang bersangkutan tidak tobat. Bila yang bersangkutan tobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, maka ia terlepas dari hukuman akhirat, sebagaimana hadis yang mengisahkan seorang sahabat yang bernama Hilal yang menuduh istrinya berzina tetapi si istri membantahnya. Nabi mengatakan bahwa hukuman di akhirat lebih dahsyat dari hukuman di dunia, yaitu rajam, jauh lebih ringan. Tetapi perempuan itu malah mengingkari bahwa ia telah berzina.</p>
<p>Dari peristiwa itu dipahami bahwa bila orang yang berzina telah bertobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, ia terlepas dari hukuman di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Mujahid dan Ata  bahwa pada umumnya orang-orang Muhajirin yang datang dari Mekah ke Medinah adalah orang-orang miskin yang tidak mempunyai harta dan keluarga, sedang pada waktu itu di Medinah banyak perempuan tuna susila yang menyewakan dirinya, sehingga penghidupannya lebih lumayan dibanding dengan orang-orang yang lain. Di pintu rumah perempuan-perempuan tersebut, ada tanda-tanda untuk memperkenalkan dirinya sebagai wanita tuna susila. Maka berdatanganlah laki-laki hidung belang ke rumah mereka.</p>
<p>Melihat kondisi ekonomi perempuan tuna susila itu yang agak lumayan, maka timbullah keinginan sebagian dari orang-orang Muslim yang miskin itu untuk mengawini perempun-perempuan tersebut, supaya penghidupan mereka lumayan, maka turunlah ayat ini sebagai teguran untuk tidak melaksanakan keinginannya itu.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa laki-laki pezina tidak boleh menikahi perempuan kecuali perempuan pezina atau perempuan musyrik. Begitu juga perempuan pezina itu tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina pula atau laki-laki musyrik. Artinya tidak pantas sama sekali seorang laki-laki baik-baik, mengawini perempuan pezina yang akan mencemarkan dan merusak nama baiknya. Sebaliknya, seorang perempuan baik-baik, tidak pantas dinikahi oleh laki-laki pezina yang dikenal oleh lingkungannya sebagai laki-laki yang bejat dan tidak bermoral, karena pernikahan itu akan merendahkan martabat perempuan tersebut dan mencemarkan nama baik keluarganya. Kecuali bila laki-laki atau perempuan pezina itu sudah bertobat, maka boleh menikah atau dinikahi oleh laki-laki atau perempuan baik-baik.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menuduh perempuan yang baik-baik (muhsanat) berzina, kemudian mereka itu tidak dapat membuktikan kebenaran tuduhan mereka, dengan mendatangkan empat orang saksi yang adil yang menyaksikan dan melihat sendiri dengan mata kepala mereka perbuatan zina itu, maka hukuman untuk mereka ialah didera delapan puluh kali, karena mereka itu telah membuat malu dan merusak nama baik orang yang dituduh, begitu juga keluarganya. Yang dimaksud dengan perempuan muhsanat di sini ialah perempuan-perempuan muslimat yang baik sesudah akil balig dan merdeka. Penuduh-penuduh itu tidak dapat dipercayai ucapannya dan tidak dapat diterima kesaksiannya dalam hal apapun selamanya, karena mereka itu pembohong dan fasik, yaitu sengaja melanggar hukum-hukum Allah.</p>
<p>Disebutkan secara jelas perempuan di sini tidaklah berarti bahwa ketentuan itu hanya berlaku bagi perempuan. Bentuk hukuman seperti itu disebut aglabiyah, yaitu bahwa ketentuan itu menurut kebiasaan mencakup pihak-pihak lain. Dengan demikian laki-laki juga termasuk yang dikenai hukum tersebut.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang menuduh itu apabila tobat, yaitu menarik kembali tuduhan mereka, menyesali perbuatan mereka, memperbaiki diri dan memulihkan nama baik yang dituduh, maka mereka itu kesaksian mereka dapat diterima kembali. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa kesaksian mereka tetap tidak dapat diterima selamanya walaupun mereka sudah bertobat, namun tidak lagi digolongkan sebagai orang-orang fasik. Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih bagi mereka yang benar-benar tobat (taubat nasuha), yaitu menyesal dan meninggalkan perbuatan jahat mereka selamanya, serta memperbaiki diri dari kerusakan yang mereka timbulkan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa suami yang menuduh istrinya berzina, dan ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang melihat sendiri perbuatan zina yang dituduhkan itu, maka ia diminta untuk bersumpah demi Allah sebanyak empat kali bahwa istrinya itu benar-benar telah berzina. Sumpah empat kali itu untuk pengganti empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap orang yang menuduh perempuan berzina.</p>
<p>Seorang suami menuduh istrinya berzina adakalanya karena ia melihat sendiri istrinya berbuat mesum dengan laki-laki lain, atau karena istrinya hamil, atau melahirkan, padahal ia yakin bahwa janin yang ada di dalam kandungan istrinya atau anak yang dilahirkan istrinya itu bukanlah dari hasil hubungan dengan istrinya itu.</p>
<p>Untuk menyelesaikan kasus semacam ini, suami membawa istrinya ke hadapan yang berwenang dan di sanalah dinyatakan tuduhan kepada istrinya. Maka yang berwenang menyuruh suaminya bersumpah empat kali, sebagai pengganti atas empat orang saksi yang diperlukan bagi setiap penuduh perempuan berzina, bahwa ia adalah benar dengan tuduhannya. Kata-kata sumpah itu atau terjemahannya adalah:</p>
<p>(Demi Allah Yang Maha Agung, saya bersaksi bahwa sesungguhnya saya benar di dalam tuduhanku terhadap istriku &#8220;si Anu&#8221; bahwa dia berzina)</p>
<p>Sumpah ini diulang empat kali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah suami mengucapkan empat kali sumpah itu, pada kali kelima ia perlu menyatakan bahwa ia bersedia menerima laknat Allah, bila ia berdusta dengan tuduhannya itu. Redaksi pernyataan itu atau terjemahannya adalah:</p>
<p>(Laknat Allah ditimpakan atasku, apabila aku berdusta dalam tuduhanku itu)</p>
<p>Dengan demikian, terhindarlah ia dari hukuman menuduh orang berzina.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa untuk menghindarkan istri dari hukuman akibat tuduhan suaminya itu, maka ia harus mengajukan kesaksian mengangkat sumpah pula demi Allah empat kali yang menegaskan kesaksiannya bahwa suaminya itu berbohong dengan tuduhannya. Redaksi sumpah dan terjemahannya sebagai berikut:</p>
<p>(Demi Allah Yang Maha Agung, saya bersaksi bahwa sesungguhnya si anu ini, suamiku, adalah bohong di dalam tuduhannya kepadaku bahwa saya telah berzina)</p>
<p>Sumpah ini diulang empat k</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah mengucapkan sumpah itu empat kali, pada kali kelima ia harus menyampaikan penegasan bahwa ia bersedia menerima laknat Allah bila suaminya itu benar dengan tuduhannya kepadanya. Redaksi sumpah dan terjemahannya sebagai berikut:</p>
<p>(Murka Allah ditimpakan atasku apabila suamiku itu benar)</p>
<p>Kalau suami istri telah mengucapkan sumpah dan sudah saling melaknat (mulaanah) seperti itu, maka terjadilah perceraian paksa dan perceraian itu selama-lamanya, artinya suami istri itu tidak dibenarkan lagi rujuk kembali sebagai suami istri untuk selama-lamanya, sebagaimana dijelaskan oleh Ali dan Ibnu Mas&#8217;ud dengan katanya:</p>
<p>(Telah berlaku Sunnah (Nabi saw) bahwa dua (suami istri) yang telah saling melaknat, bahwa mereka tidak boleh berkumpul lagi sebagai suami istri untuk selama-lamanya)</p>
<p>Ini, didasarkan hadis:</p>
<p>Dua orang (suami istri) yang saling melaknat apabila telah bercerai keduanya tidak boleh lagi berkumpul sebagai suami istri untuk selama-lamanya. (Riwayat ad-Daruquthni dari Ibnu &#8216;Umar)</p>
<p>Istri diberi oleh Allah hak untuk membela diri dari tuduhan suaminya menunjukkan bahwa Allah menutup aib seseorang. Tetapi perlu diingat bahwa seandainya sang istri memang telah berzina, namun ia membantahnya maka ia memang terlepas dari hukuman di dunia, tetapi tidak akan terlepas dari azab di akhirat yang tentunya lebih keras dan pedih. Oleh karena itu, ia perlu bertobat maka Allah akan menerimanya sebagaimana dimaksud ayat berikutnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Maksud ayat ini adalah bahwa dimudahkannya penyelesaian kemelut rumah tangga dengan membolehkan saling laknat yang mengakibatkan perceraian selamanya, ditutupnya aib dalam rumah tangga, tidak dilaksanakan segera di dunia hukuman bagi orang yang berzina, dan diberikannya kesempatan bagi yang berdosa itu untuk bertobat dari perbuatan zinanya. Itu semua merupakan karunia Allah dan rahmat-Nya. Bila ia benar-benar tobat dari perbuatan dosanya itu Allah menerima tobatnya. Allah Mahabijaksana dengan menutup aib seseorang, tidak segera menghukumnya di dunia ini, dan memberinya kesempatan untuk bertobat.</p>
<p>Seorang suami yang memergoki istrinya berbuat mesum dengan laki-laki lain tindakan apakah yang akan ia lakukan? Kalau ia membunuh laki-laki itu, tentunya ia akan dibunuh pula (sebagai qisas baginya). Kalau ia diamkan saja kejadian itu, maka itu adalah satu tindakan yang salah. Dan kalau ia beberkan peristiwa itu dan menuduh istrinya berzina padahal ia tidak punya saksi, maka ia akan di-had, dikenakan hukuman dera dan tidak akan diterima kesaksiannya dan ucapannya selama-lamanya, apabila ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi yang melihat dengan matanya sendiri peristiwa itu.</p>
<p>Apakah ia akan pergi mencari empat orang saksi untuk diajak menyaksikan perbuatan mesum istrinya itu? Suatu hal yang tidak mungkin. Maka atas karunia dan rahmat Allah Yang Maha Pengampun dan Bijaksana, suami yang melihat istrinya berzina dengan laki-laki lain itu, tidak lagi dibebani mencari empat orang saksi untuk turut bersama-sama dia menyaksikan peristiwa perzinaan itu, tetapi cukuplah ia bersumpah dan mengemukakan kesaksiannya empat kali, kemudian ditambah satu kali dengan pernyataan kesediaan menerima laknat Allah bila dia berbohong, sebagaimana tersebut di atas yang dikenal dengan istilah &#8220;li&#8217;an&#8221;. Dengan demikian terhindarlah ia dari hukuman menuduh, yaitu hukuman dera delapan puluh kali. Untuk menghindarkan istrinya yang dituduh itu dari hukuman zina, maka ia hanya perlu melakukan hal yang sama, yaitu mengajukan sumpah dan kesaksiannya empat kali kemudian ditambah satu kali kesediaan menerima laknat bila suaminya benar dengan tuduhannya, sebagaimana tersebut di atas.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang membuat-buat berita bohong atau fitnah mengenai rumah tangga Rasulullah itu adalah dari kalangan kaum Muslimin sendiri. Sumbernya dari Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka kaum munafik di Medinah, shafwÂ±n bin Muaththal, keponakan Nabi, dan Hassan bin sabit. </p>
<p>Allah menghibur hati mereka, agar mereka jangan menyangka bahwa peristiwa itu buruk dan merupakan bencana bagi mereka, tetapi pada hakikatnya kejadian itu adalah suatu hal yang baik bagi mereka karena dengan kejadian itu, mereka akan memperoleh pahala besar dan kehormatan dari Allah dengan diturunkannya ayat-ayat yang menyatakan kebersihan mereka dari berita bohong itu, suatu bukti autentik yang dapat dibaca sepanjang masa. Setiap orang yang menyebarkan berita bohong itu akan mendapat balasan, sesuai dengan usaha dan kegiatannya tentang tersiar luasnya berita bohong itu. Sedang orang yang menjadi sumber pertama dan menyebarluaskan berita bohong ini, ialah Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagai seorang tokoh munafik yang tidak jujur, di akhirat kelak akan diazab dengan azab yang pedih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah mencela tindakan orang-orang mukmin yang mendengar berita bohong itu yang seakan-akan mempercayainya. Mengapa mereka tidak menolak fitnahan itu secara spontan? Mengapa mereka tidak mendahulukan baik sangkanya? Iman mereka, semestinya membawa mereka untuk berbaik sangka, dan mencegah mereka berburuk sangka kepada sesama orang mukmin, karena baik atau buruk sesama mukmin, pada hakikatnya adalah juga baik atau buruk juga bagi dia sendiri, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-hujurat/49: 12)</p>
<p>Maksudnya, janganlah orang mukmin mencela sesama orang mukmin, karena orang mukmin itu seperti satu badan.</p>
<p>Rasulullah sendiri mencegah para sahabat melakukan sangkaan yang tidak baik itu ketika beliau menjemput kedatangan Aisyah dengan mempergunakan unta shafwÂ±n bin Muaththal di tengah hari bolong dan disaksikan oleh orang banyak, agar mencegah adanya sangkaan-sangkaan yang tidak sehat. Kalau ada desas-desus yang sifatnya negatif, sebenarnya hal itu adalah luapan prasangka mereka yang disembunyikan dan kebencian yang ditutupi selama ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Ayat ini menunjukkan kemarahan Allah kepada para penyebar berita bohong itu, mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi atas kebenaran fitnahan yang disebarkan dan dituduhkan kepada Aisyah r.a. itu? Tidak didatangkannya empat orang saksi oleh mereka itu, berarti bahwa mereka itu bohong, baik di sisi Allah maupun di kalangan manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa andaikata bukan karena karunia di dunia ini kepada para penyebar berita bohong itu dengan banyaknya nikmat yang telah diberikan kepada mereka antara lain diberinya kesempatan bertobat, dan rahmat-Nya di akhirat dengan dimaafkan mereka dari perbuatan dosa dan maksiat mereka sesudah tobat maka akan ditimpakan dengan segera oleh Allah azab kepada mereka di dunia atas perbuatannya menyebarkan fitnahan dan berita bohong.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa andaikata bukan karena karunia dan rahmat Allah, pasti mereka yang menyebarkan berita bohong itu akan ditimpa azab; penyebaran berita bohong melalui berbagai cara, yaitu pertama, mereka itu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut lalu berbincang-bincang tentang hal itu, kemudian turut menyebarluaskannya sehingga tidak satu rumah atau suatu tempat pertemuan yang luput dari berita bohong itu; kedua, mereka turut mempercakapkan suatu berita bohong yang mereka tidak tahu sama sekali seluk beluknya; ketiga, mereka menganggap enteng saja berita bohong itu, seakan-akan tidak berarti, padahal berita bohong itu adalah suatu hal yang sangat buruk akibatnya dan dosa besar di sisi Allah. Allah berfirman: </p>
<p>Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka. (al-Ahzab/33: 57)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menyayangkan sikap sebagian kaum Muslimin yang tidak menyetop membicarakan fitnah itu dan tidak merasa layak memperkatakan dan menyambung-nyambungnya. Mereka seharusnya menyucikan Allah, bahwa Allah tidak akan mungkin membiarkan kekejian seperti itu menimpa istri seorang nabi apalagi Nabi yang paling dimuliakan-Nya. Seharusnya mereka menyikapinya bahwa berita itu adalah bohong besar.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada orang-orang mukmin supaya tidak mengulangi kembali perbuatan yang jahat dan dosa yang besar itu pada masa-masa yang akan datang. Hal itu bila mereka memang beriman. Orang yang beriman tentunya mengambil pelajaran dari apa yang diajarkan Allah, mengerjakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Allah sudah mengajarkan sikap yang harus diambil menghadapi berita yang tidak jelas ujung pangkalnya, yang merugikan seorang atau kaum Muslimin, bahwa berita itu tidak boleh disambung-sambung, tetapi disikapi sebagai berita bohong.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menjelaskan di dalam kitab-Nya secara terperinci mengenai syariat-Nya, akhlak dan adab yang baik, perbuatan dan kelakuan yang diridai-Nya. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya bagaimana pun kecilnya, Allah membalas dengan baik amal orang yang berbuat baik, dan membalas dengan siksa orang-orang yang berbuat jahat, Allah Mahabijaksana mengatur kepentingan hamba-hamba-Nya membebankan di atas pundak mereka hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang senang menyiarkan perbuatan keji dan memalukan seperti perbuatan zina di kalangan orang-orang mukmin muhsan baik laki-laki maupun perempuan, mereka akan mendapat hukuman di dunia ini dan di akhirat, bila mereka tidak tobat dan tidak menjalankan hukuman di dunia, ia akan di azab di neraka. </p>
<p>Penyebaran berita yang tidak patut disebarkan dilarang dalam agama Islam. Yang diminta seharusnya adalah berita tentang pelanggaran etika harus disimpan, sebagaimana sabda Nabi:</p>
<p>Orang Islam yang sebenarnya, ialah orang-orang Islam selamat dari kejahatan lidah dan tangannya, dan orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan larangan Allah. (Riwayat al-Bukhari, Abu Daud dan an-Nasa&#8217;i)</p>
<p>Dan sabdanya:</p>
<p>Tidaklah seorang hamba mukmin, menutupi cacat seorang hamba mukmin kecuali ditutupi juga cacatnya oleh Allah di hari akhirat. Dan barangsiapa menggagalkan kejahatan seorang muslim, akan digagalkan pula kejahatannya oleh Allah, di akhirat nanti. (Riwayat Ahmad bin Hanbal)</p>
<p>Allah Maha Mengetahui hakikat dan rahasia sesuatu hal yang manusia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, kembalikanlah segala sesuatunya kepada Allah dan janganlah kita suka memperkatakan sesuatu yang kita tidak mengetahui sedikit pun seluk beluknya, terutama hal-hal yang menyangkut diri atau keluarga Rasulullah, karena yang demikian itu akan membawa kepada kebinasaan.</p>
<p>Pemberitaan perbuatan zina atau pornografi akan berdampak buruk yaitu mendorong orang secara luas untuk berzina. Karena itu dampak buruknya luar biasa. Mengenai hal itu manusia tidak perlu meragukannya, karena Allah-lah yang lebih tahu daripada manusia. Sebagai contoh adalah terancamnya umat manusia oleh penyakit AIDS dengan virus HIV yang belum ditemukan obatnya sampai sekarang.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa larangan-Nya terhadap penyebaran pornografi dan perzinaan adalah karena kasih sayang-Nya terhadap umat manusia. Allah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada mereka penyebar berita bohong, yang masih memberi kepada mereka hidup dengan segala kelengkapannya. Dan sekiranya Dia tidak Maha Penyantun dan Maha Penyayang, tentulah mereka itu sudah hancur binasa. Tetapi Dia senantiasa berbuat kepada hamba-Nya mana yang mendatangkan maslahat kepada mereka, sekalipun mereka itu telah melakukan pelanggaran-pelanggaran dan dosa serta maksiat kepada-Nya. Berkat larangan itulah dunia masih selamat sampai sekarang, karena sebagian besar manusia terutama kaum Muslimin mematuhinya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, agar mereka itu jangan menuruti ajakan setan, mengikuti jejak dan langkahnya, seperti suka dan senang menyebarluaskan aib dan perbuatan keji di antara orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang senang mengikuti langkah-langkah setan, pasti ia akan terjerumus ke lembah kehinaan, berbuat yang keji dan mungkar, karena setan itu memang suka berbuat yang demikian. Oleh karena itu jangan sekali-kali mau mencoba-coba mengikuti jejak dan langkahnya. Sekiranya Allah tidak memberikan karunia dan rahmat kepada hamba-Nya dan yang selalu membukakan kesempatan sebesar-besarnya untuk bertobat dari maksiat yang telah diperbuat mereka, tentunya mereka tidak akan bersih dari dosa-dosa mereka yang mengakibatkan kekecewaan dan kesengsaraan, bahkan akan disegerakan azab yang menyiksa mereka itu di dunia ini, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya Dia tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. (an- Nahl/16: 61)</p>
<p>Allah Yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi, bagaimana pun juga, Dia tetap akan membersihkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-Nya, dengan menerima tobat mereka seperti halnya Hassan, Mistah bin Utsatsah dan lainnya. Mereka itu telah dibersihkan dari penyakit nifak, sekalipun mereka itu telah berperang secara aktif di dalam penyebaran berita bohong yang dikenal dengan &#8220;haditsul-ifki&#8221;, Allah Maha Mendengar segala apa yang diucapkan yang sifatnya menuduh dan ketentuan kebersihan yang dituduh, Maha Mengetahui apa yang terkandung dan tersembunyi di dalam hati mereka yang senang menyebarkan berita-berita keji yang memalukan orang lain.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah, janganlah mereka itu bersumpah untuk tidak mau memberikan bantuan kepada karib kerabatnya yang memerlukan bantuan karena berbuat salah, seperti Mistah anak dari saudara perempuan Ibunya Abu Bakar ra. ia seorang fakir miskin, berhijrah dari Mekah ke Medinah yang turut bersama Rasulullah saw, memperkuat pasukan kaum Muslimin di Perang Badar.</p>
<p>Oleh karena itu, sesudah turun wahyu yang menunjukkan atas kebersihan Aisyah dari hal yang dituduhkan kepadanya, dan setelah Allah mengampuni orang-orang yang semestinya diampuni, serta diberi hukuman kepada orang-orang yang semestinya menerima yang demikian itu, maka Abu Bakar ra, kembali ramah dan berbuat baik serta memberi bantuan kepada kerabatnya Mistah. Mistah adalah sepupunya, anak dari saudara perempuan ibunya. Orang-orang mukmin hendaklah memaafkan dan berlapang dada kepada segenap oknum yang terlibat atau dilibatkan di dalam peristiwa hadisul ifki. Pemaafan dan kembali membantu mereka itu merupakan sarana untuk memperoleh ampunan dari Allah. Adakah manusia yang tidak ingin bahwa dosa-dosanya diampuni Allah? Siapakah yang tidak berdosa dalam hidupnya? Bila mereka melakukannya, yaitu memaafkan dan membantu mereka yang kekurangan, maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan menyayangi mereka. Mereka akan masuk surga.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang saleh dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan dijauhkan dari rahmat Allah di dunia dan di akhirat, dan di akhirat nanti akan ditimpakan kepada mereka azab yang amat pedih, sebagai balasan dari kejahatan yang telah diperbuat mereka. Merekalah yang menjadi sumber dari berita yang menyakitkan hati perempuan-perempuan yang beriman, menyebarkan berita itu di antara orang-orang yang beriman. Mereka telah menjadi buruk bagi orang-orang yang turut menyiarkan berita-berita keji itu, dan mereka itu akan menanggung dosa atas perbuatannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa ketika orang-orang jahat yang bergelimang dosa di dunia akan diazab di akhirat nanti, mereka membantah dan mengingkari perbuatan jahat mereka, maka anggota tubuhnya menjadi saksi. Lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi dan menceritakan apa-apa yang telah dikerjakan di dunia. Dengan kekuasaan Allah anggota-anggota tubuh itu bisa berbicara dan bercerita, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan mereka berkata kepada kulit mereka, &#8220;Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?&#8221; (Kulit) mereka menjawab, &#8220;Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat</p>
<p>berbicara. (Fussilat/41: 21)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah saw: </p>
<p>Pada hari Kiamat nanti, diperkenalkanlah orang kafir dengan perbuatannya. Ia menyangkal dan membantah (tidak mengakui perbuatannya itu). Dikatakan kepadanya, &#8220;Mereka tetanggamu menjadi saksi atas perbuatanmu itu.&#8221; Jawabnya, &#8220;Mereka itu dusta.&#8221; Dikatakan lagi, &#8220;Keluargamu dan karib keluargamu menjadi saksi.&#8221; Jawabnya, &#8220;Mereka juga itu bohong.&#8221; Saksi-saksi itu disuruh bersumpah. Mereka bersumpah (memperkuat kesaksian mereka) kemudian Allah menutup persoalan orang-orang kafir itu dan bersaksilah lidah, tangan dan kaki mereka, lalu mereka dimasukkan ke dalam neraka. (Riwayat Ibnu Abi hatim dan Ibnu Jarir dari Abu Sa&#8217;id al- Khudri)</p>
<p>Sebagian ahli tafsir memberi penjelasan bahwa kesaksian yang dimaksud di sini bukan berupa ucapan, tetapi kesaksian berupa gerakan. Kalau mengenai ucapannya, lidahnya yang bergerak. Kalau mengenai perbuatan tangan atau kaki, bergeraklah tangan dan kaki sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa di akhirat nanti, akan disempurnakan balasan amal perbuatan tiap-tiap manusia oleh Allah. Di sanalah mereka akan mengetahui bahwa azab yang dijanjikan kepada mereka yang berbuat dosa dan maksiat di dunia ini, benar-benar akan menjadi kenyataan dan tidak ada keragu-raguan, Allah benar-benar menepati janji-Nya, dan menjelaskan sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya. Firman Allah:</p>
<p>Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (al-Baqarah/2: 281)</p>
<p>Oleh karena itu setiap manusia hendaklah berhati-hati dalam berbuat sesuatu dan sedapat mungkin menghindari hal-hal yang menyebabkan dia binasa dan di azab nanti di akhirat, sebagaimana sabda Nabi saw:</p>
<p>Jauhilah tujuh macam yang membinasakan. Ditanya apakah yang tujuh itu wahai Rasulullah? Jawab beliau, &#8220;Menyekutukan Allah, sihir, membunuh (manusia) yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta benda anak yatim, lari membelakang dari pertempuran (fi sabilillah) dan menuduh perempuan-perempuan yang baik yang bersih hatinya dan beriman.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa perempuan-perempuan yang tidak baik biasanya menjadi istri laki-laki yang tidak baik pula. Begitu pula laki-laki yang tidak baik adalah untuk perempuan-perempuan yang tidak baik pula, karena bersamaan sifat-sifat dan akhlak itu, mengandung adanya persahabatan yang akrab dan pergaulan yang erat. Perempuan-perempuan yang baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik-baik pula sebagaimana diketahui bahwa keramah-tamahan antara satu dengan yang lain terjalin karena adanya persamaan dalam sifat-sifat, akhlak, cara bergaul dan lain-lain. Begitu juga laki-laki yang baik-baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik-baik pula, ketentuan itu tidak akan berubah dari yang demikian itu. </p>
<p>Oleh karena itu, kalau sudah diyakini bahwa Rasulullah adalah laki-laki yang paling baik, dan orang pilihan di antara orang-orang dahulu dan orang kemudian, maka tentulah istri Rasulullah Aisyah r.a. adalah perempuan yang paling baik pula. Ini merupakan kebohongan dan tuduhan yang dilontarkan kepada diri Aisyah r.a. Mereka yang baik-baik, baik laki-laki maupun perempuan termasuk Safwan bin Muattal dan Aisyah r.a. adalah bersih dari tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang keji, baik laki-laki maupun perempuan, mereka itu memperoleh ampunan dari Allah dan rezeki yang mulia di sisi Allah dalam surga.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengajarkan kepada orang-orang mukmin tata cara bergaul untuk memelihara dan memupuk cinta dan kasih sayang serta pergaulan yang baik di antara mereka, yaitu janganlah memasuki rumah orang lain kecuali sesudah diberi izin dan memberi salam terlebih dahulu, agar tidak sampai melihat aib orang lain, melihat hal-hal yang tidak pantas orang lain melihatnya, tidak menyaksikan hal-hal yang biasanya disem-bunyikan orang dan dijaga betul untuk tidak dilihat orang lain. Seseorang yang meminta izin untuk memasuki rumah orang, yang ditandai dengan memberi salam, jika tidak mendapat jawaban sebaiknya dilakukan sampai tiga kali. Kalau sudah ada izin, barulah masuk dan kalau tidak sebaik ia pulang.</p>
<p>Cara yang demikian itulah yang lebih baik, yaitu apabila akan memasuki rumah orang lain, harus lebih dahulu minta izin, memberi salam dan menunggu sampai ada izin, kalau tidak, lebih baik pulang saja.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila hendak memasuki rumah orang lain dan tidak menemukan seorang di dalamnya yang berhak memberi izin atau tidak ada penghuninya, janganlah sekali-kali memasukinya, sebelum ada izin, kecuali ada hal yang mendesak seperti ada kebakaran di dalamnya, yang mengkhawatirkan akan menjalar ke tempat lain, atau untuk mencegah suatu perbuatan jahat yang akan terjadi di dalamnya, maka bolehlah memasukinya meskipun tidak ada izin. Tetapi kalau orang yang berhak memberi izin untuk masuk, menganjurkan supaya pulang, karena ada hal-hal di dalam rumah yang oleh pemilik rumah merasa malu dilihat orang lain, maka ia harus pulang karena yang demikian itu lebih menjamin keselamatan bersama. Allah Maha Mengetahui isi hati dan niat yang terkandung di dalamnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Diriwayatkan oleh al-Wahidi, bahwa Abu Bakar Siddiq pernah berkata, &#8220;Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada engkau ayat yang memerintahkan supaya meminta izin untuk memasuki suatu rumah. Di dalam melakukan perdagangan, kami adakalanya tinggal di penginapan. Apakah tidak boleh juga memasuki penginapan tanpa izin?&#8221; Maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa tempat-tempat yang tidak disediakan khusus untuk tempat tinggal, tetapi hanya untuk menginap sementara bagi orang yang memerlukannya, seperti hotel, losmen, tempat rekreasi, peristirahatan dan sebagainya, tidak ada halangan dan dosa memasukinya tanpa izin, karena ada sesuatu keperluan di dalamnya. Hal-hal yang biasanya kurang layak dan tidak sopan dilihat orang lain di suatu rumah tempat tinggal, tidak terdapat di tempat tersebut di atas.</p>
<p>Allah mengetahui apa yang dinyatakan dalam ucapan seseorang ketika meminta izin untuk memasuki rumah tempat tinggal, dan mengetahui apa yang disembunyikan di dalam hati untuk melihat aib dan hal-hal yang tidak wajar dan memalukan pemilik rumah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 30</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, agar mereka memelihara dan menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan kepada mereka untuk melihatnya, kecuali terhadap hal-hal tertentu yang boleh dilihatnya. Bila secara kebetulan dan tidak disengaja pandangan mereka terarah kepada sesuatu yang diharamkan, maka segera dialihkan pandangan tersebut guna menghindari melihat hal-hal yang di haramkan. Sebagaimana sabda rasulullah Saw. </p>
<p>Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali dia bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang pandangan/penglihatan (terhadap perempuan) secara tiba-tiba, kemudian beliau memerintahkan untuk memalingkan pandanganku (Riwayat Muslim, Abu Daud, Ahmad, at-Tirmizi dan an-Nasai)</p>
<p>Begitu pula sabda Rasulullah kepada Ali r.a.</p>
<p>Wahai Ali, janganlah kamu susulkan pandangan pertamamu dengan pandangan kedua, karena yang dibolehkan untukmu hanya pandangan pertama (yang tidak disengaja) sedang pandangan yang kedua tidak lagi dibolehkan (Riwayat Abu Daud dari Buraidah)</p>
<p>Di samping itu, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menganjurkan kepada laki-laki yang beriman supaya mereka memelihara kemaluannya dari perbuatan asusila seperti perbuatan zina, homoseksual dan lain sebagainya. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan ashabus-sunan. </p>
<p>Jagalah auratmu (jangan sampai terlihat orang lain) kecuali oleh istrimu atau hamba sahayamu. (Riwayat Ahmad dan Ashabus-Sunan)</p>
<p>Menjaga mata untuk tidak melihat hal-hal yang diharamkan dan memelihara kemaluan untuk tidak berbuat zina atau homoseksual merupakan perbuatan yang baik dan suci, baik terhadap jiwa maupun agamanya. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abi Umamah :</p>
<p>Setiap muslim yang melihat kecantikan seorang perempuan, kemudian dia menundukkan dan memejamkan matanya, Allah mengganti sebagai suatu ibadah. (Riwayat Ahmad dari Abu Umamah)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 31</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menyuruh Rasul-Nya agar mengingatkan perempuan-perempuan yang beriman supaya mereka tidak memandang hal-hal yang tidak halal bagi mereka, seperti aurat laki-laki ataupun perempuan, terutama antara pusat dan lutut bagi laki-laki dan seluruh tubuh bagi perempuan. Begitu pula mereka diperintahkan untuk memelihara kemaluannya (farji) agar tidak jatuh ke lembah perzinaan, atau terlihat oleh orang lain. </p>
<p>Sabda Rasulullah Saw. </p>
<p>Dari Ummu Salamah, bahwa ketika dia dan Maimunah berada di samping Rasulullah datanglah Abdullah bin Umi Maktum dan masuk ke dalam rumah Rasulullah (pada waktu itu telah ada perintah hijab). Rasulullah memerintahkan kepada Ummu Salamah dan Maimunah untuk berlindung (berhijab) dari Abdullah bin Umi Maktum, Ummu Salamah berkata, wahai Rasulullah bukankah dia itu buta tidak melihat dan mengenal kami?, Rasulullah menjawab, apakah kalian berdua buta dan tidak melihat dia?. (Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi) </p>
<p>Begitu pula mereka para perempuan diharuskan untuk menutup kepala dan dadanya dengan kerudung, agar tidak terlihat rambut dan leher serta dadanya. Sebab kebiasaan perempuan mereka menutup kepalanya namun kerudungnya diuntaikan ke belakang sehingga nampak leher dan sebagian dadanya, sebagaimana yang dilakukan oleh perempuan-perempuan jahiliah. </p>
<p>Di samping itu, perempuan dilarang untuk menampakkan perhiasannya kepada orang lain, kecuali yang tidak dapat disembunyikan seperti cincin, celak/sifat, pacar/inai, dan sebagainya. Lain halnya dengan gelang tangan, gelang kaki, kalung, mahkota, selempang, anting-anting, kesemuanya itu dilarang untuk ditampakkan, karena terdapat pada anggota tubuh yang termasuk aurat perempuan, sebab benda-benda tersebut terdapat pada lengan, betis, leher, kepala, dan telinga yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. </p>
<p>Perhiasan tersebut hanya boleh dilihat oleh suaminya, bahkan suami boleh saja melihat seluruh anggota tubuh istrinya, ayahnya, ayah suami (mertua), putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara-saudaranya, putra-putra saudara laki-lakinya, putra-putra saudara perempuannya, karena dekatnya pergaulan di antara mereka, karena jarang terjadi hal-hal yang tidak senonoh dengan mereka. Begitu pula perhiasan boleh dilihat oleh sesama perempuan muslimah, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau pelayan/pembantu laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, baik karena ia sudah lanjut usia, impoten, ataupun karena terpotong alat kelaminnya. Perhiasan juga boleh ditampakkan dan dilihat oleh anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan, sehingga tidak akan timbul nafsu birahi karena mereka belum memiliki syahwat kepada perempuan.</p>
<p>Di samping para perempuan dilarang untuk menampakkan perhiasan, mereka juga dilarang untuk menghentakkan kakinya, dengan maksud memperlihatkan dan memperdengarkan perhiasan yang dipakainya yang semestinya harus disembunyikan. Perempuan-perempuan itu sering dengan sengaja memasukkan sesuatu ke dalam gelang kaki mereka, supaya berbunyi ketika ia berjalan, meskipun dengan perlahan-lahan, guna menarik perhatian orang. Sebab sebagian manusia kadang-kadang lebih tertarik dengan bunyi yang khas daripada bendanya sendiri, sedangkan benda tersebut berada pada betis perempuan.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menganjurkan agar manusia bertobat dan sadar kembali serta taat dan patuh mengerjakan perintah-Nya menjauhi larangan-Nya, seperti membatasi pandangan, memelihara kemaluan/kelamin, tidak memasuki rumah oranglain tanpa izin dan memberi salam, bila semua itu mereka lakukan, pasti akan bahagia baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 32</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menyerukan kepada semua pihak yang memikul tanggung jawab atas kesucian dan kebersihan akhlak umat, agar mereka menikahkan laki-laki yang tidak beristri, baik duda atau jejaka dan perempuan yang tidak bersuami baik janda atau gadis. Demikian pula terhadap hamba sahaya laki-laki atau perempuan yang sudah patut dinikahkan, hendaklah diberikan pula kesempatan yang serupa. Seruan ini berlaku untuk semua para wali (wali nikah) seperti bapak, paman dan saudara yang memikul tanggung jawab atas keselamatan keluarganya, berlaku pula untuk orang-orang yang memiliki hamba sahaya, janganlah mereka menghalangi anggota keluarga atau budak yang di bawah kekuasaan mereka untuk nikah, asal saja syarat-syarat untuk nikah itu sudah dipenuhi. Dengan demikian terbentuklah keluarga yang sehat bersih dan terhormat. Dari keluarga inilah akan terbentuk suatu umat dan pastilah umat atau bangsa itu menjadi kuat dan terhormat pula. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Nikah itu termasuk Sunnahku. Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia tidak termasuk golonganku.(Riwayat Muslim)</p>
<p>Bila di antara orang-orang yang mau nikah itu ada yang dalam keadaan miskin sehingga belum sanggup memenuhi semua keperluan pernikahannya dan belum sanggup memenuhi segala kebutuhan rumh tangganya, hendaklah orang-orang seperti itu didorong dan dibantu untuk melaksanakan niat baiknya itu. Janganlah kemiskinan seseorang menjadi alasan untuk mengurungkan pernikahan, asal saja benar-benar dapat diharapkan daripadanya kemauan yang kuat untuk melangsungkan pernikahan. Siapa tahu di belakang hari Allah akan membukakan baginya pintu rezeki yang halal, baik, dan memberikan kepadanya karunia dan rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaluas rahmat-Nya dan kasih sayang-Nya, Mahaluas Ilmu pengetahuan-Nya. Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki sesuai dengan hikmat kebijaksanaan-Nya.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, Allah menganjurkan pernikahan dan menggalakkannya, serta menyuruh manusia supaya mengawinkan orang-orang yang merdeka dan hamba sahaya, dan Allah menjanjikan akan memberikan kecukupan kepada orang-orang yang telah berkeluarga itu kekayaan. </p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:</p>
<p>Ada tiga macam orang yang Allah berkewajiban menolongnya: orang yang nikah dengan maksud memelihara kesucian dirinya, hamba sahaya yang berusaha memerdekakan dirinya dengan membayar tebusan kepada tuannya, dan orang yang berperang di jalan Allah.(Riwayat Ahmad)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 33</h3>
<p>Bagi orang-orang yang benar-benar tidak mampu untuk membiayai keperluan pernikahan dan kebutuhan hidup berkeluarga sedangkan wali dan keluarga mereka tidak pula sanggup membantunya, maka hendaklah ia menahan diri sampai mempunyai kemampuan untuk itu. Menahan diri artinya menjauhi segala tindakan yang bertentangan dengan kesusilaan apalagi melakukan perzinaan karena perbuatan itu adalah sangat keji dan termasuk dosa besar. </p>
<p>Di antara tujuan anjuran untuk mengawinkan pria dan perempuan yang tidak beristri atau bersuami adalah untuk memelihara moral umat dan bersihnya masyarakat dari tindakan-tidakan asusila. Bila pria atau perempuan belum dapat nikah tidak menjaga dirinya dan memelihara kebersihan masyarakatnya, tentulah tujuan tersebut tidak akan tercapai. Sebagai suatu cara untuk memelihara diri agar jangan jatuh ke jurang maksiat, Nabi Besar memberikan petunjuk dengan sabdanya:</p>
<p>Hai para pemuda! Siapa di antara kamu sanggup nikah, hendaklah ia nikah karena pernikahan itu lebih menjamin terpeliharanya mata dan terpeliharanya kehormatan. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, maka hendaklah berpuasa, karena berpuasa itu mengurangi naluri seksnya. (Riwayat shahihain dari Ibnu Mas&#8217;ud)</p>
<p>Di masa dahulu kesempatan melakukan tindakan asusila amat sempit sekali karena masyarakat sangat ketat menjaga kemungkinan terjadinya dan bila diketahui hukuman yang ditimpakan kepada pelakunya amat berat sekali. Oleh sebab itu, perbuatan asusila itu jarang terjadi.</p>
<p>Berlainan dengan masa sekarang di mana masyarakat terutama di kota-kota besar tidak begitu mengindahkan masalah ini bahkan di daerah-daerah tertentu dilokalisir sehingga banyak pemuda-pemuda kita yang kurang kuat imannya jatuh terperosok ke dunia hitam itu. Oleh sebab itu dianjurkan kepada pemuda-pemuda bahkan kepada semua pria yang tidak beristri dan perempuan yang tidak bersuami yang patuh dan taat kepada ajaran agamanya, agar benar-benar menjaga kebersihan diri dan moralnya dari perbuatan terkutuk itu, terutama dengan berpuasa sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah dan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan dan berbagai macam urusan yang banyak faedahnya atau melakukan berbagai macam hobby yang disenangi seperti olahraga, musik dan sebagainya. </p>
<p>Kemudian Allah menyuruh kepada para pemilik hamba sahaya agar memberikan kesempatan kepada budak mereka yang ingin membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus dirinya dengan harta, bila ternyata budak itu bermaksud baik dan mempunyai sifat jujur dan amanah. Biasanya pembayaran itu dilakukan berangsur-angsur sehingga apabila jumlah pembayaran yang ditentukan sudah lunas maka budak tersebut menjadi merdeka. Ini adalah suatu cara yang disyariatkan Islam untuk melenyapkan perbudakan, sebab pada dasarnya Islam tidak mengakui perbudakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan bertentangan pula dengan harga diri seseorang yang dalam Islam sangat dihormati, karena semua Bani Adam telah dimuliakan oleh Allah, sebagai tersebut dalam firman-Nya.</p>
<p>Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (al-Isra&#8217;/17: 70)</p>
<p>Tetapi karena pada masa Rasulullah itu semua bangsa mempraktikkan perbudakan, maka diakuinya perbudakan itu oleh Nabi Muhammad sebagai hukum darurat dan sementara. Karena musuh-musuh kaum Muslimin bila mereka mengalahkan kaum Muslimin dalam suatu peperangan mereka menganggap tawanan-tawanan yang terdiri dari kaum Muslimin itu dianggap sebagai budak pula. Karena perbudakan itu bertentangan dengan pokok ajaran Islam, maka dimulailah memberantasnya, di antaranya seperti yang tersebut dalam ayat ini. Banyak lagi cara untuk memerdekakan budak itu, seperti kaffarat bersetubuh di bulan puasa atau di waktu ihram, kaffarat membunuh, kaffarat melanggar sumpah dan sebagainya.</p>
<p>Di samping seruan kepada pemilik hamba sahaya agar memberikan kesempatan kepada budak mereka untuk memerdekakan dirinya, diserukan pula kepada kaum Muslimin supaya membantu para budak itu dengan harta benda baik berupa zakat atau sedekah agar budak itu dalam waktu yang relatif singkat sudah dapat memerdekakan dirinya. Sebenarnya adanya perbudakan dan banyaknya budak itu dalam suatu masyarakat membawa kepada merosotnya moral masyarakat itu sendiri, dan membawa kepada terjadinya pelacuran, karena budak merasa dirinya jauh lebih rendah dari orang yang merdeka. Dengan demikian mereka tidak menganggap mempertahankan moral yang tinggi sebagai kewajiban mereka dan dengan mudah mereka menjadi permainan orang-orang merdeka dan menjadi sarana bagi pemuasan hawa nafsu. </p>
<p>Selanjutnya sebagai satu cara untuk memberantas kemaksiatan dan memelihara masyarakat agar tetap bersih dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan moral dan susila, Allah melarang para pemilik hamba sahaya perempuan memaksa mereka melakukan perbuatan pelacuran, sedang budak-budak itu sendiri tidak ingin melakukannya dan ingin supaya tetap bersih dan terpelihara dari perbuatan kotor itu. Banyak di antara pemilik budak perempuan yang karena tamak akan harta benda dan kekayaan mereka tidak segan-segan dan merasa tidak malu sedikit pun melacurkan budak-budak itu kepada siapa saja yang mau membayar. Bila terjadi pemaksaan seperti ini sesudah turunnya ayat ini maka berdosa besarlah para pemilik budak itu. Sedang para budak yang dilacurkan itu tidak bersalah karena mereka harus melaksanakan perintah para pemilik mereka. Mudah-mudahan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun mengampuni mereka, karena mereka melakukan perbuatan maksiat itu bukan atas kemauan mereka sendiri, tetapi karena dipaksa oleh pemilik mereka.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud dari Jabir ra bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul mempunyai dua amat (hamba sahaya perempuan), yaitu Musaikah dan Umaimah. Lalu dia memaksanya untuk melacur, kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah, maka turunlah ayat ini: </p>
<p>Demikian peraturan yang diturunkan Allah untuk keharmonisan dan kebersihan suatu masyarakat, bila dijalankan dengan sebaik-baiknya akan terciptalah masyarakat yang bersih, aman dan bahagia jauh dari hal-hal yang membahayakannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 34</h3>
<p>Allah telah menurunkan ayat-ayat-Nya yang jelas baik yang menyangkut hukum yang sangat berguna bagi kebahagiaan masyarakat manusia. Begitu pula Allah telah menurunkan kisah-kisah yang dapat menjadi contoh dan teladan yaitu kisah rasul-rasul dan umat-umat yang terdahulu seperti kisah Nabi Yusuf, kisah Maryam dan sebagainya, selanjutnya tergantung kepada manusia itu sendiri apakah ia akan mengambil manfaat dari syariat dan kisah-kisah itu ataukah dia akan tetap berpaling tidak mengindahkan ajaran dan contoh teladan itu. Tetapi ajaran dan kisah-kisah itu tentu sangat berguna dan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.</p>
<p>Ali bin Abi thalib berkata tentang Al-Qur&#8217;an, &#8220;Di dalamnya terdapat hukum-hukum (yang dapat dijadikan pedoman) kisah-kisah umat dahulu, dan berita tentang yang akan terjadi kemudian. Dialah yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) bukan kata-kata yang tidak berguna (sekadar untuk main-main saja). Siapa saja mengabaikannya meski bagaimana pun kuatnya akan dipatahkan oleh Allah. Siapa saja yang mencari petunjuk (dengan berpedoman) kepada selain Al-Qur&#8217;an, Allah akan menyesatkannya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 35</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi dan semua yang ada pada keduanya. Dengan cahaya itu segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, tak ada yang menyimpang dari jalan yang telah ditentukan baginya, ibarat orang yang berjalan di tengah malam yang gelap gulita dan di tangannya ada sebuah lampu yang terang benderang yang menerangi apa yang ada di sekitarnya. Tentu dia akan aman dalam perjalanannya tidak akan tersesat atau terperosok ke jurang yang dalam, walau bagaimana pun banyak liku-liku yang dilaluinya. Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai lampu, tentu akan banyak menemui kesulitan. Meraba-raba kesana kemari berjalan tertegun-tegun karena tidak tahu arah, maka pastilah orang ini akan tersesat atau mendapat kecelakaan karena tidak melihat alam sekitarnya. Amat besarlah faedahnya cahaya yang diberikan Allah kepada alam semesta ini. Cahaya yang dikaruniakan Allah itu bukan sembarang cahaya. Ia adalah cahaya yang istimewa yang tidak ada bandingannya, karena cahaya itu bukan saja menerangi alam lahiriah, tetapi menerangi batiniah. </p>
<p>Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh manusia pada waktu diturunkannya ayat ini, yaitu dengan cahaya lampu yang dianggap pada masa itu merupakan cahaya yang paling cemerlang. Mungkin bagi kita sekarang ini cahaya lampu itu kurang artinya bila dibandingkan dengan cahaya lampu listrik seribu watt apalagi cahaya yang dapat menembus lapisan-lapisan yang ada di depannya. Sebenarnya cahaya yang menjadi sumber kekuatan bagi alam semesta tidak dapat diserupakan dengan cahaya apa pun yang dapat ditemukan manusia seperti cahaya laser umpamanya. </p>
<p>Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya dengan cahaya sebuah lampu yang terletak pada suatu tempat di dinding rumah yang sengaja dibuat untuk meletakkan lampu sehingga cahayanya amat terang sekali, berlainan dengan lampu yang diletakkan di tengah rumah, maka cahayanya akan berkurang karena luasnya ruangan yang menyerap cahayanya. Sumbu lampu itu berada dalam kaca yang bersih dan jernih. Kaca itu sendiri sudah cemerlang seperti kristal. Minyaknya diperas dari buah zaitun yang ditanam di atas bukit, selalu disinari cahaya matahari pagi dan petang. Maka pada ayat ini diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak tumbuh di timur dan tidak pula di barat, karena kalau pohon itu tumbuh di sebelah timur, mungkin pada sorenya tidak ditimpa cahaya matahari lagi, demikian pula sebaliknya. Minyak lampu itu sendiri karena jernihnya dan baik mutunya hampir-hampir bercahaya, walaupun belum disentuh api, apalagi kalau sudah menyala tentulah cahaya yang ditimbulkannya akan berlipat ganda. </p>
<p>Di samping cahaya lampu itu sendiri yang amat cemerlang, cahaya itu juga dipantulkan oleh tempat letaknya, maka cahaya yang dipantulkan lampu itu menjadi berlipat ganda. Demikianlah perumpamaan bagi cahaya Allah meskipun amat jauh perbedaan antara cahaya Allah dan cahaya yang dijadikan perumpamaan.</p>
<p>Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapat cahaya itu sehingga dia selalu menempuh jalan yang lurus yang menyampaikannya kepada cita-citanya yang baik dan selalu bertindak bijaksana dalam menghadapi berbagai macam persoalan dalam hidupnya. Berbahagialah orang yang mendapat pancaran Nur Ilahi itu, karena dia telah mempunyai pedoman yang tepat yang tidak akan membawanya kepada hal-hal yang tidak benar dan menyesatkan. Untuk memperoleh Nur Ilahi itu seseorang harus benar-benar beriman dan taat kepada perintah Allah serta menjauhi segala perbuatan maksiat. </p>
<p>Imam Syafi&#8217;i pernah bertanya kepada gurunya yang bernama Waki&#8217; tentang hafalannya yang tidak pernah mantap dan cepat lupa, maka gurunya itu menasehatinya supaya ia menjauhi segala perbuatan maksiat, karena ilmu itu adalah Nur Ilahi, dan Nur Ilahi itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Seperti dalam syair di bawah ini: </p>
<p>Aku mengadu kepada Waki&#8217; tentang buruknya hafalanku, </p>
<p>Lalu ia menasihatiku agar meninggalkan kemaksiatan.</p>
<p>Ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya, </p>
<p>Dan Cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.</p>
<p>Yahya bin Salam pernah berkata, &#8220;Hati seorang mukmin dapat mengetahui mana yang benar sebelum diterangkan kepadanya, karena hatinya itu selalu sesuai dengan kebenaran.&#8221; Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw. </p>
<p>Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan Nur Allah. (Riwayat al-Bukhari dalam kitab at-Tarikh al-Kabir dari Abu Sa&#8217;id al-Khudri)</p>
<p>Tentu saja yang dimaksud dengan orang mukmin di sini ialah orang-orang yang benar beriman dan bertakwa kepada Allah dengan sepenuhnya.</p>
<p>Ibnu &#8216;Abbas berkata tentang ayat ini, &#8220;Inilah contoh bagi Nur Allah dan petunjuk-Nya yang berada dalam hati orang mukmin. Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, dan bila disentuh oleh api bertambah cemerlang cahayanya, maka seperti itu pula hati orang mukmin, dia selalu mendapat petunjuk dalam tindakannya sebelum dia diberi ilmu. Apabila dia diberi ilmu, akan bertambahlah keyakinannya, dan bertambah pula cahaya dalam hatinya. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia tentang Nur-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 36</h3>
<p>Di antara orang-orang yang akan diberi Allah pancaran Nur Ilahi itu ialah orang-orang yang selalu menyebut nama Allah di masjid-masjid pada pagi dan petang hari serta bertasbih menyucikan-Nya. Mereka tidak lalai mengingat Allah dan mengerjakan salat walaupun melakukan urusan perniagaan dan jual beli, mereka tidak enggan mengeluarkan zakat karena tamak mengumpulkan harta kekayaan, mereka selalu ingat akan hari akhirat yang karena dahsyatnya banyak hati menjadi guncang dan mata menjadi terbelalak. Ini bukan berarti mereka mengabaikan sama sekali urusan dunia dan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berzikir dan bertasbih, karena hal demikian tidak disukai oleh Nabi Muhammad dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.</p>
<p>Nabi Muhammad telah bersabda:</p>
<p>Berusahalah seperti usaha orang yang mengira bahwa ia tidak akan mati selama-lamanya dan waspadalah seperti kewaspadaan orang yang takut akan mati besok. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu Auz)</p>
<p>Urusan duniawi dan urusan ukhrawi keduanya sama penting dalam Islam. Seorang muslim harus pandai menciptakan keseimbangan antara kedua urusan itu, jangan sampai salah satu di antara keduanya dikalahkan oleh yang lain. Melalaikan urusan akhirat karena mementingkan urusan dunia adalah terlarang, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (al-Jumu&#8217;ah/62: 9)</p>
<p>Tetapi apabila kewajiban-kewajiban terhadap agama telah ditunaikan dengan sebaik-baiknya, seorang muslim diperintahkan untuk kembali mengurus urusan dunianya dengan ketentuan tidak lupa mengingat Allah agar dia jangan melanggar perintah-Nya atau mengerjakan larangan-Nya sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (al-Jumu&#8217;ah/62: 10)</p>
<p>Sebaliknya melalaikan urusan dunia dan hanya mementingkan urusan akhirat juga tercela, karena orang muslim diperintahkan Allah supaya berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhannya, dan kebutuhan keluarganya. Orang-orang yang berusaha menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi itulah orang-orang yang diridai oleh Allah. Dia bekerja untuk dunianya karena taat dan patuh kepada perintah dan petunjuk-Nya. Dia beramal untuk akhirat karena taat dan patuh kepada perintah serta petunjuk-Nya, sebagai persiapan untuk menghadapi hari akhirat yang amat dahsyat dan penuh kesulitan, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.&#8221; Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. (al-Insan/76: 10-12)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 37</h3>
<p>Di antara orang-orang yang akan diberi Allah pancaran Nur Ilahi itu ialah orang-orang yang selalu menyebut nama Allah di masjid-masjid pada pagi dan petang hari serta bertasbih menyucikan-Nya. Mereka tidak lalai mengingat Allah dan mengerjakan salat walaupun melakukan urusan perniagaan dan jual beli, mereka tidak enggan mengeluarkan zakat karena tamak mengumpulkan harta kekayaan, mereka selalu ingat akan hari akhirat yang karena dahsyatnya banyak hati menjadi guncang dan mata menjadi terbelalak. Ini bukan berarti mereka mengabaikan sama sekali urusan dunia dan menghabiskan waktu dan tenaganya untuk berzikir dan bertasbih, karena hal demikian tidak disukai oleh Nabi Muhammad dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.</p>
<p>Nabi Muhammad telah bersabda:</p>
<p>Berusahalah seperti usaha orang yang mengira bahwa ia tidak akan mati selama-lamanya dan waspadalah seperti kewaspadaan orang yang takut akan mati besok. (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu Auz)</p>
<p>Urusan duniawi dan urusan ukhrawi keduanya sama penting dalam Islam. Seorang muslim harus pandai menciptakan keseimbangan antara kedua urusan itu, jangan sampai salah satu di antara keduanya dikalahkan oleh yang lain. Melalaikan urusan akhirat karena mementingkan urusan dunia adalah terlarang, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (al-Jumu&#8217;ah/62: 9)</p>
<p>Tetapi apabila kewajiban-kewajiban terhadap agama telah ditunaikan dengan sebaik-baiknya, seorang muslim diperintahkan untuk kembali mengurus urusan dunianya dengan ketentuan tidak lupa mengingat Allah agar dia jangan melanggar perintah-Nya atau mengerjakan larangan-Nya sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (al-Jumu&#8217;ah/62: 10)</p>
<p>Sebaliknya melalaikan urusan dunia dan hanya mementingkan urusan akhirat juga tercela, karena orang muslim diperintahkan Allah supaya berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhannya, dan kebutuhan keluarganya. Orang-orang yang berusaha menyeimbangkan antara urusan duniawi dan urusan ukhrawi itulah orang-orang yang diridai oleh Allah. Dia bekerja untuk dunianya karena taat dan patuh kepada perintah dan petunjuk-Nya. Dia beramal untuk akhirat karena taat dan patuh kepada perintah serta petunjuk-Nya, sebagai persiapan untuk menghadapi hari akhirat yang amat dahsyat dan penuh kesulitan, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.&#8221; Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. (al-Insan/76: 10-12)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 38</h3>
<p>Orang-orang yang demikian sifatnya, selalu bertakwa dan bertawakkal kepada Allah, mereka itu diridai Allah dan mendapat pancaran Nur Ilahi dalam hidupnya karena mereka selalu berpedoman kepada ajaran-Nya dan banyak melakukan perbuatan yang baik, mengerjakan amal saleh baik yang wajib maupun yang sunnah. Mereka akan mendapat ganjaran berlipat ganda dari Allah sesuai dengan firman-Nya:</p>
<p>Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi). (al-An&#8217;am/6: 160)</p>
<p>Rasulullah menerangkan janji Allah kepada orang yang saleh dalam sebuah hadis qudsi. </p>
<p>Aku (Allah) menyediakan bagi hamba-hambaKu yang saleh nikmat-nikmat yang belum dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. (Riwayat asy-Syaikhan, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)</p>
<p>Demikianlah Allah memberi balasan kepada hamba-Nya yang saleh yang beriman dan bertakwa dengan nikmat serta karunia yang tak terhingga.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 39</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memberikan perumpamaan bagi amal-amal orang kafir yang tampaknya baik dan besar manfaatnya seperti mendirikan panti asuhan bagi anak-anak yatim, rumah sakit atau poliklinik untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu, menolong fakir miskin dengan memberikan pakaian dan makanan, mendirikan perkumpulan sosial atau yayasan, dan amal-amal sosial lainnya yang sangat dianjurkan oleh agama Islam dan dipandang sebagai amal yang besar pahalanya. Amal-amal orang-orang kafir itu meskipun besar faedahnya bagi masyarakat, tetapi amal mereka itu tidak ada nilainya di sisi Allah, karena syarat utama bagi diterimanya suatu amal ialah iman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, apalagi menganggap makhluk-Nya baik yang bernyawa ataupun benda mati sebagai Tuhan yang diharapkan rahmat dan kasih sayangnya atau yang ditakuti murkanya. </p>
<p>Allah menyerupakan amal-amal orang-orang kafir itu sebagai fatamorgana di padang pasir, tampak dari kejauhan seperti air jernih yang dapat melepaskan dahaga dan menyegarkan tubuh yang telah ditimpa terik matahari. Dengan bergegas-gegas orang yang melihatnya berjalan menuju arah fatamorgana itu, tetapi tatkala mereka sampai di sana, semua harapan itu sirna berganti dengan rasa kecewa dan putus asa karena yang dilihatnya seperti air jernih itu tidak lain hanyalah bayangan belaka. Mereka tidak hanya merasa kecewa dan putus asa, karena tidak mendapat minuman yang segar, tetapi mereka juga dihantui oleh nasib yang buruk karena di hadapan mereka telah menunggu penderitaan yang tidak tertangguhkan yaitu haus dan dahaga akibat ditimpa panasnya matahari sedang yang kelihatan di sekeliling mereka hanya pasir belaka yang luas tidak bertepi.</p>
<p>Demikian halnya orang-orang kafir di akhirat nanti, mereka mengira bahwa amal mereka di dunia akan menolong dan melepaskan mereka dari kedahsyatan dan kesulitan di padang mahsyar, tetapi nyatanya semua itu tak ada gunanya sama sekali karena tidak dilandasi oleh iman, keikhlasan, dan kejujuran. Bukan saja mereka dikecewakan oleh harapan-harapan palsu, tetapi di hadapan mereka telah tersedia pula balasan atas segala dosa dan keingkaran mereka, yaitu neraka Jahanam yang amat panas dan menyala-nyala. Allah telah memberitahukan kepada mereka perhitungan amal mereka dan Malaikat Zabaniah telah siap sedia menggiring mereka ke neraka. Allah berfirman:</p>
<p>Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.(al-Furqan/25: 23)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 40</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memberi perumpamaan bagi amal orang-orang kafir dengan kegelapan yang hitam kelam yang berlapis-lapis sebagaimana kelamnya suasana di laut yang dalam di malam hari di mana ombak sambung-menyambung dengan hebatnya menambah kegelapan dalam laut itu, ditambah lagi dengan awan tebal yang hitam menutupi langit sehingga tidak ada sekelumit cahaya pun yang nampak. Semua bintang yang kecil maupun yang besar tidak dapat menampakkan dirinya ke permukaan laut itu karena dihalangi oleh awan tebal dan hitam itu. Tidak ada satu pun yang dapat dilihat ketika itu, sehingga apabila seseorang mengeluarkan tangannya di hadapan mukanya tangan itu tidak nampak sama sekali meskipun sudah dekat benar ke matanya. Demikianlah hitam kelamnya amal-amal orang kafir itu. Jangankan amal itu akan dapat menolong dalam menghadapi bahaya dan kesulitan di akhirat yang amat dahsyat itu, melihat amal itu saja pun mustahil, karena semua amal yang dikerjakannya tidak diterima dan tidak diridai oleh Allah karena akidahnya yang sesat dan ucapan-ucapan yang mengandung kesombongan atau tindakan mereka yang zalim.</p>
<p>Al-hasan al-Basri berkata tentang hal ini, &#8220;Orang kafir berada dalam tiga kegelapan, yaitu kegelapan akidah, kegelapan ucapan dan kegelapan amal perbuatan.&#8221; Sedangkan Ibnu &#8216;Abbas menyatakan, &#8220;Kegelapan hati, penglihatan dan pendengarannya.&#8221;</p>
<p>Demikianlah keadaan orang-orang kafir, mereka berada dalam kegelapan yang pekat sekali, karena mereka sedikit pun tidak mendapat pancaran Nur Ilahi. Allah tidak akan memberikan kepada mereka pancaran Nur-Nya, karena itulah mereka selalu berada dalam kegelapan. Tidak ada pedoman yang dapat dijadikan pedoman karena memang mereka sudah sesat sangat jauh sekali tersesat dan tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk kembali ke jalan yang benar sebagaimana firman-Nya:</p>
<p>Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim/14: 27)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 41</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan pikiran Nabi Muhammad pada khususnya dan pikiran manusia pada umumnya untuk memperhatikan alam, baik di langit maupun di bumi agar dia menyadari bahwa di samping manusia sebagai makhluk Allah, ada bermacam-macam makhluk-Nya di alam ini. Bila diperhatikan pasti akan membawa kepada keyakinan akan kekuasaan Khaliknya dan kebijaksanaan-Nya mengatur segala sesuatu dengan rapi dan seimbang. Semua makhluk itu, walaupun tidak disadari oleh manusia tunduk patuh dan bertasbih menyucikan-Nya menurut segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Kalaulah ada sebuah bintang saja keluar dari garis edarnya dan tidak mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan Allah, tentu akan terjadi benturan di antara bintang-bintang yang mengakibatkan rusaknya susunan alam atau tata surya yang harmonis dan hancurlah sebagian dari bintang-bintang itu dan tidak mustahil bumi kita akan terkena malapetaka besar sebagai dampaknya. Akan tetapi, ternyata tidak pernah ada kejadian seperti itu dan semua makhluk yakin bahwa Allah senantiasa menjaga semua tata tertib yang telah ditetapkan-Nya. </p>
<p>Allah menyuruh manusia memperhatikan setiap makhluk-Nya yang kecil lagi lemah, yaitu burung yang dapat terbang melayang di udara dan kadang-kadang kelihatan seakan-akan dia berhenti sejenak di awang-awang tidak terpengaruh oleh gravitasi bumi. Firman Allah:</p>
<p>Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman. (an-Nahl/16: 79)</p>
<p>Setiap barang yang mempunyai berat pasti akan jatuh ke bumi. Tetapi burung-burung itu sekalipun demikian tetap bermain-main di udara dengan aman tanpa ada sedikit pun kekhawatiran akan jatuh ke bumi. Hal ini karena Allah telah mengatur bentuk burung-burung itu yang dilengkapi dengan sayap yang dapat dikembangkan dan dikatupkan. Dengan bentuk dan susunan seperti itu, burung dapat mengatasi gravitasi bumi terhadap sesuatu yang berbobot dan mempunyai berat. Kita tak dapat melihat bahwa burung-burung itu sedang menikmati karunia Allah baginya, bersyukur, dan bertasbih kepada Allah Penciptanya. </p>
<p>Bertasbih bagi makhluk selain manusia bukanlah seperti manusia bertasbih yaitu berzikir dengan menyebut nama Allah tetapi makhluk-makhluk itu ada cara-cara tertentu yang tidak dapat kita ketahui. Allah-lah Yang Maha Mengetahui bagaimana cara mereka bertasbih dan salat. Bila kita sadari bahwa semua makhluk Allah mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya bertasbih menyucikan nama-Nya dan mensyukuri nikmat dan karunia-Nya, sungguh amat mengherankan mengapa di antara manusia yang telah dianugerahi akal pikiran dan perasaan, masih ingkar dan durhaka kepada-Nya. Masih ada di antara mereka yang menyembah selain-Nya dan menyekutukan-Nya dengan berhala atau benda-benda ciptaan-Nya. Mereka tidak pernah bertasbih kepada-Nya, menyucikan-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya.</p>
<p>Alangkah bodohnya orang-orang seperti itu padahal makhluk yang tidak berakal selalu bertasbih menyucikan nama Allah. Pada suatu ketika Nabi muhammad saw dengan rahmat Tuhannya mendengar batu kerikil di bawah telapak kakinya bertasbih kepada Allah. Pernah pula ketika Nabi Daud membaca Kitab Zabur dengan suara yang merdu Allah memerintahkan kepada gunung-gunung dan burung-burung supaya bertasbih bersama Nabi Dawud menyucikan nama-Nya seperti tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), &#8220;Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud,&#8221; dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (Saba&#8217;/34: 10)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 42</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang mempunyai langit dan bumi, Dialah yang mengatur dan berkuasa atas segala yang ada di antara keduanya. Kepada-Nyalah nanti semua makhluk ciptaan-Nya akan kembali. Oleh sebab itu, hendaklah manusia tunduk dan patuh kepada-Nya dan selalu bersyukur memuji-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya. Hendaklah manusia memikirkan dan merenungkan kebesaran dan kekuasaan-Nya yang dapat dibuktikan dengan memperhatikan dan menganalisa ciptaan-Nya di langit dan di bumi.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 43</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan pula perhatian Nabi saw dan manusia agar memperhatikan dan merenungkan bagaimana Dia menghalau awan dengan kekuasaan-Nya dari satu tempat ke tempat lain kemudian mengumpulkan awan-awan yang berarak itu pada suatu daerah, sehingga terjadilah tumpukan awan yang berat berwarna hitam, seakan-akan awan itu gunung-gunung besar yang berjalan di angkasa. Dari awan ini turunlah hujan lebat di daerah itu dan kadang-kadang hujan itu bercampur dengan es. Bagi yang berada di bumi ini jarang sekali melihat awan tebal yang berarak seperti gunung, tetapi bila kita berada dalam pesawat akan terlihat di bawah pesawat yang kita tumpangi awan-awan yang bergerak perlahan itu memang seperti gunung-gunung yang menjulang di sana sini dan bila awan itu menurunkan hujan nampak dengan jelas bagaimana air itu turun ke bumi. Hujan yang lebat itu memberi rahmat dan keuntungan yang besar bagi manusia, karena sawah dan ladang yang sudah kering akibat musim kemarau, menjadi subur kembali dan berbagai macam tanaman tumbuh dengan subur sehingga manusia dapat memetik hasilnya dengan senang dan gembira.</p>
<p>Tetapi ada pula hujan yang lebat dan terus-menerus turun sehingga menyebabkan terjadinya banjir di mana-mana. Sawah ladang terendam bahkan kampung seluruhnya terendam, maka hujan lebat itu menjadi malapetaka bagi manusia dan bukan sebagai rahmat yang menguntungkan. Semua itu terjadi adalah menurut iradah dan kehendak-Nya. Sampai sekarang belum ada satu ilmu pun yang dapat mengatur perputaran angin dan perjalanan awan sehingga bisa mencegah banjir dan malapetaka itu. Di mana-mana terjadi topan dan hujan lebat yang membahayakan tetapi para ahli ilmu pengetahuan tidak dapat mengatasinya. Semua ini menunjukkan kekuasaan Allah, melimpahkan rahmat dan nikmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menimpakan musibah dan malapetaka kepada siapa yang dikehendaki-Nya pula.</p>
<p>Menurut para ilmuwan sains dan teknologi, persyaratan bagaimana hujan dapat turun, dimulai dari adanya awan yang membawa uap air. Awan ini disebut dengan awan cumulus. Gumpalan-gumpalan awan cumulus yang semula letaknya terpencar-pencar, akan &#8220;dikumpulkan&#8221; oleh angin. Pada saat awan sudah menyatu, akan terjadi gerakan angin yang mengarah ke atas dan membawa kumpulan awan ini, yang sekarang disebut awan cumulus nimbus, ke atas. Gerakan ke atas ini sampai dengan ketinggian (dan suhu) yang ideal, di mana uap air akan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat kristal es turun ke bumi, dan suhu berubah menjadi lebih tinggi, mereka akan berubah menjadi butiran air hujan. </p>
<p>Di antara keanehan alam yang dapat dilihat manusia ialah terjadinya kilat yang sambung menyambung pada waktu langit mendung dan sebelum hujan turun. Meskipun ahli ilmu pengetahuan dapat menganalisa sebab musabab kejadian itu, tetapi mereka tidak dapat menguasai dan mengendalikannya. Bukankah ini suatu bukti bagi kekuasaan Allah di alam semesta ini?</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 44</h3>
<p>Di antara hal-hal yang menunjukkan kekuasaan Allah ialah beralihnya siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Para ahli falak, hanya dapat menganalisa sebab terjadinya malam di suatu daerah demikian pula siang. Hal ini berpangkal dari perjalanan matahari dan perputaran bumi. Tetapi mereka tidak mampu sama sekali untuk mengubah ketentuan dan ketetapan Allah. Mereka tidak dapat memperpanjang atau memperpendek siang atau malam di suatu daerah karena perputaran malam dan siang itu suatu ketentuan dari yang Mahakuasa. Semua ini seharusnya menjadi perhatian dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir bahwa manusia sebagai makhluk Allah, dengan ilmunya yang sedikit hanya dapat menganalisa kejadian-kejadian dalam alam ini tetapi mereka tidak dapat menguasainya karena kekuasaan yang sebenarnya ada di tangan Allah.</p>
<p>Menurut saintis, penggantian siang ke malam secara optis (penglihatan) adalah pergeseran dari warna dari cahaya yang dilenturkan (diffracted) dari mula-mula cahaya kuning, ke jingga ke merah (menjelang waktu salat Isya) sampai ke infra merah pada waktu salat Isya. Setelah itu semakin larut malam, maka bumi dihujani oleh gelombang yang lebih pendek yang bisa membahayakan manusia. </p>
<p>Efek dari berbagai gelombang dari sinar matahari dengan panjang gelombang yang makin pendek belum diketahui secara mendalam. Tetapi yang jelas bahwa gelombang yang sangat pendek, kearah gelombang X atau gelombang rontgen cukup berbahaya bagi tubuh manusia apalagi jika dayanya tinggi. Oleh karena itu dianjurkan manusia untuk tinggal di rumah dan beristirahat sesuai dengan tuntunan Al-Qur&#8217;an.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 45</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia supaya memperhatikan hewan-hewan yang bermacam-macam jenis dan bentuknya. Dia telah menciptakan semua jenis hewan itu dari air. Ternyata memang air itulah yang menjadi pokok kehidupan hewan karena sebagian besar dari unsur-unsur yang terkandung dalam tubuhnya adalah air. Hewan tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Di antara binatang-binatang itu ada yang melata, bergerak dan berjalan dengan perutnya seperti ular. Di antaranya ada yang berjalan dengan dua kaki dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki, bahkan kita lihat pula di antara binatang-binatang itu yang banyak kakinya, tetapi tidak disebutkan dalam ayat ini karena Allah menerangkan bahwa Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya bukan saja binatang-binatang yang berkaki banyak tetapi mencakup semua binatang dengan berbagai macam bentuk. Masing-masing binatang itu diberinya naluri, anggota tubuh, dan alat-alat pertahanan agar ia dapat menjaga kelestarian hidupnya. Ahli-ahli ilmu hewan merasa kagum memperhatikan susunan anggota tubuh masing-masing hewan itu sehingga ia dapat bertahan atau menghindarkan diri dari musuhnya yang hendak membinasakannya. Hal itu semua menunjukkan kekuasaan Allah, ketelitian dan kekukuhan ciptaan-Nya. Manusia bagaimana pun tinggi ilmu dan teknologinya tidak dapat menciptakan sesuatu seperti ciptaan Allah, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:</p>
<p>(Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (an- Naml/27: 88)</p>
<p>Menurut ilmu sains dan teknologi, kaitan antara air dan kehidupan dapat diketahui di bawah ini: </p>
<p>1.Air ditengarai sangat dekat dengan makhluk hidup, karena, khususnya untuk kebanyakan hewan, berasal dari cairan sperma. Diindikasikan bahwa keanekaragaman binatang &#8220;datangnya&#8221; dari air tertentu yang khusus (sperma) dan menghasilkan yang sesuai dengan ciri masing-masing binatang yang dicontohkan dalam ayat tersebut.</p>
<p>2.Pengertian kedua mengenai air sebagai asal muasal kehidupan, diduga karena air merupakan bagian yang penting agar makhluk dapat hidup. Pada kenyataannya, memang sebagian besar bagian tubuh makhluk hidup terdiri atas air. Misal saja pada manusia, 70% bagian berat tubuhnya terdiri dari air. Manusia tidak dapat bertahan lama apabila 20% saja dari persediaan air yang ada di tubuhnya hilang. Akan tetapi, manusia masih dapat bertahan hidup selama 60 hari tanpa makan. Sedangkan mereka akan mati dalam waktu 3-10 hari tanpa minum. Juga diketahui bahwa air merupakan bahan pokok dalam pembentukan darah, cairan limpa, kencing, air mata, cairan susu dan semua organ lain yang ada di dalam tubuh manusia.</p>
<p>Bahwa semua kehidupan dimulai dari air. Air di sini lebih tepat bila diartikan sebagai laut. Teori modern tentang asal mula kehidupan belum secara mantap disetujui sampai sekitar dua atau tiga abad yang lalu. Sebelum itu, teori yang mengemuka adalah suatu konsep yang dikenal dengan nama &#8220;spontaneous generation&#8221;. Dalam konsep ini dipercaya bahwa makhluk hidup itu ada dengan sendirinya dan muncul dari ketiadaan. Teori ini kemudian ditentang oleh beberapa ahli di sekitar tahun 1850-an, antara lain oleh Louis Pasteur.</p>
<p>Dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh Huxley, dan sampai penelitian masa kini, teori lain ditawarkan sebagai alternatif. Teori ini percaya bahwa kehidupan muncul dari rantai reaksi kimia yang panjang dan komplek. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari kedalaman lautan. Dugaan bahwa di lautlah mulainya kehidupan disebabkan karena kondisi atmosfer pada saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni makhluk hidup. Radiasi ultraviolet yang terlalu kuat akan mematikan setiap makhluk hidup yang ada di daratan. Diperkirakan, kehidupan baru bergerak menuju daratan pada 425 juta tahun yang lalu, saat lapisan ozon mulai terbentuk dan melindungi permukaan bumi dari radiasi ultraviolet.</p>
<p>Protoplasma adalah dasar dari semua makhluk untuk dapat hidup. Sedangkan kerja dari protoplasma dalam menunjang kehidupan sangat bergantung pada kehadiran air. Kembali air menjadi segalanya.</p>
<p>Dari uraian ini peran air bagi kehidupan sangat jelas, dari mulai adanya makhluk hidup di bumi (berasal dari kedalaman laut), bagi kelangsungan hidupnya (air diperlukan untuk pembentukan organ dan menjalankan fungsi organ) dan memulai kehidupan (terutama bagi kelompok hewan “ air tertentu yang khusus “ sperma).</p>
<p>Di luar protoplasma, yang menjadi dasar terjadinya kehidupan, sebagian besar bagian tubuh mengandung air. Indikasi ini menyatakan bahwa walaupun hidup di daratan, semuanya masih berhubungan dengan tempat dimulainya kehidupan, yaitu lautan. Pada binatang bertulang belakang (binatang menyusui, burung, dan lain-lain), terlihat kaitannya dengan laut pada beberapa tahap perkembangan janin (embriologi). Beberapa organ sebagaimana dimiliki oleh ikan dimiliki oleh mereka.</p>
<p>Uraian di atas tampaknya menyetujui teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Akan tetapi, perlu diberikan catatan di sini, bahwa Al-Qur&#8217;an tidak memberikan peluang khusus untuk mendukung teori evolusi. Walaupun semua ayat di atas memberikan indikasi yang tidak meragukan bahwa Allah menciptakan semua makhluk hidup dari air, masih banyak ayat lainnya yang menekankan akan Kekuasaan-Nya terhadap semua yang ada di alam semesta, seperti, antara lain, dua penggalan ayat 47 Surah Ali &#8216;Imran/3 (&#8221; &#8230;&#8230;.. Ia hanya berkata &#8220;jadilah&#8221; maka &#8230;..&#8221; ) dan Surah Fussilat/41:39.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 46</h3>
<p>Semua yang tersebut pada ayat-ayat sebelum ini menunjukkan kekuasaan Allah dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan dalam segala bidang terbuka lapangan yang seluas-luasnya untuk meneliti dan menyelidiki berbagai macam ciptaan Allah, dan mengagumi bagaimana kukuh dan sempurnanya ciptaan itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat bukti-bukti yang nyata tentang adanya Maha Pencipta, namun banyak juga di antara manusia walaupun ia mengagumi semua ciptaan Allah itu, tidak mengambil manfaat dari penelitiannya kecuali sekadar penelitian saja dan tidak membawanya kepada keimanan. Memang demikianlah halnya, karena Allah hanya menunjukkan siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 47</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan ciri-ciri orang munafik, mereka selalu mengatakan kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka selalu mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan tidak pernah patuh dan taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Sebenarnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Iman mereka hanya di mulut saja, tetapi hati mereka tetap kafir, dan dipenuhi oleh kekotoran hawa nafsu. Bila ada sesuatu yang menguntungkan mereka, mereka berani bersumpah bahwa mereka benar-benar orang-orang yang beriman. Tetapi bila ada sesuatu yang merugikan dengan pernyataan beriman itu mereka lari berpihak kepada musuh-musuh Islam. Firman Allah:</p>
<p>Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, &#8220;Kami telah beriman.&#8221; Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, &#8220;Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.&#8221; (al-Baqarah/2: 14)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 48</h3>
<p>Di antara sifat-sifat orang-orang munafik itu, bila mereka dipanggil untuk menerima ketetapan Allah dan Rasul-Nya mereka berpaling tak mau menerima ketetapan itu. Mereka lebih senang menerima ketetapan siapa pun selain Allah dan Rasul-Nya asal saja ketetapan itu menguntungkan mereka. Mereka tegas-tegas menolak ketetapan Allah dan Rasul-Nya walaupun ketetapan itu nyata-nyata berdasarkan keadilan dan kebenaran dan dikuatkan pula oleh bukti-bukti yang jelas. Dalam ayat lain Allah berfirman menjelaskan sifat orang munafik itu.</p>
<p>Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8220;Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,&#8221; (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu. (an-Nisa&#8217;/4: 60-61)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 49</h3>
<p>Di antara sifat-sifat orang-orang munafik itu, bila mereka dipanggil untuk menerima ketetapan Allah dan Rasul-Nya mereka berpaling tak mau menerima ketetapan itu. Mereka lebih senang menerima ketetapan siapa pun selain Allah dan Rasul-Nya asal saja ketetapan itu menguntungkan mereka. Mereka tegas-tegas menolak ketetapan Allah dan Rasul-Nya walaupun ketetapan itu nyata-nyata berdasarkan keadilan dan kebenaran dan dikuatkan pula oleh bukti-bukti yang jelas. Dalam ayat lain Allah berfirman menjelaskan sifat orang munafik itu.</p>
<p>Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, &#8220;Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,&#8221; (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras darimu. (an-Nisa&#8217;/4: 60-61)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 50</h3>
<p>Kemudian Allah mengemukakan pertanyaan mengenai sebab-sebab yang menjadikan orang-orang munafik itu bersifat demikian. Apakah karena memang dalam hati mereka ada penyakit sehingga mereka selalu ragu terhadap segala putusan yang merugikan mereka walaupun bukti-bukti dan dalil-dalil menguatkan putusan itu? Ataukah memang mereka pada dasarnya ragu-ragu terhadap kerasulan dan kenabian Muhammad saw. Ataukah mereka khawatir Allah dan Rasul-Nya akan berlaku zalim terhadap mereka? Itulah akhlak, tingkah laku, dan sifat-sifat mereka. Sifat-sifat orang yang telah sesat, tidak mau menerima kebenaran bila akan merugikan mereka. Itulah sifat-sifat orang-orang kafir yang telah tersesat. Mereka itulah orang-orang yang zalim yang suka merugikan orang lain dan zalim pula terhadap diri mereka sendiri.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 51</h3>
<p>Orang-orang yang benar-benar beriman apabila diajak bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka tunduk dan patuh menerima putusan, baik putusan itu menguntungkan atau merugikan mereka. Mereka yakin dengan sepenuh hati tidak merasa ragu sedikit pun bahwa putusan itulah yang benar, karena putusan itu adalah putusan Allah dan Rasul-Nya. Tentu putusan siapa lagi yang patut diterima dan dipercayai kebenaran dan keadilannya selain putusan Allah dan Rasul-Nya? Demikianlah sifat-sifat orang-orang yang beriman benar-benar percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan yakin sepenuhnya bahwa Allah Yang Mahabenar dan Mahaadil.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 52</h3>
<p>Siapa yang menaati semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya karena meyakini bahwa mengerjakan perintah Allah itulah yang akan membawa kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, meninggalkan semua larangan-Nya, akan menjauhkan mereka dari bahaya dan malapetaka di dunia dan di akhirat dan selalu bertakwa kepada-Nya, dan berbuat baik terhadap sesama manusia, maka mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mencapai keridaan Ilahi dan bebas dari segala siksaan-Nya di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 53</h3>
<p>Pada ayat ini Allah kembali menerangkan tingkah laku orang-orang munafik yaitu mereka dengan mudah mengucapkan janji-janji yang muluk-muluk dan diperkuat dengan sumpah, tetapi tidak pernah mereka tepati. Mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa bila mereka diminta untuk ikut berperang bersama orang-orang mukmin mereka pasti akan ikut dan tidak akan menolak, bagaimana pun keadaan dan situasi mereka dan tidak akan memikirkan apa yang akan terjadi dalam peperangan itu, seakan-akan mereka yakin benar bahwa perintah berperang itu adalah untuk kepentingan bersama dan untuk menegakkan agama Allah. Tetapi Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka, bahwa mereka bila benar-benar diajak untuk berperang melawan musuh, mereka akan mencari dalih dan alasan agar mereka tidak ikut pergi dan tinggal saja di Medinah. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar melarang mereka bersumpah, karena sumpah seperti itu berat resikonya. Mereka tidak perlu bersumpah karena Allah sudah mengetahui bahwa ketaatan dan kepatuhan mereka hanya di mulut saja dan tidak timbul dari hati nurani yang bersih. Senada dengan ayat ini Allah berfirman:</p>
<p>Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu bersedia menerima mereka. Tetapi sekalipun kamu menerima mereka, Allah tidak akan rida kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah/9: 96)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (at-Taubah/9: 56)</p>
<p>Oleh karena itu Allah mengingatkan mereka terhadap sumpah palsu yang mereka ucapkan itu dan mengancam akan menimpakan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang jahat itu, dan menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala tingkah laku mereka dan niat jahat mereka serta tipu daya yang mereka atur untuk menipu kaum Muslimin.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 54</h3>
<p>Kemudian Allah memerintahkan lagi kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan selalu berpura-pura beriman, tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka bertentangan dengan kata-kata yang mereka ucapkan. Ini adalah sebagai peringatan terakhir kepada mereka. Bila mereka tetap juga berpaling dari kebenaran dan melakukan hal-hal yang merugikan perjuangan kaum Muslimin maka katakanlah kepada mereka bahwa dosa perbuatan mereka itu akan dipikulkan di atas pundak mereka sendiri dan tidak akan membahayakan Nabi dan kaum Muslimin sedikit pun. Mereka akan mendapat kemurkaan Allah dan siksaan-Nya. Bila mereka benar-benar taat dan keluar dari kesesatan dengan menerima petunjuk Allah dan Rasul-Nya niscaya mereka akan termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Kewajiban Rasul hanya menyampaikan petunjuk dan nasihat. Menerima atau menolak adalah keputusan masing-masing, di luar tanggung jawab Rasul.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 55</h3>
<p>Rabi&#8217; bin Anas pernah berkata mengenai ayat ini, &#8220;Nabi Muhammad saw berada di Mekah selama sepuluh tahun menyeru orang-orang kafir Mekah kepada agama tauhid, menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya sedang orang-orang yang beriman selalu berada dalam ketakutan dan kekhawatiran. Mereka belum diperintah untuk berperang. Kemudian mereka diperintah hijrah ke Medinah. Setelah perintah itu dilaksanakan turunlah perintah untuk berperang. Mereka selalu dalam ketakutan dan kekuatiran, tetap menyandang senjata pagi dan petang, dan mereka tetap tabah dan sabar. Kemudian datanglah seorang sahabat menemui Nabi dan berkata, &#8220;Ya Rasulullah apakah untuk selama-lamanya kita harus berada dalam kekhawatiran dan kewaspadaan ini? Kapanlah akan datang waktunya kita dapat merasa aman dan bebas dari memanggul senjata?&#8221; Maka Rasulullah saw menjawab, &#8220;Kamu tidak akan lama menunggu keadaan itu. Tidak lama lagi akan tiba waktunya di mana seseorang dapat duduk di suatu pertemuan besar yang tidak ada sepucuk senjata pun terdapat dalam pertemuan itu. Lalu turunlah ayat ini.</p>
<p>Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi. Akan menjadikan agama mereka agama yang kokoh dan kuat, dan akan memberikan kepada mereka nikmat keamanan dan kesejahteraan. Itulah janji Allah dan janji itu adalah janji yang pasti terlaksana karena mustahil Allah memungkiri janji-Nya selama mereka berpegang teguh kepada perintah dan ajaran-Nya. Memang janji itu telah terlaksana dengan kemenangan beruntun yang dicapai kaum Muslimin di masa Nabi saw dan di masa Khulafa&#8217;urrasyidin dan sesudahnya. Di masa Nabi Muhammad, kaum Muslimin telah dapat menaklukkan kota Mekah, Khaibar, Bahrain dan seluruh Jazirah Arab.</p>
<p>Sesudah Nabi saw wafat dan pemerintahan dikendalikan oleh para sahabat (Khulafaurrasyidin) mereka selalu mengikuti jejak Rasulullah saw dalam segala urusan. Dengan demikian kekuasaan mereka meluas baik ke timur, ke barat, ke utara, maupun ke selatan, maka tersebarlah agama Islam dengan pesatnya sehingga dianut oleh penduduk negeri-negeri yang berhasil dikuasai tanpa paksaan dan ancaman. Mereka benar-benar menikmati keamanan dan kesejahteraan. Pemerintahan Islam benar-benar telah menjadi kuat, disegani oleh kawan dan lawan.</p>
<p>Allah telah mengingatkan kaum Muslimin yang telah sukses mencapai kemenangan, keamanan dan kesejahteraan itu dengan firman-Nya:</p>
<p>Dan ingatlah ketika kamu (para Muhajirin) masih (berjumlah) sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur. (al-Anfal/8: 26)</p>
<p>Demikianlah kaum Muslimin menjadi kuat dan disegani, menikmati keamanan dan kesejahteraan pada masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, sampai timbul pertentangan yang hebat antara kaum Muslimin pada masa pemerintahan Ali bin Abi thalib sehingga terjadi perang saudara antara sesama mereka padahal perang sesama Muslim itu sangat bertentangan dengan firman Allah:</p>
<p>Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ali &#8216;Imran/3: 103)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. (Ali &#8216;Imran/3: 105)</p>
<p>Semenjak itu terjadilah pasang surut dalam pemerintahan Islam. Pada satu waktu mereka jaya dan mulia dan pada waktu yang lain mereka lemah tak berdaya bahkan menjadi mangsa bagi kaum yang lain sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam, menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, menegakkan keadilan dan kebenaran serta menjaga kesatuan umat agar jangan terpecah belah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 56</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengiringi janji akan mencapai kemenangan itu dengan perintah mendirikan salat, menunaikan zakat dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Itulah syarat pertama untuk mencapai kemenangan dan memeliharanya. Kadang-kadang mencapai sesuatu tidaklah begitu berat, tetapi memelihara kelestarian apa yang telah dicapai itu lebih berat daripada mencapainya. Oleh sebab itu kaum Muslimin harus memperkuat diri dan memupuk pertahanan dengan tiga macam senjata yang sangat ampuh itu yaitu pertama menguatkan batin dengan selalu berhubungan dengan Yang Mahakuasa. Kedua zakat yang membersihkan diri dari sifat bakhil dan kikir, sehingga apabila tiba waktu untuk seseorang tidak segan mengorbankan harta, tenaga bahkan jiwanya. Ketiga taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya di mana segala tindak tanduknya disesuaikan dengan ajaran-Nya dan bila terdapat perbedaan pendapat hendaklah dikembalikan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang menjadi pedoman bagi segala gerak dan langkah. Dengan memenuhi ketiga syarat itu akan dapat dibina kekuatan umat dan ketahanannya terhadap segala bahaya yang mengancam dan kejayaan yang telah dicapai dapat dipertahankan dan dipelihara .</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 57</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa orang-orang kafir itu tidak akan dapat menghindarkan diri dari siksa Allah bila Allah menghendaki kebinasaan mereka atau keruntuhan kekuasaan mereka. Oleh sebab itu janganlah terlalu memperhitungkan kekuatan mereka selama kaum Muslimin tetap memelihara kondisi mereka dengan ketiga syarat yang dikemukakan pada ayat 56. Mereka pasti menemui akibat dari kedurhakaan dan keingkaran mereka baik di dunia maupun di akhirat. Di akhirat mereka akan ditempatkan dalam neraka Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 58</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim dari Muqatil Ibnu hayyan, bahwasannya seorang laki-laki dari kaum Ansar bersama istrinya Asma&#8217; binti Musyidah membuat makanan untuk Nabi Saw, kemudian Asma&#8217; berkata, &#8220;Wahai Rasulullah, alangkah jeleknya ini. Sesungguhnya masuk pada (kamar) isteri dan suaminya sedang keduanya berada dalam satu sarung masing-masing dari keduanya tanpa izin, lalu turunlah ayat ini. </p>
<p>Sebagaimana kita ketahui, pada masa kini sebuah rumah biasanya terdiri atas beberapa kamar, dan tiap-tiap kamar ditempati oleh anggota keluarga dan orang lain yang ada di rumah itu. Ada kamar untuk kepala keluarga dan istrinya, ada kamar untuk anak-anak dan kamar untuk pembantu dan lain sebagainya. Biasanya masing-masing anggota keluarga dapat masuk ke kamar yang bukan kamarnya itu bila ada keperluan dan tidak perlu minta izin kepada penghuni kamar itu. Akan tetapi, Islam memberikan batas-batas waktu untuk kebebasan memasuki kamar orang lain. Maka para hamba sahaya, dan anak-anak yang belum balig tidak dibenarkan memasuki kamar orang tua atau kamar anggota keluarga yang sudah dewasa dan berkeluarga pada waktu-waktu yang ditentukan kecuali meminta izin lebih dahulu, seperti dengan mengetuk pintu dan sebagainya. Bila ada jawaban dari dalam &#8220;Silahkan masuk&#8221;, barulah mereka boleh masuk. Waktu-waktu yang ditentukan itu ialah pertama pada waktu pagi hari sebelum salat Subuh, kedua pada waktu sesudah Zuhur, dan ketiga pada waktu sesudah salat Isya&#8217;. </p>
<p>Waktu-waktu itu disebut dalam ayat ini &#8220;aurat&#8221;, karena pada waktu-waktu itu biasanya orang belum mengenakan pakaiannya dan aurat mereka belum ditutupi semua dengan pakaian. Pada pagi hari sebelum bangun untuk salat subuh biasanya orang masih memakai pakaian tidur. Demikian pula halnya pada waktu istirahat sesudah zuhur dan istirahat panjang sesudah Isya&#8217;. Pada waktu-waktu istirahat seperti itu suami istri mungkin melakukan hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh orang lain, pembantu, atau anak-anak. </p>
<p>Adapun di luar tiga waktu yang telah ditentukan itu maka amat berat rasanya kalau diwajibkan meminta izin dahulu sebelum memasuki kamar-kamar itu, karena para pembantu dan anak-anak sudah sewajarnya bergerak bebas dalam rumah karena banyak yang akan diurus dan banyak pula yang perlu diambil dari kamar-kamar tersebut. Para pembantu biasa memasuki kamar untuk membersihkan kamar atau untuk mengambil sesuatu yang diperintahkan oleh tuan atau nyonya rumah dan demikian pula halnya dengan anak-anak.</p>
<p>Allah menjelaskan adab sopan santun dalam rumah tangga yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. Para ahli ilmu jiwa setelah mengadakan penelitian yang mendalam berpendapat bahwa anak-anak di bawah umur (sebelum balig) tidak boleh melihat hal-hal yang belum patut dilihatnya karena akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa mereka dan mungkin akan menimbulkan berbagai macam penyakit kejiwaan. Amat besar hikmah adab sopan santun ini bagi ketenteraman rumah tangga, dan memang demikianlah halnya karena adab ini diperintahkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 59</h3>
<p>Bila anak-anak itu sudah mencapai usia balig maka mereka diperlakukan seperti orang dewasa lainnya, bila hendak memasuki kamar harus meminta izin lebih dahulu bukan pada waktu yang ditentukan itu saja tetapi untuk setiap waktu. Kemudian Allah mengulangi penjelasan-Nya bahwa petunjuk dalam ayat ini adalah ketetapan-Nya yang mengandung hikmah dan manfaat bagi keharmonisan dalam rumah tangga. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 60</h3>
<p>Bagi perempuan-perempuan yang sudah tua yang tidak lagi mempunyai keinginan bersenggama dan tidak lagi memiliki daya tarik diizinkan menanggalkan sebagian pakaiannya yang biasa dipakai perempuan untuk menutupi seluruh aurat seperti hauscoat (pakaian lapang yang menutupi seluruh badan) dan lain sebagainya. Tetapi tidak boleh membuka aurat yang biasa tertutup rapi seperti dada, betis, paha dan lain-lainnya. Bila perempuan tua itu tetap ingin berpakaian lengkap seperti biasa, maka hal itu lebih baik baginya. Bagaimanapun seorang perempuan meskipun telah tua lebih terhormat bila dia masih memperhatikan dan mementingkan apa yang baik dipakai baginya sebagai perempuan. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui semua tingkah laku hamba-Nya dan apa yang tersimpan dalam hatinya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 61</h3>
<p>Menurut kebiasaan orang Arab semenjak masa Jahiliah mereka tidak merasa keberatan apa-apa meskipun tanpa diundang di rumah kaum kerabat dan kadang-kadang mereka membawa serta famili yang cacat makan bersama-sama. Pada ayat ini telah disusun urutan kaum kerabat itu dimulai dari yang paling dekat, kemudian yang dekat bahkan termasuk pula pemegang kuasa atau harta dan teman-teman akrab, karena tidak jarang seorang teman dibiarkan di rumah kita tanpa diundang atau meminta izin lebih dahulu. Urutan susunan kaum kerabat itu adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Yang paling dekat kepada seseorang ialah anak dan istrinya, tetapi dalam ayat ini tidak ada disebutkan anak dan istri karena cukuplah dengan menyebut &#8220;di rumah kamu&#8221; karena biasa seorang tinggal bersama anak dan istrinya. Maka di rumah anak istri tidak perlu ada izin atau ajakan untuk makan lebih dahulu, baru boleh makan. Demikian pula kalau anak itu telah mendirikan rumah tangga sendiri maka bapaknya boleh saja datang ke rumah anaknya untuk makan tanpa undangan atau ajakan, karena rumah anak itu sebenarnya rumah bapaknya juga karena Nabi Muhammad saw pernah bersabda: &#8220;Engkau sendiri dan harta kekayaanmu adalah milik bapakmu.&#8221; (Riwayat Ahmad dan Ashabus-Sunan)</p>
<p>2. Ayah. Anak tidaklah perlu meminta izin lebih dahulu kepada bapak untuk makan, karena memang sudah menjadi kewajiban bagi bapak untuk menafkahi anaknya. Bila anak sudah berkeluarga dan berpisah rumah dengan bapaknya tidak juga perlu meminta izin untuk makan meskipun tidak tinggal lagi di rumah bapaknya.</p>
<p>3. Ibu. Kita sudah mengetahui bagaimana kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Walaupun anaknya sudah besar dan sudah beranak cucu sekalipun, namun kasih ibu tetap seperti sediakala. Benarlah pepatah yang mengatakan, &#8220;kasih anak sepanjang penggalah dan kasih ibu sepanjang jalan.&#8221; Tidaklah menjadi soal baginya bila anaknya makan di rumahnya tanpa ajakan, bahkan dia akan sangat bahagia melihat anaknya bertingkah laku seperti dahulu di kala masih belum dewasa.</p>
<p>4. Saudara laki-laki. Hubungan antara seorang dengan saudaranya adalah hubungan darah yang tidak bisa diputuskan, meskipun terjadi perselisihan dan pertengkaran. Maka sebagai memupuk rasa persaudaraan di dalam hati masing-masing maka janganlah hendaknya hubungan itu dibatasi dengan formalitas etika dan protokol yang berlaku bagi orang lain. Alangkah akrabnya hubungan sesama saudara bila sewaktu-waktu seseorang datang ke rumah saudaranya dan makan bersama di sana.</p>
<p>5. Saudara perempuan hal ini sama dengan makan di rumah saudara laki-laki.</p>
<p>6. Saudara laki-laki ayah (paman).</p>
<p>7. Saudara perempuan ayah (bibi).</p>
<p>8. Saudara laki-laki dari ibu.</p>
<p>9. Saudara perempuan dari ibu.</p>
<p>10. Orang yang diberi kuasa memelihara harta benda seseorang.</p>
<p>11. Teman akrab.</p>
<p>Demikianlah Allah menyatakan janganlah seseorang baik yang memiliki maupun tidak memiliki cacat tubuh merasa keberatan untuk makan di rumah kaum kerabatnya selama kaum kerabatnya itu benar-benar tidak merasa keberatan atas hal itu, karena hubungan kerabat harus dipupuk dan disuburkan. Sedang hubungan dengan orang lain seperti dengan tetangga baik yang dekat maupun yang jauh harus dijaga sebaik-baiknya, apalagi hubungan dengan kaum kerabat.</p>
<p>Meskipun demikian seseorang janganlah berbuat semaunya terhadap kaum kerabatnya apalagi bila kaum kerabatnya itu sedang kesulitan dalam rumah tangganya dan hidup serba kekurangan kemudian karena kita ada hubungan kerabat beramai-ramai makan di rumahnya. Rasa tenggang menenggang dan rasa bantu membantu haruslah dibina sebaik-baiknya. Bila kita melihat salah seorang kerabat dalam kekurangan hendaklah kaum kerabatnya bergotong royong menolong dan membantunya. Lalu Allah menerangkan lagi tidak mengapa seorang makan bersama-sama atau sendiri-sendiri.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu &#8216;Abbas, adh-ahhaq dan Qatadah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Bani Lais bin Amr bin Kinanah, mereka merasa keberatan sekali makan sendiri-sendiri. Pernah terjadi seseorang di antara mereka tidak makan sepanjang hari karena tidak ada tamu yang akan makan bersama dia. Selama belum ada orang yang akan menemaninya makan dia tidak mau makan. Kadang-kadang ada pula di antara mereka yang sudah tersedia makanan di hadapannya tetapi dia tidak mau menyentuh makanan itu sampai sore hari. Ada pula di antara mereka yang tidak mau meminum susu untanya padahal untanya sedang banyak air susunya karena tidak ada tamu yang akan minum bersama dia. Barulah apabila hari sudah malam dan tidak juga ada tamu dia mau makan sendirian.</p>
<p>Hatim Ath-thÂ±i seorang yang paling terkenal sangat pemurah mengucapkan satu bait syair kepada istrinya: </p>
<p>Apabila engkau memasak makanan, maka carilah orang yang akan memakannya bersamaku, karena aku tidak akan memakan makanan itu sendirian.</p>
<p>Maka untuk menghilangkan kebiasaan yang mungkin tampaknya baik karena menunjukkan sifat pemurah pada seseorang, tetapi kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan semua orang, Allah menerangkan bahwa seseorang boleh makan bersama dan boleh makan sendirian.</p>
<p>Janganlah seseorang memberatkan dirinya dengan kebiasaan makan bersama tamu, lalu karena tidak ada tamu dia tidak mau makan. Kemudian Allah menyerukan kepada setiap orang mukmin agar apabila dia masuk ke rumah salah seorang dari kaum kerabatnya, hendaklah dia mengucapkan salam lebih dahulu kepada seisi rumah itu, yaitu salam yang ditetapkan oleh Allah, salam yang penuh berkat dan kebaikan yaitu, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&#8221; Dengan demikian karib kerabat yang ada di rumah itu akan senang dan gembira dan menerimanya dengan hati terbuka.</p>
<p>Al-Hafiz, Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan bahwa Anas berkata: Rasulullah mengajarkan kepadaku lima hal. Rasulullah bersabda, &#8220;Hai Anas! Berwudulah dengan sempurna tentu umurmu akan bertambah, beri salamlah kepada siapa yang kamu temui di antara umatku, tentu kebaikanmu akan bertambah banyak, apabila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam kepada keluargamu; tentu rumahmu itu akan penuh dengan berkah, kerjakanlah salat duha karena salat duha itu adalah salat orang-orang saleh di masa dahulu. Hai Anas sayangilah anak-anak dan hormatilah orang tua, niscaya engkau akan termasuk teman-temanku pada hari Kiamat nanti.&#8221; </p>
<p>Demikianlah Allah menerangkan ayat-Nya sebagai petunjuk bagi hamba-Nya, bukan saja petunjuk mengenai hal-hal yang besar, melainkan juga petunjuk mengenai hal-hal yang kecil. Semoga dengan mengamalkan petunjuk itu kita dapat memikirkan bagaimana baik dan berharganya petunjuk itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 62</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ialah orang-orang yang bila berada bersama Rasulullah untuk membicarakan suatu hal yang penting mengenai urusan kaum muslim, mereka tidak mau meninggalkan pertemuan itu sebelum mendapatkan izin dari Rasulullah. Setelah mendapat izin barulah mereka meninggalkan pertemuan itu dan memberi salam kepada para hadirin yang masih tinggal bersama Rasulullah. </p>
<p>Dari Abu Hurairah dari Rasulullah, beliau bersabda, &#8220;Bila salah seorang di antara kamu telah sampai ke suatu majlis, hendaklah ia memberi salam. Bila ia hendak duduk, maka duduklah. Kemudian bila hendak pergi, hendaklah memberi salam. Orang yang dahulu tidak lebih berhak dari yang belakangan. (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu hibban dan al-hakim)</p>
<p>Orang-orang yang sifat tingkah lakunya seperti itu, itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah, bila ada seseorang yang memajukan permohonan untuk meninggalkan suatu pertemuan bersama Rasululah, maka Rasulullah berhak sepenuhnya untuk menerima permohonan itu atau menolaknya sesuai dengan keadaan orang yang meminta izin itu dan untuk keperluan apa dia meninggalkan sidang itu.</p>
<p>Pernah Umar bin al-Khaththab meminta izin kepada Rasulullah kembali ke Medinah untuk menemui keluarganya dalam suatu perjalanan bersama-sama sahabat lainnya menuju Tabuk, maka Rasulullah memberi izin kepada Umar dan berkata kepadanya. Kembalilah! Engkau bukanlah seorang munafik. Rasulullah diperintahkan pula setelah memberi izin kepada orang yang memohonkannya agar ia meminta ampun kepada Allah untuk orang-orang meminta izin itu. Ini adalah satu isyarat bahwa meminta izin itu meskipun dibolehkan meninggalkan pertemuan dengan Rasulullah, namun Rasulullah disuruh meminta ampunan kepada Allah bagi orang itu. Hal ini menunjukkan, bahwa permintaan izin dan meninggalkan pertemuan itu adalah suatu hal yang tidak layak atau tercela. Seakan-akan orang itu lebih mengutamakan kepentingan pribadinya sendiri daripada kepentingan bersama di hadapan Rasulullah. Demikian salah satu di antara adab sopan santun dalam bergaul dengan Rasulullah saw. Rasulullah adalah seorang Rasul yang dimuliakan Allah, karena itu tidak layak seorang muslim memperlakukannya seperti kepada pemimpin lainnya yang mungkin saja mempunyai kesalahan dan kekhilafan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 63</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah. Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin oleh Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya. Maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka. Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya &#8220;hai Muhammad &#8221; atau &#8220;hai ayah si Qasim.&#8221; Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah. Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang. Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu. </p>
<p>Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih. Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 64</h3>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud bahwa ada di antara orang-orang munafik yang merasa tidak senang mendengarkan khutbah. Apalagi dilihatnya ada seorang muslim meminta izin keluar dan diberi izin oleh Rasulullah, dia pun ikut saja keluar bersama orang yang telah mendapat izin itu dengan berlindung kepadanya. Maka turunlah ayat ini.</p>
<p>Kemudian sebagai penghormatan kepada Rasulullah, seorang muslim dilarang oleh Allah memanggil Rasulullah dengan menyebut namanya saja seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab antara sesama mereka. Maka tidak boleh seorang muslim memanggilnya &#8220;hai Muhammad &#8221; atau &#8220;hai ayah si Qasim.&#8221; Dan sebagai adab dan sopan santun kepada Rasulullah hendaklah beliau dipanggil sesuai dengan jabatan yang dikaruniakan Allah kepadanya yaitu Rasul Allah atau Nabi Allah. Kemudian Allah mengancam orang-orang yang keluar dari suatu pertemuan bersama Nabi dengan cara sembunyi-sembunyi karena takut akan dilihat orang. Perbuatan semacam ini walaupun tidak diketahui oleh Nabi, tetapi Allah mengetahuinya dan mengetahui sebab-sebab yang mendorong mereka meninggalkan pertemuan itu. </p>
<p>Allah memberi peringatan kepada orang-orang semacam itu yang suka melanggar perintah, bahwa mereka akan mendapat musibah atau siksa yang pedih. Meskipun di dunia mereka tidak ditimpa musibah apapun tetapi di akhirat mereka akan masuk neraka dan itulah seburuk-buruknya kesudahan.</p>
<p>(64) Allah menutup Surah an-Nur ini setelah menerangkan bahwa Dialah Pemberi cahaya bagi langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan memberi petunjuk kepada hamba-Nya dengan perantaraan rasul-rasul-Nya, dan mengancam orang-orang yang melanggar perintah-Nya dengan menegaskan bahwa milik-Nyalah semua yang ada di langit dan di bumi itu dan Dia mengetahui keadaan semua hamba-Nya dan akan memperhitungkan semua amal perbuatan mereka serta membalasnya. Perbuatan jahat diberi balasan yang setimpal dengan kejahatan yang dikerjakan dan perbuatan baik dibalas dengan berlipat ganda, seperti tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur&#8217;an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudh).(Yunus/10: 61)</p>
<p>Selanjutnya dalam sebuah hadis riwayat ath-thabari dijelaskan sebagai berikut:</p>
<p>Diriwayatkan dari &#8216;Uqbah bin Amir, &#8220;Aku melihat Rasulullah saw di waktu sedang membaca ayat terakhir dari Surah an- Nur ini, beliau meletakkan dua buah jari tangannya di bawah pelupuk matanya dan bersabda: Allah Maha Melihat segala sesuatu.&#8221; (Riwayat ath-thabari dan lainnya)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-an-nur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>23. Al-Mu&#8217;minun (118 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-muminun/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-muminun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 13:30:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1122</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Orang-Orang Mukmin Tempat Turun: Mekah Jumlah Ayat: 118 Deskripsi: Surat Al Mu&#8217;minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai Al Mu&#8217;minuun, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak ... <a title="23. Al-Mu&#8217;minun (118 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-muminun/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 23. Al-Mu&#8217;minun (118 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Orang-Orang Mukmin</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Mekah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 118</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Mu&#8217;minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai <i>Al Mu&#8217;minuun</i>, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-muminun/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Mu&#8217;minun</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qad aflaḥal-mu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum anil-lagwi muriḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فٰعِلُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum liz-zakāti fā‘ilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan orang yang menunaikan zakat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum lifurūjihim ḥāfiẓūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan orang yang memelihara kemaluannya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">illā ‘alā azwājihim au mā malakat aimānuhum fa innahum gairu malūmīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">famanibtagā warā&#8217;a żālika fa ulā&#8217;ika humul-‘ādūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum li&#8217;amānātihim wa ‘ahdihim rā‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum ‘alā ṣalawātihim yuḥāfiẓūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">serta orang yang memelihara salatnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ulā&#8217;ika humul-wāriṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka itulah orang yang akan mewarisi,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna yariṡūnal-firdaus(a), hum fīhā khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad khalaqnal-insāna min sulālatim min ṭīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma ja‘alnāhu nuṭfatan fī qarārim makīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma khalaqnan-nuṭfata ‘alaqatan fa khalaqnal-‘alaqata muḍgatan fa khalaqnal-muḍgata ‘iẓāman fa kasaunal-‘iẓāma laḥmā(n), ṡumma ansya&#8217;nāhu khalqan ākhar(a), fa tabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma innakum ba‘da żālika lamayyitūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma innakum yaumal-qiyāmati tub‘aṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَاۤىِٕقَۖ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غٰفِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad khalaqnā fauqakum sab‘a ṭarā&#8217;iq(a), wa mā kunnā ‘anil-khalqi gāfilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa anzalnā minas-samā&#8217;i mā&#8217;am biqadarin fa askannāhu fil-arḍ(i), wa innā ‘alā żahābim bihī laqādirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَنْشَأْنَا لَكُمْ بِهٖ جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍۘ لَكُمْ فِيْهَا فَوَاكِهُ كَثِيْرَةٌ وَّمِنْهَا تَأْكُلُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ansya&#8217;nā lakum bihī jannātim min nakhīliw wa a‘nāb(in), lakum fīhā fawākihu kaṡīratuw wa minhā ta&#8217;kulūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu dengan (air) itu, Kami tumbuhkan untukmu kebun-kebun kurma dan anggur; di sana kamu memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari (buah-buahan) itu kamu makan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُوْرِ سَيْنَاۤءَ تَنْۢبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِّلْاٰكِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa syajaratan takhruju min ṭūri sainā&#8217;a tambutu bid-duhni wa ṣibgil lil-ākilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan (Kami tumbuhkan) pohon (zaitun) yang tumbuh dari gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةًۗ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهَا وَلَكُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ كَثِيْرَةٌ وَّمِنْهَا تَأْكُلُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa inna lakum fil-an‘āmi la‘ibrah(tan), nusqīkum mimmā fī buṭūnihā wa lakum fīhā manāfi‘u kaṡīratuw wa minhā ta&#8217;kulūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sesungguhnya pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan sebagian darinya kamu makan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَعَلَيْهَا وَعَلَى الْفُلْكِ تُحْمَلُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ‘alaihā wa ‘alal-fulki tuḥmalūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">di atasnya (hewan-hewan ternak) dan di atas kapal-kapal kamu diangkut.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad arsalnā nūḥan ilā qaumihī fa qāla yā qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), afalā tattaqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, (karena) tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَقَالَ الْمَلَؤُا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۙ يُرِيْدُ اَنْ يَّتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَنْزَلَ مَلٰۤىِٕكَةً ۖمَّا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِيْٓ اٰبَاۤىِٕنَا الْاَوَّلِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa qālal-mala&#8217;ul-lażīna kafarū min qaumihī mā hāżā illā basyarum miṡlukum, yurīdu ay yatafaḍḍala ‘alaikum, wa lau syā&#8217;allāhu la&#8217;anzala malā&#8217;ikah(tan), mā sami‘nā bihāżā fī ābā&#8217;inal-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin menjadi orang yang lebih mulia daripada kamu. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada (masa) nenek moyang kami dahulu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنْ هُوَ اِلَّا رَجُلٌۢ بِهٖ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوْا بِهٖ حَتّٰى حِيْنٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">in huwa illā rajulum bihī jinnatun fa tarabbaṣū bihī ḥattā ḥīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia hanyalah seorang laki-laki yang gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai waktu yang ditentukan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ رَبِّ انْصُرْنِيْ بِمَا كَذَّبُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbinṣurnī bimā każżabūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Nuh) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ اَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَاِذَا جَاۤءَ اَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُۙ فَاسْلُكْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَهْلَكَ اِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْۚ وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْاۚ اِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa auḥainā ilaihi aniṣna‘il-fulka bi&#8217;a‘yuninā wa waḥyinā fa iżā jā&#8217;a amrunā wafārat-tannūr(u), fasluk fīhā min kullin zaujainiṡnaini wa ahlaka illā man sabaqa ‘alaihil-qaulu minhum, wa lā tukhāṭibnī fil-lażīna ẓalamū, innahum mugraqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu Kami wahyukan kepadanya, “Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاِذَا اسْتَوَيْتَ اَنْتَ وَمَنْ مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ نَجّٰىنَا مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa iżastawaita anta wa mam ma‘aka ‘alal-fulki fa qulil-ḥamdu lillāhil-lażī najjānā minal-qaumiẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقُلْ رَّبِّ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qur rabbi anzilnī munzalam mubārakaw wa anta khairul-munzilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan berdoalah, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ وَّاِنْ كُنَّا لَمُبْتَلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">inna fī żālika la&#8217;āyātiw wa in kunnā lamubtalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, pada (kejadian) itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah); dan sesungguhnya Kami benar-benar menimpakan siksaan (kepada kaum Nuh itu).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اَنْشَأْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا اٰخَرِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma ansya&#8217;nā mim ba‘dihim qarnan ākharīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian setelah mereka, Kami ciptakan umat yang lain (kaum ‘Ad).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَرْسَلْنَا فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa arsalnā fīhim rasūlam minhum ani‘budullāha mā lakum min ilāhin gairuh(ū), afalā tattaqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata), “Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِلِقَاۤءِ الْاٰخِرَةِ وَاَتْرَفْنٰهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ مَا هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۙ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qālal-mala&#8217;u min qaumihil-lażīna kafarū wa każżabū biliqā&#8217;il-ākhirati wa atrafnāhum fil-ḥayātid-dun-yā, mā hāżā illā basyarum miṡlukum, ya&#8217;kulu mimmā ta&#8217;kulūna minhu wa yasyrabu mimmā tasyrabūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya dan yang mendustakan pertemuan hari akhirat serta mereka yang telah Kami beri kemewahan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia, “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang kamu minum.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَىِٕنْ اَطَعْتُمْ بَشَرًا مِّثْلَكُمْ اِنَّكُمْ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa la&#8217;in aṭa‘tum basyaram miṡlakum innakum iżal lakhāsirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, jika kamu menaati manusia seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَيَعِدُكُمْ اَنَّكُمْ اِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَّعِظَامًا اَنَّكُمْ مُّخْرَجُوْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">aya‘idukum annakum iżā mittum wa kuntum turābaw wa ‘iẓāman annakum mukhrajūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Adakah dia menjanjikan kepada kamu, bahwa apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu)?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوْعَدُوْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">haihāta haihāta limā tū‘adūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Jauh! Jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنْ هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">in hiya illā ḥayātunad-dun-yā namūtu wa naḥyā wa mā naḥnu bimab‘ūṡīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنْ هُوَ اِلَّا رَجُلُ ِۨافْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا وَّمَا نَحْنُ لَهٗ بِمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">in huwa illā rajuluniftarā ‘alallāhi każibaw wa mā naḥnu lahū bimu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kita tidak akan mempercayainya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ رَبِّ انْصُرْنِيْ بِمَا كَذَّبُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbinṣurnī bimā każżabūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Hud) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ عَمَّا قَلِيْلٍ لَّيُصْبِحُنَّ نٰدِمِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla ‘ammā qalīlil layuṣbiḥunna nādimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Tidak lama lagi mereka pasti akan menyesal.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنٰهُمْ غُثَاۤءًۚ فَبُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa akhażathumuṣ-ṣaiḥatu bil-ḥaqqi fa ja&#8217;alahum guṡā&#8217;ā(n), fa bu‘dal lil-qaumiẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu mereka benar-benar dimusnahkan oleh suara yang mengguntur, dan Kami jadikan mereka (seperti) sampah yang dibawa banjir. Maka binasalah bagi orang-orang yang zalim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اَنْشَأْنَا مِنْۢ بَعْدِهِمْ قُرُوْنًا اٰخَرِيْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma ansya&#8217;nā mim ba‘dihim qurūnan ākharīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian setelah mereka Kami ciptakan umat-umat yang lain.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَا تَسْبِقُ مِنْ اُمَّةٍ اَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُوْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā tasbiqu min ummatin ajalahā wa mā yasta&#8217;khirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidak ada satu umat pun yang dapat menyegerakan ajalnya, dan tidak (pula) menangguhkannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَاۗ كُلَّمَا جَاۤءَ اُمَّةً رَّسُوْلُهَا كَذَّبُوْهُ فَاَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَّجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَۚ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma arsalnā rusulanā tatrā, kullamā jā&#8217;a ummatar rasūluhā każżabūhu fa atba‘nā ba‘ḍahum ba‘ḍaw wa ja‘alnāhum aḥādīṡ(a), fa bu‘dal liqaumil lā yu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian, Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut. Setiap kali seorang rasul datang kepada suatu umat, mereka mendustakannya, maka Kami silihgantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain (dalam kebinasaan). Dan Kami jadikan mereka bahan cerita (bagi manusia). Maka kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى وَاَخَاهُ هٰرُوْنَ ەۙ بِاٰيٰتِنَا وَسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma arsalnā mūsā wa akhāhu hārūn(a), bi&#8217;āyātinā wa sulṭānim mubīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِلٰى فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا عَالِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ilā fir‘auna wa mala&#8217;ihī fastakbarū wa kānū qauman ‘ālīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya, tetapi mereka angkuh dan mereka memang kaum yang sombong.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَقَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عٰبِدُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa qālū anu&#8217;minu libasyaraini miṡlinā wa qaumuhumā lanā ‘ābidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka mereka berkata, “Apakah (pantas) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَكَذَّبُوْهُمَا فَكَانُوْا مِنَ الْمُهْلَكِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa każżabūhumā fa kānū minal-muhlakīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka termasuk orang yang dibinasakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad ātainā mūsal-kitāba la‘allahum yahtadūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, telah Kami anugerahi kepada Musa Kitab (Taurat), agar mereka (Bani Israil) mendapat petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗٓ اٰيَةً وَّاٰوَيْنٰهُمَآ اِلٰى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّمَعِيْنٍ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ja‘alnabna maryama wa ummahū āyataw wa āwaināhumā ilā rabwatin żāti qarāriw wa ma‘īn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, (tempat yang tenang, rindang dan banyak buah-buahan) dengan mata air yang mengalir.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhar-rusulu kulū minaṭ-ṭayyibāti wa‘malū ṣāliḥā(n), innī bimā ta‘malūna ‘alīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah berfirman, “Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidataw wa ana rabbukum fattaqūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَتَقَطَّعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًاۗ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa taqaṭṭa‘ū amrahum bainahum zuburā(n), kullu ḥizbim bimā ladaihim fariḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَذَرْهُمْ فِيْ غَمْرَتِهِمْ حَتّٰى حِيْنٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa żarhum fī gamratihim ḥattā ḥīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ayaḥsabūna annamā numidduhum bihī mim māliw wabanīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">nusāri‘u lahum fil-khairāt(i), bal lā yasy‘urūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna hum min khasy-yati rabbihim musyfiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum bi&#8217;āyāti rabbihim yu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mereka yang beriman dengan tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hum birabbihim lā yusyrikūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhannya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna yu&#8217;tūna mā ātaw wa qulūbuhum wajilatun annahum ilā rabbihim rāji‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اُولٰۤىِٕكَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ulā&#8217;ika yusāri‘ūna fil-khairāti wa hum lahā sābiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ وَلَدَيْنَا كِتٰبٌ يَّنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lā nukallifu nafsan illā wus‘ahā, wa ladainā kitābuy yanṭiqu bil-ḥaqqi wa hum lā yuẓlamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ قُلُوْبُهُمْ فِيْ غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ اَعْمَالٌ مِّنْ دُوْنِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عٰمِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal qulūbuhum fī gamratim min hāżā wa lahum a‘mālum min dūni żālika hum lahā ‘āmilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi, hati mereka (orang-orang kafir) itu dalam kesesatan dari (memahami Al-Qur&#8217;an) ini, dan mereka mempunyai (kebiasaan banyak mengerjakan) perbuatan-perbuatan lain (buruk) yang terus mereka kerjakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">حَتّٰىٓ اِذَآ اَخَذْنَا مُتْرَفِيْهِمْ بِالْعَذَابِ اِذَا هُمْ يَجْـَٔرُوْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ḥattā iżā akhażnā mutrafīhim bil-‘ażābi iżā hum yaj&#8217;arūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sehingga apabila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak-teriak meminta tolong.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 65</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا تَجْـَٔرُوا الْيَوْمَۖ اِنَّكُمْ مِّنَّا لَا تُنْصَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā taj&#8217;arul-yaum(a), innakum minnā lā tunṣarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Janganlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini! Sungguh, kamu tidak akan mendapat pertolongan dari Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 66</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَدْ كَانَتْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qad kānat āyātī tutlā ‘alaikum fa kuntum ‘alā a‘qābikum tankiṣūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur&#8217;an) selalu dibacakan kepada kamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 67</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مُسْتَكْبِرِيْنَۙ بِهٖ سٰمِرًا تَهْجُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mustakbirīn(a), bihī sāmiran tahjurūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dengan menyombongkan diri dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur&#8217;an) pada waktu kamu bercakap-cakap pada malam hari.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 68</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ اَمْ جَاۤءَهُمْ مَّا لَمْ يَأْتِ اٰبَاۤءَهُمُ الْاَوَّلِيْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afalam yaddabbarul-qaula am jā&#8217;ahum mā lam ya&#8217;ti ābā&#8217;ahumul-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka tidakkah mereka menghayati firman (Allah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 69</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمْ لَمْ يَعْرِفُوْا رَسُوْلَهُمْ فَهُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">am lam ya‘rifū rasūlahum fahum lahū munkirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka (Muhammad), karena itu mereka mengingkarinya?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 70</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمْ يَقُوْلُوْنَ بِهٖ جِنَّةٌ ۗ بَلْ جَاۤءَهُمْ بِالْحَقِّ وَاَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كٰرِهُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">am yaqūlūna bihī jinnah(tun), bal jā&#8217;ahum bil-ḥaqqi wa akṡaruhum lil-ḥaqqi kārihūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Atau mereka berkata, “Orang itu (Muhammad) gila.” Padahal, dia telah datang membawa kebenaran kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 71</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ اَهْوَاۤءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُوْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lawittaba‘al-ḥaqqu ahwā&#8217;ahum lafasadatis-samāwātu wal-arḍu wa man fīhinn(a), bal ataināhum biżikrihim fahum ‘an żikrihim mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 72</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ خَرْجًا فَخَرَاجُ رَبِّكَ خَيْرٌ ۖوَّهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">am tas&#8217;aluhum kharjan fa kharāju rabbika khair(un), wa huwa khairur-rāziqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu lebih baik, karena Dia pemberi rezeki yang terbaik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 73</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّكَ لَتَدْعُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa innaka latad‘ūhum ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sesungguhnya engkau pasti telah menyeru mereka kepada jalan yang lurus.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 74</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ عَنِ الصِّرَاطِ لَنٰكِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa innal-lażīna lā yu&#8217;minūna bil-ākhirati ‘aniṣ-ṣirāṭi lanākibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar telah menyimpang jauh dari jalan (yang lurus).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 75</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَلَوْ رَحِمْنٰهُمْ وَكَشَفْنَا مَا بِهِمْ مِّنْ ضُرٍّ لَّلَجُّوْا فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau raḥimnāhum wa kasyafnā mā bihim min ḍurril lalajjū fī ṭugyānihim ya‘mahūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan seandainya mereka Kami kasihani, dan Kami lenyapkan malapetaka yang menimpa mereka, pasti mereka akan terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 76</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَخَذْنٰهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوْا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad akhażnāhum bil-‘ażābi famastakānū lirabbihim wa mā yataḍarra‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan (juga) tidak merendahkan diri.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 77</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">حَتّٰىٓ اِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيْدٍ اِذَا هُمْ فِيْهِ مُبْلِسُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ḥattā iżā fataḥnā ‘alaihim bāban żā ‘ażābin syadīdin iżā hum fīhi mublisūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sehingga apabila Kami bukakan untuk mereka pintu azab yang sangat keras, seketika itu mereka menjadi putus asa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 78</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa huwal-lażī yuḥyī wa yumītu wa lahukhtilāful-laili wan-nahār(i), afalā ta‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 79</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُوَ الَّذِيْ ذَرَاَكُمْ فِى الْاَرْضِ وَاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal qālū miṡla mā qālal-awwalūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Dialah yang menciptakan dan mengembangbiakkan kamu di bumi dan kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 80</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُوَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū a&#8217;iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a&#8217;innā lamab‘ūṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pergantian malam dan siang. Tidakkah kamu mengerti?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 81</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ قَالُوْا مِثْلَ مَا قَالَ الْاَوَّلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad wu‘idnā naḥnu wa ābā&#8217;unā hāżā min qablu in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Bahkan mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan apa yang diucapkan oleh orang-orang terdahulu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 82</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْٓا ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū a&#8217;iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a&#8217;innā lamab‘ūṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Apakah betul, apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 83</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَاٰبَاۤؤُنَا هٰذَا مِنْ قَبْلُ اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad wu‘idnā naḥnu wa ābā&#8217;unā hāżā min qablu in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, yang demikian ini sudah dijanjikan kepada kami dan kepada nenek moyang kami dahulu, ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu!”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 84</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ لِّمَنِ الْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهَآ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul limanil-arḍu wa man fīhā in kuntum ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 85</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sayaqūlūna lillāh(i), qul afalā tażakkarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka akan menjawab, “Milik Allah.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak ingat?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 86</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul mar rabbus-samāwātis-sab‘i wa rabbul-‘arsyil-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah, “Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang agung?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 87</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sayaqūlūna lillāh(i), qul afalā tattaqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “Maka mengapa kamu tidak bertakwa?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 88</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ مَنْۢ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul mam biyadihī malakūtu kulli syai&#8217;iw wa huwa yujīru wa lā yujāru ‘alaihi in kuntum ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 89</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗقُلْ فَاَنّٰى تُسْحَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">sayaqūlūna lillāh(i), qul fa annā tusḥarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka akan menjawab, “(Milik) Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 90</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِالْحَقِّ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal ataināhum bil-ḥaqqi wa innahum lakāżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Padahal Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, tetapi mere-ka benar-benar pendusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 91</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَانَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍۢ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mattakhażallāhu miw waladiw wa mā kāna ma‘ahū min ilāhin iżal lażahaba kullu ilāhim bimā khalaqa wa la‘alā ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍ(in), subḥānallāhi ‘ammā yaṣifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 92</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">‘Ālimil-gaibi wasy-syahādati fa ta‘ālā ‘ammā yusyrikūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Dialah Tuhan) yang mengetahui semua yang gaib dan semua yang tampak. Mahatinggi (Allah) dari apa yang mereka persekutukan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 93</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ رَّبِّ اِمَّا تُرِيَنِّيْ مَا يُوْعَدُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qur rabbi immā turiyannī mā yū‘adūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, seandainya Engkau hendak memperlihatkan kepadaku apa (azab) yang diancamkan kepada mereka,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 94</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِيْ فِى الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">rabbi falā taj‘alnī fil-qaumiẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku dalam golongan orang-orang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 95</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنَّا عَلٰٓى اَنْ نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقٰدِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa innā ‘alā an nuriyaka mā na‘iduhum laqādirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami kuasa untuk memperlihatkan kepadamu (Muhammad) apa yang Kami ancamkan kepada mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 96</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ السَّيِّئَةَۗ نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَصِفُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">idfa‘ bil-latī hiya aḥsanus-sayyi&#8217;ah(ta), naḥnu a‘lamu bimā yaṣifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 97</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qur rabbi a‘ūżu bika min hamazātisy-syayāṭīn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 98</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَعُوْذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَّحْضُرُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa a‘ūżu bika rabbi ay yaḥḍurūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 99</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ḥattā iżā jā&#8217;a aḥadahumul-mautu qāla rabbirji‘ūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 100</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّا ۗاِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">la‘allī a‘malu ṣāliḥan fīmā taraktu kallā, innahā kalimatun huwa qā&#8217;iluhā, wa miw warā&#8217;ihim barzakhun ilā yaumi yub‘aṡūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 101</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa iżā nufikha fiṣ-ṣūri falā ansāba bainahum yauma&#8217;iżiw wa lā yatasā&#8217;alūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 102</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">faman ṡaqulat mawāzīnuhū fa ulā&#8217;ika humul-mufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 103</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فِيْ جَهَنَّمَ خٰلِدُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa man khaffat mawāzīnuhū fa ulā&#8217;ikal-lażīna khasirū anfusahum fī jahannama khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 104</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">تَلْفَحُ وُجُوْهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيْهَا كٰلِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">talfaḥu wujūhahumun-nāru wa hum fīhā kāliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 105</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَكُنْ اٰيٰتِيْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam takun āyātī tutlā ‘alaikum fa kuntum bihā tukażżibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 106</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَاۤلِّيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū rabbanā galabat ‘alainā syiqwatunā wa kunnā qauman ḍāllīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 107</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">rabbanā akhrijnā minhā fa in ‘udnā fa innā ẓālimūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 108</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālakhsa&#8217;ū fīhā wa lā tukallimūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 109</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّهٗ كَانَ فَرِيْقٌ مِّنْ عِبَادِيْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innahū kāna farīqum min ‘ibādī yaqūlūna rabbanā āmannā fagfir lanā warḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 110</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاتَّخَذْتُمُوْهُمْ سِخْرِيًّا حَتّٰىٓ اَنْسَوْكُمْ ذِكْرِيْ وَكُنْتُمْ مِّنْهُمْ تَضْحَكُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fattakhażtumūhum sikhriyyan ḥattā ansaukum żikrī wa kuntum minhum taḍḥakūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat Aku, dan kamu (selalu) menertawakan mereka,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 111</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنِّيْ جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوْٓاۙ اَنَّهُمْ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innī jazaituhumul-yauma bimā ṣabarū, annahum humul-fā&#8217;izūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 112</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla kam labiṡtum fil-arḍi ‘adada sinīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 113</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū labiṡnā yauman au baḍa yaumin fas&#8217;alil-‘āddīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 114</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla il labiṡtum illā qalīlal lau annakum kuntum ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 115</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afa ḥasibtum annamā khalaqnākum ‘abaṡaw wa annakum ilainā lā turja‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 116</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ta‘ālallāhul-malikul-ḥaqq(u), lā ilāha illā huw(a), rabbul-‘arsyil-karīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang memiliki) ‘Arsy yang mulia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 117</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهٗ بِهٖۙ فَاِنَّمَا حِسَابُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa may yad‘u ma‘allāhi ilāhan ākhara lā burhāna lahū bih(ī), fa innamā ḥisābuhū ‘inda rabbih(ī), innahū lā yufliḥul-kāfirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 118</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِيْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qur rabbigfir warḥam wa anta khairur-rāḥimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-muminun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 23. Al-Mu&#8217;minun</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-muminun/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-muminun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 01:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1121</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 23. Al-Mu&#8217;minun (المؤمنون) Jumlah Ayat: 118 Arti: Orang-Orang Mukmin Pengantar Surah: Surat Al Mu&#8217;minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai Al Mu&#8217;minuun, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ... <a title="Tafsir Surat 23. Al-Mu&#8217;minun" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-muminun/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 23. Al-Mu&#8217;minun">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 23. Al-Mu&#8217;minun (المؤمنون)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 118</p>
<p><strong>Arti:</strong> Orang-Orang Mukmin</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Mu&#8217;minuun terdiri atas 118 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Dinamai <i>Al Mu&#8217;minuun</i>, karena permulaan ayat ini manerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketenteraman jiwa mereka di dunia. Demikian tingginya sifat-sifat itu, hingga ia telah menjadi akhlak bagi Nabi Muhammad s.a.w.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Beriman kepada Allah dan rukun iman yang enam. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa sungguh berbahagia dan beruntung orang-orang yang beriman, dan sebaliknya sangat merugi orang-orang kafir yang tidak beriman, karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerja-kan amal kebajikan, akan tetapi semua amalnya itu akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Khusyuk dalam salat. Dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat yang kedua, yaitu seorang mukmin yang beruntung, jika salat benar-benar khusyuk dalam salatnya, pikirannya selalu mengingat Allah, dan memusatkan semua pikiran dan panca inderanya untuk bermunajat kepada-Nya. Dia menyadari dan merasakan bahwa orang yang salat itu benar-benar sedang berhadapan dengan Tuhannya, oleh karena itu seluruh anggota tubuh dan jiwanya dipenuhi kekhusyukan, kekhidmatan dan keikhlasan, diselingi dengan rasa takut dan diselubungi dengan penuh harapan kepada Tuhannya. Untuk dapat memenuhi syarat kekhusyukan dalam salat, harus memperhati-kan tiga perkara, yaitu:</p>
<p>a) Paham apa yang dibaca, supaya apa yang diucapkan lidahnya dapat dipahami dan dimengerti, sesuai dengan ayat:</p>
<p>Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur&#8217;an ataukah hati mereka sudah terkunci? (Muhammad/47: 24)</p>
<p>b) Ingat kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya:</p>
<p>Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku. (thaha/20: 14)</p>
<p>c) Salat berarti munajat kepada Allah, pikiran dan perasaan orang yang salat harus selalu mengingat dan jangan lengah atau lalai. Para ulama berpendapat bahwa salat yang tidak khusyuk sama dengan tubuh tidak bernyawa. Akan tetapi ketiadaan khusyuk dalam salat tidak membatalkan salat, dan tidak wajib diulang kembali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Menjauhkan diri dari setiap perbuatan atau perkataan yang tidak berguna. Dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat yang ketiga, yaitu bahwa seorang mukmin yang bahagia itu ialah yang selalu menjaga waktu dan umurnya supaya jangan sia-sia. Sebagaimana ia khusyuk dalam salatnya, berpaling dari segala sesuatu kecuali dari Tuhan penciptanya, demikian pula ia berpaling dari segala perkataan yang tidak berguna bagi dirinya atau orang lain.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Menunaikan zakat wajib dan derma yang dianjurkan. Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa sifat keempat dari orang mukmin yang beruntung itu, ialah suka mengeluarkan zakat dan memberi derma yang dianjurkan, yang oleh mereka dipandang sebagai usaha untuk membersihkan harta dan dirinya dari sifat kikir, tamak serakah, hanya mengutamakan diri sendiri (egois), dan juga untuk meringankan penderitaan hamba-hamba Allah yang kekurangan, sesuai dengan firman-Nya:</p>
<p>Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). (asy- Syams/91: 9)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Menjaga kemaluan dari perbuatan keji. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat kelima dari orang mukmin yang berbahagia, yaitu suka menjaga kemaluannya dari setiap perbuatan keji seperti berzina, mengerjakan perbuatan kaum Lut (homoseksual), onani, dan sebagainya. Bersanggama yang diperbolehkan oleh agama hanya dengan istri yang telah dinikahi dengan sah atau dengan jariahnya (budak perempuan) yang di-peroleh dari jihad fisabilillah, karena dalam hal ini mereka tidak tercela.</p>
<p>Akan tetapi, barangsiapa yang berbuat di luar yang tersebut itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dalam ayat ini dan yang sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang hamba Allah itu tergantung kepada pemeliharaan kemaluannya dari berbagai penyalahgunaan supaya tidak termasuk orang yang tercela dan melampaui batas.</p>
<p>Menahan ajakan hawa nafsu, jauh lebih ringan daripada menanggung akibat dari perbuatan zina itu. Allah telah memerintahkan Nabi-Nya supaya menyampaikan perintah itu kepada umatnya, agar mereka menahan pan-dangannya dan memelihara kemaluannya dengan firman:</p>
<p>Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (an-Nur/24: 30)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Menjaga kemaluan dari perbuatan keji. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat kelima dari orang mukmin yang berbahagia, yaitu suka menjaga kemaluannya dari setiap perbuatan keji seperti berzina, mengerjakan perbuatan kaum Lut (homoseksual), onani, dan sebagainya. Bersanggama yang diperbolehkan oleh agama hanya dengan istri yang telah dinikahi dengan sah atau dengan jariahnya (budak perempuan) yang di-peroleh dari jihad fisabilillah, karena dalam hal ini mereka tidak tercela.</p>
<p>Akan tetapi, barangsiapa yang berbuat di luar yang tersebut itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dalam ayat ini dan yang sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang hamba Allah itu tergantung kepada pemeliharaan kemaluannya dari berbagai penyalahgunaan supaya tidak termasuk orang yang tercela dan melampaui batas.</p>
<p>Menahan ajakan hawa nafsu, jauh lebih ringan daripada menanggung akibat dari perbuatan zina itu. Allah telah memerintahkan Nabi-Nya supaya menyampaikan perintah itu kepada umatnya, agar mereka menahan pan-dangannya dan memelihara kemaluannya dengan firman:</p>
<p>Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (an-Nur/24: 30)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Menjaga kemaluan dari perbuatan keji. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat kelima dari orang mukmin yang berbahagia, yaitu suka menjaga kemaluannya dari setiap perbuatan keji seperti berzina, mengerjakan perbuatan kaum Lut (homoseksual), onani, dan sebagainya. Bersanggama yang diperbolehkan oleh agama hanya dengan istri yang telah dinikahi dengan sah atau dengan jariahnya (budak perempuan) yang di-peroleh dari jihad fisabilillah, karena dalam hal ini mereka tidak tercela.</p>
<p>Akan tetapi, barangsiapa yang berbuat di luar yang tersebut itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dalam ayat ini dan yang sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang hamba Allah itu tergantung kepada pemeliharaan kemaluannya dari berbagai penyalahgunaan supaya tidak termasuk orang yang tercela dan melampaui batas.</p>
<p>Menahan ajakan hawa nafsu, jauh lebih ringan daripada menanggung akibat dari perbuatan zina itu. Allah telah memerintahkan Nabi-Nya supaya menyampaikan perintah itu kepada umatnya, agar mereka menahan pan-dangannya dan memelihara kemaluannya dengan firman:</p>
<p>Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (an-Nur/24: 30)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan menepati janjinya. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat keenam dari orang mukmin yang beruntung itu, ialah suka memelihara amanat-amanat yang dipikulnya, baik dari Allah ataupun dari sesama manusia, yaitu bilamana kepada mereka dititipkan barang atau uang sebagai amanat yang harus disampaikan kepada orang lain, maka mereka benar-benar menyampaikan amanat itu sebagaimana mestinya, dan tidak berbuat khianat. Demikian pula bila mereka mengadakan perjanjian, mereka memenuhinya dengan sempurna. Mereka menjauhkan diri dari sifat kemunafikan seperti tersebut dalam sebuah hadis yang masyhur, yang menyatakan bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu kalau berbicara suka berdusta, jika menjanjikan sesuatu suka menyalahi janji dan jika diberi amanat suka berkhianat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Memelihara salat yang lima waktu. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat yang ketujuh, yaitu orang mukmin yang berbahagia itu selalu memelihara dan memperhatikan salat lima waktu secara sempurna, tepat waktu, dan memenuhi persyaratan dan rukun-rukun. Ayat ini tidak sama dengan ayat kedua di atas, sebab di sana disebutkan bahwa mereka khusyuk dalam salatnya, sedangkan di sini disebutkan, bahwa mereka selalu memelihara salat dengan tertib dan teratur. Kelompok ayat-ayat ini dimulai dengan menyebutkan salat dan disudahi pula dengan menyebut salat, hal ini memberi peringatan betapa pentingnya salat yang telah dijadikan tiang agama. Rasulullah pernah bersabda, &#8220;Barang siapa yang mendirikan salat sungguh ia telah mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkan salat, sungguh ia telah merobohkan agama.&#8221; Berikut penjelasan hadis mengenai keutamaan salat:</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata, saya bertanya kepada Rasulullah, amalan apa yang paling dicintai Allah, Nabi menjawab, salat pada waktunya, kemudian apa? Nabi menjawab, birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua). Kemudian apa lagi? Nabi bersabda, jihad di jalan Allah. (Riwayat asy-Syaikhan)</p>
<p>Tersebut pula dalam sebuah hadis Nabi saw:</p>
<p>Dari sauban, Nabi bersabda, &#8220;Istiqamahlah kamu dan jangan menghitung-hitung. Ketahuilah bahwa perbuatanmu yang paling baik ialah salat, dan tidak ada orang yang menjaga salat melainkan orang yang beriman. (Riwayat Ahmad, al-hakim dan al-Baihaqi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Memelihara salat yang lima waktu. Dalam ayat ini Allah menerangkan sifat yang ketujuh, yaitu orang mukmin yang berbahagia itu selalu memelihara dan memperhatikan salat lima waktu secara sempurna, tepat waktu, dan memenuhi persyaratan dan rukun-rukun. Ayat ini tidak sama dengan ayat kedua di atas, sebab di sana disebutkan bahwa mereka khusyuk dalam salatnya, sedangkan di sini disebutkan, bahwa mereka selalu memelihara salat dengan tertib dan teratur. Kelompok ayat-ayat ini dimulai dengan menyebutkan salat dan disudahi pula dengan menyebut salat, hal ini memberi peringatan betapa pentingnya salat yang telah dijadikan tiang agama. Rasulullah pernah bersabda, &#8220;Barang siapa yang mendirikan salat sungguh ia telah mendirikan agama dan barang siapa yang meninggalkan salat, sungguh ia telah merobohkan agama.&#8221; Berikut penjelasan hadis mengenai keutamaan salat:</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata, saya bertanya kepada Rasulullah, amalan apa yang paling dicintai Allah, Nabi menjawab, salat pada waktunya, kemudian apa? Nabi menjawab, birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua). Kemudian apa lagi? Nabi bersabda, jihad di jalan Allah. (Riwayat asy-Syaikhan)</p>
<p>Tersebut pula dalam sebuah hadis Nabi saw:</p>
<p>Dari sauban, Nabi bersabda, &#8220;Istiqamahlah kamu dan jangan menghitung-hitung. Ketahuilah bahwa perbuatanmu yang paling baik ialah salat, dan tidak ada orang yang menjaga salat melainkan orang yang beriman. (Riwayat Ahmad, al-hakim dan al-Baihaqi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Mereka yang memiliki tujuh sifat mulia itu akan mewarisi surga, disebabkan amal kebajikan mereka selama hidup di dunia, yaitu surga Firdaus yang paling tinggi, yang di atasnya berada &#8216;Arsy Allah Yang Maha Pemurah, dan mereka kekal di dalamnya. Umar meriwayatkan sebuah hadis, dimana Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Dari Umar bin al-Khattab, Rasulullah bersabda, &#8220;Telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat: Barang siapa yang menegakkannya akan masuk surga, lalu ia membaca sepuluh ayat ini dari permulaan Surah al-Mu&#8217;minun. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Ada segolongan ahli tafsir menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan manusia di sini ialah keturunan Adam termasuk kita sekalian, yang berasal dari air mani. Dari hasil penelitian ilmiah, sebenarnya air mani itu pun berasal dari tanah setelah melalui beberapa proses perkembangan. Makanan yang merupakan hasil bumi, yang dimakan oleh manusia, dan alat pencernaannya berubah menjadi cairan yang bercampur dengan darah yang menyalurkan bahan-bahan hidup dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia ke seluruh bagian anggotanya. Jika manusia itu meninggal dunia dan dimasukkan ke dalam kubur di dalam tanah, maka badannya akan hancur lebur dan kembali menjadi tanah lagi, sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain. (thaha/20: 55)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Kemudian Kami (Allah) tempatkan saripati air mani itu dalam tulang rusuk sang suami yang dalam persetubuhan dengan istrinya ditumpahkan ke dalam rahimnya, suatu tempat penyimpanan yang kukuh bagi janin sampai saat kelahirannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Kemudian air mani itu Kami (Allah) kembangkan dalam beberapa minggu sehingga menjadi al-&#8216;alaq (yang menempel di dinding rahim), dari al-&#8216;alaq dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging dijadikan tulang belulang, dan ada bagian yang dijadikan daging, kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging, laksana pakaian penutup tubuh, kemudian dijadikan makhluk yang (berbentuk) lain, setelah ditiupkan Roh ke dalamnya, sehingga menjadi manusia yang sempurna, dapat berbicara, melihat, mendengar, berpikir yang tadinya hanya merupakan benda mati. Maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.</p>
<p>Menurut para saintis, Tahapan-tahapan dalam embriologi manusia sebagai berikut: </p>
<p>¢Nutfah, atau dalam bahasa Arabnya &#8216;nutfa, mempunyai arti &#8216;sedikit air, atau &#8216;setetes air. Hal ini jelas mendeskripsikan air yang sedikit yang dipancarkan lelaki saat bersanggama. Air yang sedikit ini mengandung sperma. Sperma atau spermatozoa terdapat di dalam air yang menjijikan dan berbentuk ikan yang berekor panjang (ini adalah salah satu arti kata sulalah. Dalam surah As-Sajdah/32 ayat 8, air mani disebut sebagai &#8220;&#8230;.. Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang diremehkan&#8230;.&#8221; Surah al-Insan/76 ayat 2 dan as-Sajdh/32 ayat 8 berkaitan dengan kandungan dari air mani. Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa air mani terdiri atas empat macam lendir yang berbeda yang dihasilkan oleh empat kelenjar yang berbeda, yaitu kelenjar biji pelir, kelenjar saluran seminal, kelenjar prostat, dan kelenjar saluran kencing. </p>
<p>¢Sperma dibentuk di dalam buah pelir. Buah pelir sendiri dibentuk, sebagaimana dibuktikan ilmu pengetahuan, oleh sel-sel yang ada di bawah bakal ginjal, di bagian punggung embrio. Kelompok sel ini kemudian turun sampai di bawah tulang rusuk, pada saat beberapa minggu sebelum kelahiran bayi. Diperkirakan jumlah sperma dalam satu kali ejakulasi adalah 500 “ 600 juta ekor. Akan tetapi dari jumlah tersebut, hanya satu yang dapat melakukan pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, maka terjadi perubahan cepat dari indung telur. Ia segera menghasilkan membran yang mencegah sperma lain untuk ikut membuahi.</p>
<p>¢Setelah sel telur dibuahi, dan menempelkan diri di dinding uterus dan memperoleh makanan dari ibunya, maka ia akan tumbuh cepat. Pada waktu dua sampai tiga minggu kemudian, apabila dilihat dengan mata telanjang, ia akan berubah dari bentukan &#8216;lintah atau &#8216;alaqah ke bentukan &#8216;mudhgah atau &#8216;daging yang telah dikunyah. Pola yang terakhir ini sebetulnya dibentuk oleh adanya tonjolan dan lekukan, yang pada waktunya nanti akan menjadi organ-organ dalam (jantung, usus) dan luar (kaki, tangan). Surah al-hajj/22: 5 menambahkan satu catatan dari embrio. Dalam ayat ini, mudghah dideskripsikan dengan tambahan &#8220;yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna kejadiannya &#8230;..&#8221; Ini menggambarkan hal yang terjadi pada tahap &#8216;diferensiasi, dimana banyak organ mulai berkembang dalam waktu yang tidak bersamaan. Sehingga menimbulkan situasi antara selesai di bagian lain namun belum sempurna di bagian lainnya.</p>
<p>¢Dua tahapan terakhir yang disebutkan pada surah al-Muminun/23: 14 bercerita tentang &#8216;pembentukan tulang belulang setelah tahap mudgah. Pada akhirnya, ceritera diakhiri dengan memberinya &#8220;baju&#8221;, yang terdiri atas daging dan otot. Apabila kita mengikuti pertumbuhan embrio, maka kira-kira pada umur empat minggu suatu proses &#8216;diferensiasi mulai berjalan. Dalam proses ini kelompok-kelompok sel pada embrio akan berubah bentuk dan mulai membentuk organ-organ berukuran besar. Salah satu yang berkembang pertama kali adalah tulang tengkorak. Proses ini akan disusul kemudian oleh pembentukan calon otot, telinga, mata, ginjal, jantung dan banyak lagi.</p>
<p>Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah bin Masud, bahwa Rasulullah mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya seseorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya empat puluh hari, kemudian menjadi &#8216;alaqah seperti itu, kemudian menjadi mudhgah (gumpalan daging) seperti itu. Kemudian malaikat diutus kepadanya, lalu ia meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintahkan kepada empat kalimat, rizqinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia seorang yang celaka atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni surga, sehingga antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta saja. Namun dia sudah tercatat sebagai penghuni neraka, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni neraka, sehingga ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni neraka, sehingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta saja. Namun ia sudah tercatat sebagai penghuni surga, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni surga, sehingga ia masuk surga.&#8221; (Riwayat Ahmad) </p>
<p>Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata: Keinginanku bersesuaian dengan kehendak Allah pada empat perkara.</p>
<p>Pertama: Saya usulkan pada Rasulullah saw supaya di belakang Maqam Ibrahim dijadikan tempat salat maka turunlah firman Allah:</p>
<p>Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. (al-Baqarah/2: 125)</p>
<p>Kedua: Saya usulkan kepada Rasulullah saw supaya istri-istrinya memasang tabir (hijab) bila kedatangan tamu laki-laki, yang kadang-kadang tidak saleh semuanya, maka turunlah firman Allah:</p>
<p>Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (al-Ahzab/33: 53)</p>
<p>Ketiga: Saya berkata kepada istri-istri Nabi supaya berhenti menimbulkan kesulitan kepada beliau, karena mungkin Allah akan memberi ganti dengan istri-istri yang lebih baik, maka turunlah firman Allah:</p>
<p>Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu. (at-Tahrim/66: 5)</p>
<p>Keempat: Setelah turun ayat 12, 13 dan 14 Surah al-Mu&#8217;minun, maka saya ucapkan fatabarakallahu aá¸¥sanul Khaliqin, dan Rasululah saw bersabda, &#8220;Demikian itu sesuai dengan yang diturunkan-Nya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Kemudian sesudah penciptaanmu yang pertama itu, kamu sekalian pasti akan menemui ajalmu yang telah ditentukan. Allah berfirman:</p>
<p>Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (al-Anbiya&#8217;/21: 35)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu pada hari Kiamat, untuk dihisab segala amal perbuatanmu selama berada di dunia ini, yang baik akan diberi pahala, yang buruk akan diberi siksa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menciptakan di atas manusia tujuh lapis langit, sebagian berada di atas sebagian lain yang menjadi tempat peredaran bintang-bintang, yang telah dikenal orang sejak dahulu kala, dan telah ditemukan lagi beberapa bintang lainnya oleh ulama falak pada masa kini. Allah sekali-kali tidaklah lengah terhadap semua ciptaan itu, baik terhadap peredaran-peredaran maupun terhadap yang lainnya, karena peredaran semua planet di angkasa luar itu mengikuti peraturan tertentu. Seandainya Allah lengah terhadapnya, niscaya akan terjadi benturan-benturan planet itu satu sama lain, yang mengakibatkan timbulnya bencana yang tidak dapat diperkirakan kedahsyatannya. Memang itu pun akan terjadi, akan tetapi waktunya nanti pada hari Kiamat, di mana segala sesuatunya telah direncanakan di Lauh Mahfuz.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Lalu Allah menurunkan dari langit air hujan dengan kadar yang diperlukan, tidak terlalu lebat sehingga menimbulkan bencana banjir dan tidak terlalu sedikit sehingga cukup untuk mengairi kebun-kebun yang memerlukannya. Ada pula tanah-tanah yang memerlukan banyak air, akan tetapi tidak tahan menerima hujan yang lebat, maka air yang diperlukan itu didatangkan dari negeri lain melalui sungai-sungai yang besar seperti sungai Nil di Mesir yang bersumber di tengah-tengah benua Afrika. Di samping membawa air yang diperlukan, juga membawa lumpur yang sangat bermanfaat untuk menambah kesuburan. Air dapat tersimpan baik sebagai sungai-sungai, danau-danau dan bahkan sebagian tersimpan dalam bumi sebagai air tanah dangkal maupun air tanah dalam atau sering disebut sebagai groundwater. </p>
<p>Sebagian dari air itu dijadikan Allah menetap dalam bumi untuk mengisi sumur-sumur dan parit-parit yang berfungsi dalam bidang irigasi, dan karena air dalam bumi itu bersentuhan pula dengan lapisan-lapisan logam dan zat kimia lainnya, air itu mengandung unsur-unsur kimiawi yang menambah kesuburan tanah, dan bila lewat di lereng gunung-gunung berapi dapat pula menjadi sumber-sumber air panas yang mengandung belerang, dan dapat dijadikan tempat pemandian air panas yang sangat berguna untuk menyembuhkan penyakit kulit dan sebagainya. </p>
<p>Semua sumber penggunaan air itu, jika dimanfaatkan dengan rasa syukur kehadirat Allah, niscaya akan dapat dinikmati, akan tetapi jika manusia serakah dan merusaknya, maka sesungguhnya Allah berkuasa pula untuk menghilangkannya, terutama bila tempat-tempat itu dipakai untuk perbuatan maksiat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Lalu dengan sebab air hujan itu Allah menumbuhkan untuk manusia kebun-kebun kurma dan anggur dan buah-buahan lain yang beraneka warna yang dapat di makan. Ada pula dari tanam-tanaman itu yang menjadi sumber penghidupan, seperti dari hasil pohon lada, pala, cengkeh dan sebagainya.</p>
<p>Dijadikan pula untuk manusia sejenis pohon kayu yang keluar dari gunung Sinai yaitu pohon zaitun yang banyak tumbuh di sekitar gunung itu, yang banyak menghasilkan minyak dan sering digunakan untuk melezatkan hidangan dan pada akhir-akhir ini dapat pula dijadikan bahan kosmetik dan obat-obatan karena minyak zaitun tidak mengandung kolesterol yang berbahaya bagi tubuh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Lalu dengan sebab air hujan itu Allah menumbuhkan untuk manusia kebun-kebun kurma dan anggur dan buah-buahan lain yang beraneka warna yang dapat di makan. Ada pula dari tanam-tanaman itu yang menjadi sumber penghidupan, seperti dari hasil pohon lada, pala, cengkeh dan sebagainya.</p>
<p>Dijadikan pula untuk manusia sejenis pohon kayu yang keluar dari gunung Sinai yaitu pohon zaitun yang banyak tumbuh di sekitar gunung itu, yang banyak menghasilkan minyak dan sering digunakan untuk melezatkan hidangan dan pada akhir-akhir ini dapat pula dijadikan bahan kosmetik dan obat-obatan karena minyak zaitun tidak mengandung kolesterol yang berbahaya bagi tubuh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Sesungguhnya pada penciptaan binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran yang sangat penting bagi manusia di samping manfaatnya yang besar sebagai nikmat pemberian Allah. Binatang ternak bisa menjadi sumber pembelajaran dan bahan riset, misalnya bagaimana sapi yang makanan utamanya, setelah dikunyah dan masuk dalam perutnya, saripatinya kemudian bercampur dengan darah bisa menghasilkan susu yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Dari perutnya kemudian, Allah berkuasa untuk me-misahkan air susu dari percampuran dua benda yang kotor itu, yaitu darah dan kotoran sapi yang ada diperutnya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya (an-Nahl/16: 66)</p>
<p>Kemudian Allah menggambarkan dalam ayat lain kebahagiaan yang dirasakan pemilik sapi ketika melepaskan sapi-sapinya ke padang rumput di pagi hari. Kebahagiaan yang sama juga dirasakannya ketika ternak-ternak itu kembali ke kandangnya pada sore hari. Firman Allah:</p>
<p>Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan). (an-Nahl/16: 6)</p>
<p>Jika diperinci, terdapat banyak manfaat yang diperoleh manusia dari binatang ternak itu:</p>
<p>1. Air susu yang sangat lezat untuk diminum dan mengandung berbagai unsur yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat, juga dapat dijadikan mentega, keju, dan lain-lain.</p>
<p>2. Bulu atau rambutnya dapat dijadikan bahan pakaian dan selimut yang sangat berguna terutama di musim dingin.</p>
<p>3. Dagingnya dapat dimakan segera atau diawetkan dalam kaleng.</p>
<p>4. Dijadikan kendaraan, terutama untuk pergi ke tempat yang jauh yang sulit dicapai dengan kendaraan lain seperti tersebut dalam ayat 21.</p>
<p>Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. (an-Nahl/16: 7)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Di atas punggung binatang ternak itu, terutama unta, dapat dijadikan sarana untuk mengangkut manusia atau barang ke tempat yang sangat jauh melalui padang pasir yang sulit untuk dilalui oleh kendaraan lain, di samping dapat mempergunakan kapal-kapal sebagai kendaraan di laut.</p>
<p>Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 8)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah mengutus Nuh kepada kaumnya untuk memberi peringatan kepada mereka tentang azab Allah, bila mereka membuat kemusyrikan kepada-Nya dan mendustakan Rasul-Nya, seraya berkata dengan lemah lembut kepada mereka, &#8220;Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah Yang Esa, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya, karena tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak merasa takut akan azab-Nya, dan menjauhkan diri dari menyekutukan-Nya?&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Seruan Nabi Nuh yang lemah lembut ini dijawab dengan cemoohan kaumnya, bahwa Nuh tidak lain hanya seorang manusia biasa seperti mereka, tidak mempunyai kelebihan apa-apa, baik fisik maupun mental sehingga ia pantas untuk menjadi utusan Allah dan menerima wahyu. Nuh dituduh hanya ingin menjadi orang yang kedudukannya lebih dari mereka, dan ingin lebih berkuasa. Untuk mencapai tujuannya itu, ia mengaku menjadi utusan Allah, padahal sebenarnya ia tidak pantas. Lalu mereka menyebutkan dua hal yang menjadi alasan untuk tidak mengakui Nuh sebagai utusan Allah.</p>
<p>Pertama, seandainya Allah menghendaki mengutus seorang rasul yang memerintahkan beribadah hanya kepada Allah saja, tentu Dia mengutus beberapa malaikat, dan bukan mengutus seorang manusia biasa.</p>
<p>Kedua, mereka belum pernah mendengar dari nenek moyang mereka sendiri apa yang dikemukakan oleh Nuh, tentang penyembahan hanya kepada Allah, Tuhan Yang Esa. Seruan kepada ketauhidan itu tidak ada dalam tradisi nenek moyang mereka, maka mereka menentang keras dakwah Nabi Nuh. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka telah terseret dalam taklid buta dan kesesatan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Ayat ini menerangkan sikap orang-orang kafir akibat pandangan mereka yang meremehkan posisi Nuh sebagai rasul. Mereka mengatakan bahwa Nuh tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang miring otaknya, yang berbicara seenaknya, dan apa yang diucapkannya tidak beralasan sama sekali, sehingga tidak perlu dilayani. Oleh karena itu, mereka meminta kepada kaumnya untuk sabar sampai Nuh pada suatu waktu sadar dan kembali ke keadaannya yang normal dan kembali memeluk agama nenek moyang mereka. Ucapan mereka itu menunjukkan keingkarannya, padahal mereka mengetahui, bahwa Nuh orang yang paling cerdas pikirannya di antara mereka. </p>
<p>Menyimak perkataan kaum Nabi Nuh, yang menolak kedudukannya sebagai rasul, bisa dikatakan bahwa setiap rasul seharusnya memiliki kelebihan dari umatnya dari segi akhlak dan mukjizat. Seorang rasul kedudukannya harus lebih tinggi karena dengan demikian semua petunjuknya akan diikuti. Di samping itu seorang rasul harus berwibawa, supaya dengan wibawanya ia dapat memimpin umatnya ke jalan yang benar, dan rasul itu maksum, yakni terpelihara dari segala dosa termasuk kesombongan. Ucapan mereka bahwa seruan kepada ketauhidan itu belum pernah mereka terima dari nenek moyang mereka dahulu. Padahal ucapan mereka itu tidak cukup untuk dijadikan alasan menolak risalah Nuh. Tuduhan mereka bahwa Nabi Nuh menderita sakit ingatan, bertentangan dengan kenyataan yang mereka lihat dan alami sendiri.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Setelah Nuh melihat keingkaran kaumnya yang tidak mau menyadari kesesatan mereka, padahal Nuh cukup lama melaksanakan kewajiban dakwahnya, maka Allah mewahyukan kepadanya bahwa kaumnya tidak akan pernah beriman. Pengikutnya yaitu orang-orang yang sudah beriman tidak akan bertambah lagi jumlahnya. Nuh kemudian berdoa kepada Tuhan supaya diberi pertolongan, seraya berdoa, &#8220;Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.&#8221; Doa Nuh itu disebutkan dalam firman Allah:</p>
<p>Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, &#8220;Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).&#8221; (al-Qamar/54: 10)</p>
<p>Dan seperti dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan Nuh berkata, &#8220;Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh/71: 26)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Setelah doa Nuh diperkenankan, maka Allah mewahyukan kepada-nya, agar ia mulai membuat perahu di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya, supaya perahu itu kokoh dan tidak mudah mengalami kerusakan dan supaya Nuh mengetahui teknik pembuatannya, sebab pembuatan sebuah perahu yang besar dan kukuh tentu saja memerlukan keahlian. Apabila perintah Allah sudah datang untuk membinasakan kaumnya dengan topan yang besar, dan tanda-tandanya sudah tampak, yaitu tannur tempat membakar roti di bawah tanah sudah mulai memancarkan air, maka Allah menyuruh Nabi Nuh memasukkan ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari tiap-tiap jenis binatang. Dalam perahu dibuat bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling bawah untuk binatang buas seperti singa, harimau, dan sebagainya. Di tingkat kedua binatang ternak seperti: sapi, kambing, dan sebagainya. Di tingkat ketiga semua jenis burung sepasang-pasang dan di tingkat yang paling atas sekali Nabi Nuh dengan sekalian keluarganya yang selamat, di antaranya tiga orang putranya: Sam, Ham dan Yafis. Adapun putra beliau yang bernama Kanan termasuk orang yang tenggelam, karena ia tidak mau ikut bersama ayahnya.</p>
<p>Dengan dimasukkannya setiap jenis binatang yang ada pada waktu itu, maka perahu Nuh merupakan kebun binatang yang lengkap. Semua binatang yang tidak masuk ke dalam perahu dan orang kafir yang tidak mengikuti ajakan Nabi Nuh ditenggelamkan dalam topan besar itu, sesuai dengan ancaman Allah bahwa mereka akan ditimpa azab. Allah sebelumnya melarang Nuh supaya jangan memberitahukan rencana Allah dan maksud pembuatan perahu kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka semuanya akan ditenggelamkan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Allah memerintahkan kepada Nuh, jika ia bersama orang-orang yang beriman telah berada di atas perahu, maka ia harus mengucapkan pujian kepada Allah sebagai rasa syukur atas keselamatan mereka semuanya yang berada dalam perahu itu, &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.&#8221; Ayat ini memberi petunjuk bahwa kita tidak boleh merasa gembira dengan turunnya azab kepada orang atau golongan lain, kecuali bila di dalamnya mengandung keselamatan bagi kaum mukminin, terhindarnya mereka dari bahaya kemusnahan, dan tersapu bersihnya dunia dari segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan.</p>
<p>Menurut keterangan Ibnu &#8216;Abbas ra bahwa yang berada dalam perahu Nuh itu selain semua jenis binatang itu ada 80 orang manusia, yaitu Nuh beserta tiga orang putranya beserta istri-istrinya dan 72 orang mukmin umat Nuh yang setia kepadanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Nuh disuruh berdoa pula, &#8220;Ya Tuhanku, turunkanlah aku, bila topan sudah berakhir, pada tempat yang diberkati dan hanya Engkaulah yang dapat memberi tempat yang sebaik-baiknya, yang mengetahui tempat-tempat yang cocok lagi selaras bagi kami.&#8221; Qatadah berkata, Allah mengajarkan kepada kita supaya membaca doa ini ketika naik kapal:</p>
<p>Dan dia berkata, &#8220;Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. (Hud/11: 41)</p>
<p>Dan ketika berada di atas kendaraan membaca:</p>
<p>Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.&#8221; (az-Zukhruf/43: 13-14)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 30</h3>
<p>Sesungguhnya dalam peristiwa topan besar yang membinasakan kaum Nuh yang mendustakan Rasul-Nya, dengan mengingkari keesaan Allah dan menyembah berhala-berhala, terdapat pelajaran bagi kaum Quraisy yang mendustakan kerasulan Muhammad saw, bahwa peristiwa yang menimpa kaum Nuh itu dapat pula menimpa kaum Quraisy yang berani mendustakan Rasulullah dan memusuhinya. Pada kejadian itu benar-benar terdapat beberapa azab yang sangat besar kepada kaum Nuh itu, supaya orang-orang yang datang kemudian mengambil pelajaran daripadanya, sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan sungguh, kapal itu telah Kami jadikan sebagai tanda (pelajaran). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (al-Qamar/54: 15)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 31</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan umat yang lain setelah kaum Nuh, yaitu Kaum &#8216;Ad kaumnya Nabi Hud, kaum samud kaumnya Nabi Saleh, dan kaum Madyan yaitu kaumnya Nabi Syuaib. Dari tiga kaum ini pendapat yang paling kuat yang sesuai dengan ayat ini kaum &#8216;Ad karena dalam sejarah kenabian setelah Nabi Nuh yang diutus kemudian adalah Nabi Hud. Jadi, yang dimaksud dengan qarnan akharin adalah kaum &#8216;Ad, samud dan Madyan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 32</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengutus kepada kaum &#8216;Ad itu seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yaitu Nabi Hud yang melaksanakan dakwah kepada mereka seraya menyerukan, &#8220;Hai kaumku, sembahlah Allah dan tinggalkanlah semua berhala-berhalamu, karena sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya melainkan Dia. Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 33</h3>
<p>Pemuka-pemuka kaumnya yang kafir mengingkari ketauhidan kepada Allah, dan adanya kebangkitan dan hisab pada hari Kiamat karena terlalu cinta pada kemewahan hidup di dunia. Mereka menjawab seruan Nabi Hud dengan berkata, &#8220;Orang ini (Hud) tidak lain hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu, tidak mempunyai kelebihan, makan minum biasa seperti kita. Karena itu seruannya tak usah dihiraukan sama sekali.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 34</h3>
<p>Pemuka orang kafir itu melanjutkan ucapannya, &#8220;Jika kamu sekalian menaati manusia biasa seperti kamu, dan mengikuti saja seruan Hud tanpa penelitian lebih dahulu, niscaya kamu akan menjadi manusia yang merugi dan tertipu.&#8221; Mereka tidak mau jika rasul itu hanya manusia biasa. Mereka ingin rasul itu dari malaikat sehingga tampak hebat dan luar biasa. Padahal jika rasul itu malaikat mereka pasti tidak mampu mengikutinya, karena karakter malaikat tidak sama dengan karakter manusia. Manusia tidak mungkin dapat mengikuti cara beribadah dan cara hidup malaikat yang tidak memiliki nafsu sehingga hidupnya selalu dan hanya untuk beribadah. Sedangkan manusia lemah, memiliki nafsu dan mudah tergoda oleh iblis dan setan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 35</h3>
<p>Kemudian mereka menambah alasan keingkaran mereka kepada rasul yang diutus Allah, yaitu Nabi Hud dengan mengatakan bagaimana mungkin Nabi Hud menjanjikan kepada pengikutnya bahwa jika manusia sudah mati, dan badannya telah hancur dalam kubur dan hanya tinggal tulang-belulang saja, akan dibangkitkan lagi dalam keadaan utuh dari kuburannya itu untuk dihisab pada hari Kiamat. Mereka tidak mempercayainya karena hanya mengikuti pemikirannya yang dangkal, padahal dalam Surah Yasin Allah telah berfirman:</p>
<p>Katakanlah (Muhammad), &#8220;Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 79)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 36</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Nabi Hud tentang kebangkitan, menurut mereka mustahil terjadi. Mereka tidak mau beranjak dari pikirannya yang sederhana untuk melihat kenyataan bahwa ada kekuasaan Allah di luar kekuasaan manusia. Allah yang telah menciptakan alam semesta dan seluruh manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 37</h3>
<p>Kemudian mereka mempertegas keingkaran mereka dengan ucapan, &#8220;Kehidupan yang sebenarnya hanya kehidupan dunia ini saja. Sebagian kita ada yang hidup kemudian mati, disusul pula oleh yang lain secara silih berganti, generasi demi generasi, tak beda seperti tanaman, di sana ada yang bercocok tanam dan di situ ada yang panen. Kita sekalian tidak akan dibangkitkan lagi setelah mati.&#8221;</p>
<p>Orang-orang kafir hanya memandang kehidupan manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang yang dari waktu ke waktu hanya mengalami pergantian generasi, dan tidak ada perkembangan pikiran dan kebudayaan, serta tidak ada tanggung jawab dalam perbuatannya sehari-hari.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 38</h3>
<p>Mereka tidak saja mengingkari kebangkitan setelah mati, tetapi juga melemparkan tuduhan kepada Hud bahwa ia berbuat dusta kepada Allah. Mereka berkata, &#8220;Orang itu memang mengadakan kedustaan terhadap Allah dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 39</h3>
<p>Ketika Hud mendengar ucapan kaumnya, bahwa mereka sama sekali tidak akan beriman kepadanya, maka beliau berdoa kepada Allah, &#8220;Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku, walaupun aku telah menjalankan segala daya upaya untuk memberi petunjuk kepada mereka, tetapi mereka telah menutup semua pintu-pintu hidayah, sehingga aku merasa berputus asa dari keimanan mereka itu.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 40</h3>
<p>Allah berfirman, &#8220;Tunggulah, tidak lama lagi orang-orang yang mendustakanmu itu semuanya akan menjadi orang-orang yang menyesal. Azab-Ku akan menimpa mereka dan pada waktu itu semua penyesalan tidak akan berguna lagi.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 41</h3>
<p>Maka mereka dimusnahkan dengan azab yang tidak ada bandingannya, yaitu dihancurkan oleh air dan suara yang mengguntur dengan dahsyat. Mereka dijadikan sebagai sampah banjir besar yang tidak berfaedah sama sekali, maka orang-orang yang zalim itu menjadi binasa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 42</h3>
<p>Setelah kehancuran kaum &#8216;Ad, pada ayat ini diterangkan tentang kaum samud, kaum negeri Madyan dan negeri Aikah, serta negeri Sodom. Kepada kaum samud Allah mengutus Nabi Saleh, tetapi kaum samud menolaknya, bahkan sampai membunuh unta Nabi Saleh yang merupakan mukjizatnya. </p>
<p>Sedangkan kepada penduduk Madyan dan Aikah, Allah mengutus Nabi Syuaib. Mereka juga durhaka dan menolak Nabi Syuaib, serta mereka suka mengurangi timbangan. Penduduk Sodom juga mengingkari Nabi Lut dan banyak yang melakukan homoseksual.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 43</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa tidak ada satu umat pun yang dapat mempercepat ajal atau kehancuran mereka, dan tidak pula dapat menundanya. Semua itu berlaku sesuai dengan ketentuan Allah Yang Mahakuasa, yang mengatur alam ini dengan segala isinya dengan tertib, teratur dan lancar. Oleh karena itu, umat-umat yang telah binasa itu tidak dapat mendahului ajalnya yang telah ditentukan dan tidak pula mereka dapat mengundurkannya atau menundanya, sebab setiap umat telah ada ketetapan lebih dahulu di Lauh Mahfuz, berapa lama mereka akan mengalami hidup di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 44</h3>
<p>Kemudian Allah mengutus kepada umat-umat itu para rasul-Nya secara berturut-turut dalam beberapa masa yang berbeda. Pada setiap periode ada rasul Allah yang berfungsi menyampaikan risalah-Nya. Demikianlah mereka datang silih berganti sampai kepada nabi penutup yaitu Nabi Muhammad, setiap diutus rasul kepada umatnya, umat itu mendustakannya. Oleh karena masing-masing umat itu mendustakan rasul-Nya, maka Allah membinasakan mereka berturut-turut dan Allah menjadikan kisah mereka buah tutur manusia yang datang kemudian. Kisah mereka sering disebut, baik dalam percakapannya sehari-hari maupun dalam pelajaran sejarah umat-umat yang pernah mendustakan nabi-nabi-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 45</h3>
<p>Allah mengutus Musa dan saudaranya Harun (sebagai pembantu-nya) kepada Fir&#8217;aun dan kaumnya dengan membawa sembilan macam mukjizat seperti yang telah tersebut dalam Surah al-A&#8217;raf dan hujjah yang nyata atas kerasulannya, agar mereka hanya menyembah kepada Allah dan meninggalkan kemusyrikan kepada-Nya, dan agar mereka jangan menyiksa Bani Israil yang berada di Mesir, dan membolehkan mereka dibawa kembali oleh Musa dan Harun kembali ke negeri asal Nabi Yakub di Palestina. Musa dan Harun datang kepada Fir&#8217;aun dengan seruan yang lemah lembut sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p>Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir&#8217;aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (thaha/20: 44)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 46</h3>
<p>Musa dan Harun datang kepada Fir&#8217;aun dan pembesar-pembesar kaumnya disertai dengan alasan dan hujjah yang kuat, namun mereka tidak juga menyadari, bahkan mereka bersikap sombong sebagaimana kebiasaan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 47</h3>
<p>Mereka berkata, &#8220;Apakah kita pantas percaya kepada dua orang manusia seperti kita juga? Apakah patut kita tunduk pada keduanya, padahal mereka itu adalah golongan hamba-hamba dan pembantu-pembantu yang tunduk kepada kita sebagai majikan dan tuannya?&#8221; Mereka menyamakan misi menyampaikan tugas risalah dari Allah yang berdasarkan keikhlasan, kepercayaan dan kejujuran, seperti jabatan keduniaan yang bersumber kepada kepangkatan dan kekayaan. Pandangan mereka itu juga dipegang oleh orang kafir Quraisy, sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini:</p>
<p>Dan mereka (juga) berkata, &#8220;Mengapa Al-Qur&#8217;an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?&#8221; (az-Zukhruf/43: 31)</p>
<p>Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad saw, karena menurut jalan pikiran mereka, orang yang diangkat menjadi rasul itu hendaklah orang yang kaya dan berpengaruh. Mereka tidak mengetahui bahwa pilihan Allah untuk kerasulan itu tidak didasarkan kepada kekayaan atau kepangkatan, akan tetapi semata-mata kepada karunia Allah, yang sudah ada ketetapannya di alam azali, dan hubungannya dengan keluhuran budi pekerti, kesucian dan kejujuran serta kesayangan kepada umatnya. </p>
<p>Para nabi karena kesucian batin mereka tidak terpengaruh oleh alam kebendaan. Mereka menerima wahyu dengan perantaraan malaikat, dan melayani segala kepentingan umatnya. Mereka tetap berhubungan dengan Tuhan mereka. Apabila orang-orang kafir merasa aneh dan mempertanyakan mengapa Allah mengutus utusan-Nya dari kalangan manusia sendiri, maka lebih aneh dan ajaib lagi, jika dipertanyakan mengapa mereka menjadikan kayu dan batu, yang dibuat dan diukir oleh tangan mereka sendiri sebagai Tuhan. Sungguh tepat apa yang difirmankan dalam ayat:</p>
<p>Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-hajj/22: 46)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 48</h3>
<p>Fir&#8217;aun dan para pembesar kaumnya tetap mendustakan Musa dan Harun. Dengan demikian, mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan dengan cara ditenggelamkan di Laut Merah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 49</h3>
<p>Kemudian setelah musuh-musuh Musa dan Harun ditenggelamkan (dibinasakan), Allah menerangkan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada para utusan-Nya, bahwa Dia telah menurunkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, yang di dalamnya berisi hukum-hukum syariat, beberapa perintah dan larangan, dengan harapan agar Bani Israil mendapat petunjuk ke jalan yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 50</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda kekuasaan Allah yang dapat menciptakan seorang manusia hanya dari seorang ibu saja tanpa ayah, dan memberi kemampuan kepada seorang bayi berbicara sebelum waktunya, dan memberi mukjizat kepadanya, dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir, menghidupkan orang yang sudah mati dari kuburannya, membuat burung dari tanah liat yang bisa terbang, dan sebagainya. Kelahiran Isa dari seorang ibu yaitu Maryam dijadikan bukti kekuasaan Allah, karena hamil tanpa disentuh manusia. Maryam dan putranya menjadi tanda kekuasaan Allah bagi seluruh manusia sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam. (al- Anbiya&#8217;/21: 91)</p>
<p>Allah menjelaskan bahwa Isa dan ibunya diberi tempat kediaman dan dilindungi di suatu dataran yang tinggi di daerah Palestina yang mempunyai padang rumput dan sumber air jernih yang mengalir. Nabi Isa dan Maryam selama hidupnya tidak pernah keluar dari Palestina atau Syam. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Isa pergi ke Rabwah dekat Lahore di Pakistan dan meninggal dunia di sana, tetapi pendapat ini tidak mempunyai dasar sama sekali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 51</h3>
<p>Allah memerintahkan kepada para nabi supaya memakan rezeki yang halal dan baik yang dikaruniakan Allah kepadanya dan sekali-kali tidak dibolehkan memakan harta yang haram, selalu mengerjakan perbuatan yang baik, dan menjauhi perbuatan yang keji dan mungkar. Para nabi itulah orang yang pertama yang harus mematuhi perintah Allah, karena mereka akan menjadi teladan bagi umat di mana mereka diutus untuk menyampaikan risalah Tuhannya. Perintah ini walaupun hanya ditunjukkan kepada para nabi, tetapi ia berlaku pula terhadap umat mereka tanpa terkecuali, karena para nabi itu menjadi panutan bagi umatnya kecuali dalam beberapa hal yang dikhususkan untuk para nabi saja, karena tidak sesuai jika diwajibkan pula kepada umatnya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Hai manusia, sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala adalah baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa yang diperintahkan-Nya kepada Rasul-rasul-Nya. Maka Rasulullah saw membaca ayat ini (ya ayyuhar-rusulu kulu minath-thayyibati wa&#8217;malu saliha inni bima ta&#8217;malu &#8216;alim, &#8220;Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.). Kemudian Rasulullah saw membaca lagi ayat ya ayyuhalladzina amanu kulu min thayyibati ma razaqnakum¦Kemudian Nabi menerangkan keadaan seseorang yang telah melakukan perjalanan panjang (lama), rambutnya tidak teratur dan penuh debu, dan makanannya dari yang haram, minumannya dari yang haram dan pakaiannya dari yang haram pula. Orang itu berkata sambil menadahkan tangan ke langit, &#8220;Ya Tuhanku! Ya Tuhanku! Bagaimana mungkin doanya itu akan terkabul?&#8221; (Riwayat Muslim dan at-Tirmidzi)</p>
<p>Pada ayat ini Allah mendahulukan perintah memakan makanan yang halal dan baik baru beramal saleh. Hal ini berarti amal yang saleh itu tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila orang yang mengerjakannya memakan harta yang halal dan baik dan menjauhi harta yang haram. Menurut riwayat yang diterima dari Rasulullah, beliau pernah bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya Allah tidak menerima ibadah orang yang dalam perutnya terdapat sesuap makanan yang haram. Dan diriwayatkan dengan sahih pula bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka lebih berhak membakarnya.&#8221; (Riwayat Muslim dan at-Tirmizi)</p>
<p>Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim dan Ibnu Mardawaih dari Ummi Abdillah saudara perempuan Syaddad bin Aus ra: </p>
<p>Bahwa Ummi Abdillah mengirimkan seteko susu kepada Rasulullah ketika beliau akan berbuka puasa. Susu itu ditolak oleh Rasulullah dan beliau menyuruh pembawa susu itu kembali dan menanyakan kepadanya dari mana susu itu didapatnya. Ummi Abdillah menjawab, &#8220;Itu susu dari kambingku sendiri.&#8221; Kemudian susu itu ditolak lagi dan pesuruh Ummi Abdillah disuruh lagi menanyakan dari mana kambing itu didapat. Ummi Abdillah menjawab, &#8216; saya beli kambing itu dengan uangku sendiri.&#8221; Kemudian barulah Rasulullah menerima susu itu. Keesokan harinya Ummi Abdillah datang menemui Rasulullah dan bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, mengapa engkau selalu menolak susu itu?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Para rasul diperintahkan supaya jangan memakan kecuali yang baik-baik dan jangan berbuat sesuatu kecuali yang baik-baik pula.&#8221; (Riwayat Ibnu Abi hatim dan Ibnu Mardawaih)</p>
<p>Demikianlah perintah Allah kepada para Rasul-Nya yang harus dipatuhi oleh umat manusia karena Allah Maha Mengetahui amal perbuatan manusia, tak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Dia akan membalas perbuatan yang baik dengan berlipat ganda dan perbuatan jahat dengan balasan yang setimpal.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 52</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan agama para rasul itu adalah agama yang satu yaitu agama tauhid yang menyembah Allah yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada seorang rasul pun yang menyimpang dari prinsip ini. Kalau dalam suatu agama terdapat sedikit saja penyimpang-an dari prinsip ini maka agama itu bukanlah agama yang dibawa oleh seorang rasul, berarti agama itu telah diubah-ubah oleh pengikutnya dan tidak orisinil lagi. Mustahil Allah Yang Maha Esa memilih dan mengangkat seorang rasul dengan membawa agama yang bertentangan dengan kebenaran dan kemurnian keesaan-Nya. Meskipun syariat dan peraturan-peraturan yang dibawa para nabi dan rasul berbeda-beda sesuai dengan masa dan tempat di mana mereka diutus, tetapi mengenai dasar tauhid tidak ada sedikit pun perbedaan antara mereka. Oleh sebab itu Allah menegaskan lagi dalam ayat ini bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam, hendaknya semua manusia menyembah dan bertakwa hanya kepada-Nya dan sekali-kali jangan menyekutukan-Nya dengan siapa pun dan sesuatu apapun.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Kami para nabi adalah (ibarat) saudara-saudara seayah, agama kami adalah satu.&#8221; (Riwayat al-Bukhari, Muslim dan Dawud)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 53</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa umat para rasul itu telah menyimpang dari ajaran rasul-rasul mereka sehingga terpecah belah menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan menganggap bahwa golongannyalah yang benar, sedang golongan yang lain adalah salah. Demikianlah sejarah agama-agama samawi yang dibawa para nabi dan rasul. Pada mulanya agama-agama itu tetap suci dan murni, tak sedikit pun dimasuki oleh dasar-dasar kesyirikan, tetapi dengan berangsur-angsur sedikit demi sedikit paham tauhid yang murni itu dimasuki oleh paham-paham lain yang berbau syirik atau menyimpang sama sekali dari dasar tauhid. Akibatnya, manusia terjatuh ke jurang kesesatan, bahkan ada di antara mereka yang menyembah manusia, binatang, dan benda-benda seperti patung dan berhala. Namun demikian, kita dapat mengetahui suci dan murninya suatu agama jika masih berpegang teguh kepada paham tauhid. Bila dalam agama itu tidak terdapat sedikit pun penyimpangan dari dasar tauhid, maka agama itu pastilah agama yang asli dan murni. Tetapi bila terdapat di dalamnya paham yang menyimpang dari dasar itu, maka agama itu tidak murni lagi dan telah kemasukan paham-paham yang sesat. Paham-paham yang sesat inilah yang telah dianut oleh kaum musyrikin Mekah sekalipun mereka mendakwahkan bahwa mereka adalah pengikut Nabi Ibrahim. Mereka telah jauh tersesat dari ajaran Nabi Ibrahim, tetapi mereka tetap membanggakan bahwa agama merekalah yang benar, walaupun yang mereka sembah adalah benda-benda mati yang tidak bermanfaat sedikit pun dan tidak pula berdaya menolak kemudaratan. Mereka menentang dengan keras ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad saw dan mengancam akan bertindak tegas terhadap siapa saja yang menentang mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 54</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar membiarkan orang-orang yang keras kepala yang tidak mau menerima kebenaran itu sampai tiba saatnya Allah akan menyiksa mereka baik di dunia maupun di akhirat nanti, di mana mereka akan menyaksikan sendiri bagaimana hebat dan dahsyatnya siksaan yang disediakan untuk mereka. Adapun siksaan di dunia ialah malapetaka yang menimpa mereka pada waktu Perang Badar dimana mereka mengalami kekalahan besar dan kehancuran. Perintah seperti ini terdapat pula pada ayat lain, seperti firman Allah:</p>
<p>Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu. Berilah mereka itu kesempatan untuk sementara waktu. (ath-thariq/86: 17)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (al-hijr/15: 3)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 55</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir itu telah ditipu dan diperdayakan oleh harta dan anak-anak mereka padahal harta kekayaan dan anak-anak yang banyak itu bukanlah tanda bahwa Allah meridai mereka. Mereka membangga-banggakan harta dan kekayaan mereka terhadap kaum Muslimin yang di kala itu dalam keadaan serba kekurangan, seperti tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Dan mereka berkata, &#8220;Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.&#8221; (Saba/34: 35)</p>
<p>Sebenarnya Allah memberikan kelapangan rezeki kepada orang kafir hanya semata-mata untuk menjerumuskan mereka ke lembah kemaksiatan dan kedurhakaan karena sikap mereka yang sangat congkak dan sombong terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Dengan harta dan anak-anak yang banyak itu mereka akan menjadi lupa daratan seakan-akan merekalah yang benar dan berkuasa. Apa saja yang mereka lakukan adalah hak mereka walaupun dengan perbuatan itu mereka menginjak-injak hak orang lain dan menganiaya kaum yang lemah. Tetapi pada suatu saat Allah pasti akan menyiksa mereka, karena menjadi sunnatullah bahwa kezaliman dan penganiayaan itu tidak akan kekal, bahkan akan hancur dan musnah. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir. (at-Taubah/9: 55)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. (Ali &#8216;Imran/3: 178)</p>
<p>Qatadah, seorang mufassir telah memberikan ulasannya mengenai ayat ini sebagai berikut, &#8220;Allah telah memperdayakan orang-orang kafir itu dengan harta dan anak-anak mereka. Hai anak Adam, janganlah kamu menganggap seseorang terhormat karena harta kekayaan dan anak-anaknya, tetapi hormatilah dia karena iman dan amal saleh.&#8221; Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlak di antara kamu sebagai-mana Dia telah membagi-bagikan rezeki di antara kamu. Sesungguhnya Allah memberikan nikmat dunia kepada orang yang diridai-Nya dan kepada orang yang tidak diridai-Nya. Dan Dia tidak memberikan keteguhan beragama melainkan kepada yang Ia rida. Dan barangsiapa yang Allah berikan kepadanya keteguhan beragama, berarti Allah meridainya. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak Islam seorang hamba kecuali bila telah Islam pula batin dan lidahnya, tidak beriman dia kecuali tetangganya merasa aman terhadap kejahatannya. Para sahabat bertanya, &#8220;Apakah kejahatannya itu, ya Rasulullah?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Penipuan dan kezalimannya.&#8221; (Riwayat Ahmad)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 56</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir itu telah ditipu dan diperdayakan oleh harta dan anak-anak mereka padahal harta kekayaan dan anak-anak yang banyak itu bukanlah tanda bahwa Allah meridai mereka. Mereka membangga-banggakan harta dan kekayaan mereka terhadap kaum Muslimin yang di kala itu dalam keadaan serba kekurangan, seperti tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Dan mereka berkata, &#8220;Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.&#8221; (Saba/34: 35)</p>
<p>Sebenarnya Allah memberikan kelapangan rezeki kepada orang kafir hanya semata-mata untuk menjerumuskan mereka ke lembah kemaksiatan dan kedurhakaan karena sikap mereka yang sangat congkak dan sombong terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Dengan harta dan anak-anak yang banyak itu mereka akan menjadi lupa daratan seakan-akan merekalah yang benar dan berkuasa. Apa saja yang mereka lakukan adalah hak mereka walaupun dengan perbuatan itu mereka menginjak-injak hak orang lain dan menganiaya kaum yang lemah. Tetapi pada suatu saat Allah pasti akan menyiksa mereka, karena menjadi sunnatullah bahwa kezaliman dan penganiayaan itu tidak akan kekal, bahkan akan hancur dan musnah. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir. (at-Taubah/9: 55)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. (Ali &#8216;Imran/3: 178)</p>
<p>Qatadah, seorang mufassir telah memberikan ulasannya mengenai ayat ini sebagai berikut, &#8220;Allah telah memperdayakan orang-orang kafir itu dengan harta dan anak-anak mereka. Hai anak Adam, janganlah kamu menganggap seseorang terhormat karena harta kekayaan dan anak-anaknya, tetapi hormatilah dia karena iman dan amal saleh.&#8221; Diriwayatkan dari Ibnu Mas&#8217;ud bahwa Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi akhlak di antara kamu sebagai-mana Dia telah membagi-bagikan rezeki di antara kamu. Sesungguhnya Allah memberikan nikmat dunia kepada orang yang diridai-Nya dan kepada orang yang tidak diridai-Nya. Dan Dia tidak memberikan keteguhan beragama melainkan kepada yang Ia rida. Dan barangsiapa yang Allah berikan kepadanya keteguhan beragama, berarti Allah meridainya. Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak Islam seorang hamba kecuali bila telah Islam pula batin dan lidahnya, tidak beriman dia kecuali tetangganya merasa aman terhadap kejahatannya. Para sahabat bertanya, &#8220;Apakah kejahatannya itu, ya Rasulullah?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Penipuan dan kezalimannya.&#8221; (Riwayat Ahmad)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 57</h3>
<p>Salah satu di antara sifat-sifat orang yang benar-benar beriman itu pertama ialah takut kepada Tuhan. Karena itu mereka selalu mencari keridaan-Nya dengan bersungguh-sungguh mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang menjadi pedoman bagi hidup mereka ialah ajaran agama karena ajaran itulah prinsip mereka. Apa saja yang bertentangan dengan prinsip-prinsip itu tetap mereka tolak bagaimana pun akibatnya. Iman mereka tidak dapat digoyahkan oleh bujuk rayu atau ancaman apa pun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 58</h3>
<p>Sifat yang kedua ialah percaya sepenuhnya kepada bukti-bukti Keesaan dan kekuasaan Allah yang terbentang luas dalam alam semesta sebagaimana difirmankan oleh Allah:</p>
<p>Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), &#8220;Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Ali &#8216;Imran/3: 190-191)</p>
<p>Mereka percaya pula sepenuhnya kepada semua ayat yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Apa yang tersebut dalam ayat-ayat itu adalah kebenaran mutlak yang tak dapat ditawar-tawar lagi.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 59</h3>
<p>Sifat yang ketiga ialah memelihara kemurnian tauhid dengan benar-benar menyembah Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sembahan-sembahan lain. Orang yang beriman tidak akan mau menyembah berhala-berhala atau minta tolong kepadanya, walaupun berhala-berhala itu dianggap oleh kaum musyrik sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (al-Bayyinah/98: 5)</p>
<p>Mereka tidak akan meminta tolong kepada kuburan-kuburan karena mereka yakin sepenuhnya bahwa perbuatan itu sama saja dengan meminta tolong kepada berhala-berhala dan itu termasuk perbuatan syirik yang sangat dimurkai Allah. Mereka tidak pula akan meminta tolong kepada arwah-arwah, jin dan setan, karena yang demikian pun termasuk syirik pula. Demikianlah semua perbuatan yang membawa kepada mempersekutukan Allah mereka hindari sejauh-jauhnya, sehingga kepercayaan mereka benar-benar murni, tidak dikotori sedikit pun oleh hal-hal yang berbau syirik.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 60</h3>
<p>Sifat yang keempat ialah takut kepada Allah, karena mereka yakin akan kembali kepada-Nya pada hari berhisab di mana akan diperhitungkan segala amal perbuatan manusia. Meskipun mereka telah mengerjakan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya dan menafkahkan hartanya di jalan Allah, namun mereka merasa takut kalau-kalau amal baik mereka tidak diterima, karena mungkin ada di dalamnya unsur-unsur riya&#8217; atau lainnya yang menyebabkan ditolaknya amal itu. Oleh sebab itu mereka selalu terdorong untuk selanjutnya berbuat baik karena kalau amal yang sebelumnya tidak diterima, mungkin amal yang sesudah itu menjadi amal yang makbul yang diberi ganjaran yang berlipat ganda.</p>
<p>Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi hatim dari &#8216;Aisyah pernah bertanya kepada Nabi:</p>
<p>Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai ayat ini (alladzina yu&#8217;tuna ma ataw waqulubuhum wajilah), apakah yang dimaksud dengan ayat ini ialah orang berzina dan meminum khamar atau mencuri, dan karena itu ia takut kepada Tuhan dan siksa-Nya? Pertanyaan ini dijawab oleh Rasulullah, &#8220;Bukan demikian maksudnya, hai puteri Abu Bakar as-shiddiq. Yang dimaksud dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan menafkahkan hartanya, namun dia merasa takut kalau-kalau amalnya itu termasuk amal yang tidak diterima (mardud). (Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 61</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, selalu bersegera berbuat kebaikan bila ada kesempatan untuk itu dan selalu berupaya agar amal baiknya selalu bertambah. Baru saja ia selesai melaksanakan amal yang baik ia ingin agar dapat segera berbuat amal yang lain dan demikianlah seterusnya. Orang yang demikian sifatnya akan diberi pahala oleh Allah amalnya yang baik di dunia maupun di akhirat seperti yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim yang tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh. (an-Nahl/16: 122)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali &#8216;Imran/3: 148)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 62</h3>
<p>Dengan ayat ini Allah menjelaskan bahwa sudah menjadi sunnah dan ketetapan-Nya, Dia tidak akan membebani seseorang dengan suatu kewajiban atau perintah kecuali perintah itu sanggup dilaksanakannya dan dalam batas-batas kemampuannya. Tidak ada syariat yang diwajibkan-Nya yang berat dilaksanakan oleh hamba-Nya dan di luar batas kemampuannya, hanya manusialah yang memandangnya berat karena keengganannya atau ia disibukkan oleh urusan dunianya atau tugas tersebut menghalanginya dari melaksanakan keinginannya.</p>
<p>Padahal perintah itu, seperti salat umpamanya amat ringan dan mudah bagi orang yang telah biasa mengerjakannya, bahkan salat itu pun dapat meringankan beban dan tekanan hidup yang dideritanya bila ia benar-benar mengerjakannya dengan tekun dan khusyuk. Muqatil berkata, &#8220;Barang siapa tidak sanggup mengerjakan salat dengan berdiri ia boleh mengerjakannya dalam keadaan duduk, dan kalaupun tidak sanggup duduk maka dengan isyarat saja pun sudah cukup.&#8221; Karena itu tidak ada alasan sama sekali bagi orang mukmin untuk membebaskan diri dari kewajiban salat, demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya, karena semua kewajiban itu adalah dalam batas-batas kemampuannya. Hanya nafsu dan keinginan manusialah yang menjadikan kewajiban-kewajiban itu berat baginya. Maka orang yang seperti ini telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dan akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan atas keingkaran dan keengganannya. Setiap pelanggaran terhadap perintah Allah akan dicatat dalam buku catatan amalnya, demikian pula amal perbuatan yang baik, kecil maupun besar semuanya tercatat dalam buku itu sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>(Allah berfirman), &#8220;Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.&#8221; (al-Jatsiyah/45: 29)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, &#8220;Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,&#8221; dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)</p>
<p>Mereka akan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya yang tertera dalam buku catatan itu dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 63</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hati kaum musyrikin telah berpaling dan lalai dari memperhatikan petunjuk-petunjuk yang dibawa Al-Qur&#8217;an. Mereka tidak mau mengambil manfaat daripadanya. Padahal petunjuk-petunjuk itulah yang dapat membawa mereka kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Seandainya mereka mau membaca dan memperhatikan Al-Qur&#8217;an tentulah hati mereka akan terbuka dan melihat bahwa ajaran Al-Qur&#8217;an itu memang amat berguna dan semua yang terkandung di dalamnya adalah benar. Mereka akan mengakui bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah tanpa kecuali. Inilah kesalahan mereka yang pertama yang menyeret mereka kepada kesalahan-kesalahan lain dan menyebabkan mereka tidak mempedulikan lagi norma-norma akhlak yang mulia, berbuat sekehendak hati tanpa memperhatikan hak-hak orang-orang lain. Apa saja yang mereka inginkan mereka rebut walaupun dengan merampas dan menganiaya kaum lemah. Karena itu pula mereka telah tenggelam dalam kemusyrikan dan mata hati mereka telah buta tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang sesat, telinga mereka telah tuli, tidak dapat lagi mendengar ajaran agama. Hadis yang diriwayatkan Ibnu Masud, Nabi saw, bersabda:</p>
<p>&#8230;.Demi Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni surga, sehingga antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta saja. Namun dia sudah tercatat sebagai penghuni neraka, maka ia mengakhiri amalnya dengan dengan amalan penghuni neraka, sehingga ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni neraka, sehingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta saja. Namun ia sudah tercatat sebagai penghuni surga, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni surga, sehingga ia masuk surga.&#8221; (Riwayat Ahmad)</p>
<p>Mereka menganggap apa yang mereka warisi dari nenek moyang mereka sajalah yang benar. Menurut mereka Al-Qur&#8217;an itu hanya dongengan orang-orang dahulu yang dibawa oleh orang yang gila atau hanya gubahan seorang penyair atau ajaran yang diterima Muhammad dari ahli kitab. Apabila diberikan kepada mereka keterangan yang nyata tentang kebenaran Al-Qur&#8217;an yang tidak dapat dibantah sehingga mereka mengatakan, kami tak dapat menerimanya karena bertentangan dengan apa yang dianut dan dipercayai moyang kami, seperti tersebut dalam ayat:</p>
<p>Bahkan mereka berkata, &#8220;Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.&#8221; (az-Zukhruf/43: 22)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 64</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum musyrikin dan semua orang yang ingkar dan durhaka akan disiksa dengan siksaan yang pedih. Pada saat mereka telah dikepung oleh azab yang dahsyat dan mengerikan sebagai balasan atas keingkaran dan kedurhakaan mereka, mereka berteriak-teriak meminta tolong dan sangat menyesali nasib mereka yang buruk itu, terutama pemimpin-pemimpin dan orang-orang kaya mereka yang pernah hidup di dunia dengan senang dan penuh kenikmatan. Tetapi tidak ada yang dapat menolong mereka pada waktu itu, karena semua urusan dan keputusan berada di tangan Allah. Penyesalan mereka tiada berguna lagi karena ibarat pepatah &#8220;nasi sudah menjadi bubur,&#8221; kesalahan dan kedurhakaan mereka tak dapat diampuni lagi. Firman Allah:</p>
<p>Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (shad/38:3)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 65</h3>
<p>Allah berfirman kepada mereka untuk tidak berteriak-teriak meminta tolong pada hari itu, karena tak ada gunanya. Hari itu adalah hari pembalasan terhadap apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu. Inilah ketetapan yang sudah pasti dari Allah yang harus mereka terima, tak ada yang dapat menolong atau membebaskan mereka dari azab dan mereka tak dapat menghindarkan diri daripadanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 66</h3>
<p>Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa tatkala di dunia telah dibaca-kan kepada mereka ayat-ayat Allah oleh seorang rasul yang diutus kepada mereka, tetapi mereka mendustakannya, memperolok-olokkan dan menghinanya karena kesombongan dan kecongkakan, padahal petunjuk dan ajaran yang dibawanya adalah benar dan sangat bermanfaat bagi mereka kalau mereka mau memperhatikan dan mendengarkannya. Firman Allah:</p>
<p>Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah dipersekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar. (al-Mumin/40: 12)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 67</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa mereka menolak semua ajaran yang dibawa Nabi Muhammad dan menganggap diri mereka lebih mulia daripada-nya karena mereka penguasa, pembela, dan penjaga Baitullah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih mulia dari mereka. Mereka menggunjingkan dan mencela Nabi saw habis-habisan di waktu bersantai di malam hari. Mereka menuduh Nabi sebagai tukang sihir, penyair, tukang tenung, dan lain sebagainya. Tindakan mereka itu tidak benar, karena Muhammad seorang rasul dan Allah akan mengeluarkan orang kafir dari tanah haram karena kejahatan mereka kepada Rasulullah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 68</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mencerca perbuatan dan ucapan mereka yang tak sopan dan tak masuk akal itu. Apakah mereka tidak memperhatikan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an bagaimana indah dan tinggi susunan kata-katanya, padahal mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk memperhatikannya. Tidak terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an itu kelemahan, pertentangan atau sesuatu yang mengurangi nilai sastranya atau merendahkan pengertian yang terdapat di dalamnya. Bahkan Al-Qur&#8217;an berisi dalil-dalil dan hujjah-hujjah yang nyata yang tidak dapat dibantah, baik yang terkait dengan dasar-dasar akhlak yang mulia, maupun dengan syariat dan peraturan yang dapat membawa mereka ke derajat yang paling tinggi bila mereka mau mengamalkan dan mematuhinya. Ataukah mereka menganggap kedatangan Muhammad sebagai rasul suatu hal yang mustahil yang belum pernah terjadi pada umat-umat yang terdahulu, padahal mereka mengetahui adanya rasul-rasul yang terdahulu itu dan bagaimana nasib umat-umat yang mengingkari mereka, bahkan mereka melihat sendiri bekas-bekas kehancuran yang ditinggalkan umat-umat yang durhaka itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 69</h3>
<p>Ayat ini mempertanyakan apakah mereka tidak mengenal siapa Muhammad, rasul mereka sehingga mereka mengingkarinya. Padahal, mereka mengenal Muhammad sejak kecil, sebagai orang yang baik budi pekerti, paling terpercaya di kalangan mereka, dan keturunan dari Bani Hasyim yang mereka hormati dan segani, sehingga mereka sendiri memberikan julukan terhadapnya dengan al-Amin (seorang yang paling dipercaya). Abu Sufyan sebagai kepala perutusan mereka kepada Kaisar Romawi, ketika ditanya bagaimana sifat-sifat Muhammad, dia menjawab Muhammad berasal dari keturunan keluarga yang mulia, terkenal dengan kebenaran ucapannya dan amanahnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 70</h3>
<p>Penjelasan selanjutnya mengatakan bahwa mereka menganggap Muhammad saw sebagai orang gila yang tidak menyadari semua ucapannya. Sebetulnya, mereka tahu benar bahwa Muhammad tidak gila, dan mengakui bahwa dia adalah seorang yang paling cerdas di antara mereka, seorang cendekiawan yang bijaksana. Mereka sendiri pernah mengangkatnya sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara mereka, ketika berselisih tentang siapa yang akan meletakkan hajar aswad di tempatnya semula setelah bangunan Kabah dirombak dan diperbaiki.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Muhammad adalah pembawa kebenaran dari Tuhannya, bukan seperti yang mereka tuduhkan. Dia mengajak mereka supaya meninggalkan berbagai sembahan dan berhala serta kembali kepada agama tauhid yang murni, agama nenek moyang mereka Nabi Ibrahim. Dia adalah pembawa agama yang mempunyai syariat dan peraturan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Tetapi kebanyakan mereka benci kepada kebenaran yang dia serukan, karena hati mereka telah tertutup oleh syirik, dosa, dan kedurhakaan. Oleh sebab itu, mereka berpaling dari jalan yang benar, selalu menempuh jalan yang sesat, dan tak dapat lagi memahami kebenaran, bahkan mereka membencinya. Memang ada di antara mereka yang sadar dan insaf, mengakui dalam hatinya bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah agama yang benar dan baik, tetapi karena takut dicemooh kaumnya yang kafir mereka tidak mau beriman seperti halnya paman Nabi sendiri yaitu Abu Talib. Ia pernah mengatakan, &#8220;Kalau tidak karena takut akan dicerca oleh pemimpin-pemimpin kabilah kami, tentulah kami benar-benar telah menjadi pengikutnya dalam segala hal.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 71</h3>
<p>Kemudian Allah menjelaskan bahwa kalau Al-Qur&#8217;an mengikuti kemauan orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, yang menye-kutukan Allah dan mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, serta membenarkan segala perbuatan dosa dan munkar, tentulah dunia ini akan rusak binasa sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki &#8216;Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.(al-Anbiya&#8217;/21: 22)</p>
<p>Kalau Al-Qur&#8217;an membolehkan perbuatan zalim, aniaya, dan mening-galkan keadilan tentu akan terjadi kekacauan dan keguncangan hebat dalam masyarakat. Kalau Al-Qur&#8217;an membolehkan pelanggaran hak, perampasan harta sehingga si lemah menjadi santapan yang empuk bagi si kuat, tentulah dunia ini tidak akan aman dan tenteram selama-lamanya. Hal ini telah terbukti pada diri mereka sendiri. Hampir saja masyarakat Arab pada masa Jahiliah rusak binasa, karena tidak mempunyai norma-norma akhlak yang mulia, tidak ada syariat dan peraturan yang mereka patuhi. Mereka hanya membangga-banggakan kekayaan dan kekuatan sehingga untuk memperebutkannya mereka jatuh dalam jurang perselisihan dan peperangan yang tidak habis-habisnya. </p>
<p>Allah kembali menerangkan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada mereka sesuatu yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi mereka yaitu Al-Qur&#8217;an. Mengapa mereka berpaling daripadanya, menolak, menganggap hina, dan memperolok-olokkannya. Kalau mereka sadar dan insaf tentulah mereka tidak akan berbuat seperti itu. Padahal terbukti kemudian bahwa Al-Qur&#8217;an itu menjadikan mereka bangsa yang mulia dan mereka bangga karena Al-Qur&#8217;an turun pertama kali kepada mereka dan menggunakan bahasa mereka, sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan sungguh, Al-Qur&#8217;an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban. (az-Zukhruf/43: 44)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 72</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mempertanyakan mengapa mereka tidak mau menerima ajaran-ajaran Al-Qur&#8217;an padahal Nabi Muhammad tidak pernah meminta kepada mereka imbalan jasa atas penyampaian ajaran Al-Qur&#8217;an. Nabi Muhammad menyadari bahwa penyampaian risalah itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya atas perintah Tuhannya. Kalau ada sesuatu yang diharapkannya maka harapan itu tiada lain hanyalah keridaan Allah yang dengan keridaan-Nya ia akan berbahagia dan dengan keridaan Allah itu ia akan mendapat balasan karunia yang tidak akan putus-putusnya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Katakanlah (Muhammad), &#8220;Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.&#8221; (Saba&#8217;/34: 47)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 73</h3>
<p>Kemudian pada ayat ini Allah meyakinkan Nabi Muhammad saw bahwa dia benar-benar seorang rasul yang menyeru kaumnya kepada jalan yang lurus yang membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah menghimbau Muhammad agar tidak terpengaruh dengan kata-kata orang-orang kafir itu yang menghina dan mencemoohkannya. Semua ucapan-ucapan mereka itu adalah bohong belaka yang keluar dari mulut mereka karena dengki dan sakit hati.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 74</h3>
<p>Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang tidak mau beriman itu dan tidak percaya kepada hari akhirat, benar-benar telah menyimpang dari jalan yang benar. Kepada mereka telah diberikan berbagai alasan dan perumpamaan yang jelas. Seandainya mereka mau mendengarkan dan memikirkannya tentulah mereka akan sadar dan kembali kepada kebenaran. Tetapi hati dan pikiran mereka telah ditutupi oleh kesombongan, kedurhakaan dan perbuatan dosa yang selalu mereka lakukan. Mereka tidak berhak sama sekali atas rahmat dan kasih sayang Allah karena semua perbuatan baik tidak ada gunanya sama sekali buat orang-orang yang bersifat demikian.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 75</h3>
<p>Ayat ini mengatakan bahwa walaupun Allah memberi rahmat kepada mereka dan menyingkirkan bahaya yang mengancam, mereka tetap tidak akan mensyukuri rahmat itu, bahkan mereka akan bertambah durhaka dan tetap akan melakukan maksiat dan kezaliman. Tidak ada satu kebaikan pun yang dapat diharapkan dari mereka. Bahkan, sebagaimana dijelaskan Al-Qur&#8217;an, di akhirat nanti setelah melihat dahsyatnya siksaan yang akan ditimpakan kepada diri mereka, kemudian permintaan mereka untuk dikembalikan ke dunia dikabulkan guna memperbaiki kesalahan mereka, namun mereka akan tetap juga melakukan maksiat dan akan tetap juga menjadi orang-orang yang ingkar dan durhaka. Allah berfirman pada ayat lain:</p>
<p>Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, &#8220;Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.&#8221; Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An&#8217;am/6: 27-28)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 76</h3>
<p>Allah telah menimpakan azab kepada mereka pada Perang Badar sehingga banyak pemimpin dan pembesar mereka yang mati terbunuh tetapi mereka tak pernah tunduk kepada Allah dan tak pernah patuh mengikuti ajaran dan perintah-Nya. Mereka tidak pernah mau berendah hati kepada-Nya, bahkan tetap sombong dan takabur dan tidak pernah berhenti melakukan kezaliman dan perbuatan dosa. Mereka bertambah sesat dan bertambah giat memerangi agama Allah sehingga mereka menyiapkan tentara dan alat-alat perang yang lebih banyak dan lebih besar lagi untuk memerangi Rasulullah. Allah berfirman:</p>
<p>Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan. (al-Anam/6:43)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 77</h3>
<p>Sebenarnya mereka yang telah jauh tersesat dari jalan yang benar itu tidak akan sadar dan insaf kecuali bila datang hari Kiamat, dan dibukakan untuk mereka pintu siksaan yang berat. Pada waktu itulah baru mereka menyesal dan mengharapkan ampunan dari Allah, tetapi saat itu bukanlah saat untuk bertobat. Penyesalan mereka tak ada gunanya lagi dan tobat mereka pun tidak akan diterima. Mereka pasti dijerumuskan ke dalam neraka sebagai balasan atas keingkaran dan kedurhakaan mereka di dunia sebagaimana tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di bumi (tanpa) mengindahkan kebenaran dan karena kamu selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan). (Dikatakan kepada mereka), &#8220;Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.&#8221; (al-Mu&#8217;min/40: 75-76)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 78</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniakan kepada manusia pendengaran, pengelihatan dan hati nurani. Sekiranya manusia mau memperhatikan dan memikirkan karunia Allah tersebut, niscaya dia akan mengakui betapa besarnya nikmat Allah yang amat ajaib itu, betapa teliti dan halusnya ciptaan-Nya. Telinga yang tampak amat sederhana bentuknya dapat menangkap berbagai macam suara yang berbeda-beda. Suara binatang, burung-burung, suara yang terjadi pada alam sekitar seperti suara angin yang menderu, suara petir yang mengguntur dan beraneka ragam suara yang ditimbulkan oleh peradaban manusia seperti suara kendaraan dan mesin-mesin, suara musik yang mengalun, dan suara yang merdu. Telinga dapat membedakan suara itu satu per satu sehingga manusia dapat menentukan sikap terhadap apa yang didengarnya. Mata dapat menangkap cahaya dan bentuk sesuatu, dapat membedakan berbagai macam warna, dapat melihat keindahan alam, dapat menyelidiki mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Kemudian hati yang dapat merasakan dan menghayati berbagai macam perasaan, meneliti setiap kejadian, dan mengambil kesimpulan darinya untuk menentukan sikap terhadapnya. Kalau manusia benar-benar mempergunakan ketiga nikmat itu sebaik-baiknya tentulah dia akan mendapat manfaat yang banyak sekali dan akhirnya mereka sampai kepada kesimpulan bahwa pemberi nikmat dan karunia itu adalah Mahaluas ilmu-Nya. Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia patut dipuji dan disyukuri atas segala anugerah-Nya itu. Tetapi ternyata sedikit sekali manusia yang sampai kepada derajat itu. Seperti yang difirmankan Allah:</p>
<p>Dan sungguh, Kami telah meneguhkan kedudukan mereka (dengan kemakmuran dan kekuatan) yang belum pernah Kami berikan kepada kamu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka (selalu) mengingkari ayat-ayat Allah dan (ancaman) azab yang dahulu mereka perolok-olokkan telah mengepung mereka. (al-Ahqaf/46: 26)</p>
<p>Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad sikap kebanyakan manusia yang tidak mau bersyukur kepada-Nya, seperti tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (Yusuf/12:103)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 79</h3>
<p>Di antara karunia Allah kepada manusia ialah menciptakan manusia dengan sempurna, dibekali dengan pendengaran, penglihatan dan mata hati dan potensi lainnya sehingga dia dapat memanfaatkan semua yang diciptakan Allah di bumi dan di langit yang memang diciptakan oleh Allah untuk manusia sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu. (al- Baqarah/2: 29)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. (Luqman/31: 20)</p>
<p>Dia menciptakan manusia lengkap dengan indera, potensi dan kecenderungan serta hati nurani agar dia benar-benar bisa menjadi khalifah di bumi. Tak ada makhluk di bumi ini yang lebih sempurna penciptaannya daripada manusia seperti tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (at-Tin/95: 4)</p>
<p>Dengan keistimewaan itu manusia harus bersyukur kepada Penciptanya dengan memanfaatkan karunianya itu dengan sebaik-baiknya, beramal dan bekerja untuk kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Karena nanti Allah akan mengumpulkan manusia seluruhnya di padang Mahsyar untuk menerima perhitungan amal perbuatannya selama hidup di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 80</h3>
<p>Di antara karunia Allah ialah menghidupkan dan mematikan, manusia tidak akan dapat menikmati kehidupan dunia kalau Allah tidak mengaruniakan roh kepadanya. Dengan adanya roh di dalam jasadnya barulah manusia dapat berusaha, berikhtiar dan berpikir untuk mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakannya. Tidak ada yang mengetahui rahasia hidup mati ini kecuali Allah. Telah berabad-abad bahkan beribu tahun manusia berusaha untuk mengetahui rahasia roh ini agar dia dapat hidup selamanya, tetapi sampai sekarang tidak ada seorang ilmuwan pun yang sanggup mengungkap rahasia itu. Karena soal roh itu adalah rahasia yang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sebagai tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, &#8220;Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.&#8221; (al-Isra&#8217;/17: 85)</p>
<p>Selanjutnya Dialah yang menjadikan pergantian antara malam dan siang. Malam dijadikan waktu untuk istirahat dan siang dijadikan waktu untuk berusaha dan bekerja. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya dunia ini kalau yang ada hanya siang saja, demikian pula sebaliknya. Mungkin dunia ini dan segala makhluk yang ada di atasnya akan mati terbakar karena selalu ditimpa terik matahari yang amat panas atau mungkin dunia ini akan mati dengan segala isinya kalau yang ada hanya malam saja sepanjang waktu, karena tidak ada matahari yang menjadi sumber energi dan menjadi sebab hidupnya makhluk di dunia ini. Allah menegur sikap dan tindakan manusia yang tidak mau mengingat betapa besar karunia-Nya kepada mereka. Mengapa mereka tidak memikirkan dan memperhatikannya, agar mereka bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya itu?</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 81</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan keingkaran orang-orang kafir Mekah itu sehingga mereka mengulang kembali apa yang diucapkan oleh orang-orang kafir dahulu seakan-akan mata mereka telah buta, telinga mereka telah tuli dan hati mereka telah terkunci mati untuk memperhatikan dan memikirkan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad saw, yang tidak dapat mereka bantah lagi. Mereka mengatakan bahwa hari kebangkitan itu hanyalah omong kosong belaka yang selalu diada-adakan oleh Nabi Muhammad dan para rasul sebelumnya. Semenjak dahulu kala telah ada nabi-nabi dan rasul-rasul yang mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan Muhammad, tetapi nyatanya sampai sekarang telah berlalu masa yang demikian panjang hari Kiamat dan hari kebangkitan itu belum juga datang. </p>
<p>Allah menggambarkan ucapan nenek moyang mereka tentang hari kebangkitan dengan firman-Nya:</p>
<p>Sungguh, yang demikian ini sudah dijanjikan kepada kami dan kepada nenek moyang kami dahulu, ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu!&#8221; (al-Mu&#8217;minun/23: 83</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 82</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana mereka mengulang-ulang ucapan nenek moyang mereka dahulu. Jika mereka sudah mati dan tulang belulang hancur luluh menjadi tanah, apakah mereka akan dibangkitkan kembali? Menurut mereka, ini adalah suatu hal yang mustahil dan tak mungkin terjadi, karena sampai sekarang belum ada seorang pun nenek moyang mereka yang telah mati dan menjadi tanah itu dapat hidup kembali. Ucapan mereka ini sangat keliru.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 83</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bagaimana orang-orang kafir itu menghina dan memperolok-olokkan Muhammad dengan mengatakan bahwa mereka sudah diberi janji yang tidak ada kebenarannya sama sekali sebagaimana kepada nenek moyang mereka yang telah dijanjikan seperti janji-janji Muhammad ini, tetapi tak ada satu pun janji-janji para rasul yang terdahulu itu yang telah terbukti. Bagaimana mereka akan percaya dan menerima saja ucapan-ucapan Muhammad yang telah gila itu yang tak ada buktinya sama sekali dan mungkin ucapan-ucapannya itu hanya dongengan orang dahulu kala. Pada ayat-ayat lain terdapat penjelasan mengenai ucapan-ucapan mereka beserta bantahan dan penolakan terhadap ucapan-ucapan itu seperti firman Allah:</p>
<p>(Orang-orang kafir) berkata, &#8220;Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?&#8221; Mereka berkata, &#8220;Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.&#8221; Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja. Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru). (an-Nazi&#8217;at/79: 10-14)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, &#8220;Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?&#8221; Katakanlah (Muhammad), &#8220;Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Adakah dia menjanjikan kepada kamu, bahwa apabila kamu telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, sesungguhnya kamu akan dikeluarkan (dari kuburmu)? Jauh! Jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu, (kehidupan itu) tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (di sanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi), Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kita tidak akan mempercayainya. (al-Mu&#8217;minun/23: 35-38)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 84</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw supaya menanyakan kepada orang-orang kafir yang mengatakan bahwa tidak mungkin Allah kuasa menghidupkan kembali orang yang telah mati sedang tulang belulangnya telah remuk menjadi tanah dan tak mungkin Dia mengumpulkan mereka di padang Mahsyar nanti. Siapakah yang memiliki bumi dan segala yang ada padanya? Orang-orang kafir diminta untuk menjawab pertanyaan ini. Pada dasarnya mereka akan menjawab bahwa pemiliknya dan yang berkuasa atasnya ialah Allah, karena demikianlah kepercayaan nenek moyang mereka. Hanya mereka telah jauh menyimpang dari agama tauhid yang murni dan akidah mereka telah dikotori kepercayaan yang tidak benar dan menyesatkan. Oleh sebab itu, Allah mengemukakan pertanyaan ini kepada mereka seakan-akan mereka tidak mengetahuinya sama sekali atau telah melupakannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 85</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw supaya menanyakan kepada orang-orang kafir yang mengatakan bahwa tidak mungkin Allah kuasa menghidupkan kembali orang yang telah mati sedang tulang belulangnya telah remuk menjadi tanah dan tak mungkin Dia mengumpulkan mereka di padang Mahsyar nanti. Siapakah yang memiliki bumi dan segala yang ada padanya? Orang-orang kafir diminta untuk menjawab pertanyaan ini. Pada dasarnya mereka akan menjawab bahwa pemiliknya dan yang berkuasa atasnya ialah Allah, karena demikianlah kepercayaan nenek moyang mereka. Hanya mereka telah jauh menyimpang dari agama tauhid yang murni dan akidah mereka telah dikotori kepercayaan yang tidak benar dan menyesatkan. Oleh sebab itu, Allah mengemukakan pertanyaan ini kepada mereka seakan-akan mereka tidak mengetahuinya sama sekali atau telah melupakannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 86</h3>
<p>Kemudian Allah memerintahkan pula agar Nabi Muhammad saw menanyakan kembali kepada mereka, bahwa siapakah yang mencipta-kan langit yang tujuh dan yang menciptakan &#8216;arsy yang besarnya meliputi langit dan bumi sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.&#8221; (al-Baqarah/2: 255)</p>
<p>Siapakah yang mengatur dan mengurusnya sehingga segalanya berjalan menurut aturan yang demikian teliti dan baik. Allah menetapkan langsung jawaban atas pertanyaan ini karena pastilah jawaban orang-orang kafir ini sama yaitu pencipta itu semua adalah Allah Yang memiliki dan menguasainya. Tidak akan ada jawaban mereka selain itu karena itulah pada dasarnya kepercayaan mereka. Hanya saja mereka di samping mengakui kekuasaan Allah mereka menyembah pula sembahan-sembahan seperti berhala dan sebagainya. Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada mereka, &#8220;Kalau benar Allah yang menciptakan langit yang tujuh dan menciptakan &#8216;arsy yang mahabesar, dan Allah-lah yang mengatur dan mengurusnya, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya dan tidak mau mengikuti ajaran dan perintah-Nya? Kenapa kamu tetap saja menyembah berhala, sedang penyembahan selain Allah itu sangat dimurkai oleh-Nya?&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 87</h3>
<p>Kemudian Allah memerintahkan pula agar Nabi Muhammad saw menanyakan kembali kepada mereka, bahwa siapakah yang mencipta-kan langit yang tujuh dan yang menciptakan &#8216;arsy yang besarnya meliputi langit dan bumi sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>&#8220;Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.&#8221; (al-Baqarah/2: 255)</p>
<p>Siapakah yang mengatur dan mengurusnya sehingga segalanya berjalan menurut aturan yang demikian teliti dan baik. Allah menetapkan langsung jawaban atas pertanyaan ini karena pastilah jawaban orang-orang kafir ini sama yaitu pencipta itu semua adalah Allah Yang memiliki dan menguasainya. Tidak akan ada jawaban mereka selain itu karena itulah pada dasarnya kepercayaan mereka. Hanya saja mereka di samping mengakui kekuasaan Allah mereka menyembah pula sembahan-sembahan seperti berhala dan sebagainya. Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada mereka, &#8220;Kalau benar Allah yang menciptakan langit yang tujuh dan menciptakan &#8216;arsy yang mahabesar, dan Allah-lah yang mengatur dan mengurusnya, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya dan tidak mau mengikuti ajaran dan perintah-Nya? Kenapa kamu tetap saja menyembah berhala, sedang penyembahan selain Allah itu sangat dimurkai oleh-Nya?&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 88</h3>
<p>Lalu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad menanyakan pula kepada mereka, siapakah yang menguasai segala sesuatu dan mengaturnya. Yang di tangan-Nya terletak kekuasaan mutlak. Bila Allah melindungi seseorang, tak ada satu kekuasaan pun yang dapat menimpakan malapetaka atasnya atau membinasakannya. Sebaliknya bila Dia hendak menimpakan bahaya kepada seseorang tak ada pula satu kekuatan pun yang dapat melindungi orang itu. Siapakah yang mempunyai sifat demikian Yang Mahakuasa lagi Maha Perkasa? Rasul meminta orang-orang kafir itu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini jika mereka benar-benar mengetahui.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 89</h3>
<p>Mereka pasti akan menjawab bahwa yang demikian itu sifatnya adalah Allah semata. Oleh sebab itu, Allah memastikan bahwa mereka akan menjawab seperti itu dan memerintahkan kepada Nabi untuk menanyakan kembali kepada mereka. Kalau mereka mengetahui bahwa Allah Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa, mengapa mereka sampai tertipu dan berpaling dari agama tauhid dan selalu menentang Allah dan durhaka kepada-Nya? Dengan menyembah berhala atau lainnya seakan-akan mereka telah kena sihir dan pikiran mereka tak dapat mempercayai lagi sehingga akidah mereka menjadi kacau balau, mencampur aduk yang benar dengan yang salah, sehingga mereka mempersekutukan Allah dengan lain-Nya. Padahal Allah tidak akan membenarkan tindakan mereka itu bahkan sangat murka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 90</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan kepada orang-orang kafir itu, karena semua pertanyaan yang dikemukakan kepada mereka mengenai Allah sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur segalanya, mereka jawab dengan jawaban yang benar dan positif, bahwa Al-Qur&#8217;an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk memperbaiki dan meluruskan akidah mereka yang telah sesat, adalah benar dan tuduhan-tuduhan yang mereka kemukakan terhadap Muhammad dan Al-Qur&#8217;an yang dibawanya adalah keliru dan bohong. Al-Qur&#8217;an bukanlah dongengan-dongengan orang dahulu, tetapi benar-benar wahyu dan petunjuk dari Allah Yang Maha Pencipta, Mahakuasa dan Yang Mengatur segala sesuatu, baik di bumi maupun di langit dengan hikmat dan kebijaksanaan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 91</h3>
<p>Ayat ini menolak dakwaan kaum musyrik bahwa para malaikat itu adalah putri-putri Allah dengan menerangkan bahwa Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, karena Dia Mahakaya, Mahakuasa dan Mahakekal, tidak memerlukan keturunan seperti halnya manusia. Manusia memang banyak memerlukan anak yang akan melanjutkan keturunannya, dan bila dia sudah tua dan tidak berdaya lagi maka anak-anaknya itulah yang akan membantu dan menolongnya. Dan bila dia mati maka anak-anaknya pulalah yang akan melanjutkan usaha dan profesinya dan mengangkat namanya di kalangan masyarakatnya. Allah Yang Mahakuasa, Mahakaya dan Mahakekal tidak memerlukan semua itu.</p>
<p>Allah tidak ditimpa kelelahan karena Dia Mahakuat, tidak akan ditimpa kematian karena Dia Mahakekal, Dia tidak akan ditimpa kemiskinan karena Dia Mahakaya, milik-Nyalah semua yang ada di langit dan di bumi. Alangkah bodohnya kaum musyrikin yang menyamakan Allah dengan manusia yang amat lemah dan miskin, atau kalau mereka tidak bodoh maka mereka adalah pendusta besar karena yang diucapkannya itu bertentangan sama sekali dengan pikiran orang-orang berakal.</p>
<p>Sungguh amat lemah pikiran orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak atau mempunyai sekutu. Mahasuci Allah dari segala anggapan dan tuduhan yang tidak masuk akal itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 92</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Yang Mahatahu segala yang gaib yang tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indera, Maha Mengetahui segala yang tampak dan nyata dan dapat dilihat dan dirasakan. Apapun yang terjadi di alam ini baik alam langit ataupun alam bumi semuanya terjadi dengan sepengetahuan-Nya, tak ada yang besar maupun yang kecil kecuali ada dalam ilmu-Nya yang Mahaluas, seperti tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur&#8217;an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Yunus/10: 61)</p>
<p>Demikianlah luas dan mencakupnya ilmu Allah. Mahasuci Allah dari segala tuduhan orang kafir yang mengatakan bahwa Dia mempunyai anak dan sekutu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 93</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdoa memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari orang-orang kafir yang aniaya itu bila Dia hendak mengazab mereka, jangan dibinasakan bersama mereka, agar diselamatkan dari siksaan dan kemurkaan-Nya, dan menjadikannya golongan orang yang diridai. Perintah supaya berdoa seperti ini diajarkan Allah karena musibah dan malapetaka yang ditimpakan Allah kepada orang-orang durhaka dan aniaya kadang-kadang juga menimpa orang-orang yang tidak bersalah, karena mereka hidup bersama dalam masyarakat atau suatu negara. Ini sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.</p>
<p>(al-Anfal/8: 25)</p>
<p>Menurut riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi doa Nabi Muhammad saw dalam hal ini berbunyi:</p>
<p>Allah) apabila Engkau hendak menimpa siksaan kepada kaum (yang aniaya) maka wafatkan aku dalam keadaan tidak ikut disiksa. (Riwayat Ahmad dan at-Tirmid</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 94</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdoa memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari orang-orang kafir yang aniaya itu bila Dia hendak mengazab mereka, jangan dibinasakan bersama mereka, agar diselamatkan dari siksaan dan kemurkaan-Nya, dan menjadikannya golongan orang yang diridai. Perintah supaya berdoa seperti ini diajarkan Allah karena musibah dan malapetaka yang ditimpakan Allah kepada orang-orang durhaka dan aniaya kadang-kadang juga menimpa orang-orang yang tidak bersalah, karena mereka hidup bersama dalam masyarakat atau suatu negara. Ini sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.</p>
<p>(al-Anfal/8: 25)</p>
<p>Menurut riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi doa Nabi Muhammad saw dalam hal ini berbunyi:</p>
<p>Allah) apabila Engkau hendak menimpa siksaan kepada kaum (yang aniaya) maka wafatkan aku dalam keadaan tidak ikut disiksa. (Riwayat Ahmad dan at-Tirmid</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 95</h3>
<p>Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad, bahwa Dia Kuasa memperlihatkan kepadanya siksaan yang akan ditimpakan kepada orang kafir itu sehingga Nabi Muhammad dapat melihat sendiri bagaimana dahsyatnya dan hebatnya siksaan Allah. Tetapi karena rahmat dan kasih sayang-Nya kepada umat Muhammad, Allah tidak menjatuhkan siksa itu dengan segera (di dunia ini), tetapi sudah menjadi ketetapan-Nya bahwa siksaan itu akan menimpa mereka di akhirat, karena mungkin kelak ada di antara mereka atau keturunan mereka yang akan sadar dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad jangan terlalu bersedih hati atas tindakan dan perlakuan orang kafir terhadapnya dan kaum Muslimin yang memang dalam keadaan lemah dan tak berdaya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 96</h3>
<p>Kemudian Allah memberikan tuntunan kepada Nabi Muhammad bagaimana cara yang sebaik-baiknya menghadapi sikap kaum musyrik itu. Di antaranya, Nabi harus tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka dan jangan sekali-kali membalas kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan karena memang belum waktunya bersikap demikian. Bila mereka mencemooh dan mencaci maki hendaknya Nabi memaafkan ucapan-ucapan mereka yang tidak pada tempatnya itu, karena ucapan itu tidak mengenai sasarannya tetapi hendaklah dibalas dengan kata-kata yang mengandung patunjuk dan ajaran dengan mengemukakan dalil-dalil dan alasan yang masuk akal. Bila mereka hendak melakukan tindakan penganiayaan, hindari mereka dan jauhi sedapat mungkin kesempatan yang membawa kepada tindakan seperti itu dan hendaklah dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Nabi juga diperintahkan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa beliau memang seorang ksatria yang tidak ada niat sedikit pun untuk mencelakakan mereka. Dengan sikap lemah lembut dan kebijaksanaan itu, mereka tidak akan merajalela terhadap kaum Muslimin. Lambat laun mereka yang keras seperti batu itu akan menjadi lembut dan menyadari sendiri kesalahan yang sudah mereka lakukan. Nabi juga diminta untuk meyakini dalam hati bahwa Allah mengetahui semua ucapan dan tindakan mereka. Allah lebih mengetahui apa saja yang mereka lakukan dan apa saja yang tersembunyi dalam dada mereka.</p>
<p>Sesuai dengan petunjuk ini Allah berfirman dalam ayat yang lain:</p>
<p>Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. (Fussilat/41: 34)</p>
<p>Anas bin Malik berkata mengomentari ayat ini, &#8220;Seorang laki-laki mengatakan terhadap saudaranya hal yang tidak-tidak.&#8221; Maka dia menjawab, &#8220;Jika ucapanmu itu bohong maka saya memohon kepada Allah supaya Dia mengampuni kebohonganmu itu. Jika ucapanmu itu benar maka saya memohon kepada Allah supaya mengampuniku.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 97</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya dia selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan-bisikan setan dan dari godaan-godaannya, dan supaya setan itu selalu jauh daripadanya dan tidak dapat masuk ke dalam hatinya untuk memperdayakannya.</p>
<p>Demikianlah seharusnya sikap setiap pejuang untuk menegakkan kebenaran. Mereka harus benar-benar menjaga supaya tidak sekalipun dipengaruhi hawa nafsunya dan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar dan tidak jujur. Setan amat mudah sekali menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan, penghinaan dan kejahatan apabila ia dapat memasuki hawa nafsu manusia. Karena itu hendaklah kita selalu berlindung kepada Allah dari tipu daya setan. Memang apabila seseorang benar-benar telah berserah diri kepada Tuhannya dalam segala tindakannya dan selalu memohon perlindungan-Nya dari tipu daya dan godaan setan, dirinya menjadi bersih dan hati nuraninya akan terketuk untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Rasulullah selalu berlindung kepada Tuhannya supaya dijauhkan daripadanya campur tangan setan dalam segala perbuatannya terutama dalam salat ketika membaca Al-Qur&#8217;an dan pada saat ajalnya akan tiba.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Baihaqi dari &#8216;Amr bin Syu&#8217;aib dan ayahnya dari kakeknya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw mengajarkan </p>
<p>Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dari siksa-Nya. Dari kejahatan hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan dari kahadiran setan kepadaku. (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 98</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya dia selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan-bisikan setan dan dari godaan-godaannya, dan supaya setan itu selalu jauh daripadanya dan tidak dapat masuk ke dalam hatinya untuk memperdayakannya.</p>
<p>Demikianlah seharusnya sikap setiap pejuang untuk menegakkan kebenaran. Mereka harus benar-benar menjaga supaya tidak sekalipun dipengaruhi hawa nafsunya dan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar dan tidak jujur. Setan amat mudah sekali menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan, penghinaan dan kejahatan apabila ia dapat memasuki hawa nafsu manusia. Karena itu hendaklah kita selalu berlindung kepada Allah dari tipu daya setan. Memang apabila seseorang benar-benar telah berserah diri kepada Tuhannya dalam segala tindakannya dan selalu memohon perlindungan-Nya dari tipu daya dan godaan setan, dirinya menjadi bersih dan hati nuraninya akan terketuk untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan. Rasulullah selalu berlindung kepada Tuhannya supaya dijauhkan daripadanya campur tangan setan dalam segala perbuatannya terutama dalam salat ketika membaca Al-Qur&#8217;an dan pada saat ajalnya akan tiba.</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Baihaqi dari &#8216;Amr bin Syu&#8217;aib dan ayahnya dari kakeknya ia berkata, &#8220;Rasulullah saw mengajarkan </p>
<p>Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dari siksa-Nya. Dari kejahatan hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan dari kahadiran setan kepadaku. (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 99</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memberitahukan tentang kata-kata yang diucapkan oleh orang kafir ketika menghadapi maut, walaupun kata-kata itu tidak dapat didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu. Orang kafir itu meminta kepada Allah supaya dia jangan dimatikan dahulu dan dibiarkan hidup seperti sediakala agar dia dapat bertobat dari kesalahan dan kedurhakaannya dan dapat beriman dan mengerjakan amal yang baik yang tidak dikerjakannya selama hidupnya.</p>
<p>Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu pada waktu dia masih sehat walafiat dan mempunyai kesanggupan untuk beriman dan beramal saleh, dia enggan menerima kebenaran, takabur dan sombong terhadap orang-orang yang beriman, selalu durhaka kepada Allah bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah dan mengucapkan kata-kata yang tidak benar terhadap-Nya. Akan tetapi, ketika dalam keadaan sakaratul maut, mereka teringat pada dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Ketika itu juga mereka menjadi insaf dan sadar lalu meminta dengan sepenuh hati kepada Allah agar diberi umur panjang untuk berbuat baik guna menutupi semua kedurhakaan dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Namun demikian, saat sakaratul maut bukan waktu untuk meminta ampun dan bertobat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: &#8220;Sesungguhnya saya bertobat sekarang.&#8221; Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam keadaan kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisa&#8217;/4: 17-18)</p>
<p>Lalu Allah menegaskan bahwa permintaan orang-orang kafir itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut mereka saja dan tidak akan dikabulkan. Kalaupun benar-benar diberi umur panjang, mereka tidak juga akan kembali beriman dan tidak akan mau mengerjakan amal saleh sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, &#8220;Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.&#8221; Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An&#8217;am/6: 27-28)</p>
<p>Demikianlah ucapan yang mereka lontarkan sebagai penghibur hati mereka sendiri, suatu ucapan yang tidak ada nilainya sama sekali karena tidak mungkin mereka akan hidup kembali karena ajal mereka telah tiba. Di hadapan mereka terbentang dinding yang menghalangi mereka kembali ke dunia sampai hari kiamat.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 100</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memberitahukan tentang kata-kata yang diucapkan oleh orang kafir ketika menghadapi maut, walaupun kata-kata itu tidak dapat didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu. Orang kafir itu meminta kepada Allah supaya dia jangan dimatikan dahulu dan dibiarkan hidup seperti sediakala agar dia dapat bertobat dari kesalahan dan kedurhakaannya dan dapat beriman dan mengerjakan amal yang baik yang tidak dikerjakannya selama hidupnya.</p>
<p>Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu pada waktu dia masih sehat walafiat dan mempunyai kesanggupan untuk beriman dan beramal saleh, dia enggan menerima kebenaran, takabur dan sombong terhadap orang-orang yang beriman, selalu durhaka kepada Allah bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah dan mengucapkan kata-kata yang tidak benar terhadap-Nya. Akan tetapi, ketika dalam keadaan sakaratul maut, mereka teringat pada dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Ketika itu juga mereka menjadi insaf dan sadar lalu meminta dengan sepenuh hati kepada Allah agar diberi umur panjang untuk berbuat baik guna menutupi semua kedurhakaan dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Namun demikian, saat sakaratul maut bukan waktu untuk meminta ampun dan bertobat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: &#8220;Sesungguhnya saya bertobat sekarang.&#8221; Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam keadaan kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisa&#8217;/4: 17-18)</p>
<p>Lalu Allah menegaskan bahwa permintaan orang-orang kafir itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut mereka saja dan tidak akan dikabulkan. Kalaupun benar-benar diberi umur panjang, mereka tidak juga akan kembali beriman dan tidak akan mau mengerjakan amal saleh sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, &#8220;Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.&#8221; Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An&#8217;am/6: 27-28)</p>
<p>Demikianlah ucapan yang mereka lontarkan sebagai penghibur hati mereka sendiri, suatu ucapan yang tidak ada nilainya sama sekali karena tidak mungkin mereka akan hidup kembali karena ajal mereka telah tiba. Di hadapan mereka terbentang dinding yang menghalangi mereka kembali ke dunia sampai hari kiamat.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 101</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila sangkakala ditiup untuk kedua kalinya dan arwah dikembalikan kepada tubuhnya masing-masing pada hari kebangkitan nanti, maka pada waktu itu tidak ada lagi manfaat pertalian nasab. Seseorang tidak dapat lagi membanggakan nasabnya, bahwa dia berasal dari keturunan bangsawan sebagaimana halnya pada waktu ia masih berada di dunia. Tidak ada perbedaan antara seseorang dengan yang lain, semua terpengaruh suasana yang meliputinya. Mereka kebingungan dan diliputi perasaan takut karena kedahsyatan hari itu, sehingga hilanglah rasa cinta dan kasih sayang. Masing-masing memikirkan dirinya sendiri dan tidak mau tahu orang lain, sebagaimana yang dilukiskan di dalam firman Allah:</p>
<p>Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (&#8216;Abasa/80: 33-37)</p>
<p>Mereka tidak lagi saling tegur dan bertanya. Tidak seorang pun di antara mereka yang menanyakan keadaan keluarga dan keturunannya, sebagaimana halnya di dunia. Mereka seolah-olah tidak saling mengenal lagi. Firman Allah:</p>
<p>Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. (al- Ma&#8217;arij/70: 10)</p>
<p>Mereka kebingungan seperti orang-orang yang sedang mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Firman Allah:</p>
<p>(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras. (al-hajj/22: 2)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 102</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang berat timbangan amal kebaikannya yaitu orang-orang yang beriman dan banyak beramal saleh di dunia, adalah orang-orang yang beruntung dan berbahagia. Pada hari Kiamat nanti, seseorang sebelum ditetapkan nasibnya, apakah ia dimasukkan ke dalam surga atau ke dalam neraka, lebih dahulu ia akan diajukan ke pengadilan yang akan memberi keputusan yang seadil-adilnya. Tidak akan terjadi kecurangan dalam proses pengadilan itu karena yang menjadi hakimnya ialah Allah sendiri. Berbeda halnya dengan pengadilan di dunia ini, orang yang bersalah adakalanya diputuskan tidak bersalah, karena pintarnya bersilat lidah, memutarbalikkan keadaan atau karena kelicikan pembelanya, sehingga hakim menjadi terkecoh. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak bersalah ada kemungkinan diputuskan bersalah karena tidak mampu membayar pembela yang pintar dan sebagainya. Setiap keputusan di dunia yang tidak adil akan dimentahkan kembali dan akan diputuskan sekali lagi di akhirat dengan seadil-adilnya. Segala sangkut paut yang belum selesai di dunia ini akan diselesaikan nanti di akhirat dengan seadil-adilnya. Setelah melalui proses pengadilan dan sangkut paut masing-masing telah diselesaikan maka untuk mengetahui kadar kebaikan dan kejahatan masing-masing diadakan timbangan, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah:</p>
<p>Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. (al- Anbiya&#8217;/21: 47)</p>
<p>Barangsiapa yang berat timbangan amal kebaikannya, berbahagialah ia. Sejalan dengan ayat 102 ini firman Allah:</p>
<p>Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). (al-Qari&#8217;ah/101: 6-7)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 103</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan kerugian orang yang ringan timbangan kebaikannya. Mereka itu ketika masih berada di dunia banyak berbuat maksiat menuruti kehendak hawa nafsunya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah yang menyebabkan amal-amal mereka tidak bernilai di hari kemudian, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (al-Kahf/18: 105)</p>
<p>Mereka itu akan kekal di dalam neraka Jahanam. Sejalan dengan ayat 103 ini firman Allah:</p>
<p>Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (al-Qari&#8217;ah/101: 8-9)</p>
<p>Bukan demikian! Barang siapa berbuat keburukan, dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah/2: 81)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 104</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka itu akan dibakar mukanya dengan api sehingga kelihatan jelek sekali dan cacat. Dagingnya hancur, meleleh sampai ke kakinya. Mereka mengeluh atas azab yang menimpanya, dan menyadari perbuatannya ketika masih di dunia, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan jika mereka ditimpa sedikit saja azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata, &#8220;Celakalah kami! Sesungguhnya kami termasuk orang yang selalu menzalimi (diri sendiri).&#8221; (al-Anbiya&#8217;/21: 46)</p>
<p>Seandainya orang kafir itu mengetahui, ketika mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari wajah dan punggung mereka, sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tidak meminta disegerakan). (al-Anbiya&#8217;/21: 39)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 105</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa berbagai pertanyaan yang sifatnya mengejek diajukan kepada para penghuni neraka. Hal itu mengingatkan mereka kembali bahwa telah diutus para rasul untuk membimbing mereka, dan diturunkan kitab-kitab samawi untuk menjadi pedoman mereka, supaya tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tidak taat dan patuh kepada ajaran-ajaran yang dibawa para rasul itu, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (an-Nisa&#8217;/4: 165)</p>
<p>Dan firman-Nya:</p>
<p>Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra&#8217;/17: 15)</p>
<p>Tetapi mereka itu mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mempercayainya sedikit pun, bahkan rasul-rasul yang diutus kepada mereka disiksa dan dianiayanya. Sejalan dengan ayat 105 ayat ini, firman Allah:</p>
<p>Hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, &#8220;Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, &#8220;Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya didalam kesesatan yang besar.&#8221; (al-Mulk/67: 8-9)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 106</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan pengakuan penghuni neraka atas kesesatan mereka, sekalipun telah diutus kepada mereka rasul-rasul untuk membimbing mereka, dan diturunkan kitab-kitab samawi untuk menjadi pedoman mereka. Akan tetapi, mereka telah dikalahkan oleh kejahatan mereka, dan dikendalikan oleh hawa nafsu, maka tidak ada jalan bagi mereka untuk berbuat kebaikan dan menghindarkan diri dari jalan kesesatan. Sejalan dengan ayat ini firman Allah:</p>
<p>Lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)? (al-Mu&#8217;min/40: 11)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 107</h3>
<p>Ayat ini menerangkan permohonan penghuni neraka kepada Allah, yaitu agar mereka dikeluarkan dari neraka dan dikembalikan ke dunia. Mereka berjanji bahwa kalau permohonan mereka dikabulkan, mereka akan mengubah kekafiran mereka kepada keimanan dan taat kepada segala apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Jika mereka masih tetap saja berbuat maksiat sebagaimana halnya dahulu, maka mereka benar-benar orang yang aniaya dan mereka layak menerima azab dan siksa yang amat pedih.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 108</h3>
<p>Ayat ini menerangkan jawaban Allah terhadap permintaan penghuni neraka untuk dapat dikembalikan ke dunia menebus kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Allah menegaskan kepada mereka supaya tetap berada di dalam neraka, meringkuk dalam keadaan hina dan tidak mempunyai harga diri sedikit pun. Mereka harus diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Allah serta tidak mengulangi lagi perbuatannya karena mereka tak mungkin lagi dapat dikembalikan ke dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 109</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan sebab musabab mereka disiksa dan diazab, serta jawaban yang menghina atas permintaan mereka kembali ke dunia. Hinaan itu muncul karena mereka menghina hamba-hamba Allah yang telah beriman, seperti Bilal, Khabbab, shuhaib dan orang-orang mukmin yang lemah lainnya, selalu mendekatkan diri kepada Allah, menegaskan ikrar dan pengakuan keimanan mereka kepada-Nya, membenar-kan para rasul yang telah diutus-Nya, senantiasa meminta ampunan dan memohon rahmat kepada-Nya karena Dialah pemberi rahmat yang sebaik-baiknya. Orang-orang kafir menghadapi orang-orang mukmin itu dengan sikap mengejek, menertawakan, dan menghina. Ayat ini juga menerangkan bahwa kesibukan orang-orang kafir itu mereka mengejek dan menertawakan orang-orang mukmin, membuat mereka lupa mengingat Allah. Sejalan dengan ayat ini, Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya, dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, &#8220;Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,&#8221; padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin). (al-Muthaffifin/83: 29-33)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 110</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan sebab musabab mereka disiksa dan diazab, serta jawaban yang menghina atas permintaan mereka kembali ke dunia. Hinaan itu muncul karena mereka menghina hamba-hamba Allah yang telah beriman, seperti Bilal, Khabbab, shuhaib dan orang-orang mukmin yang lemah lainnya, selalu mendekatkan diri kepada Allah, menegaskan ikrar dan pengakuan keimanan mereka kepada-Nya, membenar-kan para rasul yang telah diutus-Nya, senantiasa meminta ampunan dan memohon rahmat kepada-Nya karena Dialah pemberi rahmat yang sebaik-baiknya. Orang-orang kafir menghadapi orang-orang mukmin itu dengan sikap mengejek, menertawakan, dan menghina. Ayat ini juga menerangkan bahwa kesibukan orang-orang kafir itu mereka mengejek dan menertawakan orang-orang mukmin, membuat mereka lupa mengingat Allah. Sejalan dengan ayat ini, Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya, dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, &#8220;Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,&#8221; padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin). (al-Muthaffifin/83: 29-33)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 111</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan memberi balasan kepada orang-orang mukmin pada hari Kiamat nanti, karena kesabaran dan ketabahan mereka menghadapi ejekan dan tertawaan orang-orang kafir, , serta ketaatan dan kepatuhan mereka kepada perintah-Nya. Sesungguhnya orang-orang mukmin, itulah orang-orang yang menang dan beruntung. Di akhirat kelak, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang santai, menertawakan orang-orang kafir yang menertawakan mereka dahulu di dunia. Inilah ganjaran bagi orang-orang kafir atas apa yang telah dikerjakannya di dunia, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka perbuat? (al-Muthaffifin/83: 34-36)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 112</h3>
<p>Setelah permintaan penghuni neraka untuk dikembalikan ke dunia ditolak Allah dengan penegasan bahwa mereka akan tetap meringkuk di neraka dan supaya tidak meminta-minta kepada-Nya, mereka ditanya lagi berapa lama mereka hidup di bumi, sejak dilahirkan sampai meninggalkan dunia fana itu ke alam baka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 113</h3>
<p>Oleh karena besarnya pengaruh bencana yang menimpa penghuni neraka dan hebatnya siksaan dan azab yang dideritanya, maka mereka yang malang itu tidak lagi bisa mengingat berapa lama mereka tinggal di dunia. Mereka merasa sebentar sekali, bahkan mereka menyangka bahwa mereka tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Pada ayat ini Allah menganjurkan kepada mereka untuk menanyakan berapa lama mereka tinggal di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 114</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa mereka memang tinggal di dunia hanya sebentar. Andaikata mereka menyadari hal itu ketika mereka tinggal di dunia, sedang kehidupan yang dihadapinya di akhirat adalah kehidupan yang tiada batasnya, tentu mereka akan berbuat hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Akan tetapi, mereka lalai menyadarinya, sehingga mereka layak mendapat azab dari Allah. Rasulullah bersabda:</p>
<p>Ketika Ibnu Abi hatim meriwayatkan dari Aiqa&#8217; bin Abd al-Kalai, Rasulullah bersabda bahwa apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga dan penghuni neraka ke dalam neraka; Allah berfirman, &#8220;Wahai penghuni surga! Berapa lama engkau hidup di dunia?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari.&#8221; Allah berfirman, &#8220;Alangkah baiknya engkau sekalian menginvestasikan waktu yang sehari itu, atau tidak sampai satu hari itu. Engkau sekalian memperoleh rahmat-Ku, rida-Ku dan surga-Ku. Tinggallah kamu sekalian di dalam surga untuk selama-lamanya.&#8221; Sesudah itu Allah berfirman, &#8220;Wahai penghuni neraka! Berapa lamakah kamu tinggal hidup di dunia?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami tinggal di dunia hanya sehari atau tidak sampai satu hari.&#8221; Allah berfirman, &#8220;Alangkah buruknya kamu sekalian menginvestasikan waktu yang sehari atau tidak sampai satu hari itu. Kamu sekalian menerima murka-Ku dan memasuki neraka-Ku. Tinggallah di dalam neraka untuk selama-lamanya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 115</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa keingkaran para penghuni neraka tentang adanya hari kebangkitan berkaitan dengan keyakinan mereka bahwa kehidupan berakhir dengan kematian, sehingga Allah perlu mengingatkan mereka dengan pertanyaan, &#8220;Apakah mereka menyangka bahwa mereka Kami ciptakan dengan main-main, dibiarkan begitu saja seperti halnya binatang, tidak diberi pahala dan tidak diazab? Ataukah mereka mengira bahwa mereka itu tidak akan dikembalikan kepada Kami?&#8221; Tidak, sekali lagi tidak. Mereka diciptakan sebagai hamba Allah dan diberi kewajiban. Siapa yang melaksanakan kewajiban, mereka diberi pahala, dan bagi yang menyia-nyiakan kewajiban, mereka akan diazab dan dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala per-buatan mereka di dunia, sesuai firman Allah:</p>
<p>Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja? (Tanpa pertanggungjawaban?) (al-Qiyamah/75: 36)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 116</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Mahasuci dari apa yang dituduhkan orang-orang musyrik kepada-Nya, begitu pula sangkaan bahwa Dia menciptakan manusia secara sia-sia, karena Dia adalah Tuhan yang sebenarnya. Tiada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang memiliki &#8216;Arsy yang mulia. Dialah yang mengatur alam raya ini, baik yang di atas maupun yang di bawah, begitu pula semua makhluk ciptaan-Nya. Firman Allah:</p>
<p>Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (ad-Dukhan/44:38-39)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 117</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah Allah dan menyekutukan-Nya dengan tuhan yang lain, padahal tidak ada yang pantas disembah melainkan Allah, pada hakikatnya tidak ada alasan sama sekali yang dapat membenarkan perbuatan mereka itu. Mereka akan diajukan ke hadapan Allah, untuk memperhitungkan dan mempertanggung-jawabkan segala perbuatan mereka. Allah yang akan menyempurnakan ganjaran atas perbuatan mereka. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung selama-lamanya, dan tidak akan luput dari azab yang menyiksanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 118</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa setelah menjelaskan keadaan orang-orang kafir, kebodohan mereka di dunia dan siksaan yang disediakan bagi mereka di akhirat, Allah memerintahkan Rasul-Nya supaya memohon kepada-Nya agar dimaafkan semua kesalahan yang diperbuatnya, diberi rahmat dengan diterima tobatnya, dan dibebaskan dari azab atas kelalaian dan kekeliruan yang telah diperbuatnya, karena Dialah Pemberi rahmat yang paling baik. Perintah Allah kepada Rasul-Nya seperti tersebut di atas, adalah untuk menjadi contoh yang baik bagi umatnya. Setiap kali mereka berbuat kesalahan, supaya mereka beristigfar, dan setiap mereka berbuat maksiat, supaya cepat-cepat bertobat, jangan sampai kesalahan dan maksiat itu bertumpuk-tumpuk, karena yang demikian itu akan menjadi beban yang berat nanti di hari akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-muminun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>22. Al-Hajj (78 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-hajj/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-hajj/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 12:59:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1120</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Haji Tempat Turun: Madinah Jumlah Ayat: 78 Deskripsi: Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Sebab perbedaan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah. Dinamai surat ini Al Hajj, ... <a title="22. Al-Hajj (78 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-hajj/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 22. Al-Hajj (78 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Haji</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Madinah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 78</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Sebab perbedaan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.<br />
Dinamai surat ini <i>Al Hajj</i>, karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa&#8217;i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari&#8217;atkannya haji. Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari&#8217;atkan di masa Nabi Ibrahim a.s., dan Ka&#8217;bah didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s. bersama puteranya Ismail a.s.<br />
Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat- surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hajj/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Hajj</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakum, inna zalzalatas-sā‘ati syai&#8217;un ‘aẓīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّآ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰكِنَّ عَذَابَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma taraunahā tażhalu kullu murḍi‘atin ‘ammā arḍa‘at wa taḍa‘u kullu żāti ḥamlin ḥamlahā wa taran-nāsa sukārā wa mā hum bisukārā wa lākinna ‘ażāballāhi syadīd(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطٰنٍ مَّرِيْدٍۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa yattabi‘u kulla syaiṭānim marīd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu dan hanya mengikuti para setan yang sangat jahat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كُتِبَ عَلَيْهِ اَنَّهٗ مَنْ تَوَلَّاهُ فَاَنَّهٗ يُضِلُّهٗ وَيَهْدِيْهِ اِلٰى عَذَابِ السَّعِيْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kutiba ‘alaihi annahū man tawallāhu fa annahū yuḍilluhū wa yahdīhi ilā ‘ażābis-sa‘īr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Tentang setan), telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhan-nāsu in kuntum fī raibim minal-ba‘ṡi fa innā khalaqnākum min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma min ‘alaqatin ṡumma mim muḍgatim mukhallaqatiw wa gairi mukhallaqatil linubayyina lakum, wa nuqirru fil-arḥāmi mā nasyā&#8217;u ilā ajalim musamman ṡumma nukhrijukum ṭiflan ṡumma litablugū asyuddakum, wa minkum may yutawaffā wa minkum may yuraddu ilā arżalil-‘umuri likailā ya‘lama ba‘da ‘ilmin syai&#8217;ā(n), wa taral-arḍa hāmidatan fa iżā anzalnā ‘alaihal-mā&#8217;ahtazzat wa rabat wa ambatat min kulli zaujim bahīj(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika bi&#8217;annallāha huwal-ḥaqqu wa annahū yuḥyil-mautā wa annahū ‘alā kulli syai&#8217;in qadīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Yang demikian itu karena sungguh, Allah, Dialah yang hak dan sungguh, Dialah yang menghidupkan segala yang telah mati, dan sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa annas-sā‘ata ātiyatul lā raiba fīhā, wa annallāha yab‘aṡu man fil-qubūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa minan-nāsi may yujādilu fillāhi bigairi ‘ilmiw wa lā hudaw wa lā kitābim munīr(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثَانِيَ عِطْفِهٖ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ لَهٗ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّنُذِيْقُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡāniya ‘iṭfihī liyuḍilla ‘an sabīlillāh(i), lahū fid-dun-yā khizyuw wa nużīquhū yaumal-qiyāmati ‘ażābal-ḥarīq(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari Kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدٰكَ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika bimā qaddamat yadāka wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Akan dikatakan kepadanya), “Itu karena perbuatan yang dilakukan dahulu oleh kedua tanganmu, dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ِۨاطْمَئَنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ِۨانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa minan-nāsi may ya‘budullāha ‘alā ḥarf(in), fa in aṣābahū khairuniṭma&#8217;anna bih(ī), wa in aṣābathu fitnatuninqalaba ‘alā wajhih(ī), khasirad-dun-yā wal-ākhirah(ta), żālika huwal-khusrānul-mubīn(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهٗ وَمَا لَا يَنْفَعُهٗۗ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yad‘ū min dūnillāhi mā lā yaḍurruhū wa mā lā yanfa‘uh(ū), żālika huwaḍ-ḍalālul-ba‘īd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia menyeru kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Itulah kesesatan yang jauh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَدْعُوْا لَمَنْ ضَرُّهٗٓ اَقْرَبُ مِنْ نَّفْعِهٖۗ لَبِئْسَ الْمَوْلٰى وَلَبِئْسَ الْعَشِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yad‘ū laman ḍarruhū aqrabu min naf‘ih(ī), labi&#8217;sal-maulā wa labi&#8217;sal-‘asyīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia menyeru kepada sesuatu yang (sebenarnya) bencananya lebih dekat daripada manfaatnya. Sungguh, itu seburuk-buruk penolong dan sejahat-jahat kawan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innallāha yudkhilul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-anhār(u), innallāha yaf‘alu mā yurīd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Sungguh,) Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sungguh, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَنْ كَانَ يَظُنُّ اَنْ لَّنْ يَّنْصُرَهُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ اِلَى السَّمَاۤءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهٗ مَا يَغِيْظُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">man kāna yaẓunnu allay yanṣurahullāhu fid-dun-yā wal-ākhirati falyamdud bisababin ilas-samā&#8217;i ṡummalyaqṭa‘ falyanẓur hal yużhibanna kaiduhū mā yagīẓ(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, ) lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَذٰلِكَ اَنْزَلْنٰهُ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يُّرِيْدُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa każālika anzalnāhu āyātim bayyināt(in), wa annallāha yahdī may yurīd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur&#8217;an) yang merupakan ayat-ayat yang nyata; sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالصَّابِـِٕيْنَ وَالنَّصٰرٰى وَالْمَجُوْسَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا ۖاِنَّ اللّٰهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna āmanū wal-lażīna hādū waṣ-ṣābi&#8217;īna wan-naṣārā wal-majūsa wal-lażīna asyrakū, innallāha yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmah(ti), innallāha ‘alā kulli syai&#8217;in syahīd(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang musyrik, Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ۩ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha yasjudu lahū man fis-samāwāti wa man fil-arḍi wasy-syamsu wal-qamaru wan-nujūmu wal-jibālu wasy-syajaru wad-dawābbu wa kaṡīrum minan-nās(i), wa kaṡīrun ḥaqqa ‘alaihil-‘ażāb(u), wa may yuhinillāhu famā lahū mim mukrim(in), innallāha yaf‘alu mā yasyā'(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">hāżāni khaṣmānikhtaṣamū fī rabbihim fal-lażīna kafarū quṭṭi‘at lahum ṡiyābum min nār(in), yuṣabbu min fauqi ru&#8217;ūsihimul-ḥamīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yuṣharu bihī mā fī buṭūnihim wal-julūd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dengan (air mendidih) itu akan dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lahum maqāmi‘u min ḥadīd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (azab) untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كُلَّمَآ اَرَادُوْٓا اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ اُعِيْدُوْا فِيْهَا وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kullamā arādū ay yakhrujū minhā min gammin u‘īdū fīhā, wa żūqū ‘ażābal-ḥarīq(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setiap kali mereka hendak keluar darinya (neraka) karena tersiksa, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah azab yang membakar ini!”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ يُحَلَّوْنَ فِيْهَا مِنْ اَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَّلُؤْلُؤًاۗ وَلِبَاسُهُمْ فِيْهَا حَرِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innallāha yudkhilul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti jannātin tajrī min taḥtihal-anhāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa lu&#8217;lu&#8217;ā(n), wa libāsuhum fīhā ḥarīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka dari sutera.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُدُوْٓا اِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِۚ وَهُدُوْٓا اِلٰى صِرَاطِ الْحَمِيْدِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa hudū ilaṭ-ṭayyibi minal-qaul(i), wa hudū ilā ṣirāṭil-ḥamīd(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّاسِ سَوَاۤءً ۨالْعَاكِفُ فِيْهِ وَالْبَادِۗ وَمَنْ يُّرِدْ فِيْهِ بِاِلْحَادٍۢ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna kafarū wa yaṣuddūna ‘an sabīlillāhi wal-masjidil-ḥarāmil-lażī ja‘alnāhu lin-nāsi sawā&#8217;anil-‘ākifu fīhi wal-bād(i), wa may yurid fīhi bi&#8217;ilḥādim biẓulmin nużiqhu min ‘ażābin alīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan dari Masjidilharam yang telah Kami jadikan terbuka untuk semua manusia, baik yang bermukim di sana maupun yang datang dari luar dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذْ بَوَّأْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْـًٔا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iż bawwa&#8217;nā li&#8217;ibrāhīma makānal-baiti allā tusyrik bī syai&#8217;aw wa ṭahhir baitiya liṭ-ṭā&#8217;ifīna wal-qā&#8217;imīna war-rukka‘is-sujūd(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ażżin fin-nāsi bil-ḥajji ya&#8217;tūka rijālaw wa ‘alā kulli ḍāmiriy ya&#8217;tīna min kulli fajjin ‘amīq(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">liyasyhadū manāfi‘a lahum wa yażkurusmallāhi fī ayyāmim ma‘lūmātin ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an‘ām(i), fa kulū minhā wa aṭ‘imul-bā&#8217;isal-faqīr(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِالْبَيْتِ الْعَتِيْقِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡummal yaqḍū tafaṡafahum wal yūfū nużūrahum wal yaṭṭawwafū bil-baitil-‘atīq(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika wa may yu‘aẓẓim ḥurumātillāhi fa huwa khairul lahū ‘inda rabbih(ī), wa uḥillat lakumul-an‘āmu illā mā yutlā ‘alaikum fajtanibur-rijsa minal-auṡāni wajtanibū qaulaz-zūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumat) maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan dihalalkan bagi kamu semua hewan ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya), maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">حُنَفَاۤءَ لِلّٰهِ غَيْرَ مُشْرِكِيْنَ بِهٖۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَكَاَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاۤءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ḥunafā&#8217;a lillāhi gaira musyrikīna bih(ī), wa may yusyrik billāhi fa ka&#8217;annamā kharra minas-samā&#8217;i fa takhṭafuhuṭ-ṭairu au tahwī bihir-rīḥu fī makānin saḥīq(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika wa may yu‘aẓẓim sya‘ā&#8217;irallāhi fa innahā min taqwal-qulūb(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَكُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَآ اِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lakum fīhā manāfi‘u ilā ajalim musamman ṡumma maḥilluhā ilal-baitil-‘atīq(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Bagi kamu padanya (hewan hadyu) ada beberapa manfaat, sampai waktu yang ditentukan, kemudian tempat penyembelihannya adalah di sekitar Baitul Atiq (Baitullah).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa likulli ummatin ja‘alnā mansakal liyażkurusmallāhi ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an‘ām(i), fa ilāhukum ilāhuw wāḥidun fa lahū aslimū, wa basysyiril-mukhbitīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَالصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَآ اَصَابَهُمْ وَالْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِۙ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna iżā żukirallāhu wajilat qulūbuhum waṣ-ṣābirīna ‘alā mā aṣābahum wal-muqīmiṣ-ṣalāh(ti), wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-budna ja‘alnāhā lakum min sya‘ā&#8217;irillāhi lakum fīhā khair(un), fażkurusmallāhi ‘alaihā ṣawāff(a), fa iżā wajabat junūbuhā fa kulū minhā wa aṭ‘imul-qāni‘a wal-mu‘tarr(a), każālika sakhkharnāhā lakum la‘allakum tasykurūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lay yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā&#8217;uhā wa lākiy yanāluhut-taqwā minkum, każālika sakhkharahā lakum litukabbirullāha ‘alā mā hadākum, wa basysyiril-muḥsinīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُوْرٍ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innallāha yudāfi‘u ‘anil-lażīna āmanū, innallāha lā yuḥibbu kulla khawwānin kafūr(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">użina lil-lażīna yuqātalūna bi&#8217;annahum ẓulimū, wa innallāha ‘alā naṣrihim laqadīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sung-guh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna ukhrijū min diyārihim bigairi ḥaqqin illā ay yaqūlū rabbunallāh(u), wa lau lā daf‘ullāhin-nāsa ba‘ḍahum biba‘ḍil lahuddimat ṣawāmi‘u wa biya‘uw wa ṣalawātuw wa masājidu yużkaru fīhasmullāhi kaṡīrā(n), wa layanṣurannallāhu may yanṣuruh(ū), innallāha laqawiyyun ‘azīz(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna im makkannāhum fil-arḍi aqāmuṣ-ṣalāta wa ātawuz-zakāta wa amarū bil-ma‘rūfi wa nahau ‘anil-munkar(i), wa lillāhi ‘āqibatul-umūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ يُّكَذِّبُوْكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّعَادٌ وَّثَمُوْدُ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iy yukażżibūka faqad każżabat qablahum qaumu nūḥiw wa ‘āduw wa ṡamūd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan engkau (Muhammad), begitu pulalah kaum-kaum yang sebelum mereka, kaum Nuh, ‘Ad, dan Samud (juga telah mendustakan rasul-rasul-Nya),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقَوْمُ اِبْرٰهِيْمَ وَقَوْمُ لُوْطٍ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qaumu ibrāhīma wa qaumu lūṭ(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan (demikian juga) kaum Ibrahim dan kaum Lut,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّاَصْحٰبُ مَدْيَنَۚ وَكُذِّبَ مُوْسٰى فَاَمْلَيْتُ لِلْكٰفِرِيْنَ ثُمَّ اَخَذْتُهُمْۚ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aṣḥābu madyan(a), wa kużżiba mūsā fa amlaitu lil-kāfirīna ṡumma akhażtuhum, fa kaifa kāna nakīr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan penduduk Madyan. Dan Musa (juga) telah didustakan, namun Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir, kemudian Aku siksa mereka, maka betapa hebatnya siksaan-Ku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ka&#8217;ayyim min qaryatin ahlaknāhā wa hiya ẓālimatun fa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urūsyihā, wa bi&#8217;rim mu‘aṭṭalatiw wa qaṣrim masyīd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (ti-dak ada penghuninya).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afalam yasīrū fil-arḍi fa takūna lahum qulūbuy ya‘qilūna bihā au āżānuy yasma‘ūna bihā, fa innahā lā ta‘mal-abṣāru wa lākin ta‘mal-qulūbul-latī fiṣ-ṣudūr(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ وَعْدَهٗۗ وَاِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَاَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yasta‘jilūnaka bil-‘ażābi wa lay yukhlifallāhu wa‘dah(ū), wa inna yauman ‘inda rabbika ka&#8217;alfi sanatim mimmā ta‘uddūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَمْلَيْتُ لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ اَخَذْتُهَاۚ وَاِلَيَّ الْمَصِيْرُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ka&#8217;ayyim min qaryatin amlaitu lahā wa hiya ẓālimatun ṡumma akhażtuhā, wa ilayyal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan berapa banyak negeri yang Aku tangguhkan (penghancuran)nya, karena penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Kulah tempat kembali (segala sesuatu).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّمَآ اَنَا۠ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul yā ayyuhan-nāsu innamā ana lakum nażīrum mubīn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku (diutus) kepadamu sebagai pemberi peringatan yang nyata.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum magfiratuw wa rizqun karīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ سَعَوْا فِيْٓ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيْنَ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna sa‘au fī āyātinā mu‘ājizīna ulā&#8217;ika aṣḥābul-jaḥīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami dengan maksud melemahkan (kemauan untuk beriman), mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka Jahim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّآ اِذَا تَمَنّٰىٓ اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْٓ اُمْنِيَّتِهٖۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā arsalnā min qablika mir rasūliw wa lā nabiyyin illā iżā tamannā alqasy-syaiṭānu fī umniyyatih(ī), fa yansakhullāhu mā yulqisy-syaiṭānu ṡumma yuḥkimullāhu āyātih(ī), wallāhu ‘alīmun ḥakīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), mela-inkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu, dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَفِيْ شِقَاقٍۢ بَعِيْدٍ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">liyaj‘ala mā yulqisy-syaiṭānu fitnatal lil-lażīna fī qulūbihim maraḍuw wal-qāsiyati qulūbuhum, wa innaẓ-ẓālimīna lafī syiqāqim ba‘īd(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) ingin menjadikan godaan yang ditimbulkan setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang yang berhati keras. Dan orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permu-suhan yang jauh,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa liya‘lamal-lażīna ūtul-‘ilma annahul-ḥaqqu mir rabbika fa yu&#8217;minū bihī fa tukhbita lahū qulūbuhum, wa innallāha lahādil-lażīna āmanū ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa (Al-Qur&#8217;an) itu benar dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً اَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lā yazālul-lażīna kafarū fī miryatim minhu ḥattā ta&#8217;tiyahumus-sā‘atu bagtatan au ya&#8217;tiyahum ‘ażābu yaumin ‘aqīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang kafir itu senantiasa ragu mengenai hal itu (Al-Qur&#8217;an), hingga saat (kematiannya) datang kepada mereka dengan tiba-tiba, atau azab hari Kiamat yang datang kepada mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلْمُلْكُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ۗيَحْكُمُ بَيْنَهُمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">al-mulku yauma&#8217;iżil lillāh(i), yaḥkumu bainahum, fal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī jannātin na‘īm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kekuasaan pada hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di an-tara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan berada dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna kafarū wa każżabū bi&#8217;āyātinā fa ulā&#8217;ika lahum ‘ażābum muhīn(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang kafir dan yang men-dustakan ayat-ayat Kami, maka mere-ka akan merasakan azab yang meng-hinakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ قُتِلُوْٓا اَوْ مَاتُوْا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللّٰهُ رِزْقًا حَسَنًاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-lażīna hājarū fī sabīlillāhi ṡumma qutilū au mātū layarzuqannahumullāhu rizqan ḥasanā(n), wa innallāha lahuwa khairur-rāziqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُّدْخَلًا يَّرْضَوْنَهٗۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَعَلِيْمٌ حَلِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">layudkhilannahum mudkhalay yarḍaunah(ū), wa innallāha la‘alīmun ḥalīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk (surga) yang mereka sukai. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika wa man ‘āqaba bimiṡli mā ‘ūqiba bihī ṡumma bugiya ‘alaihi layanṣurannahullāh(u), innallāha la‘afuwwun gafūr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika bi&#8217;annallāha yūlijul-laila fin-nahāri wa yūlijun-nahāra fil-laili wa annallāha samī‘um baṣīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah karena Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ هُوَ الْبَاطِلُ وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Żālika bi&#8217;annallāha huwal-ḥaqqu wa anna mā yad‘ūna min dūnihī huwal-bāṭilu wa annallāha huwal-‘aliyyul-kabīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۖ فَتُصْبِحُ الْاَرْضُ مُخْضَرَّةًۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha anzala minas-samā&#8217;i mā&#8217;ā(n), fa tuṣbiḥul-arḍu mukhḍarrah(tan), innallāha laṭīfun khabīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit, sehingga bumi menjadi hijau? Sungguh, Allah Mahahalus, Maha Mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa innallāha lahuwal-ganiyyul-ḥamīd(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya, Maha Terpuji.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 65</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam tara annallāha sakhkhara lakum mā fil-arḍi wal-fulka tajrī fil-baḥri bi&#8217;amrih(ī), wa yumsikus-samā&#8217;a an taqa‘a ‘alal-arḍi illā bi&#8217;iżnih(ī), innallāha bin-nāsi lara&#8217;ūfur raḥīm(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 66</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُوَ الَّذِيْٓ اَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَكَفُوْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa huwal-lażī aḥyākum, ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum, innal-insāna lakafūr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali (pada hari kebangkitan). Sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 67</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">likulli ummatin ja‘alnā mansakan hum nāsikūhu falā yunāzi‘unnaka fil-amri wad‘u ilā rabbik(a), innaka la‘alā hudam mustaqīm(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan dengan engkau dalam urusan (syariat) ini dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 68</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa in jādalūka fa qulillāhu a‘lamu bimā ta‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika mereka membantah engkau, maka katakanlah, “Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 69</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allāhu yaḥkumu bainakum yaumal-qiyāmati fīmā kuntum fīhi takhtalifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang dahulu kamu memperselisihkannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 70</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">alam ta‘lam annallāha ya‘lamu mā fis-samā&#8217;i wal-arḍ(i), inna żālika fī kitāb(in), inna żālika ‘alallāhi yasīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 71</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ya‘budūna min dūnillāhi mā lam yunazzil bihī sulṭānaw wa mā laisa lahum bihī ‘ilm(un), wa mā liẓ-ẓālimīna min naṣīr(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka menyembah selain Allah, tanpa dasar yang jelas tentang itu, dan mereka tidak mempunyai pengetahuan (pula) tentang itu. Bagi orang-orang yang zalim tidak ada seorang penolong pun.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 72</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَۗ يَكَادُوْنَ يَسْطُوْنَ بِالَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۗ قُلْ اَفَاُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ اَلنَّارُۗ وَعَدَهَا اللّٰهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin ta‘rifu fī wujūhil-lażīna kafarul-munkar(a), yakādūna yasṭūna bil-lażīna yatlūna ‘alaihim āyātinā, qul afa unabbi&#8217;ukum bisyarrim min żālikum, an-nār(u), wa‘adahallāhul-lażīna kafarū, wa bi&#8217;sal-maṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya engkau akan melihat (tanda-tanda) keingkaran pada wajah orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Apakah akan aku kabarkan kepada-mu (mengenai sesuatu) yang lebih buruk dari itu, (yaitu) neraka?” Allah telah mengancamkannya (neraka) kepada orang-orang kafir. Dan (neraka itu) seburuk-buruk tempat kembali.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 73</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhan-nāsu ḍuriba maṡalum fastami‘ū lah(ū), innal-lażīna tad‘ūna min dūnillāhi lay yakhluqū żubābaw wa lawijtama‘ū lah(ū), wa iy yaslubhumuż-żubābu syai&#8217;al lā yastanqiżūhu minh(u), ḍa‘ufaṭ-ṭālibu wal-maṭlūb(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 74</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrih(ī), innallāha laqawiyyun ‘azīz(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 75</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَللّٰهُ يَصْطَفِيْ مِنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ رُسُلًا وَّمِنَ النَّاسِۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allāhu yaṣṭafī minal-malā&#8217;ikati rusulaw wa minan-nās(i), innallāha samī‘um baṣīr(un).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Allah memilih para utusan(-Nya) dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 76</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa ilallāhi turja‘ul-umūr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 77</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā ayyuhal-lażīna āmanurka‘ū wasjudū wa‘budū rabbakum waf‘alul-khaira la‘allakum tufliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 78</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa jāhidū fillāhi ḥaqqa jihādih(ī), huwajtabākum wa mā ja‘ala ‘alaikum fid-dīni min ḥaraj(in), millata abīkum ibrāhīm(a), huwa sammākumul-muslimīn(a), min qablu wa fī hāżā liyakūnar-rasūlu syahīdan ‘alaikum wa takūnū syuhadā&#8217;a ‘alan-nās(i), fa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāta wa‘taṣimū billāh(i), huwa maulākum, fa ni‘mal-maulā wa ni‘man-naṣīr(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur&#8217;an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-hajj/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 22. Al-Hajj</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hajj/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hajj/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 00:58:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1119</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 22. Al-Hajj (الحج) Jumlah Ayat: 78 Arti: Haji Pengantar Surah: Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Sebab perbedaan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah. Dinamai ... <a title="Tafsir Surat 22. Al-Hajj" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hajj/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 22. Al-Hajj">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 22. Al-Hajj (الحج)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 78</p>
<p><strong>Arti:</strong> Haji</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyah. Sebab perbedaan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah. <br />Dinamai surat ini <i>Al Hajj</i>, karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa&#8217;i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari&#8217;atkannya haji. Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari&#8217;atkan di masa Nabi Ibrahim a.s., dan Ka&#8217;bah didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s. bersama puteranya Ismail a.s.<br />Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat- surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Ayat ini menghimbau agar manusia mawas diri serta menjaga dirinya dari azab Allah, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah itu berlaku sejak ayat ini diturunkan sampai datangnya hari Kiamat, yang ditandai dengan terjadinya gempa bumi yang amat dahsyat, menghancurleburkan seluruh yang ada dalam jagat raya ini. Allah memerintahkan yang demikian adalah karena guncangan dan malapetaka yang terjadi pada hari yang sangat hebat itu tiada taranya. Dalam firman Allah yang lain diterangkan guncangan dan gempa bumi yang terjadi pada hari itu. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya&#8221;. (az-Zalzalah/99: 1-2)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>&#8220;Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat&#8221;. (al-Haqqah/69: 14-15)</p>
<p>Dari ayat itu dipahami bahwa orang-orang yang bertakwa, tidak merasa ngeri dan takut pada hari Kiamat itu, karena mereka telah percaya bahwa hari Kiamat itu pasti terjadi, bahwa mereka telah yakin benar akan mendapat perlindungan dan pertolongan Allah pada hari itu, serta yakin pula bahwa tidak seorang pun yang dapat memberi perlindungan dan pertolongan pada hari itu selain dari Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Sebaliknya orang-orang yang ingkar kepada Allah; tidak mengikuti perintah-Nya dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya akan merasakan akibat guncangan bumi dan kehancuran dunia pada waktu itu, sebagai siksaan yang tiada taranya. Mereka tidak dapat menghindarkan diri daripadanya sedikit pun dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka, karena Allah hanya akan menolong dan melindungi hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Menurut suatu riwayat, bahwa ayat ini diturunkan pada malam hari, pada waktu terjadi peperangan Bani Mustalik, lalu Nabi Muhammad saw membacakan ayat ini kepada para sahabat. Setelah beliau membacakan ayat ini, beliau pun menangis dan para sahabat juga ada yang ikut menangis, ada yang gundah gulana dan ada pula yang merenungi ayat ini. Hal ini menunjukkan bagaimana kekhawatiran Nabi Muhammad saw dan para sahabat terhadap malapetaka yang besar yang terjadi pada hari Kiamat itu, sekalipun dalam diri mereka telah terpatri dengan kokoh iman dan kesabaran, dan mereka pun telah percaya bahwa Allah pasti menolong kaum Muslimin.</p>
<p>Hari Kiamat adalah hari kehancuran dunia, merupakan masa peralihan dari masa kehidupan dunia yang fana ini beralih ke masa kehidupan akhirat yang kekal lagi abadi. Pada waktu itu terjadi suatu kejadian yang amat mengerikan, seluruh planet dan benda-benda angkasa satu dengan yang lain berbenturan, sehingga pecah berserakan menjadi kepingan-kepingan yang halus. Pada waktu itu lenyaplah segala yang ada di alam ini. Hanya yang tidak lenyap waktu itu ialah Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Perkasa. Setelah alam fana ini lenyap semuanya, Allah menggantikannya dengan alam yang lain, yaitu alam akhirat. Pada waktu itu seluruh manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya untuk ditimbang amal perbuatannya. Perbuatan baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa yang pedih di dalam neraka yang menyala-nyala. Pada waktu itulah manusia memperoleh keadilan yang hakiki dari Tuhannya, yang selama hidup di dunia mereka tidak memperolehnya.</p>
<p>Kepercayaan akan adanya hari Kiamat termasuk salah satu dari rukun iman yang wajib diimani dan diyakini oleh setiap orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw yang telah diutusnya. Hari Kiamat itu termasuk salah satu dari perkara yang gaib, karena itu sukar untuk mengemukakan bukti-bukti yang nyata tentang hari Kiamat. Akan tetapi jika seseorang telah percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Allah Mahakuasa dan Mahaadil, Dia cinta dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, maka orang itu akan sampai kepada kepercayaan akan adanya hari Kiamat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan betapa dahsyatnya peristiwa yang terjadi pada hari Kiamat itu dan betapa besar pengaruhnya kepada seseorang, di antaranya:</p>
<p>1. Pada hari itu ibu yang sedang menyusukan anaknya lalai dari anaknya. Padahal hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan yang paling dekat dibandingkan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Demikian pula hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya adalah hubungan kasih sayang yang tidak akan putus-putusnya. Di antara perwujudan hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya itu ialah ibu menyusukan tanpa pamrih anaknya yang masih kecil dan air susu ibu itu merupakan makanan pokok bagi si bayi. Tanpa adanya makanan itu si bayi bisa mati kelaparan dan hal ini benar-benar disadari akibatnya oleh setiap ibu. Karena itu ibu berkewajiban menyusukan anaknya yang merupakan jantung hatinya itu, setiap saat yang diperlukan. Pada hari Kiamat yang demikian mengerikan dan dahsyatnya peristiwa yang terjadi, seakan hubungan yang demikian itu terputus. Di dalam diri si ibu waktu itu timbul rasa takut dan ngeri melihat suasana yang kacau balau itu, sehingga si ibu lupa menyusukan anaknya, dan lupa segala-galanya termasuk anaknya yang sedang menyusu.</p>
<p>2. Pada hari Kiamat itu gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil. Biasanya keguguran kandungan perempuan yang hamil terjadi, jika terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan dan menakutkan hati atau karena terjatuh atau mengalami guncangan yang keras, seperti guncangan kendaraan dan sebagainya. Pada hari Kiamat itu terjadi gempa bumi dan guncangan yang hebat yang menghancurkan manusia yang hidup, termasuk di dalamnya perempuan-perempuan yang hamil beserta anak yang sedang dikandungnya.</p>
<p>Al-Hasan berkata, yang dimaksud dengan &#8220;lalailah semua perempuan yang menyusukan anak dari anak yang disusukannya&#8221;, ialah kelalaian yang bukan disebabkan karena menyapih anak itu, dan yang dimaksud dengan &#8220;gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil&#8221; ialah anak yang dikandung itu lahir sebelum sempurna waktunya.</p>
<p>3. Pada hari itu manusia kelihatan seperti orang yang sedang mabuk, padahal ia bukan sedang mabuk. Hal ini menunjukkan kebingungan mereka tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan, semua dalam keadaan takut, dalam keadaan mencari-cari tempat berlindung, dan berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang sedang menimpa itu.</p>
<p>Keadaan dan peristiwa yang diterangkan di atas adalah untuk melukiskan dan menggambarkan kepada manusia, betapa dahsyatnya malapetaka yang terjadi pada hari Kiamat itu, sehingga gambaran itu dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka, kendati pun kejadian yang sebenarnya lebih dahsyat lagi dari yang digambarkan itu. Sedang kejadian yang sebenarnya yang terjadi pada hari Kiamat itu tidak dapat digambarkan kedahsyatannya, karena tidak ada suatu kejadian yang terjadi sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai perbandingan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa sekalipun Allah telah menerangkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada hari Kiamat, namun banyak manusia yang mengingkarinya, bahkan mereka bertindak lebih dari itu. Mereka tidak saja mengatakan bahwa Allah tidak kuasa membangkitkan dan menghidupkan manusia kembali setelah hancur dan berserakan menjadi tanah, Allah mempunyai anak dan mempunyai syarikat, Al-Qur&#8217;an isinya tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang purbakala, tetapi mereka berbuat lebih dari itu yaitu menantang Allah. Mereka berkata, &#8220;Seandainya Allah itu benar-benar Mahakuasa cobalah turunkan azab yang pedih yang pernah dijanjikan itu,&#8221; dan tantangan-tantangan yang lain.</p>
<p>Menurut Ibnu Abi Hatim, ayat ini diturunkan berhubungan dengan Nadhar bin Harish, ia membantah keesaan dan kekuasaan Allah dengan mengatakan, &#8220;Malaikat itu adalah putri-putri Allah, Al-Qur&#8217;an itu tidak lain adalah dongengan orang-orang purbakala saja. Allah tidak kuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati yang tubuhnya telah hancur luluh menjadi tanah.&#8221;</p>
<p>Menurut Zamakhsyari, &#8220;Sekalipun ayat ini ditujukan kepada Nadhar bin Haris pada waktu turunnya, tetapi ayat ini berlaku umum dan ditujukan kepada semua orang yang membantah Allah, tanpa pengetahuan dan menetapkan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.&#8221;</p>
<p>Allah mencela orang yang berdebat tentang Allah, mengingkari keesaan dan kekuasaan-Nya, tanpa dasar pengetahuan yang benar dan bukti yang kuat. Jika mereka hendak mengemukakan sesuatu tentang Allah, hendaklah mereka menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat. Dalam pada itu Allah memperingatkan bahwa akal dan pikiran manusia tidak akan sanggup untuk mengenal dan memikirkan zat Allah, karena zat Allah merupakan sesuatu yang gaib. Tetapi jika ingin mengetahui adanya Tuhan, keesaan dan kekuasaan-Nya pikirkanlah makhluk-makhluk yang telah diciptakan-Nya seperti jagat raya dan segala isinya, hukum-hukum yang mengaturnya, bumi dengan segala isinya, gunung-gunung dengan lembah-lembahnya, lautan yang luas dengan segala kandungannya dan diri mereka sendiri serta semua makhluk yang telah diciptakan Allah.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya. (ar-Rum/30: 8)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (an-Nahl/16: 15-17)</p>
<p>Allah mencela orang yang buruk budi pekertinya, yaitu orang yang mengikuti setan. Setan itu mempunyai budi pekerti yang buruk karena ia mengikuti dan memperturutkan hawa nafsunya, karena keangkuhannya ia enggan sujud kepada Adam sebagaimana yang diperintahkan Allah. Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, menginginkan orang lain mengikuti perbuatan-perbuatannya yang tercela itu, berusaha dengan segala tipu dayanya agar manusia memandang baik segala perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah, seperti mempersekutukan Tuhan, meminum khamar, berjudi, berzina, menumpuk harta untuk kepentingan diri sendiri, menindas orang lain dan sebagainya. Setan itu ada yang berupa setan jin dan ada pula yang berupa setan manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah memberi kesempatan bagi setan melakukan segala macam usaha untuk menyesatkan dan memperdayakan manusia, agar manusia menjadi sesat dan ingkar sebagaimana yang telah ia lakukan. Tetapi usaha itu hanyalah dapat dilakukannya terhadap orang-orang kafir dan tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedang hamba-hamba Allah yang mukmin dan mukhlis tidak dapat mereka ganggu dan perdayakan sedikit pun.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Ia (Iblis) berkata, &#8220;Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.&#8221; (al-Hijr/15: 39-40)</p>
<p>Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Allah mengingatkan agar manusia waspada terhadap godaan setan. Barang siapa yang memperturutkan godaan setan dan menempuh jalannya, maka Allah menyesatkan mereka pula dengan melapangkan jalan yang dibentangkan setan itu sehingga mereka mudah melaluinya. Karena itu mereka akan dimasukkan ke dalam neraka bersama-sama setan yang menggodanya itu. Seorang yang telah terbiasa mengikuti jalan setan itu amat sulit baginya kembali ke jalan yang benar, karena hatinya telah ditutupi oleh keinginan setan itu.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan. (al-A&#8217;raf/7: 186)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menentang orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan. Seandainya mereka tetap tidak mempercayainya hendaklah mereka mengemukakan alasan-alasan dan bukti-bukti yang dapat menguatkan pendapat mereka itu. Tetapi mereka tidak dapat mengemukakannya. Karena itu Allah memberikan contoh diri mereka sendiri, yaitu mulai dari sperma-ovum, kemudian menjadi zygat, &#8216;alaqah, janin, kemudian lahir menjadi besar dan kemudian mati, bila menciptakan dari tiada Allah mampu, tentu saja mengulang penciptaan manusia kembali adalah lebih mudah dari penciptaan pertama kali.</p>
<p>Orang yang tidak percaya akan adanya hari kebangkitan menganggap kebangkitan itu merupakan suatu kejadian yang mustahil terjadi. Dalam pandangan mereka tidak mungkin tulang belulang yang telah lapuk berserakan, dan daging-daging yang telah hancur luluh menjadi tanah akan kembali bersatu dalam bentuk seperti semula. Kesanggupan dan kekuasaan Allah mereka ukur sama dengan kesanggupan dan kekuasaan mereka sendiri. Jika mereka merasa tidak sanggup melakukan sesuatu pekerjaan, tentu Allah tidak pula akan sanggup melakukannya. Mereka yang tidak percaya itu semata-mata karena keingkaran saja, karena dikuasai hawa nafsu dan godaan setan, sedangkan hati dan akal pikiran mereka sebenarnya mengakuinya. Mereka khawatir kedudukan dan pangkat mereka akan terancam jika mereka mengikuti kepercayaan dan agama yang dibawa oleh Muhammad saw. Karena itu mereka membantah Allah tanpa berdasar ilmu pengetahuan yang benar.</p>
<p>Pada ayat ini Allah mengemukakan petunjuk tentang adanya hari kebangkitan dengan mengemukakan dua macam alasan. Pertama ialah berhubungan dengan proses kejadian manusia dan yang kedua berhubungan dengan proses kehidupan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Proses kejadian manusia di dalam rahim ibunya dan kehidupannya dari lahir sampai mati sebagai berikut:</p>
<p>1. Allah telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam as, dari tanah. Kemudian dari Adam diciptakan istrinya Hawa, dan dari kedua makhluk itu berkembangbiaklah manusia melalui proses yang cukup panjang. Dapat pula berarti bahwa manusia diciptakan Allah melalui pembuahan ovum oleh sperma di dalam rahim perempuan. Kedua sel itu berasal dari darah, darah berasal dari makanan yang dimakan manusia, dan makanan manusia berasal dari tumbuh-tumbuhan dan ada yang berasal dari binatang ternak atau hewan-hewan yang lain. Semuanya itu berasal dari tanah sekalipun telah melalui beberapa proses. Karena itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa manusia itu berasal dari tanah.</p>
<p>2. Dalam ayat ini disebutkan bahwa manusia itu berasal dari nuthfah. Yang dimaksud dengan nuthfah ialah zygat, yaitu ovum yang sudah dibuahi oleh sperma.</p>
<p>3. &#8216;Alaqah, yaitu zygat yang sudah menempel di rahim perempuan.</p>
<p>4. Mudhgah, yaitu &#8216;alaqah yang telah berbentuk kumpulan sel-sel daging, sebesar yang dikunyah. (mudhgah artinya mengunyah). Mudhgah itu ada yang tumbuh sempurna, tidak cacat dan ada pula yang tumbuh tidak sempurna dan cacat. Kejadian sempurna dan tidak sempurna inilah yang menimbulkan kesempurnan fisik manusia, cacat atau keguguran. Proses kejadian nuthfah menjadi &#8216;alaqah adalah empat puluh hari, dari &#8216;alaqah menjadi mudhgah&#8221; juga empat puluh hari. Kemudian setelah lewat empat puluh hari itu, Allah, meniupkan roh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya, sebagaimana tersebut dalam hadis: Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kamu disatukan dalam perut ibunya selama 40 malam dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi &#8216;alaqah selama itu pula lalu menjadi mudhgah selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan roh ke dalamnya, maka (malaikat itu) diperintahkan menulis empat kalimat, yaitu menuliskan rezekinya, amalnya, ajalnya, bahagia atau sengsara. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas&#8217;ud)</p>
<p>Dalam hadis yang lain diterangkan:</p>
<p>Bersabda Rasulullah saw, &#8220;Malaikat mendatangi nuthfah setelah menetap di dalam rahim 40 atau 45 hari, maka ia berkata, &#8220;Wahai Tuhanku: Burukkah atau untungkah?&#8221; (Lalu Allah memfirmankan buruk atau baiknya), maka ditulislah keduanya (yakni buruk atau baiknya). Maka Malaikat berkata pula, &#8220;Wahai Tuhanku laki-lakikah dia atau perempuan?&#8221; (Lalu Allah memfirmankan tentang laki-lakikah dia atau perempuan), maka ditulislah keduanya (yakni laki-laki atau perempuan), dan ditulislah kerja, peninggalan, ajal dan rezekinya. Kemudian ditutuplah lembaran-lembaran itu, maka apa yang telah dituliskan di dalamnya tidak dapat ditambah atau dikurangi lagi. (Riwayat Ibnu Abi Hatim dan Muslim)</p>
<p>Allah menetapkan proses kejadian yang demikian, yaitu membiarkan nuthfah, &#8216;alaqah, mudhgah sampai berbentuk janin yang sempurna dalam waktu yang ditentukan itu, adalah untuk menerangkan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan kekokohan aturan-aturan yang dibuat-Nya, dan untuk menjadi bahan pemikiran bagi manusia, bahwa jika Allah kuasa menciptakan manusia pada kali yang pertama, tentulah Dia kuasa pula menciptakannya pada kali yang kedua, dan menciptakan sesuatu pada kali yang kedua itu biasanya lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama. Membangkitkan manusia dari kubur pada hakikatnya adalah menciptakan manusia pada kali yang kedua. Tentu hal itu sangat mudah bagi Allah. Bahkan jika Allah menghendaki kejadian sesuatu tidak melalui proses yang demikian, tidaklah sukar bagi Allah. Karena jika Dia menghendaki adanya sesuatu, cukuplah Dia mengatakan kepadanya, &#8220;Jadilah.&#8221; Maka terwujud sesuatu itu.</p>
<p>Sebagaimana firman-Nya: </p>
<p>Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, &#8220;Jadilah!&#8221; Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36: 82)</p>
<p>5. Kemudian janin itu dikandung ibunya selama waktu yang ditentukan Allah. Masa kandungan normal adalah sembilan bulan lebih sepuluh hari. Sekurang-kurangnya usia kandungan adalah enam bulan, sebagaimana dipahami dari ayat bahwa lama mengandung dan menyusui itu tiga puluh bulan, sedangkan lama menyusui saja dua tahun atau dua puluh empat bulan.</p>
<p>6. Selanjutnya datanglah waktu kelahiran. Bayi dari hari ke hari tumbuh menjadi kanak-kanak.</p>
<p>7. Kanak-kanak terus tumbuh menjadi dewasa sampai kondisi sempurna, baik jasmani maupun rohani.</p>
<p>8. Di antara manusia ada yang meninggal sebelum kondisi ideal itu. Tetapi ada manusia yang baru meninggal setelah usia lanjut sampai pikun sehingga tidak dapat mengingat apa-apa lagi.</p>
<p>Proses perkembangan manusia dari kondisi lemah menjadi kuat dari kondisi kuat menjadi lemah kembali atau sejak lahir, menjadi dewasa dan menjadi tua dilukiskan dalam firman Allah:</p>
<p>Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa. (ar-Rum/30: 54)</p>
<p>Selanjutnya setelah manusia meninggal, kehidupan tidaklah berakhir. Tetapi mereka akan dibangkitkan kembali untuk diperiksa amal perbuatan mereka. Kemudian mereka akan diberi balasan atau ganjaran. Allah berfirman:</p>
<p>Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati. Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat. (al-Mu&#8217;minun/23: 15-16)</p>
<p>Kemudian Allah mengemukakan petunjuk adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, selain yang telah dikemukakan di atas dengan memberikan contoh kehidupan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di permukaan bumi. Perhatikanlah bumi yang tandus dan kering, tiada ditumbuhi tumbuh-tumbuhan apa pun. Kemudian turunlah hujan membasahi permukaan bumi itu. Maka permukaan bumi itu mulai gembur dan subur lalu mulai ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Semakin lama tumbuh-tumbuhan itu semakin besar, bahkan daun-daunnya telah menutupi permukaan bumi yang semulanya tandus, dengan warna-warni yang beraneka ragam ada yang hijau, ada yang keputih-putihan, ada yang merah dan sebagainya. Perpaduan warna-warni daun-daunan itu sangat indah dan menakjubkan dan semakin indah oleh warna-warni bunga-bungaan yang bermacam corak warnanya. Maka permukaan bumi yang dahulunya tandus telah berubah menjadi hamparan pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang beraneka ragam warnanya.</p>
<p>Setelah sampai masanya bunga-bunga itu berubah menjadi putik-putik yang berangsur-angsur besar pula, sampai menjadi buah. Pada saat buah telah masak siap untuk dipetik, maka berdatanganlah manusia yang akan memetiknya. Buah-buahan itu merupakan rezeki yang halal bagi manusia, baik untuk dimakannya maupun untuk dijadikan keperluan yang lain yang bermanfaat baginya. Setelah itu datang lagi musim kemarau, bumi kembali menjadi kering dan tandus seperti sediakala.</p>
<p>Demikianlah keadaan bumi itu, yang berubah keadaannya setiap pergantian musim, dari mati dan tandus menjadi hidup dan subur ketika disirami hujan, menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia, kemudian tumbuh-tumbuhan itu mati pada musim panas dan kering untuk dihidupkan kembali pada musim hujan. Manusia yang berpikir, tentulah akan memikirkan proses hidup dan kematian bumi dan segala yang ada di permukaanya itu. Pikirannya tentu akan sampai kepada Zat yang menentukan kehidupan dan kematian itu. Manusia yang beriman dan berpikir, tentulah baginya semua proses kejadian itu menambah kuat imannya kepada kekuasaan dan keesaan Tuhan, yang menghidupkan dan mematikan makhluk-makhluk-Nya, menurut yang dikehendaki-Nya. Jika Allah telah berbuat demikian, tentulah Dia mampu pula menciptakan dan membangkitkan manusia kembali di kemudian hari, karena mengulang penciptaan sesuatu kembali adalah lebih mudah dari menciptakannya buat pertama kalinya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Setelah Allah mengemukakan proses perkembangan manusia dan tumbuh-tumbuhan itu pada ayat-ayat yang lalu, maka pada ayat-ayat berikut ini disimpulkan lima hal:</p>
<p>1. Tuhan yang diterangkan pada ayat-ayat di atas adalah Tuhan yang sebenarnya, Tuhan Yang Mahakuasa, yang menentukan segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang sanggup menciptakan manusia dengan proses yang demikian itu, yaitu menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi mani, nutfah (zygat), sel-sel, mudhgah, janin, kemudian lahir ke dunia, lalu menjadi dewasa, berketurunan, bertambah tua, akhirnya meninggal dunia menjadi makhluk yang mati kembali. Siapakah yang sanggup membuat proses kejadian manusia seperti itu. Siapakah yang sanggup merubah tanah yang mati dan tandus menjadi tanah yang subur serta ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam. Siapakah yang membuat ketentuan dan aturan-aturan yang demikian rapi dan teliti itu, selain dari Allah yang wajib disembah?</p>
<p>2. Dialah yang menghidupkan yang mati. Menghidupkan yang mati berarti memberi nyawa kepada yang mati itu, di samping memberi kelengkapan untuk kelangsungan hidup makhluk itu, baik kelangsungan hidup makhluk itu sendiri atau pun kelangsungan hidup jenisnya. Kemudian Dia mematikannya kembali. Zat yang dapat menghidupkan yang mati, kemudian mematikannya, tentu Zat itu sanggup pula menghidupkannya kembali pada hari Kebangkitan. Menghidupkan makhluk kembali itu adalah lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama.</p>
<p>3. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia berbuat sesuatu menurut yang dikehendaki-Nya; tidak ada sesuatu pun yang dapat mengubah dan menghalangi kehendak-Nya itu.</p>
<p>4. Hari Kiamat yang dijanjikan itu pasti datang; tidak ada keraguan sedikit pun, agar orang-orang yang ingkar itu mengetahui. </p>
<p>5. Bahwa setelah kiamat manusia akan dihidupkan kembali untuk diperiksa amal-amalnya dan menerima balasan amal-amal itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Setelah Allah mengemukakan proses perkembangan manusia dan tumbuh-tumbuhan itu pada ayat-ayat yang lalu, maka pada ayat-ayat berikut ini disimpulkan lima hal:</p>
<p>1. Tuhan yang diterangkan pada ayat-ayat di atas adalah Tuhan yang sebenarnya, Tuhan Yang Mahakuasa, yang menentukan segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang sanggup menciptakan manusia dengan proses yang demikian itu, yaitu menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi mani, nutfah (zygat), sel-sel, mudhgah, janin, kemudian lahir ke dunia, lalu menjadi dewasa, berketurunan, bertambah tua, akhirnya meninggal dunia menjadi makhluk yang mati kembali. Siapakah yang sanggup membuat proses kejadian manusia seperti itu. Siapakah yang sanggup merubah tanah yang mati dan tandus menjadi tanah yang subur serta ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam. Siapakah yang membuat ketentuan dan aturan-aturan yang demikian rapi dan teliti itu, selain dari Allah yang wajib disembah?</p>
<p>2. Dialah yang menghidupkan yang mati. Menghidupkan yang mati berarti memberi nyawa kepada yang mati itu, di samping memberi kelengkapan untuk kelangsungan hidup makhluk itu, baik kelangsungan hidup makhluk itu sendiri atau pun kelangsungan hidup jenisnya. Kemudian Dia mematikannya kembali. Zat yang dapat menghidupkan yang mati, kemudian mematikannya, tentu Zat itu sanggup pula menghidupkannya kembali pada hari Kebangkitan. Menghidupkan makhluk kembali itu adalah lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama.</p>
<p>3. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia berbuat sesuatu menurut yang dikehendaki-Nya; tidak ada sesuatu pun yang dapat mengubah dan menghalangi kehendak-Nya itu.</p>
<p>4. Hari Kiamat yang dijanjikan itu pasti datang; tidak ada keraguan sedikit pun, agar orang-orang yang ingkar itu mengetahui. </p>
<p>5. Bahwa setelah kiamat manusia akan dihidupkan kembali untuk diperiksa amal-amalnya dan menerima balasan amal-amal itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar. Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22: 46)</p>
<p>Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih. (Luqman/31: 7)</p>
<p>Orang yang buta mata hatinya dan menyombongkan dirinya, mereka itulah yang telah mengingkari Allah dan adanya Hari Kemudian itu. Maksud mereka adalah untuk menyesatkan dari jalan yang benar sehingga jauh dari Allah.</p>
<p>Menurut sebagian mufasir ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat yang lalu. Pada ayat 3 dan 4 Surah ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekah, terutama Nadhar bin Haris, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa pengetahuan, serta mengikuti godaan setan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa Nadhar bin Haris dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang bertingkah laku seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah. Dengan demikian ayat ini sesunguhnya memberikan peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri, yaitu kehinaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang diingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu. Pada ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, sedang pada ayat-ayat ini mereka membantah dan mengingkari adanya Allah dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya. Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini. Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.</p>
<p>Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Abu Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar. Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22: 46)</p>
<p>Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih. (Luqman/31: 7)</p>
<p>Orang yang buta mata hatinya dan menyombongkan dirinya, mereka itulah yang telah mengingkari Allah dan adanya Hari Kemudian itu. Maksud mereka adalah untuk menyesatkan dari jalan yang benar sehingga jauh dari Allah.</p>
<p>Menurut sebagian mufasir ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat yang lalu. Pada ayat 3 dan 4 Surah ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekah, terutama Nadhar bin Haris, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa pengetahuan, serta mengikuti godaan setan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa Nadhar bin Haris dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang bertingkah laku seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah. Dengan demikian ayat ini sesunguhnya memberikan peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri, yaitu kehinaan di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Dari ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang diingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu. Pada ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, sedang pada ayat-ayat ini mereka membantah dan mengingkari adanya Allah dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya. Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini. Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.</p>
<p>Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Abu Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa azab yang diterima oleh orang-orang kafir itu adalah seimbang dengan perbuatan mungkar yang pernah mereka kerjakan di dunia dahulu, sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (an-Najm/53: 31)</p>
<p>Allah mengazab manusia yang durhaka itu bukanlah karena Dia bermaksud untuk menganiaya hamba-Nya, tetapi semata-mata karena dosa hamba-hamba itu sendiri, mengazab mereka yang berdosa sesuai dengan keadilan Allah</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa ada pula sebagian manusia yang menyatakan beriman dan menyembah Allah dalam keadaan bimbang dan ragu-ragu; mereka berada dalam kekhawatiran dan kecemasan; apakah agama Islam yang telah mereka anut itu benar-benar dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka di dunia dan di akhirat. Mereka seperti keadaan orang yang ikut pergi perang, sedang hati mereka ragu-ragu untuk ikut itu. Jika nampak bagi mereka tanda-tanda pasukan mereka akan memperoleh kemenangan dan akan memeroleh harta rampasan yang banyak, maka mereka melakukan tugas dengan bersungguh-sungguh, seperti orang-orang yang benar-benar beriman. Sebaliknya jika nampak bagi mereka tanda-tanda bahwa pasukannya akan menderita kekalahan dan musuh akan menang, mereka cepat-cepat menghindarkan diri, bahkan kalau ada kesempatan mereka berusaha untuk menggabungkan diri dengan pihak musuh.</p>
<p>Keadaan mereka itu dilukiskan Allah dalam ayat ini. Jika mereka memperoleh kebahagiaan hidup, rezeki yang banyak, kekuasaan atau kedudukan, mereka gembira memeluk agama Islam, mereka beribadat sekhusyu-khusyunya, mengerjakan perbuatan baik dan sebagainya. Tetapi jika mereka memperoleh kesengsaraan, kesusahan hidup, cobaan atau musibah, mereka menyatakan bahwa semuanya itu mereka alami karena mereka menganut agama Islam. Mereka masuk Islam bukanlah karena keyakinan bahwa agama Islam itulah satu-satunya agama yang benar, agama yang diridai Allah, tetapi mereka masuk Islam dengan maksud mencari kebahagiaan duniawi, mencari harta yang banyak, mencari pangkat dan kedudukan atau untuk memperoleh kekuasaan yang besar. Karena itulah mereka kembali menjadi kafir, jika tujuan yang mereka inginkan itu tidak tercapai. Pada ayat-ayat yang lain Allah menerangkan perilaku mereka:</p>
<p>(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, &#8220;Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu?&#8221; Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, &#8220;Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin?&#8221; Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu pada hari Kiamat. Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman. (an-Nisa&#8217;/4: 141)</p>
<p>Tujuan mereka melakukan tindakan-tindakan yang demikian itu dijelaskan Allah dengan ayat berikut:</p>
<p>Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (an-Nisa&#8217;/4: 142)</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri baik di dunia, apalagi di akhirat. Akibatnya di dunia mereka mendapat bencana, kesengsaraan dan penderitaan lahir dan batin, dan di akhirat nanti mereka akan memperoleh siksa yang amat berat dengan dimasukkan ke dalam api neraka. Karena ketidaksabaran dan tidak tabah itu mereka akan memperoleh kerugian yang besar dan menimbulkan penyesalan selama-lamanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan bentuk kerugian yang besar yang akan mereka alami, yaitu mereka menyembah tuhan-tuhan selain Allah atau mereka mengakui adanya kekuatan gaib selain Allah lalu mereka sembah, atau mereka menganggap bahwa ada mahluk yang dapat dijadikan perantara untuk menyampaikan sesuatu permohonan atau doa kepada Allah, padahal tuhan-tuhan itu tidak memberikan mudarat atau manfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Perbuatan yang demikian itu adalah perbuatan yang amat jauh menyimpang dari kebenaran. Mereka seperti seorang yang telah jauh tersesat di tengah padang pasir, akan kembali ke jalan yang semula amat jauh dan melelahkan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Orang-orang kafir sebagaimana disebutkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang menyembah sesuatu yang lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Mereka menyembah sesuatu selain Allah, baik berupa manusia, maupun benda atau patung-patung. Disebabkan kekafirannya itu Allah menimpakan azab kepada mereka di dunia dan di akhirat. Di akhirat mereka akan mengetahui bahwa semua yang mereka puja dan sembah selama hidup di dunia, dan semua yang mereka anggap sebagai penolong, sebagai sesuatu yang dapat mengabulkan segala permintaan mereka dan sebagai teman yang baik, di akhirat nanti tidak mempunyai arti sedikitpun, bahkan semuanya itu akan menjadi teman-teman yang sama-sama ditimpa kemurkaan dan azab Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Terhadap orang-orang yang hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mengikuti ajaran yang disampaikan Nabi-Nya, mengerjakan amal-amal yang saleh, maka Allah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, dengan menyediakan tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dengan pohon-pohon yang rindang dan menyejukkan, sebagai balasan dari Allah atas semua ibadah dan amal saleh yang telah mereka lakukan itu. Karunia yang berupa kebahagiaan hidup itu mereka nikmati untuk selama-lamanya.</p>
<p>Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang melakukan sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri, akan memberikan kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan menaati-Nya serta akan memberikan kehinaan dan kesengsaraan bagi orang-orang ingkar dan durhaka kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat merubah, menambah, mengurangi atau menghilangkan ketetapan-ketetapan dan kekuasaan-Nya itu</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Para mufasir berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini. Menurut Abu Ja&#8217;far an-Nahhas tafsir ayat ini yang paling baik ialah, &#8220;Siapa yang berpendapat bahwa Allah tidak akan menolong Muhammad di dunia dan di akhirat atau ingin menghentikan pertolongan Allah yang akan diberikan-Nya itu, maka hendaklah ia naik ke langit dan berusahalah dari sana menghentikan pertolongan itu. Hendaklah mereka lihat, apakah usaha itu berhasil atau tidak. Dan usaha yang seperti itu pun mustahil dapat dilakukannya.&#8221; </p>
<p>Az-Zamakhsyari menafsirkan, &#8220;Allah pasti menolong Rasul-Nya di dunia dan di akhirat. Jika musuh-musuh Muhammad mengira bahwa Allah tidak akan menolongnya atau bermaksud tidak akan menolongnya, sedang mereka mengetahui jaminan Allah terhadap pertolongan-Nya itu, tentulah mereka akan marah. Mereka berusaha dengan segala cara untuk menghilangkan kemarahan mereka itu, yaitu melakukan apa saja bahkan menggantung diri. Setelah itu hendaklah dia memperhatikan apakah tindakannya dengan menggantung diri itu dapat menghentikan pertolongan Allah kepada Muhammad.&#8221;</p>
<p>Sebagian ahli tafsir menafsirkan, &#8220;Siapa yang berpendapat bahwa Allah tidak menolong Muhammad, maka hendaklah ia merentangkan tali ke loteng rumahnya, kemudian menggantung diri dengan tali itu. Mereka akan mengetahui bahwa segala usaha dan tipu daya mereka itu tidak berguna sedikit pun.</p>
<p>Sekalipun para mufasir berbeda pendapat tentang tafsir ayat di atas namun itu hanyalah lahiriyah, sedangkan maksudnya sama, yaitu seandainya orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad tidak merasa senang akan kemajuan Islam dan kaum Muslimin maka mereka disilahkan naik ke langit lalu akan melihat keadaan dari sana akan kemajuan Islam dan kaum Muslimin.</p>
<p>Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa dengan berkembangnya agama Islam dalam waktu yang singkat di kota Mekah, dan semakin banyak penganutnya maka timbullah usaha di kalangan orang-orang musyrik Mekah untuk menghambat perkembangan Islam atau melenyapkan agama Islam itu. Segala macam usaha untuk mencapai maksud itu, mereka lakukan seperti memutuskan hubungan, mengadakan pemboikotan, mengadakan penganiayaan terhadap orang-orang yang masuk Islam, terutama terhadap budak-budak yang masuk Islam, sehingga kaum Muslimin merasa teraniaya dan tersiksa. Dalam pada itu orang-orang musyrik sendiri menyatakan bahwa Allah tidak menolong Muhammad dan kaum Muslimin, karena agama yang dibawanya itu bukanlah agama yang diridai Allah. Dalam keadaan yang demikian turunlah ayat ini memberikan semangat dan harapan kepada kaum Muslimin. Sehingga timbullah keyakinan dalam diri mereka bahwa agama yang telah mereka anut adalah agama yang benar, karena itu mereka wajib melanjutkan untuk menyebarkannya, dan Tuhan pasti akan menolong mereka itu.</p>
<p>Menurut Muqatil, ayat ini turun berkaitan dengan Bani Asad dan Bani Gathfan yang telah masuk Islam, mereka khawatir bahwa Allah tidak menolong Muhammad, lalu terputuslah hubungan mereka dengan pemimpin-pemimpin Yahudi yang menyebabkan kehidupan mereka tidak dibantu lagi. Dengan turunnya ayat ini, hilanglah segala kekhawatiran yang timbul dalam hati mereka itu.</p>
<p>Dari ayat di atas dipahami bahwa musuh-musuh Islam tidak mempunyai kemampuan sedikit pun untuk mematahkan perjuangan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dalam usaha menyebarluaskan agama Islam karena mereka selalu mendapat pertolongan Allah di dunia dan di akhirat. Pertolongan Allah ini ditegaskan pada ayat yang lain:</p>
<p>Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (al-Mu&#8217;min/40: 51)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan bukti-bukti dan dalil-dalil yang kuat kepada Muhammad untuk membantah orang kafir yaitu Al-Qur&#8217;an. Makna dan petunjuknya cukup jelas, mudah dimengerti bagi orang-orang yang mau mencari kebenaran. Karena itu hendaklah manusia mengikuti dan mengamalkan ajaran Islam yaitu ajaran-ajaran Al-Qur&#8217;an agar mereka diberi Allah pertolongan dan kemenangan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Al-Qur&#8217;an berguna bagi orang-orang yang tidak ada rasa dengki dalam hatinya, jiwa dan hatinya bersih, ingin mencari kebenaran dan mempunyai kesediaan beriman kepada yang gaib. Orang seperti yang dilukiskan itu, jika mereka membaca Al-Qur&#8217;an pasti ia akan beriman, semakin banyak membaca dan mengamalkan ajaran Al-Qur&#8217;an semakin bertambah pula imannya.</p>
<p>Hal ini senada dengan firman Allah:</p>
<p>Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (Maryam/19: 76)</p>
<p>Sebaliknya orang yang dengki, hatinya berpenyakit, tidak ingin mencari kebenaran dan tidak mempunyai kesediaan beriman kepada yang gaib, maka ayat-ayat Al-Qur&#8217;an tidak akan berfaedah baginya bahkan akan menambah keingkaran dan kekafirannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa semua orang yang beriman, Yahudi, shabi&#8217;in, Nasrani, Majusi dan musyrik, akan diberi keputusan yang adil oleh Allah pada hari Kiamat.</p>
<p>Orang-orang yang beriman dalam ayat ini ialah orang-orang yang beriman kepada apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul yang telah diutus-Nya, hari Kiamat dan kepada adanya kadar baik dan kadar buruk. Yang dimaksud dengan orang-orang Yahudi ialah anak cucu Nabi Yakub as yang berkembangbiak di Mesir kemudian dibawa kembali oleh Nabi Musa as ke Palestina. Mereka adalah pengikut Nabi Musa as dan ajaran-ajarannya termuat dalam kitab Taurat. shabi&#8217;in ialah orang-orang yang mengakui keesaan Allah tetapi mereka bukan mukmin, bukan Yahudi dan bukan pula Nasrani. Orang-orang Nasrani ialah pengikut-pengikut Nabi Isa as dengan kitab suci mereka Injil. Dan mereka yang syirik, yaitu yang menyembah selain Allah, baik berupa benda, manusia atau berhala, seperti yang disembah kaum musyrikin Mekah sebelum Islam. Terhadap semua golongan di atas Allah akan memberikan keputusan dengan adil di hari Kiamat, siapa yang benar-benar mengikuti Allah dan Rasul-rasul-Nya selama hidup di dunia, dan siapa pula yang mengada-ada sesuatu dalam agama Allah dan siapa pula yang mengingkari agama Allah itu. </p>
<p>Keadilan yang sebenarnya belum didapat lagi oleh manusia selama hidup di dunia yang fana ini. Betapa banyak orang yang dengan kehendak hatinya mengubah-ubah agama Allah lalu dipaksakannya agama itu agar diikuti oleh orang-orang lain. Betapa banyaknya agama-agama yang menyimpang dari ajaran Allah, tetapi agama itu dapat hidup dan subur dengan pengikut-pengikutnya yang banyak, sehingga jika dilihat sepintas lalu agama itulah yang benar dan diridai Allah, sebaliknya agama Allah sendiri hanya dianut oleh mereka yang terhimpit kemiskinan serta tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun atau tertindas di dalam negerinya, seakan-akan agama itu bukanlah agama yang diridai Allah. Semuanya itu belum memperoleh keadilan yang sebenarnya selama hidup di dunia. Karena itu di akhirat nanti Allah akan memberikan keadilan yang sesungguhnya. Semuanya akan mendapat balasan sesuai dengan iman, amal dan perbuatan yang telah dikerjakannya. </p>
<p>Menetapkan keputusan dengan adil dan melaksanakan keadilan itu bukanlah suatu yang mustahil bagi Allah, karena Allah Mahakuasa terhadap semua makhluk-Nya, Dia menyaksikan dan mengetahui segala perbuatan dan apa saja yang terjadi atas makhluk, baik yang nampak maupun yang tidak nampak, baik yang besar atau pun yang kecil, bahkan Dia mengetahui segala yang tergores di dalam hati.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Sujud dalam ayat ini berarti mengikuti kehendak dan mengikuti hukum-hukum yang telah digariskan dan ditetapkan Allah. Dapat pula berarti menghambakan diri, beribadat dan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua yang dilarang. Sujud bila dihubungkan dengan makhluk Tuhan selain dari manusia, jin dan malaikat berarti tunduk mengikuti kehendak dan hukum-hukum atau kodrat yang ditentukan Allah, mereka tidak dapat lepas dari ketentuan-ketentuan itu, baik secara sukarela maupun terpaksa. Sedang bagi manusia, jin dan malaikat, sujud berarti taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah, taat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya terhadap semua makhluk, yaitu semua yang di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang- bintang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan semua binatang melata tunduk dan mengikuti aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang diberikan-Nya. </p>
<p>Allah menciptakan jagat raya ini dan mengaturnya dengan hukum dan ketentuan-Nya. Seperti adanya garis edar pada tiap-tiap planet yang ada di ruang angkasa. Tiap-tiap planet mengikuti garis edar yang telah ditentukan. Jika ia keluar dari garis edarnya itu maka ia akan berbenturan dengan planet-planet yang lain. Demikian pula tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang tumbuh menjadi besar dan berkembang mengikuti ketentuan-ketentuan Allah.</p>
<p>Dalam tafsir al-Maragi disebutkan bahwa dalam ayat ini disebut matahari, bulan, bintang-bintang dan sebagainya secara khusus adalah untuk mengingatkan bahwa makhluk-makhluk itu termasuk makhluk yang disembah manusia selain Allah, seperti penduduk Himyar menyembah matahari, Bani Kinanah menyembah bulan, bintang Syi&#8217;ra disembah oleh Bani Lahm, bintang Surayya disembah oleh orang thayyai, penduduk Mesir kuno menyembah patung anak sapi atau burung Ibis. Seakan-akan ayat ini menegaskan bahwa semuanya itu tidak pantas disembah karena semuanya itu termasuk makhluk-makhluk Tuhan yang mengikuti kehendak dan hukum-hukum Allah. Hanya Allah saja yang berhak disembah.</p>
<p>Allah menerangkan bahwa banyak manusia yang beriman, taat dan patuh kepada Allah dengan benar, karena merasakan kebesaran dan kekuasaan atas diri mereka. Karena itu mereka beribadat dengan sungguh-sungguh, melaksanakan semua perintah Allah dan menghentikan semua larangan-Nya. Mereka melakukan semua perbuatan yang menyebabkan Allah sayang kepada mereka, sehingga Allah memberikan pahala dan memuliakan mereka. Ada pula manusia yang tidak beriman dengan benar kepada Allah atau tidak mau merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya, ia melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan Allah marah kepadanya, karena itu mereka pantas mendapat kemurkaan dan kehinaan dari Allah.</p>
<p>Siapa yang mendapat kehinaan dan murka Allah akan masuk neraka, tidak ada seorang pun yang dapat membela dan melepaskannya dari azab Allah, karena segala kekuasaan berada di tangan Allah. Sebaliknya Allah memuliakan orang yang beriman dengan benar, berbuat baik, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa enam golongan manusia tersebut di atas dapat dibagi kepada dua golongan saja, yaitu golongan kafir dan golongan mukmin. Yang termasuk golongan kafir ialah orang-orang Yahudi, orang-orang shabi&#8217;in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Kelima golongan ini mempunyai asas-asas kepercayaan yang berbeda, golongan yang satu tidak mengakui bahkan mengingkari pokok-pokok kepercayaan golongan yang lain, sehingga antara mereka terjadi pertikaian pendapat yang kadang-kadang meningkat menjadi permusuhan. Golongan kedua ialah golongan mukmin yaitu golongan yang taat kepada Allah. Antara golongan pertama dan golongan kedua sering terjadi perdebatan dan permusuhan, sebagaimana yang dilukiskan dan sabab nuzul ayat di atas.</p>
<p>Dalam ayat ini dan ayat berikutnya akan digambarkan bentuk-bentuk hukuman dan azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir serta bentuk-bentuk nikmat yang akan diterima oleh orang-orang mukmin kelak.</p>
<p>Azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir diterangkan Allah sebagai berikut:</p>
<p>1. Orang-orang kafir itu akan dimasukkan ke dalam api neraka yang panas menyala-nyala, sehingga api itu meliputi seluruh badan mereka, seperti pakaian yang membungkus dan meliputi seluruh badan orang yang memakainya.</p>
<p>Pada ayat lain diterangkan pula keadaan orang-orang kafir di dalam neraka; mereka diliputi api neraka sampai meliputi seluruh badan mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (al-A&#8217;raf/7: 41)</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa pakaian yang menutupi seluruh badan mereka itu, terbuat dari cairan aspal sangat panas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. (Ibrahim/14: 50)</p>
<p>2. Dituangkan ke atas kepala mereka air yang mendidih yang sangat panas. Hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan pula hal ini</p>
<p>Dari Abi Hurairah, sesungguhnya dia membaca ayat ini, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda, &#8220;Sesungguhnya air panas mendidih dituangkan ke atas kepala mereka (orang-orang kafir), lalu air panas itu menembus ubun-ubunnya sampai ke rongga perutnya, maka dihancurkannya apa yang berada dalam rongga perut itu, hingga sampailah air panas itu ke tumitnya dan dalam keadaan cair, kemudian (tubuh orang itu) kembali seperti semula. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>3. Mereka dicambuk dengan cemeti-cemeti yang terbuat dari besi, hingga mengenai muka, kepala dan seluruh tubuhnya. Dari Abi Sa&#8217;id al-Khudriy, dari Rasulullah bersabda, &#8220;Seandainya cambuk dan besi diletakkan di bumi kemudian berkumpul manusia dan jin, mereka tidak bisa mengangkatnya dari bumi. (Riwayat Ahmad)</p>
<p>4. Setiap mereka mencoba lari keluar dari neraka, mereka dihalau dan dicambuk dengan cemeti itu, seraya dikatakan kepada mereka, &#8220;Rasakanlah olehmu azab ini, sebagai balasan bagi keingkaran dan kedurhakaan.&#8221;</p>
<p>Inilah gambaran azab ukhrawi yang diterangkan Allah kepada manusia. Dengan keterangan itu manusia dapat membayangkan bagaimana hebat dan pedihnya azab yang diterima orang-orang kafir di hari Kiamat, sehingga gambaran itu merupakan kabar yang menakutkan baginya. Hal ini sebagai salah satu cara Al-Qur&#8217;an meyakinkan manusia dan menyadarkannya dari keingkaran dan kedurhakaan yang telah diperbuatnya. Bagaimana hakekat yang sebenarnya dari azab ukhrawi itu, adalah termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui, mungkin sesuai dengan yang dilukiskan itu yang berupa azab jasmani atau mungkin pula berupa azab jasmani dan azab rohani.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa enam golongan manusia tersebut di atas dapat dibagi kepada dua golongan saja, yaitu golongan kafir dan golongan mukmin. Yang termasuk golongan kafir ialah orang-orang Yahudi, orang-orang shabi&#8217;in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Kelima golongan ini mempunyai asas-asas kepercayaan yang berbeda, golongan yang satu tidak mengakui bahkan mengingkari pokok-pokok kepercayaan golongan yang lain, sehingga antara mereka terjadi pertikaian pendapat yang kadang-kadang meningkat menjadi permusuhan. Golongan kedua ialah golongan mukmin yaitu golongan yang taat kepada Allah. Antara golongan pertama dan golongan kedua sering terjadi perdebatan dan permusuhan, sebagaimana yang dilukiskan dan sabab nuzul ayat di atas.</p>
<p>Dalam ayat ini dan ayat berikutnya akan digambarkan bentuk-bentuk hukuman dan azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir serta bentuk-bentuk nikmat yang akan diterima oleh orang-orang mukmin kelak.</p>
<p>Azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir diterangkan Allah sebagai berikut:</p>
<p>1. Orang-orang kafir itu akan dimasukkan ke dalam api neraka yang panas menyala-nyala, sehingga api itu meliputi seluruh badan mereka, seperti pakaian yang membungkus dan meliputi seluruh badan orang yang memakainya.</p>
<p>Pada ayat lain diterangkan pula keadaan orang-orang kafir di dalam neraka; mereka diliputi api neraka sampai meliputi seluruh badan mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (al-A&#8217;raf/7: 41)</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa pakaian yang menutupi seluruh badan mereka itu, terbuat dari cairan aspal sangat panas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. (Ibrahim/14: 50)</p>
<p>2. Dituangkan ke atas kepala mereka air yang mendidih yang sangat panas. Hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan pula hal ini</p>
<p>Dari Abi Hurairah, sesungguhnya dia membaca ayat ini, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda, &#8220;Sesungguhnya air panas mendidih dituangkan ke atas kepala mereka (orang-orang kafir), lalu air panas itu menembus ubun-ubunnya sampai ke rongga perutnya, maka dihancurkannya apa yang berada dalam rongga perut itu, hingga sampailah air panas itu ke tumitnya dan dalam keadaan cair, kemudian (tubuh orang itu) kembali seperti semula. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>3. Mereka dicambuk dengan cemeti-cemeti yang terbuat dari besi, hingga mengenai muka, kepala dan seluruh tubuhnya. Dari Abi Sa&#8217;id al-Khudriy, dari Rasulullah bersabda, &#8220;Seandainya cambuk dan besi diletakkan di bumi kemudian berkumpul manusia dan jin, mereka tidak bisa mengangkatnya dari bumi. (Riwayat Ahmad)</p>
<p>4. Setiap mereka mencoba lari keluar dari neraka, mereka dihalau dan dicambuk dengan cemeti itu, seraya dikatakan kepada mereka, &#8220;Rasakanlah olehmu azab ini, sebagai balasan bagi keingkaran dan kedurhakaan.&#8221;</p>
<p>Inilah gambaran azab ukhrawi yang diterangkan Allah kepada manusia. Dengan keterangan itu manusia dapat membayangkan bagaimana hebat dan pedihnya azab yang diterima orang-orang kafir di hari Kiamat, sehingga gambaran itu merupakan kabar yang menakutkan baginya. Hal ini sebagai salah satu cara Al-Qur&#8217;an meyakinkan manusia dan menyadarkannya dari keingkaran dan kedurhakaan yang telah diperbuatnya. Bagaimana hakekat yang sebenarnya dari azab ukhrawi itu, adalah termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui, mungkin sesuai dengan yang dilukiskan itu yang berupa azab jasmani atau mungkin pula berupa azab jasmani dan azab rohani.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa enam golongan manusia tersebut di atas dapat dibagi kepada dua golongan saja, yaitu golongan kafir dan golongan mukmin. Yang termasuk golongan kafir ialah orang-orang Yahudi, orang-orang shabi&#8217;in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Kelima golongan ini mempunyai asas-asas kepercayaan yang berbeda, golongan yang satu tidak mengakui bahkan mengingkari pokok-pokok kepercayaan golongan yang lain, sehingga antara mereka terjadi pertikaian pendapat yang kadang-kadang meningkat menjadi permusuhan. Golongan kedua ialah golongan mukmin yaitu golongan yang taat kepada Allah. Antara golongan pertama dan golongan kedua sering terjadi perdebatan dan permusuhan, sebagaimana yang dilukiskan dan sabab nuzul ayat di atas.</p>
<p>Dalam ayat ini dan ayat berikutnya akan digambarkan bentuk-bentuk hukuman dan azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir serta bentuk-bentuk nikmat yang akan diterima oleh orang-orang mukmin kelak.</p>
<p>Azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir diterangkan Allah sebagai berikut:</p>
<p>1. Orang-orang kafir itu akan dimasukkan ke dalam api neraka yang panas menyala-nyala, sehingga api itu meliputi seluruh badan mereka, seperti pakaian yang membungkus dan meliputi seluruh badan orang yang memakainya.</p>
<p>Pada ayat lain diterangkan pula keadaan orang-orang kafir di dalam neraka; mereka diliputi api neraka sampai meliputi seluruh badan mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (al-A&#8217;raf/7: 41)</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa pakaian yang menutupi seluruh badan mereka itu, terbuat dari cairan aspal sangat panas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. (Ibrahim/14: 50)</p>
<p>2. Dituangkan ke atas kepala mereka air yang mendidih yang sangat panas. Hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan pula hal ini</p>
<p>Dari Abi Hurairah, sesungguhnya dia membaca ayat ini, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda, &#8220;Sesungguhnya air panas mendidih dituangkan ke atas kepala mereka (orang-orang kafir), lalu air panas itu menembus ubun-ubunnya sampai ke rongga perutnya, maka dihancurkannya apa yang berada dalam rongga perut itu, hingga sampailah air panas itu ke tumitnya dan dalam keadaan cair, kemudian (tubuh orang itu) kembali seperti semula. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>3. Mereka dicambuk dengan cemeti-cemeti yang terbuat dari besi, hingga mengenai muka, kepala dan seluruh tubuhnya. Dari Abi Sa&#8217;id al-Khudriy, dari Rasulullah bersabda, &#8220;Seandainya cambuk dan besi diletakkan di bumi kemudian berkumpul manusia dan jin, mereka tidak bisa mengangkatnya dari bumi. (Riwayat Ahmad)</p>
<p>4. Setiap mereka mencoba lari keluar dari neraka, mereka dihalau dan dicambuk dengan cemeti itu, seraya dikatakan kepada mereka, &#8220;Rasakanlah olehmu azab ini, sebagai balasan bagi keingkaran dan kedurhakaan.&#8221;</p>
<p>Inilah gambaran azab ukhrawi yang diterangkan Allah kepada manusia. Dengan keterangan itu manusia dapat membayangkan bagaimana hebat dan pedihnya azab yang diterima orang-orang kafir di hari Kiamat, sehingga gambaran itu merupakan kabar yang menakutkan baginya. Hal ini sebagai salah satu cara Al-Qur&#8217;an meyakinkan manusia dan menyadarkannya dari keingkaran dan kedurhakaan yang telah diperbuatnya. Bagaimana hakekat yang sebenarnya dari azab ukhrawi itu, adalah termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui, mungkin sesuai dengan yang dilukiskan itu yang berupa azab jasmani atau mungkin pula berupa azab jasmani dan azab rohani.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa enam golongan manusia tersebut di atas dapat dibagi kepada dua golongan saja, yaitu golongan kafir dan golongan mukmin. Yang termasuk golongan kafir ialah orang-orang Yahudi, orang-orang shabi&#8217;in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah. Kelima golongan ini mempunyai asas-asas kepercayaan yang berbeda, golongan yang satu tidak mengakui bahkan mengingkari pokok-pokok kepercayaan golongan yang lain, sehingga antara mereka terjadi pertikaian pendapat yang kadang-kadang meningkat menjadi permusuhan. Golongan kedua ialah golongan mukmin yaitu golongan yang taat kepada Allah. Antara golongan pertama dan golongan kedua sering terjadi perdebatan dan permusuhan, sebagaimana yang dilukiskan dan sabab nuzul ayat di atas.</p>
<p>Dalam ayat ini dan ayat berikutnya akan digambarkan bentuk-bentuk hukuman dan azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir serta bentuk-bentuk nikmat yang akan diterima oleh orang-orang mukmin kelak.</p>
<p>Azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir diterangkan Allah sebagai berikut:</p>
<p>1. Orang-orang kafir itu akan dimasukkan ke dalam api neraka yang panas menyala-nyala, sehingga api itu meliputi seluruh badan mereka, seperti pakaian yang membungkus dan meliputi seluruh badan orang yang memakainya.</p>
<p>Pada ayat lain diterangkan pula keadaan orang-orang kafir di dalam neraka; mereka diliputi api neraka sampai meliputi seluruh badan mereka. Allah berfirman:</p>
<p>Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (al-A&#8217;raf/7: 41)</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat bahwa pakaian yang menutupi seluruh badan mereka itu, terbuat dari cairan aspal sangat panas, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka. (Ibrahim/14: 50)</p>
<p>2. Dituangkan ke atas kepala mereka air yang mendidih yang sangat panas. Hadis Nabi Muhammad saw menjelaskan pula hal ini</p>
<p>Dari Abi Hurairah, sesungguhnya dia membaca ayat ini, ia berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda, &#8220;Sesungguhnya air panas mendidih dituangkan ke atas kepala mereka (orang-orang kafir), lalu air panas itu menembus ubun-ubunnya sampai ke rongga perutnya, maka dihancurkannya apa yang berada dalam rongga perut itu, hingga sampailah air panas itu ke tumitnya dan dalam keadaan cair, kemudian (tubuh orang itu) kembali seperti semula. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<p>3. Mereka dicambuk dengan cemeti-cemeti yang terbuat dari besi, hingga mengenai muka, kepala dan seluruh tubuhnya. Dari Abi Sa&#8217;id al-Khudriy, dari Rasulullah bersabda, &#8220;Seandainya cambuk dan besi diletakkan di bumi kemudian berkumpul manusia dan jin, mereka tidak bisa mengangkatnya dari bumi. (Riwayat Ahmad)</p>
<p>4. Setiap mereka mencoba lari keluar dari neraka, mereka dihalau dan dicambuk dengan cemeti itu, seraya dikatakan kepada mereka, &#8220;Rasakanlah olehmu azab ini, sebagai balasan bagi keingkaran dan kedurhakaan.&#8221;</p>
<p>Inilah gambaran azab ukhrawi yang diterangkan Allah kepada manusia. Dengan keterangan itu manusia dapat membayangkan bagaimana hebat dan pedihnya azab yang diterima orang-orang kafir di hari Kiamat, sehingga gambaran itu merupakan kabar yang menakutkan baginya. Hal ini sebagai salah satu cara Al-Qur&#8217;an meyakinkan manusia dan menyadarkannya dari keingkaran dan kedurhakaan yang telah diperbuatnya. Bagaimana hakekat yang sebenarnya dari azab ukhrawi itu, adalah termasuk pengetahuan yang gaib, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui, mungkin sesuai dengan yang dilukiskan itu yang berupa azab jasmani atau mungkin pula berupa azab jasmani dan azab rohani.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan berbagai kenikmatan yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang membersihkan diri dan hatinya serta selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Berbagai kenikmatan yang akan diterima ialah:</p>
<p>1. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.</p>
<p>2. Mereka diberi perhiasan yang indah, seperti gelang-gelang dari emas, mahkota yang bertahtakan permata dan mutiara yang indah.</p>
<p>3. Bagi mereka disediakan pakaian sutera yang indah.</p>
<p>4. Mereka diberi petunjuk dan pelajaran, sehingga mereka mengucapkan perkataan yang sopan dan sedap didengar, mengerjakan perbuatan yang menyenangkan hati orang, dapat bergaul dengan baik dengan penduduk surga yang lain, hidup bersaudara, dan saling kasih mengasihi.</p>
<p>Sebagaimana keterangan Allah tentang azab di atas, maka gambaran kenikmatan dan kesenangan yang digambarkan pada ayat ini, sebagai pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman dan beramal saleh di akhirat nanti adalah sama dengan kenikmatan dan kesenangan yang selalu diimpikan oleh manusia selama mereka hidup di dunia. Pada umumnya manusia waktu hidup di dunia menginginkan kekayaan yang berlimpah-ruah, mempunyai kedudukan yang terhormat dan kekuasaan yang tidak terbatas, mempunyai istri-istri yang cantik dan perkakas rumah tangga yang serba mewah.</p>
<p>Sekalipun Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya hal-hal yang demikian itu, namun masalah surga dan neraka itu termasuk hal yang gaib bagi manusia, hanya Allah sajalah yang mengetahui hakikat yang sebenarnya, tetapi kaum Muslimin wajib percaya bahwa surga dan neraka itu pasti ada. Gambaran yang diberikan Allah itu, merupakan sebagian dari kesenangan yang dijanjikan itu. Kesenangan yang sebenarnya lebih dari gambaran itu karena bagi manusia sendiri tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perbandingan. Yang jelas ialah bahwa orang-orang yang beriman akan mengalami kesenangan dan kenikmatan yang tiada taranya, belum pernah dirasakan selama hidup di dunia, semua menyenangkan hati, perasaan, pikiran, penglihatan, pendengaran dan sebagainya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan berbagai kenikmatan yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang membersihkan diri dan hatinya serta selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Berbagai kenikmatan yang akan diterima ialah:</p>
<p>1. Mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.</p>
<p>2. Mereka diberi perhiasan yang indah, seperti gelang-gelang dari emas, mahkota yang bertahtakan permata dan mutiara yang indah.</p>
<p>3. Bagi mereka disediakan pakaian sutera yang indah.</p>
<p>4. Mereka diberi petunjuk dan pelajaran, sehingga mereka mengucapkan perkataan yang sopan dan sedap didengar, mengerjakan perbuatan yang menyenangkan hati orang, dapat bergaul dengan baik dengan penduduk surga yang lain, hidup bersaudara, dan saling kasih mengasihi.</p>
<p>Sebagaimana keterangan Allah tentang azab di atas, maka gambaran kenikmatan dan kesenangan yang digambarkan pada ayat ini, sebagai pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman dan beramal saleh di akhirat nanti adalah sama dengan kenikmatan dan kesenangan yang selalu diimpikan oleh manusia selama mereka hidup di dunia. Pada umumnya manusia waktu hidup di dunia menginginkan kekayaan yang berlimpah-ruah, mempunyai kedudukan yang terhormat dan kekuasaan yang tidak terbatas, mempunyai istri-istri yang cantik dan perkakas rumah tangga yang serba mewah.</p>
<p>Sekalipun Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya hal-hal yang demikian itu, namun masalah surga dan neraka itu termasuk hal yang gaib bagi manusia, hanya Allah sajalah yang mengetahui hakikat yang sebenarnya, tetapi kaum Muslimin wajib percaya bahwa surga dan neraka itu pasti ada. Gambaran yang diberikan Allah itu, merupakan sebagian dari kesenangan yang dijanjikan itu. Kesenangan yang sebenarnya lebih dari gambaran itu karena bagi manusia sendiri tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perbandingan. Yang jelas ialah bahwa orang-orang yang beriman akan mengalami kesenangan dan kenikmatan yang tiada taranya, belum pernah dirasakan selama hidup di dunia, semua menyenangkan hati, perasaan, pikiran, penglihatan, pendengaran dan sebagainya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Menurut riwayat Ibnu &#8216;Abbas ra ayat ini sesungguhnya diturunkan berhubungan dengan Abi Sufyan bin Harb dan kawan-kawannya. Mereka itu menghalang-halangi Rasulullah saw dan para sahabat memasuki Masjidil Haram untuk melakukan ibadah umrah di tahun &#8220;perdamaian Hudaibiyah&#8221;. Karena itu Rasulullah enggan untuk memerangi mereka karena Rasulullah berada dalam keadaan ihram. Kemudian terjadilah kesepakatan yang melahirkan perjanjian Hudaibiyah, yang di dalamnya tercantum bahwa Rasulullah tidak jadi umrah di tahun itu, akan tetapi ditangguhkan sampai tahun depan dan mereka tidak akan menghalangi Nabi dan sahabatnya masuk Masjidil Haram untuk mengerjakan ibadah, pada tahun yang akan datang.</p>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa semua orang yang mengingkari keesaan dan kekuasaan Allah, mendustakan rasul dan meningkari agama yang dibawanya, menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan menegakkan kalimat Allah, menghalang-halangi kaum Muslimin masuk Masjidil Haram untuk beribadat, baik orang-orang penduduk Mekah asli maupun pendatang dari negeri lain dan menghalang-halangi orang beribadat di dalamnya, niscaya Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat pedih.</p>
<p>Dari ayat di atas dipahami bahwa Masjidil Haram yang terletak di sekitar Ka&#8217;bah adalah suatu tempat bagi kaum Muslimin untuk mengerjakan ibadah haji, umrah serta ibadah-ibadah yang lain, seperti tawaf, salat, i&#8217;tikaf, zikir, dan sebagainya, baik mereka yang berasal dari Mekah sendiri maupun yang berasal dari luar Mekah. Dengan perkataan lain, bahwa semua kaum Muslimin berhak melakukan ibadah di tempat itu, darimana pun mereka datang. Allah mengancam dengan azab yang keras terhadap orang-orang yang mencegah dan menghalang-halanginya. Karena itu ada di antara para ulama yang mempersoalkan kedudukan tanah yang berada di sekitar Masjidil Haram itu, apakah tanah itu dapat dimiliki oleh perseorangan atau pemerintah, atau tanah itu merupakan hak seluruh kaum Muslimin. Untuk pengaturannya sekarang diserahkan kepada Kerajaan Arab Saudi, karena Masjidil Haram terletak di negara ini, selama negara tersebut melaksanakan perintah-perintah Allah melayani orang-orang yang ingin beribadah di sana.</p>
<p>Menurut Imam Mujahid dan Malik, Masjidil Haram itu adalah milik kaum Muslimin seluruhnya, tidak seorang pun atau sesuatu negara pun yang boleh memilikinya. Pendapat ini juga diikuti oleh Imam Abu Hanifah, alasan mereka ialah perkataan baik &#8220;yang bermukim maupun yang berkunjung&#8221; berarti Masjidil Haram dijadikan bagi manusia, agar mereka menghormatinya, beribadah di sana baik bagi orang-orang Mekah maupun orang-orang yang berasal dari luar Mekah.</p>
<p>Karena itu tidak dapat dikatakan bahwa penduduk Mekah lebih berhak atas Masjidil Haram itu dari penduduk dari luar Mekah.</p>
<p>Alasan-alasan mereka yang lain ialah:</p>
<p>1. Menurut riwayat, bahwa Umar, Ibnu &#8216;Abbas dan banyak sahabat berpendapat, &#8220;Para pengunjung Masjidil Haram boleh menempati rumah-rumah yang didapatinya kosong, belum berpenghuni di Mekah, dan orang-orang Mekah sendiri yang mempunyai rumah kosong itu, hendaklah mengizinkannya.&#8221;</p>
<p>2. Hadis Nabi Muhammad saw:</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, &#8220;Rasulullah berkata, &#8220;Mekah itu pemberian, tidak boleh dijual hasilnya dan tidak boleh disewakan rumahnya. (Riwayat ad-Daruquthni)</p>
<p>3. Dan hadis Nabi saw lagi: Dari &#8216;Aisyah ra ia berkata, &#8220;Ya Rasulullah, bolehkah aku buatkan untukmu rumah di Mina atau rumah yang dapat melindungi engkau dari terik panas matahari? Beliau menjawab, &#8220;Tidak, sesungguhnya tanah itu adalah hadiah bagi orang yang lebih dahulu mendapatkannya.&#8221; (Riwayat Abu Daud)</p>
<p>4. Menurut suatu riwayat, pada permulaan Islam, Masjidil Haram tidak mempunyai pintu-pintu masuk, sehingga sampai pada suatu masa, banyak pencuri berdatangan, lalu seorang laki-laki membuat pintu-pintu, tetapi Umar melarangnya dan berkata, &#8220;Apakah kamu menutup pintu-pintu orang-orang berhaji ke Baitullah? Laki-laki itu menjawab, Aku membuat pintu-pintu untuk memelihara barang-barang pengunjung dari pencuri.&#8221; Karena itu Umar ra membiarkannya.</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i berpendapat bahwa tanah sekitar Masjidil Haram itu boleh dimiliki dan diperjual-belikan, asal tidak menghalangi kaum Muslimin beribadah di sana.</p>
<p>Dari Umamah bin Zaid, dia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah bolehkah aku besok berkunjung ke rumahmu di Mekah? Rasulullah menjawab, &#8220;Apakah keluarga Aqil meninggalkan rumah? (Riwayat asy-Syaikhan) </p>
<p>Perbedaan pendapat ini berpangkal pada persoalan; Apakah Nabi Muhammad dan para sahabat pada saat penaklukan kota Mekah (fathu Makkah) dengan cara kekerasan atau dengan cara damai? Jika direbut dari tangan orang-orang musyrik dengan kekerasan, tentulah tanah sekitar Masjidil Haram itu merupakan harta rampasan bagi kaum Muslimin yang harus dibagi-bagi sesuai dengan ketentuan agama. Tetapi Rasulullah tidak membagi-baginya, sehingga tetaplah tanah itu merupakan milik bagi kaum Muslimin sampai saat ini. Hal seperti ini pernah pula dilakukan oleh Sayidina &#8216;Umar pada suatu daerah yang telah direbutnya dari orang-orang kafir. Pendapat kedua menyatakan bahwa tanah Mekah itu direbut Nabi Muhammad saw dengan cara damai, karena itu ia bukan merupakan barang rampasan, dan tetap menjadi milik empunya waktu itu. Kemudian diwariskan atau dijual oleh pemiliknya yang dahulu, sehingga menjadi milik dari pembeli pada saat ini.</p>
<p>Sekalipun ada perbedaan pendapat yang demikian, namun para ulama sependapat bahwa Masjidil Haram merupakan tempat beribadah bagi seluruh kaum Muslimin yang datang dari seluruh penjuru dunia. Mereka boleh datang kapan saja mereka kehendaki, tanpa seorang pun yang boleh mengganggu dan menghalanginya. Jika berlawanan kepentingan pribadi atau golongan dengan kepentingan agama Islam, maka kepentingan agama Islam yang harus diutamakan dan diprioritaskan. Tentu saja kaum Muslimin yang telah bermukim dan menjadi penduduk Mekah itu berhak dan boleh mencari nafkah dari hasil usaha mereka melayani dan mengurus jama&#8217;ah haji yang datang dari segenap penjuru dunia. Sekalipun demikian, usaha mengurus dan melayani jama&#8217;ah haji itu, tidak boleh dikomersilkan, tetapi semata-mata dilakukan untuk mencari pahala yang besar.</p>
<p>Masjidil Haram sebagai tempat yang suci dan kiblat umat Islam, memiliki keistimewaan dan kelebihan-kelebihan, di antaranya adalah:</p>
<p>a.Di tempat tersebut orang yang baru berencana saja untuk berbuat maksiat/makar, maka Allah akan mengazabnya. Ibnu Mas&#8217;ud, Ibnu &#8216;Umar, ad-dhahhak dan Ibnu Zaid, menyatakan bahwa bila seseorang sedang berada di Masjidil Haram, kemudian dia berencana untuk membunuh seseorang yang tinggal di Aden, maka Allah akan mengazabnya.</p>
<p>b.Ibadah yang dilakukan di Masjidil Haram mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan ibadah di tempat-tempat lain, bahkan satu kali salat di Masjidil Haram nilainya sama dengan seratus ribu kali salat di luar Masjidil Haram. Rusulullah bersabda: Dari Jabir bahwa Rasulullah berkata, &#8220;Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama seribu kali dibandingkan dengan salat di luar masjidku, kecuali di Masjidil Haram. Dan salat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali dibandingkan salat di luar Masjidil Haram. (Riwayat Ahmad dengan sanad sahih)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengingatkan kepada orang-orang musyrik Mekah yang menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidil Haram tentang peristiwa yang pernah terjadi dahulu, ialah pada waktu Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim as, letak Baitullah yang akan dibangun kembali dan waktu ia memaklumkan kepada seluruh manusia di dunia atas perintah Allah bahwa Baitullah menjadi pusat peribadatan bagi seluruh manusia. Dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa itu diharapkan orangorang musyrik Mekah tidak lagi menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidil Haram, karena agama Islam itu adalah agama nenek moyang mereka Ibrahim dan Masjidil Haram itu didirikan oleh nenek moyang mereka pula.</p>
<p>Menurut ayat ini, Ibrahimlah orang yang pertama kali membangun Ka&#8217;bah. Tetapi menurut suatu riwayat bahwa Ibrahim hanyalah bertugas membangun Ka&#8217;bah itu kembali bersama putranya Ismail as, sebelumnya telah didirikan Ka&#8217;bah itu, kemudian runtuh dan bekasnya tertimbun oleh pasir. Menurut riwayat tersebut, setelah Ismail putra Ibrahim dan istrinya Hajar yang ditinggalkannya di Mekah menjadi dewasa maka Ibrahim datang ke Mekah dari Palestina, untuk melaksanakan perintah-perintah Allah yaitu mendirikan kembali Ka&#8217;bah bersama putranya Ismail. Allah memberitahukan kepada Ibrahim bekas tempat berdirinya Ka&#8217;bah yang telah runtuh itu dengan meniupkan angin kencang ke tempat itu, menjadi bersih, lalu Ibrahim as dan putranya Ismail as mendirikan Ka&#8217;bah di tempat itu.</p>
<p>Kemudian Allah memerintahkan kepada Ibrahim as dan umatnya agar mentauhidkan Allah; tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun, membersihkan Ka&#8217;bah dari segala macam perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik, mensucikannya dari segala macam najis dan kotoran, menjadikan Ka&#8217;bah itu sebagai pusat peribadatan bagi orang-orang yang beriman, seperti mengerjakan tawaf (berjalan mengelilingi Ka&#8217;bah).</p>
<p>Perkataan &#8220;salat, ruku&#8217; dan sujud&#8221;, merupakan isyarat bahwa Ka&#8217;bah itu didirikan untuk umat Islam, karena salat, ruku&#8217; sujud itu, merupakan ciri khas ibadah umat Islam yang dilakukan dengan menghadap Ka&#8217;bah. </p>
<p>Allah telah melimpahkan karunia-Nya yang besar kepada kaum Muslimin, yang telah mempersiapkan pusat peribadatan mereka sejak lama sebelum diutus rasul mereka yang membawa risalah Islamiyah. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa pendirian Ka&#8217;bah yang dilaksanakan Nabi Ibrahim atas perintah Allah itu, merupakan persiapan penyampaian risalah Islamiyah. Karena di kemudian hari Ka&#8217;bah itu dijadikan Allah sebagai kiblat salat kaum Muslimin dan tempat mereka mengerjakan ibadah haji dan umrah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as agar menyeru manusia untuk mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan kepada mereka bahwa ibadah haji itu termasuk ibadah yang diwajibkan bagi kaum Muslimin.</p>
<p>Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim as yang baru saja selesai membangun Ka&#8217;bah. Pendapat ini sesuai dengan ayat ini, terutama jika diperhatikan hubungannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada ayat-ayat yang lalu disebutkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah akan peristiwa waktu Allah memerintah Ibrahim supaya membangun Ka&#8217;bah, sedang ayat-ayat ini menyuruh orang-orang musyrik itu mengingat peristiwa ketika Allah memerintahkan Ibrahim menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Pendapat ini sesuai pula dengan riwayat Ibnu &#8216;Abbas dari Jubair yang menerangkan, bahwa tatkala Ibrahim as selesai membangun Ka&#8217;bah, Allah memerintahkan kepadanya, &#8220;Serulah manusia untuk mengerjakan ibadah haji.&#8221;</p>
<p>Ibrahim as menjawab, &#8220;Wahai Tuhan, apakah suaraku akan sampai kepada mereka?&#8221; Allah berkata, &#8220;Serulah mereka, Aku akan menyam-paikannya.&#8221; Maka Ibrahim naik ke atas bukit Abi Qubais, lalu mengucapkan dengan suara yang keras, &#8220;Wahai sekalian manusia, se-sungguhnya Allah benar-benar telah memerintahkan kepadamu sekalian mengunjungi rumah ini, supaya Dia memberikan kepadamu surga dan melindungi kamu dari azab neraka, karena itu tunaikanlah olehmu ibadah haji itu.&#8221; Maka suara itu diperkenalkan oleh orang-orang yang berada dalam tulang sulbi laki-laki dan orang-orang yang telah berada dalam rahim perempuan, dengan jawaban, &#8220;Labbaika, Allahumma labbaika&#8221;. Maka berlakulah &#8220;talbiyah&#8221; dengan cara yang demikian itu. Talbiyah ialah doa yang diucapkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji atau umrah, doa itu ialah, &#8220;Labbaika, Allahumma Labbaika.&#8221;</p>
<p>Al-Hasan berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. Alasan beliau ialah semua perkataan dan pembicaraan dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an itu ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, termasuk di dalamnya perintah melaksanakan ibadah haji ini. Perintah ini telah dilaksanakan oleh Rasulullah bersama para sahabat dengan mengerjakan haji wada&#8217; (haji yang penghabisan), sebagaimana tersebut dalam hadis:</p>
<p>Dari Abi Hurairah, ia berkata, &#8220;Rasulullah telah berkhotbah dihadapan kami, beliau berkata, &#8220;Wahai sekalian manusia Allah telah mewajibkan atasmu ibadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji.&#8221; (Riwayat Ahmad)</p>
<p>Jika diperhatikan, maka sebenarnya kedua pendapat ini tidaklah berlawanan. Karena perintah menunaikan ibadah haji itu ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan umatnya diwaktu beliau selesai membangun Ka&#8217;bah. Kemudian setelah Nabi Muhammad saw diutus, maka perintah itu diberikan pula kepadanya, sehingga Nabi Muhammad saw dan umatnya diwajibkan pula menunaikan ibadah haji itu, bahkan ditetapkan sebagai rukun Islam yang kelima.</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat perkataan, &#8220;&#8230;niscaya mereka akan datang kepadamu&#8230;&#8221; Dari perkataan ini dipahami, seakan-akan Tuhan mengatakan kepada Ibrahim as bahwa jika Ibrahim menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya manusia akan memenuhi panggilannya itu, mereka akan berdatangan dari segenap penjuru dunia walaupun dengan menempuh perjalanan yang sulit dan sukar. Siapapun yang memenuhi panggilan itu, baik waktu itu maupun kemudian hari, maka berarti ia telah datang memenuhi panggilan Allah seperti Ibrahim dahulu telah memenuhi pula. Ibrahim dahulu pernah Allah perintahkan datang ke Mekah yang masih sepi, Ibrahim memenuhinya walaupun perjalanannya sukar, melalui terik panas padang pasir yang terbentang antara Mekah dan Syiria. Perintah itu telah dilaksanakan dengan baik, bahkan Ibrahim bersedia menyembelih anak kandungnya Ismail, semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah, karena itu Allah akan menyediakan pahala yang besar untuk Ibrahim, dan pahala yang seperti itu akan Allah berikan pula kepada siapa yang berkunjung ke Baitullah ini, terutama bagi orang yang sengaja datang ke Mekah ini untuk melaksanakan ibadah haji. Perkataan ini merupakan penghormatan bagi Ibrahim dan menunjukkan betapa besar pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menunaikan ibadah haji semata-mata karena Allah.</p>
<p>Para ulama sependapat bahwa datang ke Baitullah untuk mengerjakan ibadah haji dibolehkan mempergunakan kendaraan dan cara-cara apa saja yang dihalalkan, seperti dengan berjalan kaki, dengan kapal laut atau dengan pesawat terbang atau dengan kendaraan melalui darat dan sebagainya. Tetapi Imam Malik dan Imam Asy-Syafi&#8217;i berpendapat bahwa pergi menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kendaraan melalui perjalanan darat itu lebih baik dan lebih besar pahalanya, karena cara yang demikian itu mengikuti perbuatan Rasulullah. Dengan cara yang demikian diperlukan perbelanjaan yang banyak, menempuh perjalanan yang sukar serta menambah syi&#8217;ar ibadah haji, terutama di waktu melalui negara-negara yang ditempuh selama dalam perjalanan. Sebagian ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama dari berkendaraan, karena dengan berjalan kaki lebih banyak ditemui kesulitankesulitan daripada dengan berkendaraan. Dalam masalah ini berkendaraan atau tidak adalah masalah teknis saja. Secara umum Islam tidak menghendaki kesukaran tetapi kemudahan. Islam juga tidak membebani seseorang sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya.</p>
<p>Melaksanakan ibadah haji baik dengan kendaraan atau pun dengan berjalan kai, pasti akan memperoleh pahala yang besar dari Allah, jika ibadah itu semata-mata dilaksanakan karena Allah. Yang dinilai adalah niat dan keikhlasan seseorang serta cara-cara melaksanakannya. Sekalipun sulit perjalanan yang ditempuh, tetapi niat mengerjakan haji itu bukan karena Allah maka ia tidak akan memperoleh sesuatu pun dari Allah, bahkan sebaliknya ia akan diazab dengan azab yang sangat pedih karena niatnya itu.</p>
<p>Jika seseorang telah sampai di Mekah dan melihat Baitullah, disunnahkan mengangkat tangan, sebagaimana tersebut dalam hadis:</p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibnu &#8216;Abbas ra dari Nabi saw, beliau bersabda, &#8220;Diangkat kedua tangan pada tujuh tempat, yaitu pada pembukaan salat, waktu menghadap Baitullah, waktu menghadap bukit Safa dan bukit Marwah, waktu menghadap dua tempat (Arafah dan Muzdalifah) dan waktu melempar dua jamrah.&#8221; (Riwayat Ahmad)</p>
<p>Hadis ini diamalkan oleh Ibnu Umar ra.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Ayat ini menerangkan tujuan disyariatkan ibadah haji, yaitu untuk memperoleh kemanfaatan. Tidak disebutkan dalam ayat ini bentuk-bentuk manfaat itu, hanya disebut secara umum saja. Penyebutan secara umum kemanfaatan-kemanfaatan yang akan diperoleh orang yang mengerjakan ibadah haji dalam ayat ini, menunjukkan banyaknya macam dan jenis kemanfaatan yang akan diperoleh itu. Kemanfaatan-kemanfaatan itu sukar menerangkannya secara terperinci, hanya yang dapat menerangkan dan merasakannya ialah orang yang pernah mengerjakan ibadah haji dan melaksanakannya dengan niat ikhlas.</p>
<p>Kemanfaatan itu ada yang berhubungan dengan rohani dan ada pula dengan jasmani, dan ada yang langsung dirasakan oleh individu yang melaksanakannya, dan ada pula yang dirasakan oleh masyarakat, baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berhubungan dengan akhirat.</p>
<p>Para ulama banyak yang mencoba mengungkap bentuk-bentuk manfaat yang mungkin diperoleh oleh para jamaah haji, setelah mereka mengalami dan mempelajarinya kebanyakan mereka itu menyatakan bahwa mereka belum sanggup mengungkap semua manfaat itu. Di antara manfaat yang diungkapkan itu ialah:</p>
<p>1. Melatih diri dengan mempergunakan seluruh kemampuan mengingat Allah dengan khusyu&#8217; pada hari-hari yang telah ditentukan dengan memurnikan kepatuhan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja. Pada waktu seseorang berusaha mengedalikan hawa nafsunya dengan mengikuti perintah-perintah Allah dan menjuahi larangan-larangan-Nya walau apapun yang menghalangi dan merintanginya. Latihan-latihan yang dikerjakan selama mengerjakan ibadah haji itu diharapkan membekas di dalam sanubari kemudian dapat diulangi lagi mengerjakannya setelah kembali dari tanah suci, sehingga menjadi kebiasaan yang baik dalam penghidupan dan kehidupan.</p>
<p>2. Menimbulkan rasa perdamaian dan rasa persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin. Sejak seorang calon haji mengenakan pakaian ihram, pakaian yang putih yang tidak berjahit, sebagai tanda ia sedang mengerjakan ibadah haji, maka sejak itu ia telah menanggalkan pakaian duniawi, pakaian kesukaannya, pakaian kebesaran, pakaian kemewahan dan sebagainya. Semua manusia kelihatan sama dalam pakaian ihram itu; tidak dapat dibedakan antara si kaya dengan si miskin, antara penguasa dengan rakyat jelata, antara yang pandai dengan yang bodoh, antara tuan dengan budak, semuanya sama tunduk dan menghambakan diri kepada Tuhan semesta alam, sama-sama tawaf, sama-sama berlari antara bukit Safa dan bukit Marwa, sama-sama berdesakan melempar Jamrah, sama-sama tunduk dan tafakkur di tengah-tengah padang Arafah. Dalam keadaan demikian akan terasa bahwa diri kita sama saja dengan orang yang lain. Yang membedakan derajat antara seorang dengan yang lain hanyalah tingkat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah. Karena itu timbullah rasa ingin tolong menolong, rasa seagama, rasa senasib dan sepenanggungan, rasa hormat menghormati sesama manusia.</p>
<p>3. Mencoba membayangkan kehidupan di akhirat nanti, yang pada waktu itu tidak seorang pun yang dapat memberikan pertolongan kecuali Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Wukuf di Arafah ditempat berkumpulnya manusia yang banyak pada hari Arafah, merupakan gambaran kehidupan di Padang Mahsyar nanti. Semua itu menggambarkan saat-saat ketika manusia berdiri di hadapan Mahkamah Allah di akhirat.</p>
<p>4. Menghilangkan rasa harga diri yang berlebih-lebihan. Seseorang waktu berada di negerinya, biasanya terikat oleh adat istiadat yang biasa mereka lakukan sehari-hari dalam pergaulan mereka. Sedikit saja perubahan dapat menimbulkan kesalahpahaman, perselisihan dan pertentangan. Pada waktu melaksanakan ibadah haji, bertemulah kaum Muslimin yang datang dari segala penjuru dunia, dari negeri yang berbeda-beda, masing-masing mempunyai adat istiadat dan kebiasaan hidup dan tata cara yang berbeda-beda pula maka terjadilah persinggungan antara adat istiadat dan kebiasaan hidup itu. Seperti cara berbicara, cara makan, cara berpakaian, cara menghormati tamu dan sebagainya. Di waktu menunaikan ibadah haji terjadi persinggungan dan perbenturan badan antara jama&#8217;ah dari suatu negeri, dengan jama&#8217;ah dari negara yang lain, seperti waktu tawaf, waktu sa&#8217;i, waktu wukuf di Arafah, waktu melempar jumrah dan sebagainya. Waktu salat di Masjidil Haram, tubuh seorang yang duduk dilangkahi oleh temannya yang lain karena ingin mendapatkan saf yang paling depan, demikian pula persoalan bahasa dan isyarat, semua itu mudah menimbulkan kesalahpahaman dan perselisihan. Bagi seorang yang sedang melakukan ibadah haji, semuanya itu harus dihadapi dengan sabar, dengan dada yang lapang, harus dihadapi dengan berpangkal kepada dugaan bahwa semua jamaah haji itu melakukan yang demikian itu bukanlah untuk menyakiti temannya dan bukan untuk menyinggung perasaan orang lain, tetapi semata-mata untuk mencapai tujuan maksimal dari ibadah haji. Mereka semua ingin memperoleh haji mabrur, apakah ia seorang kaya atau seorang miskin dan sebagainya.</p>
<p>5. Menghayati kehidupan dan perjuangan Nabi Ibrahim beserta putranya Nabi Ismail dan Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. Waktu Ibrahim pertama kali datang di Mekah bersama istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil, kota Mekah masih merupakan padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusia pun. Dalam keadaan demikianlah Ibrahim meninggalkan istri dan putranya di sana, sedang ia kembali ke Palestina. Hajar dan putranya yang masih kecil merasakan berbagai penderitaan, tidak ada tempat mengadu dan minta tolong kecuali hanya kepada Tuhan saja. Sesayup-sayup mata memandang, yang ada hanyalah gunung batu, tanpa tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan tempat berlindung. Dapat dirasakan kesusahan Hajar berlari antara Safa dan Marwa mencari setetes air untuk diminum anaknya. Dapat direnungkan dan dijadikan teladan tentang ketaatan dan kepatuhan Ibrahim kepada Allah. Setelah itu beliau menyembelih putra tercintanya, Ismail, sebagai kurban, semata-mata untuk memenuhi dan melaksanakan perintah Allah. Kaum Muslimin selama mengerjakan ibadah haji dapat melihat bekas-bekas dan tempat-tempat yang ada hubungannya dengan perjuangan Nabi Muhammad beserta sahabatnya dalam menegakkan agama Allah. Sejak dari Mekah di saat beliau mendapat halangan, rintangan bahkan siksaan dari orang-orang musyrik Mekah, kemudian beliau hijrah ke Medinah, berjalan kaki, dalam keadaan dikejar-kejar orang-orang kafir. Demikianlah pula usaha-usaha yang beliau lakukan di Medinah, berperang dengan orang kafir, menghadapi kelicikan dan fitnah orang munafik dan Yahudi. Semuanya itu dapat diingat dan dihayati selama menunaikan ibadah haji dan diharapkan dapat menambah iman ketakwaan kepada Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</p>
<p>6. Setiap Muktamar Islam seluruh dunia. Pada musim haji berdatanganlah kaum Muslimin dari seluruh dunia. Secara tidak langsung terjadilah pertemuan antara sesama Muslim, antara suku bangsa dengan suku bangsa dan antara bangsa dengan bangsa yang beraneka ragam coraknya itu. Antara mereka itu dapat berbincang dan bertukar pengalaman dengan yang lain, sehingga pengalaman dan pikiran seseorang dapat diambil dan dimanfaatkan oleh yang lain, terutama setelah masing-masing mereka sampai di negeri mereka nanti. Jika pertemuan yang seperti ini diorganisir dengan baik, tentulah akan besar manfaatnya, akan dapat memecahkan masalah-maslaah yang sulit yang dihadapi oleh umat Islam di negara mereka masing-masing. Semuanya itu akan berfaedah pula bagi individu, masyarakat dan agama. Alangkah baiknya jika pada waktu itu diadakan pertemuan antara kepala negara yang menunaikan ibadah haji, pertemuan para ahli, para ulama, para pemuka masyarakat, para usahawan dan sebagainya.</p>
<p>Walaupun amat banyak manfaat yang akan diperoleh oleh orang yang mengerjakan ibadah haji, tetapi hanyalah Allah yang dapat mengetahui dengan pasti semua manfaat itu. Dari pengalaman orang-orang yang pernah mengerjakan haji didapat keterangan bahwa keinginan mereka menunaikan ibadah haji bertambah setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji yang pertama. Makin sering seseorang menunaikan ibadah haji, makin bertambah pula keinginan tersebut. Rahasia dan manfaat dari ibadah haji itu dapat dipahamkan pula dari doa Nabi Ibrahim kepada Allah, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya: </p>
<p>Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. (Ibrahim/14: 37)</p>
<p>Manfaat lain dari ibadah haji, yaitu agar manusia menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan dan melaksanakan kurban dengan menyembelih binatang kurban atau hadyu (dam) bagi jamaah haji yang melanggar kewajiban haji. Adapun pelaksanaannya yaitu sesudah melempar jamrah &#8216;aqabah dan hanya dilaksanakan di tanah Haram Mekah. Sedangkan daging hadyu (dam) hanya diperuntukan bagi fakir miskin Mekah, kecuali jika sudah tidak ada fakir miskin di kota Mekah, maka daging tersebut boleh diberikan kepada orang miskin di kota/negara lain. </p>
<p>Yang dimaksud dengan hari-hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Pada hari-hari ini dilakukan penyembelihan binatang kurban. Waktu menyembelih binatang kurban ialah setelah pelaksanaan salat Idul Adha sampai dengan terbenamnya matahari tanggal 13 Zulhijjah. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>Siapa yang menyembelih kurban sebelum salat Idul Adha maka sesungguhnya ia hanyalah menyembelih untuk dirinya sendiri dan siapa yang menyembelih sesudah salat Idul Adha (dan setelah membaca dua Khutbah) maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan ibadahnya dan telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin. (Riwayat al-Bukhari dari al-Barra)</p>
<p>Dan sabda Rasulullah saw:</p>
<p>&#8220;Semua hari-hari tasyriq adalah waktu dilakukannya penyembelihan kurban.&#8221; (Riwayat Ahmad dari Jubair bin Muth&#8217;im)</p>
<p>Setelah binatang kurban itu disembelih, maka dagingnya boleh dimakan oleh yang berkurban dan sebagiannya disedekahkan kepada orang-orang fakir dan miskin. Menurut jumhur ulama, sebaiknya orang-orang yang berkurban memakan daging kurban sebagian kecil saja, sedang sebagian besarnya disedekahkan kepada fakir miskin. Orang yang berkurban dibolehkan untuk menyedekahkan seluruh daging kurbannya itu kepada fakir miskin.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa setelah orang yang mengerjakan ibadah haji selesai mnyembelih binatang kurbannya, hendaklah mereka melakukan tiga hal:</p>
<p>1. Menghilangkan dengki atau kotoran yang ada pada diri mereka, yaitu dengan menggunting kumis, menggunting rambut, memotong kuku dan sebagainya. Hal ini diperintahkan karena perbuatan-perbuatan itu dilarang melakukannya selama mengerjakan ibadah haji. </p>
<p>2. Melaksanakan nazar yang pernah diikrarkan, karena pada waktu, tempat dan keadaan inilah yang paling baik untuk menyempurnakan nazar.</p>
<p>3. Melakukan tawaf di Ka&#8217;bah. Yang dimaksud dengan tawaf adalah mengelilingi Ka&#8217;bah sebanyak tujuh kali. Tawaf ada tiga macam, yaitu:</p>
<p>a.Tawaf qudum, yaitu tawaf yang dilakukan ketika pertama kali memasuki/datang di Mekah.</p>
<p>b.Tawaf Wada&#8217; yaitu tawaf yang dilakukan ketika akan meninggalkan Mekah setelah selesai melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>c.Tawaf Ifadhah yaitu tawaf yang dilakukan dalam rangka melaksanakan rukun haji. </p>
<p>Dalam ayat ini Baitullah disebut Baitul &#8216;Atiq, yang berarti &#8220;rumah tua&#8221; karena Baitullah adalah rumah ibadah pertama kali didirikan oleh Nabi Ibrahim as beserta putranya Nabi Ismail as kemudian barulah didirikan Baitul Maqdis Palestina oleh Nabi Daud as beserta Nabi Sulaiman as.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 30</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa semua yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu, seperti mencukur rambut, memotong kuku, memenuhi nazar, tawaf mengelilingi Ka&#8217;bah, termasuk kewajiban yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang menunaikan ibadah haji. Siapa yang melaksanakan semua yang diperintahkan itu selama mereka berihram, karena ingin mengagungkan dan mencari keridaan Allah, maka perbuatan itu adalah perbuatan yang paling baik di sisi Allah dan akan dibalasnya dengan pahala yang berlipat ganda serta surga yang penuh kenikmatan.</p>
<p>Menurut Ibnu &#8216;Abbas yang dimaksud dengan &#8220;hurumatillah&#8221;, ialah apa yang dilarang dilakukannya oleh orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji, seperti berlaku fasik, bertengkar, bersetubuh dengan istri, berburu dan sebagainya. Menghormati &#8220;hurumatillah&#8221;, ialah menjauhi semua larangan itu. Sedang menurut riwayat Zaid bin Aslam, yang dimaksud dengan &#8220;hurumatillah&#8221;, ialah al-Masy&#8217;aril Haram, Masjidil Haram, Baitul Haram (Ka&#8217;bah), Bulan-bulan Haram dan Tanah Haram. Menghormati &#8220;hurumatillah&#8221; itu adalah berbuat baik di tempat-tempat tersebut, tidak berbuat maksiat dan hal itu merupakan perbuatan yang paling baik di sisi Allah.</p>
<p>Dalam ibadah haji terdapat dua macam ibadah, yaitu ibadah yang berhubungan dengan anggota badan, disebut ibadah &#8220;badaniyah&#8221;, seperti tawaf, sa&#8217;i, melempar jumrah dan sebagainya. Yang kedua ialah ibadah yang berhubungan dengan harta, disebut &#8220;maliyah&#8221;, seperti menyembelih binatang kurban dan sebagainya. Dalam ayat ini disebutkan makanan yang dihalalkan, dan perintah menjauhi perkataan dusta. Sekalipun perintah itu ditujukan kepada semua kaum Muslimin, tetapi orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji sangat diutamakan melaksanakannya. </p>
<p>Allah menerangkan bahwa dihalalkan bagi orang-orang yang beriman memakan dan menyembelih unta, lembu dan sebagainya, kecuali binatang-binatang yang telah ditetapkan keharamannya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah:</p>
<p>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala&#8230;. (al-Ma&#8217;idah/5: 3)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Katakanlah, &#8220;Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi “ karena semua itu kotor “ atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah&#8230;. (al-An&#8217;am/6: 145)</p>
<p>Allah tidak pernah mengharamkan memakan daging binatang seperti yang diharamkan oleh kaum musyrik Mekah, perbuatan itu adalah perbuatan yang mereka ada-adakan saja. Mereka mengharamkan Bahirah, Sa&#8217;ibah, Washilah, Ham dan sebagainya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Allah tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham. Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. (al-Ma&#8217;idah/5: 103)</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan dua macam perintah Allah, yaitu:</p>
<p>1. Perintah menjauhi perbuatan menyembah patung atau berhala, karena perbuatn itu adalah perbuatan yang menimbulkan kekotoran dalam diri dan sanubari seseorang yang mengerjakannya dan perbuatan itu berasal dari perbuatan setan. Setan selalu berusaha mengotori jiwa dan diri manusia.</p>
<p>2. Perintah menjauhi perkataan dusta dan melakukan persaksian yang palsu.</p>
<p>Dalam ayat ini penyebutan persaksian palsu dan penyembahan berhala secara bersamaan, karena kedua perbuatan itu pada hakekatnya adalah sederajat, semua sama berdusta dan mengingkari kebenaran. Dari ayat ini dapat dipahami pula betapa besar dosanya mengadakan persaksian palsu itu karena disebutkan setelah larangan menyekutukan Allah.</p>
<p>Dalam hadis Nabi Muhammad saw pun diterangkan bahwa persaksian palsu itu sama beratnya dengan menyekutukan Allah:</p>
<p>Dari Nabi saw bahwa beliau salat Subuh, setelah selesai memberi salam, beliau berdiri dan menghadap kepada manusia dan berkata, &#8220;Persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah, persaksian palsu sama beratnya dengan mempersekutukan Allah.&#8221; (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan ath-thabarani)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 31</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa manusia harus menjauhi berhala dan perkataan dusta dengan memurnikan ketaatan kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya. Kemudian Allah menjelaskan tentang besarnya dosa akibat mengerjakan perbuatan syirik. Siapa yang menyekutukan Allah, berarti telah membinasakan dirinya sendiri, karena orang yang berbuat syirik itu akan memperoleh malapetaka yang besar di dunia dan akhirat, tidak ada lagi harapan untuk memperoleh keselamatan bagi dirinya.</p>
<p>Ayat ini menyerupakan orang yang berbuat syirik dengan seorang yang jatuh dari langit yang tinggi, kemudian tubuhnya disambar oleh burung-burung buas yang beterbangan di angkasa, burung-burung itu memperebutkan tubuhnya, sehingga terkoyak-koyak menjadi bagian-bagian yang kecil, lalu dagingnya dimakan oleh burung-burung itu, atau tubuhnya itu diterbangkan angin sampai terlempar ke tempat yang jauh, ada yang jatuh ke dalam laut, ada yang jatuh ke dalam jurang yang dalam dan sebagainya. Maka tidak ada sesuatu pun yang dapat diharapkan lagi dari orang itu, kecuali menerima kesengsaraan dan azab yang kekal.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya. (an-Nisa&#8217;/4: 167)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Katakanlah (Muhammad), &#8220;Apakah kita akan memohon kepada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita, dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi, dalam keadaan kebingungan.&#8221; (al-An&#8217;am/6: 71)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 32</h3>
<p>Siapa yang menghormati syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, memilih binatang kurban yang baik, gemuk dan besar, maka sesungguhnya yang demikian adalah perbuatan orang yang benar-benar takwa kepada Allah dan perbuatan yang berasal dari hati sanubari orang yang mengikhlaskan ketaatannya kepada Allah.</p>
<p>Dalam hadis diterangkan binatang yang biasa disembelih para sahabat.</p>
<p>Dari Abu Umamah bin Sahal, &#8220;Kami menggemukan hewan kurban di Medinah, dan kaum Muslimin mengemukkannya pula.&#8221; (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Dan hadis Nabi Muhammad saw:</p>
<p>Dari al-Bara, ia berkata telah bersabda Rasulullah saw, &#8220;Empat macam yang tidak boleh ada pada binatang kurban, yaitu yang buta matanya sebelah, yang jelas kebutaannya, yang sakit dan jelas sakitnya, yang pincang dan jelas pincangnya dan yang patah kakinya, dan yang tidak dapat membersihkan diri (yang parah).&#8221;(Riwayat al-Bukhari dan Ahmad)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 33</h3>
<p>Pada ayat ini ditegaskan bahwa binatang kurban itu dapat diambil manfaatnya sebelum disembelih, yaitu dapat digunakan sebagai kendaraan dalam perjalanan menuju tanah suci, dapat diminum air susunya dan sebagainya. Setelah disembelih bulunya dapat dimanfaatkan, dagingnya dapat dimakan, disedekahkan kepada fakir dan miskin, sebagaimana yang diterangkan pada hadis Nabi saw:</p>
<p>Dari Anas bahwasanya Rasulullah saw melihat seorang menggiring seekor badanah (unta yang digemukkan untuk dijadikan kurban) maka beliau bersabda, Naikilah!&#8221; Orang itu menjawab, &#8220;Dia digemukkan untuk dijadikan kurban! Maka Nabi bersabda, &#8220;Naikilah! Rugilah kamu!&#8221; pada yang kedua atau ketiga. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Tempat penyembelihan binatang kurban itu ialah di sekitar daerah Haram atau di tempat sekitar Ka&#8217;bah. Allah berfirman:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa ke Kabah, atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa. (al-Ma&#8217;idah/5: 95)</p>
<p>Maksud dibawa sampai ke Ka&#8217;bah menurut ayat di atas ialah membawanya ke daerah Haram untuk disembelih di tempat itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 34</h3>
<p>Allah telah menetapkan syariat bagi tiap-tiap manusia termasuk di dalamnya syariat kurban. Seseorang yang berkurban berarti ia telah menumpahkan darah binatang untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dan ingin mencari keridaan Allah. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang berkurban itu agar mereka menyebut dan mengagungkan nama Allah waktu menyembelih binatang kurban itu, dan agar mereka mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Di antara nikmat Allah itu ialah berupa binatang ternak, seperti unta, lembu, kambing dan sebagainya yang merupakan rezeki dan makanan yang halal bagi mereka.</p>
<p>Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang yang beriman dilarang mengagungkan nama apapun selain daripada nama Allah. Setelah datangnya Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa risalah bagi seluruh umat manusia, maka agama yang benar dan harus diikuti oleh seluruh umat manusia hanyalah agama Islam yang bersumber pada Al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi Muhammad. Firman Allah:</p>
<p>Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab. (Ali &#8216;Imran/3: 19)</p>
<p>Lebih jelas lagi siapapun yang mencari atau berpegang pada agama selain Islam maka tidak akan diterima Allah dan termasuk orang yang rugi. Firman Allah:</p>
<p>Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. (Ali &#8216;Imran/3: 85)</p>
<p>Rasulullah saw menyembelih binatang kurban dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, sebagaimana tersebut dalam hadis beliau:</p>
<p>Dari Anas, ia berkata, &#8220;Rasulullah saw dibawakan dua ekor domba yang bagus (pada kedua domba itu terdapat warna putih yang bercampur hitam) yang bertanduk bagus, lalu beliau menyebut nama Allah dan bertakbir (waktu menyembelihnya) dan meletakkan kakinya di atas rusuk binatang itu.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pada akhir ayat ditegaskan bahwa Allah yang berhak disembah itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan kepercayaan tauhid itu telah dianut pula oleh orang-orang dahulu, karena itu patuh dan taat hanya kepada Allah, mengikuti semua perintah-perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya dan melakukan semua pekerjaan semata-mata karena-Nya dan untuk mencari keridaan-Nya.</p>
<p>Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang tunduk, patuh, taat, bertobat dan merendahkan dirinya kepada-Nya bahwa bagi mereka disediakan pahala yang berlipat ganda, berupa surga di akhirat nanti.</p>
<p>Perkataan &#8220;maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa&#8221; memberi peringatan bahwa kurban, menghormati syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, dan beribadah sesuai dengan petunjuk para rasul yang diutus kepada mereka, sekalipun ibadah dan syariat itu berbeda pada tiap-tiap umat, namun termasuk dalam agama Allah, termasuk jalan yang lurus yang harus ditempuh oleh setiap yang mengaku sebagai hamba Allah, dalam menaati dan mencari rida-Nya. Perbedaan cara-cara beribadah antara umat-umat yang dahulu dengan umat-umat yang datang kemudian, di dalamnya umat Nabi Muhammad, janganlah dijadikan alasan yang dapat menimbulkan perpecahan di antara orang-orang yang beriman. Semuanya itu dilakukan dengan tujuan untuk menghambakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 35</h3>
<p>Dalam ayat ini disebutkan tanda-tanda orang yang taat dan patuh kepada Allah, yaitu:</p>
<p>1. Apabila disebutkan nama Allah di hadapan mereka, gemetarlah hati mereka, karena merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Mendengar nama Allah itu timbul rasa harap dan takut dalam hati mereka. Mereka mengharapkan keridaan-Nya, sebagaimana mereka pula mengharapkan ampunan dan pahala yang disediakan Allah bagi orang yang takwa. Mereka sangat ingin agar dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang bertakwa itu. Mereka takut mendengar nama Allah, karena mereka belum mempunyai persiapan yang cukup untuk menghadap-Nya, seperti ibadah yang mereka kerjakan, perbuatan baik dan jihad yang telah mereka lakukan, semuanya itu dirasakan mereka belum cukup dikerjakan, karena itu mereka takut kepada siksa Allah, yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir. Mereka ingin terhindar dari siksa itu.</p>
<p>2. Mereka sabar menghadapi segala cobaan dari Allah. Di saat mereka memperoleh rezeki dan karunia yang banyak dari Allah, mereka ingat bahwa di dalam harta mereka itu terdapat hak orang fakir dan orang miskin, karena itu mereka mengeluarkan zakat dan sedekah. Di saat mereka menjadi miskin, mereka sadar bahwa itu adalah cobaan terhadap iman mereka, karena itu kemiskinan tidak menggoyahkan iman mereka sedikitpun. Mereka yakin bahwa cobaan dari Allah itu bermacam-macam bentuk dan ragamnya, ada yang berupa kesenangan dan ada pula berupa kesengsaraan. Hanyalah hamba Allah yang sabar dan tabahlah yang akan memperoleh keberuntungan.</p>
<p>3. Mereka selalu mendirikan salat yang difardukan atas mereka pada waktu-waktu yang telah ditentukan.</p>
<p>4. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Tindakan menginfakkan harta itu mereka lakukan semata-mata untuk mencari keridaan Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 36</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa dia menciptakan unta agar diambil manfaatnya oleh manusia dan menjadikan unta itu sebagai salah satu syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah dengan menyembelihnya sebagai binatang kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berkurban pahala yang berlipat ganda di akhirat.</p>
<p>Menurut Imam Abu Hanifah yang berasal dari pendapat Atha&#8217; dan Sa&#8217;id bin Musayyab dari golongan tabi&#8217;in bahwa yang dimaksud dengan, &#8220;Budna&#8221; yang tersebut dalam ayat, ialah unta atau sapi. Pendapat ini dikuatkan pula oleh pendapat Ibnu Umar bahwa tidak dikenal arti &#8220;badanah&#8221; (mufrad budna) selain arti unta dan sapi.</p>
<p>Seekor unta atau lembu dapat dijadikan kurban oleh tujuh orang berdasarkan hadis Rasulullah saw:</p>
<p>Berkata Jabir ra, &#8220;Kami menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah saw, maka kami berkurban seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.&#8221; (Riwayat Muslim)</p>
<p>Jika seseorang tidak mendapatkan unta/sapi, ia boleh menggantinya dengan tujuh ekor kambing berdasarkan hadis:</p>
<p>&#8220;Dari Ibnu &#8216;Abbas ra bahwa Nabi saw telah didatangi seseorang, ia berkata, &#8220;Sesungguhnya telah wajib atasku menyembelih unta/sapi, sedangkan aku orang yang sanggup melakukannya, tetapi aku tidak mendapatkannya untuk kubeli. Maka Rasulullah saw menyuruhnya membeli tujuh ekor kambing, kemudian ia menyembelihnya.&#8221; (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih)</p>
<p>Allah memerintahkan agar menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa haram hukumnya menyebut nama selain Allah diwaktu menyembelihnya.</p>
<p>Apabila binatang kurban telah disembelih, telah roboh dan diyakini telah benar-benar mati, maka kulitilah, makanlah sebagian dagingnya, dan berikanlah sebagian yang lain kepada fakir miskin yang meminta dan yang tidak meminta karena mereka malu melakukannya. Tentu saja memberikan (daging) seluruhnya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya.</p>
<p>Orang-orang Arab jahiliyah tidak mau memakan daging kurban yang telah mereka sembelih, maka dalam ayat ini Allah membolehkan kaum Muslimin memakan daging kurban mereka.</p>
<p>Demikianlah Allah telah memudahkan penguasaan binatang kurban bagi orang-orang yang beriman, padahal binatang itu lebih kuat dari mereka. Yang demikian itu dapat dijadikan pelajaran agar manusia bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 37</h3>
<p>Allah menegaskan lagi tujuan berkurban, ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya. Dekat kepada Allah dan keridaan-Nya tidak akan diperoleh dari daging-daging binatang yang disembelih itu dan tidak pula dari darahnya yang telah ditumpahkan, akan tetapi semuanya itu akan diperoleh bila kurban itu dilakukan dengan niat yang ikhlas, dilakukan semata-mata karena Allah dan sebagai syukur atas nikmat-nikmat yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya.</p>
<p>Mujahid berkata, &#8220;Kaum Muslimin pernah bermaksud meniru perbuatan orang-orang musyrik Mekah. Jika menyembelih binatang kurban, mereka menebarkan daging-daging binatang itu disekitar Ka&#8217;bah, sedang darahnya mereka lumurkan ke dinding-dinding Ka&#8217;bah dengan maksud mencari keridaan tuhan-tuhan yang mereka sembah. Dengan turunnya ayat ini, maka kaum Muslimin mengurungkan maksudnya itu.&#8221;</p>
<p>Allah menegaskan pula bahwa Dia telah memudahkan binatang kurban bagi manusia, mudah didapat, mudah dikuasai, dan mudah pula disembelih. Dengan kemudahan itu manusia seharusnya tambah mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka serta mengagungkan-Nya, karena petunjuk-petunjuk yang telah diberikan-Nya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta orang-orang yang melakukan kurban dengan ikhlas bahwa mereka akan memperoleh rida dan karunia-Nya.</p>
<p>Pada ayat yang lalu Allah memerintahkan agar menyebut nama-Nya di waktu menyembelih binatang kurban, sedang pada ayat ini diperintahkan membaca takbir di waktu menyembelih binatang kurban.</p>
<p>Kebanyakan ahli tafsir mengumpulkan kedua bacaan ini, yaitu dengan menyebut nama Allah dan mengucapkan takbir.</p>
<p>Ucapan yang diucapkan itu ialah:</p>
<p>Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, dari Engkau dan untuk Engkau!</p>
<p>Alasan dari mufasir itu ialah hadis Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, &#8220;Nabi saw menyembelih pada hari raya kurban dua ekor domba yang mempunyai tanduk yang tajam dan berwarna putih kehitam-hitaman. Tatkala beliau menghadapkan keduanya ke kiblat, beliau mengucapkan, (artinya) &#8220;Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan cenderung kepada agama yang benar,&#8221; sampai kepada perkataan, &#8216;dan aku adalah orang yang pertama kali yang menyerahkan diri. Wahai Tuhan! Dari Engkau untuk Engkau, dari Muhammad dan umatnya, dengan nama Allah dan Allah Mahabesar, kemudian beliau menyembelihnya.&#8221; (Riwayat Abu Daud)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 38</h3>
<p>Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang beriman selalu mendapat cobaan dan rintangan dari musuh-musuh Allah dan orang-orang yang menginginkan agar agama Allah lenyap dari permukan bumi. </p>
<p>Sekalipun demikian, Allah tetap membela orang-orang yang beriman dengan menguatkan hati mereka, memantapkan langkah-langkah mereka untuk mengikuti jalan yang lurus yang telah dibentangkan Allah, dan memperkuat kesabaran dan ketabahan hati mereka.</p>
<p>Jaminan Allah terhadap pembelaan-Nya pada orang Mukmin ditegaskan dalam firman-Nya:</p>
<p>Allah telah menetapkan, &#8220;Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.&#8221; Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-Mujadalah/58: 21)</p>
<p>Karena itu diwajibkan atas orang-orang yang telah beriman yang telah ditolong Allah, membela dan menegakkan agama Allah, sebagai tanda bersyukur atas pertolongan-Nya.</p>
<p>Allah membela orang-orang yang beriman karena mereka telah menepati janjinya untuk menegakkan agama Allah, oleh sebab itu, Allah membenci orang-orang yang khianat dan orang-orang kafi yang telah mengkhianati janji Allah yang telah ditetapkan-Nya, sebagaimana yang telah diterangkan dalam firman Allah:</p>
<p>Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), &#8220;Bukankah Aku ini Tuhanmu?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.&#8221; (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, &#8220;Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.&#8221; (al-A&#8217;raf/7: 172)</p>
<p>Mereka mengingkari perintah Allah dan tidak mengindahkan larangan-larangan-Nya, mendustakan ayat-ayat Allah, sehingga mereka tidak diacuhkan Allah di akhirat nanti, Allah beriman:</p>
<p>Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya, dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih. (al-Baqarah/2: 174)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 39</h3>
<p>Ayat ini memperbolehkan orang-orang yang beriman memerangi orang-orang kafir, jika mereka telah berbuat aniaya di muka bumi, menganiaya orang beriman dan menentang agama Allah.</p>
<p>Sejak Nabi Muhammad saw menyampaikan risalahnya dan melakukan dakwahnya kepada orang-orang Quraisy, maka sejak itu pula sikap orang musyrik Mekah berubah terhadap Nabi dan para sahabat. Semula mereka menganggap Muhammad sebagai orang yang bisa dipercaya, orang yang adil yang dapat menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi di antara mereka dengan adil. Tetapi setelah Nabi Muhammad saw menyampaikan risalahnya, mereka lalu mengancam, menyakiti dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan Nabi saw, para sahabat dan sebagainya. Pernah juga mereka melempari Nabi dengan kotoran binatang dan menganiaya para sahabat, sehingga penderitaan yang dialami Nabi dan para sahabat hampir-hampir tidak tertahankan lagi. </p>
<p>Para sahabat pernah mengadukan hal itu kepada Nabi saw dan memohon kepadanya agar kepada mereka diizinkan untuk membalas tindakan-tindakan orang-orang kafir itu. Rasulullah berusaha menenangkan dan menyabarkan hati para sahabat, karena belum ada perintah dari Allah atau ayat yang diturunkan untuk mengadakan perlawanan dan mempertahankan diri. Semakin hari penderitaan itu dirasakan semakin berat dan untuk menghindarkan diri dari terjadinya bentrokan dengan orang-orang kafir, maka pernah beberapa kali kaum Muslimin melakukan hijrah, seperti hijrah ke Habasyah, ke thaif yang akhirnya Rasulullah dan para sahabat bersama-sama hijrah ke Medinah.</p>
<p>Setelah kaum Muslimin hijrah ke Medinah, barulah turun ayat-ayat yang memerintahkan kaum Muslimin memerangi orang-orang yang berbuat aniaya terhadap orang yang beriman dan berusaha menghancurkan agama Islam. Ayat ini adalah ayat yang pertama kali diturunkan yang berhubungan dengan perintah berperang. Ayat kedua yang berkaitan dengan perintah berperang adalah diperbolehkannya Kaum Muslimin memerangi orang kafir namun secara terbatas yaitu: </p>
<p>Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Baqarah/2: 190)</p>
<p>Ayat ketiga perintah berperang adalah:</p>
<p>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (at-Taubah/9: 29)</p>
<p>dhahhak berkata, &#8220;Para sahabat minta izin kepada Rasulullah saw untuk memerangi orang-orang kafir yang menyakiti mereka di Mekah, maka turunlah ayat 38 Surah ini. Setelah hijrah ke Medinah maka turunlah ayat 39 ini, yang merupakan ayat qital yang pertama kali diturunkan.</p>
<p>Dengan ayat ini kaum Muslimin diizinkan berperang. Ayat ini turun setelah Allah melarang orang-orang beriman berperang dalam waktu yang lama dan setelah Rasulullah berusaha beberapa kali menyabarkan, dan menahan semangat orang-orang beriman menghadapi segala macam tindakan orang-orang kafir yang menyakitkan hati mereka. Karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa izin berperang itu diberikan kepada kaum Muslimin, jika perang itu merupakan satu-satunya jalan keluar bagi kesulitan yang tidak dapat diatasi lagi. Dengan perkataan yang lain: Bahwa peperangan itu dibolehkan untuk mempertahankan diri dan untuk menegakkan dan membela kalimat Allah.</p>
<p>Sebenarnya Allah Mahakuasa membela dan memenangkan orang-orang yang beriman, tanpa melakukan sesuatu peperangan dan tanpa mengalami kesengsaraan dan penderitaan. Akan tetapi Allah hendak menguji hati para hamba-Nya yang mukmin, sampai di mana ketabahan dan kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan-cobaan Allah, sampai di mana ketaatan dan kepatuhan mereka dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Betapa banyak orang yang semula dianggap baik imannya, tetapi setelah mengalami sedikit cobaan saja, mereka kembali menjadi kafir. Dengan adanya perintah jihad itu, maka ada kesempatan bagi orang-orang yang beriman untuk memperoleh balasan Allah yang paling besar, yaitu balasan yang disediakan bagi orang-orang yang mati syahid dalam mempertahankan agama Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 40</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang yang diizinkan berperang, karena orang-orang musyrik Mekah telah melakukan tindakan yang tidak berperikemanusiaan terhadap kaum Muslimin. Mereka disiksa, dianiaya, disakiti dan sebagainya, bukanlah karena sesuatu kesalahan atau kejahatan yang telah mereka perbuat, tetapi semata-mata karena mereka telah berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah, selain Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka tidak mempercayai lagi kepercayaan nenek moyang mereka. Mereka telah berserah diri kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan mereka telah menjadi orang-orang muslim.</p>
<p>Tindakan orang musyrik Mekah terhadap kaum Muslimin itu diterangkan dalam firman Allah:</p>
<p>&#8220;&#8230;mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu&#8230;&#8221; (al-Mumtahanah/60: 1)</p>
<p>Penderitaan dan kesengsaraan yang dialami Nabi dan para sahabat karena mereka beriman kepada Allah, telah dialami pula oleh para rasul dan umatnya yang telah diutus dahulu. Allah berfirman:</p>
<p>Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, &#8220;Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali kepada agama kami.&#8221; (Ibrahim/14: 13)</p>
<p>Mereka yang diizinkan berperang itu telah diusir sebelumnya oleh kaum musyrikin dari kampung halaman mereka, telah disiksa dan disakiti tanpa alasan yang benar. Seandainya perbuatan kaum musyrik itu dibiarkan, tentulah kezaliman mereka semakin bertambah, semakin lama mereka bertambah gila kekuasaan, mereka akan menghancurkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah dan mesjid-mesjid yang ada didalamnya disebut dan diagungkan nama Allah. Karena itu Allah mensyariatkan dalam agama-Nya agar tiap-tiap orang yang beriman dihalangi menyembah Tuhannya itu membela agamanya, berperang dijalan Allah, tetapi membela kebenaran, menolak kebatilan dan kezaliman.</p>
<p>Pada hakekatnya perang yang terjadi itu adalah perang antara yang hak dan yang batil, perang antar orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah dengan orang yang mengingkari petunjuk itu. Perang yang seperti itu adalah peperangan yang tujuannya untuk membina kehidupan manusia, yaitu kehidupan dunia yang sejahtera yang diridai Allah dan kehidupan ukhrawi yang bahagia dan abadi.</p>
<p>Ayat ini juga mengisyaratkan agar setiap kelompok kaum Muslimin mempunyai sebuah mesjid yang didirikan oleh para anggota kelompok itu. Di dalam mesjid tersebut diagungkan asma Allah, dilaksanakan salat berjamaah setiap waktu, diperbincangkan hidup dan kehidupan kaum Muslimin, dijadikan mesjid itu tempat berkumpul dan tempat bermusyawarah.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menguatkan perintah berperang pada ayat di atas, dengan memberikan perintah dan janji. Yang diperintahkan Allah adalah agar kaum Muslimin menolong dan membela agama Allah, berjihad dan melaksanakan perintah Allah. Yang dijanjikan, ialah barangsiapa yang membela agama Allah, ia berhak mendapat pertolongan Allah, berupa kemenangan dan pahala di akhirat nanti.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman. (ar- Rum/30: 47)</p>
<p>Janji Allah itu pasti ditepatinya, karena Dia Mahakuasa dan Maha Perkasa. Allah berfirman:</p>
<p>Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad/47: 7)</p>
<p>Pada permulaan ayat di atas Allah menjanjikan kemenangan bagi orng-orang yang beriman. Kemudian pada akhir ayat, Allah menegaskan lagi bahwa kemenangan itu pasti diperoleh orang-orang yang beriman. Pada permulaannya kaum Muslimin belum meyakini kebenaran janji itu maka perlu dikuatkan oleh pernyataan kedua. Maksudnya ialah untuk menenangkan dan menenteramkan hati, mengokohkan pendirian pada saat kaum Muslimin sedang mendapat cobaan dari Allah.</p>
<p>Pada akhir ayat Allah menepati janji yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang beriman. Dia Mahakuasa melakukan segala sesuatu dan tidak seorang pun yang dapat menghalangi terjadinya sesuatu kehendak-Nya.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. (ash-shaffat/37: 171-173)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 41</h3>
<p>Kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar itu. Mereka ialah para sahabat beserta Nabi Muhammad saw, yang kepada mereka Allah telah menjanjikan kemenangan. Jika kemenangan telah mereka peroleh, mereka tidak seperti orang-orang musyrik dan orang-orang yang gila kekuasaan tetapi mereka akan tetap melaksanakan:</p>
<p>1. Salat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah. Mereka benar-benar telah yakin, bahwa salat itu tiang agama, merupakan tali penghubung yang langsung antara Allah dengan hamba-Nya, mensucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta merupakan perwujudan takwa yang sebenarnya.</p>
<p>2. Mereka menunaikan zakat. Mereka meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin. Karena itu mereka dalam menunaikan zakat itu bukanlah karena mereka mengasihi orang-orang fakir dan miskin, tetapi semata-mata untuk menyerahkan hak orang fakir dan miskin yang terdapat dalam harta mereka. Jika mereka diangkat sebagai penguasa, mereka berusaha agar hak orang-orang fakir dan miskin itu benar-benar sampai ke tangan mereka.</p>
<p>3. Perintah untuk menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar. Mereka mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia melalui jalan lurus yang dibentangkan Allah. Mereka sangat benci kepada orang-orang yang biasa melanggar larangan-larangan Allah.</p>
<p>Amat benarlah janji Allah. Mereka memperoleh kemenangan yang telah dijanjikan itu. Mereka ditetapkan Allah sebagai pengurus urusan duniawi dan pemimpin umat beragama dengan baik. Dalam waktu yang singkat kaum Muslimin telah dapat menguasai daerah-daerah di luar Jazirah Arab.</p>
<p>Tindakan mereka sesuai dengan firman Allah:</p>
<p>Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (Ali &#8216;Imran/3: 110)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 42</h3>
<p>Ayat-ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan hati para sahabat yang sedang susah dan gundah akibat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah terhadap mereka. Seakan-akan Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad, hai Muhammad jika orang-orang musyrik Mekah mendustakanmu, tidak mengindahkanmu, bahkan menentang seruan engkau, berbuat kerusakan di muka bumi, menyakiti dan menyiksa para sahabatmu dengan cara yang beraneka ragam, janganlah kamu bersedih hati, janganlah putus asa dan kuatkanlah hatimu dalam menghadapi mereka, karena umat-umat dahulu pun telah mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi Aku memberikan pertolongan kepada mereka, sehingga kemenangan berada pada mereka.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa. (Yusuf/12: 110)</p>
<p>Demikianlah Nuh as telah didustakan oleh kaumnya, mereka mengancam dan mendurhakainya, termasuk anaknya sendiri. Nabi Hud as telah didustakan oleh kaumnya, yaitu kaum &#8216;Ad, Nabi Saleh oleh kaumnya, yaitu kaum Samud, begitu pula Ibrahim, Lut, Syu&#8217;aib. Semuanya didustakan oleh kaumnya, disakiti dan disiksa, tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Semakin keras siksa dan penentangan dari kaumnya, semakin bertambah kuat iman mereka. Akhirnya kemenangan berada di pihak mereka.</p>
<p>Musa telah didustakan oleh Fir&#8217;aun dan kaumnya, mereka tidak mempercayai semua mukjizat yang diperlihatkan Musa, sekalipun mereka tidak dapat mengalahkan Musa as atau mendatangkan mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa itu. Karena mereka tetap ingkar, maka sunnah Allah berlaku bagi mereka, yaitu Allah menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan semua orang kafir yang durhaka kepada-Nya, pada saat yang ditentukan-Nya.</p>
<p>Perhatikanlah sejarah umat-umat dahulu yang menentang para rasul yang diutus kepada mereka, akhirnya semua ditimpa malapetaka yang dahsyat, sehingga kesombongan, kegembiraan dan kesenangan yang ada pada mereka beralih seketika menjadi kesedihan dan kesengsaraan yang tiada taranya. Kemudian setelah mengalami malapetaka yang dahsyat itu, di akhirat mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengubah suatu kemewahan dan kesenangan menjadi suatu kesengsaraan dan penderitaan, suatu kemenangan berubah menjadi suatu kekalahan dalam waktu yang sangat singkat amatlah mudah bagi Allah Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana melakukannya.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras. (al-Buruj/85: 12)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Hud/11: 102)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 43</h3>
<p>Ayat-ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan hati para sahabat yang sedang susah dan gundah akibat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah terhadap mereka. Seakan-akan Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad, hai Muhammad jika orang-orang musyrik Mekah mendustakanmu, tidak mengindahkanmu, bahkan menentang seruan engkau, berbuat kerusakan di muka bumi, menyakiti dan menyiksa para sahabatmu dengan cara yang beraneka ragam, janganlah kamu bersedih hati, janganlah putus asa dan kuatkanlah hatimu dalam menghadapi mereka, karena umat-umat dahulu pun telah mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi Aku memberikan pertolongan kepada mereka, sehingga kemenangan berada pada mereka.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa. (Yusuf/12: 110)</p>
<p>Demikianlah Nuh as telah didustakan oleh kaumnya, mereka mengancam dan mendurhakainya, termasuk anaknya sendiri. Nabi Hud as telah didustakan oleh kaumnya, yaitu kaum &#8216;Ad, Nabi Saleh oleh kaumnya, yaitu kaum Samud, begitu pula Ibrahim, Lut, Syu&#8217;aib. Semuanya didustakan oleh kaumnya, disakiti dan disiksa, tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Semakin keras siksa dan penentangan dari kaumnya, semakin bertambah kuat iman mereka. Akhirnya kemenangan berada di pihak mereka.</p>
<p>Musa telah didustakan oleh Fir&#8217;aun dan kaumnya, mereka tidak mempercayai semua mukjizat yang diperlihatkan Musa, sekalipun mereka tidak dapat mengalahkan Musa as atau mendatangkan mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa itu. Karena mereka tetap ingkar, maka sunnah Allah berlaku bagi mereka, yaitu Allah menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan semua orang kafir yang durhaka kepada-Nya, pada saat yang ditentukan-Nya.</p>
<p>Perhatikanlah sejarah umat-umat dahulu yang menentang para rasul yang diutus kepada mereka, akhirnya semua ditimpa malapetaka yang dahsyat, sehingga kesombongan, kegembiraan dan kesenangan yang ada pada mereka beralih seketika menjadi kesedihan dan kesengsaraan yang tiada taranya. Kemudian setelah mengalami malapetaka yang dahsyat itu, di akhirat mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengubah suatu kemewahan dan kesenangan menjadi suatu kesengsaraan dan penderitaan, suatu kemenangan berubah menjadi suatu kekalahan dalam waktu yang sangat singkat amatlah mudah bagi Allah Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana melakukannya.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras. (al-Buruj/85: 12)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Hud/11: 102)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 44</h3>
<p>Ayat-ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan hati para sahabat yang sedang susah dan gundah akibat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah terhadap mereka. Seakan-akan Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad, hai Muhammad jika orang-orang musyrik Mekah mendustakanmu, tidak mengindahkanmu, bahkan menentang seruan engkau, berbuat kerusakan di muka bumi, menyakiti dan menyiksa para sahabatmu dengan cara yang beraneka ragam, janganlah kamu bersedih hati, janganlah putus asa dan kuatkanlah hatimu dalam menghadapi mereka, karena umat-umat dahulu pun telah mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi Aku memberikan pertolongan kepada mereka, sehingga kemenangan berada pada mereka.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa. (Yusuf/12: 110)</p>
<p>Demikianlah Nuh as telah didustakan oleh kaumnya, mereka mengancam dan mendurhakainya, termasuk anaknya sendiri. Nabi Hud as telah didustakan oleh kaumnya, yaitu kaum &#8216;Ad, Nabi Saleh oleh kaumnya, yaitu kaum Samud, begitu pula Ibrahim, Lut, Syu&#8217;aib. Semuanya didustakan oleh kaumnya, disakiti dan disiksa, tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Semakin keras siksa dan penentangan dari kaumnya, semakin bertambah kuat iman mereka. Akhirnya kemenangan berada di pihak mereka.</p>
<p>Musa telah didustakan oleh Fir&#8217;aun dan kaumnya, mereka tidak mempercayai semua mukjizat yang diperlihatkan Musa, sekalipun mereka tidak dapat mengalahkan Musa as atau mendatangkan mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa itu. Karena mereka tetap ingkar, maka sunnah Allah berlaku bagi mereka, yaitu Allah menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan semua orang kafir yang durhaka kepada-Nya, pada saat yang ditentukan-Nya.</p>
<p>Perhatikanlah sejarah umat-umat dahulu yang menentang para rasul yang diutus kepada mereka, akhirnya semua ditimpa malapetaka yang dahsyat, sehingga kesombongan, kegembiraan dan kesenangan yang ada pada mereka beralih seketika menjadi kesedihan dan kesengsaraan yang tiada taranya. Kemudian setelah mengalami malapetaka yang dahsyat itu, di akhirat mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengubah suatu kemewahan dan kesenangan menjadi suatu kesengsaraan dan penderitaan, suatu kemenangan berubah menjadi suatu kekalahan dalam waktu yang sangat singkat amatlah mudah bagi Allah Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana melakukannya.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras. (al-Buruj/85: 12)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Hud/11: 102)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 45</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa banyak negeri yang telah dibinasakan Allah, karena penduduknya menyekutukan Allah, membuat kerusakan di muka bumi dan berlaku zalim. Banyak negeri yang dihancur luluhkan, atap-atap rumahnya roboh, kemudian ditimpa oleh reruntuhan dindingdindingnya. Banyak sumur-sumur yang tidak dipergunakan lagi oleh pemiliknya disebabkan para pemiliknya telah meninggal atau musnah bersamasama dengan musnahnya negeri-negeri itu, karena kedurhakaan mereka kepada Allah. Demikian pula banyak istana-istana dan mahligai-mahligai menjulang tinggi yang telah kosong, tidak berpenghuni lagi, karena penghuni-penghuninya yang angkuh dan sewenang-wenang itu telah musnah. Semuanya itu bagi mereka merupakan imbalan dari kedurhakaan dan keganasan mereka dan menjadi pelajaran yang berharga, bagi manusia yang datang kemudian, yang ingin memperoleh kebahagian di dunia dan di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 46</h3>
<p>Orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan mengingkari seruan Nabi Muhammad saw sebenarnya mereka sering melakukan perjalanan antara Mekah dan Syiria, serta ke negeri-negeri yang berada di sekitar Jazirah Arab. Mereka membawa barang dagangan dalam perjalanan melihat bekas-bekas reruntuhan negeri umat-umat yang dahulu telah dihancurkan Allah, seperti bekas-bekas negeri kaum &#8216;Ad dan kaum samud, bekas reruntuhan negeri kaum Lut dan kaum Syu&#8217;aib dan sebagainya. Orang-orang musyrik Mekah telah pula mendengar kisah tragis kaum yang durhaka itu. Apakah semua peristiwa dan kejadian itu tidak mereka pikirkan dan renungkan bahwa tindakan mereka mengingkari seruan Muhammad dan menyiksa para sahabat itu sama dengan tindakan-tindakan umat-umat dahulu terhadap para rasul yang diutus kepada mereka? Jika tindakan itu sama, tentu akibatnya akan sama pula, yaitu mereka akan memperoleh malapetaka dan azab yang keras dari Allah. Allah Mahakuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tidak seorang pun yang sanggup menghalanginya.</p>
<p>Melihat sikap orang-orang musyrik Mekah yang demikian, ternyata mata mereka tidaklah buta, karena mereka dapat melihat bekas-bekas reruntuhan negeri kaum yang durhaka itu, tetapi sebenarnya hati merekalah yang telah buta, telah tertutup untuk menerima kebenaran. Yang menutup hati mereka itu ialah pengaruh adat kebiasaan dan kepercayaan mereka dari nenek moyang mereka dahulu. Oleh karena itu mereka merasa dengki kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, sehingga mereka tidak dapat lagi memikirkan dan merenungkan segala macam peristiwa duka yang telah terjadi dan menimpa umat-umat terdahulu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 47</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari seruan Nabi Muhammad saw, tidak percaya kepada adanya hari Kiamat, mereka meminta kepada Nabi Muhammad saw agar kepada mereka ditimpakan pula azab seperti yang telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Permintaan itu mereka lakukan, karena yakin bahwa azab itu tidak akan datang.</p>
<p>Permintaan mereka dijawab Allah bahwa azab yang mereka minta itu pasti datang, karena hal itu merupakan Sunnatullah. Allah sekali-kali tidak akan memungkiri janji-Nya. Hanya saja azab itu ditimpakan kepada mereka pada waktu yang telah ditentukan Allah, tidak menurut waktu yang mereka kehendaki. Waktu kedatangan azab itu hanya Allah sajalah yang mengetahuinya, sebagaimana waktu kedatangan azab kepada umat-umat ter- dahulu, yang datang secara tiba-tiba, tanpa diketahui oleh seorang pun darimana dan kapan azab itu datang.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (al-A&#8217;raf/7: 97-98)</p>
<p>Jika orang-orang musyrik Mekah merasa bahwa telah lama masa berlalu, tetapi azab yang dijanjikan itu belum datang, sehingga mereka berpendapat bahwa azab itu tidak akan datang lagi, maka hendaklah mereka ingat bahwa seribu tahun menurut perasaan mereka adalah sama dengan sehari di sisi Allah. Karena itu hendaklah mereka ingat bahwa Allah pasti menepati janji-Nya setelah berjalan waktu yang lama menurut perasaan mereka. Allah melambatkan kedatangan azab itu bukanlah berarti bahwa Dia telah menyalahi janji yang telah dijanjikan-Nya.</p>
<p>Secara saintis, Ayat ini mensiratkan konsep relativitas waktu. Sebuah konsep yang diperkenalkan oleh Albert Einstein melalui Teori Relativitas. Sebelumnya, selama hampir 200 tahun, dunia fisika didominasi oleh fisika Newton yang menyatakan bahwa waktu adalah konstan; satu jam adalah sama di mana pun dalam kondisi apa pun. </p>
<p>Contoh berikut akan memberikan ilustrasi tentang konsep waktu yang konstan. Misalkan, Hamzah dan Wildan telah menyamakan waktu di jam tangannya masing-masing. Kemudian, dengan menggunakan sebuah pesawat yang memiliki kecepatan yang tinggi, mendekati kecepatan cahaya, Hamzah berangkat meninggalkan Wildan. Setelah satu jam (menurut jam tanganya) Hamzah kembali dari perjalanannya dan menemui Wildan. Maka, Newton akan mengatakan bahwa Wildan pun akan merasakan bahwa dia telah menunggu Hamzah selama satu jam. Jam tangan Wildan akan menunjukkan waktu yang sama dengan jam tangan Hamzah.</p>
<p>Einstein tidak akan sependapat dengan hal ini. Menurut dia, waktu adalah relatif, bergantung pada kecepatan bergerak dari seseorang atau sesuatu. Jika Hamzah yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya merasa telah meninggalkan Wildan selama satu jam (menurut jam di tangannya), maka jam tangan Wildan akan menunjukkan bahwa Hamzah telah pergi selama 10 jam. Jika Hamzah pergi pada pukul 8 pagi, maka ketika dia kembali, jam tangan Hamzah akan menunjukkan waktu pukul 9 pagi, sementara jam tangan Wildan akan menunjukkan jam 18.00 atau jam 6 sore. Demikian pula, apabila pada saat Hamzah dan Wildan sama-sama berumur 20 tahun, kemudian Hamzah bepergian meninggalkan Wildan dengan kecepatan mendekati cahaya selama 5 tahun (menurut waktu Hamzah), maka pada saat mereka bertemu, Hamzah akan berumur 25 tahun, sementara Wildan telah berumur 70 tahun. Demikianlah waktu bersifat relatif.</p>
<p>Al-Qur&#8217;an telah mengisyaratkan hal ini semenjak 14 abad yang lalu. Allah mengatur urusan dari langit ke bumi dan kembali lagi ke langit dengan kecepatan yang sangat tinggi sedemikian sehingga semua ini hanya berlangsung satu hari yang lamanya sama dengan 1000 tahun menurut hitungan waktu kita. Relativitas waktu seperti ini juga terdapat dalam as-Sajdah/32:5; al-Ma&#8217;arij/70: 4.</p>
<p>Dalam ayat ini, satu hari setara dengan 50.000 tahun. Hal ini bisa saja terjadi, bergantung kepada kecepatan bergerak dari malaikat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 48</h3>
<p>Allah melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Dalam pada itu manusia juga harus ingat akan salah satu dari sifat-sifat Allah, yaitu Dia tidak segera mengazab hamba-hamba-Nya yang berdosa sebelum memberi kesempatan bertobat kepada mereka dengan cara beriman dan beramal saleh. Apabila kesempatan bertobat itu tidak juga digunakan oleh hamba-Nya, barulah mereka ditimpa azab yang dijanjikan itu. Karena itu berapa banyak negeri yang penduduknya berlaku zalim, setelah beberapa lama, mereka tidak bertobat, bahkan bertambah zalim maka Allah menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba dari arah yang tidak mereka ketahui. Hendaklah manusia ingat, bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah kepunyaan Allah, termasuk apa yang ada di dalamnya, semuanya akan kembali kepada Allah. Di waktu kembali kepada-Nya, ditimbanglah seluruh amal perbuatan mereka, amal baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang amal buruk dan perbuatan jahat akan dibalas dengan neraka yang apinya menyala-nyala.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 49</h3>
<p>Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada orang-orang yang minta disegerakan datangnya azab bahwa yang menimpakan azab itu bukanlah tugas para rasul. Tugas para rasul hanyalah menyampaikan peringatan dan ancaman Allah kepada manusia, termasuk mereka sendiri. Tugas para rasul juga menyampaikan bahwa tindakan-tindakan yang telah dilakukan orang-orang musyrik itu telah membawa mereka ke ambang pintu azab yang diancamkan itu. Para rasul tidak berwenang menilai perbuatan hamba karena yang memberi taufik dan hidayah itu hanyalah Allah sendiri. Allah berfirman:</p>
<p>Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)</p>
<p>Seandainya Allah berkehendak menimpakan azab yang dijanjikan itu, tentu Dia telah melakukannya, dan melakukannya itu adalah mudah bagi-Nya, karena itu janganlah sekali-kali meminta kepada rasul agar azab itu disegerakan atau ditangguhkan, karena semuanya itu adalah wewenang Allah.</p>
<p>Dengan adanya penyampaian ancaman dan peringatan itu, manusia yang hatinya terbuka untuk menerima petunjuk Allah, mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang diancamkan itu, yaitu dengan melakukan semua yang diperintahkan Allah, menghentikan semua yang dilarang dan berusaha menghapuskan segala dosanya dengan mengerjakan amal yang saleh. Jika mereka tetap dalam kekafiran, tentulah Allah akan melaksanakan ancaman-Nya dengan menimpakan azab yang pedih kepada mereka kapan saja dikehendaki.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 50</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bentuk peringatan dan ancaman itu dengan menyebutkan balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman, dan ancaman siksa bagi orang-orang yang kafir. Orang-orang yang beriman dengan arti yang sebenarnya dan perwujudan imannya itu tampak dalam tindakannya mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya, membalas perbuatan baik mereka dengan pahala yang berlipat ganda dan rezeki yang mulia. Di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam surga, tempat dimana mereka akan memperoleh semua yang mereka inginkan, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya. (az-Zukhruf/43: 70-71)</p>
<p>Bahkan dalam hadis diterangkan bahwa dalam surga itu terdapat kesenangan dan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan oleh manusia semasa hidup di dunia sebagaimana firman Allah dalam hadis qudsi:</p>
<p>Di dalam surga itu terdapat apa yang belum pernah dilihat mata, dan apa yang belum pernah di dengar telinga, dan apa yang belum pernah terlintas di dalam hati manusia. (Riwayat ath-thabrani)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 51</h3>
<p>Adapun orang-orang yang tetap berusaha menentang para rasul, ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka, dan itulah tempat yang paling buruk yang disediakan Allah untuk mereka, Allah berfirman:</p>
<p>Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (an-Nahl/16: 88)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 52</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah memperingatkan orang-orang yang beriman akan usaha-usaha yang dilakukan oleh setan; baik setan dalam bentuk jin, maupun setan dalam bentuk manusia untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.</p>
<p>Di antara usaha-usaha setan itu ialah apabila Rasul membicarakan ayat-ayat Allah, atau menjelaskan dan menyampaikan syariat yang dibawanya kepada para sahabatnya, maka bangunlah setan-setan itu dan berusahalah mereka memasukkan ke dalam hati para pendengar sesuatu tafsiran yang salah, sehingga mereka meyakini bahwa ayat-ayat atau syariat yang disampaikan Rasul itu, bukan berasal dari Allah, tetapi semata-mata ucapan Rasul saja, yang dibuat-buat untuk meyakinkan manusia akan kenabian dan kerasulannya. Ada pula di antara setan-setan itu menyisipkan tafsir yang salah terhadap ayat-ayat itu, sehingga tanpa disadari oleh para pendengar, mereka telah menyimpang dengan tafsir itu sendiri dari maksud ayat yang sebenarnya.</p>
<p>Usaha setan itu tidak saja dilakukan terhadap Al-Qur&#8217;an dan hadis-hadis Nabi, tetapi juga telah dilakukannya terhadap agama dan kitab-kitab suci yang pernah diturunkan kepada para rasul. Usaha-usaha setan itu ada yang berhasil. Bila dipelajari dengan sungguh-sungguh sejarah agama yang dibawa para rasul dan sejarah kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada mereka. Telah banyak dimasukkan oleh setan ke dalam agama-agama itu sesuatu yang dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah. Yang disisipkan itu bukan saja hal yang ringan dan bukan prinsip, tetapi banyak pula yang telah berhasil disisipkan itu sesuatu yang dapat mengubah azas dan pokok agama itu, Allah berfirman:</p>
<p>Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat). (al-Ma&#8217;idah/5: 13)</p>
<p>Agama yang diturunkan Allah kepada para rasul terdahulu yang telah banyak dicampuri oleh perbuatan setan, di antaranya ialah agama Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi Isa as.</p>
<p>Dalam sejarah kaum Muslimin setelah Rasulullah saw dan para sahabat terdekat meninggal dunia, nampak dengan jelas usaha-usaha untuk merusak dan mengubah agama Islam meskipun usaha untuk mengubah, menambah atau mengurangi ayat-ayat Al-Qur&#8217;an tidak berhasil, karena Al-Qur&#8217;an dipelihara oleh Allah, tetapi mereka hampir saja berhasil memasukkan hadis-hadis palsu ke dalam kumpulan hadis-hadis Nabi. Di samping itu juga mereka hampir berhasil menafsirkan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dengan tafsir atau takwil yang jauh dari makna Al-Qur&#8217;an yang dikehendaki.</p>
<p>Di samping usaha-usaha mereka untuk mengubah ayat-ayat suci Al-Qur&#8217;an, hadis Nabi dan syariat Islam, mereka juga berusaha untuk merusak hidup dan kehidupan manusia, seperti jika seorang mencita-citakan adanya sesuatu kebaikan pada dirinya, maka ditimbulkanlah oleh setan di dalam diri dan pikiran orang itu pendapat atau keyakinan bahwa cita-cita yang diinginkan itu sulit memperolehnya, sehingga timbul pada diri dan kemauan orang itu rasa takut dan rasa tidak sanggup mencapai cita-cita yang baik itu.</p>
<p>Mengenai Al-Qur&#8217;an banyak sekali usaha-usaha untuk meniru-nirunya, memasukkan tafsir dan takwilan yang salah ke dalamnya, memasukkan khurafat-khurafat dan sebagainya, namun semua usaha itu mengalami kegagalan. Hal ini sesuai dengan jaminan Allah tehadap pemeliharaan Al-Qur&#8217;an itu, Allah berfirman:</p>
<p>Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (al-Hijr/15: 9)</p>
<p>Jika diperhatikan sejarah Al-Qur&#8217;an, amat banyak cara yang telah dilakukan untuk menjaga otensitas Al-Qur&#8217;an itu, di antaranya ialah: </p>
<p>1. Di masa Rasulullah masih hidup, setiap ayat-ayat Al-Qur&#8217;an diturunkan beliau menyuruh menuliskan dan menghafalnya.</p>
<p>2. Tidak lama setelah Rasulullah saw meninggal dunia, seluruh Al-Qur&#8217;an telah dapat dikumpulkan dan ditulis pada lembaran-lembaran yang kemudian diikat dan disimpan oleh Abu Bakar, sepeninggal Abu Bakar disimpan oleh Umar, kemudian oleh Hafsah binti Umar. Di masa Usman Al-Qur&#8217;an yang ditulis pada lembaran-lembaran itu dibukukan. Al-Qur&#8217;an dinamai &#8220;Mushaf&#8221;. Ada lima buah mushaf yang ditulis di masa Usman itu. Dari mushaf yang lima itulah kaum Muslimin di seluruh dunia Islam di masa itu menyalin Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>3. Mendorong dan menambah semangat orang-orang yang berilmu, agar memperdalam ilmunya. Dengan kemampuan ilmu yang ada, mereka dapat mempertahankan kemurnian Al-Qur&#8217;an dari segala macam subhat dan penafsiran yang salah.</p>
<p>4. Sejak masa Nabi saw sampai saat ini, selalu ada orang yang hafal seluruh Al-Qur&#8217;an, sehingga sukar dilakukan penyisipan-penyisipan ke dalamnya. Bahkan kesalahan tulisan yang sedikit saja pada ayat-ayat Al-Qur&#8217;an telah dapat menimbulkan reaksi yang kuat dari kalangan kaum Muslimin.</p>
<p>Dalam setiap kurun sejarah Islam, selalu ada tokoh-tokoh ulama yang sanggup membela dan mempertahankan ajaran Islam dari serangan yang datang dari luar Islam yang beraneka ragam bentuknya.</p>
<p>Pada saat banyak timbul usaha-usaha pemalsuan hadis pada permulaan abad kedua hijriyah, tampillah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau berusaha mengumpulkan dan membukukan hadis-hadis Nabi saw yang masih berada dalam hafalan para tabi&#8217;in, dan sebagian telah dituliskan oleh para sahabat. Beliau memerintahkan para pejabat di daerah-daerah, dan para ulama agar mengumpulkan hadis-hadis Nabi di daerah mereka masing-masing. Di antara para ulama yang menulisnya ialah Imam az-Zuhri. Maka oleh Imam az- Zuhri dikumpulkan hadis-hadis Nabi itu. Sekalipun pada masa itu belum lagi dilakukan penelitian dan pemisahan hadis-hadis mana yang palsu dan mana yang benar-benar berasal dari Nabi, tetapi usaha ini merupakan landasan dan dasar dari usaha-usaha yang akan dilakukan oleh para Imam hadis yang datang kemudian sesudah angkatan az-Zuhri ini, seperti Imam al-Bukhari, Muslim, an-Nasa&#8217;i, Abu Daud dan lain-lain. Imam-imam inilah yang melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang telah dikumpulkan di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu.</p>
<p>Demikian pula Imam al-Asy&#8217;ari telah berhasil mempertahankan kemurnian ajaran Islam dari pengaruh filsafat Yunani yang banyak dipelajari oleh ulama-ulama Islam waktu itu. Kemudian al-Gazali telah berhasil pula mempertahankan ajaran Islam dari pengajaran atau pengaruh yang kuat dari filsafat Neoplatonisme. Ibnu Taimiyah telah membersihkan ajaran Islam dari berbagai khufarat yang menyesatkan. </p>
<p>Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk segala macam bentuk usaha setan untuk merusak dan merubah ajaran Islam, semua yang terbesit di dalam hati manusia, semua yang nampak dan semua yang tersembunyi. Dengan pengetahuan-Nya itu pula Dia melumpuhkan tipu daya setan yang ingin merusak agama-Nya, kemudian menimpakan pembalasan yang setimpal bagi mereka itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 53</h3>
<p>Allah menjelaskan berbagai usaha setan-setan beserta pengikutpengikutnya untuk memperdayakan manusia dengan menambah pengertian yang salah dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dan dalam agama Islam. Perbuatan mereka itu menjadi cobaan bagi manusia, terutama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang yang ingkar dan sesat hatinya serta orang-orang munafik. Godaan setan itu menambahkan sesat dan menimbulkan penyakit dalam hatinya, sehingga kekafiran dan kemunafikan mereka bertambah.</p>
<p>Sedang orang-orang yang kuat imannya tidak akan tertipu oleh setan, setiap godaan setan yang datang kepadanya akan menambah kuat imannya. Sebaliknya orang-orang yang sesat hatinya dan ada penyakit di dalamnya akan jauh menyimpang dari jalan yang benar, karena itu sukar bagi mereka kembali ke jalan yang benar. Mereka tidak dapat lagi mengharapkan keridaan Allah dan tidak akan lepas dari siksaan Allah</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 54</h3>
<p>Allah melakukan yang demikian itu agar orang-orang yang berilmu pengetahuan mengetahui dan merenungkan segala macam hukum yang telah ditetapkan Allah, pokok-pokok sunnatullah, segala macam subhat dan penafsiran ayat-ayat dengan cara yang salah yang dibuat oleh setan dan pengikut-pengikutnya. Dengan pengetahuan dan pengalaman itu diharapkan iman mereka bertambah, meyakini bahwa Al-Qur&#8217;an itu benar-benar berasal dari Allah. sebagaimana mereka meyakini bahwa Allah menjamin keaslian Al-Qur&#8217;an dari campur tangan manusia di dalamnya dan dari penafsiran yang salah.</p>
<p>Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman yang telah dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kufur menundukkan dan menyerahkan diri kepada Allah. Membaca ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dengan sungguh-sungguh, melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya, menghentikan segala larangan-Nya, baik yang berhubungan dengan ibadah, muamalat, budi pekerti, hukum dan tata cara bergaul dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Kemudian ditegaskan bahwa Allah benar-benar akan memberi petunjuk dan taufik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengikuti semua rasul. Petunjuk dan taufik yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dilakukan dengan bermacam cara. Ada cara yang langsung dan ada pula dengan cara yang tidak langsung, kadang-kadang manusia sendiri menyadari bahwa ia telah menerima petunjuk itu.</p>
<p>Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw banyak didapati saat-saat Allah memberikan petunjuk yang langsung kepadanya. Di antaranya petunjuk-petunjuk Allah kepadanya adalah teguran Allah kepada Nabi, ketika Nabi melakukan perbuatan yang dianggap tidak layak dilakukan oleh rasul, misalnya teguran-Nya kepada Nabi karena meremehkan seorang sahabat yang bertanya kepadanya, Nabi sedang sibuk dengan pembesar Quriasy. Di antara contoh-contohnya ialah sebagai berikut:</p>
<p>Imam Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum, seorang sahabat Nabi yang buta dan miskin. Pada suatu hari ia datang menghadap Nabi dan ia berkata, &#8220;Ya Rasulullah, bacakan dan ajarkanlah kepadaku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.&#8221; Ia mengulangi perkataan itu tiga kali. Waktu Ibnu Ummi Maktum bertanya, Rasul saw sedang menerima pembesar Quraisy, yaitu Walid bin Mugirah dan konon musuh umat Islam, sedang Ibnu Ummi Maktum tidak melihat dan mengetahui pula bahwa Rasulullah sedang sibuk menerima tamu-tamunya. Karena itu Rasulullah saw merasa kurang senang dengan permintaan Ibnu Ummi Maktum, beliau bermuka masam dan berpaling daripadanya. Sikap Rasulullah terhadap Ibnu Ummi Maktum itu ditegur Allah dengan firman-Nya:</p>
<p>Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut (kepada Allah), engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan. (&#8216;Abasa/80: 1-11)</p>
<p>Dengan teguran Allah itu Rasulullah menjadi sadar akan kesalahannya, sejak waktu itu beliau tambah menghormati sahabat-sahabat beliau, termasuk menghormati Ibnu Ummi Maktum sendiri. Teguran Allah inilah yang membedakan posisi Nabi dengan manusia biasa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 55</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan sikap orang kafir terhadap Al-Qur&#8217;an, mereka tidak percaya terhadap Al-Qur&#8217;an, mekipun telah datang bukti-bukti kebenaran Al-Qur&#8217;an sebagai kalamullah bukan ciptaan Muhammad.</p>
<p>Dengan teguran Allah kepada Nabi yang tidak layak di atas, orang kafir tetap ragu dan tidak mau beriman kepada Allah sampai hari Kiamat atau sampai datang azab kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 56</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa apabila telah datang hari Kiamat, maka segalanya berada di tangan Allah. Dialah yang berkuasa pada waktu itu dan berkuasa menyelesaikan segala sesuatu dengan memberikan balasan yang layak kepada manusia, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.</p>
<p>Orang-orang yang beriman kepada Al-Qur&#8217;an, mengamalkan segala yang terkandung di dalamnya, beriman kepada Muhammad sebagai Rasul Allah, mengamalkan hadis-hadisnya melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya, akan diberi balasan surga yang penuh kenikmatan. Mereka memperoleh apa yang dikehendakinya, merasakan kebahagiaan, kesenangan yang belum pernah mereka rasakan selama hidup di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 57</h3>
<p>Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah, memasukkan penafsiran yang salah dan membuat keraguan ke dalam ayat-ayat-Nya, mendakwahkan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah buatan Muhammad, mereka akan ditimpa azab yang sangat keras, tidak dapat dibandingkan keras dan beratnya itu dengan siksa atau malapetaka yang pernah terjadi selama mereka hidup di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 58</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa semua orang yang hijrah di jalan Allah, meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga dan harta bendanya, hanya untuk mencari rida Allah, dengan tujuan menegakkan agama Islam bersama Nabi Muhammad saw. Kemudian mereka terbunuh dalam peperangan atau meninggal secara normal dalam keadaan yang demikian itu, maka Allah akan membukakan rezeki yang mulia kepada mereka di akhirat.</p>
<p>Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa pada hakikatnya orang yang terbunuh atau mati biasa dalam keadaan hijrah untuk mempertahankan dan membela agama Allah adalah sama-sama akan diberi rezeki yang mulia di sisi Allah. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini, dan juga disebutkan dalam firman Allah:</p>
<p>Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (an-Nisa&#8217;/4: 100)</p>
<p>Dan dalam hadis Nabi saw: </p>
<p>Dari Salman al-Farisi ia berkata, &#8220;Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang mati dalam keadaan bertugas (siap bertempur pada jalan Allah), dia diberi rezeki, dan aman dari segala yang memfitnah dia. Dan bacalah olehmu jika kamu menghendaki (ayat ini).&#8221; (Riwayat Ibnu Abi Hatim)</p>
<p>Dari ayat ini dapat pula ditetapkan hukum, bahwa apabila ada perbuatan baik, sesuai dengan apa yang diperintahkan agama dan dikerjakan oleh beberapa orang, dalam pelaksanaan pekerjaan itu ada kaum Muslimin yang meninggal karena pekerjaan itu, dan ada yang mati secara normal di waktu melaksanakan pekerjaan itu, maka orang-orang yang mati secara normal itu diberi pahala yang sama oleh Allah.</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat perkataan &#8220;rezeki&#8221; yang mulia, Allah tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan rezeki yang mulia itu, dan kapan rezeki itu diberikan. Hal ini akan diterangkan pada ayat berikutnya (ayat 59).</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa Dia adalah pemberi rezeki yang paling baik. Maksudnya ialah Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu, semata-mata karena kasih sayangnya kepada mereka, sehingga ia memberikannya tiada terhingga kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu balasan dari hamba-Nya itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 59</h3>
<p>Allah akan memasukkan semua orang yang terbunuh di jalan-Nya dan orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah itu ke dalam surga yang penuh kenikmatan di akhirat kelak, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka lakukan.</p>
<p>Inilah yang dimaksud dengan rezeki pada ayat 58, dan kapan rezeki itu diberikan-Nya. Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui semua perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang hijrah, mengetahui segala amal yang telah mereka perbuat, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sebagaimana Allah mengetahui pula perbuatan-perbuatan orang yang zalim. Sekalipun demikian Allah tidak segera menimpakan siksa kepada orang-orang yang zalim, karena Dia juga Maha Penyantun, Allah selalu memberi kesempatan kepada manusia yang berdosa untuk bertobat dan kembali mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan diridai Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 60</h3>
<p>Demikianlah, Allah akan memberikan rezeki yang baik dan surga yang penuh kenikmatan kepada orang-orang yang meninggal dalam keadaan hijrah dan berjihad di jalan Allah, dalam memerangi musuh-musuh mereka.</p>
<p>Kemudian Allah menegaskan jaminan pertolongan-Nya kepada orangorang yang hijrah dan berjihad, yaitu siapa di antara orang-orang yang beriman membalas siksaan orang-orang kafir, karena mereka telah diperangi, kemudian musuh-musuhnya itu memaksa mereka untuk hijrah meninggalkan kampung halaman mereka, pastilah Allah akan menolong mereka dan akan membalas perbuatan itu kembali.</p>
<p>Dalam pada itu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Karena itu janganlah orang-orang yang beriman memerangi musuh-musuh mereka yang telah menyerah dan hendaklah mereka melindungi orang-orang yang minta perlindungan kepada mereka. Jika orang-orang kafir membiarkan kaum Muslimin menjalankan agamanya, tidak mengganggu dan menyakiti mereka, Allah melarang memerangi orang-orang kafir itu. Allah memerintahkan untuk memaafkan kesalahan mereka, sebagaimana Allah telah memaafkan pula kesalahan orang-orang yang beriman. Allah berfirman:</p>
<p>Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. (asy-Syura/42: 39-40)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 61</h3>
<p>Memberikan pertolongan dan menjamin kemenangan bagi orang-orang yang beriman itu adalah suatu janji yang pasti dari Allah. Karena Dia Maha Menguasai segala sesuatu. Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, Dia pada suatu musim panas memasukkan malam ke dalam siang, maka siang menjadi panjang, dan pada suatu musim dingin memasukkan siang ke dalam malam, maka malam menjadi panjang. Di daerah khatulistiwa perbedaan waktu malam dan waktu siang ini tidak begitu dirasakan. Tetapi di daerah sub-tropis dan daerah kutub Utara atau Selatan, perbedaan ini sangat kelihatan. Pada musim dingin kelihatan malam amat panjang, sedang di musim panas waktu sianglah yang lebih panjang dari waktu malam.</p>
<p>Ayat di atas merupakan salah satu ayat dari sekian ayat dalam Al-Qur&#8217;an yang mengungkapkan secara berulang perkara kejadian siang dan malam. (QS 10;67, 16:12, 17;12, 21:33, dst). Dan itu terjadi semata karena kuasa-Nya yang tercermin dari bunyi awal ayat.</p>
<p>Menurut para saintis, malam dan siang merupakan fenomena alam yang terjadi karena posisi bumi yang bergerak mengelilingi matahari pada lintasan yang tetap &#8220;hampir berbentuk&#8221; lingkaran. Karena itu pula bumi terhindar dari mengalami suhu-suhu ekstrem yang mematikan. Bumi yang bulat ketika mengelilingi matahari tadi sambil terus berputar pada sumbunya. Malam terjadi pada bagian bumi yang tidak tersinari oleh sinar matahari dan siang ketika bagian bumi lainnya terkena sinar matahari. Malam itu gelap dan siang itu terang. </p>
<p>Mengenai perputaran(rotasi) bumi pada sumbunya, data menunjukkan bahwa kecepatannya adalah 1.670 km per jam. Bandingkan dengan kecepatan peluru ketika dilepaskan dari senjata modern yaitu 1.800 km per jam. Betapa cepatnya rotasi bumi. </p>
<p>Sementara kecepatan orbit bumi terhadap matahari adalah 60 kali kecepatan peluru, yakni sekitar 108.000 km per jam. Dengan kecepatan demikian sebuah pesawat akan dapat mengelilingi bumi dalam waktu 22 menit saja.</p>
<p>Perputaran bumi pada sumbunya terjadi satu kali dalam sehari yang menurut pengamatan para ahli merupakan kecepatan yang tepat untuk menghasilkan suhu yang sedang dan nyaman untuk kehidupan di atas permukaan bumi. Dan lebih mencengangkan adalah besarnya sudut sumbu putar bumi ini telah memungkinkan untuk terjadinya 4 musim di belahan utara dan selatan garis equator dan hanya 2 musim di daerah yang terletak tepat di garis equator bumi. </p>
<p>Ketepatan perputaran (rotasi) yang mengakibatkan keteraturan terjadinya siang dan malam di bumi ini ditegaskan oleh ayat ini,&#8230;.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya&#8221; (Yasin/36:40) </p>
<p>Dengan pergantian siang dan malam yang secara berkala dan teratur suatu ketetapan Allah untuk menjadi perhitungan waktu bagi kehidupan manusia di bumi. Satu putaran siang dan malam lamanya Allah SWT tentukan 24 jam. Ini yang kita kenal dengan hitungan hari. Satu hari adalah 24 jam. Sementara satu putaran bulan (sebagai satelit bumi) yang mengelilingi bumi memerlukan waktu 29 atau 30 hari. Atau disebut satu bulan.. Sedangkan lamanya bumi mengelilingi atau mengorbit matahari satu putaran penuh dibutuhkan selama 360 hari, dan dikenal dengan satu tahun. Semua ini adalah dasar disusunnya perhitungan waktu atau kalender. </p>
<p>Memasukkan malam kepada siang, dan memasukkan siang kepada malam itu menurut ukuran manusia adalah lebih sulit melakukannya dari memberi kemenangan. Karena itu memberikan kemenangan kepada orang-orang teraniaya sangat mudah dilakukan Allah. Allah mendengarkan segala doa yang dimohonkan hamba kepada-Nya dan melihat semua perbuatan yang dilakukan hamba-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 62</h3>
<p>Sifat-sifat yang demikian itu, yaitu kekuasaan yang sempurna, ilmu yang luas dan sempurna, meliputi segala macam ilmu ada pada Allah, karena Dialah yang wajibul-wujud, pasti adanya, mempunyai segala macam sifat kesempurnaan, tidak mempunyai kekurangan sedikit pun. Dialah yang memiliki agama yang benar, yang disampaikan nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus-Nya, yang paling akhir ialah Nabi Muhammad saw. Dialah Tuhan Yang Maha Esa, tiada seorang pun yang menjadi syarikat bagi-Nya. Karena itu beribadah kepada-Nya adalah suatu yang wajib, sesuatu yang paling benar, demikian pula pertolongan-Nya, janji-Nya adalah suatu yang hak. Segala yang disembah selain Allah adalah sembahan yang salah, dan ibadah itu merupakan ibadah yang tidak ada dasarnya. Dia berkuasa menciptakan segala yang dikehendaki-Nya. Jika Dia ingin menciptakan sesuatu, cukuplah Dia mengatakan, &#8220;Jadilah&#8221;. Maka terwujudlah barang itu.</p>
<p>Sesungguhnya Allah Mahatinggi, semua berada dibawah-Nya da Dia di atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang menyamainya dalam kekuatan, ketinggian dan kebesaran serta pengetahuan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 63</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang juga merupakan nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia, yaitu apakah manusia tidak melihat dan memperhatikan bahwa Allah mengedarkan awan, lalu dari awan itu turunlah hujan di atas bumi, air hujan itu menyuburkan bumi, maka timbullah beraneka macam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang indah bentuknya, seakan-akan bumi menghiasi dirinya dengan tumbuhnya tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka warna. Di antara yang tumbuh itu ada yang dapat dimakan manusia, sehingga terpelihara kelangsungan hidupnya, ada yang dapat dijadikan bahan-bahan pakaian, bahan kecantikan, dan beraneka keperluan manusia yang lain.</p>
<p>Sesungguhnya Allah Mahaluas ilmu-Nya, karena pengetahuan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang besar, sejak dari yang mudah sampai kepada yang sulit dan rumit yang kadang-kadang tidak diketahui oleh manusia. Karena itu Allah mengatur, menjaga kelangsungan hidup dan kelangsungan adanya makhluk-Nya itu. Maka ditetapkan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan untuk mengatur makhluk-Nya. </p>
<p>Tentang pengetahuan Allah terhadap makhluk-Nya, diterangkan dalam firman-Nya:</p>
<p>Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah baik di bumi atau pun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Yunus/10: 61)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 64</h3>
<p>Hanya Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan segala apa yang di bumi, tidak ada sesuatu pun yang berserikat dengan-Nya dalam pemilikan itu. Karena itu hanya Dia pulalah yang menentukan apa yang dilakukan-Nya terhadap makhluk-Nya itu, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendak-Nya. Dia tidak memerlukan sesuatu, hanya makhluk-Nyalah yang memerlukan-Nya. Dia Maha Terpuji karena kebaikan dan nikmat yang tiada terhingga yang telah diberikan kepada makhluk-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 65</h3>
<p>Di antara nikmat yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah Dia menundukkan dan memudahkan bagi manusia untuk memanfaatkan segala yang terkandung di dalam bumi dan segala yang ada di permukaannya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia. Manusia diberi pengetahuan dan kemampuan menanam dan menyuburkan tanaman, menggali barang-barang tambang yang beraneka ragam macamnya. Kemudian Allah menunjukkan cara-cara memanfaatkan semuanya itu. Allah berfirman:</p>
<p>Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jashiyah/45: 13)</p>
<p>Manusia telah dianugerahi Allah ilmu yang banyak. Kadang-kadang sebagian mereka menjadi angkuh dan sombong dengan ilmu yang dimilikinya itu, hendaklah manusia ingat bahwa ilmu yang diberikan itu, hanyalah sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang belum diketahui manusia. Ilmu manusia tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, &#8220;Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.&#8221; (al-Isra&#8217;/17: 85)</p>
<p>Demikianlah Allah menundukkan dan memudahkan penguasaan kapal dan laut kepada manusia. Dimudahkan kapal berlayar ke samudera, membawa manusia dan keperluan manusia ke segenap penjuru dunia. Dengan kapal itu pula manusia mencari rezeki di lautan berupa ikan, mutiara, barang tambang dan khazanah lautan berupa ikan yang tidak terhitung banyaknya.</p>
<p>Allah menciptakan alam semesta, yang terdiri atas ruang angkasa dan planet-planetnya yang tidak terhitung banyaknya. Semua terapung dan beredar melalui garis edar yang telah ditentukan Allah. Masing-masing planet itu mempunyai daya tarik, sehingga ia tidak jatuh berantakan, kecuali jika Allah menghendaki-Nya. Firman Allah:</p>
<p>Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (al- Infithar/82: 1-2)</p>
<p>Semuanya itu tidak dijadikan Allah dengan cara kebetulan saja, tetapi dengan maksud tertentu, dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang rapi dan teliti. Dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan itu manusia dapat mengambil manfaat daripadanya, mereka dapat terbang di jagat raya, naik ke planet lain, mereka dapat meramalkan keadaan cuaca. Mereka dapat berpergian dari suatu negeri ke negeri yang lain dalam waktu yang tidak lama, dan banyak lagi manfaat lain yang dapat mereka ambil dengan menggunakan ketentan-ketentuan dan hukum-hukum Allah itu. Semuanya itu menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 66</h3>
<p>Di antara nikmat Allah yang paling besar yang dianugerahkan kepada manusia ialah menciptakan manusia hidup dari benda-benda mati, memberi roh, jiwa, akal pikiran dan perasaan, sehingga manusia dapat hidup dan menikmati kehidupan, dapat mengolah bumi untuk kesenangan mereka. Dengan jiwa, akal pikiran dan perasaan itu pula, manusia dapat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya, sehingga di akhirat mereka dilimpahkan lagi nikmat yang paling besar yang tiada taranya, yaitu berupa surga yang telah dijanjikan-Nya.</p>
<p>Sekalipun demikian banyaknya nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia, tetapi sedikit manusia yang mensyukuri-Nya, bahkan banyak di antara mereka yang mengingkari-Nya, bahkan ada yang mendurhakai dan menyekutukan-Nya dengan makhluk yang lain. Allah berfirman:</p>
<p>Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)</p>
<p>Dan firman Allah:</p>
<p>Katakanlah, &#8220;Allah yang menghidupkan kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221; (al-Jashiyah/45: 26)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 67</h3>
<p>Allah telah mengutus para rasul kepada tiap-tiap umat sampai kepada masa Nabi Muhammad saw. Tiap-tiap rasul membawa syariat yang berbeda dengan syariat rasul yang lain, sesuai dengan keadaan, tempat dan masa dimana umat itu berada sehingga syariat itu dapat mereka lakukan dengan baik dan sesuai dengan kesanggupan, kemanfaatan dan kebutuhan hidup mereka.</p>
<p>Kitab Taurat diturunkan kepada Musa as, yang akan disampaikan kepada Bani Israil. Bani Israil di waktu itu sedang terjangkit paham materialisme dan kehidupan yang materialistis. Hidupnya didasarkan kepada kebendaan. Baginya hidup ini adalah serba benda. Bani Israil tatkala ditinggalkan Nabi Musa yaitu dikala beliau naik ke bukit Tursina untuk menerima Taurat, mereka membuat patung anak sapi dari emas untuk disembah. Isi Taurat banyak memberi petunjuk kepada manusia tentang cara-cara membina diri dan umat agar terhindar dari paham materialisme dan kehidupan yang materialistis itu. Demikian pula Injil diturunkan kepada Nabi Isa as, banyak memberi petunjuk cara-cara pembinaan kejiwaan, rohani, sesuai pula dengan keadaan orang Yahudi di waktu itu. </p>
<p>Pada akhirnya Al-Qur&#8217;an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Syariat yang dikandung Al-Qur&#8217;an itu adalah syariat untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Di dalam Al-Qur&#8217;an banyak ayat-ayat yang memberi petunjuk kepada manusia agar mereka di samping memikirkan kehidupan rohani juga memikirkan kehidupan duniawi, kehidupan duniawi merupakan persiapan kehidupan akhirat.</p>
<p>Demikianlah ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh umat manusia sejak dahulu sampai sekarang. Maka seharusnya orang-orang kafir itu tidak menentang seruan Nabi Muhammad yang disampaikan kepada mereka. Karena itu Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya agar jangan terpengaruh oleh tantangan dan pembangkangan orang-orang kafir. Tetaplah melakukan dakwah, menyeru mereka dengan hikmat dan kebijaksanaan, mengajak mereka kepada ketauhidan, yang menunjukkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 68</h3>
<p>Seandainya orang-orang kafir itu menentang dan mengingkari dakwah Nabi, padahal telah disampaikan kepada mereka bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang menunjukkan kebenaran agama yang disampaikan kepada mereka, maka tugas Nabi Muhammad adalah menyampaikan agama, bukan untuk menjadikan seseorang itu menjadi kafir atau beriman. Semuanya menjadi wewenang Allah. Allah berfirman:</p>
<p>Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, &#8220;Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.&#8221; (Yunus/10: 41)</p>
<p>Katakanlah kepada mereka bahwa Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan dan akan membalas mereka terhadap pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka kerjakan di dunia ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 69</h3>
<p>Setelah Allah memerintahkan pada ayat-ayat yang lalu agar Rasulullah berpaling dari orang-orang yang kafir, maka pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah akan menentukan keputusan dan hukum pada hari Kiamat antara mereka yang berselisih dalam persoalan agama itu, sehingga terbukti mana yang benar dan mana yang salah.</p>
<p>Orang-orang yang beriman mereka bersabar, dan menguatkan keimanan mereka, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Karena itu serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, &#8220;Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. (asy-Syura/42: 15)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 70</h3>
<p>Ayat ini menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, tentang keluasan ilmu Allah. Sekalipun Nabi Muhammad yang dituju tetapi dalam ayat ini termasuk di dalamnya seluruh umatnya. Seakan-akan Allah mengatakan kepadanya, &#8220;Apakah engkau tidak mengetahui hai Muhammad, bahwa ilmu Allah itu amat luas, meliputi segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, tidak ada sesuatu pun yang luput dari ilmu-Nya itu, walaupun barang itu sebesar zarroh (atom) atau lebih kecil lagi dari atom itu, bahkan Dia mengetahui segala yang terbetik di dalam hati manusia.&#8221;</p>
<p>Semua ilmu Allah itu tertulis di Lauh Mahfuz, ialah suatu kitab yang di dalamnya disebutkan segala yang ada dan kitab itu telah ada dan lengkap, mempunyai catatan sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Menurut Abu Muslim al-AshfahÂ±ni, yang dimaksud dengan kitab dalam ayat ini ialah pemeliharaan sesuatu dan pencatatannya yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang tidak tercatat di dalamnya. Hal inilah yang merupakan ilmu Allah.</p>
<p>Pengetahuan yang amat sempurna dan pencatatan yang lengkap tentang segala sesuatu serta penetapan hukum yang dijadikan bahan pengadilan di akhirat kelak tidaklah sukar bagi Allah untuk menetapkannya. Dia menetapkan sesuatu di akhirat nanti dengan seadil-adilnya, karena segala macam yang dijadikan bahan pertimbangan telah ada catatan-Nya, tidak ada yang kurang sedikit pun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 71</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa kepercayaan orang-orang musyrik itu salah, baik ditinjau dari segi wahyu, akal pikiran, maupun dari sikap orang-orang musyrik itu sendiri di kala mereka mendengar ayat-ayat Allah.</p>
<p>1. Orang-orang musyrik Mekah menyembah selain Allah, dengan menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Kepercayaan mereka itu tidak berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, padahal suatu kepercayaan yang benar adalah kepercayaan yang berdasarkan wahyu dari Allah. Kepercayaan mereka itu hanyalah berdasarkan adat kebiasaan nenek moyang mereka dahulu, kemudian mereka mengikuti dan mempercayainya.</p>
<p>2. Mereka menyembah selain Allah, hal itu tidak berdasarkan pemikiran yang benar, dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Mereka membuat sendiri berhala-berhala yang mereka sembah itu. Oleh karena itu mereka tidak akan mendapat seorang penolong pun yang akan menolong mereka untuk menegakkan pendapat dan pikiran mereka, atau yang akan menolakkan azab dari mereka di akhirat kelak.</p>
<p>3. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka tampaklah pada air muka mereka tanda-tanda keangkuhan, kesombongan dan kekerasan hati, serta ucapan marah yang timbul di hati mereka. Manakala dibacakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an kepada mereka, mereka ingin menyerang dan memukul orang-orang yang sedang membaca ayat itu. Seandainya mereka ingin mencari kebenaran, tentulah mereka mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan itu, kemudian mereka merenungkan dan memikirkannya, dan kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka tentulah mereka menanyakan atau mencari alasan-alasan yang kuat untuk mematahkan kebenaran ayat-ayat Allah.</p>
<p>Kemudian Allah mengancam mereka bahwa kebencian dan kemarahan mereka karena mendengar ayat-ayat Allah itu sebenarnya adalah lebih kecil dari kepedihan azab yang akan mereka rasakan nanti di hari Kiamat.</p>
<p>Allah menegaskan ancaman-Nya kepada orang-orang musyrik itu dengan memerintahkan nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada mereka, &#8220;Hai orang-orang musyrik, apakah kamu hendak mendengarkan berita yang lebih besar dan lebih jahat lagi dari kemarahan hatimu kepada orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah, sehingga hampir saja kamu menyerang dan memukul mereka?&#8221;</p>
<p>Kemudian pertanyaan di atas langsung dijawab, bahwa berita besar dan lebih buruk dari kemarahannya itu ialah azab neraka yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir sebagai balasan dari perbuatan mereka itu waktu hidup di dunia. Neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali yang disediakan bagi orang-orang musyrik.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 72</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa kepercayaan orang-orang musyrik itu salah, baik ditinjau dari segi wahyu, akal pikiran, maupun dari sikap orang-orang musyrik itu sendiri di kala mereka mendengar ayat-ayat Allah.</p>
<p>1. Orang-orang musyrik Mekah menyembah selain Allah, dengan menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Kepercayaan mereka itu tidak berdasarkan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, padahal suatu kepercayaan yang benar adalah kepercayaan yang berdasarkan wahyu dari Allah. Kepercayaan mereka itu hanyalah berdasarkan adat kebiasaan nenek moyang mereka dahulu, kemudian mereka mengikuti dan mempercayainya.</p>
<p>2. Mereka menyembah selain Allah, hal itu tidak berdasarkan pemikiran yang benar, dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Mereka membuat sendiri berhala-berhala yang mereka sembah itu. Oleh karena itu mereka tidak akan mendapat seorang penolong pun yang akan menolong mereka untuk menegakkan pendapat dan pikiran mereka, atau yang akan menolakkan azab dari mereka di akhirat kelak.</p>
<p>3. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka tampaklah pada air muka mereka tanda-tanda keangkuhan, kesombongan dan kekerasan hati, serta ucapan marah yang timbul di hati mereka. Manakala dibacakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an kepada mereka, mereka ingin menyerang dan memukul orang-orang yang sedang membaca ayat itu. Seandainya mereka ingin mencari kebenaran, tentulah mereka mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan itu, kemudian mereka merenungkan dan memikirkannya, dan kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati mereka tentulah mereka menanyakan atau mencari alasan-alasan yang kuat untuk mematahkan kebenaran ayat-ayat Allah.</p>
<p>Kemudian Allah mengancam mereka bahwa kebencian dan kemarahan mereka karena mendengar ayat-ayat Allah itu sebenarnya adalah lebih kecil dari kepedihan azab yang akan mereka rasakan nanti di hari Kiamat.</p>
<p>Allah menegaskan ancaman-Nya kepada orang-orang musyrik itu dengan memerintahkan nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada mereka, &#8220;Hai orang-orang musyrik, apakah kamu hendak mendengarkan berita yang lebih besar dan lebih jahat lagi dari kemarahan hatimu kepada orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah, sehingga hampir saja kamu menyerang dan memukul mereka?&#8221;</p>
<p>Kemudian pertanyaan di atas langsung dijawab, bahwa berita besar dan lebih buruk dari kemarahannya itu ialah azab neraka yang telah dijanjikan kepada orang-orang kafir sebagai balasan dari perbuatan mereka itu waktu hidup di dunia. Neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali yang disediakan bagi orang-orang musyrik.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 73</h3>
<p>Ayat ini menyeru manusia terutama orang-orang yang mem-persekutukan Allah dengan menyembah patung yang terbuat dari benda mati dan dibuat oleh mereka sendiri, agar mereka memperhatikan perumpamaan yang dibuat Allah bagi mereka, kemudian merenungkan dan memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Apakah yang telah mereka lakukan itu sesuai dengan akal pikiran yang benar, hendaklah direnungkan kembali ayat-ayat Allah yang dibacakan itu, agar mereka mendapat petunjuk.</p>
<p>Perumpamaan itu ialah segala berhala yang mereka sembah itu, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan mereka memohonkan sesuatu kepadanya, meski patung-patung itu tidak dapat menciptakan sesuatu. Begitu pula sekiranya patung itu mempunyai suatu barang, kemudian barang itu disambar oleh seekor lalat kecil, lemah dan tidak ada kekuatannya, niscaya patung-patung yang mereka sembah itu tidak akan sanggup merebut barang itu kembali dari lalat yang kecil itu.</p>
<p>Perumpamaan yang dikemukakan Allah dalam ayat ini, seakan-akan memperingatkan orang-orang yang menyembah patung atau benda mati itu, bahwa Tuhan yang berhak disembah ialah Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pencipta, tidak ada sesuatu kekuatan pun yang dapat mengatasi kekuatan-Nya. Jika orang-orang kafir menyembah patung, berarti mereka menyembah benda mati, yang tidak tahu suatu apapun, bahkan ia tidak dapat mempertahankan apa yang dimilikinya, seandainya seekor lalat kecil yang tidak berdaya merampas kepunyaannya itu daripadanya. Apakah patung yang demikian itu layak disembah? Tindakan orang-orang musyrik itu menunjukkan kebodohan-nya. Alangkah kelirunya orang-orang yang menyembah patung itu, demikian pula patung yang disembah itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 74</h3>
<p>Orang-orang musyrik mengaku bahwa mereka menyembah berhala atau patung itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi pengakuan mereka itu dibantah Allah bahwa cara yang mereka lakukan itu, tidak saja menghina Allah, bahkan menganggap bahwa Allah tidak dapat langsung menerima permohonan dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya, sehingga perlu adanya sesuatu yang membantunya sebagai perantara.</p>
<p>Sungguh Allah yang berhak disembah itu Mahakuat dan Kuasa, Maha Perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Dia berbuat menurut yang dikehendaki-Nya, tidak seperti patung yang disembah oleh orang-orang musyrik itu, yang tidak dapat merebut kembali, benda yang telah direbut lalat daripadanya. Allah berfirman:</p>
<p>Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (adz-dzariyat/51: 58)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 75</h3>
<p>Diriwayatkan bahwa Walid bin Mugirah pernah berkata, &#8220;Apakah pernah diturunkan wahyu atasnya di antara kita?&#8221; Maka Allah menurunkan ayat ini.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah memilih beberapa orang di antara para malaikat, untuk menjadi perantara antara Dia dengan para Rasul yang diutusnya, untuk menyampaikan wahyu, seperti malaikat jibril. Demikian pula Allah telah memilih beberapa orang rasul yang akan menyampaikan agama-Nya kepada manusia. Hak memilih para rasul adalah hak Allah, tidak seorang pun yang berwenang menetapkannya selain dari Dia. Allah Maha Mendengar semua yang diucapkan oleh hamba-hamba-Nya, melihat keadaan dan mengetahui kadar kemampuan mereka, sehingga Dia dapat menetapkan dan memilih siapa yang patut menjadi rasul atau nabi di antara mereka.</p>
<p>Hadis Nabi saw, beliau bersabda:</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah memilih Musa sebagai Kalimullah dan Ibrahim sebagai Khalilullah. (Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak dari Ibnu &#8216;Abbas).</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 76</h3>
<p>Allah Maha Mengetahui keadaan para malaikat dan keadaan manusia, baik sebelum mereka diciptakan maupun sesudah mereka diciptakan dan mengetahui pula keadaan mereka sesudah tiada nanti. Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi, apa yang telah terjadi, dan mengetahui pula akhir segala sesuatu nanti, karena kepada-Nyalah kembalinya urusan segala sesuatu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 77</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar:</p>
<p>1. Mengerjakan salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, lengkap dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Pada ayat ini salat disebut dengan &#8220;ruku'&#8221; dan &#8220;sujud&#8221;, karena ruku&#8217; dan sujud itu merupakan ciri khas dari salat dan termasuk dalam rukun-rukunnya.</p>
<p>2. Menghambakan diri, bertobat kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya merupakan perwujudan dari keimanan di hati sanubari yang telah merasakan kebesaran, kekuasaan dan keagungan Allah, karena diri manusia sangat tergantung kepada-Nya. Hanya Dialah yang menciptakan, memelihara kelangsungan hidup dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Beribadah kepada Tuhan ada yang dilakukan secara langsung, seperti salat, puasa bulan Ramadan, menunaikan zakat dan menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah yang dilakukan tidak secara langsung, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, mengolah alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia.</p>
<p>3. Mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memperkuat hubungan silaturrahmi, berbudi pekerti yang baik, hormat menghormati, kasih-mengasihi sesama manusia. Termasuk melaksanakan perintah Allah.</p>
<p>Jika manusia mengerjakan tiga macam perintah di atas, maka mereka akan berhasil dalam kehidupan memperoleh kebahagiaan ketentraman hidup, dan di akhirat mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 78</h3>
<p>Di samping perintah-perintah di atas, Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, semata-mata dilaksanakan karena Allah dan janganlah kaum Muslimin merasa khawatir dan takut kepada siapa pun dalam berjihad selain kepada Allah.</p>
<p>Ada empat macam jihad di jalan Allah yaitu:</p>
<p>1. Jihad dalam arti mempertahankan diri dari serangan musuh, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. (al-Baqarah/2: 190)</p>
<p>2. Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikannya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (al- Anfal/8: 39)</p>
<p>3. Jihad dengan arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan, yang mengarah kepada masalah kemanusiaan seperti menolong orang, bertugas untuk kebaikan dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. (an-Nisa&#8217;/4:76)</p>
<p>4. Jihad dengan arti memerangi hawa nafsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi: Dari Jabir ia berkata, &#8220;Telah datang kepada Rasulullah saw suatu kaum yang baru dari peperangan. Maka beliau bersabda, &#8220;Kamu datang dengan kedatangan yang baik, kamu telah datang dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang besar.&#8221; Seseorang berkata, &#8220;Apakah jihad yang besar itu?&#8221; Rasulullah menjawab, &#8220;Perjuangan hamba melawan hawa nafsu.&#8221; (Riwayat al-Khatib al-Baghdadi)</p>
<p>Pada mulanya peperangan itu dibenci oleh kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. (al-Baqarah/2: 216)</p>
<p>Sekalipun perang itu dibenci oleh kaum Muslimin, tetapi karena tujuannya untuk mempertahankan diri dan menegakkan agama Allah, maka peperangan itu dibolehkan dan kaum Muslimin harus melakukannya. Dalam pada itu Allah melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas dalam peperangan.</p>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah telah memilih umat Muhammad untuk melakukan jihad. Perintah itu datang karena agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang telah disempurnakan Allah, yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan tentang Jihad. Hal ini merupakan pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad beserta umatnya.</p>
<p>Allah menerangkan bahwa agama yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad itu bukanlah agama yang sempit dan sulit, tetapi adalah agama yang lapang dan tidak menimbulkan kesulitan kepada hamba yang melakukannya. Semua perintah dan larangan yang terdapat dalam agama Islam bertujuan untuk melapangkan dan memudahkan hidup manusia, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat. Hanya saja hawa nafsu manusialah yang mempengaruhi dan menimbulkan dalam pikiran mereka bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah itu terasa berat dikerjakan.</p>
<p>Rasulullah saw mengatakan bahwa agama Islam itu mudah, orang-orang yang memberat-beratkan beban dalam agama akan dikalahkan oleh agama sendiri, sebagaimana tersebut dalam hadis:</p>
<p>Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, &#8220;Sesungguhnya agama itu mudah dan sekali-kali tidak akan ada seorang pun yang memberatkan agama, kecuali agama itu akan mengalahkannya. Karena itu kerjakanlah dengan benar, dekatkanlah dirimu, gembiralah, dan mohonlah pertolongan di pagi dan petang hari serta waktu berpergian awal malam.&#8221; (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Rasulullah saw pernah memberikan suatu peringatan yang keras kepada suatu golongan yang memberatkan beban dalam agama, sebagaimana tersebut dalam hadis.</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah ra, ia berkata, &#8220;Rasulullah saw pernah membuat sesuatu, lalu beliau meringankannya, lalu sampailah hal yang demikian kepada beberapa orang sahabat beliau. Seolah-olah mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya. Maka sampailah persoalan itu pada beliau. Beliau lalu berdiri berpidato dan berkata: Apakah gerangan keadaan orang-orang yang telah sampai kepada mereka tentang sesuatu perbuatan yang aku meringankannya, lalu mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya? Demi Allah (kata Rasululah): Sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah dan orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya.&#8221; (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa beberapa orang sahabat Rasul ingin menandingi beliau, sehingga ada yang berkata, &#8220;Aku akan puasa setiap hari.&#8221; Yang lain lagi berkata, &#8220;Aku tidak akan mengawini perempuan.&#8221; Maka sampailah hal itu kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:</p>
<p>Apakah gerangan keadaan orang yang telah mengharamkan perempuan, makan dan tidur? Ketahuilah, sesungguhnya aku salat dan tidur, berpuasa dan berbuka puasa serta menikahi perempuan-perempuan. Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku. (Riwayat an-Nasa&#8217;i)</p>
<p>Dengan keterangan hadis-hadis di atas nyatalah bahwa agama Islam adalah agama yang lapang, meringankan beban, tidak picik dan tidak mempersulit. Seandainya ada praktek dan amalan agama Islam yang memberatkan, picik dan sempit, maka hal itu bukanlah berasal dari agama Islam, tetapi berasal dari orang yang tidak mengetahui hakikat Islam itu.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari terlihat masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami dengan baik tujuan Allah menurunkan syariat-Nya kepada Nabi saw. Seperti Allah mensyariatkan salat dengan tujuan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi sebagian kaum Muslimin merasa berat mengerjakan salat yang lima waktu itu, bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa salat itu menganggu waktu berharga bagi mereka. Demikian pula pendapat mereka tentang ibadah-ibadah lainnya.</p>
<p>Kemudian Allah menerangkan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah sesuai dengan agam Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan kedua agama itu sama-sama bersendikan ketauhidan. Seakan-akan Allah memperingatkan kepada bangsa Arab waktu itu, &#8220;Hai bangsa Arab, kamu mengaku memeluk agama yang dibawa nenek moyangmu Ibrahim, karena itu ikutilah agama yang dibawa Muhammad, agama yang berazaskan tauhid, tidak ada kesempitan dan kepicikan di dalamnya. Dan Allah menamakan orang-orang yang memeluk agama tauhid dengan &#8220;muslim&#8221;.&#8221;</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah saw menjadi saksi di hari Kiamat atas umatnya. Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadah kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari Kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Setelah itu mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah, apakah ajakan mereka diterima atau ditolak.</p>
<p>Sebagian Ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia termasuk di dalam persaksian mereka atas umat-umat terdahulu, yang telah diutus kepada mereka Rasul-rasul. Mereka mengetahui hal itu dari Allah melalui Al-Qur&#8217;an yang menerangkan bahwa Rasul dahulu telah menyampaikan agama yang bedasar tauhid kepada mereka.</p>
<p>Semua perintah Allah yang disebutkan itu dapat dilaksanakan dengan baik, agar umat Muhammad yang ditugaskan menjadi saksi terhadap manusia pada hari Kiamat dapat melakukan persaksian itu dengan sebaik-baiknya, maka Allah memerintahkan kepada mereka:</p>
<p>1. Selalu melaksanakan salat yang lima waktu, karena salat menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar dan merupakan penghubung yang kuat antara Tuhan yang disembah dengan hamba-Nya.</p>
<p>2. Menunaikan zakat, agar dapat membersihkan jiwa dan harta, agar mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin.</p>
<p>3. Berpegang teguh dengan tali Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-hajj/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>21. Al-Anbiya&#8217; (112 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/al-anbiya/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/al-anbiya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2026 12:38:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1118</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Para Nabi Tempat Turun: Mekah Jumlah Ayat: 112 Deskripsi: Surat Al Anbiyaa&#8217; yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai surat ini dengan al anbiyaa&#8217;(nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al Anbiyaa&#8217; menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah ... <a title="21. Al-Anbiya&#8217; (112 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/al-anbiya/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 21. Al-Anbiya&#8217; (112 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Para Nabi</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Mekah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 112</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Al Anbiyaa&#8217; yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai surat ini dengan <i>al anbiyaa&#8217;</i>(nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al Anbiyaa&#8217; menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti. Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad s.a.w supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-anbiya/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Al-Anbiya&#8217;</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iqtaraba lin-nāsi ḥisābuhum wa hum fī gaflatim mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā ya&#8217;tīhim min żikrim mir rabbihim muḥdaṡin illastama‘ūhu wa hum yal‘abūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْۗ وَاَسَرُّوا النَّجْوَىۖ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْاۖ هَلْ هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۚ اَفَتَأْتُوْنَ السِّحْرَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lāhiyatan qulūbuhum, wa asarrun-najwal-lażīna ẓalamū, hal hāżā illā basyarum miṡlukum, afa ta&#8217;tūnas-siḥra wa antum tubṣirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, “(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerima sihir itu padahal kamu menyaksikannya?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قٰلَ رَبِّيْ يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۖ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbī ya‘lamul-qaula fis-samā&#8217;i wal-arḍ(i), wa huwas-samī‘ul-‘alīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Muhammad) berkata, “Tuhanku mengetahui (semua) perkataan di langit dan di bumi, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui!”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌۚ فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal qālū aḍgāṡu aḥlāmim baliftarāhu bal huwa syā‘ir(un), falya&#8217;tinā bi&#8217;āyatin kamā ursilal-awwalūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Bahkan mereka mengatakan, “(Al-Qur&#8217;an itu buah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda (bukti), seperti halnya rasul-rasul yang diutus terdahulu.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَآ اٰمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَاۚ اَفَهُمْ يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā āmanat qablahum min qaryatin ahlaknāhā, afahum yu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Penduduk suatu negeri sebelum mereka, yang telah Kami binasakan, mereka itu tidak beriman (padahal telah Kami kirimkan bukti). Apakah mereka akan beriman?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā arsalnā qablaka illā rijālan nūḥī ilaihim fas&#8217;alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوْا خٰلِدِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā ja‘alnāhum jasadal lā ya&#8217;kulūnaṭ-ṭa‘āma wa mā kānū khālidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan dan mereka tidak (pula) hidup kekal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ صَدَقْنٰهُمُ الْوَعْدَ فَاَنْجَيْنٰهُمْ وَمَنْ نَّشَاۤءُ وَاَهْلَكْنَا الْمُسْرِفِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma ṣadaqnāhumul-wa‘da fa anjaināhum wa man nasyā&#8217;u wa ahlaknal-musrifīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">laqad anzalnā ilaikum kitāban fīhi żikrukum, afalā ta‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur&#8217;an) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَّاَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا اٰخَرِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa kam qaṣamnā min qaryatin kānat ẓālimataw wa ansya&#8217;nā ba‘dahā qauman ākharīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَمَّآ اَحَسُّوْا بَأْسَنَآ اِذَا هُمْ مِّنْهَا يَرْكُضُوْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falammā aḥassū ba&#8217;sanā iżā hum minhā yarkuḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negerinya) itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا تَرْكُضُوْا وَارْجِعُوْٓا اِلٰى مَآ اُتْرِفْتُمْ فِيْهِ وَمَسٰكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْـَٔلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā tarkuḍū warji‘ū ilā mā utriftum fīhi wa masākinikum la‘allakum tus&#8217;alūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu dapat ditanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū yā wailanā innā kunnā ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَا زَالَتْ تِّلْكَ دَعْوٰىهُمْ حَتّٰى جَعَلْنٰهُمْ حَصِيْدًا خٰمِدِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">famā zālat tilka da‘wāhum ḥattā ja‘alnāhum ḥaṣīdan khāmidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan, sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā khalaqnas-samā&#8217;a wal-arḍa wa mā bainahumā lā‘ibīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ اَرَدْنَآ اَنْ نَّتَّخِذَ لَهْوًا لَّاتَّخَذْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّآ ۖاِنْ كُنَّا فٰعِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau aradnā an nattakhiża lahwal lattakhażnāhum mil ladunnā, in kunnā fā‘ilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Seandainya Kami hendak membuat suatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami, jika Kami benar-benar menghendaki berbuat demikian.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِذَا هُوَ زَاهِقٌۗ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal naqżifu bil-ḥaqqi ‘alal-bāṭili fa yadmaguhū fa iżā huwa zāhiq(un), wa lakumul-wailu mimmā taṣifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lahū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa man ‘indahū lā yastakbirūna ‘an ‘ibādatihī wa lā yastaḥsirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يُسَبِّحُوْنَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yusabbiḥūnal-laila wan-nahāra wa lā yafturūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمِ اتَّخَذُوْٓا اٰلِهَةً مِّنَ الْاَرْضِ هُمْ يُنْشِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">amittakhażū ālihatam minal-arḍi hum yunsyirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang yang mati)?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau kāna fīhimā ālihatun illallāhu lafasadatā, fa subḥānallāhi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yus&#8217;alu ‘ammā yaf‘alu wa hum yus&#8217;alūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمِ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً ۗقُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْۚ هٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَّعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِيْۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَۙ الْحَقَّ فَهُمْ مُّعْرِضُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">amittakhażū min dūnihī ālihah(tan), qul hātū burhānakum, hāżā żikru mam ma‘iya wa żikru man qablī, bal akṡaruhum lā ya‘lamūnal-ḥaqqa fahum mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Atau apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah (Muhammad), “Kemukakanlah alasan-alasanmu! (Al-Qur&#8217;an) ini adalah peringatan bagi orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang sebelumku.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā arsalnā min qablika mir rasūlin illā nūḥī ilaihi annahū lā ilāha illā ana fa‘budūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗبَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qāluttakhażar-raḥmānu waladan subḥānah(ū), bal ‘ibādum mukramūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِاَمْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yasbiqūnahū bil-qauli wa hum bi&#8217;amrihī ya‘malūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُوْنَۙ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضٰى وَهُمْ مِّنْ خَشْيَتِهٖ مُشْفِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ya‘lamū mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yasyfa‘ūna illā limanirtaḍā wa hum min khasy-yatihī musyfiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa may yaqul minhum innī ilāhun min dūnihī fa żālika najzīhi jahannam(a), każālika najziẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barangsiapa di antara mereka berkata, “Sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">awalam yaral-lażīna kafarū annas-samāwāti wal-arḍa kānatā ratqan fa fataqnāhumā, wa ja‘alnā minal-mā&#8217;i kulla syai&#8217;in ḥayy(in), afalā yu&#8217;minūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ja‘alnā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bihim, wa ja‘anā fīhā fijājan subulal la‘allahum yahtadūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَجَعَلْنَا السَّمَاۤءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًاۚ وَهُمْ عَنْ اٰيٰتِهَا مُعْرِضُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ja‘alnas-samā&#8217;a saqfam maḥfūẓā(n), wa hum ‘an āyātihā mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa huwal-lażī khalaqal-laila wan-nahāra wasy-syamsa wal-qamar(a), kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā ja‘alnā libasyarim min qablikal-khuld(a), afa&#8217;im mitta fahumul-khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kullu nafsin żā&#8217;iqatul-maut(i), wa nablūkum bisy-syarri wal-khairi fitnah(tan), wa ilainā turja‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذَا رَاٰكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّتَّخِذُوْنَكَ اِلَّا هُزُوًاۗ اَهٰذَا الَّذِيْ يَذْكُرُ اٰلِهَتَكُمْۚ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمٰنِ هُمْ كٰفِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iżā ra&#8217;ākal-lażīna kafarū iy yattakhiżūnaka illā huzuwā(n), ahāżal-lażī yażkuru ālihatakum, wa hum biżikrir-raḥmāni hum kāfirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apabila orang-orang kafir itu melihat engkau (Muhammad), mereka hanya memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. (Mereka mengatakan), “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” Padahal mereka orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pengasih.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">خُلِقَ الْاِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍۗ سَاُورِيْكُمْ اٰيٰتِيْ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">khuliqal-insānu min ‘ajal(in), sa&#8217;urīkum āyātī falā tasta‘jilūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka berkata, “Kapankah janji itu (akan datang), jika kamu orang yang benar?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ يَعْلَمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا حِيْنَ لَا يَكُفُّوْنَ عَنْ وُّجُوْهِهِمُ النَّارَ وَلَا عَنْ ظُهُوْرِهِمْ وَلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau ya‘lamul-lażīna kafarū ḥīna lā yakuffūna ‘aw wujūhihimun nāra wa lā ‘an ẓuhūrihim wa lā hum yunṣarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Seandainya orang kafir itu mengetahui, ketika mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari wajah dan punggung mereka, sedang mereka tidak mendapat pertolongan (tentulah mereka tidak meminta disegerakan).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ تَأْتِيْهِمْ بَغْتَةً فَتَبْهَتُهُمْ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ رَدَّهَا وَلَا هُمْ يُنْظَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal ta&#8217;tīhim bagtatan fa tabhatuhum falā yastaṭī‘ūna raddahā wa lā hum yunẓarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sebenarnya (hari Kiamat) itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, lalu mereka menjadi panik; maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) diberi penangguhan (waktu).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِيْنَ سَخِرُوْا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqadistuhzi&#8217;a birusulim min qablika fa ḥāqa bil-lażīna sakhirū minhum mā kānū bihī yastahzi&#8217;ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau (Muhammad) pun telah diperolok-olokkan, maka turunlah (siksaan) kepada orang-orang yang mencemoohkan apa (rasul-rasul) yang selalu mereka perolok-olokkan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ مَنْ يَّكْلَؤُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمٰنِۗ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُّعْرِضُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul may yakla&#8217;ukum bil-laili wan-nahāri minar-raḥmān(i), bal hum ‘an żikrihim mu‘riḍūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah, “Siapakah yang akan menjaga kamu pada waktu malam dan siang dari (siksaan) Allah Yang Maha Pengasih?” Tetapi mereka enggan mengingat Tuhan mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَمْ لَهُمْ اٰلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِّنْ دُوْنِنَاۗ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَ اَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِّنَّا يُصْحَبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">am lahum ālihatun tamna‘uhum min dūninā, lā yastaṭī‘ūna naṣra anfusihim wa lā hum minnā yuṣḥabūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ataukah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami? Tuhan-tuhan mereka itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">بَلْ مَتَّعْنَا هٰٓؤُلَاۤءِ وَاٰبَاۤءَهُمْ حَتّٰى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُۗ اَفَلَا يَرَوْنَ اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ اَفَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">bal matta‘nā hā&#8217;ulā&#8217;i wa ābā&#8217;ahum ḥattā ṭāla ‘alaihimul-‘umur(u), afalā yarauna annā na&#8217;til-arḍa nanquṣuhā min aṭrāfihā, afahumul-gālibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjang usia mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwa Kami mendatangi negeri (yang berada di bawah kekuasaan orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari ujung-ujung negeri. Apakah mereka yang menang?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ اِنَّمَآ اُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِۖ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاۤءَ اِذَا مَا يُنْذَرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul innamā unżirukum bil-waḥy(i), wa lā yasma‘uṣ-ṣummud-du‘ā&#8217;a iżā mā yunżarūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya memberimu peringatan sesuai dengan wahyu.” Tetapi orang tuli tidak mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَىِٕنْ مَّسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِّنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُوْلُنَّ يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa la&#8217;im massathum nafḥatum min ‘ażābi rabbika layaqūlunna yā wailanā innā kunnā ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika mereka ditimpa sedikit saja azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata, “Celakalah kami! Sesungguhnya kami termasuk orang yang selalu menzalimi (diri sendiri).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔاۗ وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa naḍa‘ul-mawāzīnal-qisṭa liyaumil-qiyāmati falā tuẓlamu nafsun syai&#8217;ā(n), wa in kāna miṡqāla ḥabbatim min khardalin atainā bihā, wa kafā binā ḥāsibīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاۤءً وَّذِكْرًا لِّلْمُتَّقِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad ātainā mūsā wa hārūnal-furqāna wa ḍiyā&#8217;aw wa żikral lil-muttaqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Furqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِّنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa hum minas-sā‘ati musyfiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari Kiamat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهٰذَا ذِكْرٌ مُّبٰرَكٌ اَنْزَلْنٰهُۗ اَفَاَنْتُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa hāżā żikrum mubārakun anzalnāh(u), afa antum lahū munkirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan ini (Al-Qur&#8217;an) adalah suatu peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad ātainā ibrāhīma rusydahū min qablu wa kunnā bihī ‘ālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iż qāla li&#8217;abīhi wa qaumihī mā hāżihit-tamāṡīlul-latī antum lahā ‘ākifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū wajadnā ābā&#8217;anā lahā ‘ābidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla laqad kuntum antum wa ābā&#8217;ukum fī ḍalālim mubīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ اَمْ اَنْتَ مِنَ اللّٰعِبِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū aji&#8217;tanā bil-ḥaqqi am anta minal-lā‘ibīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Apakah engkau da-tang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main-main?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ بَلْ رَّبُّكُمْ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الَّذِيْ فَطَرَهُنَّۖ وَاَنَا۠ عَلٰى ذٰلِكُمْ مِّنَ الشّٰهِدِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla bar rabbukum rabbus-samāwāti wal-arḍil-lażī faṭarahunn(a), wa ana ‘alā żālikum minasy-syāhidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَتَاللّٰهِ لَاَكِيْدَنَّ اَصْنَامَكُمْ بَعْدَ اَنْ تُوَلُّوْا مُدْبِرِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa tallāhi la&#8217;akīdanna aṣnāmakum ba‘da an tuwallū mudbirīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَجَعَلَهُمْ جُذٰذًا اِلَّا كَبِيْرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ اِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ja‘alahum jużāżan illā kabīral lahum la‘allahum ilaihi yarji‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا مَنْ فَعَلَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَآ اِنَّهٗ لَمِنَ الظّٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū man fa‘ala hāżā bi&#8217;ālihatinā innahū laminaẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū sami‘nā fatay yażkuruhum yuqālu lahū ibrāhīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا فَأْتُوْا بِهٖ عَلٰٓى اَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū fa&#8217;tū bihī ‘alā a‘yunin-nāsi la‘allahum yasyhadūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْٓا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū a&#8217;anta fa‘alta hāżā bi&#8217;ālihatinā yā ibrāhīm(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla bal fa‘alahū kabīruhum hāżā fas&#8217;alūhum in kānū yanṭiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَرَجَعُوْٓا اِلٰٓى اَنْفُسِهِمْ فَقَالُوْٓا اِنَّكُمْ اَنْتُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa raja‘ū ilā anfusihim fa qālū innakum antumuẓ-ẓālimūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 65</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ نُكِسُوْا عَلٰى رُءُوْسِهِمْۚ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هٰٓؤُلَاۤءِ يَنْطِقُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡumma nukisū ‘alā ru&#8217;ūsihim, laqad ‘alimta mā hā&#8217;ulā&#8217;i yanṭiqūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 66</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يَضُرُّكُمْ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla afata‘budūna min dūnillāhi mā lā yanfa‘ukum syai&#8217;aw wa lā yaḍurrukum.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 67</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗاَفَلَا تَعْقِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">uffil lakum wa limā ta‘budūna min dūnillāh(i), afalā ta‘qilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 68</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū ḥarriqūhu wanṣurū ālihatakum in kuntum fā‘ilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 69</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qulnā yā nāru kūnī bardaw wa salāman ‘alā ibrāhīm(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 70</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa arādū bihī kaidan fa ja‘alnāhumul-akhsarīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 71</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa najjaināhu wa lūṭan ilal-arḍil-latī bāraknā fīhā lil-‘ālamīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 72</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً ۗوَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa wahabnā lahū isḥāqa wa ya‘qūba nāfilah(tan), wa kullan ja‘alnā ṣāliḥīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 73</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَجَعَلْنٰهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءَ الزَّكٰوةِۚ وَكَانُوْا لَنَا عٰبِدِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ja‘alnāhum a&#8217;immatay yahdūna bi&#8217;amrinā wa auḥainā ilaihim fi‘lal-khairāti wa iqāmaṣ-ṣalāti wa ītā&#8217;az-zakāh(ti), wa kānū lanā ‘ābidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 74</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلُوْطًا اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا وَّنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ تَّعْمَلُ الْخَبٰۤىِٕثَ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فٰسِقِيْنَۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lūṭan ātaināhu ḥumkaw wa ‘ilmaw wa najjaināhu minal-qaryatil-latī kānat ta‘malul-khabā&#8217;iṡ(a), innahum kānū qauma sau&#8217;in fāsiqīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kepada Lut, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang melakukan perbuatan keji. Sungguh, mereka orang-orang yang jahat lagi fasik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 75</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَدْخَلْنٰهُ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa adkhalnāhu fī raḥmatinā, innahū minaṣ-ṣāliḥīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; sesungguhnya dia termasuk golongan orang yang saleh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 76</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَنُوْحًا اِذْ نَادٰى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa nūḥan iż nādā min qablu fastajabnā lahū fa najjaināhu wa ahlahū minal-karbil-‘aẓīm(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika dia berdoa. Kami perkenankan (doa)nya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 77</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَنَصَرْنٰهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فَاَغْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa naṣarnāhu minal-qaumil-lażīna każżabū bi&#8217;āyātinā, innahum kānū qauma sau&#8217;in fa agraqnāhum ajma‘īn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami menolongnya dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 78</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَدَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ اِذْ يَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِۚ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa dāwūda wa sulaimāna iż yaḥkumāni fil-ḥarṡi iż nafasyat fīhi ganamul-qaum(i), wa kunnā liḥukmihim syāhidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 79</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa fahhamnāhā sulaimān(a), wa kullan ātainā ḥukmaw wa ‘ilmā(n), wa sakhkharnā ma‘a dāwūdal-jibāla yusabbiḥna waṭ-ṭair(a), wa kunnā fā‘ilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 80</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَعَلَّمْنٰهُ صَنْعَةَ لَبُوْسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِّنْۢ بَأْسِكُمْۚ فَهَلْ اَنْتُمْ شٰكِرُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ‘allamnāhu ṣan‘ata labūsil lakum lituḥṣinakum mim ba&#8217;sikum, fahal antum syākirūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami ajarkan (pula) kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 81</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lisulaimānar-rīḥa ‘āṣifatan tajrī bi&#8217;amrihī ilal-arḍil-latī bāraknā fīhā, wa kunnā bikulli syai&#8217;in ‘ālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 82</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمِنَ الشَّيٰطِيْنِ مَنْ يَّغُوْصُوْنَ لَهٗ وَيَعْمَلُوْنَ عَمَلًا دُوْنَ ذٰلِكَۚ وَكُنَّا لَهُمْ حٰفِظِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa minasy-syayāṭīna may yagūṣūna lahū wa ya‘malūna ‘amalan dūna żālik(a), wa kunnā lahum ḥāfiẓīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu; dan Kami yang memelihara mereka itu.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 83</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ayyūba iż nādā rabbahū annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta arḥamur-rāḥimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 84</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fastajabnā lahū fa kasyafnā mā bihī min ḍurriw wa ātaināhu ahlahū wa miṡlahum ma‘ahum raḥmatam min ‘indinā wa żikrā lil-‘ābidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 85</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ismā‘īla wa idrīsa wa żal-kifl(i), kullum minaṣ-ṣābirīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 86</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَدْخَلْنٰهُمْ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهُمْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa adkhalnāhum fī raḥmatinā, innahum minaṣ-ṣāliḥīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 87</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa żan-nūni iż żahaba mugāḍiban fa ẓanna allan naqdira ‘alaihi fa nādā fiẓ-ẓulumāti allā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 88</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ وَكَذٰلِكَ نُـْۨجِى الْمُؤْمِنِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fastajabnā lahū wa najjaināhu minal-gamm(i), wa każālika nunjil-mu&#8217;minīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 89</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa zakariyyā iż nādā rabbahū rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 90</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fastajabnā lah(ū), wa wahabnā lahū yaḥyā wa aṣlaḥnā lahū zaujah(ū), innahum kānū yusāri‘ūna fil-khairāti wa yad‘ūnanā ragabaw wa rahabā(n), wa kānū lanā khāsyi‘īn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 91</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَالَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wal-latī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhā mir rūḥinā wa ja‘alnāhā wabnahā āyatal lil-‘ālamīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah) bagi seluruh alam.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 92</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">inna hāżihī ummatukum ummataw wāḥidah(tan), wa ana rabbukum fa‘budūn(i).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 93</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَتَقَطَّعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْۗ كُلٌّ اِلَيْنَا رٰجِعُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa taqaṭṭa‘ū amrahum bainahum, kullun ilainā rāji‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka di antara mereka. Masing-masing (golongan itu semua) akan kembali kepada Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 94</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهٖۚ وَاِنَّا لَهٗ كٰتِبُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">famay ya‘mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu&#8217;minun falā kufrāna lisa‘yih(ī), wa innā lahū kātibūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Barangsiapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 95</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَحَرٰمٌ عَلٰى قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَآ اَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ḥarāmun ‘alā qaryatin ahlaknāhā, innahum lā yarji‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan tidak mungkin bagi (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 96</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ḥattā iżā futiḥat ya&#8217;jūju wa ma&#8217;jūju wa hum min kulli ḥadabiy yansilūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Hingga apabila (tembok) Yakjuj dan Makjuj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 97</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">waqtarabal-wa‘dul-ḥaqqu fa iżā hiya syākhiṣatun abṣārul-lażīna kafarū, yā wailanā qad kunnā fī gaflatim min hāżā bal kunnā ẓālimīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (apabila) janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat, maka tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata), ”Alangkah celakanya kami! Kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami benar-benar orang yang zalim.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 98</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وٰرِدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innakum wa mā ta‘budūna min dūnillāhi ḥaṣabu jahannam(a), antum lahā wāridūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 99</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَوْ كَانَ هٰٓؤُلَاۤءِ اٰلِهَةً مَّا وَرَدُوْهَاۗ وَكُلٌّ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lau kāna hā&#8217;ulā&#8217;i ālihatam mā waradūhā, wa kullun fīhā khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Seandainya (berhala-berhala) itu tuhan, tentu mereka tidak akan memasukinya (neraka). Tetapi semuanya akan kekal di dalamnya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 100</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَّهُمْ فِيْهَا لَا يَسْمَعُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lahum fīhā zafīruw wa hum fīhā lā yasma‘ūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka merintih dan menjerit di dalamnya (neraka), dan mereka di dalamnya tidak dapat mendengar.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 101</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰىٓۙ اُولٰۤىِٕكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innal-lażīna sabaqat lahum minnal-ḥusnā, ulā&#8217;ika ‘anhā mub‘adūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 102</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَسْمَعُوْنَ حَسِيْسَهَاۚ وَهُمْ فِيْ مَا اشْتَهَتْ اَنْفُسُهُمْ خٰلِدُوْنَ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yasma‘ūna ḥasīsahā, wa hum fīmasytahat anfusuhum khālidūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka), dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka ingini.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 103</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْاَكْبَرُ وَتَتَلَقّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُۗ هٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā yaḥzunuhumul-faza‘ul-akbaru wa tatalaqqāhumul-malā&#8217;ikah(tu), hāżā yaumukumul-lażī kuntum tū‘adūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 104</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِۗ كَمَا بَدَأْنَآ اَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيْدُهٗۗ وَعْدًا عَلَيْنَاۗ اِنَّا كُنَّا فٰعِلِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma naṭwis-samā&#8217;a kaṭayyis-sijilli lil-kutib(i), kamā bada&#8217;nā awwala khalqin nu‘īduh(ū), wa‘dan ‘alainā, innā kunnā fā‘ilīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati; sungguh, Kami akan melaksanakannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 105</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad katabnā fiz-zabūri mim ba‘diż-żikri annal-arḍa yariṡuhā ‘ibādiyaṣ-ṣāliḥūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 106</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">inna fī hāżā labalāgal liqaumin ‘ābidīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur&#8217;an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 107</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 108</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ اِنَّمَا يُوْحٰىٓ اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul innamā yūḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid(un), fahal antum muslimūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Sungguh, apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka apakah kamu telah berserah diri (kepada-Nya)?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 109</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ اٰذَنْتُكُمْ عَلٰى سَوَاۤءٍۗ وَاِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ اَمْ بَعِيْدٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa in tawallau fa qul āżantukum ‘alā sawā'(in), wa in adrī aqarībun am ba‘īdum mā tū‘adūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka jika mereka berpaling, maka katakanlah (Muhammad), “Aku telah menyampaikan kepadamu (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak tahu apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 110</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ مِنَ الْقَوْلِ وَيَعْلَمُ مَا تَكْتُمُوْنَ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innahū ya‘lamul-jahra minal-qauli wa ya‘lamu mā taktumūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Dia (Allah) mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan, dan mengetahui (pula) apa yang kamu rahasiakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 111</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ اَدْرِيْ لَعَلَّهٗ فِتْنَةٌ لَّكُمْ وَمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa in adrī la‘allahū fitnatul lakum wa matā‘un ilā ḥīn(in).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 112</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قٰلَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbiḥkum bil-ḥaqq(i), wa rabbunar-raḥmānul-musta‘ānu ‘alā mā taṣifūn(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/al-anbiya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat 21. Al-Anbiya&#8217;</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-anbiya/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-anbiya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2026 00:31:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1117</guid>

					<description><![CDATA[Tafsir Lengkap Surah 21. Al-Anbiya&#8217; (الانبياۤء) Jumlah Ayat: 112 Arti: Para Nabi Pengantar Surah: Surat Al Anbiyaa&#8217; yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai surat ini dengan al anbiyaa&#8217;(nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al Anbiyaa&#8217; menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya ... <a title="Tafsir Surat 21. Al-Anbiya&#8217;" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-al-anbiya/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tafsir Surat 21. Al-Anbiya&#8217;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Tafsir Lengkap Surah 21. Al-Anbiya&#8217; (الانبياۤء)</h1>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 112</p>
<p><strong>Arti:</strong> Para Nabi</p>
<h2>Pengantar Surah:</h2>
<p>Surat Al Anbiyaa&#8217; yang terdiri atas 112 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah. Dinamai surat ini dengan <i>al anbiyaa&#8217;</i>(nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al Anbiyaa&#8217; menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti. Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad s.a.w supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.</p>
<h2>Tafsir Ayat per Ayat:</h2>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 1</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa hari hisab atau perhitungan amal untuk manusia sudah dekat. Pada hari hisab itu kelak akan diperhitungkan semua perbuatan yang telah mereka lakukan selagi mereka hidup di dunia. Selain itu, semua nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka diminta pertanggungjawabannya, baik nikmat yang ada pada diri mereka sendiri, seperti akal pikiran, makanan dan minuman, serta anak keturunan dan harta benda. Mereka akan ditanya, apa yang telah mereka perbuat dengan semua nikmat itu? Apakah karunia Allah tersebut mereka gunakan untuk berbuat kebajikan dalam rangka ketaatan kepada-Nya, ataukah semuanya itu digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang membuktikan keingkaran dan kedurhakaan mereka kepada-Nya?</p>
<p>Allah menegaskan bahwa manusia sesungguhnya lalai terhadap apa yang akan diperbuat Allah kelak terhadap mereka di hari Kiamat. Kelalaian itulah yang menyebabkan mereka tidak mau berpikir mengenai hari Kiamat, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjaga keselamatan diri mereka dari azab Allah.</p>
<p>Orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum musyrikin. Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman tentang adanya hari Kiamat, dan mengingkari adanya hari kebangkitan dan hari hisab. Namun demikian, ayat ini memperingatkan kepada mereka bahwa hari hisab sudah dekat. Ini adalah untuk menekankan, bahwa hari Kiamat, termasuk hari kebangkitan dan hari hisab, pasti akan datang, walaupun mereka itu tidak mempercayainya; dan hari hisab itu akan diikuti pula oleh hari-hari pembalasan terhadap amal-amal yang baik atau pun yang buruk.</p>
<p>Kaum musyrikin itu lalai dan tidak mau berpikir tentang nasib jelek yang akan mereka temui kelak pada hari hisab dan hari pembalasan itu. Padahal, dengan akal sehat semata, orang dapat meyakini, bahwa perbuatan yang baik sepantasnya dibalas dengan kebaikan, dan perbuatan yang jahat sepatutnya dibalas dengan azab dan siksa. Akan tetapi karena mereka itu tidak mau memikirkan akibat buruk yang akan mereka terima di akhirat kelak, maka mereka senantiasa memalingkan muka dan menutup telinga, setiap kali mereka diperingatkan dengan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, yang berisi ancaman dan sebagainya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 2</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menunjukkan bukti-bukti kelalaian dan sikap masa bodoh kaum musyrikin, seperti ketika mereka mendengar ayat-ayat yang diturunkan Allah, yang disampaikan kepada mereka oleh Rasulullah saw, mereka tidak menggubrisnya, bahkan mereka memperolok-olokkannya. Dengan demikian, ayat ini merupakan peringatan tidak hanya bagi kaum kafir tetapi juga merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan kepada mereka. Pelajaran, peringatan dan ancaman yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut tidak menyentuh hati nurani mereka. Mereka hanya sekedar mendengar, akan tetapi tidak memperhatikannya atau merenungkannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 3</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, yaitu pembicaraan di antara mereka yang disembunyikan terhadap orang lain, mengenai Rasulullah, di mana mereka mengatakan kepada sesamanya, bahwa Muhammad adalah manusia biasa seperti mereka, dan bahwa apa yang disampaikannya kepada mereka hanyalah sihir belaka. Ini merupakan salah satu dari usaha mereka untuk menghasut orang banyak agar tidak memperhatikan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang disampaikan Rasulullah kepada mereka. Karena menurut anggapan mereka, Muhammad saw adalah manusia biasa, seperti manusia yang lain. Ia juga makan, minum serta hidup berkeluarga, bekerja dan berusaha untuk mencari rezeki, sedang ayat-ayat yang disampaikannya adalah sihir belaka, oleh sebab itu dia tidak patut untuk didengar, diperhatikan dan ditaati.</p>
<p>Akan tetapi dari ucapan mereka bahwa ayat-ayat itu adalah sihir, sebenarnya mencerminkan suatu pengakuan, bahwa ayat-ayat tersebut adalah suatu yang menakjubkan mereka, dan mereka merasa tidak mampu untuk menandinginya. Hanya saja, karena mereka ingin menghalangi orang lain untuk mendengarkan ayat-ayat tersebut serta mengambil pelajaran daripadanya, maka mereka menamakannya sihir, supaya orang lain menjauhinya.</p>
<p>Ucapan orang musyrikin di atas menunjukkan bahwa mereka menolak kenabian Muhammad dengan dua cara. Pertama, dengan mengatakan bahwa Rasul haruslah dari kalangan malaikat, bukan dari kalangan manusia, padahal Muhammad adalah manusia juga, karena mempunyai sifat dan tingkah laku yang sama dengan manusia lainnya. Kedua, dengan mengatakan bahwa ayat-ayat yang disampaikannya adalah semacam sihir, bukan wahyu dari Allah.</p>
<p>Kedua macam tuduhan itu mereka rahasiakan di antara sesama mereka, sebagai usaha untuk mencari jalan yang paling tepat untuk meruntuhkan agama Islam. Hal itu mereka rahasiakan karena sudah menjadi kecenderungan bagi manusia, bahwa mereka tidak akan mengajak musuh-musuh mereka berunding dalam mencari upaya untuk merusak dan membinasakan musuh-musuh itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 4</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa dalam menanggapi tuduhan dan serangan kaum musyrikin, Rasulullah saw menegaskan bahwa Allah mengetahui semua perkataan yang diucapkan makhluk-makhluk-Nya, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, baik kata-kata yang diucapkan dengan terang-terangan maupun yang dirahasiakan, karena Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Oleh sebab itu walaupun kaum musyrik itu merahasiakan rencana jahat mereka, Allah tetap mengetahuinya dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka berupa azab dan siksa. Dengan demikian ayat ini berisi ancaman terhadap kaum musyrikin.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 5</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa kejahatan kaum musyrikin itu tidak hanya sekedar mengatakan bahwa Muhammad bukan Rasul dan Al-Qur&#8217;an itu adalah sihir, tetapi mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah merupakan mimpi-mimpi yang kacau. Bahkan yang lain berkata bahwa Al-Qur&#8217;an hanyalah sesuatu yang diada-adakan oleh Muhammad sendiri. Bahkan di antara mereka ada pula yang mengatakan, bahwa Muhammad adalah seorang penyair. Mereka juga menuntut Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat selain Al-Qur&#8217;an, seperti yang diperlihatkan oleh rasul-rasul yang terdahulu. Padahal Al-Qur&#8217;an itulah mukjizat terbesar Nabi Muhammad. </p>
<p>Dengan demikian mereka tidak mengetahui bahwa Al-Qur&#8217;an adalah wahyu Allah kepada Muhammad saw. Dan mereka tidak mengakui bahwa Al-Qur&#8217;an adalah mukjizat yang dikaruniakan Allah kepadanya sebagai bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya.</p>
<p>Barangsiapa yang berhati jujur serta mempunyai pengetahuan tentang bahasa Arab dan sastranya yang tinggi, niscaya akan mengakui bahwa bahasa dan isi ayat-ayat Al-Qur&#8217;an sangat menakjubkan. Akan tetapi, kaum musyrikin telah memutarbalikkan kenyataan ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 6</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa andaikata tuntutan mereka dikabulkan, mereka tetap tidak akan beriman. Kenyataan ini telah terjadi pada kaum musyrikin pada masa-masa sebelumnya. Mereka juga tidak beriman kendati pun tuntutan mereka dikabulkan. Itulah sebabnya Allah telah membinasakan mereka. Lalu apa alasannya untuk mengabulkan tuntutan kaum musyrikin yang ada sekarang. Allah telah mengetahui bahwa mereka juga tidak akan beriman. Dan sunnatullah tidak akan berubah, siapa yang zalim, pasti akan binasa. Maka kaum musyrikin Quraisy yang tidak beriman kepada Muhammad, dan yang berlaku zalim, juga pasti akan binasa.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 7</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah sejak dahulu tidak pernah mengutus rasul kecuali selalu dari kalangan manusia biasa yang diberi-Nya wahyu. Kalau mereka benar-benar tidak mengetahui bahwa para rasul yang diutus Allah adalah manusia bukan malaikat, mereka bisa bertanya kepada orang-orang yang mengetahui baik dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani, sebab mereka itu mengetahui masalah tersebut, dan tidak pernah mengingkarinya.</p>
<p>Dalam ayat yang lain Allah menyuruh Nabi Muhammad mengatakan kepada kaum musyrikin bahwa dia adalah manusia. Allah berfirman:</p>
<p>Katakanlah (Muhammad), &#8220;Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya.&#8221; (al-Kahf/18:110)</p>
<p>Jadi Nabi Muhammad bukanlah pengecualian dari para rasul se-belumnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 8</h3>
<p>Kaum musyrikin menyerang Rasulullah, di mana mereka menyinggung sifat-sifat kemanusiaan yang terlihat pada diri Rasulullah saw. Mereka mengatakan, mengapa rasul itu memakan makanan seperti manusia lainnya, dan berjalan di pasar (untuk berdagang), sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Furqan, ayat 7. Maka dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia menjadikan rasul-rasul itu orang-orang yang memakan makanan, dan tidak pula mereka hidup kekal di dunia, karena mereka itu adalah manusia juga, yang memerlukan makanan, minuman, tidur dan hidup berumah tangga. Hanya saja Allah telah memilih mereka untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia, dan diberinya wahyu yang berisi petunjuk dan bimbingan, untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran kepada cahaya iman yang terang benderang. Rasul sebagai pembimbing adalah manusia biasa yang tidak memiliki kualitas supranatural, melainkan hanya diberi wahyu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 9</h3>
<p>Allah menjanjikan kepada setiap rasul yang diutus-Nya, bahwa Dia akan menyelamatkan rasul bersama para pengikutnya yang telah beriman. Di samping itu, Allah juga berjanji akan membinasakan kaum kafir dan para pendurhaka di antara kaumnya. Hal ini seperti diterangkan dalam Surah Hud, yang berisi kisah-kisah tentang para nabi dan rasul. Maka dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menepati janji-Nya kepada rasul-rasul yang terdahulu, sehingga mereka bersama umatnya telah diselamatkan-Nya dari kezaliman kaum kafir dan musyrik yang mengingkari agama-Nya, serta mendustakan rasul-rasul-Nya. Demikianlah balasan yang layak untuk mereka. Janji semacam itu akan ditepati-Nya pula terhadap Nabi Muhammad beserta kaum Muslimin yang setia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 10</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mengarahkan firman-Nya kepada seluruh umat manusia, bahwa Dia telah menurunkan kitab Al-Qur&#8217;an ini, yang berisi ajaran dan nilai-nilai yang membahwa kepada kemuliaan mereka baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebab itu selayaknyalah mereka memahami isinya serta mengamalkan dengan cara yang sebaik-baiknya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 11</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa banyak negeri-negeri yang penduduknya zalim, telah dibinasakan, kemudian digantinya penduduk negeri itu dengan kaum yang beriman dan beramal saleh.</p>
<p>Sehubungan dengan ini, Allah telah berfirman dalam ayat yang lain sebagai berikut:</p>
<p>Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. (al-Isra&#8217;/17: 17)</p>
<p>Dan firman-Nya dalam ayat yang lain:</p>
<p>Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya¦ (al-Hajj/22: 45)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 12</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan bagaimana keadaan kaum kafir pada waktu terjadinya malapetaka tersebut, setelah mereka yakin bahwa azab Allah pasti akan menimpa diri mereka sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para nabi dan rasul, maka mereka lari dalam keadaan tunggang langgang, padahal dahulunya mereka dengan penuh kesombongan berkata kepada rasul-rasul mereka, &#8220;Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami ini, atau kamu akan kembali kepada agama kami.&#8221; Sekarang sebaliknya merekalah yang terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka, melarikan diri dari azab Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 13</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan, bahwa ketika mereka lari untuk menyelamatkan diri dari malapetaka yang datang, mereka diperintahkan kembali ke tempat semula, di mana mereka telah merasakan nikmat Allah, untuk kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada mereka, sebagai pertanggung jawaban mereka kepada Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 14</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan apa jawaban kaum kafir itu terhadap perintah di atas, ketika itu barulah mereka menyesal dan mengakui kezaliman yang telah mereka perbuat selama ini. Mereka berkata, &#8220;Aduhai, celaka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.&#8221; Akan tetapi, pengakuan dan penyesalan itu sudah tidak berguna lagi. Azab Allah tidak dapat dielakkan lagi. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 15</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa mereka senantiasa mengulangi keluhan yang semacam itu, namun azab Allah telah menimpa dan membinasakan mereka, sehingga jadilah mereka seperti tanaman yang telah dituai, rusak binasa, dan tidak mungkin hidup kembali.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 16</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya, untuk maksud yang sia-sia atau main-main, melainkan dengan tujuan yang benar, yang sesuai dengan hikmah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.</p>
<p>Pernyataan ini merupakan jawaban terhadap sikap dan perbuatan kaum kafir yang mengingkari kenabian Muhammad saw, serta kemukjizatan Al-Qur&#8217;an. Karena tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepadanya yaitu, bahwa Al-Qur&#8217;an adalah buatan Muhammad, bukan wahyu dan mukjizat yang diturunkan Allah kepadanya. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui ciptaan Allah, seakan-akan Allah menciptakan sesuatu hanya untuk main-main, tidak mempunyai tujuan yang benar dan luhur. Padahal Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya, dan yang ada di antara keduanya, adalah agar manusia menyembah-Nya dan berusaha untuk mengenal-Nya melalui ciptaan-Nya itu. Akan tetapi maksud tersebut baru dapat tercapai dengan sempurna apabila penciptaan alam itu diikuti dengan penurunan Kitab yang berisi petunjuk dan dengan mengutus para rasul untuk membimbing manusia. Al-Qur&#8217;an selain menjadi petunjuk bagi manusia, juga berfungsi sebagai mukjizat terbesar bagi Muhammad saw, untuk membuktikan kebenaran kerasulannya. Oleh sebab itu, orang-orang yang mengingkari kerasulan Muhammad adalah juga orang-orang yang menganggap bahwa Allah menciptakan alam ini dengan sia-sia, tanpa adanya tujuan dan hikmat yang luhur, tanpa ada manfaat dan kegunaannya.</p>
<p>Apabila manusia mau memperhatikan semua yang ada di bumi ini, baik yang tampak di permukaannya, maupun yang tersimpan dalam perut bumi itu, niscaya ia akan menemukan banyak keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah. Jika ia yakin bahwa kesemuanya itu diciptakan Allah untuk kemaslahatan dan kemajuan hidup manusia sendiri, maka ia akan merasa bersyukur kepada Allah, dan meyakini bahwa semuanya itu diciptakan Allah berdasarkan tujuan yang luhur karena semuanya memberikan faedah yang tidak terhitung banyaknya. Bila manusia sampai kepada keyakinan semacam itu, sudah pasti ia tidak akan mengingkari Al-Qur&#8217;an dan tidak akan menolak kerasulan Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Senada dengan isi ayat ini, Allah telah berfirman dalam ayat-ayat yang lain.</p>
<p>Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (shad/38: 27)</p>
<p>Dan firman Allah lagi:</p>
<p>Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (ad- Dukhan/44: 39)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 17</h3>
<p>Untuk memahami dengan tuntas anggapan orang-orang kafir yang keliru itu, maka dalam ayat ini Allah menambah keterangan bahwa jika seandainya Allah menciptakan alam ini dengan maksud main-main, niscaya Allah dapat saja menciptakan permainan-permainan yang sesuai dengan keinginan-Nya, seperti perbuatan raja-raja yang mendirikan istana yang megah-megah dengan singgasana dan tempat-tempat tidur yang empuk. Akan tetapi Allah tidak bermaksud demikian, dan tidak akan berbuat semacam itu. Allah menciptakan langit dan bumi itu adalah untuk kebahagiaan hidup manusia, dan untuk dijadikan sarana berpikir bagi manusia agar mereka meyakini keagungan khalik-Nya dan taat kepada-Nya. Maka Allah menciptakan langit dan bumi adalah dengan hikmat dan tujuan yang tinggi, sesuai dengan ketinggian martabatnya. Sifat main-main dan bersantai-santai adalah sifat makhluk, bukan sifat Allah.</p>
<p>Manusia juga termasuk ciptaan Allah yang telah diciptakan-Nya berdasarkan hikmah dan tujuan yang mulia, dan diberinya kelebihan dari makhluk-makhluk-Nya yang lain. Oleh karena itu manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya, dan Allah akan memberinya balasan pahala atau siksa, sesuai dengan baik dan buruknya perbuatan manusia itu.</p>
<p>Sebagian mufasirin menafsirkan dalam ayat ini dengan arti &#8220;anak&#8221;. Jadi menurut mereka, Jika Allah hendak mengambil anak tentu diambil-Nya dari golongan makhluk-Nya yang sesuai dengan sifat-sifat-Nya, yaitu dari golongan malaikat, umpamanya sebagaimana firman Allah dalam ayat-ayat lain:</p>
<p>Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. (az-Zumar/39: 4)</p>
<p>Sementara mufasir yang lain menafsirkan lahwan dengan arti &#8220;istri&#8221;.</p>
<p>Akan tetapi mempunyai anak istri dan keturunan bukanlah sifat Allah, melainkan sifat-sifat makhluk-Nya; sedang Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Dengan adanya istri dan anak berarti Allah membutuhkan orang lain sementara Allah sama sekali tidak membutuhkan kepada selain-Nya, sehingga adanya istri dan anak menjadi sesuatu yang mustahil bagi-Nya. Maka anggapan sebagian manusia bahwa Allah mempunyai anak, adalah anggapan yang sesat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 18</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia menghancurkan kebatilan dengan kebenaran, sehingga kebenaran itu menghancurkan kebatilan tersebut, sampai lenyap sama sekali. Yang dimaksud dengan kebatilan di sini ialah sifat-sifat dan perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna, termasuk sifat main-main dan berolok-olok. Sedang yang dimaksud dengan kebenaran di sini, ialah sifat-sifat dan perbuatan yang bersungguh-sungguh dan bermanfaat.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah memberikan peringatan keras kepada kaum kafir, bahwa azab dan malapetaka disediakan untuk mereka, karena mereka telah menghubungkan sifat-sifat yang jelek kepada Allah yaitu sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, misalnya bermain-main dalam menciptakan makhluk-Nya, Allah mempunyai anak, istri, dan lain-lainnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 19</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mengingatkan kembali tentang kekuasaan-Nya yang mutlak, baik di langit maupun di bumi, yaitu bahwa Dialah yang menciptakan, menguasai, mengatur, mengelola, menghidupkan, mematikan, memberikan pahala dan menimpakan azab kepada makhluk-Nya. Tidak ada selain Allah yang mempunyai wewenang dan hak untuk campur tangan dalam masalah tersebut. Demikian pula kekuasaan-Nya terhadap makhlukmakhluk-Nya yang berada di sisi-Nya, yaitu para malaikat muqarrabin, yang diberi-Nya kedudukan yang mulia, patuh dan taat serta beribadah kepada-Nya tanpa henti-hentinya, dan tidak merasa lelah atau letih dalam mengabdi kepada-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 20</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjelaskan bagaimana caranya para malaikat itu beribadah kepada-Nya, yaitu dengan senantiasa bertasbih siang dan malam dengan tidak putus-putusnya.</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman tentang para malaikat ini:</p>
<p>Yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (at-Tahrim/66: 6)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 21</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menunjukkan kesesatan dan kebodohan kaum musyrikin, karena mereka tidak berpegang kepada ajaran tauhid, bahkan menyembah &#8220;tuhan-tuhan yang berasal dari bumi,&#8221; yaitu patung-patung yang merupakan benda mati, yang dibuat oleh tangan mereka sendiri yang berasal dari benda-benda bumi. Sudah pasti, bahwa benda mati tidak akan dapat memelihara dan mengelola makhluk hidup apalagi menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Sedang Tuhan kuasa berbuat demikian.</p>
<p>Patung-patung yang mereka sembah itu dalam ayat ini disebut sebagai &#8216;tuhan-tuhan dari bumi. Ini menunjukkan betapa rendahnya martabat tuhan mereka itu, sebab tuhan-tuhan tersebut mereka buat dari tanah, atau dari benda-benda yang lain yang terdapat di bumi ini, dan hanya disembah oleh manusia. Sedang Tuhan yang sebenarnya, disembah oleh seluruh makhluk, baik di bumi maupun di langit.</p>
<p>Dengan demikian jelaslah betapa sesatnya kepercayaan dan perbuatan kaum musyrikin itu, karena mereka mempertuhankan apa-apa yang tidak sepantasnya untuk dipertuhankan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 22</h3>
<p>Pada ayat ini Allah memberikan bukti yang rasional berdasarkan kepada benarnya kepercayaan tauhid dan keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, yaitu seandainya di langit dan di bumi ada dua tuhan, niscaya rusaklah keduanya, dan binasalah semua makhluk yang ada di antara keduanya. Sebab, jika seandainya ada dua tuhan, maka ada dua kemungkinan yang terjadi:</p>
<p>Pertama, Bahwa kedua tuhan itu mungkin tidak sama pendapat dan keinginan mereka dalam mengelola dan mengendalikan alam ini, lalu keinginan mereka yang berbeda itu semuanya terlaksana, di mana yang satu ingin menciptakan, sedang yang lain tidak ingin menciptakan, sehingga alam ini terkatung-katung antara ada dan tidak. Atau hanya keinginan pihak yang satu saja yang terlaksana, maka tuhan yang satu lagi tentunya menganggur dan berpangku tangan. Keadaan semacam ini tidak pantas bagi tuhan.</p>
<p>Kedua, Bahwa tuhan-tuhan tersebut selalu sepakat dalam menciptakan sesuatu, sehingga setiap makhluk diciptakan oleh dua pencipta. Ini menunjukkan ketidak mampuan masing-masing tuhan itu untuk menciptakan sendiri makhluk-makhluknya. Ini juga tidak patut bagi tuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan yang benar adalah mengimani tauhid yang murni kepada Allah, tidak ada sesuatu yang berserikat dengan-Nya dalam mencipta dan memelihara alam ini. Kepercayaan inilah yang paling sesuai dengan akal yang sehat.</p>
<p>Dengan demikian, keyakinan dalam Islam bertentangan baik dengan ajaran atheisme maupun ajaran polytheisme.</p>
<p>Setelah mengemukakan dalil yang rasional, maka Allah menegaskan bahwa Dia Mahasuci dari semua sifat-sifat yang tidak layak yang dihubungkan kepada-Nya oleh kaum musyrikin, misalnya bahwa Dia mempunyai anak, atau sekutu dalam menciptakan, mengatur, mengelola dan memelihara makhluk-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 23</h3>
<p>Untuk memperkuat keterangan bahwa Allah Mahasuci dari sifat-sifat yang tidak layak bagi Tuhan, maka dalam ayat ini Allah menyebutkan kekuasaan-Nya yang mutlak atas segala makhluk-Nya, sehingga tidak seorang pun berwenang untuk menanyakan, memeriksa atau meminta pertanggung jawaban-Nya atas setiap perbuatannya. Bahkan ditegaskan, bahwa manusialah yang akan diminta pertanggungjawabannya atas setiap perbuatannya. Hal ini disebabkan Allah-lah Hakim dan Penguasa yang sebenarnya. Allah menciptakan segala sesuatu senantiasa berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang tinggi, serta kasih sayang dan keadilan-Nya kepada hamba-Nya.</p>
<p>Dalam hubungan ini, Allah telah berfirman dalam ayat lain:</p>
<p>Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (al-Hijr/15: 92-93)</p>
<p>Firman-Nya lagi:</p>
<p>Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab-Nya), jika kamu mengetahui? (al-Mu&#8217;minun/23: 88)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 24</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menegaskan kembali bantahan-Nya terhadap kaum musyrikin mengenai kepercayaan mereka bahwa Allah mempunyai sekutu, atau ada tuhan yang lain selain Allah. Setelah mereka diberikan bukti-bukti dan dalil-dalil yang jelas tentang kemahaesaan Allah, mereka kemudian ditanya, apakah mereka masih belum percaya, dan masih mengambil tuhan-tuhan selain Allah? Ini menunjukkan kebodohan dan keingkaran mereka yang bukan kepalang. Sebab, kalau bukan demikian, niscaya mereka segera menganut kepercayaan tauhid dan membuang kepercayaan syirik, setelah memperoleh keterangan dan bukti-bukti yang begitu jelas.</p>
<p>Selanjutnya dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan tantangan kepada kaum musyrik itu, bahwa jika mereka masih saja memegang kepercayaan syirik dan menolak ajaran tauhid, hendaklah mereka mengemukakan pula dalil dan keterangan yang membuktikan kebenaran kepercayaan mereka itu.</p>
<p>Akan tetapi, tantangan itu tidak akan pernah mereka jawab, baik berdasarkan dalil-dalil yang berdasarkan akal (rasionil), maupun dengan bukti-bukti yang berupa ajaran yang terdapat dalam Injil, Taurat, atau pun Zabur.</p>
<p>Tantangan itu mengandung pengertian bahwa jika orang-orang musyrik berpendapat bahwa kepercayaannya itu benar, hendaklah mereka menunjukkan bukti dan dalilnya, karena pada mereka ada Al-Qur&#8217;an yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Taurat yang diturunkan-Nya kepada Nabi Musa, serta Zabur yang diturunkan-Nya kepada Nabi Daud. Tunjukkanlah sebuah ayat yang terdapat dalam kitab-kitab suci tersebut yang membenarkan kepercayaan syirik.</p>
<p>Sudah pasti, mereka tidak akan dapat menunjukkan bukti yang dimaksudkan itu, karena semua kitab suci tersebut hanyalah mengajarkan kepercayaan tauhid, dan tidak membenarkan kepercayaan syirik. Ini membuktikan, bahwa agama Islam dan semua agama yang disampaikan oleh para rasul sebelum Muhammad, dasarnya adalah sama, yaitu kepercayaan tauhid yang murni kepada Allah. Hanya saja, setelah para rasul itu wafat, sebagian umatnya meninggalkan kepercayaan tauhid, dan kembali kepada kepercayaan syirik, karena kebanyakan mereka tidak mengetahui yang benar, oleh sebab itulah mereka berpaling dari kebenaran kitab suci mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 25</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menegaskan, bahwa setiap rasul yang diutus sebelum Muhammad saw adalah manusia yang telah diberi-Nya wahyu yang bertugas mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Oleh sebab itu menjadi kewajiban bagi manusia untuk menyembah Allah semata-mata. Dan tidak ada satu dalil pun, baik dalil berdasarkan akal, atau pun dalil yang diambilkan dari kitab-kitab suci yang disampaikan oleh semua rasul-rasul Allah, yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 26</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebutkan tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah. Kemudian Allah membantah tuduhan itu dengan menegaskan bahwa Dia Mahasuci dari tuduhan itu, dan para malaikat itu adalah hamba-hamba-Nya yang diberi kemuliaan.</p>
<p>Mempunyai anak adalah salah satu gejala alam atau makhluk yang bersifat “baru” sedang Allah adalah bersifat “Qid?m” (dahulu). Dan juga merupakan gejala adanya hajat terhadap kehidupan berkeluarga dan berke¬turun¬an, yang juga merupakan salah satu sifat yang ada pada makhluk, sedang Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Di samping itu, anak tentu mempunyai persamaan dengan ayahnya dalam satu segi, dan mempunyai perbedaan dalam segi lain. Sebab itu, jika benar malaikat adalah anak Allah, maka ia juga ikut disembah, padahal Allah telah menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah dan para malaikat itu selalu menyembah atau beribadat kepada Allah.</p>
<p>Ringkasnya, malaikat bukanlah anak Allah, melainkan hamba¬hamba-Nya, hanya saja mereka itu merupakan hamba-hamba Allah yang di¬beri kemuliaan dan tempat yang dekat kepada Allah serta diberi kelebihan atas semua makhluk, karena ketaatan mereka dalam beribadah kepada-Nya me¬lebihi makhluk-makhluk yang lain. Tetapi manusia yang beriman, taat dan saleh lebih mulia daripada malaikat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 27</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebutkan tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah. Kemudian Allah membantah tuduhan itu dengan menegaskan bahwa Dia Mahasuci dari tuduhan itu, dan para malaikat itu adalah hamba-hamba-Nya yang diberi kemuliaan.</p>
<p>Mempunyai anak adalah salah satu gejala alam atau makhluk yang bersifat &#8220;baru&#8221; sedang Allah adalah bersifat &#8220;Qidam&#8221; (dahulu). Dan juga merupakan gejala adanya hajat terhadap kehidupan berkeluarga dan berketurunan, yang juga merupakan salah satu sifat yang ada pada makhluk, sedang Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Di samping itu, anak tentu mempunyai persamaan dengan ayahnya dalam satu segi, dan mempunyai perbedaan dalam segi lain. Sebab itu, jika benar malaikat adalah anak Allah, maka ia juga ikut disembah, padahal Allah telah menegaskan bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah dan para malaikat itu selalu menyembah atau beribadat kepada Allah.</p>
<p>Ringkasnya, malaikat bukanlah anak Allah, melainkan hamba-hamba-Nya, hanya saja mereka itu merupakan hamba-hamba Allah yang diberi kemuliaan dan tempat yang dekat kepada Allah serta diberi kelebihan atas semua makhluk, karena ketaatan mereka dalam beribadah kepada-Nya melebihi makhluk-makhluk yang lain. Tetapi manusia yang beriman, taat dan saleh lebih mulia daripada malaikat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 28</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan mengapa para malaikat itu demikian patuh dan taat kepada-Nya ialah karena para malaikat itu yakin bahwa Allah senantiasa mengetahui apa-apa yang telah ada dan sedang mereka kerjakan, sehingga tidak satu pun yang luput dari pengetahuan dan pengawasan-Nya. Oleh karena itu mereka senantiasa beribadah dan mematuhi segala perintah-Nya.</p>
<p>Selanjutnya, dalam ayat ini Allah menerangkan sifat lainnya dari para malaikat itu ialah mereka tidak akan memberikan syafaat kepada siapa pun, kecuali kepada orang-orang yang diridai Allah. Oleh sebab itu, janganlah seseorang mengharap akan memperoleh syafaat atau pertolongan dari malaikat pada hari akhirat kelak, bila ia tidak memperoleh rida Allah terlebih dahulu.</p>
<p>Di samping itu, para malaikat tersebut senantiasa berhati-hati, disebabkan takut pada murka Allah dan siksa-Nya. Oleh sebab itu, mereka senantiasa menjauhkan diri dari mendurhakai-Nya atau menyalahi perintah dan larangan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 29</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menjelaskan ketentuan-Nya yang berlaku terhadap para malaikat dan siapa saja di antara makhluk-Nya yang mengaku dirinya sebagai tuhan selain Allah. Ketentuannya ialah bahwa siapa saja di antara mereka itu berkata, &#8220;Aku adalah tuhan selain Allah,&#8221; maka dia akan diberi balasan siksa dengan api neraka Jahannam, karena pengakuan semacam itu adalah kemusyrikan yang sangat besar, karena selain mempersekutukan Allah, juga menyamakan derajat dirinya dengan Allah. Demikianlah caranya Allah membalas perbuatan orang-orang yang zalim.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 30</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa kaum musyrikin dan kafir Mekah tidak memperhatikan keadaan alam ini, dan tidak memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam yang luas ini, padahal dari berbagai peristiwa yang ada di alam ini dapat diperoleh bukti-bukti tentang adanya Allah serta kekuasaan-Nya yang mutlak. Langit dan bumi yang dulunya merupakan suatu kesatuan yang padu, kemudian Allah pisahkan keduanya. Bumi sebelum menjadi tempat hidupnya berbagai makhluk hidup adalah sebuah satelit yaitu benda angkasa yang mengitari matahari. Satelit bumi yang semula panas sekali ini karena berputar terus menerus maka lama kelamaan menjadi dingin dan berembun. Embun yang lama menjadi gumpalan air. Inilah yang menjadi sumber kehidupan makhluk.</p>
<p>Menurut para Ilmuan sains dan teknologi, ada tiga pendapat yang terkait dengan kehidupan yang dimulai dari air, yaitu: Pertama, Kehidupan dimulai dari air, dalam hal ini laut. Teori modern tentang asal mula kehidupan belum secara mantap disetujui sampai sekitar dua atau tiga abad yang lalu. Sebelum itu, teori yang mengemuka mengenai asal mula kehidupan adalah suatu konsep yang diberi nama &#8220;generasi spontan&#8221;. Dalam konsep ini disetujui bahwa mahluk hidup ada dengan spontan ada dari ketidakadaan. Teori ini kemudian ditentang oleh beberapa ahli di sekitar tahun 1850-an, antara lain oleh Louis Pasteur. Dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh Huxley dan sampai penelitian masa kini, teori lain ditawarkan sebagai alternatif.</p>
<p>Teori ini percaya bahwa kehidupan muncul dari rantai reaksi kimia yang panjang dan komplek. Rantai kimia ini dipercaya dimulai dari dalam air laut, karena kondisi atmosfer saat itu belum berkembang menjadi kawasan yang dapat dihuni mahluk hidup karena radiasi ultraviolet yang terlalu kuat. Diperkirakan, kehidupan bergerak menuju daratan pada 425 juta tahun yang lalu saat lapisan ozon mulai ada untuk melindungi permukaan bumi dari radiasi ultraviolet.</p>
<p>Kedua, Peran air bagi kehidupan dapat juga diekspresikan dalam bentuk bahwa semua benda hidup, terutama kelompok hewan, berasal dari cairan sperma. Diindikasikan bahwa keanekaragaman binatang &#8220;datangnya&#8221; dari air tertentu (sperma) yang khusus dan menghasilkan yang sesuai dengan ciri masing-masing binatang yang dicontohkan</p>
<p>Ketiga, Pengertian ketiga adalah bahwa air merupakan bagian yang penting agar makhluk dapat hidup. Pada kenyataannya, memang sebagian besar bagian tubuh makhluk hidup terdiri dari air. Misalnya saja pada manusia, 70% bagian berat tubuhnya tubuhnya terdiri dari air. Manusia tidak dapat bertahan lama apabila 20% saja dari sediaan air yang ada di tubuhnya hilang. Manusia dapat bertahan hidup selama 60 hari tanpa makan, akan tetapi mereka akan segera mati dalam waktu 3-10 hari tanpa minum. Juga diketahui bahwa air merupakan bahan pokok dalam pembentukan darah, cairan limpa, kencing, air mata, cairan susu dan semua organ lain yang ada di dalam tubuh manusia.</p>
<p>Dari uraian di atas, sangat jelas peran air bagi kehidupan, dari mulai adanya makhluk hidup di bumi (berasal dari kedalaman laut), bagi ke-langsungan hidupnya (air diperlukan untuk pembentukan organ dan menjalankan fungsi organ) dan memulai kehidupan (terutama bagi kelompok hewan “ air tertentu yang khusus “ sperma).</p>
<p>Akan tetapi, perlu diberikan catatan di sini, bahwa Al-Qur&#8217;an bukanlah memberikan peluang khusus untuk mendukung teori evolusi. Walaupun semua ayat di atas memberikan indikasi yang tidak meragukan bahwa Allah menciptakan semua mahluk hidup dari air. Ayat terkait an-Nur/24:25, al-Furqan/25: 54.</p>
<p>Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa Al-Qur&#8217;an benar-benar merupakan mukjizat yang besar. Kemukjizatannya tidak hanya terletak pada gaya bahasa dan rangkuman yang indah, melainkan juga pada isi yang terkandung dalam ayat-ayatnya, yang mengungkapkan bermacam-macam ilmu pengetahuan yang tinggi nilainya, terutama mengenai alam, dengan berbagai jenis dan sifat serta kemanfaatannya masing-masing. Apalagi jika diingat bahwa Al-Qur&#8217;an telah mengemukakan semuanya itu pada abad yang keenam sesudah wafatnya Nabi Isa, di saat manusia di dunia ini masih diliputi suasana ketidaktahuan dan kesesatan. Lalu dari manakah Nabi Muhammad dapat mengetahui semuanya itu, kalau bukan dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya?</p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan modern dalam berbagai bidang membenarkan dan memperkokoh apa yang telah diungkapkan oleh Al-Qur&#8217;an sejak lima belas abad yang lalu. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan itu seharusnya mengantarkan manusia kepada keimanan terhadap apa yang diajarkan oleh Al-Qur&#8217;an, terutama keimanan tentang adanya Allah serta semua sifat-sifat kesempurnaan-Nya.</p>
<p>Setelah menghidangkan ilmu pengetahuan tentang kejadian alam ini, yaitu langit dan bumi, selanjutnya dalam ayat ini Allah mengajarkan pula suatu prinsip ilmu pengetahuan yang lain, yaitu mengenai kepentingan fungsi air bagi kehidupan semua mahluk yang hidup di alam ini, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Maka Allah berfirman, &#8220;&#8230; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.&#8221;</p>
<p>Pada masa sekarang ini, tidak ada orang yang akan mengingkari pentingnya air bagi manusia, baik untuk bermacam-macam keperluan hidup manusia sendiri, maupun untuk keperluan binatang ternaknya, atau pun untuk kepentingan tanam-tanaman dan sawah ladangnya, sehingga orang melakukan bermacam-macam usaha irigasi, untuk mencari sumber air dan penyimpanan serta penyalurannya. Banyak bendungan-bendungan dibuat untuk mengumpulkan dan menyimpan air, yang kemudian disalurkan ke berbagai tempat untuk berbagai macam keperluan. Bahkan di negeri-negeri yang tidak banyak mempunyai sumber air, mereka berusaha untuk mengolah air laut menjadi air tawar, untuk mengairi sawah ladang dan memberi minum binatang ternak mereka. Ringkasnya manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup tanpa air.</p>
<p>Manusia dan hewan sanggup bertahan hidup berhari-hari tanpa makan, asalkan ia mendapat minum. Akan tetapi ia tidak akan dapat hidup tanpa mendapatkan minum beberapa hari saja. Demikian pula halnya tumbuh-tumbuhan. Apabila ia tidak mendapat air, maka akar dan daunnya akan menjadi kering, dan akhirnya mati sama sekali. Di samping itu, manusia dan hewan, selain memerlukan air untuk hidupnya, ia juga berasal dari air, yang disebut &#8220;nuthfah&#8221;.</p>
<p>Dengan demikian air adalah merupakan suatu unsur yang sangat vital bagi kejadian dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, apabila manusia sudah meyakini pentingnya air bagi kehidupannya, dan meyakini pula bahwa air tersebut adalah salah satu dari nikmat Allah, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak beriman kepada Allah serta untuk mengingkari nikmat-Nya yang tidak ternilai harganya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah mengingatkan kita semua, apakah dengan kemahakuasaan Allah ini manusia masih tidak mau beriman? Manusia yang memiliki akal dan mau mempergunakan akalnya seharusnya dapat memahami isi alam ini dan kemudian menjadi orang yang beriman.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 31</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan serta dataran-dataran luas yang ada di bumi ini. Allah menerangkan bahwa diciptakannya gunung-gunung yang kokoh supaya bumi dalam putarannya yang cepat sekali itu tetap mantap dengan terpelihara dan terjaganya manusia dan semua makhluk di muka bumi ini. Permukaan bumi yang luasnya 510 juta kilometer persegi yang terdiri dari daratan 29% yaitu seluas 153 juta kilometer persegi dan 71% yaitu seluas 357 juta kilometer persegi adalah air. Maka gunung-gunung yang tingginya sampai 3-5 km dari permukaan laut dapat menjaga ketenangan penghuni bumi meskipun berputar dengan cepat sekali. </p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menerangkan semua makhluk dapat dengan tenang menjalani kehidupan, berbagai jalan telah dibuat sehingga siang maupun malam manusia dapat berjalan menelusuri lembah maupun dataran tinggi. Semua itu diharapkan manusia dapat memperoleh petunjuk yang benar, yaitu dapat memahami petunjuk-petunjuk Allah baik yang diberikan melalui wahyu yang tertulis maupun petunjuk Allah yang berupa alam yang luas membentang ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 32</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia kepada benda-benda langit, yang diciptakan-Nya sedemikian rupa sehingga masing-masing berjalan dan beredar dengan teratur, tanpa jatuh berguguran atau bertabrakan satu sama lainnya. Semua itu dipelihara dengan suatu kekuatan yang disebut &#8220;daya tarik menarik&#8221; antara benda-benda langit itu, termasuk matahari dan bumi. Ini juga merupakan bukti yang nyata tentang wujud dan kekuasaan Allah. Akan tetapi banyak orang tidak memperhatikan bukti-bukti tersebut.</p>
<p>Padahal kalau kita naik pesawat terbang di atas ketinggian 10.000 mil, kita melihat awan di bawah kita, hujan yang turun pun di bawah kita, sehingga tampak jelas bumi ini dilapisi langit yang sangat kuat dan atmosfir bumi serta zat oksigen yang diperlukan manusia dan berbagai makhluk tumbuh-tumbuhan dan hewan tetap terpelihara dibatasi oleh langit yang sangat kuat terjaga itu.</p>
<p>Menurut para saintis, ayat ini menegaskan bahwa langit adalah atap yang terpelihara. Sebagaimana layaknya sebuah atap, langit berfungsi untuk melindungi segala sesuatu yang ada di bawahnya, termasuk manusia. Berbeda dengan bulan, karena ia tidak memiliki pelindung, maka kita mendapatkan permukaan bulan sangat tidak rata, dipenuhi dengan kawah-kawah akibat tumbukan dengan meteor. Atmosfer bumi menghancurkan semua meteor yang mendekati bumi dan memfilter sinar yang berbahaya, yang berasal dari ledakan energi fusi di matahari. Atmosfer hanya membiarkan masuk sinar, gelombang radio yang tidak berbahaya. Sinar ultra violet misalnya. Sinar ini hanya dibiarkan masuk dalam kadar tertentu yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesa, dan pada gilirannya memberikan manfaat bagi manusia. Dalam lapisan atmosfer, terdapat sebuah pelindung yang disebut &#8220;Sabuk radiasi Van Allen&#8221; yang melindungi bumi dari benda-benda langit yang menuju bumi. Demikianlah, langit telah berperan sebagai atap pelindung bagi mahluk di muka bumi.</p>
<p>Atap langit ini akan terus terpelihara selama bumi ini ada, karena lapisan-lapisan pelindung ini terkait dengan struktur inti bumi. Sabuk Van Allen dihasilkan dari interaksi medan magnet yang dihasilkan oleh inti bumi. Inti bumi banyak mengandung logam-logam magnetik, seperti besi dan nikel. Nukleusnya sendiri terdiri dari dua bagian, inti dalamnya padat dan inti luarnya cair. Kedua lapisan ini masing-masing berputar seiring dengan rotasi bumi. Perputaran ini menimbulkan efek magnetik pada logam-logam dalam struktur bumi yang pada gilirannya membentuk medan magnetik. Sabuk Van Allen merupakan perpanjangan dari medan magnet ini yang terbentang sampai lapisan atmosfer terluar.</p>
<p>Betapa ilmu dan kebijaksanaan Allah yang selalu melindungi mahluk ciptaan-Nya. Mengapa hal-hal demikian tidak dipahami oleh banyak manusia, sehingga mereka masih berpaling dari kebenaran dan kekuasaan Allah, padahal begitu jelas tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 33</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam. Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.</p>
<p>Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.</p>
<p>Ayat ini menegaskan kembali apa yang telah Allah firmankan dalam Surah Ibrahim/14:33. Secara luas telah diketahui bahwa matahari dan bulan memiliki &#8220;garis edar&#8221;. Akan tetapi untuk &#8220;masing-masing dari keduanya (siang dan malam) beredar pada garis edarnya&#8221;, merupakan sesuatu yang baru dipahami. Mengapa siang dan malam harus beredar pada garis edar (orbit- manzilah), dan apa bentuk garis orbitnya ?</p>
<p>Setelah dipelajari, ternyata bahwa yang dimaksud dengan &#8220;garis edar&#8221; ialah tempat kedudukan dari tempat-tempat di bumi yang mengalami pergantian siang ke malam, atau mengalami terbenamnya matahari (gurub). Sepanjang garis khatulistiwa garis ini bergeser dari Timur ke Barat seiring dengan urutan tempat-tempat terbenamnya matahari atau pergantian siang ke malam.</p>
<p>Waktu terbenamnya matahari juga akan bergeser seiring dengan gerakan semu matahari terhadap bumi dari utara ke selatan dan sebaliknya. Pergeseran waktu magrib ini juga bergeser dan membentuk tempat kedudukannya sendiri yang dapat dikatakan sebagai garis edar tahunan dari pergantian siang ke malam. Pada hari-hari tertentu (pada awal bulan) saat terbenam matahari itu juga merupakan awal dari terlihatnya hilal (sabit awal bulan). Sabit ini sangat tipis dan suram sehingga sangat sulit diamati (ruyah). Waktu terbitnya hilal ini akan bergeser dari Timur ke Barat, dan sebagaimana halnya pergantian siang ke malam, garis edarnya juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya di permukaan bumi. Bila dipetakan maka tempat kedudukan tempat-tempat waktu terbitnya hilal itu sama dengan waktu terbenamnya matahari itu akan membentuk spiral yang memotong permukaan bumi dua bahkan sampai tiga</p>
<p>Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat di atas adalah untuk menjadi bukti-bukti alamiyah, di samping dalil-dalil yang rasional dan keterangan-keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, tentang wujud dan kekuasaan Allah, untuk memperkuat apa yang telah disebutkan-Nya dalam firman-Nya yang terdahulu, bahwa &#8220;apabila&#8221; di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah keduanya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 34</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Muhammad sebagai manusia adalah sama halnya dengan manusia lainnya, yaitu bahwa ia tidak akan kekal hidup di dunia ini. Allah belum pernah memberikan kehidupan duniawi yang kekal kepada siapa pun sebelum lahirnya Nabi Muhammad. Walaupun dia adalah Nabi dan Rasul-Nya, namun ia pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini apabila ajalnya sudah datang. Dan mereka pun demikian pula, tidak akan kekal di dunia ini selama-lamanya. Inilah salah satu segi dari keadilan Allah terhadap semua mahluk-Nya, dan merupakan Sunnah-Nya yang berlaku sepanjang masa.</p>
<p>Dalam ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul&#8230;. (Ali &#8216;Imran/3: 144)</p>
<p>Maka ayat ini menyatakan lebih tegas, bahwa Nabi Muhammad akan meninggalkan dunia yang fana ini, sebagaimana halnya rasul-rasul yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi, walaupun ia suatu ketika meninggal dunia, namun agama Islam yang telah dikembangkannnya akan tetap ada dan semakin berkembang, karena Allah telah memberikan jaminan untuk kemenangannya. Sebab itu adalah sangat keliru, bila kaum musyrikin mengharapkan bahwa dengan wafatnya Nabi Muhammad maka agama Islam akan terhenti perkembangannya, dan dakwah Islamiah akan mereda. Kenyataan sejarah kemudian menunjukkan bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad dakwah Islamiah berjalan terus sehingga agama Islam berkembang jauh melampaui batas-batas jazirah Arab, baik ke Timur, Utara, maupun ke Barat dan Selatan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 35</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyatakan lebih tegas lagi, bahwa setiap mahluk-Nya yang hidup atau bernyawa pasti akan merasakan mati. Tidak satu pun yang kekal, kecuali dia sendiri, dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:</p>
<p>Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (al-Qashash/28: 88)</p>
<p>Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan cobaan yang ditimpakan Allah kepada manusia tidak hanya berupa hal-hal yang buruk, atau musibah yang tidak disenangi, bahkan juga ujian tersebut dapat pula berupa kebaikan atau keberuntungan. Apabila ujian atau cobaan itu berupa musibah, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap dan keimanan manusia, apakah ia sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan itu. Dan apabila cobaan itu berupa suatu kebaikan, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap mental manusia, apakah ia mau bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.</p>
<p>Jika seseorang bersikap sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan atau musibah, serta bersyukur kepada-Nya dalam menerima suatu kebaikan dan keberuntungan, maka dia adalah termasuk orang yang memperoleh kemenangan dan iman yang kuat serta mendapat keridaan-Nya. Sebaliknya, bila keluh kesah dan rusak imannya dalam menerima cobaan Allah, atau lupa daratan ketika menerima rahmat-Nya sehingga ia tidak bersyukur kepada-Nya, maka orang tersebut adalah termasuk golongan manusia yang merugi dan jauh dari rida Allah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman-Nya pada ayat lain:</p>
<p>Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma&#8217;arij/70: 19-22)</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa bagaimana pun juga tingkah laku manusia dalam menghadapi cobaan atau dalam menerima rahmat-Nya, namun akhirnya segala persoalan kembali kepada-Nya juga. Dialah yang memberikan balasan, baik pahala maupun siksa, atau memberikan ampunan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 36</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan sikap dan kelakuan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad, yaitu bahwa setiap kali mereka melihatnya, maka mereka menjadikan Nabi sebagai sasaran olok-olokan dan ejekan mereka, seraya berkata kepada sesama mereka, &#8220;Inikah orangnya yang mencela tuhan kamu? Padahal merekalah orang-orang yang ingkar dari mengingat Allah.&#8221;</p>
<p>Demikianlah ejekan mereka terhadap Rasulullah. Dan mereka tidak menginsafi bahwa yang sebenarnya merekalah yang selayaknya menerima ejekan, karena mereka menyembah patung-patung dan berhala, yang tidak kuasa berbuat apapun untuk mereka, bahkan tangan mereka sendirilah yang membuat tuhan-tuhan mereka itu sehingga mereka yang menjadi khalik sedang tuhan-tuhan mereka menjadi makhluk yang diciptakan. Dengan demikian, keadaan menjadi terbalik daripada yang semestinya, karena tuhan semestinya sebagai pencipta bukan yang diciptakan.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 37</h3>
<p>Pada ayat ini, mula-mula Allah menerangkan bahwa manusia dijadikan sebagai mahluk yang bertabiat suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Kemudian Allah memperingatkan kaum kafir agar mereka jangan meminta disegerakannya azab yang diancamkan kepada mereka, karena Allah pasti akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda dari azab-Nya itu.</p>
<p>Di sini dapat kita ketahui bahwa Allah melarang manusia untuk bersifat tergesa-gesa, meminta segera didatangkannya sesuatu yang belum tiba saatnya, dan pasti datangnya. Di samping itu Allah menerangkan bahwa walaupun sifat tergesa-gesa itu sudah dijadikan-Nya sebagai salah satu sifat pada manusia, namun manusia telah diberi kemampuan untuk menahan diri dan mengatasi sifat tersebut, dengan cara membiasakan diri bersikap tenang, sabar, dan mawas diri.</p>
<p>Sifat tergesa-gesa dan terburu nafsu selalu menimbulkan akibat yang tidak baik serta merugikan baik diri sendiri atau orang lain, yang akhirnya akan menimbulkan rasa penyesalan yang tidak berkesudahan. Sebaliknya, sikap tenang, sabar, berhati-hati dan mawas diri dapat menyampaikan seseorang kepada apa yang ditujunya, dan mencapai sukses yang gemilang dalam hidupnya. Itulah sebabnya Al-Qur&#8217;an selalu memuji orang-orang yang bersifat sabar, dan menjanjikan kepada mereka bahwa Allah senantiasa akan memberikan perlindungan, petunjuk dan pertolongan kepada mereka. Sedang orang-orang yang suka terburu-buru, lekas marah, mudah teperdaya oleh godaan iblis yang akan menjerumuskannya ke jurang kebinasaan, dan menyeleweng dari kebenaran akan mendapat kerugian.</p>
<p>Permintaan orang-orang kafir agar azab Allah segera didatangkan kepada mereka, dengan jelas menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap adanya azab tersebut, serta keingkaran mereka bahwa Allah kuasa menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 38</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah memperlihatkan betapa nekadnya kaum kafir itu, ketika mereka berkata kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dengan sikap menantang, &#8220;Kapankah azab akhirat yang dijanjikan itu akan datang? Jika ancaman itu benar, cobalah perlihatkan sekarang juga!&#8221;</p>
<p>Mereka meminta segera didatangkan azab Allah kepadanya, ucapan itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak percaya sama sekali tentang adanya azab tersebut. Dengan sendirinya, mereka juga tidak percaya tentang hari akhirat, serta kekuasaan Allah untuk memperhitungkan dan membalas perbuatan manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 39</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah memperlihatkan betapa nekadnya kaum kafir itu, ketika mereka berkata kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dengan sikap menantang, &#8220;Kapankah azab akhirat yang dijanjikan itu akan datang? Jika ancaman itu benar, cobalah perlihatkan sekarang juga!&#8221;</p>
<p>Mereka meminta segera didatangkan azab Allah kepadanya, ucapan itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak percaya sama sekali tentang adanya azab tersebut. Dengan sendirinya, mereka juga tidak percaya tentang hari akhirat, serta kekuasaan Allah untuk memperhitungkan dan membalas perbuatan manusia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 40</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa seandainya kaum kafir itu mengetahui, bahwa kelak mereka tidak akan berdaya untuk mengelakkan diri dari azab api neraka yang akan menyerbu mereka dari segala arah, niscaya mereka tidak akan berkata demikian. Oleh sebab itu, tantangan mereka agar azab tersebut didatangkan segera kepada mereka, adalah betul-betul timbul dari kebodohan dan keingkaran mereka, karena mereka menutup diri terhadap ajaran-ajaran yang benar, yang disampaikan oleh Rasulullah.</p>
<p>Adanya azab dan hari Kiamat yang datang secara tiba-tiba itu agar dijadikan peringatan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan untuk tetap mengfokuskan perhatian kepada pengamalan agama, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah. (ar-Rum/30: 43)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 41</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa azab akhirat yang diancamkan kepada kaum kafir itu pasti akan terjadi, bahkan akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan tak terduga, sehingga menyebabkan mereka menjadi panik tidak sanggup menyelamatkan diri. Dan mereka benar-benar tidak akan diberi tenggang waktu dan kesempatan untuk bersiap-siap guna menyelamatkan diri daripadanya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad yang selalu mendapat ejekan dari kaum kafir, Allah menegaskan bukan dia saja yang pernah diejek oleh kaum kafir itu. Bahkan semua rasul yang diutus Allah sebelumnya juga menjadi sasaran ejekan kaumnya. Akan tetapi azab yang dahulu mereka perolok-olokkan itu akhirnya datang melanda mereka. Dan tidak seorang pun dapat menyelamatkan mereka dari azab yang dahsyat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 42</h3>
<p>Dengan ayat ini Allah menyuruh Nabi untuk menjawab ejekan itu dengan cara mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang siapakah yang dapat memelihara dan melindungi mereka dari azab Allah, baik pada waktu malam maupun pada waktu siang?</p>
<p>Pertanyaan itu dimaksudkan untuk menyadarkan mereka, bahwa tidak seorang pun kuasa untuk melindungi mereka dari siksa dan azab Allah, karena Dia Mahakuasa untuk berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Andaikata mereka selalu ingat tentang iradah dan kekuasaan Allah, niscaya mereka tidak akan mengejek atau menantang semacam itu. Akan tetapi karena mereka adalah orang-orang yang telah berpaling dari mengingat Allah dan kekuasaan-Nya, maka itulah sebabnya mengapa mereka mengejek Rasul-Nya dan menantang dengan sikap yang angkuh agar azab tersebut segera ditimpakan kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 43</h3>
<p>Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, di mana Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mengajukan pertanyaan kepada kaum kafir, untuk menyadarkan mereka tentang kekuasaan Allah. Isi pertanyaan yang disebutkan dalam ayat ini adalah, &#8220;Apakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari azab Allah? Tuhan-tuhan yang mereka sembah sudah pasti tidak mampu menolong mereka, bahkan menolong dirinya sendiri pun tidak mampu. Pada akhir ayat ini Allah menegaskan kembali, bahwa tuhan-tuhan yang disembah mereka itu tidak akan luput dari azab Allah. Kalau demikian halnya, bagaimana mereka akan mampu untuk melindungi para penyembahnya?</p>
<p>Dengan demikian, ayat ini mengemukakan dua macam kelemahan tuhan-tuhan yang disembah kaum kafir itu, yang menyebabkan tidak pantasnya disembah dan dipertuhan. Pertama, mereka tidak mampu untuk menolong diri sendiri. Kedua, bahwa mereka pun tidak luput dari azab Allah. Dengan demikian, keadaannnya lebih lemah dari penyembahnya.</p>
<p>Dengan adanya dua kenyataan itu, seharusnya mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa benda-benda yang mereka sembah itu tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk melindungi mereka dari azab Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 44</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan kenikmatan hidup dan harta kekayaan kepada kaum kafir itu, sehingga mereka dapat hidup enak dengan usia panjang. Akan tetapi kaum Muslimin tidak perlu iri hati dan merasa silau melihat kenikmatan hidup mereka itu, karena semua kekayaan dan kemewahan itu diberikan Allah kepada mereka sebagai ujian, jika harta itu akan menyebabkan hati mereka menjadi sombong, dan tabiat mereka menjadi kasar sehingga menjerumuskan mereka kepada perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Semuanya itu mengakibatkan dosa-dosa mereka bertambah banyak, dan azab yang akan mereka terima bertambah berat.</p>
<p>Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah memberi mereka kemewahan dan kenikmatan hidup bukanlah karena Allah tidak kuasa menurunkan azab kepada mereka, tetapi sebaliknya kemewahan itu adalah ujian bagi mereka yang dapat menjerumuskan mereka kepada kebinasaan lahir batin, serta azab yang pedih.</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan pula bentuk kerugian lain yang ditimpakan Allah kepada mereka, yaitu berkurangnya jumlah para pengikut mereka lantaran banyak yang masuk Islam, dan akibatnya daerah kekuasaan mereka pun makin berkurang pula karena agama Islam telah tersebar ke daerah-daerah yang semula termasuk daerah kekuasaan mereka. Dengan susutnya jumlah pengikut dan daerah kekuasaan mereka, berarti kekuatan mereka pun semakin berkurang.</p>
<p>Setelah menggambarkan keadaan mereka itu yang telah menjadi rapuh karena kemewahan, dan telah menjadi lemah karena berkurangnya jumlah pengikut dan kekuasaan mereka, maka Allah pada akhir ayat tersebut mengajukan satu pertanyaan yaitu dalam keadaan semacam itu siapakah yang dapat memperoleh kemenangan, apakah mereka masih memiliki harapan?</p>
<p>Sudah tentu mereka tidak akan memperoleh kemenangan. Di samping keadaan mereka telah rapuh dan lemah, kekuasaan Allah adalah mutlak atas hamba-Nya, dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Tidak sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 45</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi Muhammad saw untuk menegaskan kepada kaum kafir dan musyrik itu tugas pokoknya sebagai Rasul, yaitu sekedar menyampaikan peringatan Allah kepada mereka dengan perantaraan wahyu, yaitu Al-Qur&#8217;an, serta menerangkan kepada mereka akibat dari kekufuran, dengan menerangkan kisah-kisah tentang umat yang terdahulu. Adapun perhitungan dan pembalasan atas perbuatan mereka adalah menjadi kekuasaan Allah, bukan kekuasaan Rasul.</p>
<p>Dalam ayat ini juga terdapat sindiran terhadap kaum kafir itu, bahwa mereka adalah seperti orang-orang tuli, tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan peringatan yang disampaikan kepada mereka. Hati mereka seperti telah tertutup, dan tidak menerima kebenaran dan petunjuk Allah yang disampaikan Rasul kepada mereka. Hal ini merupakan tanda-tanda orang-orang yang ingkar pada Tuhan, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>(Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (al-Baqarah/2: 171)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 46</h3>
<p>Allah menerangkan dalam ayat ini salah satu dari sifat kaum kafir, yaitu bila mereka ditimpa oleh azab Allah, walaupun hanya sedikit saja, mereka mengeluh dan menyesali diri, dengan mengatakan, &#8220;Aduhai, celakalah kami, bahwasannya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri.&#8221;</p>
<p>Sebelum azab itu datang menimpa, mereka tidak mempercayainya, bahkan mereka menantang, agar azab tersebut didatangkan segera kepada mereka, karena keingkaran dan keangkuhan mereka. Tetapi setelah azab itu datang menimpa barulah mereka tahu tentang kekuasaan Allah sehingga timbullah penyesalan dalam hati mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 47</h3>
<p>Dengan tegas Allah menyatakan dalam ayat ini, bahwa dalam menilai perbuatan hamba-Nya kelak di hari Kiamat. Allah akan menegakkan neraca keadilan yang benar-benar adil, sehingga tidak seorang pun akan dirugikan dalam penilaian itu. </p>
<p>Maksudnya penilaian itu akan dilakukan setepat-tepatnya, sehingga tidak akan ada seorang hamba yang amal kebaikannya akan dikurangi sedikit pun, sehingga menyebabkan pahalanya dikurangi dari yang semestinya ia terima. Sebaliknya tidak seorang pun di antara mereka yang kejahatannya dilebih-lebihkan, sehingga menyebabkan ia mendapat azab yang lebih berat daripada yang semestinya, walaupun Allah kuasa berbuat demikian.</p>
<p>Adapun memberikan pahala yang berlipat ganda dari jumlah kebaikannya atau menimpakan azab yang lebih ringan dari kejahatannya adalah terserah kepada kehendak Allah, dan Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. </p>
<p>Dalam keadilan Allah dijelaskan bahwa semua kebajikan manusia, betapapun kecilnya niscaya dibalas-Nya dengan pahala, dan semua kejahatannya betapapun kecilnya niscaya dibalas-Nya dengan azab atau siksa-Nya. Dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:</p>
<p>Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.(az-Zilzal/99: 7-8)</p>
<p>Kemampuan teknologi saat ini telah mampu mencatat segala peristiwa dengan teliti dan menyimpan dalam waktu yang lama, apalagi kemampuan Allah.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa cukuplah Dia sebagai saksi pembuat perhitungan yang paling adil. Ini merupakan jaminan bahwa penilaian yang akan dilakukan terhadap segala perbuatan hamba-Nya akan dilakukan-Nya kelak di hari perhitungan dengan penilaian yang seadil-adilnya, sehingga tidak seorang pun hamba yang dirugikan atau dianiaya ketika menerima pahala dari kebaikannya atau menerima azab dari kejahatan yang telah dilakukannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 48</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Harun. Kitab Taurat tersebut adalah merupakan penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Kitab Taurat juga disebut al-Furqan, sebagaimana halnya Al-Qur&#8217;an, karena Kitab Taurat tersebut juga berisi syariat, yaitu hukum-hukum dan peraturanperaturan yang membedakan antara hak dan batil, antara baik dan buruk secara hukum, sehingga setiap tingkah laku dan perbuatan manusia, baik atau buruk, dijelaskan akibat hukum atau sangsinya. Tidak demikian halnya kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Ia tidak membawa syariat.</p>
<p>Pada akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa kitab Taurat yang berfungsi sebagai pembawa syariat, dan sebagai sinar petunjuk dan peringatan, hanyalah berguna bagi orang-orang yang bertakwa. Ini berarti kitab Taurat bagi orang-orang yang tidak bertakwa, yaitu yang tidak bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Taurat itu tidaklah menjadi petunjuk. Untuk itu mereka disediakan azab yang dahsyat, karena mengingkari petunjuk Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 49</h3>
<p>Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa, yaitu Pertama, mereka senantiasa takut kepada azab Allah, walaupun azab tersebut merupakan salah satu dari hal-hal yang gaib. Kedua, orang-orang bertakwa yang disebutkan dalam ayat ini adalah mereka yang senantiasa merasa takut akan datangnya hari Kiamat, berusaha mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang akan terjadi kelak di hari Kiamat itu antara lain hari perhitungan dan hari pembalasan.</p>
<p>Oleh karena rasa takut mereka terhadap azab Allah pada hari Kiamat yang akan menimpa orang-orang yang tidak bertakwa, maka mereka yang bertakwa ini selalu menjaga diri terhadap hal-hal dan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan azab maka mereka senantiasa melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 50</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah mengalihkan perhatian kepada Al-Qur&#8217;an yang diturunkan-Nya kepada Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir, Allah menegaskan bahwa Al-Qur&#8217;an itu merupakan peringatan dan pelajaran yang sangat bermanfaat untuk orang-orang yang bertakwa, sehingga sepatutnyalah perintah dan larangan diikuti dan dijadikan pegangan dalam meniti jalan hidup.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah mencela sikap kaum yang masih mengingkari Al-Qur&#8217;an, padahal tidak ada satu alasan pun bagi mereka untuk mengingkarinya, memang Al-Qur&#8217;an hanya memberi pelajaran dan tuntunan yang bermanfaat bagi mereka yang mau mengikutinya. Lagi pula, kebaikan dan manfaat Al-Qur&#8217;an itu sudah dijelaskan kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 51</h3>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah telah mengutus Nabi Ibrahim a.s., dan Dia telah mengkaruniakan hidayah kepadanya dan menjadikannya pemimpin umatnya dalam mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Dengan hidayah tersebut ia telah dapat menyelamatkan dirinya dan umatnya dari kepercayaan yang sesat dan dari penyembahan kepada selain Allah, seperti patung dan berhala.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah benar-benar mengetahui hal ihwal Ibrahim, baik sebelum diutus menjadi rasul, maupun sesudahnya. Artinya; Allah mengetahui benar kepribadian, watak dan budi pekertinya. Ibrahim adalah seorang yang menganut kepercayaan tauhid kepada Allah, tanpa dicampuri oleh kemusyrikan sedikit pun, disamping itu ia juga mempunyai sifat-sifat dan budi pekerti luhur, sehingga tepatlah kalau ia dipilih dan diangkat menjadi nabi dan rasul.</p>
<p>Kebanyakan para mufasir mengatakan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kebenaran itu kepada Ibrahim sejak sebelum ia diangkat menjadi Rasul, sehingga dengan petunjuk itu ia dapat memperhatikan alam ini sehingga ia sampai kepada keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, perjuangannya dalam membasmi kemusyrikan berupa penyembahan patung dan berhala di kalangan kaumnya telah dilakukannya sebelum ia diangkat menjadi rasul.</p>
<p>Sebagai penjelasan layak diterangkan di sini bahwa menurut sejarah Nabi Ibrahim berasal dari Ur al-Kaldaniyah (Ur Kaldea) ibu kota Kerajaan Kaldan (Kaldea) di Mesopotamia Selatan. Kerajaan Kaldea itu diperintah oleh seorang raja yang bernama Namruz memerintah tahun 2300 SM, sebelum pemerintahan Hammurabi yang memerintah tahun 2000 SM. Raja Namruz ini terkenal sebagai seorang raja yang amat kejam dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Orang-orang Kaldan di samping menyembah tuhan-tuhan yang berupa patung-patung, diperintahkan juga agar menyembah Namruz.</p>
<p>Raja Namruz inilah yang menyuruh membakar Nabi Ibrahim. Akhirnya Nabi Ibrahim bersama istrinya yang bernama Sarah dan saudara laki-lakinya yang bernama Lut meninggalkan kota Ur, berhijrah ke Harran dan kemudian ke Palestina.</p>
<p>Pada suatu ketika terjadi kelaparan di Palestina, maka Ibrahim bersama istrinya dan Lut bersama istrinya pergi ke Mesir. Di Mesir Ibrahim menghadap Firaun. Firaun memberi mereka hadiah-hadiah, di antara hadiah-hadiah itu seorang perempuan yang bernama Hajar untuk Sarah istri Ibrahim. Setelah kembali ke Palestina, Lut berpisah dan pergi ke Sodom, sebuah kota dekat Laut Mati di Yordania.</p>
<p>Oleh karena Sarah dan Ibrahim belum mempunyai putra, maka Hajar dihadiahkan oleh Sarah kepada Nabi Ibrahim untuk dijadikan istri. Dengan Hajar, Ibrahim mendapat putra, yaitu Ismail. Kemudian oleh Ibrahim Siti Hajar dan Ismail dipindahkan ke Mekah. Di Mekah Nabi Ibrahim mendirikan kembali Ka&#8217;bah, dan Ismail bermukim di Mekah.</p>
<p>Nabi Ibrahim di masa tuanya dikaruniai seorang putra lainnya dari istri pertamanya Sarah, yaitu Ishak. Nabi Ibrahim meninggal dunia dan dikuburkan di Hebron, yaitu tempat di mana Sarah telah dikuburkan lebih dahulu. Dari keturunan Ibrahim a.s., banyak terdapat nabi-nabi, imam-imam, orang-orang yang saleh dan pemimpin yang menyeru kepada agama Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 52</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniakan petunjuk kepada Ibrahim, sehingga ia bertanya kepada ayahnya Azar yang sedang berkumpul bersama kaumnya, tentang patung-patung yang mereka buat dan mereka sembah dengan tekun.</p>
<p>Pertanyaan itu mengandung arti bahwa Azar dan kaumnya seharusnya menggunakan akal pikiran mereka untuk merenungkan bahwa benda-benda tersebut tidak patut disembah, karena tidak mempunyai sifat-sifat sebagai Tuhan yang layak untuk disembah. Mereka menyembah barang-barang yang dicipta, bukan pencipta, serta tidak dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya, apalagi untuk orang lain. Mereka tidak mau menyembah Allah padahal Allah adalah Pencipta, Pemelihara, Pendidik, Pelindung, dan Penguasa seluruh mahluk. Andaikata mereka mau memikirkannya, niscaya mereka tidak akan berbuat demikian. Jadi mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikiran yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 53</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Azar dan kaumnya menjawab pertanyaan Ibrahim dengan pernyataan bahwa mereka menyembah patung hanyalah sekedar mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Jawaban tersebut menunjukkan berbagai kelemahan. Pertama, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan Ibrahim dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal, yang didasarkan atas kebenaran. Kedua, mereka dalam hidup beragama hanya didasarkan rasa ta&#8217;ashshub (fanatik) kepada tradisi nenek moyang, bukan berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang sehat. Ketiga, mereka menutup diri terhadap hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka, walaupun nyata kebenarannya. Seolah-olah telinga mereka telah tersumbat, dan hati mereka telah tertutup rapat.</p>
<p>Sikap ta&#8217;ashshub (fanatik) dan taklid buta adalah ciri khas orang-orang yang tidak mampu mempertahankan prinsip mereka dengan bukti yang benar dan hujjah yang kuat, karena memang prinsip yang mereka anut itu tidak benar. Mereka menganutnya hanya sekedar menjaga tradisi yang mereka pusakai dari nenek moyang. Sikap tersebut sangat menghambat kemajuan manusia, dan menjerumuskan mereka kepada keingkaran terhadap kebenaran, bahkan membawa kepada kekufuran terhadap Allah.</p>
<p>Dalam kalangan kaum Muslimin kita dapati orang-orang yang taklid buta terhadap satu mazhab, atau terhadap seorang imam, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Sikap semacam itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, yang selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mencari kebenaran.</p>
<p>Para imam dari berbagai mazhab fiqh Islam melarang para pengikutnya untuk bertaklid buta kepadanya, dan menganjurkan agar mereka terbuka menerima pendapat orang lain, bila ternyata pendapat itu lebih benar dari pendapat yang dianutnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 54</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Ibrahim membalas jawaban mereka itu dengan menunjukkan keburukan perbuatan nenek moyang mereka yang menyembah selain Allah. Ibrahim mengatakan kepada ayahnya dan juga kaumnya, bahwa mereka semuanya berada dalam kesesatan, karena mereka menyembah patung dan berhala. Dengan perbuatan itu mereka telah jauh dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang benar. Mereka tidak berpegang kepada agama yang benar dan akal sehat. Yang menjadi pegangan mereka hanyalah keinginan hawa nafsu dan bisikan iblis.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 55</h3>
<p>Dalam ayat ini disebutkan jawaban Azar dan kaumnya kepada Ibrahim yaitu, apakah Ibrahim datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, ataukah hanya ingin berolok-olok saja.</p>
<p>Dari ucapan mereka dapat disimpulkan beberapa pertanyaan seputar sikap mereka. Pertama, bahwa mereka setelah mendengarkan ucapan Ibrahim yang bersifat merendahkan martabat tuhan-tuhan mereka, dan menyatakan sesatnya perbuatan mereka, maka hati mereka mulai tergugah, karena ucapan semacam itu belum pernah terdengar di kalangan mereka. Kedua, karena melihat sikap Ibrahim yang bersungguh-sungguh dan keras dalam ucapannya, maka hati mereka mulai ragu terhadap kebenaran dan perbuatan mereka sendiri sebagai penyembah patung. Ketiga, mereka meminta kepada Ibrahim agar memberikan bukti-bukti dan alasan-alasan yang menunjukkan kebenaran ucapan Ibrahim kepada mereka. Keempat, jika Ibrahim tidak dapat memberikan bukti-bukti tersebut, maka mereka menganggap Ibrahim hanya memperolok-olok mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 56</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa setelah Ibrahim memahami adanya kenyataan tersebut di atas, maka dia membalas jawaban mereka dengan ucapan yang tidak lagi mengungkap kesesatan mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, melainkan ia beralih kepada menerangkan kebenaran dan menyebutkan Tuhan yang sesungguhnya patut disembah. Maka Ibrahim menerangkan kepada mereka bahwa ia datang membawa kebenaran, bukan berolok-olok, bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan Langit dan Bumi. Dialah yang patut disembah, karena Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi itu dan menciptakan diri mereka, serta memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada semua makhluk-Nya, karena Ia Mahakuasa dan Maha Pengasih.</p>
<p>Dengan demikian mereka sadar bahwa menyembah Allah adalah tindakan yang benar, sedang menyembah patung dan berhala adalah kesesatan yang besar.</p>
<p>Pada akhir ayat ini diterangkan, bahwa untuk memantapkan keyakinan mereka kepada akidah tauhid, maka Ibrahim mengulas ucapannya tadi dengan menegaskan bahwa ia dapat dan bertanggungjawab penuh untuk memberikan bukti-bukti atas kebenaran apa yang disampaikannya kepada mereka. Keterangan ini dimaksudkan untuk melenyapkan prasangka mereka bahwa Ibrahim hanya berolok-olok kepada mereka dengan ucapan-ucapan yang tersebut di atas.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 57</h3>
<p>Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang diucapkan dan didengar oleh sebagian kaumnya yaitu ia bertekad untuk menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 58</h3>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu untuk memanfaatkan perayaan besar itu untuk menghancurkan patung-patung itu benar-benar dilaksanakannya, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar. Patung itu tidak dirusaknya, karena ia berharap bila mereka kembali ke sana dan bertanya kepadanya tentang siapa orang yang merusak patung-patung yang lain itu, maka ia akan menyuruh mereka bertanya kepada patung yang terbesar itu, yang tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 59</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diharapkan oleh Ibrahim, benar-benar terjadi. Setelah mendengar berita bahwa patung-patung mereka telah rusak, mereka datang kembali ke tempat itu dan bertanya kepada Ibrahim, siapakah yang telah melakukan perbuatan jahat ini terhadap tuhan-tuhan mereka? Sungguh dia benar-benar termasuk orang yang zalim.&#8221;</p>
<p>Dari ucapan ini dapat kita pahami bahwa sampai saat itu mereka masih belum menerima sepenuhnya apa yang disampaikan Ibrahim kepada mereka, dan mereka masih menyembah dan mengagungkan berhala-berhala itu, dan masih menyebutnya sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini menimbulkan kemarahan terhadap orang yang membinasakannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 60</h3>
<p>Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang berada di dekat penyembahan patung-patung itu menjawab pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa mereka mendengar seorang pemuda yang bernama Ibrahim telah menghancurkan berhala-berhala itu.</p>
<p>Dari sini kita pahami pada saat itu Ibrahim masih sebagai seorang pemuda (Â± 16 tahun), dan belum diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Maka tindakannya dalam membinasakan patung-patung itu bukan dalam rangka tugasnya sebagai Rasul, melainkan timbul dari dorongan kepercayaannya kepada Allah, berdasarkan petunjuk kepada kebenaran yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, sebelum ia diangkat menjadi Rasul.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 61</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa setelah mereka mendapat jawaban bahwa yang merusakkan patung-patung itu adalah seorang pemuda yang bernama Ibrahim, maka mereka menyuruh agar pemuda itu dihadapkan kepada orang banyak, dengan harapan kalau-kalau ada orang lain yang menyaksikan pemuda tersebut melakukan pengrusakan itu, sehingga kesaksian itu akan dapat dijadikan bukti.</p>
<p>Hal ini memberikan pengertian bahwa di kalangan mereka pada masa itu sudah berlaku suatu peraturan, bahwa mereka tidak akan menindak secara langsung seseorang yang dituduh sebelum ada bukti-bukti, baik berupa persaksian dari seseorang, maupun berupa pengakuan dari pihak yang tertuduh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 62</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah Ibrahim mereka hadapkan kepada orang banyak, maka mereka mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadapnya dengan mengajukan pertanyaan, apakah betul dia yang melakukan pengrusakan terhadap berhala-berhala itu. Pertanyaan ini mereka ajukan dengan harapan bahwa Ibrahim akan mengakui bahwa dialah yang melakukan pengrusakan itu. Pengakuan itu akan mereka jadikan alasan untuk menghukum Ibrahim.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 63</h3>
<p>Diterangkan dalam ayat ini jawaban Ibrahim atas tuduhan itu. Dimana jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka, karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan bahwa ia yang melakukan pengrusakan, tetapi ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh.</p>
<p>Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi untuk membela dirinya.</p>
<p>Jelas bahwa kaumnya tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain. Sebab, mereka menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apa pun, sebab dia adalah benda mati. Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung.</p>
<p>Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka.</p>
<p>Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar dan tidak dapat berbicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah patung-patung itu disembah? Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikirannya yang sehat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 64</h3>
<p>Diterangkan dalam ayat ini jawaban Ibrahim atas tuduhan itu. Dimana jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka, karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan bahwa ia yang melakukan pengrusakan, tetapi ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh.</p>
<p>Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi untuk membela dirinya.</p>
<p>Jelas bahwa kaumnya tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain. Sebab, mereka menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apa pun, sebab dia adalah benda mati. Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung.</p>
<p>Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka.</p>
<p>Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar dan tidak dapat berbicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah patung-patung itu disembah? Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikirannya yang sehat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 65</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan keadaan mereka setelah menyesali kesalahan dan kebodohan diri mereka. Mereka lalu menekurkan kepala dan berdiam diri. Pada saat itulah setan kembali menggoda mereka, sehingga kesadaran mereka yang tadinya telah mulai bersemi lalu lenyap dan mereka kembali kepada kepercayaan semula, dan ingin membela patung-patung yang menjadi kepercayaan mereka. Oleh sebab itu mereka lalu berkata kepada Ibrahim, &#8220;Mengapa Ibrahim menyuruh mereka bertanya kepada patung-patung ini, padahal dia sudah mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara.&#8221;</p>
<p>Ucapan ini merupakan pengakuan mereka bahwa mereka pun mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, akan tetapi mereka tetap menyembah dan mempertuhankannya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 66</h3>
<p>Allah menerangkan dalam ayat ini, bahwa setelah mereka mengakui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, maka Ibrahim segera menjawab dengan mengatakan mengapa mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak pula dapat mendatangkan mudarat kepada mereka, bahkan ia tidak dapat berbicara dan mempertahankan diri.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 67</h3>
<p>Dalam ayat ini disebutkan lanjutan dari ucapan Ibrahim kepada mereka, bahwa mereka akan celaka bersama patung-patung yang mereka sembah selain Allah. Apakah mereka tidak memahami keburukan dan kesesatan perbuatan mereka?</p>
<p>Ucapan itu telah menyebabkan para penyembah patung itu sungguh-sungguh terpojok, dan mengobarkan kemarahan mereka yang amat sangat</p>
<p>66-67. Menanggapi pernyataan tersebut, Dia, Ibrahim, berkata di depan para pembesar Kota Ur, Kaldea, Babilonia, Mesopotamia Selatan, “Mengapa kamu sekalian menyembah tuhan selain Allah, menyembah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dengan menyembahnya, dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kamu dengan tidak menyembahnya?&#8221; Ibrahim kemudian menegaskan tanggapannya, &#8220;Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah di dunia dan di akhirat! Apakah kamu tidak memikirkan, apakah kamu akan terus menyembah patung-patung itu atau berhenti?”</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 68</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah mereka kehabisan akal dan alasan untuk menjawab ucapan Ibrahim, dan kemarahan mereka memuncak, maka mereka sepakat untuk membakar Ibrahim, dan membela tuhan-tuhan mereka, jika mereka benar-benar ingin balas dendam.</p>
<p>Dengan demikian mereka memutuskan untuk membinasakan Ibrahim, tindakan itu mereka pandang sebagai cara yang terbaik untuk membela kehormatan tuhan-tuhan mereka, dan untuk melenyapkan rintangan yang menghalangi mereka dalam menyembah patung-patung. Mereka memilih cara yang paling kejam untuk membinasakan Ibrahim, yaitu dengan membakarnya dalam sebuah api unggun. Dengan cara ini Ibrahim dapat dilenyapkan, agar mereka dapat mencapai kemenangan untuk harga diri dan tuhan-tuhan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 69</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan tindakan Allah untuk melindungi dan menolong Ibrahim dari kekejaman kaumnya, yaitu membakar Ibrahim dalam api yang sedang berkobar-kobar.</p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa Allah telah memberikan sifat-sifat tertentu bagi setiap mahluk-Nya. Sifat itu tetap berlaku baginya sebagai Sunnah Allah di dunia. Antara lain ialah api, yang bersifat panas dan membakar, sehingga logam-logam yang amat kuat pun dapat dicairkan dengan api, apalagi tubuh manusia. Maka Allah melindungi Ibrahim dari panas api tersebut dengan cara mencabut sifat panas dan membakar, dari api yang sedang menyala sehingga Ibrahim tidak merasa panas ketika dibakar dan tidak terbakar dalam api unggun yang menyala-nyala.</p>
<p>Allah berfirman, &#8220;Hai api, jadilah engkau dingin, dan memberi keselamatan bagi Ibrahim.&#8221; Dengan adanya perintah Allah kepada api tersebut, maka sifatnya berubah dari panas menjadi dingin, dan tidak merusak terhadap Ibrahim sampai api itu padam. Ini menambah bukti tentang kekuasaan Allah yang seharusnya disadari oleh orang-orang kafir.</p>
<p>Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu &#8216;Abbas disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, ia membaca:</p>
<p>&#8220;Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.&#8221; (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Demikianlah pertolongan dan perlindungan yang biasa diberikan Allah kepada para nabi, wali-wali dan hamba-hamba-Nya yang saleh. Walaupun pada waktu itu Ibrahim belum menjadi nabi dan rasul, namun ia tetap merupakan seorang hamba Allah yang saleh.</p>
<p>Patut kiranya diingat bahwa Nabi Muhammad juga mengalami makar dari kaum kafir Quraisy yang berusaha untuk membinasakannya, seperti peristiwa sebelum dan sesudah hijrah. Akan tetapi walaupun mereka telah membuat rencana yang rapi untuk mencapai maksud tertentu, namun pelaksanaannya tidaklah membawa hasil seperti yang mereka harapkan, karena Allah telah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya, sebagai pelaksanaan dari janji-Nya:</p>
<p>Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. (al-Ma&#8217;idah/5: 67)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 70</h3>
<p>Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa makar yang dilaksanakan kaum musyrik terhadap para nabi untuk membinasakannya, telah menimbulkan akibat yang sebaliknya, yaitu menyebabkan mereka itu menjadi orang-orang yang paling merugi.</p>
<p>Dengan ucapan dan perbuatan itu, mareka ingin memadamkan cahaya kebenaran yang disampaikan Ibrahim, dengan cara menyalakan api unggun untuk membinasakannya. Tetapi akhirnya api yang mereka nyalakan itulah yang padam tanpa menimbulkan bekas apa pun terhadap Ibrahim a.s., berkat perlindungan Allah Yang Mahakuasa. Hal ini menunjukkan dengan jelas batilnya kepercayaan yang mereka anut, dan jahatnya cara yang mereka tempuh untuk mencapai kemenangan. Sebaliknya Ibrahim berada pada pihak yang benar, karena ia menyampaikan patunjuk Allah untuk membasmi kebatilan dan kezaliman.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 71</h3>
<p>Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah melengkapi rahmat-Nya kepada Ibrahim. Allah telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harran, kemudian ke Palestina di daerah Syam.</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam adalah negeri yang telah diberi Allah keberkahan yang banyak untuk semua manusia. Sehingga negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir para nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Baitul Makdis yang terletak di Palestina juga termasuk daerah Syam, dan kiblat pertama bagi umat Islam.</p>
<p>Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim a.s</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 72</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim a.s. sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkan seorang putra yaitu Ishak, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim yang melahirkan keturunan Bani Israil. Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Allah telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai nabi-nabi dan orang-orang yang saleh.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 73</h3>
<p>Allah menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah.</p>
<p>Nabi Ibrahim yang diberi gelar &#8220;Khalilullah&#8221; (kekasih Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa nabi karena banyak di antara nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad saw adalah termasuk cucu-cucu Ibrahim a.s. melalui Nabi Ismail. Mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaranajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebajikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.</p>
<p>Di samping itu Allah juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah maupun sebagai sarana yang mengokohkan hubungan hamba dengan Tuhannya, sedang zakat mempunyai keistimewaan baik sebagai ibadah harta yang paling utama yang mempererat hubungan dengan sesama hamba, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia.</p>
<p>Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadahibadah lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia.</p>
<p>Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 74</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan tiga macam rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut:</p>
<p>Pertama, Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hikmah dan kearifan memberi putusan atau hukuman, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.</p>
<p>Kedua, Ia juga dikaruniai ilmu pengetahuan yang sangat berguna terutama ilmu agama, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.</p>
<p>Ketiga, Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara sesama lelaki (homosex), mengganggu lalulintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut dan tidak mengindahkan ancaman Allah dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah. Nabi Lut beserta keluarganya diselamatkan Allah kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang terlarang, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 75</h3>
<p>Allah menjelaskan dalam ayat ini rahmat-Nya kepada Nabi Lut a.s., dengan memasukkannya ke dalam lingkungan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa Nabi Lut termasuk orang-orang yang dikasihi dan disayangi Allah, sehingga ia menjadi salah seorang penghuni surga-Nya.</p>
<p>Allah berfirman kepada surga, &#8220;Kamu adalah rahmat-Ku, dengan kaulah Aku rahmati orang-orang yang Aku kehendaki di antara hamba-hambaKu.&#8221; (Riwayat al-Bukhari)</p>
<p>Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya dia mengaruniakan rahmat yang begitu besarnya kepada Nabi Lut yaitu karena dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh yang selalu menaati perintah dan larangan Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 76</h3>
<p>Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Nuh a.s., yang disebut sebagai bapak kedua bagi umat manusia. Jauh sebelum Nabi Muhammad, bahkan sebelum Nabi Ibrahim dan Lut, Nabi Nuh telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya. Karena keingkaran kaumnya yang amat sangat, sehingga mereka tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah, akhirnya ia berdoa kepada Tuhan:</p>
<p>Dan Nuh berkata, &#8220;Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh/71: 26)</p>
<p>Dan doanya lagi:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).&#8221; (al-Qamar/54: 10)</p>
<p>Akan tetapi doa-doa tersebut diucapkannya setelah 950 tahun lamanya ia melakukan dakwahnya, namun kaumnya tetap juga ingkar dan tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah.</p>
<p>Menurut riwayat, Nabi Nuh a.s. diutus Allah menjadi Rasul-Nya pada waktu itu ia berusia 40 tahun. Sesudah terjadinya azab Allah berupa angin taufan dan banjir besar Nabi Nuh masih hidup selama 40 tahun. Dengan demikian, maka diperkirakan usianya mencapai Â±1050 tahun.</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah Nuh a.s. mengucapkan doa-doa tersebut maka Allah mengabulkannya, yaitu dengan menimpakan banjir yang amat dahsyat, sehingga air laut meluap tinggi dan membinasakan negeri tersebut bersama orang-orang yang tidak beriman.</p>
<p>Adapun Nabi Nuh dan keluarganya kecuali istri dan anaknya yang durhaka, serta kaumnya yang beriman, telah diselamatkan Allah dari malapetaka yang dahsyat itu, yaitu dengan sebuah perahu besar yang dibuat Nabi Nuh sebelum terjadinya banjir atas perintah dan petunjuk Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 77</h3>
<p>Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menurunkan pertolongan kepada Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman terhadap kejahatan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya, dan tidak menerima bukti-bukti dan keterangan yang disampaikan Rasul-Nya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menerangkan alasan mengapa Dia menolong Nabi Nuh sehingga kaum kafir itu dimusnahkan oleh azab yang dahsyat karena kejahatan kaumnya seperti syirik, baik perkataan maupun perbuatan mereka. Mendurhakai Allah, dan menyalahi perintah-perintah-Nya adalah perbuatan jahat kaumnya turun temurun. Maka sepantasnyalah mereka menerima balasan dari Allah.</p>
<p>Kisah-kisah yang dikemukakan dalam Al-Qur&#8217;an ini haruslah menjadi pelajaran bagi umat manusia, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, kepada seluruh umat manusia. Allah berfirman:</p>
<p>Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan! (al-Hasyr/59: 2)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 78</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka.</p>
<p>Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas yang dikutip dari tafsir Ibnu Kashir disebutkan bahwa sekelompok domba telah merusak tanaman seorang petani pada waktu malam, lalu terjadilah sengketa antara pemilik tanaman dan pemilik domba, dan kemudian mereka datang kepada Daud a.s. untuk minta diadili. Setelah mengadakan pemeriksaan maka Daud a.s. memberi keputusan agar domba-domba itu diserahkan kepada pemilik tanaman, karena dinilai harganya sama dengan nilai tanaman yang dirusaknya. Sulaiman a.s. yang juga mendengarkan putusan itu mempunyai pendapat yang lain, yang lebih tepat dan lebih adil. Lalu Nabi Sulaiman berkata dalam majelis tersebut bahwa &#8220;Sebaiknya domba-domba itu diserahkan dulu kepada pemilik tanaman sehingga ia dapat mengambil manfaat dari susu, minyak dan bulunya, sementara kebun itu diserahkan kepada pemilik domba untuk diolahnya sendiri. Apabila nanti tanamannya sudah kembali kepada keadaannya seperti sebelum dirusak oleh domba-domba tersebut, maka kebun itu diserahkan kepada pemiliknya, domba-domba itu pun dikembalikan pula kepada pemiliknya.&#8221;</p>
<p>Pendapat Sulaiman jelas lebih tepat, karena akhirnya maing-masing dari kedua pihak yang berperkara akan mendapatkan kembali miliknya dalam keadaan utuh.</p>
<p>Perbedaan pandangan antara ayah dan anak dalam mengambil keputusan atas perkara tersebut adalah bahwa Daud a.s. lebih menitik beratkan perhatiannya kepada nilai kerusakan tanaman itu, yang dilihatnya sama dengan nilai domba yang merusaknya lalu ia memutuskan agar domba-domba itu diserahkan sepenuhnya kepada pemilik tanaman. Sedang Sulaiman a.s. lebih menitik beratkan pandangannya kepada manfaat domba dan manfaat tanaman itu, maka ia mengambil keputusan yang demikian itu. Bagaimana pun juga, masing-masing mereka mendasarkan keputusannya kepada ijtihad, bukan kepada wahyu, sehingga lahirlah dua keputusan yang berbeda.</p>
<p>Selanjutnya Nabi Daud pun mengakui pendapat anaknya itu lebih tepat, sehingga itulah yang ditetapkannya kemudian sebagai keputusannya, dan membatalkan pendapatnya yang semula.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyaksikan dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Daud dan Sulaiman dalam memeriksa dan memutuskan perkara tersebut, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 79</h3>
<p>Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah.</p>
<p>Hal ini memang terbukti dalam keputusan yang mereka berikan kepada masing-masing pihak dalam perkara yang terjadi antara pemilik domba dan pemilik tanaman seperti tersebut di atas, dimana keputusan yang diberikan Sulaiman dirasa lebih tepat, dan lebih memenuhi keadilan.</p>
<p>Sesudah menyebutkan hal itu, maka Allah menerangkan selanjutnya rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka berdua, yaitu hukum-hukum dan ilmu pengetahuan, baik mengenai agama, atau pun masalah duniawi.</p>
<p>Rahmat seperti itu juga diberikan Allah kepada nabi-nabi-Nya yang lain, karena itu merupakan syarat pokok untuk menjadi Nabi.</p>
<p>Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan nikmat yang khusus dikaruniakan-Nya kepada Nabi Daud a.s. yaitu: bahwa Allah telah menjadikan gunung-gunung dan burung-burung tunduk kepada Daud a.s., semuanya bertasbih bersamanya.</p>
<p>Para akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia kuasa untuk memberikan karunia semacam ini kepada hamba-Nya, karena Dialah Pencipta dan Pemilik seluruh alam ini.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 80</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menyebutkan karunianya yang lain, yang diberikannya kepada Daud a.s., yaitu bahwa Daud telah diberi-Nya pengetahuan dan keterampilan dalam kepandaian menjadikan besi lunak di tangannya tanpa dipanaskan, karena keistimewaan ini Daud bisa membuat baju besi yang dipergunakan orang-orang di zaman itu sebagai pelindung diri dalam peperangan.</p>
<p>Kepandaian itu dimanfaatkan pula oleh umat-umat yang datang kemudian berabad-abad lamanya. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Daud a.s. itu telah tersebar luas dan bermanfaat bagi orang-orang dari bangsa lain. Di samping menjadi mukjizat Nabi Daud.</p>
<p>Sebab itu, pada akhir ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada umat Nabi Muhammad, apakah turut bersyukur atas karunia tersebut? Sudah tentu, semua umat yang beriman kepada-Nya, senantiasa mensyukuri segala karunia yang dilimpahkan-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 81</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mulai menyebutkan nikmat-Nya yang khusus dilimpahkan-Nya kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Dia telah menundukkan angin bagi Sulaiman a.s., sehingga angin tersebut dengan patuh melakukan apa yang diperintahkannya. Misalnya, angin tersebut berhembus ke arah negeri tertentu, dengan hembusan yang keras dan kencang atau pun lunak dan lambat, sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman a.s.. Allah berfirman: </p>
<p>Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (shad/38: 36)</p>
<p>Menurut pendapat ulama lainnya Sulaiman menggunakan angin sebagai alat transportasi yang mengangkutnya dari satu kota ke kota lain. Firman Allah:</p>
<p>Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). (Saba&#8217;/34: 12)</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menegaskan, bahwa Dia senantiasa mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 82</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan rahmat Allah yang lain yang dikarunia-kan-Nya khusus kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Allah juga menundukkan segolongan setan yang patuh melakukan apa yang diperintahkan Sulaiman a.s. kepada mereka, misalnya: menyelam ke dalam laut untuk mengambil segala sesuatu yang diperlukannya, atau melakukan hal-hal untuk keperluan Sulaiman a.s. seperti mengerjakan bangunan dan sebagainya.</p>
<p>Pada ayat ini Allah menegaskan pula bahwa Dia senantiasa menjaganya sehingga setan tersebut tidak merusak dan tidak bermain-main dalam melakukan tugasnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 83</h3>
<p>Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub a.s. yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.</p>
<p>Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. </p>
<p>Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 84</h3>
<p>Oleh sebab itu, dalam ayat ini Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.</p>
<p>Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya beliau hidup bersama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat dari jumlah semula.</p>
<p>Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan kesalehannya, Al-Qur&#8217;an mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah, bahwa:</p>
<p>a. Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, saleh dan sabar.</p>
<p>b. Orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.</p>
<p>c. Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.</p>
<p>Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>&#8220;Sa&#8217;ad bin Abi Waqash bertanya kepada Rasulullah, &#8220;Siapa orang yang paling berat cobaannya, Rasulullah menjawab, Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, orang-orang yang mirip para nabi, kemudian orang-orang yang mirip mereka.&#8221; (Riwayat Ibnu Majah dari Sa&#8217;ad bin Abi Waqash)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 85</h3>
<p>Allah memperingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli, yang kesemuanya adalah orang-orang yang sabar pula dalam menghadapi musibah yang menimpa diri mereka masing-masing. Berkat kesabaran dan kesalehan mereka maka Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka.</p>
<p>Nabi Ismail as, putra Nabi Ibrahim dari istrinya Siti Hajar, telah terbukti kesabarannya ketika ia hendak disembelih ayahnya sebagai korban atas perintah Allah. Ia juga sabar dan ulet untuk hidup di daerah tandus dan gersang, setelah ayahnya menempatkan dia bersama ibunya di Mekah, di tengah-tengah jazirah Arab yang gersang. Kemudian ia dengan sabar pula menunaikan tugasnya yang berat membangun Ka&#8217;bah dan Baitullah bersama ayahnya. Maka Allah memberikan penghormatan dan kemulian yang tinggi kepada Nabi Ismail, yaitu dengan diangkatnya salah seorang keturunannya menjadi Nabi dan Rasul Allah terakhir, yaitu Muhammad saw.</p>
<p>Adapun Nabi Idris, adalah juga seorang yang saleh dan sabar. Ia diutus menjadi Rasul sesudah Nabi Syis dan Nabi Adam as. Banyak orang mengatakan bahwa Nabi Idris ini yang mula-mula pandai menjahit pakaian, dan mula-mula memakai pakaian yang dijahit, sedang orang-orang yang sebelumnya hanya memakai pakaian dari kulit binatang dan tidak dijahit. Selain itu dia pulalah orang yang mula-mula membuat dan memakai senjata api sebagai alat perlengkapan. Kisah Nabi Idris ini terdapat dalam Surah Maryam. (Maryam/19: 56-57)</p>
<p>Mengenai Zulkifli, menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, dia adalah seorang Nabi pula, dan putra dari Nabi Ayyub a.s. Allah mengutusnya menjadi Nabi sesudah ayahnya. Ia menjalankan dakwahnya mengesakan Allah baik dalam akidah maupun dalam ibadah. Selama hidupnya ia berdiam di negeri Syam, dan merupakan Nabi yang saleh dan sabar. Dan dia adalah dari kalangan Bani Israil.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli telah dimasukkan-Nya dalam lingkungan rahmat-Nya, dan ditempatkan-Nya dalam surga Jannatuna&#8217;im, sebagai balasan atas kesabaran dan kesalehan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 86</h3>
<p>Allah memperingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli, yang kesemuanya adalah orang-orang yang sabar pula dalam menghadapi musibah yang menimpa diri mereka masing-masing. Berkat kesabaran dan kesalehan mereka maka Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada mereka.</p>
<p>Nabi Ismail as, putra Nabi Ibrahim dari istrinya Siti Hajar, telah terbukti kesabarannya ketika ia hendak disembelih ayahnya sebagai korban atas perintah Allah. Ia juga sabar dan ulet untuk hidup di daerah tandus dan gersang, setelah ayahnya menempatkan dia bersama ibunya di Mekah, di tengah-tengah jazirah Arab yang gersang. Kemudian ia dengan sabar pula menunaikan tugasnya yang berat membangun Ka&#8217;bah dan Baitullah bersama ayahnya. Maka Allah memberikan penghormatan dan kemulian yang tinggi kepada Nabi Ismail, yaitu dengan diangkatnya salah seorang keturunannya menjadi Nabi dan Rasul Allah terakhir, yaitu Muhammad saw.</p>
<p>Adapun Nabi Idris, adalah juga seorang yang saleh dan sabar. Ia diutus menjadi Rasul sesudah Nabi Syis dan Nabi Adam as. Banyak orang mengatakan bahwa Nabi Idris ini yang mula-mula pandai menjahit pakaian, dan mula-mula memakai pakaian yang dijahit, sedang orang-orang yang sebelumnya hanya memakai pakaian dari kulit binatang dan tidak dijahit. Selain itu dia pulalah orang yang mula-mula membuat dan memakai senjata api sebagai alat perlengkapan. Kisah Nabi Idris ini terdapat dalam Surah Maryam. (Maryam/19: 56-57)</p>
<p>Mengenai Zulkifli, menurut pendapat kebanyakan ahli tafsir, dia adalah seorang Nabi pula, dan putra dari Nabi Ayyub a.s. Allah mengutusnya menjadi Nabi sesudah ayahnya. Ia menjalankan dakwahnya mengesakan Allah baik dalam akidah maupun dalam ibadah. Selama hidupnya ia berdiam di negeri Syam, dan merupakan Nabi yang saleh dan sabar. Dan dia adalah dari kalangan Bani Israil.</p>
<p>Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Ismail, Idris dan Zulkifli telah dimasukkan-Nya dalam lingkungan rahmat-Nya, dan ditempatkan-Nya dalam surga Jannatuna&#8217;im, sebagai balasan atas kesabaran dan kesalehan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 87</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya, kepada kisah Nabi Yunus, yang pada permulaan ayat ini disebutkan dengan nama &#8220;dzun Nun&#8221;.</p>
<p>dzu berarti &#8220;yang mempunyai&#8221;, sedang an-Nun berarti &#8220;ikan besar&#8221;. Maka dzu an-Nun berarti &#8220;Yang empunya ikan besar&#8221;. Ia dinamakan demikian, karena pada suatu ketika ia pernah dijatuhkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan besar. Kemudian, karena pertolongan Allah, maka ia dapat keluar dari perut ikan tersebut dengan selamat dan dalam keadaan utuh.</p>
<p>Perlu diingat, bahwa kisah Nabi Yunus di dalam Al-Qur&#8217;an terdapat pada dua buah surah, yaitu Surah al-Anbiya&#8217; dan Surah shad. Apabila kita bandingkan antara ayat-ayat yang terdapat pada kedua Surah tersebut yang mengandung kisah Nabi Yunus ini, terdapat beberapa persamaan, misalnya dalam ungkapan-ungkapan yang berbunyi:</p>
<p>Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (shad/38: 3)</p>
<p>Ungkapan tersebut terdapat dalam Surah al-Anbiya&#8217; ini, dan terdapat pula dalam ayat Surah shad. Perhatikan pula al-Anbiya&#8217;/21:11 dan Yunus/10: 13.</p>
<p>Dalam ayat ini Allah berfirman, mengingatkan manusia pada kisah Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah. Yang dimaksud ialah bahwa pada suatu ketika Nabi Yunus sangat marah kepada kaumnya, karena mereka tidak juga beriman kepada Allah. Ia telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya untuk menyampaikan seruan kepada umatnya, untuk mengajak mereka kepada agama Allah. Tetapi hanya sedikit saja di antara mereka yang beriman, sedang sebagian besar mereka tetap saja ingkar dan durhaka. Keadaan yang demikian itu menjadikan ia marah, lalu pergi ke tepi laut, menjauhkan diri dari kaumnya.</p>
<p>Kisah ini memberi kesan bahwa Nabi Yunus tidak dapat berlapang hati dan sabar menghadapi umatnya. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya, ia termasuk nabi-nabi yang sempit dada. Memang dari sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah, hanya lima orang saja yang disebut &#8220;Ulul Azmi&#8221;, yaitu rasul-rasul yang amat sabar dan ulet. Mereka adalah Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan Muhammad saw. Sedang yang lain-lainnya, walaupun mereka ma&#8217;shum dari dosa besar dan sifat-sifat yang tercela, namun pada saat-saat tertentu sempit juga dada mereka menghadapi kaum yang ingkar dan durhaka kepada Allah.</p>
<p>Akan tetapi, walaupun Nabi Yunus pada suatu ketika marah kepada kaumnya, namun kemarahannya itu dapat dipahami, karena ia sangat ikhlas kepada mereka, dan sangat ingin agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dengan menjalankan agama Allah yang disampaikannya kepada mereka. Tetapi ternyata sebagian besar dari mereka itu tetap ingkar dan durhaka. Inilah yang menyakitkan hatinya, dan mengobarkan kemarahannya.</p>
<p>Nabi Muhammad sendiri, walaupun sudah termasuk ulul &#8216;azmi, namun Allah beberapa kali memberi peringatan kepada beliau agar jangan sampai marah dan bersempit hati menghadapi kaumnya yang ingkar. Allah berfirman dalam ayat yang lain:</p>
<p>Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan. (al- Qalam/68: 48)</p>
<p>Firman-Nya lagi kepada Nabi Muhammad saw:</p>
<p>Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya. (Hud/11: 12)</p>
<p>Ringkasnya sifat marah yang terdapat pada Nabi Yunus bukanlah timbul dari sifat yang buruk, melainkan karena kekesalan hatinya melihat keingkaran kaumnya yang semula diharapkannya untuk menerima dan melaksanakan agama Allah yang disampaikannya.</p>
<p>Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan kesalahan Nabi Yunus dimana kemarahannya itu menimbulkan kesan bahwa seolah-olah dia mengira bahwa sebagai Nabi dan Rasul Allah tidak akan pernah dibiarkan menghadapi kesulitan, sehingga jalan yang dilaluinya akan selalu indah tanpa halangan.</p>
<p>Akan tetapi dalam kenyatan tidak demikian. Pada umumnya para rasul dan nabi banyak menemui rintangan, bahkan siksaan dan ejekan terhadap dirinya dari orang-orang yang ingkar. Hanya saja dalam keadaan yang sangat gawat, baik dimohon atau tidak oleh yang bersangkutan, Allah mendatangkan pertolongan-Nya, sehingga Rasul-Nya selamat dan umatnya yang ingkar itu mengalami kebinasaan.</p>
<p>Menurut riwayat yang dinukil dari Ibnu Kashir, bahwa ketika Nabi Yunus dalam keadaan marah, ia lalu menjauhkan diri dari kaumnya pergi ke tepi pantai. Di sana ia menjumpai sebuah perahu, lalu ia ikut serta naik ke perahu itu dengan wajah yang muram. Di kala perahu itu hendak berlayar, datanglah gelombang besar yang menyebabkan perahu itu terancam tenggelam apabila muatannya tidak segera dikurangi. Maka nahkoda perahu itu berkata, &#8220;Tenggelamnya seseorang lebih baik daripada tenggelamnya kita semua.&#8221; Lalu diadakan undian untuk menentukan siapakah di antara mereka yang harus dikeluarkan dari perahu itu. Setelah diundi, ternyata bahwa Nabi Yunuslah yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, penumpang kapal itu merasa keberatan mengeluarkannya dari pertahu itu. Maka undian dilakukan sekali lagi, tetapi hasilnya tetap demikian. Bahkan undian yang ketiga kalinya pun demikian pula. Akhirnya Yunus melepaskan pakaiannya, lalu ia terjun ke laut atas kemauannya sendiri. Allah mengirim seekor ikan besar yang berenang dengan cepat lalu menelan Yunus.</p>
<p>Dalam ayat ini selanjutnya Allah menerangkan bahwa setelah Nabi Yunus berada dalam tiga tingkat &#8220;kegelapan berbeda&#8221;, maka ia berdoa kepada Allah, &#8220;Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.&#8221;</p>
<p>Yang dimaksud dengan tiga kegelapan berbeda di sini ialah bahwa Nabi Yunus sedang berada di dalam perut ikan yang gelap, dalam laut yang dalam dan gelap, dan di malam hari yang gelap gulita pula.</p>
<p>Pengakuan Nabi Yunus bahwa dia &#8220;termasuk golongan orang-orang yang zalim&#8221;, berarti dia sadar atas kesalahannya yang telah dilakukannya sebagai Nabi dan Rasul, yaitu tidak sabar dan tidak berlapang dada menghadapi kaumnya, seharusnya ia bersabar sampai menunggu datangnya ketentuan Allah atas kaumnya yang ingkar itu.</p>
<p>Karena kesadaran itu maka ia mohon ampun kepada Allah, dan mohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 88</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengabulkan doa Nabi Yunus, lalu diselamatkannya dari rasa duka yang amat sangat. Duka karena rasa bersalah, duka karena keingkaran umatnya, dan duka karena malapetaka yang menimpa dirinya.</p>
<p>Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa demikianlah Dia menyelamatkan mereka dari azab duniawi dan mengaruniakan mereka kebahagiaan ukhrawi. Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya pada ayat yang lain:</p>
<p>Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu. (Yunus/10: 98)</p>
<p>Sesuai dengan kisah Yunus ini Nabi mengajarkan umatnya yang sedang mengalami kesulitan untuk berdoa seperti doa Nabi Yunus. Mus&#8217;ab bin Umair meriwayatkan dari Rasulullah bersabda:</p>
<p>Siapa yang berdoa dengan doa Nabi Yunus, maka akan dikabulkan. (Riwayat at-Tirmidzi)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 89</h3>
<p>Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian Nabi Muhammad saw dan umatnya kepada kisah Nabi Zakaria. Karena ia tidak mempunyai anak, maka ia merasa kesepian dan tidak mempunyai seorang pun keturunan yang akan menggantikan dan melanjutkan perjuangannya bila ia telah meninggal dunia. Sebab itu ia berdoa kepada Allah agar Dia tidak membiarkannya hidup tanpa keturunan.</p>
<p>Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Nabi Zakaria setelah ia mengucapkan doanya itu. Lalu ia berkata, &#8220;Dan Engkau adalah ahli waris yang paling baik?&#8221; Maksudnya ialah bahwa apabila Allah menghendaki tidak akan menganugerahkan keturunan kepadanya, maka ia pun rela dan tidak berkecil hati, karena ia yakin bahwa Allah akan tetap memelihara agamanya, dan tidak akan menyia-nyiakan agamanya dan Allah tentu akan memilih orang yang paling tepat sebagai pengganti Zakaria setelah wafatnya.</p>
<p>Kisah ini telah dibahas lebih luas dalam Surah Ali &#8216;Imran dan Surah Maryam.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 90</h3>
<p>Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah memperkenankan doa Nabi Zakaria itu, dan mengaruniakan kepadanya seorang putra bernama Yahya. Untuk itu Allah telah mengaruniakan kesehatan yang baik kepada istri Zakaria, sehingga memungkinkan untuk mengandung, padahal sebelum itu ia adalah perempuan yang mandul.</p>
<p>Pada lanjutan ayat ini Allah menjelaskan apa alasan-Nya untuk mengabulkan permohonan Zakaria itu, ialah karena mereka semua senantiasa bersegera dalam berbuat kebajikan, terutama dalam memelihara keturunan dengan sebaik-baiknya. Selain itu juga, karena senantiasa berdoa kepada Allah dengan hati yang harap-harap cemas, harap akan ampunan Tuhan dan cemas terhadap kemurkaan dan siksaan Allah. Dan alasan ketiga ialah karena mereka selalu khusyuk dan tawadu&#8217; kepada-Nya, dan tidak pernah sombong atau takabur dan mengingkari karunia-Nya.</p>
<p>Jadi, sifat-sifat yang mulia itulah yang menyebabkan mereka memperoleh karunia dari Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 91</h3>
<p>Pada ayat ini Allah menerangkan kisah Maryam secara ringkas, yaitu bahwa dia adalah seorang perempuan yang memelihara kehormatan dirinya, maka suatu ketika Allah mengutus malaikat Jibril untuk memberitahukan Maryam bahwa Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh Maryam sehingga ia mengandung, kemudian Maryam melahirkan Isa as tanpa ayah. Oleh karena Isa lahir tanpa ayah, maka Maryam dan Isa lalu menjadi salah satu bukti bagi seluruh isi alam ini, tentang kekuasaan dan kemahaesaan Allah. Kelahiran Isa mengandung bukti dan tanda kekuasaan Allah sebagaimana halnya Nabi Adam yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu, sedang Isa lahir tanpa ayah saja.</p>
<p>Hal yang membuat heran adalah karena Maryam belum pernah mengadakan hubungan apa pun dengan kaum lelaki, baik secara halal melalui perkawinan, apalagi secara tidak halal. Allah menyebutkan ucapan Maryam mengenai dirinya sendiri sebagai berikut:</p>
<p>Tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!&#8221; (Maryam/19: 20)</p>
<p>Firman Allah dalam ayat lain;</p>
<p>Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (at-Tahrim/66: 12)</p>
<p>Keheranan Maryam yang disampaikan kepada Malaikat Jibril dijawab degan firman Allah:</p>
<p>Dia (Jibril) berkata, &#8220;Demikianlah.&#8221; Tuhanmu berfirman, &#8220;Hal itu mudah bagi-Ku. (Maryam/19 : 21)</p>
<p>Tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada diri Maryam ialah bahwa dia hamil tanpa melalui hubungan kelamin dengan siapa pun, dan malaikat senantiasa menyediakan makanan untuknya.</p>
<p>Mengenai hal ini Al-Qur&#8217;an menceritakan pertanyaan Zakaria kepada Maryam dan jawaban Maryam kepadanya:</p>
<p>&#8220;Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?&#8221; Dia (Maryam) menjawab, &#8220;Itu dari Allah.&#8221; (Ali &#8216;Imran/3: 37)</p>
<p>Adapun tanda-tanda kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang terlihat melalui diri Isa as, sudah diterangkan dengan panjang lebar dalam Surah Ali &#8216;Imran dan Surah Maryam.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 92</h3>
<p>Dalam ayat ini ditegaskan bahwa agama tauhid ini adalah agama untuk seluruh manusia, dan merupakan agama yang satu, yaitu sama dalam akidah, meskipun berbeda dalam syariat.</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Kami para nabi seperti ibarat saudara-saudara se ayah, agama kami satu.&#8221; (Riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Hurairah.)</p>
<p>Kemudian pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah adalah Tuhan bagi seluruh umat manusia. Oleh sebab itu kepada-Nya sajalah mereka harus menyembah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 93</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah memperingatkan kaum Muslimin atas perpecahan yang timbul antara umat manusia. Seluruh umat manusia itu seharusnya menganut agama tauhid, karena agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama tauhid (agama Islam). Akan tetapi mereka telah berpecah belah, sehingga kesatuan mereka menjadi terkotak-kotak kecil yang dipisahkan dengan ketat oleh perbedaan pandangan, baik mengenai masalah-masalah yang tidak prinsip dalam agama maupun masalah-masalah duniawi semata. Perbedaan-perbedaan paham itu pada umumnya disertai taklid kepada imam atau pemimpin sehingga kelompok yang satu menutup diri terhadap kelompok yang lain. Dengan demikian mereka sudah melalaikan ajaran agama, yang menyuruh mereka bersatu dan memelihara kesatuan umat. Akan tetapi mereka berbuat sebaliknya, yaitu berpecah belah.</p>
<p>Pada akhir ayat ini ditegaskan, bahwa umat manusia yang sudah berpecah belah itu, seluruhnya akan kembali kepada-Nya juga. Maka Allah akan melakukan hisab dan memberikan balasan atas keimanan dan amal mereka masing-masing.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 94</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menjamin bahwa amal kebajikan yang dilakukan oleh seseorang yang beriman, betapapun kecilnya, namun Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Amal kebajikan itu tidak akan hilang percuma, dan tidak akan diingkari karena Allah telah menuliskannya untuk orang yang melakukannya.</p>
<p>Jaminan Allah untuk memberikan balasan atas setiap kebajikan hamba-Nya terdapat dalam firman-Nya:</p>
<p>Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (al-Isra&#8217;/17: 19)</p>
<p>Firman-Nya lagi pada ayat yang lain:</p>
<p>Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. (al-Kahf/18: 30)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 95</h3>
<p>Pada ayat ini dijelaskan bahwa tidak mungkinlah bagi penduduk suatu negeri yang telah dibinasakan dengan azab-Nya, bahwa mereka tidak akan kembali kepada-Nya.</p>
<p>Maksudnya, kaum yang ingkar dan kafir itu, walaupun sudah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia, namun mereka pasti akan kembali kepada Allah di akhirat kelak, lalu dihisab semua amalannya, dan diberi balasan yang setimpal.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 96</h3>
<p>Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum kafir telah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia ini, sehingga mereka menemui kemusnahan, mereka tidak akan kembali lagi ke dunia, mereka akan tetap dalam kemusnahan sampai hari Kiamat kelak. Sebagai salah satu dari tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat adalah terbukanya tembok Yakjuj dan Makjuj, sehingga Yakjuj dan Makjuj berdatangan, meluncur dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Mereka membuat keonaran dan kebinasaan di dunia.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 97</h3>
<p>Pada ayat ini ditegaskan, bahwa pada waktu keluarnya Yakjuj dan Makjuj itu, dan di waktu telah dekatnya saat kedatangan janji yang benar, yaitu hari kebangkitan dan hisab, maka dengan serta merta terbelalaklah mata kaum kafir karena terkejut, seraya berteriak dengan nada penyesalan, &#8220;Aduhai celakalah kami, benar-benar kami lalai tentang kedatangan hari kebangkitan dan hisab, sehingga kami tidak mempersiapkan diri kami dengan baik. Bahkan kami ini adalah orang-orang yang zalim atas diri kami dan terhadap orang lain, karena kami telah diberi peringatan bahwa hari kebangkitan dan hisab itu benar-benar akan datang, tetapi kami tidak mengindahkan peringatan itu, bahkan mendustakannya.</p>
<p>Akan tetapi, betapa pun mereka menyesali dirinya pada saat itu namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi, karena saat kebangkitan dan hisab itu memang benar-benar datang, sedang mereka tidak percaya sedikitpun.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 98</h3>
<p>Ayat ini menegaskan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, selama mereka hidup di dunia, seperti patung, binatang, benda-benda mati, pohon atau tempat keramat dan sebagainya akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Hal ini merupakan janji Allah kepada mereka, yang pasti ditepati-Nya.</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang-orang musyrik beserta sembahan-sembahan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, padahal yang berdosa dan memperserikatkan Tuhan dalam hal ini ialah penyembah-penyembahnya. Adapun sembahan-sembahan itu mereka tidak tahu menahu apa yang diperbuat oleh penyembah-penyembahnya. Hikmah menyertakan sembahan-sembahan itu beserta penyembah-penyembahnya ialah untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka terhadap sembahan-sembahan itu sewaktu di dunia adalah tidak benar. Mereka waktu di dunia dahulu mempercayai bahwa patung-patung dan segala apa yang mereka sembah itu akan memberi syafaat kepada mereka di hari Kiamat, sehingga mereka terhindar dari azab Allah. Dengan perantara sembahan-sembahan itu mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Setelah hari Kiamat datang dan setelah mereka masuk ke dalam neraka bersama-sama dengan sembahan-sembahan yang mereka sembah itu, ternyata sembahan-sembahan itu tidak dapat berbuat sesuatu pun terhadap mereka. Dengan demikian terbuktilah kesalahan kepercayaan yang mereka anut dan kebenaran risalah yang pernah disampaikan Muhammad kepada mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 99</h3>
<p>Ayat ini menerangkan seandainya sembahan-sembahan yang disembah orang-orang musyrik itu benar tuhan di samping Allah sebagaimana kepercayaan mereka, tentulah sembahan itu akan selamat bersama-sama mereka, karena jika ia tuhan tentulah ia mahakuasa dan perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyiksanya, bahkan ia sendirilah yang akan menyiksa orang-orang yang durhaka padanya. Akan tetapi yang terjadi ialah bahwa semuanya itu baik penyembah-penyembah berhala, maupun sembahan-sembahan yang disembah akan kekal di dalam neraka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 100</h3>
<p>Kemudian Allah menerangkan keadaan penyembah berhala- berhala itu beserta sembahan-sembahan mereka di dalam neraka, yaitu:</p>
<p>1. Mereka di dalam neraka mengeluh dan merintih dan nafas mereka menjadi sesak menanggung azab yang tiada terperikan dahsyatnya.</p>
<p>Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih. (Hud/11:106)</p>
<p>2. Penyembah-penyembah berhala yang sedang diazab itu tidak dapat mengetahui keadaan temannya yang lain yang juga diazab, karena mereka tidak sempat memikirkannya, masing-masing mereka sibuk menghadapi azab yang selalu menimpa mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 101</h3>
<p>Pada ayat ini diterangkan keadaan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta orang-orang yang telah diberi Allah taufik untuk taat kepada-Nya, bahwa mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka bahkan mereka sedikit pun tidak didekatkan kepadanya.</p>
<p>Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas, bahwa waktu ayat 98 diturunkan, orang-orang musyrik Quraisy merasa terpukul karenanya. Mereka berkata, &#8220;Muhammad telah memaki-maki tuhan-tuhan kita. Lalu mereka pergi kepada Ibnu az-Ziba&#8217;ra dan menceritakan tentang ayat yang diturunkan itu, dia menjawab, &#8220;Kalau saya berhadapan dengan Muhammad tentulah saya dapat membantahnya.&#8221; Orang-orang musyrik Quraisy itu berkata, &#8220;Apakah yang kamu katakan.&#8221; Dia menjawab, &#8220;Aku mengatakan kepadanya, &#8220;Al- Masih disembah orang-orang Nasrani, &#8216;Uzair disembah orang Yahudi, apakah Al-Masih dan &#8216;Uzair itu akan menjadi bahan bakar api neraka? Orang-orang Quraisy tertarik hatinya mendengar ucapan Ibnu az-Ziba&#8217;ra dan merasa telah dapat mengalahkan Muhammad. Maka turunlah ayat 99 sampai 101 Surah ini, yang menegaskan ayat 98 di atas.</p>
<p>Dengan turunnya ayat-ayat ini Ibnu az-Ziba&#8217;ra bungkam dan bimbanglah kembali hati orang-orang musyrik. Tetapi karena kedengkian mereka kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, maka mereka tetap dalam kemusyrikan mereka.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 102</h3>
<p>. Allah menerangkan keadaan penduduk surga, yaitu:</p>
<p>1. Mereka tidak mendengar suara api neraka yang ditimbulkan oleh gejolak apinya dan bunyi menghanguskan barang-barang yang sedang dibakar.</p>
<p>2. Mereka berada dalam kesenangan dan kegembiraan yang tidak putusputusnya, menikmati segala yang mereka inginkan, mendengar segala yang menyenangkan hati dan melihat apa yang disenangi mata mereka.</p>
<p>3. Mereka tidak dirisaukan oleh bunyi sangkakala yang terakhir, yaitu bunyi sangkakala yang menandakan kebangkitan manusia dari kubur untuk dihisab, Allah berfirman:</p>
<p>Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39: 68)</p>
<p>4. Mereka disambut para malaikat dengan menyampaikan kabar gembira atas kemenangan mereka. Seakan-akan malaikat menyampaikan kepada mereka, &#8220;Inilah hari yang pernah dijanjikan Allah kepadamu hai orang-orang yang beriman sewaktu di dunia dahulu, pada saat ini Allah melimpahkan pahala yang besar dan kesenangan yang abadi sebagai balasan atas keimanan, ketaatan, dan kesucian dirimu dari perbuatan dosa dengan mengerjakan amal-amal saleh dan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 103</h3>
<p>. Allah menerangkan keadaan penduduk surga, yaitu:</p>
<p>1. Mereka tidak mendengar suara api neraka yang ditimbulkan oleh gejolak apinya dan bunyi menghanguskan barang-barang yang sedang dibakar.</p>
<p>2. Mereka berada dalam kesenangan dan kegembiraan yang tidak putusputusnya, menikmati segala yang mereka inginkan, mendengar segala yang menyenangkan hati dan melihat apa yang disenangi mata mereka.</p>
<p>3. Mereka tidak dirisaukan oleh bunyi sangkakala yang terakhir, yaitu bunyi sangkakala yang menandakan kebangkitan manusia dari kubur untuk dihisab, Allah berfirman:</p>
<p>Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39: 68)</p>
<p>4. Mereka disambut para malaikat dengan menyampaikan kabar gembira atas kemenangan mereka. Seakan-akan malaikat menyampaikan kepada mereka, &#8220;Inilah hari yang pernah dijanjikan Allah kepadamu hai orang-orang yang beriman sewaktu di dunia dahulu, pada saat ini Allah melimpahkan pahala yang besar dan kesenangan yang abadi sebagai balasan atas keimanan, ketaatan, dan kesucian dirimu dari perbuatan dosa dengan mengerjakan amal-amal saleh dan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya.&#8221;</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 104</h3>
<p>Orang-orang yang mendapat sambutan para malaikat itu tidak merasa gentar dan terkejut dengan datangnya hari Kiamat, di waktu langit dilipat dan diganti dengan langit yang lain, seakan-akan langit yang lama dilipat untuk disimpan dan langit yang baru dikembangkan. Allah berfirman:</p>
<p>Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar/39: 67)</p>
<p>Demikianlah Allah membangkitkan manusia setelah mereka mati dan berada di dalam kubur, untuk dikumpulkan di padang mahsyar, agar dapat dihisab amal perbuatan mereka. Membangkitkan manusia setelah mati dan hancur menjadi tanah adalah mudah bagi Allah. Jika Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, tentulah mengulangi kembali menciptakannya adalah lebih mudah dari menciptakan pertama kali. Membangkitkan manusia kembali untuk dihisab itu adalah suatu janji dari Allah yang pasti ditepati-Nya.</p>
<p>Secara saintis, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 30 dari surah ini, penciptaan alam semesta dimulai dari ketiadaan (keadaan singularitas: massa tak terhingga besarnya, volume tak terhingga kecilnya) yang kemudian meledak dahsyat dan kemudian membentuk alam semesta yang terus mengembang sampai dengan saat ini. Bukti tentang alam semesta yang mengembang ini dapat ditemukan pada hasil pengamatan dengan teleskop yang menunjukkan bahwa dengan berjalannya waktu, jarak antara benda-benda langit semakin menjauh. Para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta akan terus mengembang sampai dengan dicapainya massa kritis alam semesta. Apabila massa kritis ini telah tercapai, maka gaya tarik menarik (gravitasi) antara massa berbagai benda langit akan menahan proses pengembangan alam semesta. </p>
<p>Bahkan akan tercapai keadaan kontraksi alam semesta. Alam semesta yang semula mengembang akan mengkerut (berkontraksi) mengecil dan suatu saat akan hancur dan kembali pada keadaan awal (singularitas); keadaan seperti inilah yang disebut hari kiamat. Hari kiamat dalam ayat ini digambarkan sebagai hari di mana Allah akan &#8220;menggulung langit&#8221;, bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas, sebagaimana halnya awal penciptaan yang pertama. Istilah &#8220;menggulung langit&#8221; adalah ungkapan yang tepat, karena sesungguhnya alam semesta tidak bundar melainkan datar terdiri dari trilyunan galaksi yang membentuk &#8220;gulungan&#8221;.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 105</h3>
<p>Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para Rasul, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur&#8217;an. Dalam kitab-kitab itu diterangkan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah telah menetapkan juga dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba yang mewarisi bumi itu ialah hamba-hamba yang sanggup mengolah bumi dan memakmurkannya, selama dia mengikuti petunjuk Allah.</p>
<p>Jika diperhatikan sejarah dunia dan sejarah umat manusia, maka orang-orang yang dijadikan Allah sebagai penguasa di bumi ini, ialah orang-orang yang sanggup mengatur dan memimpin masyarakat, mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, sanggup mempertahankan diri dari serangan luar dan dapat mengokohkan persatuan rakyat yang ada di negaranya. Pemberian kekuasaan oleh Allah kepada orang-orang tersebut bukanlah berarti Allah telah meridai tindakan-tindakan mereka; karena kehidupan duniawi lain halnya dengan kehidupan ukhrawi. Ada orang yang bahagia hidup di akhirat saja, dan ada pula yang bahagia hidup di dunia saja. Sedangkan yang dicita-citakan seorang muslim ialah bahagia hidup di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Apabila orang muslim ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat, mereka harus mengikuti Sunnatullah di atas, yaitu taat beribadah kepada Allah, sanggup memimpin umat manusia dengan baik, sanggup mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, menggalang persatuan dan kesatuan yang kuat di antara meraka sehingga tidak mudah dipecah belah oleh musuh.</p>
<p>Para mufasir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata &#8220;bumi&#8221; dalam ayat ini, di antaranya:</p>
<p>a. Sebagian ahli tafsir mengartikan &#8220;bumi&#8221; dalam ayat ini dengan &#8220;surga&#8221;. Karena &#8220;surga&#8221; itu diwariskan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Firman Allah:</p>
<p>Dan mereka berkata, &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.&#8221; Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (az-Zumar/39: 74)</p>
<p>b. Sebagian yang lain mengartikan kata &#8220;bumi&#8221; dengan bumi yang sekarang ditempati umat manusia. Firman Allah: </p>
<p>Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi. (an-Nur/24: 55)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221; (al-A&#8217;raf/7: 128)</p>
<p>c. Sebagian mufasir lain mengartikan &#8220;bumi&#8221; dengan tanah suci yang diwarisi oleh orang yang saleh, firman Allah:</p>
<p>Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (al-A&#8217;raf/7: 137)</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 106</h3>
<p>Allah menerangkan bahwa segala kisah yang diterangkan dalam surah ini adalah pelajaran dan peringatan yang disampaikan sejak awal sampai akhir surah ini, cukup menjadi pelajaran dan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, sebagai bekal dan bahan bagi orang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Bahkan ayat-ayat dalam surah ini merupakan peringatan dan ancaman yang keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruan para rasul. Mereka akan ditimpa oleh malapetaka yang besar, sebagaimana telah ditimpakan kepada umat-umat dahulu.</p>
<p>Karena itu kaum Muslimin wajib mengambil pelajaran dan mengamalkan ayat-ayat tersebut agar tidak terkena ancaman Allah yang berupa azab dan malapetaka yang sangat dahsyat.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 107</h3>
<p>Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad yang membawa agama-Nya itu, tidak lain adalah memberi petunjuk dan peringatan agar mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Rahmat Allah bagi seluruh alam meliputi perlindungan, kedamaian, kasih sayang dan sebagainya, yang diberikan Allah terhadap makhluk-Nya. Baik yang beriman maupun yang tidak beriman, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Jika dilihat sejarah manusia dan kemanusiaan, maka agama Islam adalah agama yang berusaha sekuat tenaga menghapuskan perbudakan dan penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Seandainya pintu perbudakan masih terbuka, itu hanyalah sekedar untuk mengimbangi perbuatan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Sedangkan jalan-jalan untuk menghapuskan perbudakan disediakan, baik dengan cara memberi imbalan yang besar bagi orang yang memerdekakan budak maupun dengan mengaitkan kafarat/hukuman dengan pembebasan budak. Perbaikanperbaikan tentang kedudukan perempuan yang waktu itu hampir sama dengan binatang, dan pengakuan terhadap kedudukan anak yatim, perhatian terhadap fakir dan miskin, perintah melakukan jihad untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan, semuanya diajarkan oleh Al-Qur&#8217;an dan Hadis. Dengan demikian seluruh umat manusia memperoleh rahmat, baik yang langsung atau tidak langsung dari agama yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kebanyakan manusia masih mengingkari padahal rahmat yang mereka peroleh adalah rahmat dan nikmat Allah.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 108</h3>
<p>Allah memerintahkan kepada Muhammad agar menyampaikan kepada orang kafir dan kepada orang yang telah sampai seruan kepadanya, bahwa pokok wahyu yang disampaikan kepadanya ialah tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Karena itu hendaklah manusia menyembah-Nya, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun seperti mengakui adanya tuhan-tuhan yang lain selain Dia, atau mempercayai bahwa selain Allah ada lagi sesuatu yang mempunyai kekuatan gaib seperti kekuatan Allah. Dan serahkanlah dirimu kepada Allah dengan memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya saja, dan ikutilah segala wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 109</h3>
<p>Kemudian Allah mengingatkan Muhammad, akan tugasnya sebagai seorang Rasul, yaitu hanya menyampaikan agama Allah kepada manusia. Karena itu juga mereka tidak mengindahkan seruanmu, tidak mengikuti wahyu yang disampaikan kepada mereka, maka janganlah kamu bersedih hati, dan katakanlah kepada mereka bahwa kamu telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus, menuju kebahagiaan yang sempurna. Jika mereka tidak mau mengikuti dan menempuh jalan yang telah dibentangkan itu berati mereka ingin mendapat azab dari Allah.</p>
<p>Pada ayat lain Allah berfirman:</p>
<p>Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, &#8220;Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.&#8221; (Yunus/10: 41)</p>
<p>Jika orang-orang kafir menanyakan kepada kamu Muhammad tentang kapan azab yang dijanjikan itu akan ditimpakan, maka katakanlah kepada mereka bahwa engkau tidak tahu menahu tentang waktunya, kapan azab itu akan ditimpakan, karena wewenang sepenuhnya berada di tangan Allah, dan tidak seorang pun yang mengetahuinya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 110</h3>
<p>Allah Maha Mengetahui segala yang dikatakan oleh orang-orang kafir tentang agama Islam, baik dikatakan secara terang-terangan atau pun dikatakan secara berbisik, dan Allah mengetahui tentang kebencian hati orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin. Karena itu Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang yang demikian.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 111</h3>
<p>Allah memerintahkan pula agar Muhammad memberitahukan kepada orang kafir bahwa ia tidak mengetahui sedikit pun mengapa azab itu ditunda datangnya. Boleh jadi agar mereka menikmati segala kesenangan duniawi sampai kepada waktu yang ditentukan Allah, maka Allah akan menimpakan azab secara tiba-tiba tanpa diketahui darimana datangnya.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
<h3 style='margin-top: 1.5em;'>Tafsir Ayat 112</h3>
<p>Karena orang musyrik Mekah semakin hari bertambah-tambah kezaliman mereka, maka Muhammad berdoa kepada Tuhan agar Dia segera menimpakan azab kepada mereka. Permohonan Muhammad ini dikabulkan Allah dengan kekalahan orang musyrik pada beberapa peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan kaum musyrik.</p>
<p>Qatadah berkata, &#8220;Para nabi dahulu berdoa&#8221;:</p>
<p>Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.&#8221; (al-A&#8217;raf/7: 89)</p>
<p>Maka Rasulullah saw diperintahkan Allah untuk mengucapkan doa yang demikian itu.</p>
<hr style='margin: 1em 0; border: 0; border-top: 1px dotted #ccc;'>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/tafsir-al-anbiya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>20. Taha (135 Ayat)</title>
		<link>https://quran.abiphone.com/taha/</link>
					<comments>https://quran.abiphone.com/taha/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[kendalreload@gmail.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2026 12:30:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Al Quran Online]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://quran.abiphone.com/?p=1116</guid>

					<description><![CDATA[Arti: Taha Tempat Turun: Mekah Jumlah Ayat: 135 Deskripsi: Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamai Thaahaa, diambil dari perkataan yang berasal dan ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan ... <a title="20. Taha (135 Ayat)" class="read-more" href="https://quran.abiphone.com/taha/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 20. Taha (135 Ayat)">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Arti:</strong> Taha</p>
<p><strong>Tempat Turun:</strong> Mekah</p>
<p><strong>Jumlah Ayat:</strong> 135</p>
<h2>Deskripsi:</h2>
<p>Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamai <i>Thaahaa</i>, diambil dari perkataan yang berasal dan ayat pertama surat ini.</p>
<p>Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf <i>thaahaa</i> dalam surat ini.</p>
<p>Allah menerangkan bahwa Al Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam. Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa orang nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Selain hal-hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center; margin-bottom: 2em;"><a style="background-color: #28a745; color: white; padding: 12px 25px; border-radius: 8px; text-decoration: none; font-weight: bold; display: inline-block; transition: background-color 0.3s ease;" href="https://quran.abiphone.com/tafsir-taha/" target="_blank" rel="noopener">Baca Tafsir Lengkap Surah Taha</a></p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 2px solid #eee;" />
<h2>Ayat-Ayat Al-Qur&#8217;an:</h2>
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 1</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">طٰهٰ ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṭāhā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Thaha</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 2</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">mā anzalnā ‘alaikal-qur&#8217;āna litasyqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami tidak menurunkan Al-Qur&#8217;an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 3</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">illā tażkiratal limay yakhsyā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 4</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">تَنْزِيْلًا مِّمَّنْ خَلَقَ الْاَرْضَ وَالسَّمٰوٰتِ الْعُلٰى ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">tanzīlam mimman khalaqal-arḍa was-samāwātil-‘ulā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 5</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ar- raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 6</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa mā bainahumā wa mā taḥtaṡ-ṡarā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 7</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَاِنَّهٗ يَعْلَمُ السِّرَّ وَاَخْفٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa in tajhar bil-qauli fa innahū ya‘lamus-sirra wa akhfā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 8</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ لَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allāhu lā ilāha illā huw(a), lahul-asmā&#8217;ul-ḥusnā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 9</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَهَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰى ۘ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa hal atāka ḥadīṡu mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 10</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iż ra&#8217;ā nāran fa qāla li&#8217;ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la‘allī ātīkum minhā biqabasin au ajidu ‘alan-nāri hudā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Ketika dia (Musa) melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 11</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falammā atāhā nūdiya yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, “Wahai Musa!</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 12</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innī ana rabbuka fakhla‘ na‘laika innaka bil-wādil-muqaddasi ṭuwā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 13</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa anakhtartuka fastami‘ limā yūḥā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 14</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa‘budnī, wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 15</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innas-sā‘ata ātiyatun akādu ukhfīhā litujzā kullu nafsim bimā tas‘ā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 16</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">falā yaṣuddannaka ‘anhā mal lā yu&#8217;minu bihā wattaba‘a hawāhu fa tardā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 17</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā tilka biyamīnika yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">”Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 18</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla hiya ‘aṣāy(a), atwakka&#8217;u ‘alaihā wa ahusysyu bihā ‘alā ganamī wa liya fīhā ma&#8217;āribu ukhrā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 19</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla alqihā yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 20</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa alqāhā fa iżā hiya ḥayyatun tas‘ā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 21</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla khużhā wa lā takhaf, sanu‘īduhā sīratahal-ūlā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 22</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰىۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">waḍmum yadaka ilā janāḥika takhruj baiḍā&#8217;a min gairi sū&#8217;in āyatan ukhrā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih (bercahaya) tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 23</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰى ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">linuriyaka min āyātinal-kubrā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">untuk Kami perlihatkan kepadamu (sebagian) dari tanda-tanda kebesaran Kami yang sangat besar,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 24</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iżhab ilā fir‘auna innahū ṭagā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pergilah kepada Fir‘aun; dia benar-benar telah melampaui batas.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 25</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 26</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yassir lī amrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan mudahkanlah untukku urusanku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 27</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">waḥlul ‘uqdatam mil lisānī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 28</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yafqahū qaulī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">agar mereka mengerti perkataanku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 29</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">waj‘al lī wazīram min ahlī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 30</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">هٰرُوْنَ اَخِى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">hārūna akhī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) Harun, saudaraku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 31</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">usydud bihī azrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 32</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa asyrik-hu fī amrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan jadikanlah dia teman dalam urusanku,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 33</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kai nusabbiḥaka kaṡīrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 34</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa nażkuraka kaṡīrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan banyak mengingat-Mu,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 35</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innaka kunta binā baṣīrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 36</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla qad ūtīta su&#8217;laka yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa!</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 37</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَيْكَ مَرَّةً اُخْرٰىٓ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad manannā ‘alaika marratan ukhrā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebelum ini),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 38</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْ اَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّكَ مَا يُوْحٰىٓ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iż auḥainā ilā ummika mā yūḥā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 39</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَنِ اقْذِفِيْهِ فِى التَّابُوْتِ فَاقْذِفِيْهِ فِى الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّيْ وَعَدُوٌّ لَّهٗ ۗوَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ ەۚ وَلِتُصْنَعَ عَلٰى عَيْنِيْ ۘ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">aniqżifīhi fit-tābūti faqżifīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya&#8217;khużhu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah(ū), wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna‘a ‘alā ‘ainī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 40</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗ ۗفَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ فَلَبِثْتَ سِنِيْنَ فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ ەۙ ثُمَّ جِئْتَ عَلٰى قَدَرٍ يّٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iż tamsyī ukhtuka fa taqūlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh(ū), fa raja‘nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan(a), wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futūnā(n), fa labiṡta sinīna fī ahli madyan(a), ṡumma ji&#8217;ta ‘alā qadariy yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat); lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 41</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِيْۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wasṭana‘tuka linafsī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">dan Aku telah memilihmu (menjadi rasul) untuk diri-Ku.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 42</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iżhab anta wa akhūka bi&#8217;āyātī wa lā taniyā fī żikrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 43</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">iżhabā ilā fir‘auna innahū ṭagā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 44</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa qūlā lahū qaulal layyinal la‘allahū yatażakkaru au yakhsyā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 45</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَا رَبَّنَآ اِنَّنَا نَخَافُ اَنْ يَّفْرُطَ عَلَيْنَآ اَوْ اَنْ يَّطْغٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālā rabbanā innanā nakhāfu ay yafruṭa ‘alainā au ay yaṭgā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas,”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 46</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ لَا تَخَافَآ اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla lā takhāfā innanī ma‘akumā asma‘u wa arā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 47</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَأْتِيٰهُ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلَا رَبِّكَ فَاَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ وَلَا تُعَذِّبْهُمْۗ قَدْ جِئْنٰكَ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ ۗوَالسَّلٰمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa&#8217;tiyāhu fa qūlā innā rasūlā rabbika fa arsil ma‘anā banī isrā&#8217;īl(a), wa lā tu‘ażżibhum, qad ji&#8217;nāka bi&#8217;āyatim mir rabbik(a), was-salāmu ‘alā manittaba‘al-hudā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, “Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 48</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّا قَدْ اُوْحِيَ اِلَيْنَآ اَنَّ الْعَذَابَ عَلٰى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innā qad ūḥiya ilainā annal-‘ażāba ‘alā man każżaba wa tawallā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapa pun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling (tidak mempedulikannya).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 49</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ فَمَنْ رَّبُّكُمَا يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla famar rabbukumā yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Fir‘aun) berkata, “Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 50</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ رَبُّنَا الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbunal-lażī a‘ṭā kulla syai&#8217;in khalqahū ṡumma hadā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 51</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ الْاُوْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla famā bālul-qurūnil-ūlā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Fir‘aun) berkata, “Jadi bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 52</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَىۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla ‘ilmuhā ‘inda rabbī fī kitāb(in), lā yaḍillu rabbī wa lā yansā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh), Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa;</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 53</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا وَّسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۗ فَاَخْرَجْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْ نَّبَاتٍ شَتّٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">al-lażī ja‘ala lakumul-arḍa mahdaw wa salaka lakum fīhā subulaw wa anzala minas-samā&#8217;i mā&#8217;ā(n), fa akhrajnā bihī azwājam min nabātin syattā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 54</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كُلُوْا وَارْعَوْا اَنْعَامَكُمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰى ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kulū war‘au an‘āmakum, inna fī żālika la&#8217;āyātil li&#8217;ulin-nuhā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu. Sungguh, pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 55</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">minhā khalaqnākum wa fīhā nu‘īdukum wa minhā nukhrijukum tāratan ukhrā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 56</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَرَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَاَبٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad araināhu āyātinā kullahā fa każżaba wa abā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya (Fir‘aun) tanda-tanda (kebesaran) Kami semuanya, ternyata dia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 57</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ اَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla aji&#8217;tanā litukhrijanā min arḍinā bisiḥrika yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 58</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَلَنَأْتِيَنَّكَ بِسِحْرٍ مِّثْلِهٖ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَّا نُخْلِفُهٗ نَحْنُ وَلَآ اَنْتَ مَكَانًا سُوًى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa lana&#8217;tiyannaka bisiḥrim miṡlihī faj‘al bainanā wa bainaka mau‘idal lā nukhlifuhū naḥnu wa lā anta makānan suwā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu, maka buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan engkau yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) engkau, di suatu tempat yang terbuka.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 59</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَنْ يُّحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla mau‘idukum yaumuz-zīnati wa ay yuḥsyaran-nāsu ḍuḥā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “(Perjanjian) waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (duha).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 60</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَتَوَلّٰى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهٗ ثُمَّ اَتٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa tawallā fir‘aunu fa jama‘a kaidahū ṡumma atā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Fir‘aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang kembali (pada hari yang ditentukan).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 61</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ لَهُمْ مُّوْسٰى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍۚ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla lahum mūsā wailakum lā taftarū ‘alallāhi każiban fa yusḥitakum bi‘ażab(in), wa qad khāba maniftarā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Musa berkata kepada mereka (para pesihir), “Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab.” Dan sungguh rugi orang yang mengada-adakan kedustaan.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 62</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَتَنَازَعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَاَسَرُّوا النَّجْوٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa tanāza‘ū amrahum bainahum wa asarrun-najwā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 63</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْٓا اِنْ هٰذٰنِ لَسَاحِرٰنِ يُرِيْدَانِ اَنْ يُّخْرِجٰكُمْ مِّنْ اَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيْقَتِكُمُ الْمُثْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū in hāżāni lasāḥirāni yurīdāni ay yukhrijākum min arḍikum bisiḥrihimā wa yażhabā biṭarīqatikumul-muṡlā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka (para pesihir) berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak mengusirmu (Fir‘aun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 64</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَجْمِعُوْا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوْا صَفًّاۚ وَقَدْ اَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ajmi‘ū kaidakum ṡumma&#8217;tū ṣaffā(n), wa qad aflaḥal-yauma manista‘lā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka kumpulkanlah segala tipu daya (sihir) kamu, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sungguh, beruntung orang yang menang pada hari ini.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 65</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَلْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū yā mūsā immā an tulqiya wa immā an nakūna awwala man alqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 66</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ بَلْ اَلْقُوْاۚ فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla bal alqū, fa iżā ḥibāluhum wa ‘iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas‘ā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Silakan kamu melemparkan!” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 67</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَوْجَسَ فِيْ نَفْسِهٖ خِيْفَةً مُّوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa aujasa fī nafsihī khīfatam mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Musa merasa takut dalam hatinya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 68</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَعْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qulnā lā takhaf innaka antal-a‘lā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 69</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْاۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ اَتٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa alqi mā fī yamīnika talqaf mā ṣana‘ū, innamā ṣana‘ū kaidu sāḥir(in), wa lā yufliḥus-sāḥiru ḥaiṡu atā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun ia datang.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 70</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ هٰرُوْنَ وَمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ulqiyas-saḥaratu sujjadan qālū āmannā birabbi hārūna wa mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 71</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ عَذَابًا وَّاَبْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla āmantum lahū qabla an āżana lakum, innahū lakabīrukumul-lażī ‘allamakumus-siḥr(a), fa la&#8217;uqaṭṭi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfiw wa la&#8217;uṣallibannakum fī jużū‘in-nakhl(i), wa lata‘lamunna ayyunā asyaddu ‘ażābaw wa abqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka sungguh, akan kupotong tangan dan kakimu secara bersilang, dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma dan sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 72</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا لَنْ نُّؤْثِرَكَ عَلٰى مَا جَاۤءَنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ اَنْتَ قَاضٍۗ اِنَّمَا تَقْضِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū lan nu&#8217;ṡiraka ‘alā mā jā&#8217;anā minal-bayyināti wal-lażī faṭaranā faqḍi mā anta qāḍ(in), innamā taqḍī hāżihil-ḥayātad-dun-yā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka (para pesihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 73</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّآ اٰمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطٰيٰنَا وَمَآ اَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِۗ وَاللّٰهُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innā āmannā birabbinā liyagfira lanā khaṭāyānā wa mā akrahtanā ‘alaihi minas-siḥr(i), wallāhu khairuw wa abqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 74</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّهٗ مَنْ يَّأْتِ رَبَّهٗ مُجْرِمًا فَاِنَّ لَهٗ جَهَنَّمَ ۗ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innahū may ya&#8217;ti rabbahū mujriman fa inna lahū jahannam(a), lā yamūtu fīhā wa lā yaḥyā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahanam. Dia tidak mati (terus merasakan azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (tidak dapat bertobat).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 75</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ يَّأْتِهٖ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصّٰلِحٰتِ فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الدَّرَجٰتُ الْعُلٰى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa may ya&#8217;tihī mu&#8217;minan qad ‘amilaṣ-ṣāliḥāti fa ulā&#8217;ika lahumud-darajātul-‘ulā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Tetapi barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia),</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 76</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗوَذٰلِكَ جَزَاۤءُ مَنْ تَزَكّٰى ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā&#8217;u man tazakkā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(yaitu) surga-surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 77</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad auḥainā ilā mūsā an asri bi‘ibādī faḍrib lahum ṭarīqan fil-baḥri yabasā(n), lā takhāfu darakaw wa lā takhsyā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari, dan pukullah (buatlah) untuk mereka jalan yang kering di laut itu, (engkau) tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir (akan tenggelam).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 78</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُوْدِهٖ فَغَشِيَهُمْ مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa atba‘ahum fir‘aunu bijunūdihī fa gasyiyahum minal-yammi mā gasyiyahum.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, tetapi mereka digulung ombak laut yang menenggelamkan mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 79</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهٗ وَمَا هَدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa aḍalla fir‘aunu qaumahū wa mā hadā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan Fir‘aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 80</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ قَدْ اَنْجَيْنٰكُمْ مِّنْ عَدُوِّكُمْ وَوٰعَدْنٰكُمْ جَانِبَ الطُّوْرِ الْاَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yā banī isrā&#8217;īla qad anjainākum min ‘aduwwikum wa wā‘adnākum jānibaṭ-ṭūril-aimana wa nazzalnā ‘alaikumul-mannā was-salwā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Wahai Bani Israil! Sungguh, Kami telah menyelamatkan kamu dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu (untuk bermunajat) di sebelah kanan gunung itu (gunung Sinai) dan Kami telah menurunkan kepada kamu mann dan salwa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 81</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۙ وَلَا تَطْغَوْا فِيْهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِيْۚ وَمَنْ يَّحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِيْ فَقَدْ هَوٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">kulū min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa lā taṭgau fīhi fa yaḥilla ‘alaikum gaḍabī, wa may yaḥlil ‘alaihi gaḍabī faqad hawā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 82</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan ṡummahtadā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 83</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَمَآ اَعْجَلَكَ عَنْ قَوْمِكَ يٰمُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa mā a‘jalaka ‘an qaumika yā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">“Dan mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 84</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ هُمْ اُولَاۤءِ عَلٰٓى اَثَرِيْ وَعَجِلْتُ اِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla hum ulā&#8217;i ‘alā aṡarī wa ‘ajiltu ilaika rabbi litarḍā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau rida (kepadaku).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 85</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba‘dika wa aḍallahumus-sāmiriyy(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 86</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَرَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ەۚ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ەۗ اَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ اَمْ اَرَدْتُّمْ اَنْ يَّحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَخْلَفْتُمْ مَّوْعِدِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa raja‘a mūsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā(n), qāla yā qaumi alam ya‘idkum rabbukum wa‘dan ḥasanā(n), afaṭāla ‘alaikumul-‘ahdu am arattum ay yaḥilla ‘alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau‘idī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 87</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا مَآ اَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلٰكِنَّا حُمِّلْنَآ اَوْزَارًا مِّنْ زِيْنَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنٰهَا فَكَذٰلِكَ اَلْقَى السَّامِرِيُّ ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū mā akhlafnā mau‘idaka bimalkinā wa lākinnā ḥummilnā auzāram min zīnatil-qaumi fa qażafnāhā fa każālika alqas-sāmiriyy(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum (Fir‘aun) itu, kemudian kami melemparkannya (ke dalam api), dan demikian pula Samiri melemparkannya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 88</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى ەۙ فَنَسِيَ ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahū khuwārun fa qālū hāżā ilāhukum wa ilāhu mūsā, fa nasiy(a).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kemudian (dari lubang api itu) dia (Samiri) mengeluarkan (patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 89</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَلَا يَرَوْنَ اَلَّا يَرْجِعُ اِلَيْهِمْ قَوْلًا ەۙ وَّلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afalā yarauna allā yarji‘u ilaihim qaulā(n), wa lā yamliku lahum ḍarraw wa lā naf‘ā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat mau-pun mendatangkan manfaat kepada mereka?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 90</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهٖۚ وَاِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَاَطِيْعُوْٓا اَمْرِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad qāla lahum hārūnu min qablu yā qaumi innamā futintum bih(ī), wa inna rabbakumur-raḥmānu fattabi‘ūnī wa aṭī‘ū amrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi) itu dan sungguh, Tuhanmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 91</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālū lan nabraḥa ‘alaihi ‘ākifīna ḥattā yarji‘a ilainā mūsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Mereka menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya (dan) tetap menyembahnya (patung anak sapi) sampai Musa kembali kepada kami.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 92</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ اِذْ رَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْٓا ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla yā hārūnu mā mana‘aka iż ra&#8217;aitahum ḍallū.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 93</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَلَّا تَتَّبِعَنِۗ اَفَعَصَيْتَ اَمْرِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">allā tattabi‘an(i), afa ‘aṣaita amrī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(sehingga) engkau tidak mengikuti aku? Apakah engkau telah (sengaja) melanggar perintahku?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 94</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ وَلَا بِرَأْسِيْۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla yabna&#8217;umma lā ta&#8217;khuż biliḥyatī wa lā bira&#8217;sī, innī khasyītu an taqūla farraqta baina banī isrā&#8217;īla wa lam tarqub qaulī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Harun) menjawab, “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku.’”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 95</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يٰسَامِرِيُّ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla famā khaṭbuka yā sāmiriyy(u).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 96</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla baṣurtu bimā lam yabṣurū bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasūli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Samiri) menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 97</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ فَاذْهَبْ فَاِنَّ لَكَ فِى الْحَيٰوةِ اَنْ تَقُوْلَ لَا مِسَاسَۖ وَاِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّنْ تُخْلَفَهٗۚ وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۗ لَنُحَرِّقَنَّهٗ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهٗ فِى الْيَمِّ نَسْفًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla fażhab fa inna laka fil-ḥayāti an taqūla lā misās(a), wa inna laka mau‘idal lan tukhlafah(ū), wanẓur ilā ilāhikal-lażī ẓalta ‘alaihi ‘ākifā(n), lanuḥarriqannahū ṡumma lanansifannahū fil-yammi nasfā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Musa) berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku),’. Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan).</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 98</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّمَآ اِلٰهُكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">innamā ilāhukumullāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), wasi‘a kulla syai&#8217;in ‘ilmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 99</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">كَذٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ مَا قَدْ سَبَقَۚ وَقَدْ اٰتَيْنٰكَ مِنْ لَّدُنَّا ذِكْرًا ۚ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">każālika naquṣṣu ‘alaika min ambā&#8217;i mā sabaq(a), wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur&#8217;an) dari sisi Kami.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 100</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">مَنْ اَعْرَضَ عَنْهُ فَاِنَّهٗ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وِزْرًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">man a‘raḍa ‘anhu fa innahū yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Barangsiapa berpaling darinya (Al-Qur&#8217;an), maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 101</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">خٰلِدِيْنَ فِيْهِ ۗوَسَاۤءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ حِمْلًاۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">khālidīna fīh(i), wa sā&#8217;a lahum yaumal-qiyāmati ḥimlā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka pada hari Kiamat,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 102</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِيْنَ يَوْمَىِٕذٍ زُرْقًا ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma yunfakhu fiṣ-ṣūri wa naḥsyurul-mujrimīna yauma&#8217;iżin zurqā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">pada hari (Kiamat) sangkakala ditiup (yang kedua kali) dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan (wajah) biru muram,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 103</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَّتَخَافَتُوْنَ بَيْنَهُمْ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا عَشْرًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yatakhāfatūna bainahum il labiṡtum illā ‘asyrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">mereka saling berbisik satu sama lain, “Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh (hari).”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 104</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ اِذْ يَقُوْلُ اَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا يَوْمًا ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">naḥnu a‘lamu bimā yaqūlūna iż yaqūlu amṡaluhum ṭarīqatan il labiṡtum illā yaumā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, “Kamu tinggal (di dunia), tidak lebih dari sehari saja.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 105</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa yas&#8217;alūnaka ‘anil-jibāli fa qul yansifuhā rabbī nasfā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 106</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa yażaruhā qā‘an ṣafṣafā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali,</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 107</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">لَّا تَرٰى فِيْهَا عِوَجًا وَّلَآ اَمْتًا ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">lā tarā fīhā ‘iwajaw wa lā amtā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">(sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 108</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَىِٕذٍ يَّتَّبِعُوْنَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهٗ ۚوَخَشَعَتِ الْاَصْوَاتُ لِلرَّحْمٰنِ فَلَا تَسْمَعُ اِلَّا هَمْسًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma&#8217;iżiy yattabi‘ūnad-dā‘iya lā ‘iwaja lah(ū), wa khasya‘atil-aṣwātu lir-raḥmāni falā tasma‘u illā hamsā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (malaikat) tanpa berbelok-belok (membantah); dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 109</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَوْمَىِٕذٍ لَّا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَرَضِيَ لَهٗ قَوْلًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">yauma&#8217;iżil lā tanfa‘usy-syafā‘atu illā man ażina lahur-raḥmānu wa raḍiya lahū qaulā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Pada hari itu tidak berguna syafaat (pertolongan), kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan Dia ridai perkataannya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 110</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yuḥīṭūna bihī ‘ilmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 111</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">۞ وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِۗ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa ‘anatil-wujūhu lil-ḥayyil-qayyūm(i), wa qad khāba man ḥamala ẓulmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Hidup dan Yang Berdiri Sendiri. Sungguh rugi orang yang melakukan kezaliman.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 112</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخٰفُ ظُلْمًا وَّلَا هَضْمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa may ya‘mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu&#8217;minun falā yakhāfu ẓulmaw wa lā haḍmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barang siapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 113</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَذٰلِكَ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا وَّصَرَّفْنَا فِيْهِ مِنَ الْوَعِيْدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ اَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa każālika anzalnāhu qur&#8217;ānan ‘arabiyyaw wa ṣarrafnā fīhi minal-wa‘īdi la‘allahum yattaqūna au yuḥdiṡu lahum żikrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur&#8217;an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur&#8217;an) itu memberi pengajaran bagi mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 114</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa ta‘ālallāhul-malikul-ḥaqq(u), wa lā ta‘jal bil-qur&#8217;āni min qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuh(ū), wa qur rabbi zidnī ‘ilmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur&#8217;an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 115</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa laqad ‘ahidnā ilā ādama min qablu fa nasiya wa lam najid lahū ‘azmā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 116</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَ اَبٰى ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa iż qulnā lil-malā&#8217;ikatisjudū li&#8217;ādama fa sajadū illā iblīsa abā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Lalu mereka pun sujud kecuali Iblis; dia menolak.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 117</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اِنَّ هٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa qulnā yā ādamu inna hāżā ‘aduwwul laka wa lizaujika falā yukhrijannakumā minal-jannati fa tasyqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 118</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اِنَّ لَكَ اَلَّا تَجُوْعَ فِيْهَا وَلَا تَعْرٰى ۙ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">inna laka allā tajū‘a fīhā wa lā ta‘rā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 119</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَاَنَّكَ لَا تَظْمَؤُا فِيْهَا وَلَا تَضْحٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa annaka lā taẓma&#8217;u fīhā wa lā taḍḥā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 120</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa waswasa ilaihisy-syaiṭānu qāla yā ādamu hal adulluka ‘alā syajaratil-khuldi wa mulkil lā yablā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 121</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۚ وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى ۖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">fa akalā minhā fa badat lahumā sau&#8217;ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil-jannah(ti), wa ‘aṣā ādamu rabbahū fa gawā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 122</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">Ṡummajtabāhu rabbuhū fa tāba ‘alaihi wa hadā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 123</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًاۢ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚفَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ەۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qālahbiṭā minhā jamī‘am ba‘ḍukum liba‘ḍin ‘aduww(un), fa immā ya&#8217;tiyannakum minnī hudā(n), fa manittaba‘a hudāya falā yaḍillu wa lā yasyqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 124</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa man a‘raḍa ‘an żikrī fa inna lahū ma‘īsyatan ḍankaw wa naḥsyuruhū yaumal-qiyāmati a‘mā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 125</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla rabbi lima ḥasyartanī a‘mā wa qad kuntu baṣīrā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 126</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qāla każālika atatka āyātunā fa nasītahā, wa każālikal-yauma tunsā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 127</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَكَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ اَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْۢ بِاٰيٰتِ رَبِّهٖۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَشَدُّ وَاَبْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa każālika najzī man asrafa wa lam yu&#8217;mim bi&#8217;āyāti rabbih(ī), wa la‘ażābul-ākhirati asyaddu wa abqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 128</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">اَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ يَمْشُوْنَ فِيْ مَسٰكِنِهِمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰى ࣖ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">afalam yahdi lahum kam ahlaknā qablahum minal-qurūni yamsyūna fī masākinihim, inna fī żālika la&#8217;āyātil li&#8217;ulin nuhā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (orang-orang musyrik) berapa banyak (generasi) sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal mereka melewati (bekas-bekas) tempat tinggal mereka (umat-umat itu)? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 129</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَّاَجَلٌ مُّسَمًّى ۗ</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau lā kalimatun sabaqat mir rabbika lakāna lizāmaw wa ajalum musammā(n).</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan kalau tidak ada suatu ketetapan terdahulu dari Tuhanmu serta tidak ada batas yang telah ditentukan (ajal), pasti (siksaan itu) menimpa mereka.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 130</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا ۚوَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">faṣbir ‘alā mā yaqūlūna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulū‘isy-syamsi wa qabla gurūbihā, wa min ānā&#8217;il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la‘allaka tarḍā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa tenang.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 131</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta‘nā bihī azwājam minhum zahratal-ḥayātid-dun-yā, linaftinahum fīh(i), wa rizqu rabbika khairuw wa abqā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 132</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa&#8217;mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir ‘alaihā, lā nas&#8217;aluka rizqā(n), naḥnu narzuquk(a), wal-‘āqibatu lit-taqwā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 133</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَقَالُوْا لَوْلَا يَأْتِيْنَا بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ اَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa qālū lau lā ya&#8217;tīnā bi&#8217;āyatim mir rabbih(ī), awalam ta&#8217;tihim bayyinatu mā fiṣ-ṣuḥufil-ūlā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan mereka berkata, “Mengapa dia tidak membawa tanda (bukti) kepada kami dari Tuhannya?” Bukankah telah datang kepada mereka bukti (yang nyata) sebagaimana yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu?</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 134</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">وَلَوْ اَنَّآ اَهْلَكْنٰهُمْ بِعَذَابٍ مِّنْ قَبْلِهٖ لَقَالُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَّذِلَّ وَنَخْزٰى</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">wa lau annā ahlaknāhum bi‘ażābim min qablihī laqālū rabbanā lau lā arsalta ilainā rasūlan fa nattabi‘a āyātika min qabli an nażilla wa nakhzā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya (Al-Qur&#8217;an itu diturunkan), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
<h3 style="margin-top: 1.5em;">Ayat 135</h3>
<p dir="rtl" style="font-family: 'Amiri', 'Lateef', serif; font-size: 2em; text-align: right; line-height: 1.8;">قُلْ كُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوْاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ اَصْحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدٰى ࣖ ۔</p>
<p style="font-style: italic; color: #555; margin-top: 0.5em;">qul kullum mutarabbiṣun fa tarabbaṣū, fa sata‘lamūna man aṣḥābuṣ-ṣirāṭis-sawiyyi wa manihtadā.</p>
<p style="margin-top: 0.5em;">Katakanlah (Muhammad), “Masing-masing (kita) menanti, maka nantikanlah olehmu! Dan kelak kamu akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus, dan siapa yang telah mendapat petunjuk.”</p>
<hr style="margin: 2em 0; border: 0; border-top: 1px dashed #ddd;" />
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://quran.abiphone.com/taha/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
